Shinobi Saint
.
.
.
.
By Victorianus
.
.
.
.
Naruto
.
.
.
.
Adventure, Fantasy, Family
.
.
.
.
Chapter 9
.
.
.
.
.
Setelah kejadian terlemparnya Sasuke oleh Naruto, Kakashi menceramahinya agar tidak lagi menganggu putra dari senseinya itu. Pria Hatake itu tidak habis pikir, kenapa Sasuke selalu saja mencari masalah dengan Naruto, padahal sulung Namikaze bisa di lihat tidak melakukan apapun. Setelah hampir 2 bulan, dirinya akhirnya mengenal sifat Naruto yang sangat menyukai suasana tenang, berbicara jika perlu dan suka bermeditasi. Tidak ada hal-hal mencurigakan dan di salahkan kepada sulung Namikaze itu, walaupun sebutan kera yang selalu keluar dari mulutnya bisa membuat orang-orang sakit hati jika tidak memiliki templar yang stabil.
" Kamu mengerti Sasuke? Mulai sekarang, jangan lagi kamu menganggu Naruto, apapun kondisi dan situasinya. Kamu sudah lihat sendiri bukan, apa yang terjadi." kata Kakashi serius melihat Sasuke yang di bantu Neji mengeringkan rambutnya, dimana Uchiha bungsu itu bertelanjang dada dengan celana boxer hitam. Neji memasang wajah tenangnya menatap ke Uchiha bungsu itu, sedangkan Sakura, Lee, Tenten, Tazuna juga Tsunami menatap ngeri apa yang tercetak jelas di tubuh Uchiha bungsu tersebut. Bagaimana tidak ngeri, hampir separuh tubuhnya memar-memar biru entah karena apa, terlihat Sasuke yang meringis kesakitan jika menggerakan sisi tubuh kirinya yang memar, mungkin karena serangan Naruto dengan kedua matanya yang membuat Uchiha bungsu itu begitu. Gai yang tadinya keluar masuk ke rumah sederhana itu, berjalan mendekati ke arah rival abadinya, menatap ke arah Sasuke yang merinti, sesekali menggerutu.
" Sepertinya kemampuan mata yang di miliki Naruto sungguh mengerikan. Lihat saja, tubuh Sasuke-kun hampir semuanya memar, bahkan mata legendaris Rinnegan tidak memiliki kekuatan seperti itu. Apa mungkin karena itulah Naruto memejamkan kedua matanya." nilai Gai sambil mengelus dagunya, melihat Sasuke yang merintih kesakitan.
" Aku juga tidak tahu Gai. Hokage-sama sendiri juga tidak tahu secara lengkap kemampuan Naruto." aku Kakashi melihat Neji yang sudah selesai mengeringkan rambut Sasuke, pergi meninggalkan pemuda itu sendiri. Gai mengambil sesuatu di kantung ninjanya, terlihat beberapa tumbuhan-tumbuhan di sana.
" Ini mungkin akan membantu penyembuhan Sasuke. Aku menemukannya di dekat hutan ini, dan aku rasa sangat praktis untuk keadaannya sekarang." kata Gai menyerahkannya kepada Kakashi yang menerimanya, tersenyum.
" Terima kasih." katanya, kemudian pergi berlalu, menuju ke dapur untuk menumbuk tumbuhan obat yang di dapatnya dari rivalnya itu. Lee menatap baik-baik memar-memar yang di terima oleh Uchiha bungsu itu, terlihat biru keunguan yang cukup tebal. Dia tidak menyangkah cuma karena tatapan mata saja bisa membuat luka fatal seperti itu. Dia akhirnya mengerti kenapa sahabatnya selalu memejamkan kedua matanya, mungkin karena tidak mau melukai orang-orang di sekitarnya karena kedua mata sahabatnya itu bisa mengeluarkan kekuatan yang mengerikan.
" Sial…" rutuk Sasuke yang merasakan begitu kesakitan dirinya akibat memar-memar yang ada di tubuhnya itu. Tidak lama setelahnya, muncul Kakashi dengan sebuah baskom yang cukup besar di tangan kanannya, berjalan mendekati Sasuke. Pria Hatake itu meminta Sasuke untuk berbaring, yang di turuti oleh bungsu Uchiha tersebut. Kakashi mengoles selep dari tumbuhan-tumbuhan yang di tumbuknya tadi ke tubuh bungsu Uchiha itu, bersyukurlah cuma bagian depan yang memar, tidak sampai bagian punggung pemuda tersebut. Neji duduk bersama dengan genin lainnya, dimana dirinya duduk di samping rekan lamanya, Lee.
" Hari sudah larut. Apa kalian semua tidak mau istirahat?" tanya pemuda Hyuga itu kepada mereka semua.
" Bagaimana dengan Naruto-kun? Dia masih belum kembali dari tadi." kata Tenten cemas dengan keadaan rekan teamnya itu. Gai yang ada di dekat merekapun menatap ke arah murid didiknya.
" Tenang saja. Naruto tidak apa-apa. Sensei tadi sempat bertemu dengannya di depan rumah. Dia sedang bermeditasi di sana." kata Gai tersenyum menenangkan, membuat Lee tersentak. Pemuda energi itu bangkit, berlari pelan ke arah jendela depan, menatap keluar, terlihat Naruto yang sedang bermeditasi dengan tenang di atas jembatan kayu tidak jauh dari rumah Tazuna. Angin malam meniup wajahnya, membuat rambut panjangnya menari dengan bebas dengan indah, dimana terlihat armor helm pemuda tersebut ada di pangkuannya. Lee menghembuskan nafas lega, melihat sahabatnya yang bermeditasi tenang di sana, menikmati angin malam yang tidak terlalu dingin, juga kencang. Neji, Sakura juga Tentenpun melihat sulung Namikaze itupun dalam diam.
