Dua pemuda tengah berlarian kecil dipinggir pantai. Berniat untuk mengejar perempuan cantik didepannya. Langkah kaki mereka tercetak diantara hamparan pasir pantai berwarna putih itu. "Yaaaach! mau kemana kau!" Sedangkan yang wanita terus tertawa sambil memegang topi berwarna merah kesayangan salah satu sahabatnya. "Tangkap aku, oppa. Ayolah~ dasar gendut! mengejar wanita saja tidak bisa"

Pemuda itu akhirnya duduk dipasir. Menatap Yerin dengan tatapan sinis-nya yang malah terlihat lucu. "Aku tidak gendut, kau saja yang terlalu kurus"

"Hey hentikanlah! kalian seperti seorang bocah kecil saja." pemuda bersurai kecoklatan terkekeh kecil. Sambil menyorot kedua teman berbeda gender yang terlihat seperti bocah menggunakan handycam-nya. "Yach! Kau merekam-nya?" Sekarang pemuda berdimple ─yang juga ikut berlari yang protes.

yang merekam hanya terkekeh. "Ayolah~ ini untuk kenang-kenangan! kita terlalu sibuk dengan tugas sekolah sampai jarang sekali refreshing seperti ini"

satu wanita dan dua pemuda itu mengangguk. dan keempat orang itu langsung berteriak dan berlarian menuju pinggir pantai. "Aaaaaaaaaaaaaaaa" Teriakan yang wanita yang paling kencang.

"Suara-mu mirip sekali dengan petasan pernikahan" Didalam handycam-nya terlihat sang wanita sedang berkacak pinggang. menatap tajam pemuda yang berani menghina suara indahnya. "Apa katamu? apa kau tidak bisa berkaca?"

Dan mereka berempat mulai bermain dengan cipratan air laut. "Yach! handycam-ku basah, bodoh!"

.
Baekhyun menutup handycam penuh kenangan itu. Air mata kembali menggenangi pelupuk mata bulan sabit-nya.

Baekhyun menangkup wajahnya. "Aku benci kalian" Isakan mulai terdengar dikamar bercat putih khas rumah sakit. Jari lentiknya dengan perlahan menghapus jejak air matanya.

"Tetapi aku menyayangi kalian"

PSIKIS

Chapter 3

(Smile)

Cast; ChanBaek and Other

Rating; M (For Mature Language, Drugs and something. Nothing porn tragedy in this fict)

Genre; Angst, Romance

Disclaimer; 100% Mine. Maaf jika ada Kesamaan Alur, Latar dll. Itu tidak disengaja

Warn: Typo(s), Shou-ai/boyxboy/yaoi!

A/N: Aku telat update~ Maaf ya. Aku baru pulang dr kampung Maaf klo banyak typo. Langsung posting soalnya(?) maaf kalau mengecewakan. Di Chapter ini mulai banyak Chanbaek moment yuhuuu~~ Maaf kalo agak gaje yah. Buntu bangen ini soalnya *tiup poni* Saya juga ganti pen name dari peteryeol0627 jadi meyswcox yah oke thanks

.

Here We Go

...

Baekhyun kembali melanjutkan aktivitasnya yang saat itu sempat terganggu ─mengarang lagu. Baekhyun sempat bingung karena akhir-akhir ini ia sedang dibuat pusing oleh perawat kelebihan kalsium itu.

Semenjak Baekhyun tertangkap basah sedang menggunakan obat, Chanyeol bersikap lebih tegas dan dingin pada Baekhyun. Baekhyun memutar bola matanya malas saat mendengar suara ketukan pintu. Dengan malas, Baekhyun membuka pintu berwarna cokelatnya. "Jongin? Ada apa?" Baekhyun sedikit bingung saat melihat Jongin berdiri dihadapannya. Jongin tersenyum singkat pada Baekhyun.

Baekhyun berbalik menatap jam dinding di atas ranjang tidurnya. Jam menunjukan pukul setengah satu siang. Dan itu menunjukan bahwa seharusnya Chanyeol yang menjadi perawatnya.

Baekhyun itu spesial, mungkin? Disaat yang lain hanya mempunyai satu perawat, Baekhyun mempunyai dua perawat. Tapi sayangnya, Keduanya sangat menyebalkan ─menurut Baekhyun. "Chanyeol sakit hari ini. Jadi selama satu hari full, aku yang akan merawatmu" Jongin mengusap pelan pucuk kepala Baekhyun. " ─baik-baik denganku, yah" Baekhyun tersenyum miring dan menonjok pelan bahu Jongin. Baekhyun tersenyum kecil. Sedikit menggeser tubuhnya dan mempersilahkan Jongin masuk.

