"Luhan.." Pemuda bermata rusa itu memutar badannya menoleh kearah pemuda berkulit tan yang sedang berlari kecil kearahnya. "Ada apa?" Luhan Menjawab. Jongin menggeleng. Matanya terus menelusuri wajah Luhan. Menatapnya sangat dalam.

"Kau tau, Hyung? Wajahmu sangat tidak asing." Luhan mendecak malas. Atasan ─yang ia anggap Dongsaeng-nya ini memang aneh.

"Kita kan sering bertemu bodoh!" Jongin menggeleng pelan. "Tidak, Hyung. Bukan seperti itu."

"Lalu?"

Jongin mengetukkan Jarinya sebentar "Ah Iya ─"

"Luhan... Tolong siapkan meja makan karena sarapan akan dimulai lima belas menit lagi" Luhan menatap datar Jongin yang sedang memasang wajah melas. "Aku ke ruang makan dulu. Kau terlalu lambat, Bodoh" Luhan Berlari kecil. Menghampiri Chanyeol ─yang mengintrupsikan untuk menyiapkan meja makan.

Jongin mendesah pelan. "Oh, Ayolah.. Aku yakin kalau Luhan itu..."

"Jongin! Bantu aku!"

Jongin menghentakkan kakinya kesal. "Aishh.. Iya, Iya. Dasar Raksasa tidak sabaran. Sepupu bodoh!" Mau tak mau Jongin harus menghilangkan pikirannya mengenai Luhan.

.

.

PSIKIS

Chapter 4

(You Look like a puddle, And I Love Puddle)

Cast; ChanBaek and Other

Rating; M (For Mature Language, Drugs and something. Nothing SMUT)

Genre; Angst, Romance

Disclaimer; 100% Mine. Maaf jika ada Kesamaan Alur, Latar dll. Itu tidak disengaja

Warn: Typo(s), Shou-ai/boyxboy/yaoi! Italic; Flashback

A/N: Saya baru nongol lagi xD ini chapter benar-benar pendek. Serius xdd jadi maaf kalau mengecewakan. Buat yang nanya kenapa Chanyeol ga cek obat Baekhyun dulu, bakalan terjawab dichapter ini. Di Chapter ini juga mulai ada flashback, so baca aja! Maaf aku telat update~ ini sebenarnya masalah internet positif. btw, ada yg tau cara supaya ga ke block? :( atau ada yg tau provider yg ga kena internet positif? mohon dijawab terimakasih^^

.

Here We Go

...

Aku mengerjapkan mataku saat seseorang mengguncang tubuhku dengan pelan. Awalnya aku terlalu malas untuk sekedar membuka kedua mataku. Tetapi Karena orang itu mengecup pelan Keningku, Mau tak mau aku terbangun. "Apa-apaan kau?" Perawat Gila itu ─Chanyeol tersenyum. "Selamat Pagi, Puddle"

Aku membolakan mataku. Tak terima. "Aku bukan puddle. Dimana Jongin? Ini saatnya Jongin yang menjadi perawatku" Lagi-lagi perawat gila itu hanya tersenyum sinting.

"Mulai sekarang, Aku yang akan menjagamu. Semampuku. Siang-malam. Kapan saja. Aku akan selalu menjagamu" Aku tercengang. Mendengar kata-kata menjijikan yang keluar dari mulut perawat itu.

Cheesy sekali. Tetapi aku mulai merasakan hawa panas berkumpul disekitar pipiku. Aku tertawa pelan. "Kau perayu yang hebat." Chanyeol menaikan satu alisnya. Mungkin dia bingung ?

"Ouh... Aku serius, Puddle. Tidak bercanda." Aku tidak peduli. Aku kembali membaringkan tubuhku dan bersiap untuk kembali berjelajah ke alam mimpi. Namun Chanyeol kembali menahanku. "Ayo mandi.. dan lekas sarapan"

Aku menggeleng pelan. "Tidak mau. Pasti lauknya hanya terdapat Sayur hambar" Aku menyernyit kesal saat mendengar Chanyeol tertawa. "Hari ini berbeda, Puddle"

"Hei.. aku sudah bilang.. Aku bukan puddle!" Aku mengerucutkan bibirku kesal ─reflek. Chanyeol kembali terkekeh. Mataku membola saat merasakan telapak tangan Chanyeol mulai merambat menyentuh pipiku dan membelainya pelan. "Aku menyukai puddle..."