" Apa Naruto-kun tertidur?" tanya Tenten melihat temannya yang sangat tenang duduk bersila, juga cuaca yang sepertinya sangat bersahabat dengannya. Tidak terlalu dingin, juga anginpun berhembus dengan tenang, seperti cuaca malam sekarang sangat bersahabat dengannya.
" Masih banyak misteri yang dimiliki Naruto-sama. Entah itu kemampuannya juga kekuatannya yang masih tidak kita mengerti. Aku sangat ingin mengetahui kemampuan yang dimiliki Naruto-sama." kata Neji dimana kedua matanya tidak lepas dari sosok Naruto yang sangat tenang bermeditasi di sana, membuat Lee dan Tenten mengangguk setuju, sedangkan Sakura hanya diam mendengar perbincangan mereka. Mereka akhirnya menutup jendela tempat itu, meninggalkan Naruto yang bermeditasi di luar dengan tenang. Lampu dalam rumah juga sudah padam, menandakan semua orang yan ada di dalamnya sudah beristirahat, masuk ke dalam dunia mimpi.
.
.
.
.
Keesokan harinya, setelah Team Kakashi juga Team Gai, kecuali Naruto sarapan, karena sulung Namikaze itu mendapatkan buah dari hutan tidak jauh dari tempat tinggal Tazuna, mereka latihan. Naruto seperti biasa, bermeditasi di atas batu raksasa yang ada di dekat tempat Team Kakashi latihan memanjat pohon dengan berjalan, kecuali Neji yang sudah ahli dalam hal tersbeut, juga Sasuke yang sudah di ajari oleh Itachi, walaupun masih belum sempurna. Ketika mereka asik latihan, tiba-tiba saja, sebuah portal hitam muncul di dekat mereka semua, terutama beberapa meter di depan Naruto, membuat Gai dan Kakasi langsung saja melompat melindungi sulung Namikaze tersebut. Naruto sedikit mengerutkan kening, yang tidak lama setelahnya dirinya tersentak, merasakan cosmo familiar yang semakin mendekat. Bangkit, pemuda tersebut berjalan mendekati portal yang merupakan teknik Another Dimension tersebut.
" Naruto!" seru Gai, Kakashi juga Lee, sedangkan yang bersangkutan hanya menggeleng.
" Bukan musuh. Yang datang ini adalah guruku." katanya membuat mereka membulatkan kedua matanya.
" Gu-gurumu.." kata Lee tidak percaya, membuat Neji langsung penasaran dengan sosok guru putra Hokage tersebut, begitupula Sasuke.
" Aku kesal sama paman Sisyphus. Kenapa saja masih tidak merestui hubungan kita? Ayah saja sudah menerimamu!" terdengar suara seruan kesal seseorang dari portal tersebut, yang tidak lama setelahnya muncullah sosok seorang pemuda belia berambut coklat yang usianya sekitar 15 tahun, dengan baju santai berwarna kuning, juga celana jeans panjang, jangan lupa tas ranselnya yang di punggungnya, beserta seorang pria gagah berambut pirang pendek melawan gravitasi, dengan surplice Wyvern yang ampun-ampun besarnya, melekat di tubuhnya. Pria tersebut mencoba menenangkan pemuda manis yang ngambek seperti anak kecil.
" Kak Regulus! Paman Rhadamathys!" sapa Naruto yang kedua matanya terpejam seperti biasanya, membuat Regulus juga Rhadamathys menatap ke arahnya. Regulus tersenyum lebar, berlari ke arah Naruto, yang langsung memeluk pemuda tersebut.
" Naruto! Aku kangen sekali kepadamu. Bagaimana kabarmu?" tanya Regulus memeluk pemuda tersebut dengan erat, sedangkan Rhada hanya tersenyum tipis melihat tingkah kekashinya itu.
" Naru baik Kak. Kenapa Kak Regulus dan Paman Rhada kemari?" tanyanya melepas pelukannya, melihat sang singa mengecur bibirnya imut.
" Bukan hanya mereka berdua, tapi kami juga." terdengar suara seseorang lagi membuat Naruto menatap ke belakang Regulus, terlihat seorang pemuda cantik dengan rambut biru tirus panjangnya yang indah, menggunakan baju santai berwarna putih, dengan celana jeans, juga seorang pria dengan tampang mengerikan, berambut biru melawan grafitasi menggunakan baju tampa lengan berwarna coklat dengan celana santai selutut, yang masing-masing mereka membawa tas juga koper.
" Hoi hakim! Bawa sendiri kopermu!" seru pria bertampang sangar tersebut a.k.a Manigoldo, membuat Rhada menghembuskan nafas, mengambil koper miliknya.
" Kak Albafica. Kak Manigoldo." kata Naruto senang membuat Albafica tersenyum mendengarnya, lalu Manigoldo yang menjitak kepala pemuda tersebut.
" Bocah! Bagaimana kabarmu?" tanya Manigoldo basa-basi, sedangkan Naruto meringis pelan sambil mengelus kepalanya yang di jitak oleh sang Cancer tersebut.
" Baik kak. Kakak sendiri kenapa ikut Kak Regulus dan Paman Rhada?" tanya Naruto bingung, soalnya perasaan hubungan sang Cancer dengan sang Dewa Kematian tersebut sudah kembali mesrah.
" Aku yang memintanya untuk menemaniku." jawab Albafica membuat Naruto menatap ke arah pemuda yang memiliki paras cantik tersebut.
" Kak Albafica kabur karena Paman Minos lagi ya?" tanya Naruto membuat Albafica langsung melipat kedua tangannya di depan dada, mengangguk.
