Shinobi Saint
.
.
.
.
By Victorianus
.
.
.
.
Naruto
.
.
.
.
Adventure, Fantasy, Family
.
.
.
.
Halo di sini dengan saya lagi, Victorianus. Ada yang bertanya apa ini fic yaoi? Kalau yaoi di sini di lihat dari rupa Naruto yang memiliki wajah cantik, saya jawab iya. Saya hanya akan memberikan bumbu yaoi di sini pada saat Naruto bersama tokoh-tokoh di Saint Seiya, karena semua tokoh di sana saya buat alur cerita yaoi. Untuk pair? Maaf sekali, anda-anda semua harus kecewa, karena saya tidak akan memasangkan Naruto dengan siapapun, dengan kata lain Naruto tidak memiliki pair sama sekali. Saya hanya akan fokus ke perjalanan hidup Naruto di dunianya sebagai seorang Saint, yang dimana Naruto berusaha melindungi keluarganya, terutama Kushina, yang merupakan Jinchuriki Kyuubi, bersama dengan orang-orang di sekitarnya yang menurutnya peru di tolong. Sifat Naruto di sini saya dominasikan seperti Asmita dan Shaka, acuh, tidak peduli, dan akan langsung bertindak keras jika orang-orang di sekitarnya membuatnya jengkel. Jadi, itu saja penjelasan dari saya, dan satu hal lagi, jika sudut pandangnya di dimensi Naruto, maka tidak ada acara yaoi-yaoian, kecuali orang-orang yang masih belum mengenalnya mengira dirinya adalah seorang perempuan, dan jika di sudut pandang di dimensi lain, terutama di dimensi Saint Seiya, akan ada bumbu-bumbu yaoi. Itulah penjelasan saya, dan saya hanya membutuhkan para readers yang mengerti jalan cerita saya, juga menikmati kehidupan tokoh-tokoh yang ada di cerita saya ini.
.
.
Enjoy
.
.
.
Chapter 5
.
.
.
.
.
Setelah acara perkenalan selesai, Naruto berjalan pulang dengan adiknya Ryuu, yang tidak sengaja berpapasan dengannya menuju rumah. Banyak penduduk yang masih heran, bagaimana caranya pemuda tersebut bisa berjalan dengan mata terpejam, sedangkan Ryuu sudah biasa dengan kemampuan kakaknya, dan ayahnya pernah bilang agar merahasiakan kemampuan kakaknya itu dari siapapun.
" Nii-chan!? Di sana ada orang yang menjual pudding!?" seru Ryuu membuat Naruto tersenyum kecil, mengelus rambut adiknya dengan kasih sayang. Dia mengetahui jika adiknya sangat menyukai pudding, jadi dia mengangguk pelan, membiarkan adiknya menarik tangannya menuju ke tempat toko pudding. Naruto sudah menyadari jika ada orang yang selalu mengawasi mereka, yang ternyata adalah ANBU perintahan ayahnya.
' Sepertinya tou-san trouma dengan kejadian minggu lalu. Seharusnya Naru tidak membuat tou-san khawatir, mengingat tou-san juga sangat sibuk di kantor.' batin naruto merasa bersalah membuat ayahnya khawatir. Setelah membayar kepada penjual pudiing, mereka berdua akhirnya berjalan menuju ke rumah. Kushina menunggu di halaman rumah, melihat kedatangan kedua putranya yang sudah mendekat. Berlari pelan, dirinya menghampiri kedua putranya itu.
" Naruto, Ryuu!?" serunya membuat Ryuu melambaikan tangannya kepada ibunya itu, dimana bersama dengan kantong kresek yang membawa puddingnya tersebut.
" KAA-CHAN!?" seru Ryuu melihat Kushina berjalan menghampiri mereka.
" Bagaimana sekolahmu nak?" tanya Kushina.
" Seperti biasa. Ibuki-sensei tadi menyuruh kami merangkai bunga." jawab Ryuu manyum, membuat Kushina terkekeh pelan mendengarnya, lalu menatap ke arah putra sulungnya.
" Selamat kamu sudah menjadi seorang Genin Naruto." kata Kushina tulus membuat Naruto tersenyum kecil mendengarnya.
" Terima kasih, kaa-san." jawabnya singkat.
" Nah sebagai perayaannya, kaa-san sudah masak banyak makanan. Bagaimana kalau sekarang kita makan? Pasti kalian berdua sudah lapar kan?" tanya Kushina membuat Ryuu mengangguk semamngan sedangkan Naruto hanya tersenyum kecil mendengarnya. Tiba-tiba saja, sebuah kilatan kuning muncul tampa kasat mata, yang kemudian berhenti di antara mereka bertiga.
" Hmm, tou-san dengar ada perayaan. Tou-san juga mau ikut." kata suara familiar, yang terlihat sosok Minato berdiri di antara mereka.
" Minato, bukannya kamu sedang sibuk? Kenapa kamu kemari?" tanya Kushina bingung membuat Minato terkekeh pelan, melingkari tangan kanannya di pinggang istrinya.
" Memangnya tidak boleh, aku berkumpul dengan anak-anakku beserta istriku yang cantik ini?" tanyanya membuat Kushina merona mendengarnya, yang langsung saja di hadiahi gamparan ke pipi pria yang merupakan belahan jiwanya tersebut.
