PSIKIS

Chapter 1 ( I Just Wanna Be Free)

Cast; ChanBaek and Other

Rating; M (For Mature Language, Drugs and something. Nothing porn tragedy in this fict)

Genre; Angst, Romance

Disclaimer; 100% Mine. Maaf jika ada Kesamaan Alur, Latar dll. Itu tidak disengaja

Warn: Typo(s), Shou-ai/boyxboy/yaoi!

A/N: Terimakasih yang telah mereview. Terima kasih juga untuk yang sudah Fav/Follow (lebih baik jika di chap ini review) saran selalu diterima. Tetapi bash, saya tidak akan menerima. Terimakasih. Di Chapter ini belum terlalu diperlihatkan kedekatan Chanyeol dan Baekhyun. Well, semua butuh proses, kan?

.

.

.

...

Baekhyun menatap kosong koper-koper besar yang ia ketahui berisi pakaiannya. Baekhyun tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Mendekam didalam Rumah Rehabilitasi yang jelas-jelas Baekhyun tidak Gila maupun pengguna Narkotika. Baekhyun berani bersumpah, Dirinya benar-benar merasa mual hanya dengan melihat bentuknya. Apalagi menggunakannya?

Baekhyun masih terduduk diatas ranjang yang memakai sprai berwarna putih khas rumah sakit. Sebenarnya tempat Rehabilitasi ini tidak buruk. Namun, tetap saja ia membencinya.

Baekhyun berdiri dengan cepat dan langsung bergerak untuk memasukkan pakaian-nya kedalam lemari kayu yang cukup usang dipojok kamar. Gerakannya terhenti disaat tangannya memegang kaos berwarna biru muda dengan Sablonan khas untuk persahabatan tertera disana.

Seketika, Baekhyun langsung mengeluarkan air matanya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Baekhyun sangat merindukan sahabatnya. Tetapi dilain sisi Baekhyun juga membenci sahabatnya yang sudah merubah keaadaannya menjadi 360 derajat berbeda dari yang sebelumnya.

Baekhyun masih terdiam memandangi kaos tersebut. Dan dengan cepat Baekhyun menghapus air matanya saat mendengar hentakan pintu yang dibuka. "Apa perawat disini tidak memiliki sopan santun?" Dengan ketus, Baekhyun menimpali perawat yang sebenarnya cukup tampan dengan kulit kecoklatannya. Sayangnya, Perawat ini berwajah sangat menyebalkan.

Perawat itu terkekeh. "Maaf. Aku pikir kau tertidur setelah perjalanan panjangmu." Baekhyun tidak membalas. Si mungil lebih memilih untuk kembali memasukan pakaiannya kedalam lemari. Perawat itu tersenyum singkat. "Perkenalkan, Aku Kim Jongin" dan Jongin mendesah malas saat Baekhyun hanya bergumam untuk membalas salam perkenalan.

Baekhyun memutar tubuhnya dan memandang Jongin dengan tatapan datar. "Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?" Mendengar perkataan Baekhyun, Jongin mengusap kasar wajahnya. Sedetik kemudian, Jongin kembali mengontrol sikapnya. Sungguh, baru kali ini dia mendapat pasien yang juteknya melebihi Kyungsoo si penjaga kantin! Dengan menghela nafas perlahan Jongin kembali berbicara.

"Tentu saja. Kau sekarang berstatus pasienku..." Jongin berjalan mendekati Baekhyun yang sedang terlentang diranjangnya. Perlahan, Jongin duduk ditepi ranjang sambil memandang Baekhyun dengan tatapan tidak terbaca. Jongin heran, sebenarnya. Wajah polos seperti Baekhyun sama sekali tidak cocok untuk menggunakan narkoba.

"... Nah sebelumnya, bisakah kita memulai perkenalan secara resmi?" Jongin berkata dengan lembut. Memang, atasannya mengatakan bahwa menangani pasien haruslah dengan sabar dan penuh kelembutan. Beruntung sekali bahwa Jongin tidak diberi tugas untuk menangani Orang yang sakit jiwa. Itu akan jauh lebih merepotkan.