"Puddle itu manis.. Menggemaskan walau wajahnya terlihat cukup menyebalkan. Itu benar-benar menggambarkan wujudmu, Baek" Aku memalingkan bola mataku agar menatap apapun selain perawat kelewatan kalsium ini. Tangannya mulai merambat kepucuk kepalaku. Mengelusnya pelan dari puncak kepala hingga tengkuk-ku seraya tersenyum penuh kharisma. Senyum tipisnya mampu membuatku tak bisa berhenti menatap kedua bongkah bibir Chanyeol yang cukup tebal. "Dan aku menyukai puddle" Aku merona hebat. Bukan masalah puddle. Dia berbicara padaku dengan jarak kurang lebih lima senti. Sangat dekat. "Nah, Sekarang lekaslah mandi. Sebelum kau benar-benar memiliki bau seperti Puddle" Dan aku menendang pelan tulang keringnya hingga ia meringis kesakitan.

.

Baekhyun berjalan mengendap-endapmenghampiri sosok 'hyung' kesayangannya yang sedang bercengkrama dengan masakan didepan-nya. "Boo"

'Hyung'-nya tersentak kaget saat Baekhyun memeluknya dari belakang. "Yach, Bacon bodoh... kalau masakanku tumpah bagaimana?!" Baekhyun terkekeh pelan.

"Araso. Aku minta maaf" Baekhyun menarik kursi dimeja makan dan mendaratkan bokongnya dikursi tersebut. "Hyung, kau sangat jago dalam bidang memasak. Kenapa kau tidak masuk kelas tata boga saja?"

yang lebih tua menggeleng. "Aku tidak mau. Memasak selalu mengingatkan-kutentang rasa..."

"...sedangkan aku tidak ingin menjalani hidup dengan penuh rasa".

yang lebih muda hanya mengangguk. Sebenarnya tidak terlalu paham

"...Nah, Nasi Goreng telah siap! Ayo panggilkan yang lain agar sarapan bisa kita mulai"

Baekhyun kembali menggeleng. "Aku tidak mau. Aku ingin menghabiskan Nasi gorengku lebih dulu. Karena mereka pasti akan kembali meminta nasi gorengku walau telah mendapat jatah" Baekhyun menggerutu pelan. Yang lebih tua terkekeh. "Baiklah... Ayo dimakan." Dengan mata berbinar, Baekhyun memulai acara makannya.

Suara Sendok dan piring yang bersentuhan menandakan bahwa Baekhyun sangat bersemangat dengan sarapannya kali ini. "Iwni swangawat ewnwak hyuwng" yang lebih tua memandang yang lebih mungil dengan tatapan jengah.

"Telan dulu makanan-mu, Bacon" Dengan perlahan, Baekhyun menelan makanannya. "Ini sangat enak hyung! Makananmu memiliki ciri khas tersendiri! Aku mencintaimuuuuuu~"

Baekhyun mengecup singkat pipi yang lebih tua "Eww.. kau menjijikan!" keduanya tertawa.

bahagia. seperi orang idiot.

.

Aku mencoba memaafkanmu..
karena aku sangat menyayangimu...
Tapi kesalahan kecil dimasa lalu...
Membuat kata persahabatan diotakku menjadi semu...

.

Chanyeol menatap Baekhyun yang sedang menatap kosong jalanan dihadapannya. Hari ini kelas peminatan sedang libur. Karena hari ini adalah hari minggu. "Baek.. Apa kau merasa lebih baik setelah kejadian kemarin?" Chanyeol berusaha mencairkan suasana. Namun Baekhyun hanya mengangguk kecil. Tidak minat menjawab.

"Jujurlah..."

Baekhyun menatap Chanyeol dengan air mata yang menggenang dipelupuknya. "Yeol.. Tak bisakah kau membebaskanku? Aku tidak sanggup, Yeol... biarkan aku mati" Airmata mulai jatuh dikedua pipi Baekhyun. Chanyeol yang melihat itu langsung panik. Chanyeol menarik Baekhyun kepelukannya. Walau sempat berontak, tapi akhirnya Baekhyun menurut.