" Ba-bak-ka." kata Kushina terbata, menyembunyikan rona merahnya, membuat Ryuu terkikik geli, sedangkan Naruto tersenyum kecil. Tersadar sesuatu, sulung Namikaze tersebut membuka suara.
" Tou-san, kalau tidak salah, Lee adalah senpaiku bukan?" tanyanya membuat Minato yang mengelus pipinya yang terkena gamparan 'penuh cinta' itupun mengangguk.
" Ya benar. Lee-kun, Neji-kun dan Tenten-chan adalah satu angkatan di atasmu. Karena kamu mau satu team dengan Lee-kun, tou-san meminta Gai-san agar mau merubah kelompoknya. Sebelumnya anggota kelompoknya tidak keberatan, mengingat kamu dekat dengan kelompok Lee-kun yang sebelumnya kan?" tanyanya membuat Naruto sedikit tersentak.
" Jadi kera jantan Hyuuga itu adalah mantan dari kelompok Lee?" tanyanya membuat Minato tertawa mendengarnya.
" Naruto, jangan kamu mengganti nama orang seenaknya saja. Kaa-san tidak mengerti, kenapa sampai-sampai kamu memanggil mereka kera jantan juga kera betina." tegur Kushina lembut membuat Naruto mendengus pelan.
" Mereka menyebalkan kaa-san. Sifat mereka semua seperti kera yang tidak bisa di atur, seenaknya saja, dan lagi, tidak pernah mendengar perkataan guru. Kalau bukan Naru ancam mereka, mana mungkin kelas Naru bisa tenang." jawabnya membuat Minato terkekeh, sedangkan Kushina tersenyum maklum mendengarnya.
" Baiklah-baiklah, sebaiknya kita tidak usah bahas itu lagi. Kaa-san sudah membeli buah-buahan kesukaanmu dan masih segar-segar juga. Sebaiknya kita nikmati perayaan ini." kata Kushina akhirnya, karena dirinyapun tahu jika putranya sangat sensitive di lingkungan sekitarnya, terbukti dengan Akatsuki yang baru saja mau menyerang ke Konoha, langsung saja putranya pergi ke tempat mereka berada. Baru saja Naruto hendak berjalan masuk, tiba-tiba saja dirinya berhenti, membuat Minato, Kushina juga Ryuu menatap bingung ke arahnya. Naruto membalikkan badannya, menghadap ke arah barat laut, membuat Minato mengikuti arah pandangannya.
" Ada apa Naruto?" tanya Minato, sedangkan Naruto memperluas cosmonya dengan cepat, merasakan hawa keberadaan musuh yang sepertiya mendekat.
" 20 km dari gerbang desa di barat laut, ada musuh yang sedang maju ke desa kita, tou-san." jelasnya membuat Minato, Kushina juga Ryuu membulatkan kedua matanya. Minato tersadar dari keterkejutannya, menatap putranya serius.
" Jumlah mereka berapa?" tanya Minato serius, membuat Naruto terdiam sejenak, menghitung semua musuh yang menuju ke Konoha dalam hati.
" 30, tidak 40 orang. Naru melihat mereka menggunakan ikat kepala berlambang seperti 2 batu, yang satu batu besar, dan satu batu kecil." jelas Naruto membuat Kushina membelalakan kedua matanya.
" Iwagakure.." cicitnya sedangkan Minato terdiam mendengarnya.
" Naru akan menahan mereka dulu." katanya yang kemudian melakukan teleport, membuat Kushina terkejut, sedangkan Minato tersadar melihat putranya yang sudah pergi.
" Minato!? Cepat susul Naruto ke sana!? Aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya!?" seru Kushina panik membuat Minato mengangguk, dimana melirik ke belakang, terlihat beberapa ANBU yang membungkuk hormat ke arahnya.
" Kalian dengar apa yang kami bicarakan barusan bukan?" tanyanya.
" Ha'i Hokage-sama. Kami menunggu perintah anda." kata mereka serempak.
" Perintakan pasukan ANBU ke tempat dimana putraku bilang. Aku akan menyusul putraku dulu." katanya tegas yang kemudian seluruh pasukan ANBU itu menghilang.
" Kushi-chan, aku pergi dulu." kata Minato yang di jawab anggukan oleh first lady tersebut, dimana Minato menghilang dalam kilatan cahaya kuning.
.
.
.
Di barat laut hutan Konoha, terlihat sekelompok ninja Iwagakure yang menyusup memasuki perbatasan desa negara api. Kelompok-kelompok tersebut melompat dari dahan pohon satu, ke pohon lain sangat cepat, agar bisa sampai ke tujuan mereka. Pandangan mereka terlihat pagar tinggi desa Konoha yang tidak jauh lagi dari tempat mereka berada.
" Sebentar lagi kita sampai. Sesuai perkataan Tsuchikage-sama, kita akan melakukan penyerangan dadakkan, dan menyatakan perang kepada Konoha." kata salah satu ninja tersebut. Tempat tujuan yang seharusnya mereka akan sampai, entah kenapa mereka merasa jalan tersebut sangat panjang. Semakin mereka berjalan, semakin jauh sampai-sampai menyisahkan jalan panjang dengan langit yang begitu gelap.
