Dim Light

Bonus Chapter

Cast: Kim Taehyung / Jeon Jungkook


Rating: M untuk jaga-jaga

Happy Reading and RnR juseyooo~

Your reviews mean a lot to me.


Taehyung terbangun di perempat malam. Ia berusaha menyesuaikan pandangannya di dalam ruangan yang gelap itu. Hanya ada lampu tidur yang menyala di sudut ruangan sebagai penerangan. Ia melirik puncak kepala Jungkook yang ada di pangkal lengannya. Rasanya tangannya kebas maka ia berusaha bangun tanpa mengusik pria manis itu.

Sepertinya usahanya cukup berhasil atau mungkin Jungkook memang sudah terlalu lelah. Taehyung menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur queen size-nya. Jungkook sekarang terlelap di pangkuannya, masih tenang dan damai dengan alam mimpinya.

Ia memperhatikan wajah Jungkook dengan cahaya yang minim. Meskipun demikian, otaknya tetap bisa memproyeksikan setiap inchi wajahnya dengan sempurna. Bahkan setiap lekuk tubuhnya pun – sudahlah. Ini terlalu pagi.

Taehyung mengusap surai rambut Jungkook tanpa bermaksud membangunkannya sama sekali. Pergerakannya begitu halus sementara ia memperhatikan mata Jungkook yang saat ini sedikit sembab. Well, sesi panasnya semalam tidak berlangsung lama dan berakhir dengan Jungkook yang menangis di pelukannya.


Jam bandul di luar kamar tidur Taehyung berdentang dua belas kali. Suaranya samar menyusup ke ruangan yang temaram kemudian ke gendang telinga Taehyung tanpa berarti apa-apa.

Saat itu perhatiannya tertuju hanya pada Jungkook. Deru napas Jungkook, detak jantung Jungkook , serta rentetan gumaman atau pun rutukan halus yang keluar dari mulut Jungkook begitu menggoda indera pendengarannya.

Ia sedang menikmati waktunya. Tiap detik dan menit yang bergulir seiring tubuh mereka yang saling bersentuhan.

Taehyung menarik dirinya dengan enggan dari perpotongan leher Jungkook begitu lengan Jungkook yang berada di dadanya menekannya untuk menjauh. Hanya pergerakan lemah dan ragu-ragu. Tapi mengingat selama ini ia tidak pernah mendapat penolakan semacam ini, Taehyung menghentikan keasyikannya. Ia menatap sepasang mata yang sudah terlebih dahulu menatapnya. Wajahnya masih begitu dekat hingga Taehyung bisa merasakan napasnya di dagunya.

Jungkook berada di bawahnya, dengan tubuh yang sudah tak terbalut sehelai benang pun, berpeluh, dan aroma tubuhnya yang membelai indera penciuman Taehyung. Ia berusaha bangun dan menyandarkan diri di kepala tempat tidur hingga mau tidak mau Taehyung harus menyesuaikan diri, membenarkan posisinya. Taehyung kini duduk di sebelahnya. Badannya menghadap Jungkook dan sebelah tangannya masih tidak rela meninggalkan pinggang Jungkook.

"Ada apa Jungkook-ah?" tanyanya hati-hati, meskipun dalam hati ia gemas. Gairahnya masih membara hingga di ujung ubun-ubun tapi ia mati-matian menekannya. 'Kontrol, Taehyung. Jungkook sedang rapuh,' batinnya.

"Nilaiku turun, Hyung," suara Jungkook lemah.

Taehyung mengerutkan kening. Demi apapun di muka bumi ini, memangnya kenapa dengan nilai turun? Pertanyaan itu sudah sampai di ujung lidahnya tapi Jungkook berucap lagi.

"Prestasiku menurun. Aku kalah dance competition. Lomba menyanyi pun hanya mendapat peringkat ketiga. Dan –,"

"Dan?"

"Dan Jimin sekarang punya pacar," Jungkook menundukkan kepalanya. Ia menghela napas antara kecewa dan kesal.

"Memangnya kenapa kalau Jimin punya pacar?"

"Dia jadi sibuk dengan pacarnya dan dia mengabaikanku, Hyung," gerutu Jungkook.

"Oh," sejenak hanya itu yang keluar dari bibir Taehyung. Ia berusaha menelan bulat-bulat keinginannya untuk meringis. Ia mencoba untuk berpikir. Bukankan mereka juga sering meninggalkan Jimin begitu saja? Serta kata-kata lainnya yang terlontar dari Jungkook saat ini. "Jadi, hanya itukah yang membuat moodmu berantakan sepekan terakhir?"

"Kau juga!" Jungkook menepis tangan Taehyung yang berada di pinggangnya.

"Aku? Aku kenapa, Jungkook-ah?" kali ini Taehyung benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Jungkook. Ia melebihi batas kealienannya.