"Kenapa tiba-tiba kau mengucapkan hal itu, Baek? Masih ada aku disini" Chanyeol mengusap punggung Baekhyun pelan. Bermaksud menenangkan Baekhyun. "Aku tidak sanggup lagi, Yeol. Benar-benar tidak sanggup" Chanyeol sedikit mengecup pelan puncak kepala Baekhyun. Entah kenapa aroma shampoo yang dikenakan Baekhyun menjadi favoritnya.

"Ceritakan semua yang kau rasakan.. Tidak baik memendam semuanya sendiri..." Chanyeol melanjutkan perkataannya "...Jika kau ingin cepat keluar dari tempat ini ─" Chanyeol menelan ludahnya. Ragu melanjutkan perkataannya " ─kau harus cepat sembuh"

Baekhyun mengangguk paham dan menjauhi tubuh Chanyeol. "Baiklah. Aku akan menceritakannya saat aku sudah siap"

Chanyeol tersenyum singkat. "Kembalilah kekamar. Bersiap karena Agenda Keagamaan akan dimulai tiga puluh menit lagi"

Baekhyun mengangguk dan tersenyum manis.

Chanyeol tau, itu semua palsu. Seolah hanya untuk mengabarkan bahwa keadaan simungil baik-baik saja.


Baekhyun sedikit berlari kecil saat Jongdae menarik tangannya. "Ayo Baek, Peminatan akan dimulai lima menit lagi! cepat cepaat!" Baekhyun yang mendengar ocehan Jongdae mengerucut sebal. Salahnya juga yang bangun kesiangan karena terus kepikiran kejadian disaat sarapan.

Akhirnya mereka telah sampai dikelas musik. Sedikit telat, tapi itu bukan masalah karena mereka baru satu kali terlambat.

Sekarang Baekhyun sedang kebingungan. Gurunya memberikan tugas untuk membuat satu bait lirik mengenai "Orang tua" atau "Sahabat"

Baekhyun tidak bisa berkutik. Kedua kalimat itu yang membuat hidupnya semakin miris. "Mrs, Apakah tidak boleh mengenai percintaan?" Baekhyun mengajukan pertanyaan.

Sang guru mengangguk. "Boleh saja.." Baekhyun tersenyum sumringah. "Tetapi tetap antara cinta orang tua dan kasih sayang seorang sahabat" Baekhyun menghela nafas kasar. Kesal.

"Aku tidak punya orangtua ataupun sahabat, Mrs. Lee" Mrs. Lee tersenyum singkat. Menepuk punggung Baekhyun singkat. "Siapa yang melahirkanmu? Siapa yang memberimu bimbingan dari merangkak hingga tumbuh seperti ini?" Mrs. Lee duduk dikursi kosong sebelah Baekhyun. "Dan Bagaimana hidupmu bisa berarti tanpa rengkuhan hangat sahabat? disaat keluargamu sedang tidak bisa diajak berkompromi, Dengan siapa kau bisa berkompromi selain dengan sahabat?" Baekhyun tertegun.

Tak ada pilihan lain selain mengangguk. "Baiklah. Aku mengerti"

.

Jongin memainkan ponsel pintarnya. Memainkan games untuk menghilangkan rasa bosan. Jongin sedikit melirik Chanyeol yang tengah menggenggam kotak kecil berisi butiran obat. "Hyung.. Itu milik Baekhyun?" Chanyeol hanya mengangguk. Tetapi tatapannya tak pernah lepas dari kotak tersebut.

"Apa itu narkoba?" Jongin meletakan handponenya ke saku celana. Mencoba serius mengenai arah pembicaraan ini. Jongin mendengus saat hanya melihat Chanyeol mengangkat kedua bahunya. "Hey dude. Rehabilitasi ini dilengkapi ruang untuk meneliti jenis obat. Dan kau menyia-nyiakan fasilitas itu? Holly shit. Kau akan selalu berpikiran negatif pada Baekhyun."

"Jaga omonganmu, Hitam. Kau berada di Pusat Rehabilitasi" Jongin mengangkat kedua bahunya. "Tapi disini hanya kita berdua"

Chanyeol memutar bola matanya malas. "Aku tidak menguji obat ini karena aku tidak ingin kecewa.."