Jongin melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dalam. Berkeliling kamar Baekhyun sedangkan sipemilik kamar kembali melanjutkan aktivitasnya. "Apa saja yang kau pelajari di kelas musik?" Jongin memulai pembicaraan.

"Yah, Tidak buruk juga. Guru pengajarnya juga sangat cantik. Aku jadi sangat bersemangat untuk mengikuti peminatan" Baekhyun berkata dengan senyum menghiasi bibir tipisnya. Baekhyun sangat bersahabat dengan Jongin. Sedangkan dengan Chanyeol, Baekhyun menjadi lebih pendiam... Sosok Baekhyun mendadak menjadi lemah dihadapan Chanyeol... Baekhyun tidak tau kenapa. Sorot kewibawaan Chanyeol saat pertama kali Baekhyun datang ketempat ini sangat hangat. Sehingga Baekhyun sempat berfikir untuk menceritakan kejadian sebenarnya pada Chanyeol.

Berbeda dengan setelah Chanyeol menangkap basah Baekhyun sedang meminum obat terlarang ─menurut chanyeol. Menurut Baekhyun, sekarang Chanyeol menjadi sangat tegas. Tidak bisa diajak bercanda ataupun hal hal santai lainnya. Jadi jika Chanyeol menjadi perawatnya, Baekhyun hanya bisa mengikuti keinginan si perawat. Tidak bisa mengelak karena

"Chanyeol menyeramkan"

" ─huh? apanya yang menyeramkan?"

Baekhyun memukul mulutnya pelan yang seenaknya saja menyebut nama Chanyeol. Jongin saja sampai mendengarnya. Lagi pula kenapa ia memikirkan Chanyeol? ugh lebih baik Baekhyun memikirkan Lee Hyori Nuuna yang menjadi staff pengajar diruang kelas musik.

"Semua orang mengatakan...
perbedaan adalah hal yang indah..
mungkin aku hanya satu-satunya...
diantara mereka...
yang tidak menginginkan adanya perbedaan...
Entah Sifat, maupun pemikiran"

Goresan tinta mulai memenuhi smallnote milik Baekhyun. Tanpa sadar, Baekhyun menulis lirik lagu dengan Chanyeol sebagai pokok utamanya.

.

Jongin terkekeh pelan saat melihat Baekhyun memukul pelan bibir tipisnya. Jongin tau, Baekhyun khawatir pada Chanyeol. Namun gengsi menanyakan keadaan Chanyeol sangat besar ─mungkin.

"Kau menyukai Hyori nuna? Aku kira kau ini ..." Jongin menggigit bibir bawahnya. Menahan tawa "...Gay ─aw Sakit Baek!" Jongin yang ingin tertawa malah meringis karena smallnote Baekhyun berhasil terbentur dengan kepalanya.

Jongin menatap jengkel Baekhyun yang sedang merangkak untuk mengambil buku catatannya. "Jangan sembarangan, bodoh! Aku masih menyukai dada besar dan bagian bawah yang datar! bukan dada rata dengan bagian bawah yang menonjol! Dasar psikolog gila" Jongin terkekeh geli melihat ekspresi pemuda mungil dihadapannya."Hey, Omonganmu seperti seorang profesional. Lagipula kau terlalu manis untuk ukuran lelaki. Dan aku pikir kaum gay kebanyakan pria manis sebagai bottom, kan?" Jongin menempelkan pinggangnya pada tepi buffet dibelakangnya. Jongin melipat kedua tangan didepan dadanya. Menatap Baekhyun dengan tatapan mengejek.

Baekhyun menatap Jongin sengit. "Kau yang terlihat lebih profesional karena mengetahui semua seluk beluk kaum gay, tuan kim. Sadarlah!" Jongin menatap datar Baekhyun. Jongin salah, Siapa yang bisa menang debat dengan Baekhyun? Teruslah bermimpi.

Mereka kembali menjalankan aktifitasnya masing masing. Jongin kembali menelusuri kamar Baekhyun. Pandangannya jatuh pada sebuah bingkai foto terbalik. Dengan perlahan, Jongin mengambil bingkainya dan menyernyitkan dahinya saat melihat tiga pemuda dan satu wanita tengah saling merangkul satu sama lain dengan Pantai sebagai Backgroundnya. "Aku seperti pernah melihat orang ini..."

