Seorang wanita Cantik menutup pintu bercat putih itu. Merapatkan punggung mungilnya pada pintu tersebut dan menghela nafas setelahnya. Dengan wajah gugup, ia merogoh kantung celana-nya dan segera mencari kontak orang yang dibutuhkan.
Nada mulai tersambung. Wanita cantik itu menggigit bibir bawahnya ─menandakan bahwa ia gugup. "Hallo, Oppa"
ia bernafas lega saat mendengar suara pria disebrang sana. "Dia datang, Oppa" Wanita itu memandang lurus benda apapun dihadapannya. Kemudian ia sedikit tersentak ketika orang yang ditelpon-nya mengagetkannya ─seolah tau ia sedang bengong. "Kau tidak berniat berminta maaf dengannya?"
Wanita itu meringis. "Aku tidak menyangka akan seperti ini, Oppa. Aku benar-benar tidak menyangka."
"Aku kira dia tidak akan masuk ke pusat rehabilitasi. Tapi ternyata ─"
ia menghela nafas panjang. "Jika kau tidak berniat, lebih baik aku keluar dari tempat kerjaku." Wanita itu ─Yerin menggigit bibirnya gugup.
Yerin memutuskan sambungan teleponnya. Yerin bersyukur. Setidaknya ia tidak hanya bekerja pada satu pusat rehabilitasi. Jadi Yerin merasa, ia akan fokus pada satu tempat kerja, yaitu tempat Pamannya.
Yerin memang bekerja ditempat rehabilitasi ini seminggu dua kali dan sisanya ia habiskan waktu di tempat pamannya.
Yerin menggelengkan kepala saat merasa genangan air mulai menumpuk disekitar mata cantiknya.
.
.
.
"Maafkan aku, Baek"
.
.
.
PSIKIS
Chapter 2
(Believe me, please)
Cast; ChanBaek and Other
Rating; M (For Mature Language, Drugs and something. Nothing porn tragedy in this fict)
Genre; Angst, Romance
Disclaimer; 100% Mine. Maaf jika ada Kesamaan Alur, Latar dll. Itu tidak disengaja
Warn: Typo(s), Shou-ai/boyxboy/yaoi!
...
Keduanya Masih terdiam. Baekhyun terdiam karena tingkah lembut yang diberikan Chanyeol. Dengan Canggung, Chanyeol menurunkan telapak tangannya dari surai kecoklatan Baekhyun. Kemudian mengangkat kedua bahunya. ─menghilangkan rasa gugup, sebenarnya.
Tatapan mata Baekhyun yang awalnya menajam kemudian mulai melembut. Seolah kembali merasakan sentuhan hangat dari orang tuanya. Memang Baekhyun akui, Si Ketua bodoh ini ─menurutnya sangat memiliki aura kehangatan dan kewibawaan. Baekhyun merasa sedang dibelai lembut oleh sang ayah.
Namun kemudian Baekhyun sadar ─itu hanya khayalan. Orang tuanya tidak akan pernah seperti dulu lagi. Baekhyun yakin akan hal itu.
Tatapannya yang melembut mulai kembali datar. tidak apa. Setidaknya Baekhyun tidak menatap Chanyeol dengan penuh kebencian ─pikir Chanyeol.
Chanyeol tersenyum tipis ─penuh kharisma. "Nah, Tunggu apalagi? Ayo makan. Makanan disini tidak terlalu buruk. Tidak seperti makanan rumah sakit biasanya. Ini memiliki rasa. Dan.. aku rasa ini tidak hambar" Chanyeol tersenyum saat tangan Baekhyun terulur untuk mengambil piring datar itu. Masih dengan tatapan kosongnya, Perlahan Baekhyun memulai acara makannya.
Chanyeol meringis. Agak miris melihat keadaan Baekhyun. Chanyeol kira Baekhyun bersikap urakan layaknya pengguna narkotika lainnya. Tapi... Jika seperti ini, Chanyeol lebih seperti melihat keadaan ibunya. Hanya menatap Kosong tembok datar dihadapannya.