" Genjutsu…" kata mereka semua yang kemudian melakukan single handseal, berguma 'Kai'. Setelah mengucapkan mantra itu, namum keadaan masih sama seperti yang sebelumnya, membuat mereka membulatkan kedua matanya.
" Pulanglah!? Semakin kalian berlari di dalam ilusiku, kalian akan tiba di neraka!?" terdengar suara gemaan besar yang entah muncul dari mana, membuat semua ninja Iwagakure tersebut menatap ke langit-langit gelap. Mereka semua berhenti, menatap sekeliling tapi tidak siapapun, hanya pohon-pohon, juga langit yang entah kenapa begitu gelap dengan nuansa yang mengerikan.
" TUNJUKKAN DIRIMU!? JANGAN HANYA BERANI BERSEMBUNYI!?" seru salah satu ninja Iwa itu marah.
" Sebenarnya apa tujuan kalian ke desa Konoha? Dari aura tubuh kalian, saya merasakan kalian memiliki niat jahat." suara gemaan orang yang sama lagi, membuat ninja-ninja Iwa tersebut tertawa mencemoh mendengarnya.
" Niat jahat!? Bukan niat jahat lagi, tapi kami ingin menyatakan perang terhadap Konoha!?" seru ninja tersebut. Naruto yang duduk bersila di atas pagar pembatas desanya itu hanya diam, sedangkan Minato hanya mengepalkan kedua tangannya, begitupula para ANBU yang mendengarpun terkejut. Wajah Namikaze sulung itu mendongak, menghadap ke ayahnya.
" Apa Naru buat mereka tewas, atau pingsan, tou-san?" tanya Naruto meminta persetujuan dari ayahnya itu, sedangkan Minato hanya diam sejenak, menghembuskan nafas perlahan-lahan.
" Tolong buat mereka pingsan Naruto. Tou-san ingin menggali informasi dengan bantuan Inoichi-san." jawabnya tenang membuat Naruto bangkit, yang kemudian menghilangkan ilusinya. Para ninja Iwa itu terkejut, melihat mereka yang ternyata sudah ada di depan perbatasan pagar tinggi Konoha, dimana mereka di kejutkan oleh sosok seorang pemuda yang menggunakan armor emas berjalan di atas udara. Naruto membakar cosmonya sedikit besar, yang kemudian tangan kirinya sedikit di angkat, memperlihatkan tangannya yang membentuk murda Budha Vitarka, berjalan tenang melewati para ninja tersebut, tapi tiba-tiba saja, seluruh tubuh shinobi Iwa itu melayang ke atas, dengan tubuh-tubuh mereka semua yang seperti di hantam keras, dimana di tempat mereka melayang itu tiba-tiba saja terlihat seorang wanita raksasa dengan kerudung juga gaun putih yang menaiki kuda putih, dan anak-anak malaikat yang terbang kesana kemari dengan riang, dengan nuansa langit yang berubah cerah.
" A-ap-pa…" kata salah satu shinobi Iwa yang menerima serangan tiba-tiba itu tidak percaya, yang kemudian dirinya memuntahkan darah dari mulutnya, tidak lama setelahnya seluruh penglihatannya menjadi gelap, begitupula dengan shinobi-shinobi Iwa lain yang bernasib sama dengannya, kehilangan kesadaran diri. Naruto menurunkan tangan kirinya, menyampingkan wajahnya ke kiri, dimana ayahnya juga para ANBU yang turun dari pagar tinggi tersebut, mengecek leher nadi semua ninja Iwa itu. Menghembuskan nafasnya, Minato menatap ke arah putranya yang berjalan menuju ke tempatnya, tersenyum kecil.
" Terima kasih Naruto, dan sekali lagi, maaf karena kamu harus terlibat dengan masalah desa ini." kata Minato tersenyum sedih.
" Apa yang tou-san bicarakan? Naru melakukannya karena Naru ingin membantu tou-san." jawabnya sambil memberi senyum tulus, yang entah kenapa membuat Minato merasa sakit di jatungnya. Dirinya setiap melihat senyum anaknya itu, selalu membuat dirinya selalu bersalah, dan selalu merutuki dirinya tidak bisa menjadi ayah yang pantas bagi putranya. Menggeleng kepalanya pelan, Minato membalas senyum anaknya.
" Kamu sebaiknya pulanglah. Tou-san akan mengurusi mereka." katanya membuat sulung Namikaze itu mengangguk paham, berjalan meninggalkan ayahnya beserta para ANBU yang mengangkat tubuh tidak sadarkan diri shinobi Iwa itu.
" Aku tidak percaya dengan penglihatanku, kekuatan yang di miliki Naruto-sama benar-benar di luar nalar kemampuan ninja." kata salah satu ANBU itu takjub sambil memapah salah satu ninja Iwa yang pingsan.
" Itu sudah pasti. Naruto-sama kan putra dari Hokage. Yang membuatku penasaran bagaimana dia bisa menciptakan Genjutsu luas, padahal dirinya hanya duduk bersila tidak melakukan apapun." balas salah satu ANBU, membuat Minato tersenyum mendengarnya.