"...Tapi dimana?"

.

08.45 PM

Jongin keluar dari kamar 256 dengan raut wajah kelelahan. Baekhyun melihat Jongin yang sedang meneliti Bingkai Foto tadi siang. Alhasil, Jongin bekerja keras agar Baekhyun mau berbicara dengannya. Kemudian makan dan minum obat. Tapi sepertinya, Pikiran anak kecil Baekhyun menguasai. Baekhyun tidak mau makan dan minum sehingga Jongin harus menjajikan membawa Es Krim Stawberry esok harinya.

─mau tak mau, Jongin mengalah.

Jongin mendesah malas saat mendengar handpone-nya berdering. "Halo" Jongin sedikit melihat layar handponenya. Sepupunya menelpon.

"Halo, Jongin. Bagaimana dengan Baekhyun?" Jongin menguap saat kembali mengingat tingkah kekanakan Baekhyun. "Dia Baik-baik saja, Yeol. Aku harap besok kau masuk." Chanyeol terkekeh diseberang sana.

Nada bicara Jongin sangat menandakan bahwa ia kelelahan. "Aku pasti masuk, Jongin. Hari ini aku absen karena Kepalaku pusing karena memikirkan Baekhyun"

Jongin menghentikan langkah kakinya. "Memikirkan Baekhyun?"

Chanyeol gugup. "M-Maksudku ─tentu saja aku memikirkannya. Dia kan pasienku." Tentu saja Jongin tidak percaya. Namun karena terlalu lelah, Jongin lebih memilih mempercayai sepupunya itu.

"Baiklah. Aku ingin pulang dan beristirahat. Sampai jumpa besok." Jongin memutuskan sambungannya dan mulai berjalan pulang dengan tas jinjing yang ia sampirkan dipunggungnya.

.

"Memikirkan Baekhyun?" Mendengar perkataan Jongin, Chanyeol kembali dilanda kegugupan. "M-Maksudku tentu saja aku memikirkan Baekhyun, diakan Pasienku" Chanyeol menggigit pelan bibirnya. Sadar bahwa Jongin tidak mempercayainya.

"Baiklah. Aku ingin pulang dan beristirahat. Sampai jumpa besok" Chanyeol menghembuskan nafasnya lega saat mendengar Jongin yang mempercayainya.

Chanyeol mengelus pelan kotak kecil digenggaman-nya. Kotak berisi obat-obatan yang dibawa oleh Baekhyun beberapa hari yang lalu. "Aku sangat mengkhawatirkanmu."

".. Maafkan aku karena terlalu tegas akhir-akhir ini. Aku hanya tidak ingin kau menjadi pengguna narkoba yang benar-benar candu" Chanyeol menghembuskan nafasnya. Memejamkan matanya untuk Sedikit menghilangkan pikirannya tentang Baekhyun. "Aku janji akan membuatmu sembuh, Baek. Pegang janjiku."

Chanyeol terus menggumamkan doa untuk Baekhyun. Tanpa sadar, Mereka berdua saling memikirkan keadaan satu sama lain. Walau masih dalam batas wajar antara perawat dengan pasiennya.

..

Ranjang putih itu tidak berbentuk. Tubuh Mungil Baekhyun bergerak tidak karuan. Posisi Tidur Baekhyun memang buruk sekali. Sama sekali bertolak belakang dengan wajahnya yang manis.

Baekhyun masih memejamkan matanya dengan bokong yang menungging. Walau cara tidurnya yang aneh, tetap saja dia sangat manis.

Baekhyun menutup telinganya saat mendengar ketukan pintu. Tapi Baekhyun tidak menghiraukannya. Baekhyun mengambil bantal dan menenggelamkan kepalanya. Agar ketukan pintu itu dapat teredam. "Aarghh!" Baekhyun melempar bantalnya kasar saat ketukan itu semakin keras. Baekhyun duduk diranjangnya. Mengerjapkan matanya berkali-kali sementara surai cokelatnya sangat acak-acakan.

Setelah Nyawanya cukup terkumpul, Baekhyun bergerak menuju pintu. Membukanya cukup kasar. Dengan mata yang masih setengah tertutup. "Demi Tuhan, Jongin. Ini masih sangat pagi. Sarapan bahkan dimulai pada pukul tujuh. Dan kau tau ini jam berapa? ini masih pukul setengah enam. Apa kau ingin balas dendam atas perbuatanku kemarin? Balas dendam semaumu asal jangan sekarang! Aku masih mengantuk, hitam bodoh!" Baekhyun berbicara layaknya rentetan kereta api yang panjang. Baekhyun mengusak matanya. Baekhyun benar-benar mengantuk.

