Shinobi Saint

.

.

.

.

By Victorianus

.

.

.

.

Naruto

.

.

.

.

Adventure, Fantasy, Family

.

.

.

.

Chapter 6

.

.

.

.

.

Team Gai yang sedang membantu Hiroku, petani desa Konoha yang cukup maju, dimana petani sukses itu tersenyum senang, karena dirinya memang sedang kekurangan orang. Awalnya pria itu sempat terkejut, mengetahui jika Naruto adalah putra dari Kage mereka yang sangat di hormati juga di kagumi, tapi sulung Namikaze itu bilang, jika sekarang dirinya adalah seorang ninja yang di tugaskan oleh Hokage, jadi jangan terlalu formal dengannya. Naruto yang sekarang tidak menggunakan Gold Clothnya, dimana terlihat dirinya yang mengenakan baju tampa lengan berwarna hitam, juga celana hitam panjang yang berwarna sama seperti bajunya, sedang menanam padi. Rambut panjangnya yang di kucir kuda, membuat semua orang yang melihat sosok Naruto sebagai seorang gadis yang cantik, padahal sebenarnya dia adalah seorang laki-laki. Lee sahabatnya membantu juga menanam bibit padi, sangat berhati-hati, karena tidak mau membuat kotor rambut indah sahabatnya itu yang bagaikan benang emas.

" Naruto-kun, rambutmu sangat indah. Bagaimana kamu merawatnya?" tanya Tenten yang berada di dekat mereka, melihat kedua pemuda itu berkerja. Gadis cina itu selalu memuji rambut pemuda tersebut bahkan Ino, kunoichi cantik di kelas mereka saja kalah indahnya dengan rambut emas milik pemuda Namikaze tersebut. Naruto yang mendengar pujian dari temannya itu hanya tersenyum kecil.

" Rambut kedua guruku lebih indah daripada milikku Tenten. Saya tidak melakukan perawatan spesial untuk rambutku ini, walapun saya membutuhkan waktu lama di kamar mandi untuk melakukan keramas." jawabnya membuat Tenten terkekeh mendengarnya. Gai yang berbicara dengan Hiroku, membuat kedua pria itu terkekeh pelan mendengar percakapan mereka.

" Saya tidak menyangkah, jika putra sulung Hokage-sama sangat cantik sesuai rumor yang ada di desa. Saya sangat penasaran dengan sosok putra beliau, dan saya tidak ragu lagi jika memang putra pertama Hokage-sama memang sangat cantik." kata Hiroku yang melihat kedua pemuda tersebut yang menanam bibit padinya, sedangkan gadis cina tersebut terus-terusan memberi semangat kepada mereka.

" Ya begitulah. Tapi jika dirinya di goda, Naruto tidak main-main akan ancamannya yang mengirim orang-orang tersebut ke dunia lain." kata Gai membuat Hiroku tertawa pelan mendengarnya.

" Yang membuat saya penasaran, bagaimana Naruto-sama melakukan kegiatan dengan kedua matanya terpejam. Naruto-sama seolah-olah memiliki mata di sekitarnya ketika kedua matanya terpejam. Lihat saja hasil kerjanya, begitu rapi dan tidak ambur adul." katanya takjub dengan hasil kerja pemuda tersebut yang sebelumnya, sedangkan Gai hanya diam, karena dirinya sendiripun tidak mengetahui bagaimana putra sulung Hokage mereka bisa melakukan kegiatan dengan mata tertutup. Kedua pemuda tersebut sudah selesai melakukan tugasnya, kemudian Naruto dan Lee beranjak dari tapak sawah tersebut, terlihat lumpur yang melengket di kaki juga kedua tangan mereka.

" Sensei, apa kami masih ada pekerjaan lain?" tanya Lee membuat Gai menatap ke arah Hiroku yang tersenyum.

" Sudah selesai anak-anak muda. Terima kasih kalian sudah membantu tugasku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada kalian yang membantuku di sini, soalnya orang-orangku absen hari ini." katanya membuat Lee tersenyum lebar, mengangguk semangat, begitupula Tenten dan Naruto yang tersenyum kecil mendengarnya.

" Kalian bisa membersihkan diri di gubuk sana. Di gubuk itu ada bak mandi besar, sekaligus ada peralatan mandi yang sudah saya siapkan jika kalian ingin sekaligus mandi." lanjutnya sambil menunjuk ke arah gubuk yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

" Kalau begitu, kami permisi dulu Gai-sensei, Hiroku-san. Naruto, ayo kita membersikan diri." ajak Lee yang di jawab anggukan pemuda tersebut.

" Aku menunggu di sini saja." kata Tenten yang di jawab anggukan kedua pemuda tersebut, kemudian mereka berdua pergi menuju gubuk yang di tunjuk tadi. Gai berbincang-bincang dengan Hiroku, sedangkan Tenten hanya menyimak pembicaraan orang dewasa, yang menurutnya cukup menyenangkan itu. Tidak berselang lama, Lee juga Naruto telah kembali dengan bersih, dengan sulung Namikaze itu yang sudah menggunakan Gold Clothnya kembali, berjalan mendekati mereka.

.

.

.

DUARRRRRR!?

.

.

.

Terdengar suara ledakan yang cukup besar dari arah timur, membuat Gai yang baru saja ingin bicara menatap ke arah asal ledakan tersebut, begitupula Lee, Tenten juga Naruto. Naruto langsung menyebarkan cosmonya cepat ke arah asap ledakan tersebut, sedikit tersentak, ternyata ada beberapa ninja desanya yang sedang bertarung dengan ninja Iwa.