" Hakim sialan itu sudah di kasih hati malah minta jantung dan si Aphrodite selalu saja menggodaku dengan mulut busuknya. Karena Regulus yang juga kesal dengan tingkah Sisyphus, jadi kami meminta Defteros untuk mengirim kami ke tempatmu, dan Asmita juga sudah menjamin dengan kepergian kami berempat." jelasnya panjang lebar membuat Naruto diam mendengarnya.
" Paman Sisyphus reseh soalnya. Aku dengan Rhada kan susah kencannya. Kemana-mana di buntuti, tidak boleh inilah, tidak boleh itulah. Pegangan tangan saja tidak boleh. Keterlaluan banget. Padahal dia sendiri dengan Kak Aspros yang bergandengan aku tidak sewot." kesal Regulus membuat Rhada mengelus rambut coklat pemuda tersebut dengan kasih sayang.
" Sudah-sudah. Wajar saja jika Sisyphus khawatir denganmu yang masih belum cukup umur berpacaran, apalagi denganku yang usia kita berpaut jauh." katanya membuat Regulus menggeleng mendengarnya.
" Tidak, tidak. Paman Sisyphus yang keterlaluan. Ingat dirinya yang hampir menembak panahnya ke arahmu cuma hampir kita berciuman. Untung ada Kak Asmita, Kak Aspros juga Shaka yang menenangkannya." kata Regulus tidak setuju, membuat sang Wyvern tersenyum tipis mendengarnya, lalu mengecup puncak kepala pemuda belia tersebut, yang tentu saja membuat Regulus langsung merona mendapat perlakuan dari pria yang di cintainya itu.
" Rhada, Regulus, aku tahu kalau kalian berdua adalah sepasang kekasih yang paling sempurna sejagat, tapi di sini dimensi lain. Lihat orang-orang yang menyaksikan aksi kalian barusan." kata Manigoldo menunjuk dengan dagunya, membuat kedua sejoli tersebut menatap ke arah Kakashi dan Gai yang membulatkan kedua matanya, sedangkan yang lain hanya melongo juga merona melihat aksi kedua sejoli tersebut.
" Eh…. a-anu.." gagap Regulus salah tingkah dengan wajah yang tersipu malu, sedangkan Rhadamanthys yang ada di sampingnya, memeluk pinggang pemuda mungil itu, melindungnya dengan sayap surplice kanannya. Naruto hanya menghembuskan nafas melihat wajah sang Cancer yang menyengir menyebalkan ke arah kedua sejoli itu, lalu Albafica yang terkekeh pelan dengan tingkah adik tirinya tersebut.
" Ah benar. Kak Regulus, Kak Manigoldo, Kak Albafica dan Paman Rhada. Aku akan memperkenalkan kalian dengan guruku juga teman-temanku." katanya akhirnya, membuat Albafica juga Manigoldo menatap ke arah Kakashi dan Gai yang mencoba menutup kegugupan mereka dengan kehadiran keempat orang dari dimensi lain tersebut. Naruto memperkenalkan kedua senseinya juga teman-temannya itu, tapi Manigoldo langsung menyela, ketika dirinya melihat sosok Sasuke.
" Jadi kamu bocah yang hampir di kirim ke Underworld oleh Naruto yang di cerita oleh Thanatos?" kata Manigoldo menatap ke arah Sasuke dari ujung kepala sampai ujung kaki, yang kemudian dirinya mengelus dagunya yang tidak gatal, menatap acuh ke arah bungsu Uchiha tersebut, sedangkan yang bersangkutan berdecak kesal.
" Naruto, apa kami boleh tinggal di tempatmu?" tanya Regulus dengan bola mata layaknya anak kucing yang minta di pungut, membuat Rhadamanthys berdehem, Kakashi dan Gai yang mengeluarkan semburat pink tipis, sedangkan Tenten dan Sakura terteguh melihatnya. Naruto yang bisa merasakan aura moe, juga bisa melihat wajah gurunya di dalam otaknya salah tingkah sendiri, lalu mengangguk kaku.
" Te-tentu saja Kak Regulus. Sekalian nanti aku akan memperkenalkan keluargaku kepada kalian." jawabnya membuat Regulus melompat bahagia mendengarnya.
" Yay!? Terima kasih Naruto!? Untung kamu ada di dunia ini, jadi kami tidak perlu tidur di jalanan." kata Regulus bahagia, membuat sulung Namikaze itu tersenyum tipis mendengarnya. Rhadamanthys menepuk pucuk kepala singa muda itu lembut, membuat Regulus menatap ke arahnya.
" Kita harus sopan terhadap keluarga muridmu, dan jangan kelebihan tenaga seperti biasa. Ingat, kita numpang di rumah Naruto." katanya membuat Manigoldo mendengus mendengarnya.
" Perkataanmu seperti pak tua saja." cibirnya membuat sang Wyvern mendelik ke arah Saint Cancer tersebut, sedangkan Albafica hanya menggeleng kepala pelan, kemudian menatap ke arah Naruto.
" Apa kamu tinggal di sekitar sini? Barang-barang kami banyak sekali, karena kami berbohong akan melakukan misi selama 3 bulan." kata sang Pisces membuat Naruto menggeleng mendengarnya.
" Tidak Kak. Kami sedang melakukan misi, tapi sepertinya masih ada beberapa urusan lagi baru kita bisa pulang ke desaku." jawabnya membuat Albafica mengangguk mendengarnya, lalu menatap ke arah Gai, Kakashi dan teman-teman Naruto.
" Satu peringatan yang aku berikan. Jangan coba-coba mendekatiku." katanya datar yang kemudian mengambil koper miliknya, berjalan menarik tangan sulung Namikaze tersebut, meninggalkan ninja-ninja Konoha yang bingung dengan perkataannya.