Namun saat aroma mint dan kayu manis itu menyapu indra penciumannya, Baekhyun baru sadar. Ini bukan Jongin. Baekhyun mengangkat wajahnya. "Morning, Baek" Sosok itu tersenyum lebar.

"Okey, Aku kembali bermimpi. Tentu saja ini Bukan Chanyeol, Chanyeol tidak pernah tersenyum selebar itu padaku. Aku ingin kembali tidur" Baekhyun memutar tubuhnya dan berjalan berniat kembalo tidur. Namun tubuhnya kembali berbalik saat tangan itu memaksa Baekhyun menatapnya.

Orang itu ─Chanyeol mendengus melihat Baekhyun yang menggunakan piyama bermotif babi. Feminim sekali ─Batin Chanyeol. "Ini aku, Baek. Park Chanyeol"

Perlahan, Kesadaran Baekhyun muncul. Menggigit bibir bawahnya. Menahan rasa khawatirnya pada Chanyeol. "Kau sakit apa?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Baekhyun. Pelan sekali. Berbeda saat dengan Jongin. Penuh dengan teriakan dan penuh nada sinis.

Chanyeol tersenyum hangat. "Hanya terlalu lelah." Baekhyun mengangguk. "Merindukanku?" Baekhyun mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Chanyeol. Apa-apaan? beberapa hari lalu, Mahluk ini sangat dingin. Tapi sekarang?

"Kau terlalu percaya diri, Tiang" Baekhyun menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Menutup tawa kecilnya. Chanyeol tersenyum kecil. "Ayo ganti bajumu, Kita berolahraga pagi."

"Jongin?"

Chanyeol mengerutkan keningnya heran. "Hari ini aku yang akan merawatmu. Full" Baekhyun mengerucutkan bibirnya. Pasti akan membosankan. ─pikirnya. Baekhyun mempersilahkan Chanyeol masuk dan Tubuh mungil itu bergegas untuk membasuh wajahnya dan berganti pakaian.

.

"Huh... Hahh" Baekhyun memegang lututnya. Merasakan nafasnya tersenggal-senggal. Baekhyun sebenarnya masuk dalam kategori malas berolahraga. Namun mulai minggu ini, Baekhyun diwajibkan untuk berolahraga selama satu jam dan itu akan dipandu oleh Chanyeol. "Kau payah! ini baru dua putaran!"

Baekhyun menatap Chanyeol jengkel. Masa bodo dengan larangan Chanyeol untuk bersantai, Baekhyun benar-benar lelah sekarang. Chanyeol terkekeh pelan dan berjalan mendekati Baekhyun. Duduk disebelah Baekhyun dengan senyuman yang terkembang.

Baekhyun terkekeh dengan senyum manisnya. "Aku memang tidak pernah olahraga. Aku adalah anak yang malas bergerak"

Baekhyun bercerita dengan senyum yang terus mengembang. Sedangkan Chanyeol yang masih terpaku dengan senyum tulus itu, tidak terlalu mendengarkan perkataan Baekhyun.

Chanyeol mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Baekhyun perlahan. Mengelusnya pelan layaknya Bayi yang baru berumur dua bulan. Seketika Ocehan Baekhyun terhenti. Baekhyun menoleh dan menatap Chanyeol tepat pada titik tengah bola mata jernih milik Chanyeol. "Yeol..."

Chanyeol masih mengusap pipi Baekhyun pelan. Menikmati lembutnya pipi berisi milik pemuda yang lebih muda. "Kau sangat manis saat tersenyum." Baekhyun menahan nafasnya saat hembusan nafas Chanyeol menyapu wajahnya dengan jelas.

"Tetaplah tersenyum" Ibu jari Chanyeol terhenti pada sudut bibir Baekhyun "Karena aku sangat menyukai senyummu"

Sinar matahari terbit menjadi saksi terdengarnya dentuman yang berasal dari organ tubuh kedua adam itu

"Jantungku..." kedua kata hati itu berdesis.

.