" Bukan itu yang membuatku penasaran. Aku sangat ingin tahu bagaimana Naruto-sama bisa berjalan sambil menutup matanya. Aku pernah mencoba, tapi malah kepalaku terbentur berkali-kali dengan tembok, dan malah diriku pernah tercebur ke kolam." kata salah satu ANBU lagi mengingat aksinya yang mencoba meniru sulung Namikaze itu, membuat teman-temannya tertawa, begitupula Minato tertawa pelan mendengarnya.
.
.
.
.
Di lain tempat, setelah membantu ayahnya melawan ninja Iwagakure yang mencoba menyerang Konoha, Naruto berjalan tenang di jalan utama desa Konoha, dimana dirinya bisa merasakan para penduduk yang menatap ke arahnya penasaran. Ya bagaimana orang-orang tidak penasaran, berjalan sambil memejamkan mata, jutsu apa yang di gunakan olehnya itu, padahal perasaan sudah lama waktu berlalu, tapi masih saja orang-orang penasaran dengan kemampuannya itu. Tapi sayang sekali, ini semua bukanlah teknik ninja, melainkan ini adalah kemampuan dari cosmo yang di milikinya, seperti dua mentor yang sangat dia kagumi. Dia ingin mengikuti jejak dua mentornya itu, makanya dia memejamkan kedua matanya, buka jika keadaan sangat terdesak, atau hal-hal yang menurutnya perlu.
" Naruto!?" terdengar suara seorang pemuda di belakangnya, membuat dirinya berhenti, menyampingkan wajahnya ke kiri. Dia bisa melihat di dalam otaknya jika Lee, bersama dengan Neji berjalan mendekati ke arahnya. Membalikkan tubuhnya, Naruto seperti biasa memasang wajah tenangnya.
" Ada apa Lee?" tanyanya tenang, membuat pemuda berambut mangkut yang akhirnya tiba itu menghembus nafas pelan, lalu melirik ke kanan juga kekiri.
" Apa benar, ada ninja desa lain yang mencoba menyerang Konoha?" tanyanya pelan, membuat Naruto sedikit terkejut dalam hati, tapi tubuh juga wajahnya masih berekspresi biasa.
" Aku mengetahuinya dari Neji." lanjut Lee membuat Naruto menghadapkan wajahnya ke arah Neji yang sedikit tersentak mengetahui keberadaannya.
" Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?" tanya Naruto tenang.
" Kekuatan mata dari klan kami. Klan Hyuuga memiliki kekuatan mata Byakugan yang bisa melihat dengan jelas objek yang kami inginkan dengan jarak tertentu. Aku bisa melihat dalam jarak maksimal 12 km dari tempat aku berada. Aku melihatmu, Hokage-sama juga beberapa ANBU ada di atas pagar pembatas barat laut, lalu aku mencoba melihat apa yang kalian lihat di bawah, ternyata adalah beberapa shinobi Iwagakure yang ada di sana." jelas Neji membuat naruto mengangguk sekali.
" Kemampuan mata yang hebat, saya juga sedikit mendengar kemampuannya dari tou-san. Apa itu juga berlaku untukku?" tanya Naruto membuat Neji terdiam, menggeleng.
" Byakugan hanya bisa melihat aliran cakra di dalam tubuh seseorang, tapi aku tidak bisa melihat aliran cakra milikmu." jelas Neji membuat Naruto terdiam, dalam hati dia tersenyum kecil.
" Tidak apa-apa. Jangan di pikirkan tentang kemampuanku. Saya memang tidak memiliki sistem cakra." jelas Naruto membuat Lee tersenyum sedih mendengarnya. Naruto membalikkan tubuhnya ke belakang.
" Saya harus pulang ke rumah. Kaa-san dan Ryuu pasti khawatir. Saya permisi dulu, dan Lee, sampai jumpa lagi." katanya membuat Lee mengangguk mengerti, dimana dirinya melihat Naruto yang berjalan tenang ke depan dengan jubahnya yang menari mengikuti gerakannya, juga rambut panjangnya yang sesekali terbang tertiup angin. Lee yang melihat kepergian sahabatnya hanya menghembuskan nafas pelan, lalu menatap ke arah Neji yang menatap ke depan.
" Ada apa Neji?" tanya Lee sedangkan Neji yang masih fokus dengan kepergian Naruto tidak membalas pertanyaan mantan team satu teamnya. Neji menggeleng pelan, kemudian dirinya pergi meninggalkan Lee dalam diam, sedangkan yang bersangkutan hanya menatap tidak percaya ke arah mantan rekan seteamnya.
.
.
.
.
Minato beserta para ANBU yang membawa tubuh tidak sadarkan diri ninja-ninja Iwa ke kantor interogasi Konoha. Di sana dirinya di sambut oleh Ibiki juga Inoichi yang sedikit terkejut dengan kedatangannya tiba-tiba.
" Hokage-sama." kata mereka sopan, sedangkan Minato mengangguk, meminta para ANBUnya untuk meletakan tubuh tidak sadarkan diri ninja Iwa di tempat yang di tunjuknya.