" Saya harus pergi." katanya yang langsung saja melakukan telepotasi ke tempat kejadian, meninggalkan Gai, Lee, Tenten juga Hiroku yang terkejut. Gai kemudian menatap ke arah tuan tanah itu serius.

" Hiroku-san, tugas kami sudah selesai kan?" tanyanya serius membuat Hiroku mengangguk cepat mendengarnya.

" Kalau begitu, kami permisi dulu. Konoha sepertinya dalam siaga 3." kata Gai yang kemudian menatap ke arah Lee dan Tenten yang sepertinya sudah tidak sabar lagi.

" Ayo kita menyusul Naruto." katanya yang di jawab anggukan oleh dua genin senior itu, kemudian mereka dengan cepat berlari menuju ke jantung desa. Di waktu yang sama, Kushina yang sudah menjemput putra bungsunya langsung saja di hadang beberapa ninja Iwa yang entah bagaimana bisa masuk ke Konoha. Kushina menatap nyalang ke arah ninja-ninja Iwa yang menyengir menjengkelkan itu kearahnya.

" Apa mau kalian?" tanyanya sinis sambil melindungi Ryuu yang ketakutan, terlihat dari tubuhnya yang bergetar dan matanya yang berkaca-kaca menahan air mata yang hendak keluar.

" Ternyata kita menemukan istri Hokage di sini. Aku yakin Tsuchikage-sama akan senang jika kita membunuhnya." kata salah satu dari lima shinobi Iwa itu. Kushina yang mendengarpun menyipitkan kedua matanya, dirinya sudah siap jika harus terjadi adu fisik dengan musuh-musuh yang tak di undang itu.

" Rozan Hyaku Ryu Ha!?" terdengar suara seruan tidak jauh dari tempat mereka, membuat Kushina, Ryuu juga ninja-ninja Iwa menatap ke arah asal suara tersebut. Bukan sosok seseorang yang mereka temukan, melainkan puluhan-puluhan naga hijau yang terbang menuju ke arah ninja Iwa yang membulatkan kedua matanya.

" ARGKKKKKKKK!?" terdengar teriakan memilukan, dimana ratusan naga hijau itu menerbangkan kelima ninja Iwa tersebut ke langit, yang pasti, Kushina bisa bersumpah jika mereka tewas terkena serangan mengerikan tersebut.

" Kaa-san!? Ryuu!? Kalian tidak apa-apa?" tanya suara yang mereka kenal, membuat Kushina dan Ryuu menatap ke arah Naruto yang berlari pelan ke arah mereka dengan kedua mata yang masih terpejam.

" Naruto!? Nii-chan!?" seru mereka berdua melihat sosoknya yang datang. Naruto tersenyum kecil, karena keadaan keluargannya tidak apa-apa.

" Naruto-sama!? Kushina-sama!? Ryuu-sama!?" terdengar beberapa kelompok ANBU yang datang setelah kelima ninja Iwa itu tewas entah kemana terkena serangan naga-naga hijau tersebut.

" Kami di perintahkan oleh Hokage-sama untuk membawa kalian ke tempat aman." kata salah satu ANBU membuat Naruto terdiam mendengarnya.

" Tolong bawa ibuku juga adikku ke tempat aman. Saya akan melawan ninja Iwa tersebut." kata Naruto pasti membuat mereka terkejut mendengarnya.

" Apa yang kamu pikirkan Naruto!? Kamu harus ikut bersama kaa-san!?" seru Kushina tidak terima, membuat putra sulungnya tersenyum.

" Sekarang status Naru adalah seorang Genin Konoha kaa-san, itu berarti tugas Naru adalah melindungi desa ini. Hokage sekaligus tou-san Naru adalah pemimpin desa ini. Naru tidak mau tou-san bekerja sendiri. Naru akan membantu." katanya pasti yang kemudian berbalik, menghadap ke arah ninja-ninja Iwa yang tidak jauh dari sana. Tiba-tiba saja, di tempat mereka berada menjadi gelap, yang tampa mereka sadari, Naruto sedang membakar cosmonya cukup besar. Dari dalam tanah, muncul puluhan-puluhan naga hijau di belakang sulung Namikaze tersebut dengan mata merah yang menatap nyalang ke arah ninja-nnja Iwa yang terkejut.

" Rozan Hyaku Ryu Ha!?" seru Naruto yang mengarahkan tinjunya ke ninja-ninja Iwa tersebut, membuat naga-naga hijau yang ada di belakangnya dengan cepat meleset ke depan, dengan mulut yang terbuka lebar, siap melahap shinobi-shinobi tersebut yang ketakutan.

" WAAAAAAAAAAAAAAA!?" teriak mereka semua, yang terbawa melayang ke langit oleh naga-naga tersebut, dimana terlihat beberapa percikan-percikan darah yang turun ke tanah, akibat serangan pemuda tersebut. Naruto menyampingkan wajahnya ke kanan, menatap ke arah Kushina juga Ryuu yang syok dengan apa yang mereka lihat.