"Baek ─" Layaknya slowmotion, Baekhyun menengok kearah Chanyeol dengan sangat perlahan. Chanyeol kembali menunduk. Agak susah menangani pasien seperti Baekhyun. Tidak mau bercerita dengan perawat. Lebih memilih mengosongkan pikirannya. " ─tidak baik melamun seperti itu. karena disaat pikiranmu kosong.." Chanyeol menelan ludahnya gugup. Takut kembali menyinggung perasaan siremaja dihadapannya ini. "...efek samping dari obat-obatan terlarang yang kau gunakan akan menyerang akal sehat-mu. Sehingga kemungkinan kau sakau ─bertingkah urakan tetapi sebenarnya tidak sadar adalah sembilan puluh persen" Chanyeol menunggu respon dari simungil dihadapannya. Tetapi yang dilakukan Baekhyun sama sekali diluar dugaannya. Baekhyun hanya kembali memakan makanannya. Seolah disini tidak ada Chanyeol. "Kau berasal dari mana?"
Baekhyun menghentikan pergerakannya. Sehingga sendok yang ia gunakan masih menyangkut pada mulutnya. Pipinya mengembung. Lucu sekali.
Chanyeol yang melihat itu menjadi salah tingkah sendiri. Entahlah. Chanyeol lebih merasa yang berada dihadapannya ini adalah bocah berumur 5 tahun. Chanyeol ─sedikit melupakan fakta bahwa alasan Baekhyun berada disini sebagai pengguna Narkoba. "...hei Telan dulu makananmu" Baekhyun mengangguk paham. Dan kembali menelan makanannya. "Apa perawat disini tidak mengetahui Sopan santun? Tadi Jongin yang main masuk seenaknya ─ " Baekhyun menunjuk Chanyeol menggunakan sendoknya seraya memicingkan matanya "Sekarang Kau, Selaku 'Ketua' bertanya pada seseorang yang sedang makan. Semua bocah lima tahun tau, bahwa itu perbuatan yang buruk" Chanyeol menghela nafasnya. Selalu saja ia yang salah. Tapi Chanyeol hanya diam memaklumi. Emosi remaja memang masih naik-turun.
Jadi Chanyeol hanya diam saja. Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Merasa Canggung dengan keadaan yang mulai menjadi dingin ─dan itu semua karena sifat Baekhyun. Chanyeol tersentak kaget saat Baekhyun kembali menyodorkan piring kosong bekas nasinya. Tidak terlalu bersih, tapi setidaknya habis. "Aku ingin kau ─atau officeboy atau apalah untuk segera membuang piring itu." Chanyeol mengerutkan keningnya. Bingung.
"Apa? Membuangnya?" Baekhyun memutar bola matanya malas. "Iya. Jika kalau tidak membuangnya, akan kujamin kalian akan menyesal" Baekhyun kembali meluruskan kakinya. Mengangkat selimutnya dan bersiap untuk tidur lagi ─niatnya.
Tapi tidak setelah tangan besar milik Chanyeol menahan lengan Baekhyun. "Tidak baik tidur setelah selesai makan ─" Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan kepala sampai ujung kaki. Baekhyun menyatukan alisnya ─tidak terima.
"atau kau akan semakin bulat, Baek" Chanyeol meringis Saat bantal berbentuk persegi itu sampai di kepalanya dengan cukup keras. "Diam kau, Pak Tua ─"
Baekhyun mendesis. Merasa dirinya diejek. Enak saja, ia tidak merasa bahwa dirinya gendut ─walau Chanyeol tidak mengatakan dia gendut, sih.
"Yach! Aku tidak tua, enak saja" Baekhyun tidak peduli dan langsung tertidur. Namun lagi-lagi Chanyeol menahan gerakannya. "Apalagi? Tolong jangan menyentuhku!" Mata Baekhyun menatap tajam Onyx legam milik Chanyeol.
"Kau butuh udara segar, Baek."
Baekhyun akhirnya bangkit dengan bermalas-malasan. "Aku akan mencari udara sendiri. Tidak perlu dikuntit dengan tiang bodoh sepertimu" Baekhyun mengambil blazernya yang menggantung disamping lemarinya. Tangan Chanyeol terangkat untuk kembali menahan Baekhyun ─namun dengan cepat Baekhyun menghindarinya. "Sudah berapa kali aku bilang, jangan sentuh aku?!"