Baekhyun masih memandang datar Jongin yang menatapnya masih dengan senyuman. "Baekhyun. Byun Baekhyun" Perkenalan yang singkat. dan Baekhyun tidak membalas jabat tangan Jongin. Jongin hanya menganggukan kepalanya paham. Jongin mengacak rambut kehitaman miliknya. Tidak ada niatan khusus. menurutnya, rambutnya terlalu kaku.

"Ayo bangun. Ini belum terlalu siang. Aku akan mengajakmu untuk berkeliling disekitar Rumah penuh cinta ini" Baekhyun menatap Jongin sinis. Merasa tidak setuju dengan pendapat si perawat. "Rumah Cinta katamu? Ini seperti Neraka Dunia, Aku pikir" Namun walau begitu, Baekhyun tetap beranjak bangun dari kasurnya, menyetujui ajakan si perawat untuk berkeliling disekitar rumah ini.

Jongin membukakan pintu untuk Baekhyun. Baekhyun hanya menurut dan beranjak keluar kamarnya.

Baekhyun menghela nafasnya. Ia kembali menahan air matanya. Lagi-lagi ia merindukan orangtuanya. Padahal kenyataannya, Bajingan itu ─sialnya adalah orangtuanya yang membawanya ketempat ini.

Baekhyun terdiam dan tersenyum miris. Pandangannya kosong. Jongin yang melihat Baekhyun blank langsung panik. Bocah ini kambuh ─pikirnya. "Baekhyun, Kau baik-baik saja?" Jongin menghela nafasnya. Baekhyun kembali fokus. Seorang pecandu sebenarnya tidak diperbolehkan pikirannya kosong. Karena bisa saja, pada saat itu, efek obat terlarang tersebut akan menyerang.

"...Aku Baik-baik saja"

Well, Baekhyun pikir ia akan mulai menerima takdir. Lagipula... Baekhyun yakin, ini tidak akan berlangsung lama. Tentu saja. Waktu Baekhyun bisa dibilang singkat.

Tapi Baekhyun berharap pada Tuhan, Jangan ambil nyawanya saat Baekhyun belum bertemu dengan sahabatnya.

.

.

.

.

Dengan tergesa-gesa Chanyeol mengancingi seragam khusus miliknya. Tentu saja, Chanyeol pimpinan perawat disini. Dia memiliki seragam yang berbeda dari yang lain.

Biasanya, Seorang pimpinan akan turun langsung untuk membantu perawat lainnya jika perawat tersebut kuwalahan menangani pasien.

Tapi kali ini berbeda. Ia tergesa-gesa karena Pasien yang sedang dalan mode liar adalah orang yang sangat penting di hidupnya.

Chanyeol membanting keras pintu yang menyebutkan angka 201 didepannya. Dengan perlahan, Chanyeol menatap lemah sosok yang sedang menangis dan berteriak seolah-olah tidak mau dihentikan kegiatannya.

"─Ibu... Tenanglah" Tanpa rasa takut, Chanyeol memeluk erat sang ibu yang perlahan mulai tenang. Tubuh sang ibu mulai melemah perlahan. Merasakan pelukan kehangatan dari sang anak.

─ini adalah salah satu alasan Chanyeol sangat menginginkan menjadi seorang psikolog. Ibunya... Jiwanya terguncang.

Chanyeol akan membunuh siapapun yang berani menyebut ibunya gila. Ibunya tidak gila. Hanya saja, kejadian masalalu membuat ibunya menjadi seperti ini. Ibunya akan berteriak histeris jika kejadian itu ─mungkin saja kembali berputar dikepala ibunya.

Namun jika masih dalam mode normal, sang ibu hanya terduduk dikursi roda. Menatap lurus kearah tembok dengan tatapan kosong. Tidak pernah sang ibu berbicara ataupun tertawa sendiri.

Ibunya adalah segalanya. Chanyeol selalu berdoa agar ia mendapat kiriman jodoh yang berjiwa malaikat seperti ibunya. Cantik, Baik dan selalu memahami keadaan Chanyeol.