" Tolong bawa kaa-san dan adikku pergi. Saya akan mengurusi mereka di sekitar sini." katanya yang kemudian berjalan dengan tenang ke depan, juga jubanya yang berkibar mengikuti langkahnya. Tubuh-tubuh shinobi Iwa yang tadinya terbang terkena serangan pemuda tersbeut, jatuh terhempas keras ke tanah, dimana terlihat mata terbelalak, dengan pupil yang mengecil, juga mulut yang terbuka akibat syok jangan lupakan darah yang mengalir dari mulut mereka dan bekas tinjuan yang sangat dalam tepat jantung mereka masing-masing. Di lihat dengan jelas, mereka semua sudah tidak bernyawa, membuat Kushina tersadar, dimana sosok putra sulungnya yang sudah tidak ada di sekitar mereka. Kushina yang melihat kejadian itu tidak percaya, walaupun dirinya dan Minato tidak mengetahui semua teknik putranya itu, tadi dirinya yakin jika putranya sangatlah kuat.

" Kushina-sama." panggil salah satu ANBU sekali lagi membuat Kushina tersadar, yang akhirnya mengangguk paham, berjalan mengikuti para ANBU yang membawa mereka ke tempat aman.

Di tempat kejadian yang sama juga, Minato, Fugaku, Itachi, Shisui terjun juga ke medan pertempuran. Minato sudah memerintahkan seluruh ninjanya untuk mengevakuasi para penduduk ke tempat yang aman. Kakashi, Kurenai beserta Asuma memerintahkan para murid Geninnya untuk mengevakuasi penduduk, sedangkan ketiga Jounin itu bertarung dengan ninja-ninja Iwa yang menyerang tiba-tiba.

" Dasar Kage tua!? Apa maunya dia menyerang Konoha?" geram Fugaku yang menangkis serangan-serangan beberapa ninja Iwa tersebut, sedangkan Minato yang tidak jauh darinya hanya diam, menangkis beberapa serangan ninja Iwa. Jengkel, akhirnya headclan Uchiha itu melakukan handseal dengan cepat, dengan Sharingannya yang aktif, menatap tajam ke arah ninja-ninja Iwa itu.

" Katon : Goukakyuu no Jutsu!?" serunya yang langsung saja menembakkan bola api ukuran cukup besar ke arah ninja-ninja Iwa itu. Tidak tinggal diam, ninja Iwa tersbeut juga melakukan handseal.

" Doton : Doryuuheki!?" seru salah satu ninja Iwa yang kemudian menghempaskan kedua tangannya ke tanah, dimana langsung saja tercipta dinding tanah yang melindungi mereka. Serangan Katon milik Fugakupun berhasil di tangkis oleh serangan dinding tanah mereka, membuat headclan Uchiha itu mengeram marah. Baru saja ingin melakukan handseal kembali, tiba-tiba saja, tanah di tempat mereka semua berubah menjadi es, menyebar begitu cepat. Minato, Fugaku, Kakashi beserta Itachi yang mengetahui es tersebut langsung terkejut, lalu pandangan mereka menyapu ke segala arah, mencari sosok yang mereka kenal. Seluruh kaki ninja Iwa yang menyerang Konohapun terkurung oleh es-es yang menyebar itu, membuat mereka semua tidak bisa bergerak.

" Es apa ini!? Aku baru pertama kali ada serangan Hyouton seperti ini." kata para ninja Iwa itu mencoba menarik diri, tapi tidak berhasil.

" Apa yang kalian lakukan di sini?" terdengar suara seseorang dari langit, membuat mereka semua menatap ke atas, terlihat Naruto yang berjalan mengapung di udara dengan kedua mata terpejam, menatap ke arah ninja-ninja Iwa terkejut. Semua Rookie 9, termasuk Neji, Kurenai, Asuma, Kakashi, Itachi, Shisui, Fugaku juga seluruh ninja dan penduduk yang melihat kemunculan sulung Namikaze itu terkejut bukan mainnya, apalagi dirinya muncul berjalan dengan di atas udara. Naruto menghadapkan wajahnya ke arah Minato yang tidak jauh di bawahnya. Berjalan turun mendekati ke arahnya yang masih berdiri, dimana setelahnya, dirinya kemudian berlutut tepat di depan ayahnya, dengan kaki kiri ke depan, juga tangan kirinya yang di depan dadanya, membuat Minato sedikit terkejut melihatnya.

" Hokage-sama, sepertinya pemimpin desa mereka tidak ingin berunding dengan baik. Apakah hambamu ini boleh melakukan tugas untuk mengalahkan mereka semua?" tanya Naruto berwibawa, membuat semua orang yang mendengarnya terkejut, apalagi Kage mereka yang mendengar perkataan anakknya itu sendiri. Minato menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian menatap ke arah ninja Iwa yang masih terjebak dengan es buatan putranya itu.

" Sepertinya begitu. Namikaze Naruto, lakukan sesukamu." katanya membuat Naruto mengangguk paham, yang kemudian dirinya bangkit, berjalan ke depan. Tangan kanannya terangkat ke atas langit, dimana tiba-tiba muncul puluhan mawar-mawar putih yang ada di sana, membuat semua orang yang melihatnya terkejut.

" Saya akan membuat kalian semua tewas dengan tidak menyakitkan. Terima ini, Bloody Roses!?" katanya yang langsung saja mengibaskan tangannya ke depan, yang kemudian semua mawar putihnya terlempar ke arah ninja-ninja Iwa tersebut. Tangkai-tangkai mawar putih itu langsung saja tertanjap tepat di jantung mereka semua, membuat semua ninja Iwa itu merintih kesakitan. Tiba-tiba saja, perlahan-lahan, kelopak mawar-mawar putih itu sedikit demi sedikit berubah menjadi merah darah, membuat semua orang yang menyaksikannya terkejut.