Chanyeol menghela nafas pelan. "...Kecewa jika obat itu benar-benar narkotika" Jongin yang melihat sepupunya lebih murungpun menepuk pelan bahu Chanyeol. Bermaksud menenangkan.

"Kau mencintainya, hyung?" Chanyeol tersedak begitu saja saat perkataan Jongin meluncur masuk ke alat pendengarannya. "Kau gila? Aku adalah Psikolog." Jongin menatap sang sepupu datar.

"Tidak ada yang salah dengan yang namanya cinta"

Chanyeol menggeram kesal. "Aku hanya menyayanginya layaknya sang kakak menyayangi seorang adik. Lagipula didalam dunia psikologis, Menjadi gay adalah gangguan jiwa. hey, sungguh aku masih waras!" Jongin yang mendengar rentetan perkataan sepupunya itu dengan terkekeh pelan.

"Jika dugaanku salah, seharusnya kau tidak perlu mencari alasan yang berputar." Jongin menggigit bibir bawahnya. Menahan tawa "Tingkahmu seperti seorang pencuri yang dipaksa untuk mengaku, Hyung"

Jongin terkekeh seraya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Menyisakan Chanyeol yang terdiam mematung didepan meja kerjanya.

Chanyeol mendesah.

.

Baekhyun berjalan menuju kamarnya setelah peminatan selesai dilaksanakan. Wajahnya muram, Senyum-nya tak nampak. Surai kecoklatannya sedikit acak-acakan. Wajahnya benar-benar tirus.

Baekhyun jadi teringat dengan perkataan Hyori Nuuna ─ menyuruh semua pasien memanggilnya seperti itu ─mengenai Agenda Kegiatan yang biasa dilakukan oleh Pengurus pusat rehabilitasi ini.

Baekhyun sangat semangat. Yang membuat Baekhyun murung adalah persyaratannya.

Setiap peserta wajib membawa orang yang mereka cintai. Entah itu Keluarga atau sahabat. Setelah menentukan, Para Perawat akan memberikan kesempatan sipasien untuk menghubungi rekannya.

Semuanya tersenyum bahagia. Kecuali Baekhyun. Bahkan Baekhyun lupa bagaimana rasanya dicintai orang lain. Karena cinta yang ia terima, telah mati sejak lama.

.

Saat ini sudah masuk jam makan malam. Chanyeol sudah siap memegang nampan yang terdapat Beberapa makanan sehat dan beberapa obat untuk membuat pasien cepat sembuh.

Dengan sedikit kerepotan, Chanyeol mendorong pintu kamar 256 dengan pelan. Chanyeol tersenyum singkat saat matanya menangkap si puddle sedang tidur meringkuk membelakanginya. Dengan pelan Chanyeol melangkah mendekat. Menepuk pelan punggunh Baekhyun agar pemuda mungil itu terbangun. "Hey, Baek. Ayo Bangun. Jam Makan malam telah tiba."

Baekhyun mulai terusik. Simungil mulai mengusap matanya pelan seraya mengumpulkan nyawanya. Chanyeol yang melihat hal itu tersenyum kecil. Si mungil memang selalu menggemaskan. "Aku kenyang" Chanyeol menaikan alisnya tidak yakin.

"Kau hanya makan sedikit saat makan siang tadi" Bagaimanapun, Chanyeol harus memberi asupan nutrisi untuk pasiennya. "Kepalaku sedang pusing, Yeol" Chanyeol sedikit kecewa. Namun satu detik kemudian tersenyum sumringah.

"Biar aku suapi..."

"...aku tak menerima penolakan" Baekhyun mendengus kesal. Baekhyun menurut. Baekhyun mulai bangun dan menyenderkan punggungnya pada kepala ranjang.

Dengan senyum tulus dan mata yang saling memandang satu sama lain, Chanyeol menyuapi Baekhyun dengan penuh kasih sayang. Chanyeol terkekeh kecil saat Baekhyun memutus kontak mata mereka. Pipi yang dulunya sedikit berisi ─namun sekarang Chanyeol heran, Simungil menjadi Tirus sedikit merona. Ibu Jari Chanyeol terulur mengusap pelan sudut bibir Baekhyun yang terkena noda dari kuah samgyetang ─menu makanan mereka.