Baekhyun dan Jongdae tengah menonton televisi di kamar Baekhyun. Tentu dengan pengawasan Chanyeol. "Jongdae, Waktu berkunjungmu tinggal duapuluh menit lagi" Jongdae yang mendengar Chanyeol berbicara mendengus jengkel.

"Setauku tidak ada batasan pasien lain mengunjungi kamar pasien lainnya." Chanyeol terdiam, skakmat. "Jongdae, Baekhyun butuh istirahat."

"Aku senang jika Jongdae berada disini" Chanyeol meringis saat mendengar perkataan polos Baekhyun. Chanyeol sendiri tidak tau apa tujuannya mengatakan itu pada Jongdae.

Akhirnya Chanyeol pasrah.

Chanyeol tersenyum saat melihat kedua pasiennya akur. Mereka saling tertawa satu sama lain.

Chanyeol tersentak saat mendengar dering ponselnya. Dilayarnya tertera Nama Jongin. "Halo, Hitam"

"Yach!" Chanyeol terkekeh saat mendengar sentakan sepupunya. "Baiklah. Ada apa?"

"Ada yang ingin bertemu dengan Baekhyun" Chanyeol menyernyitkan alisnya. "Siapa?"

"Ia mengaku kakaknya. Namanya Byun Baekbum. Dia mengatakan baru pulang dari luar negri. Tapi... Adiknya.."

Chanyeol menghentikan pembicaraan Jongin. Tidak mau mendengar lebih jauh tentang kisah menyedihkan Baekhyun. "Baiklah, Bawa orang itu ke kamar Baekhyun..."

"...Aku yakin Baekhyun tidak mau menemui kakaknya jika harus Baekhyun yg menemuinya" Jongin mengangguk paham.

Sambungan telpon mereka terputus. Chanyeol menatap Baekhyun yang masih bercanda riang dengan Jongdae. "Yach! Bacon, Jangan panggil aku Chenchen!"

Suara Baekhyun kembali terdengar ke penjuru kamar.

.

Baekhyun menatap apapun yang ada didepannya. Asalkan tidak menatap sang kakak yang sedang menatap adiknya miris disampingnya. "Baek, Tatap aku..."

Baekbum tersentak saat adiknya menolak sentuhannya. "Jangan sentuh aku. Aku tau, Kau tau semuanya... Baekbum"

Baekbum menatap adiknya miris. Penuh pandangan terluka. "Baek.. Aku kakakmu." Baekhyun menolehkan wajahnya. Airmata mulai turun dari mata bulan sabitnya. "Tapi kau meninggalkanku"

Baekbum dan Baekhyun terdiam. Saling memandang satu sama lain. Jika Baekbm menatap Baekhyun dengan tatapan miris, Baekhyun memandang Baekbum dengan tatapan tajam. "Jangan kasihani aku" Ucapan itu meluncur mulus dibibir Baekhyun "Kau tidak pernah percaya padaku, hyung!"

"Aku peduli padamu, Aku menyayangimu, Aku pergi karena aku ingin mencari uang untuk ─"

"Tutup mulutmu, Hyung." Nafas Baekhyun terengah-engah. "Aku minta maaf"

Baekhyun memejamkan matanya. Menahan rasa pusing yang menjalar dikepalanya. Bayang-bayang kakaknya yang menyayanginya, orang tuanya dan sahabanya kembali terekam diotaknya.

"Selamat ulangtahun baekkie! Kami mencintaimu~"

"Baekkie adalah suatu anugrah yang telah tuhan berikan untuk kami"

"Baekhyun, Adikku, Kau harus tumbuh menjadi lelaki yang kuat"

Namun...

"Anak tak tau diri! Aku sangat malu mempunyai anak sepertimu"

"Kami tidak butuh sampah sepertimu! mimpi apa aku memiliki anak sepertimu"

"A-Apa? Maaf, Aku harus pergi"

"Kenapa Hyung menamparku?"
"Tak bisakah kau berubah?! Jangan menjadi anak liar!"

Baekhyun membuka matanya saat Baekbum menggoyangkan tubuhnya pelan. "Hyung.." Air matanya kembali menggenang. Bersiap untuk tumpah. "Aku membutuhkan kalian..." Baekbum menarik adik kecilnya kepelukannya. Baekhyun menangis kencang. Nafasnya tak teratur. Baekbum yang sedari tadi menahan air matanya, akhirnya tidak bisa menampung airmata lebih banyak lagi.

Keduanya menangis.

Tanpa menghiraukan pria tinggi yang sedang menatap mereka lekat. "Sebenarnya ada apa denganmu, Baekhyun?"