Dengan santai, Chanyeol menjawab "Kau baru bilang satu kali. ─" Baekhyun mendengus. Chanyeol lebih menyebalkan dari Jongin. " ─Kau pikir bisa kabur dari tempat ini? Kami sudah terlalu sering mendengar alasan 'mencari udara segar padahal pasien sebenarnya ingin kabur. Dan lagi ─"
Chanyeol maju satu langkah mendekati Baekhyun. Memegang bahu Baekhyun dengan cengkraman cukup kencang. "Aku ini lebih tua darimu. Jika kau tidak mau memanggilku dokter, kau bisa memanggilku hyung,Chan,Yeol atau apapun yang kau mau. Tapi tolong, jaga sikapmu. mengejek seorang yang lebih tua sama sekali terlihat seperti seorang anak kurang perhatian dari orang tua" Baekhyun masih diam. Tidak mendengarkan dengan jelas perkataan Chanyeol dengan sepenuhnya. Namun ketika mendengar kata orang tua, Baekhyun yang awalnya memasang wajah gugup, langsung kembali berwajah datar. "Gimana aku mendapatkan perhatian. Orang tuaku sudah lama mati"
Chanyeol membelalakan matanya. "Jaga Omonganmu! Orangtuamu masih hidup, Orang tuamu menginginkan kau sembuh sehingga kau diletakan ditempat ini. Orang tuamu sangat baik tapi kenapa kau malah mendoakan mereka mati?!"
Baekhyun menolehkan wajahnya. Menatap tajam Chanyeol yang juga menatapnya tajam. Namun, Baekhyun sadar, ia tidak kuat jika berada disituasi seperti ini. Baekhyun menundukan kepalanya. Memutar tubuhnya. Menghadap kearah pintu. "Kau tidak tau, Kau sama sekali tidak tau, Yeol" Dengan gerakan cepat Baekhyun memutar knop pintu dan berlari. Menjauhi kamar itu untuk sementara. Setidaknya ia butuh udara segar yang berasal dari taman.
Chanyeol yang mendengar suara sendu Baekhyun masih terdiam mematung. Tidak sadar bahwa Baekhyun telah keluar dari kamarnya.
..
Mentari telah datang dan mulai menyapa penghuni rumah dimuka bumi melalui celah-celah dijendela. Satu persatu manusia mulai terusik dengan sinarnya. Sama seperti Baekhyun. Masih menggunakan piyama berwarna hijau muda dengan motif Daun musim gugur membuatnya terlihat sangat manis.
Baekhyun mengambil sisir kecil yang berada di Buffet samping tempat tidurnya. Mulai merapihkan penampilannya yang sedikit acak-acakan. Baekhyun menolehkan kepalanya saat telinga mungilnya mendengar suara ketukan pintu. Dengan sedikit menguap, Baekhyun berjalan malas. Mulai berfikir akan ada kegiatan apa di pusat rehabilitasi ini.
Baekhyun membuka pintunya. Menampilkan Seorang Kim Jongin yang menatap Baekhyun dengan wajah ceria. Jongin perlahan melunturkan senyumnya saat sadar Baekhyun tidak akan membalas senyumnya. "Selamat Pagi, Baek. Kau terlihat seperti Puppy" Mungkin sedikit rayuan bisa membuat Baekhyun tersenyum. dan berhasil. Baekhyun tersenyum. tipis sekali "Ya, Pagi juga Jongin. Aku manusia, bukan puppy"
"Segeralah mandi. Kita akan sarapan bersama dengan pasien lainnya ─tidak dengan pasien yang memiliki gangguan jiwa yeah gila maksudku" Baekhyun terdiam. Sempat senang. "Maaf aku tidak ─" Jongin menggeleng. Tanda tidak setuju kalau Bocah ini menolak.
"Aku ─maksudku kita tidak menerima penolakan" Jongin memutar balik tubuh Baekhyun dan mendorongnya pelan. "Ayo mandi! Aku akan menunggumu disini.
Baekhyun tidak bisa menolak. Entahlah. Mungkin dia merasa lebih nyaman disini atau lebih tepatnya ─mulai menerima takdir.
Dengan setia, Jongin duduk menunggu Baekhyun dipinggir ranjang.
..