" Inoichi-san, aku ingin kamu melihat isi pikiran mereka." kata Minato membuat Inoichi mengangguk paham. Minato menatap ke arah Inoichi yang melakukan jutsu klannya, Shintenshi no Jutsu, memasuki tubuh salah satu ninja Iwa. Minato menungguh dalam diam, tidak menyadari Ibiki yang mendekatinya.
" Hokage-sama, bagaimana bisa ninja-ninja Iwa berkeliaran di sekitar Konoha?" tanya Ibiki sedikit penasaran membuat Minato menatap ke arahnya, yang kemudian menghembuskan nafas lelah.
" Aku juga sejujurnya tidak tahu, tapi mereka bilang jika ingin mendeklarasi perang dengan Konoha." jawabnya membuat Ibiki yang mendengar tentu saja terkejut.
" Itu dari pertanyaan yang di lakukan Naruto. Dia bertanya apa yang mereka lakukan di sini, dan mereka jawab ingin menyatakan perang kepada kita. Sepertinya Tsuchikage masih memiliki dendam kepadaku." jawab Minato sedih, sedangkan Ibiki hanya diam mendengarnya. Tidak berselang lama, Inoichi kembali ke tubuhnya, sedikit tersentak dengan nafas yang cukup memburu. Minato yang melihat headclan Yamanaka itu kembali ke tubuh aslinya berjalan mendekatinya.
" Bagaimana Inoichi?" tanya Minato serius, sedangkan Inochi menarik nafas panjang, yang perlahan-lahan di hembuskannya kembali.
" Saya membaca pikirannya, dan saya rasa, ini akan mengejutkan anda, Hokage-sama." katanya membuat Minato akhirnya mengerti.
" Maksudmu, tentang pernyataan perang?" tanyanya membuat Inoichi tersentak, yang tidak lama setelahnya mengangguk lemah mendengar pernyataan Kagenya itu.
" Apa ini akibat dendam 16 tahun lalu kekalahan memalukan mereka oleh anda, Hokage-sama?" tanya Ibiki membuat Minato terdiam mendengarnya, yang setelahnya menghembuskan nafas lelah.
" Mungkin karena itu, tapi kita sudah mendatangani perjanjian damai dengan Iwagakure, termasuk Kumogakure." jawabnya.
" Bukankah 10 tahun yang lalu, Kumogakure berniat menculik putri sulung Hiashi-sama, tapi berhasil di selamatkan oleh Hizashi-san?" tanya Ibiki kembali yang di jawab anggukan oleh Minato.
" Bersyukurlah kita memiliki bukti kuat jika merekalah yang salah, dan Hizashi tidak membunuh pelakunya, melainkan membuatnya pingsan. Kita bisa menuntut Kumogakure, yang pada akhirnya, kita melakukan jalan damai, tampa ada korban lagi." jawab Minato membuat mereka terdiam.
" Lalu, apa yang akan kita lakukan dengan mereka, Hokage-sama?" tanya Inoichi akhirnya sambil menatap ke arah shinobi-shinobi Iwa yang masih tidak sadarkan diri tersebut.
" Aku akan meminta Fugaku agar menjadikan mereka sebagai tahanan di kantornya. Inoichi, terima kasih sudah membantuku." kata Minato tersenyum tulus, membuat headclan Yamanaka itu tersenyum mendengarnya.
" Sudah sepantasnya saya membantu anda, Hokage-sama, dan lagi, kita ini adalah sahabat lama." katanya sambil mengeluarkan tawa, membuat Minato membalas tawanya, walaupun terdengar hambar. Tampa mereka sadari, di luar gedung tersebut, tempat yang cukup tersembunyi, Naruto mendengar semua percakapan mereka semua. Sulung Namikaze itu, walaupun wajahnya tenang, tapi pikirannya mencerna semua yang di terimanya. Tiba-tiba saja, roh-roh kecil muncul mengelilingnya, membuat pemuda tersebut sedikit menurunkan wajahnya.
" Tolong tunjukkan jalan tempat dimana Iwagakure berada." pintanya membuat roh-roh tersebut langsung terbang ke langit, membuat Naruto mendongakan kepalanya, yang kemudian dirinya melakukan telepotasi, mengikuti roh-roh yang di keluarkannya menuju Iwagakure.
.
.
.
.
.
Kushina yang ada di rumahpun sangat gelisah. Pasalnya, putra sulungnya dari tadi belum pulang ke rumah. Hari sudah larut, dan lagi, masih belum ada tanda-tanda keberadaan Naruto kembali. Kushina tahu, walaupun putranya itu suka bermeditasi entah kemana, tapi pasti akan selalu pulang sebelum jam makan malam, tapi ini sudah menunjukkan pukul 10 malam. Begitupula dengan Ryuu yang menemani ibunya itupun yang makan makanan ringannya, terlihat begitu tidak berselera. Dirinya melirik ke arah buah-buah yang memang sengaja di sediakan ibunya sedikit banyak untuk kakaknya, yang semuanya adalah buah-buah favorite sulung Namikaze tersebut. Mereka berencana merayakan Naruto yang lulus menjadi seorang Genin, tapi tiba-tiba saja ada pasukan Iwa yang tiba-tiba menyerang, membuat kakak juga ayahnya mengawasi, dan mungkin bertarung dengan mereka semua.