" Sesuai dengan namanya, Bloody Roses adalah teknik dimana mawar putih milikku akan mengincar ke jantung kalian. Jika kelopak mawar putihnya sudah sepenuhnya menjadi merah, maka kalian semua akan tewas." jelas Naruto tenang membuat mereka membulatkan kedua matanya.

" Ini adalah salah satu teknik andalanku yang saya pelajari dari guru Albafica. Beliau adalah salah satu guru yang sangat hebat yang saya miliki karena menggunakan bunga yang sangat indah sebagai senjatanya, yaitu mawar. Sesuai dengan sosok bunga mawar, beliau adalah guru yang sangat cantik, tapi berbahaya. Walaupun darahku tidak beracun seperti beliau, tapi kemampuan racun milik mawarku tidak kalah hebatnya dengan guruku tersebut." lanjutnya sambil menghirup aroma bunga mawar merah yang ada di tangan kanannya. Minato melihat kelopak mawar-mawar putih Naruto yang ada di jantung ninja Iwa itu sebentar lagi merah sepenuhnya, sedangkan semua ninja Iwa melihat ke mawar putih yang hampir merah berkeringat dingin. Mereka takut, cemas, gelisa, dan teknik yang sangat aneh itu bisa dengan mudah membunuh mereka, dan lagi, serangan tersebut menggunakan mawar. Seluruh kelopak mawar putih itu akhirnya sepenuhnya menjadi merah darah, yang tidak lama setelahnya, semua shinobi Iwa tersentak keras, juga kedua matanya mereka berubah menjadi putih, yang tidak lama setelahnya, tubuh mereka perlahan-lahan terhuyung jatuh ke es, yang sebelumnya Naruto sudah melepaskan es tahanan kaki mereka semua. Kakashi muncul di depan salah satu mayat ninja Iwa itu, menjongkokkan tubuhnya, mendekatkan tangan kanannya merasakan nadi di leher ninja tersebut, terbelalak.

" Me-mer-reka te-tewas." katanya membuat semua orang terkejut mendengarnya. Naruto kemudian membalikkan tubuhnya, berjalan ke depan, sebelumnya dirinya berhenti di samping Minato.

" Naru ingin 'menenangkan diri' dulu tou-san. Naru akan pulang sedikit larut atau mungkin tidak." katanya membuat Minato tersenyum sedih, mengangguk pelan, sambil menepuk bahu putranya yang di lapisi Gold Cloth tersebut. Naruto berjalan meninggalkan mereka semua dalam diam, dimana semua orang melihat ke arah sosoknya. Takjub, kagum, syok, tidak percaya, dengan teknik yang di keluarkannya itu. Hanya menggunakan mawar putih saja, seluruh ninja Iwa bisa tewas tampa melakukan perlawanan apapun. Lee yang juga ada di sana melihat kepergian sahabatnya meninggalkan mereka semua hanya diam, tidak memanggil ataupun mendekatinya sementara sulung Namikaze itu pergi semakin menjauh, tidak ada yang berani mendekati ataupun mengucap kata selamat ke arahnya. Minato hanya menghembuskan nafas lelah, sedikit memijit hidungnya sekali, lalu berjalan mendekati ke arah Kakashi, yang perlahan-lahan bangkit. Yondaime tersebut menatap datar ke arah mayat-mayat shinobi Iwa yang ada di dekatnya, lalu menatap mawar merah darah yang masih tertancap di jantung mereka semua.

" Jika Tsuchikage masih ingin menyerang Konoha lagi, maka akupun tidak bisa tinggal diam." katanya datar, sedangkan semua orang yang mendengar ucapan Kagenya hanya diam. Dirinya tidak mengerti, kenapa Oonoki masih saja menyimpan dendam kepadanya, padahal kedua negara tersebut sudah melakukan tandatangan damai satu sama lain, termasuk dengan Kumogakure. Membalikkan tubuhnya, dirinya berjalan menuju ke kantor Hokage.

" Bereskan semua mayat mereka. Aku akan melakukan pertemuan dengannya." katanya tegas membuat seluruh ANBU, Jounin juga Chuunin yang di sana mengangguk paham yang langsung saja mereka semua memapah seluruh mayat ninja Iwa itu, lalu menghilang dari area pedesaan, meninggalkan para penduduk yang berkumpul, membicarakan apa yang sebenarnya terjadi, sedangkan para Rookie 9 hanya diam, mencerna semua apa yang mereka lihat, termasuk Sasuke, dirinya tidak menyangkah jika putra dari Hokage tersebut memiliki kekuatan yang sangat mengerikan.

" Sekarang kamu mengerti bukan tuan muda Uchiha, kenapa aku tidak mau cari gara-gara dengan Naruto?" kata suara seseorang membuat Sasuke tersadar dari lamunannya, menatap Kiba yang menerawang jauh, tempat dimana sulung Namikaze itu pergi, begitupula Rookie 9 yang berkumpul bersama dengan mereka.

" Dia memiliki kekuatan yang bisa mengirim seseorang ke tempat yang mengerikan, lalu bisa mementalkan seseorang dengan kibasan tangannya saja, dan sekarang, menggunakan mawar putih, membunuh musuhnya tampa melakukan serangan apapun. Teknik-teknik yang di miliki Naruto berada di luar nalar kemampuan ninja yang ada di dunia ini. Aku tidak akan terkejut lagi jika dirinya memiliki kekuatan aneh lainnya." jelasnya lagi membuat mereka semua terdiam dalam pikiran masing-masing.