Kaki jenjang itu terus melangkah mendekati ruang makan bersama yang berada dirumah rehabilitasi itu. Rumah Rehabilitasi ini memiliki agenda Seminggu sekali untuk melakukan makan bersama ─sebagai salah satu metode penyembuhan pasien. Chanyeol tersenyum saat pasien. Chanyeol tersenyum saat pasien yang rata-rata berusia 15 sampai 23 Tahun itu sedang memandang makanan mereka. Namun Chanyeol bertanya-tanya, bangku yang seharusnya diisi Baekhyun, Masih kosong. "Kemana Baekhyun?" Chanyeol mulai bertanya pada salah satu perawat. Perawat yang ditanya tidak mengerti. Tentu saja, Baekhyun kan bukan pasien-nya. "Tidak tau, ketua"
"Jongin?"
Perawat itu mengangguk pelan. Mendapat pencerahan. "Ah ya, Jongin memanggil si bocah 256 itu." Chanyeol memutar bola matanya malas. "Namanya Baekhyun, Kibum" Perawat yang dipanggil Kibum itu hanya tersenyum garing.
"Dokter, Kapan kita akan mulai makan?"
Salah satu pasien yang paling muda bernama Jimin ─15 tahun itu sepertinya mulai tidak sabar. "Apa kau tidak bisa bersabar? Kita semua juga lapar. Sabarlah sedikit, Bocah" Sekarang pemuda berwajah kotak yang mengatakan hal ketus seperti itu. Namanya Jongdae. Cukup cerewet. Jimin yang mendengarnya hanya mendengus jengkel.
Chanyeol tersenyum singkat. Melihat pertengkaran ─yang justru membuat suasana menjadi lebih hangat. Disini sebisa mungkin semua pasien saling mengenal, minimal. kalau bisa saling bercerita satu sama lain. Karena Chanyeol yakin mereka menggunakan narkoba hanya ada dua faktor.
─Kurang perhatian orangtua sehingga tidak dapat menceritakan kejadian sehari-hari atau
─Terseret pergaulan.
Namun semua mendadak hening saat Jongin datang membawa Pemuda berumur tujuh belas tahun yang sialnya terlihat seperti bocah berumur 5 tahun. Chanyeol tersenyum sumringah, Baekhyun mulai bisa beradaptasi dengan keadaan. "Baekhyun, Kau bisa duduk disamping Jongdae"
Baekhyun mengangguk patuh mendengar perintah Chanyeol. Dengan cepat Baekhyun duduk disamping Jongdae dengan tangan yang menggenggam kotak kecil.
Chanyeol memulai acara sarapan bersama mereka hari ini.
Sarapan terasa hidmat karena setiap pasien fokus pada makanannya masing-masing. Tapi tidak dengan Baekhyun.
Bocah itu menatap nasi dengan wajah datar penuh rasa tidak minat. Namun tatapan Chanyeol memaksanya menyantap makanan itu pada akhirnya.
Sampai pada suapan terakhir, Baekhyun langsung mengorek kantung celananya pelan. Dengan perlahan ia membuka tutup kotak itu dan mengambil isinya. Dengan masih melirik Chanyeol yang sedang asik berbincang dengan perawat lain, Baekhyun menundukan kepalanya hingga berada dikolong meja. Dengan cepat, Baekhyun memasukan benda itu kemulutnya dan mengambil gelas berisi air kemudian meminumnya. Baekhyun melirik Chanyeol yang ternyata sedang menatapnya juga. Dengan gugup dan sedikit panik, Baekhyun kembali memasukan kotak itu kedalam kantung celananya. "Apa yang kau lakukan, Baek?" Baekhyun yang mendapat pertanyaan itu mulai gugup. Matanya melirik kesana kemari. "A-Aku selesai" Baekhyun bangkit dari duduknya dan mulai keluar dari ruangan.
"Aku juga selesai" Disusul dengan Jongdae. " ─Aku ingin lebih dekat dengannya" Chanyeol mengangguk. mempersilahkan Jongdae untuk mengikuti Baekhyun.
"Aku melihat ia membawa sebuah kotak kecil. seperti kotak menyimpan obat khusus. Apa dia menyembunyikan Narkoba?" Jongin berkata dengan ragu. Merasa tidak yakin dengan argumennya. Chanyeol mengangkat bahunya. Tidak tau.