" Aku pulang." terdengar suara seseorang di pintu rumahnya, membuat Kushina langsung bangkit dari kursinya, berlari kecil ke pintu depan, begitupula Ryuu yang meninggalkan makanannya, mengikuti ibunya itu.
" Naruto, sudah kaa-san bilang jangan pu… Minato?" kata Kushina terputus menyadari jika bukan putranya yang datang, melainkan suaminya yang baru saja selesai bekerja.
" Kushi-chan, Ryuu-kun, bagaimana pesta kalian? Masih ada acara penutupan untukku kan?" tanya Minato dengan nada canda, sedangkan Kushina langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai, mengeluarkan air matanya, membuat Minato terkejut.
" Kushi-chan, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Minato terkejut, mendekati istrinya yang menangis, memeluk tubuh Kushina dengan kasih sayang.
" Tou-chan, dimana nii-chan?" tanya Ryuu membuat Minato mengerutkan kening.
" Bukannya Naruto seharusnya pulang sejak tadi?" tanyanya heran, sedangkan dirinya bisa merasakan istrinya menggeleng.
" Na-narut-to be-belum ke-kembal-li Minato.. A-apa ya-yang ter-terjad-di de-dengan-nya?" isak Kushina membuat Minato membulatkan kedua matanya, menatap ke arah Ryuu yang mengangguk mengiyakan perkataan istrinya.
" Bukannya kamu bilang dia selalu pulang sebelum jam makan malam? Kemana Naruto sekarang?" tanya Minato yang berubah menjadi panik, sedangkan Kushina menggeleng tidak tahu.
" Naru pulang." kata suara seseorang lagi membuat mereka mendongak, menatap ke arah sosok Naruto yang baru saja tiba, dengan roh-roh biru yag mengelilingi tubuhnya. Kushina langsung melepaskan pelukannya dari suaminya, berlari ke arah Naruto, yang langsung saja memeluk erat putra sulungnya itu, dengan air mata yang begitu deras keluar di kedua pelupuk matanya.
" Naruto!? Kamu dari mana saja!? Apa kamu tidak tahu jika kaa-san sangat khawatir denganmu, hah!?" isak Kushina membentak, walaupun terbesit nada lega di dalamnya. naruto yang mendengar hanya terdiam, membalas pelukan ibunya, membuat dirinya merasa bersalah karena tidak melapor.
" Maafkan Naru kaa-san." hanya itulah yang bisa dia keluarkan. Minato juga Ryuu berjalan mendekati mereka berdua, dimana Kushina melepaskan pelukannya, menatap ke arah anak sulungnya.
" Naruto, kamu dari mana sebenarnya? Ini baru pertama kali kamu pulang begitu larut." kata Minato, sesekali melihat roh-roh yang melindungi putranya itu tembali ke telunjuk kanan anaknya itu.
" Tadi Naru pergi ke Iwa sendiri dengan roh-roh yang menemani Naru." jawabnya membuat Minato dan Kushina terkejut mendengarnya.
" Kenapa juga kamu pergi ke Iwa!? Apa yang kamu lakukan bodoh!?" bentak Kushina marah membuat Naruto terdiam. Minato menenangkan istrinya yang emosi, kemudian menatap Naruto yang masih diam.
" Bagaimana kalau kita ke dalam dulu." katanya mengiring istrinya yang masih mencoba menromalkan emosinya. Mereka semua dudul ke ruang keluarga, dimana Minato duduk bersama Kushina, sedangkan Naruto bersama dengan Ryuu yang ada di sampingnya. Kepala keluarga Namikaze itu menarik nafas sebentar, yang kemudian di hembuskannya kembali, menatap ke arah Naruto, tersenyum kecil.
" Jadi Naruto, bisa jelaskan kenapa kamu pergi ke Iwagakure?" tanya Minato lembut kepada putra sulungnya itu.
" Naru hanya ingin menemui pemimpin desanya. Naru ingin bicara dengannya dan memintanya agar tidak membuat perang terjadi, tapi malah Naru di usir oleh ninja-ninja di sana, dan mereka bilang selamanya akan membenci tou-san." jelas Naruto membuat Minato menghembuskan nafasnya, sedangkan Kushina hanya diam mendengarnya.
" Naru hanya tidak ingin orang-orang yang tidak tahu menahu tentang masalah desa menjadi korban tou-san. Warga sipil juga penduduk biasa Naru tidak ingin jadikan korban, terlebih lagi, pasti ada desa-desa kecil yang menderita." jelas Naruto membuat Minato tersenyum mendnegarnya.
" Tou-san tahu Naruto. Tou-sanpun akan mencoba berbagai cara agar tidak terjadi perang dengan Iwa. Tapi masalahnya, Tsuchikage mereka sangat dendam dengan tou-san." jawab Minato membuat Naruto diam.
" Kenapa kakek sialan itu tidak di ganti? Memang dia itu haus akan kekuasaan seperti bajingan Danzo itu!?" geram Kushina membuat Minato menenangkan istrinya.
" Koi, jangan bicara seperti itu di depan anak-anak." tegurnya membuat Kushina menghembuskan nafas lelah, mengangguk paham. Minato kembali menatap ke arah putra sulungnya.