"Lusa nanti kau ikut refreshing ke pantai, kan?" Baekhyun yang tadinya tersenyum, perlahan senyumnya memudar. Baekhyun menggeleng sebagai jawaban. "Kenapa?"

"Aku mau samgyetang itu lagi" Chanyeol sadar Baekhyun sedang mengalihkan pembicaraan. Namun Chanyeol kembali menyuapi simungil. "Jawab, Baek."

Baekhyun memejamkan matanya selang waktu ia menelan makanannya. Pemuda mungil itu berniat membuka mulutnya. "Syarat Refreshing itu terlalu berat untukku..."

"... kau tau, Aku tidak mempunyai sahabat dan orangtuaku tidak menyayangiku sekarang." Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Mencoba tersenyum walau tatapannya sendu. Chanyeol meletakan piring yang berisi makanan itu kemudian kembali menarik Baekhyun kedalam pelukannya.

Tangisan Baekhyun akhirnya pecah. Baekhyun benci. Baekhyun benci dirinya yang selalu menangis
Membenci dirinya yang begitu lemah dihadapan Chanyeol.
Baekhyun membenci tempat ini yang menurutnya begitu membosankan
Tapi...
Tanpa tempat ini, Baekhyun tak akan pernah bertemu dengan orang sebaik Chanyeol, Jongin dan Jongdae.
Walau Baekhyun tidak mau peduli lagi dengan kata berlabel 'Kasih Sayang'

Tangan besar Chanyeol mulai mengusap pelan kepala bagian belakang milik simungil. Menenangkan simungil hingga lebih tenang. "Baek... Ada aku disini..." Chanyeol mengecup pucuk kepala Baekhyun. Beberapa kali untuk menyalurkan kehangatan. "Jangan pernah merasa sendiri, Kau bisa anggap aku adalah kakakmu.. Atau kau bisa anggap aku adalah temanmu.. Kau bisa menjadikan aku partner saat ke pantai nanti. Kau bisa lakukan apa saja padaku, Baek. Apapun untukmu... Aku rela"

Chanyeol menelan ludahnya pelan. "Itu semua karena aku Men ─"

" ─yayangimu"

Baekhyun menarik pelukannya. Menatap Chanyeol dengan senyum yang berkembang dan mengusap pelan mata serta pipinya yang lengket oleh air mata "Benarkah? Aku boleh memilihmu?" Chanyeol mengangguk. "Tapi kau kan panitia."

Chanyeol terkekeh. "Bukankah sudah kukatakan? Aku akan melakukan apapun untukmu. Aku akan usahakan, oke?" Chanyeol terbangun dari duduknya dan bergerak membersihkan nampan bekas acara makan malam Baekhyun.

"Ayayay, Captain!" Baekhyun memasang pose hormat dan kembali memasang posisi berbaring. "Nah sekarang tidurlah. Istirahat yang cukup oke? Aku keluar dulu"

Baekhyun yang mulai memejamkan matanya terpaksa kembali membuka matanya.

Chanyeol ─lagi-lagi mencium keningnya dengan hangat.

.

"Benarkah?!" Baekhyun memutar bola matanya malas saat melihat reaksi Jongdae yang begitu berlebihan. Mulutnya menganga serta matanya yang membola. "Iya, Jongdae.. Apa aku terlihat bohong?"

Jongdae menggeleng. "Wah, Kau hebat!" Baekhyun menatap Jongdae heran. "Hebat apanya?" Namun Jongdae menyeringai.

"Aku yakin.. Psikolog juga manusia" Baekhyun mengerucut. Tolong, Jongdae terlalu berbelit. "Jangan berbelit, Jongdae! Come on, Apa maksudmu?"

Jongdae menatap Baekhyun serius. "Aku rasa, Perawat Park jatuh cinta padamu" Sedetik kemudian, Jongdae mengerutkan keningnya bingung.

Baekhyun tidak shock. Si mungil hanya memasang wajah datar. "Aku tidak pernah percaya dengan kata 'cinta' "

Baekhyun menyeringai. "Chanyeol melakukan hal itu semata-mata hanya karena aku adalah pasiennya. Pasien adalah Tanggung jawabnya"


To Be Continued..

Review Please?