Chanyeol sendiri selalu bercerita pada ibunya tentang keadaannya apabila ia mendapatkan suatu kejadian yang tidak dapat ia lupakan. Dan ibunya hanya tersenyum. dan mengepalkan tangannya seolah-olah mengatakan "─Kau putra terbaikku, teruslah semangat" yah, Chanyeol selalu mengatakan bahwa ibunya tidak gila, kan?

.

.

.

.

Baekhyun berjalan berdampingan dengan Jongin. Jongin menjelaskan secara rinci bagian-bagian bangunan yang terdapat di Tempat Rehabilitasi ini. Sebenarnya Baekhyun tidak peduli. "─Disana terdapat ruangan yang berisi alat-alat seni. Tidak hanya menerapkan hal hal berbau medis, Sebenarnya rumah rehabilitasi ini juga mempersilahkan pasien untuk mengembangkan bakat dan kesehariannya. Ini sebenarnya ide dari Manajer Park. Dan aku benar-benar setuju. Jadi maksudku ─pasien tidak akan tertekan dengan keadaan yang selalu berbau medis. dan memberikan sedikit kebebasan seperti ini, Kami pikir akan membuat pasien cepat sembuh." Jongin memasukkan tangannya kedalam saku celananya. "...Nah Bagaimana? Kau ingin mengikuti peminatan bagian apa?" Jongin mulai terbiasa dengan sikap dingin Baekhyun. Dan karena Baekhyun hanya mendengarkan bagian 'seni' dan memang sesungguhnya ia menggantungkan hidupnya pada seni, Baekhyun menjatuhkan pilihannya.

"─Aku akan memilih seni"

Jongin tersenyum saat melihat raut wajah Baekhyun yang perlahan melunak. Dan kemudian menganggukan kepalanya.

Baekhyun masih tetap pendiriannya terhadap seni. Walaupun Baekhyun tau, Ruang seni hanya membuat dirinya selalu terbayang-bayang akan kejadian yang membuat masa depannya berantakan. "Aku bisa menebak dari wajahmu, bahwa kau adalah pecinta seni"

Baekhyun tersenyun tipis. Tanpa sadar, mereka berada didepan kamar Baekhyun lagi. Jongin kembali membuka pintu kamar Baekhyun dan mulai memasuki kamar khas rehabilitasi itu. "Ya, Aku memang menggantungkan hidupku pada seni"

Jongin menyernyitkan dahinya saat melihat cahaya dari wajah Baekhyun perlahan mulai meredup. "─Namun sejak kejadian itu... aku tidak berani lagi menggantungkan hidupku untuk seni. Karena aku tahu, aku tidak memiliki masa depan" Baekhyun sebenarnya hanya berbisik dan menundukan kepala. Tapi karena pendengaran Jongin cukup tajam, Perawat berkulit tan itu mulai mendekati Baekhyun dan mengusap pelan punggung mungil itu.

"Berbagi cerita denganku?"

Baekhyun langsung mendongakkan wajahnya dan kembali menatap Jongin dengan tatapan datar. Jongin menelan ludahnya. "... Yeah Bercerita itu penting, Baekhyun. Terkadang orang yang depresi disebabkan karena kurangnya perhatian dari oranglain yang menjadi tumpuannya dalam menceritakan kejadian sehari-harinya." Jongin menggenggam tangan Baekhyun dengan perlahan. Dan Baekhyun tidak berontak. Jongin cukup senang, pasiennya ada peningkatan.

"Jika kau ingin sembuh, Kau harus lebih terbuka dengan orang lain. Aku tau, kau bukan pengguna narkoba jenis berat. Dan karena aku perawatmu, izinkan aku untuk menjadi lebih dekat denganmu. Kau bisa menuangkan seluruh emosimu, Baek."

Jongin menatap sendu Baekhyun yang menunduk dan bahunya mulai bergetar. Anak itu menangis. Jongin sudah dapat memprediksikan hal ini. Jongin tau, sangat tau Baekhyun adalah orang yang kesepian. Membutuhkan seorang yang dapat mendengarkan curahan hatinya. Dan Jongin yakin, Ada hal lain yang membuat Orang Tua Baekhyun mengirim Baekhyun ke Tempat Rehabilitasi ini.