"Kita periksa kamarnya pada saat ia memulai kegiatan peminatan ─" Jongin mengangguk. Chanyeol menepuk pelan pundak Jongin. Memaksa si mpu untuk menengok. " ─kau merawatnya hanya dari pagi sampai pukul duabelas siang. Sisanya biar aku yang menjaga ─merawatnya" Jongin melongo mendengar perkataan sepupunya. Dan Jongin mengangguk singkat. Tidak menolak.
.
.
Jongdae berlari kecil mengejar Baekhyun yang mulai sampai dikamar 256. "Baekhyun-ssi! tunggu aku!" Baekhyun yang merasa dipanggilpun menoleh. Tersenyum tipis pada Jongdae ─teman sebelahnya saat makan tadi.
"Ada apa, Jongdae-ya?
Jongdae masih mengatur nafasnya. Cukup lelah mengejar Baekhyun. "Bisakah kita menjadi teman dekat atau mungkin sahabat?"
Baekhyun menatap Jongdae datar. "Maaf Jongdae, Aku tidak percaya dengan kata sahabat." Perlahan wajah Jongdae menekuk, Kecewa.
"Tapi jika kau ingin berteman denganku, mana mungkin aku menolak?" Mendengar penerimaan Baekhyun, Jongdae langsung kembali bersemangat. Dengan senyum lebarnya, Jongdae mendekat kearah Baekhyun dan bergerak menyentuh tangannya ─bergandengan.
Tapi Baekhyun menjauhkan tubuhnya. "Maaf, Aku ─Jangan menyentuhku. Jongdae" Jongdae mengangkat sebelah alisnya. "Aku tidak bisa menceritakannya sekarang."
Jongdae mengangguk paham. Memaklumi keadaan yang memang mereka berdua baru saja mengenal lebih dekat. "Tidak masalah, Ayo kita berjalan-jalan sebelum kegiatan peminatan dimulai" Baekhyun mengangguk semangat. Dan mereka berdua mulai berjalan menuju taman.
Keduanya masih terdiam canggung saat masih dalam perjalanan seperti sekarang. Jongdae yang tidak tahan dengan situasi ini berniat memulai pembicaraan. "Kau masuk ke kelas peminatan apa?"
Baekhyun menolehkan kepalanya. Mengerjapkan matanya sebentar dan kemudian menjawab "Musik" Singkat dan jelas. Tapi Jongdae tidak menye rah. Jongdae tau, Baekhyun sebenarnya anak yang ceria. Terlihat dari senyuman dimata cantiknya. "Hey, Kita sama!" Mata Baekhyun berbinar. Cukup senang. ia tau, Jongdae adalah orang yang baik. "Mohon bantuannya yah, Jongdae-ya"
Jongdae menepuk pelan pundak Baekhyun. "Tentu saja. Nah kita terlalu asik mengobrol. Sampai langkah kita terasa lama. Kembali kekamar karena peminatan dimulai sepuluh menit lagi" Jongdae membetulkan letak jam tangannya. Kemudian melambaikan tangannya dan mulai berlari "Daah Baek"
Baekhyun hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Baekhyun memutar tubuhnya dan tersentak kaget saat melihat Chanyeol ada dihadapannya."Ayo ikut aku."
"kemana?"
Chanyeol menahan senyumnya saat melihat wajah memelas Baekhyun. "Mengambil seragam untuk peminatanmu. Kau ingin masuk musik, kan?" akhirnya Baekhyun hanya menurut.
"Baiklah"
..
Chanyeol menuntun Baekhyun untuk segera masuk ke ruang musik. Setelah mengucapkan terimakasih, Baekhyun bergerak pelahan untuk masuk ke kelas. Namun Baekhyun mengerutkan alisnya saat merasa Chanyeol tidak bergerak dari tempatnya. Baekhyun memutar tubuhnya lalu memutar bola matanya malas. "Apalagi?"
Chanyeol mengerjapkan matanya. Bingung mau menjawab apa. "A ─Aku akan menunggumu." Baekhyun mengerutkan keningnya.