Di sisi lain, Oonoki yang ada di kantornya, setelah menerima berita dari ninja mata-matanya mengeram marah. Rencananya untuk menghancurkan Konoha gagal total. Dia sempat meminta dari Kumogakure, Raikage A untuk membantunya menyerang Konoha, tapi Kage tersebut menolak mentah-mentah, karena tidak mau mempermalukan desanya kembali seperti dulu. Memang benar, Kumogakure sekarang di pandang negara paling rendah, setelah rencana mereka gagal total menculik heirless Hyuga , bahkan sekarang perekonomian mereka terguncang akibatnya. Banyak orang-orang yang tidak lagi menggunakan jasa dari ninja Kumo, karena di anggap sebagai ninja kelas bawah. Jika bukan karena kerjasama dengan Konoha, Kumo mungkin sekarang sudah menjadi negara pelosok dan terbelakang. Mendengar nama Minato, Minato dan Minato, sudah membuat Kage tua itu muak. Dirinya sangat benci dengan Kage yang selalu memberikan senyum hangat, juga berwibawa itu, dan lagi, kejadian 16 tahun lalu yang tidak bisa dirinya lupa. Para tetua sebenarnya tidak menyetujui dengannya yang ingin membangkitkan api perang dengan Konoha, karena itu hanya akan sia-sia saja, tapi dirinya keras kepala jika desa mereka akan menang.

.

.

.

BRAKK!?

.

.

.

Pintu ruang kerjanya terbuka keras, dimana terlihat Perdana Mentri negara Batu, juga beberapa tetua desa yang masuk, membuat dirinya terkejut.

" Oonoki, mulai sekarang, Kaisar Negara Batu mencabut kekuasaanmu." kata Perdana Mentri tersebut membuat Oonoki membulatkan kedua matanya.

" Tindakkanmu sudah keterlaluan Oonoki. Apa kau ingin membangkitkan perang lagi? Kaisar sudah gerah dengan tingkah lakumu yang egois itu. Sekarang kami sudah menunjuk Yondaime Tsuchikage. Hiroshi, masuk!?" perintah sang Perdana Mentri, yang kemudian terlihat seorang pria berusia hampir kepala tiga, berambut coklat gelombang pendek, dengan iris mata berwarna topaz, menyengir ke arah Oonoki yang membulat.

" Ka-kau.." kata Oonoki tidak percaya.

" Akhirnya jabatanmu hilang juga pak tua. Kau terlalu keras kepala, dan penungguanku berhasil, karena keserahkahanmulah, kau di jatuhkan." kata Hiroshi menyengir membuat Oonoki menggertakan giginya.

" Kaisar juga melihat jika kau sudah tua, makanya dirinya langsung saja memutuskan kau di berhentikan." lanjut sang Perdana Mentri membuat Oonoki menggertakan gigi mendengarnya. Pernada Mentri negara batu itu membalikkan tubuhnya, sedikit meirik ke belakang.

" Bereskan barangmu segera. Besok Horishi akan memimpin desa ini." lanjutnya yang kemudian meninggalkan ruangan Tsuchikage tersebut. Hiroshi berjalan masuk ke dalam santai, dimana terlihat sengiran puas di wajahnya. Mendudukkan bokongnya di sofa ruangan tersebut, menatap ke arah Oonoki yang masih mengeram marah.

" Sudah saja pak tua. Tugasmu sudah cukup sampai di sini. Dan lagi, Kaisar sangat marah ketika kau tidak melindungi Jinchuriki Gobi dari Akatsuki." katanya sambil merentangkan kedua tangannya di sofa, sedangkan Oonoki mendengus kasar mendengarnya.

" Dan kenapa lagi kau mencari gara-gara dengan Konoha? Apa kau sudah gila atau ingin memulai perang shinobi ke 4 hah? Raikage A saja sampai malu kutu akibat Yellow Flash, dan kau masih cari gara-gara dengannya? Kalau aku jadi kau, aku mending cari jalan aman, dan berdamai dengannya." lanjutnya.

" Sayang sekali, aku bukan kau. Aku akan melakukan apapun untuk menghancurkannya." jawab Oonoki marah, membuat Hiroshi menggelengkan kepala tidak mengerti.

" Kemarin aku dengar ada seorang anak perempuan dengan armor emas ingin bertemu denganmu, tapi ninja-ninjamu menghadanginya. Aku tidak mengerti, kenapa kau masih keras kepala seperti itu, lagipula, Iwa kalah dalam peran lalu juga salahmu sendiri." katanya santai tidak mempedulikan Oonoki yang marah mendengarnya. Hiroshi bangkit dari sofa, berjalan menuju pintu keluar.

" Kau sudah tua Oonoki, sebaiknya habiskan sisa waktumu dengan bersantai. Jika kau seperti ini terus, lama-lama hanya akan merusak mental ninja Iwagakure, dan syukurlah aku yang menjabat besok. Aku akan mengubah semua sistem aneh milikmu itu, dan membuat perlahan-lahan shinobi Iwa tidak membenci Yellow Flash." katanya meninggalkan Ooniki di ruangannya.

.

.

.

.