" Naruto, kamu tenang saja. Masalah ini, biarkan tou-san yang mengurusnya. Tou-san tahu kamu khawatir dengan posisi ayahmu ini, tapi sekarang, biarkan tou-san yang mengurus semuanya." kata Minato lembut membuat Naruto terdiam mendengarnya, yang akhirnya mengangguk paham.
" Tapi jika mereka tidak mengerti juga, Naru tidak akan tinggal diam." katanya membuat Minato tertawa, terhibur dengan sifat anaknya itu.
" Bagus Naruto. Kaa-san juga pasti akan membantumu menghajar mereka jika tidak mengerti." dukung Kushina setuju dengan perkataan putranya itu. Minato terkekeh pelan, lalu menatap ke arah putranya.
" Apa kamu sampai aduk fisik di sana, Naruto?" tanya Minato yang di jawab gelengan oleh pemuda tersebut.
" Tentu saja tidak tou-san. Naru tidak mau membuat nama tou-san semakin jelek di mata mereka, walaupun mereka berkali-kali menyerang Naru, tapi Naru hanya menghindar, dan meminta agar berbicara baik-baik. Karena tidak di respon, jadi Naru kabur dari sana, lalu pulang kembali ke Konoha." jawab Naruto jujur membuat Minato menangguk paham mendengarnya.
" Syukurlah kalau kamu tidak sampai terjadi kontak fisik dengan mereka, jadi tou-san bisa bernafas lega mendengarnya. Kalau tidak, tou-san sudah pasti menyerbu Iwa jika mereka berani-beraninya melukai anak berumur 13 tahun." canda Minato membuat Naruto sedikit terkekeh mendengarnya.
" Sudah-sudah, masalah ini kita tutup. Sekarang, kita lanjutkan perayaan kelulusanmu sebagai Genin. Kushi-chan, apa masih ada makanan di kulkas?" tanya Minato yang di jawab anggukan oleh istrinya.
" Tenang saja, makanan masih ada waktu aku buat, dan beberapa buah-buah segar pun ada di sana. Kaa-san akan memanaskan makanannya dulu, kalian makan buah-buahan yang ada di meja." jawab Kushina yang bangkit, dimana akhirnya mereka melanjutkan pesta yang sempat tertunda tersebut.
.
.
.
Keesokan Harinya
.
.
.
Naruto yang berkumpul dengan Lee, Tenten juga Gai, berjalan meninggalkan ke kantor Hokage, karena hari ini, mereka akan melangsungkan misi perdana team mereka, atau sebenarnya misi perdana Naruto.
" Naruto-kun, ini adalah misi pertamamu. Bagaimana perasaanmu?" tanya Gai sedangkan Naruto yang menggunakan Gold Cloth juga kedua matanya memang biasa terpejam hanya tersenyum kecil.
" Saya juga tidak tahu harus berekspresi apa Gai-sensei. Saya akan berusaha agar tidak menjadi beban oleh Lee dan Tenten." jawabnya yang langsung di jawab gelengan oleh pemuda berpakaian hijau tersebut.
" Tidak, tidak, tidak Naruto. Kamu tidak pernah merepotkanku. Aku malah senang membantumu jika kamu kesusahan." jawab Lee tidak setuju, begitupula Tenten yang mengangguk mendengarnya.
" Benar sekali Naruto-kun. Kami pasti akan membantumu jika dalam kesusahan." jawabnya pasti membuat sulung Namikaze itu tersenyum tipis mendengarnya, begitupula Gai yang tersenyum kecil melihat keakraban mereka. Dirinya mengetahui dari Hokagenya, jika Naruto bisa di bilang susah akrab dengan anak-anak seusianya, dan mendengar dari cerita Lee, orang yang membuatnya habis kesabaran, tampa ampun langsung di kirim ke dunia lain, yang menurut cerita dari Kiba, korban pertama sulung Namikaze itu, dunia yang di kirimnya adalah dunia yang sangat mengerikan. Misi pertama mereka adalah membantu seorang petani membajak sawah. Well, sebenarnya Minato sempat bingung mau memberikan misi apa kepada putranya, yang konon selalu menggunakan armor emas miliknya yang berkilau itu, tapi Naruto bilang dia akan melepaskan armornya jika mendapat misi jika tidak sampai ada perkelahian, yang tentu saja membuat sang Kage mengangguk paham. Gai sebenarnya melihat ke arah sosok Naruto, sulung Namikaze itu sebenarnya adalah pemuda yang santun, walaupun sempat membuat kehebohan karena melayang di udara, tapi ternyata tujuan di balik aksinya itu adalah memberi ujian kepada adiknya tentang filosofil yang di berikannya itu. Walaupun terdengan aneh dan sangat tidak paham bagi orang biasa, filosofil yang di lontarkannya ternyata sangat mendidik, terbukti dengan Lee yang sekarang tidak malu dengan keterbatasannya, dan selalu mengembangkan kemampuan-kemampuannya, begitupula Tenten. Dia tidak menyangkah, jika pemuda yang biasa di kenal diam, selalu bermeditasi, juga jarang bersosialisasi jika bukan dengan keluarga atau sahabatnya, memiliki wawasan yang sangat luas.