" Jangan ambil hati perkataannya. Albafica memang seperti itu, jika memperingati orang-orang yang ada di sekitarnya." kata Manigoldo mengambil koper biru miliknya.
" Memang memperingati apa?" tanya Kakashi penasaran.
" Di dalam tubuhnya, darahnya sudah bercampur dengan racun mematikan yang tidak ada obatnya. Sedikit saja jika berdekatan denganya, kalian akan tewas di tempat." kata Manigoldo yang kemudian berjalan meninggalkan mereka, mengikuti Naruto beserta sang pencinta mawar tersebut. naruto yang bersama Albafica berjalan menuju ke rumah kecil Tazuna yang tidak jauh dari tempat mereka berada tadi.
" Naruto, bagaimana dengan kemampuanmu sekarang?" tanya sang Pisces membuat Naruto tersenyum mendengarnya.
" Kemampuanku masih tidak sebanding denganmu Kak Albafica, dan mungkin masih belum bisa sederajat dengan kalian semua, walaupun Naru bisa menggunakan serangan berkali-kali karena teknik-teknik yang naru kuasai adalah kemampuan semua dari 12 Gold Saint, tapi untuk serangan originalku sendiri, masih belum bisa mencapai derajat kalian." jelas Naruto membuat Albafica tersenyum kecil mendengarnya.
" Tapi tetap saja bukan, kemampuanmu menyerupai kemampuan yang di miliki oleh Asmita." katanya membuat Naruto menggeleng kepala cepat.
" Kak Asmita lebih kuat dariku, dan Kak Shakapun mengakui jika dirinya kalah melawan dengan Kak Asmita. Kak Asmita adalah Saint yang benar-benar sangat hebat, dan bahkan Paman Rhada yang sudah memiliki kekuatan dewapun masih ragu menang melawan Kak Asmita." jawabnya bangga membuat sang Pisces terkekeh pelan mendengarnya. Siapa yang tidak tahu kemampuan sang saint yang tidak memiliki indra penglihatan tersebut. Walaupun matanya tidak berfungsi, Asmita merupakan Gold Saint yang paling di takuti oleh para specters Hades, dan jika dirinya tidak mengorbankan nyawanya untuk membuat seluruh pasukan Hades tewas, Albafica yakin, jika Saint Virgo seperjuangannya itu bisa mengalahkan Hades seorang diri. Julukan Saint yang hampir mendekati dewa tersebut sepertinya tidak pantas lagi di sandang oleh Saint Virgo tersebut, melainkan Saint yang memiliki kekuatan Dewa, yang hampir mirip dengan pengguna Gold Cloth Ophiuchus. Menganggu sang Saint Virgo tersebut sama saja menyerahkan diri ke kematian. Mereka berdua akhirnya sampai di kamar milik sulung Namikaze tersebut. Albafica menatap sekeliling, terlihat ruangan yang sangat biasa sekali dan tidak ada hiasan apapun. Jika Minos ada di sini, sang hakim Griffin itu pasti akan mengeluh, karena masuk ke tempat yang sangat kumuh. Bersyukurlah kekasih adik tirinya, Regulus, memiliki kekasih yang tidak banyak komentar. Baginya, asal Regulus senang, diapun senang, memang kekasih idaman.
" Nar, apa tidak langsung saja kita kembali ke rumahmu?" kata Manigoldo yang tiba-tiba muncul depan pintu kamar sulung Namikaze itu, begitupula Regulus dan Rhadamanthys dengan koper juga barang-barang dirinya dan singa muda tersebut.
" Kamu tahu bukan, barang-barang yang kami bawa ini sangat banyak, dan lagi, tidak mungkin bukan kita semua tidur di sini." lanjutnya membuat Naruto terdiam, memikirkan kata-kata salah satu gurunya tersebut.
" Tapi jika kita pulang, tidak ada kendaraan di dunia ini seperti di dunia tempat kakak." jawab Naruto tapi malah membuat Manigoldo menyengir mendengarnya.
" Bukannya kamu ada teknik yang bisa membuka ruang dan dimensi?" katanya membuat Naruto mendengus mendengarnya.
" Apa kak Aspros tidak akan curiga jika menggunakan teknik itu? Kak Aspros kan bisa merasakan cosmo kalian jika menggunakan teknik itu." katanya membuat Manigoldo terdiam mendengarnya.
" Another Dimension yang Naru kuasai tidak sehebat Kak Aspros maupun Kak Defteros. Jika saja Kak Aspros merasakan keberadaan kalian saat di dalam teknik itu, dia pasti akan langsung menyusul dan usaha kabur kalian akan gagal." lanjutnya membuat sang Cancer semakin ciut mendengarnya.
" Sudahlah. Naruto, butuh berapa lama kalau jalan kaki ke desa tempatmu itu?" tanya Regulus membuat sang Namikaze berpikir sejenak.
" Seperempat hari. Tapi kalau kita melakukan teleport, mungkin ngak sampai dua jam." jawabnya.
" Bagaimana kalau terbang?" kata Rhadamanthys tiba-tiba membuat semua orang menatap ke arahnya.
" Eh Rhada, apa maksudnya?" tanya Regulus tidak mengerti dengan pose imutnnya, membuat sang hakim mau tidak mau menahan diri untuk tidak melakukan aksinya. Berdehem sebentar, Rhadamanthys lalu menatap ke arah mereka semua.
" Kalian tahu bukan aku ini pemegang jubah apa?" tanyanya membuat Manigoldo menepuk jidatnya, Albafica melipat kedua tangannya di depan dada, juga Naruto yang menjentilkan jarinya.
" Benar juga. Naru bisa menggukan teknik manipulasi gravitasi, supaya bisa melayang." katanya membuat Rhadamanthys menyengir mendengarnya.