Langit sudah mulai senja, penduduk Konoha sudah bisa melakukan aktifitasnya seperti biasa, lalu beberapa ninja-ninja Konoha membereskan kerusakan-kerusakan akibat penyerangan Iwagakure yang secara tiba-tiba itu selesai. Kushina berjalan cepat di lorong kantor Hokage, dengan wajah yang sangat menyeramkan, membuat shinobi-shinobi yang berpapasan dengannya tidak berani menyapanya.

.

.

.

BRAK!?

.

.

.

Terdengar bantingan keras yang di akibatkan oleh first Lady itu ketika dirinya membuka pintu ruangan Hokage, dimana terlihat Hiruzen, Kakashi, Asuma, Kurenai juga Gai yang terkejut menatap ke arahnya, Fugaku yang selalu menasang wajah datar menatap ke arahnya. Minato yang berdiri memunggunginya, dirinya menatap ke luar jendela dengan kedua tangannya di pinggangnya.

" Minato, mana Naruto?" tanya Kushina tajam, walaupun nafasnya masih ngos-ngosan. Dia sudah mengamankan putra bungsungnya Ryuu di rumah dengan pengamanan para ANBU yang di kirim suaminya. Minato yang mendengar pertanyaan istrinya hanya diam, masih tenang menatap luar. Menggertakan giginya marah, dia masuk ke dalam, mengerbak meja kerja suaminya.

" Minato, dimana putraku?" tanyanya penuh penekanan, membuat semua orang yang ada di sana memundurkan diri, tidak berani menganggu jelmaan Kyuubi kedua itu, sedangkan Minato hanya diam, tidak membalas perkataan istrinya.

" Minato, katakan dimana Naruto? Aku ingin.."

" Cukup Kushina." terdengar bentakan keras dari sang Yondaime, membuat semua orang yang mendengarnya terkejut, termasuk Kushina yang membulatkan kedua matanya, mendnegar untuk pertama kalinya sosok Minato yang terkenal lembut bisa semarah ini. Menarik nafas panjang, kemudian dirinya menghembuskannya perlahan-lahan.

" Naruto ingin menenangkan dirinya Kushina, tolong mengertilah." katanya lemah, yang kemudian dirinya berjalan ke kursinya, duduk lemas ke sana.

" Ini pertama kalinya dia membunuh orang Kushina. Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi biarkan dirinya sendiri dulu dan setelahnya, kita bicara baik-baik dengannya." lanjut pria rupawan itu membuat Kushina bungkam, berjalan pelan menuju ke sofa, menduduki dirinya lemah di sana.

" Aku tahu bagaimana perasaannya untuk pertama kali dia membunuh seseorang. Akupun dulu pertama kali membunuh orang lain pikiranku kalut, dan merasa sangat berdosa. Aku hanya ingin bilang, jika dia tidak perlu merasa bersalah jika membunuh orang, karena itu untuk melindungi diri." kata Kushina tersenyum sedih, membuat suaminya tersenyum lemah mendengarnya.

" Kamu tahu, aku melihat teknik Naruto yang sangat keren." kata Kushina terkekeh.

" Benarkah? Aku juga melihat teknik Naruto yang sangat menarik." kata Minato tertarik, sedangkan wanita berambut merah itu mengangguk.

" Ya. Naruto bisa memanggil Naga." katanya bangga membuat Minato juga semua orang yang mendnegarnya terkejut.

" Na-naga." kata Hiruzen tidak percaya, membuat first lady itu mengangguk.

" Bukan hanya seekor Naga, tapi ratusan Naga hijau yang panjangnya bisa sampai lima meter." lanjutnya lagi membuat mereka syok mendengarnya. Minato yang awalnya terkejut mendnegar perkataan istrinya, mendengar putranya bisa mengeluarkan beratus-ratus naga itu tersadar.

" Bukan hanya itu saja Kushi-chan. Naruto juga bisa memanipulasi bunga, lebih tepatnya mawar." kata Minato dengan nada bangga juga membuat Kushina terkejut mendengarnya.

" Benarkah?" tanyanya tidak percaya, membuat semua orang yang ada di sana mengangguk mendengarnya.

" Benar sekali Kushina. Aku melihat dari jauh jika Naruto-kun bisa memanipulasi bunga mawar. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa melakukan hal seperti itu." jelas Hiruzen membuat Kushina terdiam mendengarnya. Pintu ruangan tersebut terbuka, membuat semua orang yang ada di sana menatap ke arah tersebut, dimana terlihat Naruto di sana yang terdiam.

" Maafkan saya. Saya kira tidak ada orang." katanya bermaksud menutup pintu, tapi langsung di cegah Kushina cepat.

" Masuk nak. Kaa-san ingin bicara denganmu." kata Kushina lembut membuat Naruto tersenyum kecil mendengarnya.

" Kaa-san dan Tou-san tidak perlu mengkhawatirkan Naru. Naru tidak masalah jika harus membunuh orang." katanya tenang membuat mereka semua tersentak mendengarnya. Minato bangkit dari kursinya, berjalan mendekati mereka berdua.

" Apa maksudmu, Naruto?" tanyanya membuat sulung Namikaze itu tersenyum.