.

Baekhyun duduk disalah satu kursi taman. Menatap kosong kolam ikan dihadapannya. Menghiraukan Chanyeol yang sedari tadi menatap Baekhyun dengan senyuman kecil.

Berkali-kali Chanyeol membuat sebuah lelucon, Tetapi Baekhyun hanya membalas dengan sedikit Senyuman.

Baekhyun telah kembali seperti pertama kali datang ketempat ini.

Sejak kedatangan Baekbum, Chanyeol sadar Baekhyun menjadi kembali berubah. Chanyeol cukup senang saat Baekhyun menolak diajak pulang oleh Baekbum.

Entah apa alasan Chanyeol merasa cukup senang.

Chanyeol yang mulai merasa jengah akhirnya menjongkok dihadapan Baekhyun. Baekhyun yang melihat Chanyeol jongkok, mengerutkan dahinya bingung

Dengan ragu, Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun. Membelainya pelan seolah memberi kehangatan. "Kau masih ingin menangis?" Chanyeol kembali duduk disamping Baekhyun. Masih dengan menggenggam tangannya.

Perlahan Chanyeol melepas genggamannya. Mulai merentangkan tangannya dan menghadap Baekhyun. "Kau bisa memelukku. Menumpahkan semua tangisan dibahuku. Kau bisa menyembunyikan wajah sedihmu didadaku. Karena aku selalu ingin menjadi orang yang..."

"...yang"

"Menjadi sandaran nomor satu bagimu" Chanyeol berfikir keras saat berfikir kata-kata terakhir. Namun akhirnya, Baekhyun memeluk Chanyeol erat. Chanyeol merasa seragamnya basah.

"Aku benci pada diriku sendiri"

"Jangan membenci dirimu, Baek. Karena masih banyak orang yang menyayangimu." Setelah lebih tenang, Baekhyun menarik dirinya dari pelukan Chanyeol dan sedikit mengusap air matanya. Baekhyun meremas pelan dadanya saat merasa sakit yang amat luar biasa menyerang diafragmanya. "C-Chanyeol.. A-yo kekamar" Chanyeol yang melihat itu panik.

Satu yang ada dipikiran Chanyeol, Efek Narkotika yang dikonsumsi Baekhyun kembali bekerja.

.

Baekhyun masih terus mencoba bernafas. Walau nafasnya tersenggal. Badannya terasa panas dan bintik merah mulai terlihat disekitar lehernya. Baekhyun sedang berbaring di tempat tidurnya. Berusaha menahan sakit. Sedangkan Chanyeol menyiapkan beberapa obat rutin untuk Baekhyun. "Baek, Ayo minum obat" Baekhyun menggeleng. Mulutnya sulit untuk digerakkan.

"Be-rikan aku obat ..." Baekhyun terengah-engah. Rasa sakit itu terus menjalar keseluruh tubuhnya.

"Yang kemarin kau bawa, Yeol" Namun Chanyeol menggeleng keras "Tidak"

"Tolong, Yeol. Ini sangat sakit" Baekhyun menangis karena menahan rasa sakitnya. "Hiks.. ini sakit, yeol. Tolong aku" Namun Chanyeol tetap dalam pendiriannya. "Kau harus berhenti tergantung pada obat-obatan terlarang itu Baek" perlahan Chanyeol mengelap keringat Baekhyun menggunakan sapu tangannya. "Itu bukan narkotika Yeol.. Ku mohon percaya padaku.. ini sakit yeol" Air mata kembali turun dari bolamata cantik itu. "Sangat sakit ─aaargh"

Bola mata Baekhyun perlahan tertutup. Chanyeol yang melihat Baekhyun terpejam langsung diserang rasa panik. "Baek? Baekhyun!" Chanyeol mendekatkan jari telunjuknya kebawah arah lubang hidung Baekhyun. Dan kemudian bernafas lega.

Baekhyun hanya pingsan.

Chanyeol mulai menyelimuti Baekhyun. Memandang wajah kekanakan sang pasien. Kemudian mengecup keningnya pelan. "Selamat Malam, Baek. Mimpi indah. Maaf, Aku hanya ingin kau terus melawan efek sampingnya. Dan kau akan segera sembuh"

Chanyeol melangkah keluar kamar Baekhyun.

Chanyeol tidak sadar, perbuatannya beberapa menit yang lalu tidak akan membuat Baekhyun sembuh.


To Be Continued...