"Aku bukan bocah berumur lima tahun"
Namun Chanyeol masih bersikukuh. Ingin menunggu Baekhyun sampai kegiatan peminatannya selesai. "Aku perawatmu. Jika ada hal yang buruk terjadi, aku yang bertanggung jawab penuh"
Baekhyun terdiam. Melipat tangannya didepan dadanya. Memandang Chanyeol tajam. "Setauku, Perawatku adalah Jongin. Bukan kau, pak tua"
"Aku mendengar kau tidak ingin direhabilitasi. Kau ini keras kepala sekali, huh? ─" Chanyeol menatap tajam Baekhyun ─berusaha menjadi lebih tegas. " ─Cepat masuk. kegiatan sudah dimulai dari tadi. Kau membuat teman-temanmu menunggu, bocah tak tau sopan santun" Baekhyun menendang udara kosong sejenak dan kemudian berlari mendekati teman barunya beberapa menit yang lalu
"Jongdae ─yaaah"
Chanyeol tersenyum. Setidaknya Baekhyun sudah mulai betah berada di tempat ini.
Baekhyun tengkurap diatas ranjang putihnya. Bibirnya terus menggumamkan kata-kata random. Dan tersenyum singkat saat mendapat kata-kata yang pas. Kemudian ia tulis di buku catatan kecilnya.
Baekhyun terlalu berkonsentrasi sehingga tidak sadar kalau Chanyeol tengah membuka pintu kamarnya perlahan. "Hey Baek."
Baekhyun tersentak kaget. Dengan sedikit memutar kepalanya perlahan, Baekhyun mendecak pelan saat melihat Chanyeol disampingnya. "Apalagi?"
Chanyeol menggeleng pelan. "Hanya proses pendekatan antara Perawat dan Pasiennya
" Baekhyun mengangguk mengerti. Lalu kembali berkutat dengan smallnote miliknya. Chanyeol yang diacuhkan merasa sangat bosan. "Baek, Apa yang sedang kau lakukan?"
Namun reaksi Baekhyun pun sangat menggemaskan. Baekhyun menyentakan kepalanya kebantal dan kemudian bangkit dari tengkurapnya. Menatap datar Chanyeol yang sedang menatap Baekhyun dengan tatapan bingung. "Aku sedang membuat lagu." Chanyeol mengerutkan keningnya.
"Untuk apa?" Baekhyun menghembuskan nafasnya. Menunduk menatap catatannya Lalu tersenyum manis. Chanyeol terdiam. Kaget melihat Senyum Baekhyun yang sangat hangat. "Tadi dikegiatan musik, salah satu pembimbing memberi tugas untuk membuat lagu. aku membuat lagu ini untuk orang terdekatku ─dulu. Agar dapat menyadari bahwa aku sangat menyayangi mereka..." Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Terdengar ragu. Chanyeol masih terdiam, menunggu penjelasan Pemuda tujuh belas tahun dihadapannya ini. "... Walau mereka telah menghancurkan hidupku" dan Baekhyun tersenyum. Chanyeol tambah diam. Baekhyun masih bisa tersenyum disaat ─Chanyeol yakin ini berhubungan dengan alasan kenapa pemuda mungil ini menggunakan Zat adiktif berbahaya tersebut. "Karena, Cepat atau lambat... Aku akan meninggalkan mereka" Baekhyun mengusap pelan sudut matanya. Menghapus jejak airmatanya yang mulai terlihat.
"Selamanya. Aku akan mati setelah ini" dan Chanyeol tidak suka. Sangat tidak suka mendengar pasien-nya putus asa seperti ini. Chanyeol berniat menggenggam Baekhyun, tetapi lagi-lagi ditepis. "Jangan sentuh aku, Yeol. kumohon"
Chanyeol memalingkan wajahnya. Dan mengangguk paham. "Mau bercerita denganku?"
Baekhyun menatap Chanyeol dalam. Mencari kepercayaannya. Chanyeol yang ditatap seperti itu merasa risih. "Percuma jika aku menceritakannya padamu" Chanyeol menganga kecil. Apa-apaan?
"Kau harus bercerita. Kita semua, terutama aku menyayangimu, Baek. Kita ingin kau sembuh." Benar kata Jongin, Baekhyun benar-benar terlihat sangat rapuh. "Kalian tidak pernah mempercayaiku ─" Baekhyun mulai meremas pelan sprai putihnya. Berusaha menahan emosinya.
" ─Aku tidak menggunakan Obat-obatan sialan itu, yeol. Sama sekali tidak" Baekhyun menghembuskan nafasnya tergesa-gesa. Masih menahan emosinya.