Kuliah di jurusan Psikologis juga membuat Jongin mampu membaca keadaan jiwa Baekhyun. Jiwanya tidak bermasalah. Namun dari pandangan matanya, Jongin dapat merasakan.. bahwa Baekhyun tertekan.

Siapapun tidak mau masuk kedalam rumah ini. Terutama orang sepolos Baekhyun yang Jongin yakin Baekhyun menggunakan Narkoba karena paksaan dari keadaan dan pergaulan.

Lamunan Jongin terhenti saat Baekhyun menggenggam tangannya erat. Menatapnya penuh rasa sakit. "Demi Tuhan Jongin, Aku tidak menggunakan Obat-Obatan itu" Jongin tidak tahan melihat mata itu. Mata kecoklatannya yang benar-benar sarat akan kesedihan. "...Aku mau keluar, Jongin. Aku ingin bebas." Jongin memalingkan wajahnya. Tidak kuat. dan rasanya ingin ikut menangis.

"Aku ingin bebas sebelum aku benar-benar mati" Jongin membelalakan matanya. "Jangan Bodoh, Baekhyun! Kau pasti tetap memiliki Masa Depan!"

"Memang itu Kenyataannya! Perusak. Obat Sialan. Dan aku yang bodoh! Aku yang paling bodoh disini!" Baekhyun mulai bangkit dan mulai merusak keadaan kamarnya. Jongin yang panik mulai menenangkan Baekhyun ─yang menurutnya lagi mode sakau.

Jongin bergerak mencari tas jinjing miliknya. Mengambil sebuah suntikan bius untuk membantu menenangkan Baekhyun namun, Jongin seharusnya tau, Walau Baekhyun mungil, Tapi Baekhyun tidak lemah. Dan mungkin saja pernah mengikuti bela diri.

Jongin sudah terjatuh dan merasa pinggangnya merasa remuk. Baekhyun baru saja membantingnya. Beruntung ia tidak pingsan karena demi Tuhan, itu benar-benar sakit.

"Jangan sekali-sekali kau menusukan benda sialan itu kedalam kulitku. Kenapa kau tidak percaya padaku, Brengsek? Aku tidak menggunakan Narkoba. AKU TIDAK MENGGUNAKAN NARKOBA!" Baekhyun seperti orang kesetanan sekarang. Si Mungil mulai melempari bantal dan barang apapun disekitarnya.

Walau Baekhyun mengamuk, Jongin dapat melihat mata bulan sabitnya kembali berair.

Jongin mendapat ide, mungkin atasannya bisa menangani Baekhyun. "Baek.. Aku akan kembali. Tenanglah"

"Keluar kau brengsek!" Dan tepat Jongin menutup pintu, Vas Bunga melayang mengenai pintu. Membuat Vas Bunga itu pecah menjadi keping-kepingan kecil. Baekhyun merasa lututnya melemas. Baekhyun tidak bisa melakukan apapun. Selain─

"─hiks"

Menangis. Baekhyun sadar, ia adalah lelaki. Tapi sungguh, saat ini Baekhyun merasakan hancur sehancur-hancurnya. Seolah ia tidak menemukan jati dirinya yang dulu. Yang selalu ceria. Tidak menangis lemah seperti ini

"Aku Ingin bebas"

Baekhyun selalu menggumamkan kata-kata itu.

.

.

.

.

Jongin berjalan dengan tergesa-gesa. Khawatir akan terjadi suatu yang membahayakan Baekhyun. Jongin telah sampai didepan pintu dengan tulisan 'Manager Room'. Itu ruang manajer-nya. Dengan perlahan, Jongin mengetuk pintu tersebut. Hingga sampai ketukan kedua, Pintu itu terbuka.

"Jongin? Ada apa? Silahkan masuk" Managernya memang dikenal dengan keramahannya. Walau tak kadang Managernya bersikap tidak peduli, tapi sebenarnya pasien adalah prioritas utamanya. Jongin berjalan mengikuti sang manager ─atau kita bisa menyebutnya ketua dan perlahan duduk dihadapan ketua. "Sekarang jelaskan padaku, ada apa?"

Jongin menarik nafas. "Kau tau yeol─"

"Kita berada di tempat pekerjaan kita, Jongin. Panggil aku Tuan Park" Jongin memutar bola matanya malas. Chanyeol tidak sepenuhnya kaku. Dia juga bisa bercanda seperti tadi. "Baiklah, Baiklah" Jongin menatap Chanyeol yang terkekeh.

"Kau tau pasien yang dibawa oleh Sehun? Bocah berumur 17 tahun itu." Perkataan Jongin membuat Chanyeol harus mengingat wajah-wajah pasiennya satu persatu. Dan setelah mengingat ─itu cukup lama akhirnya Chanyeol mengangguk. "Byun Baekhyun?"

Jongin balas mengangguk. "Aku cukup prihatin dengannya" Jongin bergerak gelisah. Merasa duduknya menjadi tidak nyaman. "Tadi aku baru mengobrol dengannya sebentar. Entah mengapa aku yakin, dia bukanlah pengguna narkotika kelas berat. Mungkin hanya sekedar heroin putaw?"

Chanyeol menatao Jongin sebentar kemudian mengangkat kedua bahunya. "Tahapan Medis akan dilaksanakan nanti sore, kan? kita tidak bisa menebak-nebak. Jaman sekarang, narkotika bisa disalah gunakan oleh bocah berumur tiga belas tahun" Jongin menghembuskan nafasnya.

"Entahlah. Tapi aku psikolog ─walau tidak setinggi dirimu. Tapi aku merasakan bahwa Baekhyun itu Jiwanya tertekan. Bukan terguncang" Jongin berkata dengan tatapan sendu. Tapi, Chanyeol tidak percaya. "Apa dia mengatakan suatu hal padamu?"

"Dia mengatakan, dia ingin bebas. Sebelum ia benar-benar mati." Mendengar perkataan Jongin, Reflek Chanyeol langsung menepuk keningnya. "Bukankah seluruh pasien kita yang menyangkut narkotika selalu mengatakan seperti itu? Kau terlalu termakan wajah polosnya"

Jongin tidak terima. "Sekarang kau bisa cek ke kamarnya sekarang. Dia ada dikamar nomor 256. Dia baru saja mengamuk. Kau bisa lihat wajahnya yang sangat tertekan. Mungkin kau bisa sedikit menenangkannya" Chanyeol mengangkat kedua alisnya, Bingung.

"Kau melimpahkan tugasmu padaku?"

Jongin menatap Chanyeol tajam. Sama sekali tidak ada sopan santun. "Dengar, Sepupuku"

Jongin memajukan tubuhnya dan menumpukan kedua tangannya diatas meja sang ketua. "Kau ditugaskan untuk menangani pasien jika perawat pribadinya sudah kuwalahan, kan? Nah aku cukup kuwalahan hari ini ─demi tuhan Baekhyun telah membantingku dan aku merasakan sakit yang luar biasa pada punggung dan pinggangku" Chanyeol tertawa keras dan mengusap wajahnya untuk meredakan tawanya. Sepupunya ini, Lucu sekali. "Baiklah, Aku akan kesana pada jam makan siang. Aku ─"

"Tapi kamarnya berantakan sekali, Yeol" Jongin memotong pembicaraan Chanyeol. Chanyeol kembali menyernyit. "Kan sudah aku bilang, dia mengamuk tadi. Yeah ─kalaupun dia mengamuk, wajahnya tetap menggemaskan, sih" Chanyeol bangkit dan memukul pundak Jongin pelan. "Kau terlihat seperti menyukainya" cetus Chanyeol.

"Hei, Aku ini psikolog, oke? Menyukai sesama jenis adalah jenis guncangan jiwa" Jongin tidak terima, Tentu saja. Chanyeol langsung berjalan keluar ruangannya dengan sedikit kekehan kecil.

.

.
Chanyeol membetulkan letak jam tangannya sambil berjalan dengan santai. Jas-nya juga telah kembali ia gunakan. Hentakan kaki nya seolah menegaskan bahwa yang sedang berjalan adalah Seorang pria tampan dengan segala kewibawaannya.

Mata bundarnya terhenti saat melihat salah satu staf pembawa makanan terhenti dikamar nomor 256. Itu kamar Baekhyun, kan?

Dengan sedikit tergesa, Chanyeol menghampiri Yerin ─pembawa makanan untuk pasien. "Ada apa?" Suara Bariton Chanyeol mengagetkan Yerin yang tengah menatap kosong kamar tersebut. Yerin langsung terlonjak kaget. Dan seketika, ia menjadi gugup. "A-ah tidak apa. Aku ingin mengantarkan makanan. tetapi aku baru saja mendengar suara pecahan didalam kamar 256" ucap Yerin pada akhirnya. Chanyeol mengangguk paham. "Biar aku yang bawa" denga gugup, Yerin memberikan nampan itu pada Chanyeol dan Berbalik. kembali mendorong Troly dengan wajah sendu.

.

.

.

Chanyeol mengetuk pintu dihadapannya. Namun, sudah sampai ke ketukan yang kelima, tetapi tidak ada yang menjawab.

Dengan perlahan, Chanyeol membuka pintu perlahan. Dan Chanyeol langsung membola. Kamarnya benar-benar hancur sekali.

Matanya terus menelusuri setiap sudut kamar. Jongin benar, bocah itu habis mengamuk. Dan kemudian matanya terhenti saat melihat sang pasien sedang tertidur meringkuk membelakanginya. Chanyeol meletakan namoan makanan di buffet terdekat. Dengan perlahan, Chanyeol merapihkan pecahan-pecahan yang berserakan dilantai. dan setelah pecahan terkumpul, Chanyeol menelpon Office Boy untuk segera dibersihkan.

Setelah dibersihkan, Chanyeol bergerak mendekati ranjang berwarna putih itu dan duduk ditepinya. Memandang tubuh pasien yang ringkih itu. "Hey, Bangun. Kau harus makan siang" Dengan sedikit mengguncang bahunya, dan akhirnya sang pasien bangun. Mengusap kedua matanya layaknya anak kecil. Chanyeol jadi gemas sendiri.

Chanyeol tersenyum singkat. Namun langsung mengerutkan keningnya saat melihat Baekhyun ─pasiennya menatapnya tajam. "Ada apa kau datang kemari? Mau membiusku? Kau mau kubanting seperti Jongin?" Chanyeol tersenyum singkat. "Tidak.."

"... Perkenalkan, Aku Park Chanyeol. Ketua perawat disini" Baekhyun hanya menatap datar tangan Chanyeol yang melayang diudara ─mengajak berkenalan seperti yang dilakukan Jongin tadi. "Kau ketua, kau pasti tau kan nama-nama pasienmu?"

Ketus sekali bocah ini ─batin Chanyeol.

Chanyeol hanya mengangguk paham. "Well, Aku tau kau lapar. Kau bisa makan siang dengan ini" Chanyeol beranjak dan menyerahkan Nampan berisi beberapa makanan sehat dengan sup wortel yang mungkin rasanya hambar. "...Dan ini adalah obatmu. Kau harus meminum ─"

"Aku tidak memerlukan obat itu" Baekhyun menatap Chanyeol tajam. "Apa Jongin tidak memberitau hal ini padamu?"

Chanyeol menyernyitkan keningnya. Bingung. "Aku tidak sakit. Aku tidak mau memakan obat-obatan sialan itu" Chanyeol menghembuskan nafasnya pelan. Kemudian tersenyum. "Baiklah, Setidaknya kau makan dulu oke?" Chanyeol mengusap pelan surai kecoklatan Baekhyun.

Keduanya tertegun. Merasa bingung dengan apa yang Chanyeol lakukan.

.

.

.

...

To Be Continued

Btw, Mind to review, please?