" Tunggu!? Bagaimana dengan kami bertiga? Tidak mungkin bukan kalian meninggalkan kami!?" seru Manigoldo membuat sang Hakim menatap datar ke arahnya.
" Kalian kan bisa berlari dengan menggunakan cosmo. Apa susahnya?" katanya membuat sang Cancer mendelik tidak suka ke arahnya.
" Masalahnya barang-barang kami. Barang-barang kami mau di bawa lari juga?" kata Albafica membuka suara.
" Begini saja. Rhada dan Naruto akan membawa barang-barang yang berat, jadi kita bisa membawa barang-barang ringan." kata Regulus akhirnya ketika mengetahui maksud dari pembicaraan mereka.
" Atau bagaimana jika barang-barang kita di lempar saja ke dimensi yang bisa menyambungkan ke rumah Naruto." usulnya lagi membuat mereka berpikir dengan usul dari sang singa muda tersebut.
" Naru rasa itu cara yang aman. Naru akan membuat portal dimensi, lalu membawa barang-barang kalian ke rumahku." kata Naruto membuat Regulus tersenyum senang, mengangguk semangat mendengarnya.
" Kalau begitu, ayo kita keluar dan membuat portalnya untuk membawa barang-barang yang banyak ini." kata Manigoldo yang kemudian mereka berempat keluar dari kamar sulung Namikaze tersebut. Kakashi Guy juga murid-murid didik mereka melihat Naruto beserta Regulus, Rhada, Manigoldo dan Albafica yang keluar dari rumah Tsunami itu. Baru saja Kakasih ingin memanggil putra dari senseinya itu, tiba-tiba saja dirinya melihat Naruto membuka kedua matanya. Sulung Namikaze itu mengangkat tangan kanannya ke depan, terlihat rambut pirang panjangnya terbang ke udara, juga angin yang tiba-tiba berhembus di sekitar mereka.
" Another Dimension." setelah mengucapkan kalimat tersebut, tiba-tiba di hadapan kelima orang tersebut perlahan-lahan terbentuk lubang cacing, terlihat di dalamnya garis-garis juga planet-planet yang ada di dalam. Naruto mengfokuskan dirinya mencari ruang dimensi yang menghubungkan dengan rumahnya di Konoha. Beberapa menit setelahnya, terlihat lubang cacing yang terbuka, dimana terlihat halaman teras rumah sulung Namikaze tersebut.
" Aku sudah menghubungkan dengan rumahku." kata Naruto membuat Regulus, Albafica, Manigoldo dan Rhadamanthys mengangguk.
" Kaa-chan!? Lihat Kaa-chan ada lubang aneh!?" terdengan suara seruan seseorang, membuat Naruto menatap ke arah sebrang dimensi buatannya itu, terlihat Ryuu yang tidak jauh dari sana, sambil menunjuk ke arah lubang tersebut. Tiba-tiba saja, muncul sosok Kushina berada di samping Ryuu, menatap terkejut ke arah lubang aneh yang tiba-tiba muncul di depan rumah mereka.
" Kaa-san!? Ryuu!?" seru Naruto membuat Kushina juga Ryuu tersentak, kemudian menatap ke dalam lubang cacing tersebut, dimana Naruto melambai ke arah mereka berdua.
" Naruto!? Ini lubang apa nak!?" seru teriak Kushina, dimana Ryuu ingin masuk ke dalam ruang dan dimensi tersebut.
" Jangan masuk Ryuu!?" seru Naruto cepat membuat bungsu Namikaze tersebut langsung berhenti, menatap ke arah kakaknya itu.
" Ini adalah lubang dimensi dan waktu, Kaa-san!? Aku membuat ruang ini untuk memindahkan barang-barang yang di miliki guru- guruku ke rumah kita!?" seru Naruto membuat Kushina terkejut mendengarnya.
" Guru-gurumu!? Guru-gurumu datang kemari!? Kenapa tidak beritahu Kaa-san!?" seru Kushina terkejut, sedangan Naruto baru saja ingin membalas, Regulus sudah ada di samping pemuda tersebut.
" Halo!?" sapa Regulus ceria sambil melambaikan tangannya ke arah Kushina dan Ryuu yang terkejut melihat ke arahnya.
" Maaf nyonya. Saya ingin memindahkan barang-barang kami melewati ruang dimensi ini. Tolong permisi." katanya yang kemudian melempar sebuah koper yang cukup besar juga tas ranselnya ke dalam ruang waktu tersebut, yang kemudian terlihat koper milik pemuda itu melayang-layang ke udara. Kushina dan Ryuu memundurkan diri mereka ketika melihat koper dan ransel tersebut muncul di hadapan mereka berdua, yang tidak lama setelahnya terjatuh tepat di luar lubang cacing tersebut. Manigoldo, Albafica begitupula Rhadamanthys memasukkan barang-barang mereka ke dalam lubang dimensi tersebut, yang tidak lama setelah tiba di tempat beradanya ibunya Naruto berada.
" Kaa-san, Naru titip barang-barang guru-guruku di sana. Mereka nanti akan datang bersama denganku." kata Naruto membuat Kushina mengangguk mendengarnya.
" Kamu kapan selesai misi nak?" tanya Kushina, membuat Naruto terdiam mendengarnya.
" Sebenarnya sudah tidak ada musuh juga hal-hal yang mengancam lagi. Tapi nanti aku akan coba meminta izin kepada Guy-sensei untuk pulang hari ini." jawabnya membuat Kushina mengangguk mendengarnya.
" Naruto cepat tutup portal ini!? Aku bisa merasakan cosmo Aspros yang sepertinya dirinya masuk melewati jurus ini." kata Manigoldo panik, membuat sulung Namikaze tersebut mengangguk, yang kemudian dirinya menatap ke arah lubang dimensi buatannya itu, setelahnya perlahan-lahan menutup dari hadapan mereka semua. Menghembuskan nafas perlahan, yang kemudian sulung Namikaze memejamkan kembali kedua matanya.