"Kau menyebalkan?"

"Menyebalkan bagaimana? Sebenarnya kamu kenapa, sih?" Taehyung mulai tidak bisa mengontrol rasa gemasnya. Nada suaranya meninggi, kemudian –

"Aku tidak tau, Hyung! Jangan tanyakan itu padaku! Moodku hancur karena aku sedih! Aku sedih tapi tak tau alasannya dan itu membuatku frustasi!" teriak Jungkook sejadinya kemudian ia menangis. Taehyung merengkuhnya dan ia tetap menangis.


Taehyung menghela napas. Ia merasa cukup mengerti apa yang dirasakan Jungkook. Diagnosisnya adalah emosi pemuda yang berada pada masa pubertas seperti wanita pada masa kehamilan trimester pertama; labil. Seingatnya dulu ia tidak begitu tapi, ya, Jungkook berbeda. Ia dituntut lebih banyak daripada manusia sebayanya. Dan sikap perfeksionisnya terkadang membuatnya stres. Beginilah jadinya.

Taehyung memperhatikan wajah Jungkook lagi. Jungkook spesial, Jungkook kadang sulit dimengerti seperti lembaran buku bahasa asing. Tapi semua hal yang ada pada Jungkook, itulah yang membuat Taehyung selalu jatuh cinta padanya.

Mungkin Jungkook akan selalu menurut di bawah kuasanya. Ia cukup bangga karena sentuhannya seolah jadi pengontrol, dan dirinya akan selalu mendominasi. Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya Taehyunglah yang pertama kali jatuh dalam pesona Jungkook. Tidak banyak yang tau tapi player handal satu ini akhirnya bertobat karena Jungkook. Dialah yang sebenarnya terkurung dalam eksistensi Jungkook yang memabukkan.

Dan sekarang Taehyung tidak bisa menahan keinginannya untuk mengecup bibir Jungkook kilat. Bibir yang – mungkin saja – senikmat candu. Well, ia tidak pernah mencicipi apa rasanya barang haram itu. Dan tidak sekalipun terlintas niatan untuk mencoba. Jungkook saja cukup.

"Hyung...,"

Taehyung tidak menjauhkan wajahnya sedikitpun. Ia justru tersenyum karena mata Jungkook masih terpejam. Ia mengigau.

'Sial.'

Jungkook bergerak dan kepalanya menyenggol bagian tengah selangkangan Taehyung. Tangannya – entah mencari apa – menggerayangi paha Taehyung.

Taehyung segera menggenggamnya sebagai antisipasi jika saja tangan Jungkook berpendar lebih jauh lagi. Ia mengusap punggung tangannya dengan ibu jari sambil menyanyikan lagu kesukaan Jungkook dengan lembut. Sebenarnya apa, sih, yang dimimpikan Jungkook hingga ia meremas tangan Taehyung dengan gerakan yang sedikit... Em. Begitulah.

"Hyuuung...," Jungkook menggeliat hingga selimut yang menutupi tubuhnya sedikit tersingkap.

Kali ini Taehyung bersumpah bahwa Jungkook harus membayar siksaan ini segera; nanti pagi. Ia terus menatap warna kesukaannya tanpa bisa berbuat apapun.

Omong-omong warna kesukaan Taehyung: bekas ciuman di kulit Jungkook.


DEMI APAPUN AKU TIDAK BISA MENAHAN KEINGINAN UNTUK MELANJUTKAN FANFICTION INI KARENA REVIEWNYA JAUH MELEBIHI HARAPANKU. OH MA GAWD. Oke lebay. Maaf

Nah. Aku kembali dengan ini, bonus chapter saja. karena dibilang sekuel kan jelas bukan, dibilang chapter dua juga kayanya nggak layak ya duh. Buat temen-temen yang bingung Jungkook kenapa, milapriscella25, ainiajkook ,she3nn0, ini dia. Jungkook... Moodswing...

untuk yang minta dilanjut, machillaloannindisch1, taehyungkece, vkook jjang, kookies, sudah yaa hehehe.

kemudian aku dilempar tomat dan nggak direview lagi. Astagah JANGAN! Maaf banget ya buat readers yang kecewa banget *sembah sujud* sebenernya aku lagi ngerasain dan dilapiaskan, gini. kalian pernah nggak sih ngerasa gitu? Rasanya sedih dan nggak tau alasannya kenapa. Jadinya makin sedih dan bawaannya pengen uring-uringan macem Jungkook.

hehe maaf ya notenya setengah chapter sendiri.

Last but not least, terimakasih buat semuanya yang udah review. Review kalian berharga banget. Aku seneng banget baca review. Maaf nggak bisa disebutin satu-satu. Tadi udah aku sebutin tapi koneksinya putus dan belom sempet di save.