Di sisi lain, Minato, dirinya bersama Fugaku, Hiruzen, Inoichi juga Ibiki, berdiri di depan sel yang berisikan 40 ninja Iwa yang membuang muka, menundukkan kepala, dengan kedua tangan mereka di borgol ke belakang. Minato memejamkan kedua matanya, menarik nafasnya sejenak.
" Apa kalian masih ingin menyatakan perang kepada kami?" tanyanya masih dengan kedua mata terpejam, sedangkan para pasukan Iwa hanya diam mendengar suara tegas Yondaime Hokage tersebut. Mereka tahu, sosok Yondaime sekarang, walaupun sudah berkepala tiga, kewibawaan juga kharismanya tidak berkurang sama sekali, dan malah terkesan sangat besar. Kekalahan Iwa 16 tahun lalu contohnya, membuat Kage mereka menanggung malu, karena ribuan pasukan bisa kalah cuma melawan seorang saja. Membuka kedua matanya, Minato menatap mereka semua yang masih hening, tidak menjawab pertanyaannya.
" Apa Kage kalian tahu, jika perang terjadi kembali, maka kita tidak tahu berapa banyak nyawa manusia yang akan tewas, juga kerugian-kerugian yang di alami desa-desa yang terlibat perang. Perang tidak akan membawa apapun, yang ada malah kesengsaraan, kepedihan juga kesedihan. Apa Kage kalian pernah berpikir sampai di situ?" tanyanya sekali lagi, sedangan ninja-ninja Iwa tersebut masih bungkam.
" Minato, apakah kamu sudah mengirimkan surat kepada Tsuchikage?" tanya Hiruzen akhirnya membuka suara, yang di jawab anggukan oleh pria rupawan itu.
" Aku sudah mengirim surat kepada Tsuchikage, dan di situ aku juga menulis jika shinobi-shinobi yang dia kirim menjadi tahanan Konoha. Aku ingin mengetahui reaksinya ketika mendengar shinobi-shinobinya di tahan di sini." jawab Minato membuat Hiruzen mengangguk mendengarnya.
" Bagaimana dengan putramu Minato?" kepala polisi itu bertanya, Uchiha Fugaku, sedangkan Minato yang mendengar pertanyaan sahabatnya itu tersenyum tipis.
" Dia sedang melakukan misi pertamanya, walaupun aku sempat bingung misi apa yang akan aku berikan. Aku pernah bertanya kenapa dia selalu menggunakan armor perang jika keluar dari rumah, yang ternyata dia menjawab ' Jika Naru sudah menginjakkan kaki di luar rumah, itu berarti Naru sudah siap menghadapi apapun'. Kamu tahu, aku pernah bilang jika di Konoha pasti aman, tapi dirinya tidak percaya, dan tetap menggunakan armor emasnya itu." jawab Minato sambil terkekeh membuat Fugaku diam mendengarnya.
" Dan lagi, sepertinya hubungan putraku juga putramu sangatlah buruk." lanjutnya membuat Fugaku menatap ke arahnya.
" Maksudmu?" tanyanya membuat Minato menghembuskan nafas lelah.
" Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua sampai-sampai bisa tidak bersahabat begitu, yang pasti, itu karena putramu pertama memaksa Naruto menjelaskan kemampuan yang di milikinya, tapi dia tidak mau menjawab, dan membuat putramu marah. Kamu tahukan, kalau Naruto tidak akan berbicara dengan orang asing, dan akan langsung mengambil tindakan sendiri jika membuatnya jengkel." jawabnya membuat Fugaku menatap datar ke arahnya.
" Sifatnya benar-benar berbanding terbalik dengan kalian semua, juga sifatnya sangat berbeda dengan tujuh tahun yang lalu." katanya datar membuat Minato tertawa.
" Hahaha. Benar sekali. Pernah aku bertanya kenapa sifatnya seperti itu, tapi dia hanya menjawab sifatnya sama seperti dulu, tapi katanya dia akan membuat orang yang menganggunya menderita." jawab Minato masih tertawa, membuat sahabatnya hanya menghembuskan nafas pelan, sedangkan Hiruzen, Inoichi juga Ibiki yang menyimak terkekeh pelan.
" Putramu sungguh dewasa Minato. Dia menjadi pemuda yang siap tempur kapan saja, walaupun di dalam desa yang sebenarnya aman-aman saja." kata Inoichi terkekeh, sedangkan Minato menghentikan tawanya, tersenyum kecil.
" Ini mungkin didikan gurunya. Aku pikir gurunya mendidiknya sangat keras juga tidak main-main, dan hasilnya, putraku menjadi pemuda yang hebat." katanya sambil tersenyum, membuat Hiruzen, Inoichi juga Ibiki mau tidak mau tersenyum, sedangkan Fugaku diam mendengarnya. Minato menatap ke arah tahanan mereka yang masih menundukkan kepalanya.
" Aku harap Kage kalian bisa berubah pikiran dan peperang bisa di hentikan." katanya yang kemudian berjalan meninggalkan para tahanan yang hanya diam, tidak menjawab pertanyaan dari Kage Konohagakure tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