" Sebenarnya Naru tidak mau membunuh orang, tapi karena mereka sudah melakukan hal yang keterlaluan kepada Konoha, terutama kepada tou-san, kaa-san juga Ryuu, Naru tidak bisa tinggal diam. Naru memberikan mereka tewas yang tidak menyakitkan, makanya Naru menggunakan teknik Bloody Roses. Tou-san dan kaa-san tidak perlu khawatir." jawabnya membuat Minato dan Kushina tertegu mendengarnya. Minato menatap lekat-lekat wajah putranya itu yang hampir menyerupainya, tapi sedikit berisi seperti bentuk wajah istrinya. Wajah yang cantik namun tegas, juga suara yang di keluarkan oleh putranyapun bersungguh-sungguh. Tersenyum kecil, Kage itu menepuk pelan kepala putranya yang tidak menggunakan helm armor emasnya, dimana ada di tangan kanan sulung Namikaze tersebut.

" Maafkan tou-san." bisik Minato lirih, sedangkan di jawab gelengan oleh pemuda tersebut.

" Maafkan kaa-san juga Naruto. Seharusnya kamilah yang melindungimu, bukan kamu yang melindungi kami." isak Kushina membuat pemuda tersebut menggeleng lagi.

" Tou-san dan kaa-san sudah cukup menjagaku, sekarang tugas kalian adalah menjaga Ryuu dan mendidiknya agar bisa mempertahankan diri sendiri dan mandiri. Kalian tidak perlu mencemaskan Naru lagi. Sekarang Naru sudah dewasa, dan Naru juga seorang Genin." jawabnya tulus membuat Minato tersenyum bangga mendengarnya, sedangkan kushina mengelap air matanya, mengangguk paham.

" Tapi sebelumnya kamu ingin menenangkan diri. Itu maksudnya apa?" tanya Minato.

" Naru ingin bermeditasi." jawabnya singkat membuat mereka semua cengok, sweatdrop juga jawdrop mendengar pelunturan pemuda tersebut.

" Karena jika tadi Naru bilang ingin bermeditasi, pasti aneh di suasana tegang seperti itu, jadi Naru bilang ingin menenangkan diri." lanjutnya tidak berdosa membuat Minato dan Kushina saling pandang sejenak, yang tidak lama setelahnya mereka semua tertawa terbahak-bahak, diikuti Hiruzen, Fugaku juga yang lainnya.

" Biar aku tebak, kamu kemari ingin bermeditasi bukan Naruto-kun? Mengganti suasana?" kata Hiruzen di sela-sela tawanya, yang di jawab anggukan pemuda tersebut.

" Benar sekali, Hiruzen jii-san. Saya tadi sudah bermeditasi di hutan dekat sini, lalu ingin kemari, karena saya pikir tidak ada orang, jadi saya masuk saja, tapi ternyata sedang ada rapat." jawabnya polos membuat mereka semakin terbahak-bahak mendengarnya. Naruto yang mendengar tawa semua orang yang di sana hanya tersenyum kecil, berjalan melewati kedua orang tuanya, mencari tempat yang enak untuk bermeditasi. Sebenarnya, dirinya sudah mengetahui pembicaraan mereka semuanya sebelum di sini, karena dia bermeditasi di bukit Hokage. Berkat karena indra penglihatannya yang sengaja di tidakfungsikan, maka keempat panca indranya berfungsi berkali-kali lipat. Dia memang tidak memang tidak menceritakan kemampuannya yang satu ini, karena ini merupakan rahasianya sendiri.

.

.

.

.

.

SKIP TIME

.

.

.

.

Beberapa minggu setelahnya

.

.

.

.

Setelah terjadinya penyerangan kecil yang di lakukan Iwagakure, Konoha di kejutkan jika Kage Iwa sekarang bukanlah Oonoki, melainkan Hiroshi, yang sekarang menjabat sebagai Yondaime Tsuchikage. Hiroshi meminta maaf sebesar-besarnya atas penyerangan tersebut kepada Minato, yang tentu saja di sambut tangan terbuka oleh Yondaime dari Konoha tersebut, walaupun banyak shinobi Iwa masih membenci sang Yellow Flash. Sekarang Naruto beserta teamnya akan melakukan misi selanjutnya. Dirinya sendiri sudah melakukan 6 misi, termasuk misi rank A dadakan waktu penyerangan Iwa. Gai membuka pintu ruangan Hokage, yang sebelumnya sudah di persilahkan masuk, terlihat Minato yang duduk di sana memberikan senyum hangat, Hiruzen yang tersenyum kecil ke arah mereka, serta Shikaku yang menemaninya. Tidak hanya di situ, Kakashi, Neji, Sasuke juga Sakurapun ada di sana.

" Neji, lama tidak berjumpa." sapa Tenten membuat Neji mengangguk sekali. Naruto berjalan masuk, berdiri di samping Lee yang menyapa ke arah Neji. Sedikit menggeserkan kepalanya ke samping, dimana menghadap ke arah Sasuke yang menatap ke arahnya.

" Ada apa, kera?" tanyanya membuat Sasuke siap menerjangnya jika bukan Kakashi yang menahannya, sedangkan Minato menghembuskan nafas lelah mendengar kalimat putranya itu.

" Naruto, jangan seperti itu." tegur Minato membuat sulung Namikaze tersebut mengangguk pelan, menghadap ke depan, dimana ayahnya berada. Minato menatap kedua kelompok genin di depannya serius.

" Kali ini, aku ada misi yang akan di lakukan dua team genin." katanya membuat kedua team tersebut menunggu kelanjutanya. Minato menatap ke arah Kakashi dan Gai bergantian.

" Apa kalian berdua pernah mendengar tentang Gatou Group?" tanyanya membuat Gai mengangguk semangat, sedangkan Kakashi mengangguk mendengarnya.