" Jika bukan karena latihan dari guru Asmita dan guru Shaka, Naru mungkin tidak bisa menutup cepat lubang dimensi tadi." akunya membuat Regulus dan Manigoldo menghembuskan nafas lega.
" Sisyphus memang tidak akan main-main jika sudah menyangkut anak kucing kesayangannya ini. Bisa-bisa dia langsung membunuhmu, Rhada." kata Manigoldo sedangkan sang pengguna jubah Wyvern hanya diam mendengarnya.
" Paman Sisyphus yang salah!? Selalu saja reseh kalau Rhada datang ke Santuary." bela Regulus sambil mengembungkan pipinya imut, membuat Rhada menahan diri agar tidak memeluk singa manisnya tersebut.
" Mungkin Aspros sedang menjalankan misi ke luar negri, makanya dia menggunakan teknik itu agar bisa mempersingkat waktu." nilai Albafica sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
" Ngomong-ngomong, minggu depan bukannya Kak Aspros akan di nobatkan menjadi Pope?" tanya Naruto, membuat Regulus, Manigoldo begitupula Albafica mengangguk mendengarnya.
" Ya. Aspros akan di nobatkan menjadi Pope kembali. Rencananya Asmita yang di jadikan Pope, tapi kamu tahulah, dia tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu." kata Manigoldo membuat Naruto mengangguk mendengarnya.
" Kak Aspros memang cocok menjadi Pope, seperti halnya Kak Saga." akunya. Naruto tahu memang Aspros ataupun Saga merupakan orang yang pantas menyandang gelar Pope, karena mereka berdua adalah Saint terkuat setelah Asmita dan Shaka.
" Naruto." panggil Kakashi membuat sulung Namikaze itu menghadapkan wajahnya ke arah pria Hatake tersebut.
" Maaf Kakashi-sensei. Tadi saya membuat portal untuk mengirim barang-barang guruku ke rumah." katanya sambil membungkukkan badannya ke arah pria Hatake tersebut, sedangkan Kakashi hanya menggeleng mendengarnya.
" Bukan itu Naruto. Maksud sensei, apa kamu berencana untuk pulang?" tanya Kakashi membuat sang sulung Namikaze tersebut terdiam mendengarnya.
" Jika di bolehkan, maka saya akan pulang bersama dengan guru-guruku. Kalau tidak salah, kita sudah tidak ada misi lagi bukan? Tazuna juga sudah selamat sampai tujuan, dan juga, kera Yagura sudah selamat dari kendali kera Uchiha itu." jelas Naruto.
" Naruto, sebelumnya kamu akan menjelaskan kepada kami bagaimana kamu menyelamatkan Mizukage dari Genjutsunya Uchiha Madara." kata Guy membuat sulung Namikaze itu mengangguk mendengarnya.
" Saya menggunakan teknik yang bisa mematikan kelima panca indra lawan, yang setelahnya, saya membebaskan kera tersebut dari kendalinya kera Uchiha." jelasnya membuat Kakashi, Guy, juga shinobi seangkatannya terkejut mendengarnya.
" Jurus Saint Virgo eh? Ternyata di sina ada juga teknik mental yang sangat kuat sampai-sampai kamu menggunakan teknik tersebut." kata Manigoldo menyengir, sedangkan Naruto hanya tersenyum menjawabnya.
" Naru sampai harus mematikan dua panca indra miliknya. Tidak seperti guru-guru sekalian, jika Naru matikan lima panca indrapun masih bisa melawan." jujurnya membuat Manigoldo terkekeh congak mendengarnya, sedangkan Albafica memutar bola matanya bosan, begitupula Rhadamanthys yang mendengus geli ke arah Saint Cancer tersebut. Tiba-tiba saja, sebuah portal terbuka beberapa meter di depan mereka, membuat Rhadamanthys, Manigoldo, Albafica, Regulus juga Natruto tersentak, merasakan cosmo yang familiar. Naruto langsung membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah portal tersebut. Naruto lalu melakukan murda Namaskara, tapi tidak mempertemukan kedua telapak tangannya satu sama lain, yang kemudian langsung mengucapkan jurusnya.
" Om." katanya yang kemudian tiba-tiba saja, cahaya kuning keemasan menyebar begitu luas di hadapannya, menuju ke arah portal tersebut. Tiba-tiba saja, cahaya kuning keemasan buatan Naruto langsung berbalik menyerang kembali ke arahnya, membuat sulung Namikaze tersebut tersentak.
" Sambutan terhadapku sangat tiba-tiba." terdengar suara berat seseorang dari dalam portal tersebut, yang kemudian muncul sosok pria berambut panjang biru tua, dengan armor emas Gemini, berjalan keluar dari portal tersebut.
" Seperti yang kami duga, ternyata Kak Aspros yang keluar dari portal tersebut." kata Naruto sambil mengelap darah yang keluar dari pipi kanannya akibat goresan jurusnya itu, membuat Guy, Kakashi, juga teman team yang melihat luka di wajah Naruto terkejut, karena yang mereka tahu, putra Hokage di hadapan mereka tidak tersentuh sedikitpun sebelumnya. Portal di belakang Aspros kembali tertutup, dimana terlihat Manigoldo, Albafica juga Regulus dalam kuda-kuda siap bertarung.
" Tenang saja, aku kemari tampa sepengetahuan Sisyphus. Aku juga tidak berencana untuk melaporkannya kepadanya." kata Aspros sedikit geli melihat Gold Saint seperjuangannya waspada.
" Beneran?" tanya Regulus sangsi, yang di jawab anggukan oleh sang calon Pope tersebut.
" Aku juga butuh istirahat tahu. Seminggu lagi aku di angkat menjadi Grand Pope, dan aku ingin menikmati hari bebasku." jawabnya.
" Kau masih berniat membunuh guruku lagi jika Asmita yang di angkat menjadi Pope?" tanya Manigoldo membuat Aspros memberikan deathglare ke arah Saint Cancer tersebut.
" Jangan mengungkit masa lalu! Aku sangat bodoh waktu itu!" desisnya membuat Manigoldo bukannya takut, malah terkekeh nista mendengarnya. Aspros menghembuskan nafasnya sebentar, kemudian dirinya melipat kedua tangannya di depan dada, menatap ke arah Regulus tajam.
" Aku sudah curiga dengan gerak-gerik kalian tadi malam, karena datang ke kuil Gemini untuk bertemu Defteros. Aku tidak menyangkah, kalau kalian meminta adikku untuk mengirim kalian ke dunia tempat Naruto berada." katanya membuat Regulus manyum mendengarnya.
" Salah paman Sisyphus sih. Dia selalu saja melarang ini itu." jawab sang singa muda membuat Aspros terkekeh pelan mendengarnya.
" Tapi tidak semuanya salah dia kan? Dia juga mengkhawatirkanmu karena usiamu baru menginjak 15 tahun, dan lagi kalau sampai si Rhada melakukan hal macam-macam kepadamu, Sisy pasti ngamuk." kata Aspros membuat Regulus menekukkan wajah mendengarnya.
" Aku tidak mungkin mengingkari janjiku yang sudah aku buat kepada Ilias." tegas Rhadamanthys dimana Aspros mengangguk mendengarnya.
" Aku tahu bagaimana sifatmu, jadi aku sah-sah saja kalau kamu pacaran dengan Regulus, cuma aku tidak ada kuasa jika Sisyphus tidak merestuinya." jawab Aspros memberi senyum tipis ke arah Judge Wyvern tersebut. Aspros memberikan lirikan kepada Manigoldo, Albafica, Rhadamanthys juga Regulus, dan sepertinya, merekapun menyadari lirikan dari calon Pope tersebut.
" Sepertinya kita di awasi oleh beberapa orang." kata Manigoldo membuat Kakashi juga Guy bingung mendengarnya. Terlihat mawar merah muncul dari tangan kanan Saint Pisces tersebut, yang kemudian langsung melempar mawar miliknya itu ke arah tempat semak-semak yang tidak jauh dari tempat mereka. Tiba-tiba saja bayangan-bayangan yang keluar dari semak-semak tersebut, yang kemudian terlihat beberapa orang yang menggunakan topeng putih polos tampa ada lambang desa manapun.
" ANBU Root? Apa yang mereka lakukan di sini?" kata Kakashi bingung, membuat Aspros melirik ke arahnya.
" Apa dia teman kalian?" tanya Saint Gemini tersebut, sedangkan Naruto menggeleng mendengarnya.
" Tidak. Kera tua Danzo itu selalu mengirim ANBUnya untuk mengawasi gerak-gerik keluargaku, dan kalau tidak salah, dia berecana menggunakan ibuku sebagai 'senjata' desa perang, karena memiliki siluman di dalam tubuhnya." jelas Naruto membuat Regulus, Albafica juga Manigoldo terkejut. Aspros dan Rhadamanthys terkejut juga, walaupun cepat di tutupi dengan wajah stoic mereka.
" Jadi, mereka musuh?" tanya Aspros kembali, yang kemudian dirinya maju di depan, menghadap ke arah mereka, yang kemudian menghitung jumlah ANBU Root yang ada di hadapannya tersebut.
" 14 orang, dan jika aku boleh tahu, kenapa kalian mengawasi kami secara sembunyi-sembunyi?" tanya Saint Gemini tersebut, tapi tiba-tiba saja, mereka semua langsung meleset kencang ke arah pria tersebut. Aspros mengangkat tangan kanannya ke udara, terlihat telapak tangannya terbuka, yang kemudian, background belakangnya berubah menjadi galaksi antariksa juga bintang-bintang langit malam dengan planet-planet, dan tampa mereka ketahui, cosmo dari tubuhnya keluar dengan tenang.
" Galaxian Explosion." katanya yang kemudian terlihat, seluruh tubuh ANBU Root tersebut mengeluarkan cahaya putih, membuat mereka terkejut, tapi tidak lama setelahnya, tubuh mereka meledak, memperlihatkan organ-organ dalam berterbangan berceceran kemana-mana, juga hujan darah lokal yang turun setelah ledakan tubuh ANBU-ANBU tersebut. Sakura dan Tenten yang melihat kejadian tersebut langsung berubah pucat, yang setelahnya mereka menutup mulut mereka, berlari meninggalkan tempat tersebut untuk membuat isi perut mereka, sedangkan Kakashi, Guy, Sasuke, Neji, dan Lee yang melihat kejadian tersebut pucat pasi, dan merasa mual. Di dalam hati mereka, ada rasa kagum, takut, ngeri juga tidak percaya, melihat kemampuan dari sang Gemini kakak tersebut. Aspros yang melihat kejadian di depannya itu menarik nafas panjang, yang kemudian di hembuskannya kembali.
" Sepertinya kemampuannya memang sangat mengerikan jika ada di dunia ini eh, Aspros." kata Manigoldo yang kemudian dirinya maju kedepan, dengan telapak tangan kanannya yang terkumpulnya roh-roh biru yang merupakan roh-roh ANBU Root tersebut. Sedikit mengerutkan kening, Saint Cancer tersebut menatap ke arah mini Budha yang ada di belakangnya itu.
" Sepertinya orang yang bernama Danzo itu sangat penasaran dengan kemampuan yang kamu miliki, Nar. Aku bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab kalau mereka di perintah untuk mengawasimu sejak kalian pergi." jelas Manigoldo membuat Naruto terdiam mendengarnya. Aspros membalikkan tubuhnya, menatap ke arah rekan-rekan seperjuangannya itu, kemudian menatap ke arah shinobi-shinobi Konoha tersebut.
" Apa masih ada misi lagi yang akan kalian lakukan?" tanya Aspros, tapi tiba-tiba saja, sosok seorang gadis dengan pakaian serba putih muncul di tengah-tengah mereka. Gadis tersebut memiliki rambut putih panjang dengan mata berwarna lavender, dimana kedua tangannya memegang kedua bahu Naruto yang tersentak. Tidak berlangsung lama, gadis misterius itu, begitupula Naruto menghilang di hadapan mereka semua, membuat orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut terkejut.
" NARUTOOOOOOOO!?" seru mereka melihat hilangnya sosok sulung Namikaze tersebut di hadapan mereka secara tiba-tiba.
.
.
.
.
.
.
Sebuah portal putih terlihat di salah satu lapangan rumput luas, yang kemudian di gantikan sosok gadis misterius yang melayang dengan Naruto yang mencoba melepaskan dirinya. Gadis tersebut melempar tubuh Naruto keras ke rerumputan, membuat sulung Namikaze tersebut hampir mencium tanah jika tidak gesit tangan kanannya menahan beban dirinya, yang kemudian melompat ke belakang, menjaga jarak dengan gadis misterius tersebut.
" Siapa kau? Apa maumu denganku?" kata Naruto tajam, dengan posisi kuda-kuda defend miliknya. Bukannya menjawab, gadis tersebut melakukan single handseal, kemudian berucap.
" Lightning Release : Black Panthers." katanya yang tiba-tiba saja sosok macan hitam raksasa dengan seluruh tubuhnya yang di selimuti oleh petir tersebut berlari menuju ke arah pemuda pirang tersebut.
" Crystal Wall!?" seru Naruto yang kemudian menciptakan dinding kristal besar di hadapannya, mencoba menghadang serangan dari gadis misterius tersebut. Tampa di sangka sulung Namikaze itu, macan hitam ciptaan gadis misterius tersebut menghancurkan dinding kristal miliknya, membuat Naruto terkejut.
' A-apa..' batinnya tidak percaya, dan mau tidak mau, dirinya menerima hantaman macan hitam tersebut, membuat dirinya terpental jauh.
" ARGHHHHHHH!?" teriaknya kesakitan setelah menerima serangan gadis misterius tersebut. Gadis misterius tersebut menatap diam Naruto yang terkena serangan miliknya itu, lalu melihat sosok Naruto yang perlahan bangkit, dengan seluruh tubuhnya yang masih terlihat kilatan-kilatan petir, akibat terkena serangan tersebut.
" Siapa kau sebenarnya? Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Naruto tajam. Gadis misterius tersebut masih dalam posisi melayangnya, kembali lagi melakukan single handseal, tapi Naruto tidak tinggal diam. Dengan begitu anggun, sulung Namikaze tersebut memutar tangan kanannya ke atas, sedangkan tangan kirinya ke bawah, juga seluruh tubuhnya mengeluarkan cosmo emas yang begitu besar, membuat gadis misterius tersebut tersentak melihatnya.
" Tenma Kofuku!?" serunya yang kemudian mengarahkan tangan kanannya ke sosok gadis misterius tersebut, yang dimana sekeliling gadis itu berubah menjadi langit biru, dengan bayi-bayi malaikat yang berterbangan, juga sosok seorang wanita raksasa dengan gaun putih yang menunggangi kuda putih, dan sebuah sabit raksasa di tangan kanannya.
" KYAAAAAAAA!?" seruan kesakitan gadis misterius tersebut terdengar, membuat sulung Namikaze tersebut langsung membuka kedua matanya, yang memperlihatkan iris saffire yang begitu indah. Naruto kemudian mengangkat tangan kanannya, terlihat telapak tangannya yang terbuka, menatap tajam ke arah gadis tersebut.
" Kamu masih belum tahu siapa seorang Namikaze Naruto. Kera rendahan sepertimu akan mendapatkan hukuman karena sudah berani menyerangku juga menculikku." kata Naruto murka, yang dimana terlihat kumpulan bintang-bintang yang berputar di telapak tangannya tersebut.
" Terima ini. Stardust Revolution!?" serunya yang langsung mengibaskan tangannya kedepan, membuat bintang-bintang tersebut mengarah cepat ke gadis misterius tersebut. Untuk pertama kalinya, gadis tersebut memperlihatkan sengiran sombong miliknya, dengan kecepatan cahaya, dirinya menghindari serangan pemuda tersebut, membuat Naruto membulatkan kedua matanya.
" Kemampuan yang menarik." untuk pertama kalinya, gadis misterius tersebut mengeluarkan kalimat selama dirinya diam begitu saja. Gadis tersebut melakukan single handseal kembali, tapi bukannya mengeluarkan jurus, melainkan sosoknya menghilang dalam pusaran angin.
" Kita akan bertemu kembali, Naruto-kun~." terdengar gemaan suara gadis tersebut yang terkesan nakal, membuat sulung Namikaze tersebut menatap sekelilingnya cepat, mencari keberadaan gadis yang telah berani menculiknya, juga memiliki kemampuan yang bisa di katakan sederajat dengan dirinya atau mungkin di atas dirinya. Mengepalkan kedua tangannya, Naruto mendongakkan kepalanya ke langit, dimana terlihat angkasa biru yang begitu luas.
" Aku menunggu kedatanganmu kembali." katanya pasti dengan penuh tekat yang membara, menunggu kedatangan sosok gadis misterius tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