"Tapi kau telah dibuktikan menggunakan Narkoba, Baek. Kita tidak bisa menyangkal. Itu adalah hukum yang kuat" Chanyeol masih kukuh dalam pendapatnya. Tidak mungkin Sehun main menjebloskan bocah ini ke rehabilitasi sementara tidak menjalani tes medis. "Aku tau kau anak baik, Baek. Aku bisa membacanya dari tatapan matamu. Lain kali, berhati-hatilahdalam bergaul"
" ─Keluar"
Baekhyun memotong ucapan Chanyeol. Chanyeol menghembuskan nafasnya. kemudian tangannya mengusap surai Baekhyun pelan. "Maafkan aku. Aku memaksamu bercerita. Aku berjanji tidak akan memaksamu sampai kau ingin bercerita denganku" Chanyeol tersenyum.
"Ah Ya ─"
Chanyeol berjalan mendekati meja kecil disamping pintu. Terdapat nasi dan beberapa lauk disana. "Makanlah. Dan kumohon minum obatnya. Agar kau cepat sembuh" mengangkat nampan itu dan menyerahkannya pada Baekhyun. Baekhyun seperti terhipnotis. Ia hanya mengangguk.
..
Ini sudah seminggu sejak kejadian memaksa Baekhyun untuk bercerita pada Chanyeol. Mereka berdua tetap menjalani tahap rehab dengan seperti biasa. Baekhyun hanya membutuhkan waktu setengah hari untuk menjernihkan pikirannya saat itu. Cukup dewasa. Berbanding terbalik dengan wajahnya.
Saat ini mereka sedang bersiap untuk mengikuti tahap rehabilitasi mengenai keagamaan. Baekhyun menjadi lebih penurut sekarang.
Sebenarnya Chanyeol bingung dengan Baekhyun. Biasanya pemuda sekarang malas sekali beribadah. Tetapi pagi ini, Baekhyun sangat semangat mengikuti rehab ini. Saat ditanya kenapa Baekhyun sangat bahagia, Baekhyun hanya mengatakan "Aku ingin mendoakan orang-orang yang masih mendukungku. Agar orang itu terus bahagia." Saat itu, Chanyeol tersenyum
"Kau merindukan orangtuamu, ya?" Namun langkah Chanyeol terhenti saat Baekhyun menggeleng. "Tapi kau mendoakan orang yang masih mendukungmu. Orang tuamu yang pertama mendukungmu, pastinya" Baekhyun lagi-lagi menggeleng. "Aku hanya ingin mendoakan kau, Jongin dan Jongdae. Karena hanya kalian yang masih mendukungku. Walau ini tuntutan pekerjaan kalian, sih." Chanyeol tersenyum kecil mendengar jawaban Baekhyun. Lucu sekali bocah ini. " ─sejujurnya aku bingung. ini terlihat seperti asrama daripada rumah rehabilitasi." Chanyeol terkekeh pelan.
Chanyeol sedikit mengusak rambut klimisnya. "Kami berusaha membuat pasien disini merasa ini adalah rumah keduanya" Baekhyun mengangguk.
"Pantas Jongdae tidak mau pulang dari sini" Baekhyun terkekeh kecil saat mengingat perkataan Jongdae. "Jongdae mengatakan bahwa Disini lebih nyaman dari rumahnya"
Chanyeol tidak mendengarkan cerita Baekhyun. Chanyeol sibuk memandang Baekhyun yang terkekeh. Dasar. Padahal satu minggu yang lalu Chanyeol memaksa Baekhyun bercerita segala hal.
..
Seorang pastur sedang berbicara panjang ─pidato. Baekhyun kembali terdiam sekarang. Pandangannya kembali datar dan dingin.
"Kasih sayang orangtua dan sahabat, sangat dibutuhkan oleh kalian. Karena hanya dengan orangtua kalian diawasi. Dan dengan sahabat, kalian dapat melepas beban kalian" ─hal itu yang membuat Baekhyun kembali merasa tidak ada gunannya dia hidup. Mungkin akan lebih Baik jika dia mati. Bagaimana orangtuanya bisa membantu? Orangtuanya membuangnya ke tempat ini dan Sahabatnya -lah yang menyebabkan hidupnya seperti ini.
Tiba-tiba Baekhyun merasa kepanasan. Setelah sang pastur mengucapkan salam perpisahan, Baekhyun langsung duduk dari bangku gereja dan berlari keluar. Berusaha menyelip diantara pasien lain.
Baekhyun bersyukur Chanyeol langsung keruangan pribadinya karena ada urusan . Jadi Baekhyun bisa langsung kekamarnya tanpa pertanyaan aneh dari si perawat.
Baekhyun membuka pintu kamarnya sedikit kasar. Membuka laci-laci buffetnya dan menemukan apa yang dicarinya.
Baekhyun membuka kotak itu dengan perlahan. Namun Baekhyub menepuk dahinya, ia lupa menyiapkan minum. Baekhyun langsung mengambil gelas dan beranjak kearah dispenser.
Baekhyun menelan obat-obat itu dengan sekali tenggakan. Dan setelah meminumnya, Baekhyun mengambil secarik kertas dari buku catatan kecilnya. Dan bergerak seolah-olah ia tengah mengipas dirinya sendiri. Melupakan bahwa kamarnya telah disediakan fasilitas AC.
Baekhyun tidak menyadari, bahwa Chanyeol telah melihat semuanya. Pria berumur 25 tahun itu sedang berdiri dipintu. Menatap Baekhyun dengan pandangan menusuk.
Baekhyun yang merasa sedang ditatap-pun menolehkan kepalanya. Kaget melihat Chanyeol disana. Baekhyun menerka-nerka.. Apakah Chanyeol melihat ia memakan obat? "Apa yang kau sembunyikan, Baek?" dengan cepat Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun. Namun Baekhyun tetap diam. Chanyeol yang kesal pun mulai membuka laci Baekhyun satu persatu.
Chanyeol membolakan matanya saat melihat kotak kecil. Chanyeol membuka kotak tersebut. Namun dengan cepat Baekhyun menahan pergerakan Chanyeol. "Jangan ikut campur urusanku!"
Chanyeol menatap Baekhyun dengan tajam. Kemudian, dengan kasar Chanyeol mendorong Baekhyun hingga remaja 17 tahun itu terjatuh dikasurnya dan kotaknya terlepas. Dengan sigap, Chanyeol mengambil kotak tersebut.
Dan semakin membola melihat isinya. "Kau membawa Narkotika ke tempat rehabilitasi?" Namun Baekhyun hanya menatap Chanyeol datar. dan Kosong. Baekhyun tau pasti hal ini akan terjadi. "Jawab aku, Bocah! Kau membawa Narkotika sedangkan kau berada di tempat rehabilitasi. Apa kau bodoh?" Baekhyun hanya diam saat Chanyeol membentaknya abis-abisan.
Nafas Chanyeol masih terengah. Berusaha menahan emosi. "Apa kau tidak bisa membedakan obat-obatan?" Chanyeol berdecih pelan.
"Jaman sekarang itu canggih. ─" Chanyeol menatap Baekhyun dengan penuh amarah. Masih tidak terima "Narkotika bisa diubah menjadi bentu obat maag asal kau tau." Chanyeol menyeringai. "Masa rehabilitasimu ditambah. Aku terlalu bodoh sehingga bisa percaya dengan wajah polosmu itu" dan kemudian Chanyeol berjalan keluar kamar Baekhyun. Menutup pintunya kasar.
Baekhyun tertawa kecil. Mentertawakan dirinya sendiri. "Aku memang bodoh ─"
Air matanya mulai meleh. Semuanya kembali terekam dimemorinya. isak tangis mulai terdengar disekitar kamar. "Sampai aku matipun, Tidak akan ada yang mempercayaiku. Sadar, Baek. Kau hanyalah pembawa sial" Baekhyin tersenyum. Mencoba menghibur dirinya sendiri. Namun pada akhirnya, Airmata itu terus keluar dari onyx miliknya.
.
.
TBC.
.
P.S: FF Ini tidak sepanjang O.B kurasa. Mungkin tamat sebelum chapter sepuluh. Fast update? Review 25 lebih lanjut. *ngarep
P.S.S: Siapa yang sering nyoba senyum tapi ujung2nya nangis lagi? haha xp aku sering melakukan itu btw *curhat
P.S.S.S: CHANBAEK MENGGILA~