" Gatou Group adalah perusahaan besar dalam bidang pelabuhan Kirigakure, lebih tepatnya di Nami no Kuni. Saya mendengar jika sudah 2 tahun perusahaan itu berkembang di Kirigakure." jelas Kakashi membuat Minato mengangguk mendengarnya.

" Misi kalian ini, ada hubungannya dengan perusahaan tersebut." katanya membuat kedua Jounin itu sedikit bingung.

" Maksud anda, Hokage-sama?" tanya Gai tidak mengerti, membuat Minato memanggil seseorang di luar, dimana pintu terbuka, terlihat seorang pria tua berambut putih, dengan kumis dan jenggot yang senada dengan warna rambutnya, menggunakan baju hitam tampa lengan, dengan celana panjang coklat muda berdiri di sana, berjalan sambil menundukkan kepalanya masuk ke ruangan tersebut. Kakashi, Gai, Sasuke, Neji, Sakura, Tenten dan Lee menatap bingung ke arah kakek tua tersebut, dimana dia berdiri di samping meja Minato.

" Dia adalah klien kalian. Namanya Tazuna seorang pembuat jembatan besar yang menghubungkan Nami no Kuni dengan perbatasan negara Api." kata Minato memperkenalkan Tazuna kepada mereka semua.

" Ada yang aneh dengan aura tubuh kakek itu, seperti seseorang yang melakukan kesalahan besar juga kesedihan mendalam." kata Naruto tiba-tiba membuat Tazuna tersentak mendengarnya, menatap ke arahnya yang berdiri menghadap ke arahnya dengan mata terpejam, membuat Minato tersenyum kecil mendengarnya.

" Bukan apa-apa. Tazuna-san sebenarnya memalsukan rank misi yang sebenarnya yang di buatnya." kata Minato membuat kedua Jounin dan team genin masing-masing terkejut, kecuali Naruto yang tetap tenang mendengarnya.

" Maksudnya Hokage-sama?" tanya Gai membuat Minato tersenyum sedih.

" Seperti yang aku bilang sebelumnya, Tazuna-san sedang membuat jembatan yang menghubungkan desanya dengan desa Negara Api. Beliau meminta bantuan Konoha untuk mengawalnya sampai ke tempatnya." jelas Minato.

" Bukannya Nami no Kuni kawasan dari Kirigakure. Kenapa tidak meminta bantuan ninja dari Kirigakure?" tanya Neji, sedangkan kedua Jounin, Minato, Hiruzen dan Shikaku diam mendengarnya.

" Desa Kirigakure sekarang dalam masa perang saudara, dimana Yondaime Mizukage Yagura memerintahkan untuk membunuh seluruh keturunan yang memiliki kekkei genkai." jelas Gai membuat kelima genin itu terkejut mendengarnya.

" Kembali ke topik. Apa hubungannya Gatou Group dengan misi kita mengawal Tazuna-san kembali ke desanya?" tanya Kakashi, membuat Minato menghembuskan nafas pelan, mencoba menduduki dirinya nyaman.

" Gatou Group ternyata merupakan perusahaan yang menghalalkan segala cara untuk mengembangkan perusahaannya. Narkoba, perdagangan wanita, penyeludupan, pasar gelap, dan hal-hal kotor lainnya. Kemudian juga, perusahaannya membuat desa Nami no Kuni menjadi sengsara." jelas Minato membuat mereka semua terdiam mendengarnya. Kedua siku Minato di letakan di atas meja, dengan kedua tangan yang bertaut satu sama lain, dimana iris mata saffirenya menatap serius ke arah orang-orang di depannya.

" Misi kalian ini adalah misi rank-A. Aku meminta dua kelompok genin bersatu karena jika cuma satu kelompok saja pasti tidak mungkin bisa menyelesaikan misi ini, karena aku dengar dari Tazuna-san juga, Gatou menyewa ninja bayaran untuk membunuhnya. Kalian akan mengantar Tazuna-san selamat sampai ke tempatnya." jelasnya membuat Kakashi dan Gai menegakkan tubuhnya, mengangguk paham.

" Kami siap melaksanakan misi ini!" seru mereka serempak, membuat Minato tersenyum mendengarnya, lalu menatap ke arah putranya yang di lindungi Gold Cloth miliknya, berdiri tenang di sana.

" Apa kamu bisa menjaga dirimu Naruto? Tou-san sangat khawatir dengan keadaanmu." katanya membuat Tazuna sedikit tersentak, menatap ke arah Naruto yang tersenyum tipis mendengarnya.

" Tou-san tidak perlu khawatir dengan Naru, karena Naru bisa jaga diri dan lagi, Naru bersama Lee, Tenten dan Gai-sensei. Jadi, tou-san tenang saja di sini, dan duduk tenang sambil melakukan tugas tou-san sebagai seorang Hokage." katanya membuat Minato tersenyum sedih mendengarnya, karena buka jawaban itu yang ingin dia dengar. Dia tahu putranya sangat kuat, tapi dia ingin agar Naruto bisa tergantung kepadanya. Menggelengkan kepalanya pelan, dirinya tidak boleh selalu seperti itu, karena diapun memiliki putra bungsungnya.

' Walapun Naruto tidak tergantung padaku, tapi masih ada Ryuu yang membutuhkan perlindungan.' pikirnya yang kemudian tersenyum.

" Kalau begitu, kalian semua laksanakan misi ini dengan baik." perintahnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC