Baekhyun menyeringai. "Chanyeol melakukan hal itu semata-mata hanya karena aku adalah pasiennya. Pasien adalah Tanggung jawabnya"

Jongdae mendengus malas. Byun Baekhyun yang bodoh. Jongdae bukanlah seseorang yang tabu dengan persoalan yang diberi label 'cinta'. "Baek, Aku yakin perawat berkulit tan atau kau biasa menyebutnya siapa?" Jongdae bertanya. Memastikan. Baekhyun yang masih begitu tidak berminat membicarakan ini hanya menjawan singkat.

" ─Jongin, Jongdae"

Jongdae menjentikan jari telunjuk dan ibu jarinya. Seakan-akan dirinya baru saja mendapat sebuah pencerahan. "Baru saja aku akan mengatakan-nya" Baekhyun memutar bola matanya malas. Alasan yang bodoh, Jongdae ─Batin Baekhyun bersaut.

"... Apa perawat Jongin itu pernah mencium keningmu? Aku yakin Jongin juga menyayangimu, Baek. Tapi dia tidak sampai menciummu." Jongdae sedikit melirik Baekhyun untuk melihat reaksi yang ditujukan oleh si mungil. Tapi yang Jongdae dapatkan hanyalah pandangan datar. Jongdae mengerucutkan bibirnya sebal.

"Baekhyun! Kau tidak menghargai analisaku!" Baekhyun terkekeh pelan. Jongdae ini, bodoh sekali. "Jongdae-ya..."

Jongdae menoleh. Menatap mata bulan sabit sahabatnya yang kali ini terlihat lebih berisi dari biasanya. Binarnya begitu tercetak jelas. "... Aku sudah mengatakannya padamu. Aku mati rasa..."

Senyum Baekhyun semakin melebar. "...Aku tidak ingin bertemu dengan satu kata penuh kepalsuan. Sahabat, aku tak percaya dengan kata itu" perlahan sinar wajah Jongdae meredup. Terkejut. Berarti selama ini Baekhyun tidak menganggapnya sahabat seperti dia yang menganggap Baekhyun sahabat. "... Tapi aku berterima kasih. Karenamu, aku kembali merasakan.. Apa itu kasih sayang seorang teman"

Baekhyun dapat melihat linang air mata Jongdae. Baekhyun terkekeh kecil. "Mau memelukku?" dan tanpa keraguan lagi, kedua tubuh itu merengkuh satu sama lain. Saling memberi kekuatan yang berarti. "Kau tidak perlu merasa sendiri disini, Baek─ " Jongdae merasa nafasnya terhendat. Airmata keduanya telah membasahi bahu masing masing setiap sandarannya.

" ─ Ada aku disini... Walau kita baru bertemu.. Tapi aku sangat menyayangimu" Jongdae berkata dengan penuh keteguhan. Baekhyun menangis tersendat. Pelukan Jongdae adalah pelukan yang dapat menenangkan segala pikiran buruknya.

Baekhyun merasa dirinya hidup kembali.

Baekhyun masih memeluk Jongdae dengan erat. Mengusakkan kepalanya disekitar bahu sahabat barunya itu. Ia sadar, ia telah mengeluarkan sifat manjanya. "Byun Baek.. Kau percaya kan, Perawat Park itu menyukaimu?" Jongdae berbisik dengan jahil. Baekhyun membolakan matanya. "Yach! Jangan membahas itu!" Baekhyun menarik dirinya dari pelukan sang teman dan mulai memukul kecil Jongdae.

.

.

.

Keduanya tertawa beriringan..

Menciptakan suasana yang begitu hangat disetiap candaannya...

.

.

.

"Aku menemukan kebahagiaanku..." Baekhyun berlarian kecil menuju kamar penuh kasih sayang miliknya. 256. Baekhyun akan segera mempersiapkan perlengkapan untuk kegiatan esok.

.

.

.

.

"Aku harus tetap hidup..." Nafas Baekhyun tersenggal saat telah selesai mempersiapkan seluruh peralatannya. Tangannya menggenggam erat tas berwarna merah gelap itu.

.

.

.

.

"Aku bertahan demi semua orang yang mencintaiku disaat aku bahagia maupun sedih" Baekhyun memejamkan matanya menahan rasa sakit yang menjalar ditubuhnya. Rasa sesak, kulitnya yang mulai menimbulkan bercak kemerahan serta peningnya kepala sehingga tubuh mungilnya tidak sanggup untuk berdiri. Terbayang wajah Chanyeol, Jongdae, Jongin dan beberapa kawannya yang berada di tempat rehabilitasi ini yang tanpa ia sadari selalu memberi motivasi. Memberi kasih sayang yang rasanya tidak akan usai. Rengkuhan Chanyeol, pelukan Jongdae dan lelucon Jongin seakan akan adalah vitamin hariannya.

.

.

.

.

"Bukan karena seseorang yang meninggalkanku begitu saja saat ia menghancurkanku" Baekhyun tersenyum singkat menatap pemuda lebih tua yang kali ini terlihat gelisah. "Ada apa, hyung?" Baekhyun berjalan mendekati sofa kemudian menghempaskan tubuhnya. Mengambil remote televisi dan menyalakan televisinya. Yang lebih tua bergerak gelisah.

"Aku akan membuatkan kau minum" Pemuda bersurai kecoklatan itu berjalan menuju dapur meninggalkan Baekhyun sendiri. Baekhyun mengedikkan bahunya. Acuh.

Tapi Baekhyun menyernyit disaat dirinya merasakan benda dingin yang menusuk disertai cairan memasuki tubuhnya. Seketika, Baekhyun merasa dirinya melayang. Pikirannya mendadak sangat enjoy dan kemudian otaknya tidak bekerja selain telinganya yang berfungsi. "Maafkan aku, Baek"

.

.

"Kau jahat, Hyung"

.

.

.

PSIKIS

(Aku mengerti, Baekhyun)

Cast: ChanBaek and Other

Rating: M

Warn; YAOI! BXB! TYPO(s)

.

.

.

...

..

.

"Hyung, tempat ini dilengkapi fasilitas untuk meneliti obat-obatan." perkataan Jongin kembali terngiang di pikirannya. Chanyeol mengangguk paham. Yakin dengan keputusannya. Ia siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.

Itu adalah narkotika atau ─penyebab selama ini Baekhyun frustasi.

"Aku harap hasilnya tidak mengecewakan" Chanyeol menggenggam tabung kecil itu dengan erat. Dengan cepat pria itu mengambil jas khas miliknya dan bergerak menyusuri lorong-lorong rumah rehabilitasi ini yang entah mengapa terasa panjang.

Chanyeol menghela nafas pelan saat ia telah sampai didepan ruang penuh alat-alat kebutuhan kimia. Mata bulatnya menoleh keruang yang berada dipojok ruangan. Chanyeol melangkahkan kakinya yang terasa berat. Lalu mengangkat tangannya bergegas mengetuk pintu.

Tak lama kemudian seorang wanita cantik dengan balutan jas khas dokter tersenyum kearah Chanyeol. "Ada apa, Chanyeol-ssi?" Chanyeol menghembuskan nafasnya pelan. Sedikit ragu. Namun jika ia tidak melakukan ini, ia akan selalu berfikiran negatif tentang Baekhyun. "Tolong teliti apakah obat ini mengandung narkotika atau siapa sekedar obat biasa" Chanyeol menyodorkan tabung kecil berisi obat-obatan itu. Wanita cantik itu menganga kecil. "Wow. Kalian dibodohi pasien?"

Chanyeol memutar bola matanya malas. "Sudahlah, Jihyo-ssi. Aku hanya meminta kau meneliti obat ini" Jihyo ─ahli kimia itu terkekeh.

"Baiklah. Mungkin sedikit memakan waktu. Kau ingin menunggu?" Chanyeol hanya mengangguk pelan. Jihyo langsung bergerak mengambil beberapa peralatan yang dibutuhkan.

Meninggalkan Chanyeol yang terdiam dengan pikiran yang tertuju pada Baekhyun.

.

.

.

Jongin terserang rasa panik saat masuk kedalam kamar salah satu pasiennya ─Baekhyun yang saat ini sedang dalam keadaan yang cukup buruk. Baekhyun memejamkan matanya ─terlihat sedang menahan rasa sakit serta bintik-bintik merah yang masih terlihat samar oleh Jongin. Tanpa ragu, Jongin mendekati pasien mungilnya itu dengan mencoba memberinya kekuatan. "Lawan, Baekhyun. Kau cukup melawannya maka kau akan segera sembuh. Lawan pengaruh narkotika yang kau konsumsi, Jangan mau terbawa arus! Baekhyun kau dengar aku?!" Jongin hampir menangis melihat keadaan Baekhyun yang terlihat sangat menyesakkan. Nafas simungil terus tersendat. Dadanya terihat terangkat-terantuk kasar kepermukaan ranjang.

Jongin tak tahan. Jongin takut kejadian pasien meninggal karena overdosis obat terjadi lagi. Apalagi Baekhyun. Jongin rasa bocah ini bukanlah pecandu narkoba kelas berat.

Airmata yang sedaritari Jongin tahan akhirnya meleleh. "Baekhyun.. Kumohon bernafas.. " Jongin mengguncangkan bahu Baekhyun dengan kencang. "Lawan rasa sakitnya Baek, kumohon lawan pengaruh obat sialan itu!" Jongin memeluk Baekhyun dan mengucapkan beberapa untaian kata penenang yang mungkin saja dapat mengurangi efek samping. Akhirnya dengan sedikit untaian lagu, nafas Baekhyun kembali tenang. "Ini bukan efek samping narkotika, Jongin" Baekhyun mengucapkan dengan lirih.

Namun...

"Syukurlah.." Jongin tidak mendengar suara Baekhyun yang sangat lirih itu. "..Kau harus sembuh, Baek.. Harus" Akhirnya setelah Baekhyun cukup memiliki energi, tangan Baekhyun bergerak untuk membalas pelukan Jongin. "Terimakasih... Jongin. Terimakasih"

Hari ini Baekhyun mendapatkan dua pelukan kasih sayang.

.

Baekhyun memakan jatah makan malamnya dengan tenang dan nafsu makan yang cukup. Jongin yang melihat perkembangan pasiennya sangat bahagia. Baekhyun yang Jongin lihat sekarang terlihat lebih bahagia walau pipinya semakin terlihat tirus.

Baekhyun yang merasa diperhatikan menghentikan kegiatan makannya. "Kau mau, Jongin?" Jongin terkekeh saat melihat ekspresi polos Baekhyun. Sangat menggemaskan. Jongin menggeleng pelan membalas perkataan Baekhyun.

"Aku sudah kenyang melihat seekor puppy makan" Jongin semakin tertawa saat Baekhyun membolakan matanya dan menatap Jongin tajam. "Hentikan Jongin!" mendengar bentakan Baekhyun, Jongin mencoba memberhentikan tawanya.

"Hei kau tak adil. Jika Chanyeol tertawa denganmu, kau malah tersipu. Disaat aku tertawa, kau malah menyuruhku berhenti" Jongin merajuk. Namun sialnya, Baekhyun sibuk merona tipis. "Yach! Kau bahkan merona" Baekhyun memukul pelan punggung Jongin.

"Dimana Chanyeol?" Jongin menyeringai mendengar pertanyaan Baekhyun. "Eiy. Kau merindukannya yah?" Baekhyun menggeleng pelan. Namun pipinya semakin merona. Jongin terkekeh pelan. "Chanyeol sedang ada kegiatan di lab." Baekhyun mengangguk pelan.

Tidak menyadari bahwa tidak lama lagi Chanyeol akan mengetahui semua tentangnya.

.

Chanyeol membuka pintu lab penelitian itu dengan tatapan bingung. "Ini bukan narkotika. Tapi namanya terdengar familiar..."

Chanyeol meneruskan langkah kakinya dan masih menggenggam erat tabung kecil itu.

"Itu adalah obat pereda rasa sakit" Ucapan Jihyo terus berputar-putar dikepalanya. "Obat ini bernama 3BNC117. Aku tidak akan menjelaskan jenis penyakit apa. Karena ─mungkin ini menyangkut rahasia terbesar seseorang"

Chanyeol berfikir keras tentang obat itu. Mungkin internet adalah cara satu-satunya.

.

Hari telah larut malam namun Baekhyun belum merasa tenang karena hari ini ia tidak bertemu dengan Perawat Idiot itu.

Baekhyun tidak tau sejak kapan jantungnya berdetak cepat disaat kepala perawat itu menjaga Baekhyun dengan teliti. Padahal Baekhyun sangat membenci tempat ini. Baekhyun sangat ingin mengatakan, bahwa ia mencintainya. Sangat Mencintainya.

Tetapi jika Chanyeol juga sama, Ia tidak akan mempunyai masa depan. Mungkin, Lebih tepatnya Baekhyun.

Baekhyun selalu bersikap dingin pada Chanyeol bukan karena ia membenci perawat idiot itu. Baekhyun takut... Sangat takut jika Chanyeol meninggalkannya saat si pria yang lebih tinggi itu tau yang sebenarnya terjadi.

Seperti sahabatnya dulu.

Kenyataan pahit seolah-olah tengah memukulnya telak. 'Kau tak pantas untuknya'

Batinnya benar, Chanyeol itu ahli psikologis. Chanyeol tidak mungkin mencintainya. Jika ia tidak salah, dalam ilmu psikologi menyukai sesama jenis adalah salahsatu guncangan jiwa.

Haha.

Seolah bingkai yang berada dibuffet miliknya sedang mentertawakannya. Baekhyun memutuskan menarik selimutnya. Berniat untuk tidur.

.

Chanyeol masih berjalan diantara lorong-lorong yang semakin gelap karena minimnya cahaya malam. Chanyeol masih tersenyum tampan dengan menenteng satu kantung berukuran sedang ditangan kanannya.

Chanyeol tidak mengerti jantungnya yang terus berdebar halus walau hanya menatap pintu bertuliskan angka '256' dan tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Chanyeol melangkah memasuki ruang tersebut. Namun Chanyeol menghela nafasnya saat melihat orang yang ia rindukan tengah meringkuk memunggunginya. Dengan perlahan, Chanyeol mendekati tubuh mungil itu dan berjongkok tepat dihadapan wajah si mungil. "Aku tidak tau sejak kapan kau mulai meracuni otakku dengan senyuman lugu-mu" Jemari Chanyeol mengusak pelan surai lembut Baekhyun. "Ketika aku berada mendampingimu, menjagamu atau bahkan memperhatikanmu seolah-olah logikaku tidak berjalan. Perasaan ini terus membuatku berdebar halus"

Dengan ragu, Chanyeol membelai pelan belahan bibir tipis milik si mungil. "Jika aku bisa, aku ingin mengulang waktu disaat aku masih SMA. aku tidak akan memilih jurusan psikolog... "

"... Agar aku tetap bisa selalu seperti ini. Menghilangkan hukum dunia psikolog tentang cinta sesama jenis" kamar itu masih hening. Hanya terdengar dengkuran halus dan hembusan nafas sang perawat. "... Aku tidak peduli dengan akal fikiranku. Aku akan memperjuangkanmu... Aku mencintaimu. Lekas sembuh agar kita bisa melanjutkan hubungan menjadi lebih serius" Chanyeol berdiri dan sedikit membungkuk. Seperti biasa, kecupan hangat penyampaian rasa cinta itu selalu ada.

"Selamat Malam"

Kakinya bergerak pergi. Meninggalkan Baekhyun yang membuka matanya dan menatap tembok dengan mata yang berkaca-kaca. "Nado. Saranghae"

.

Pagi ini terdapat suasana berbeda dari biasanya. Pusat rehabilitasi ini terlihat jauh lebih ramai dari biasanya. Tentu saja, hari ini adalah hari diadakannya refreshing ke pantai haundae.

Baekhyun tersenyum iri saat melihat hampir seluruh pasien disini memeluk dan bercengkrama dengan sahabat maupun orang tua mereka. Termasuk Jongdae. Pemuda berwajah berbentuk persegi itu mendekati Baekhyun seraya merangkul seorang pria berwajah japanese. "Hai Baek! Perkenalkan, dia sahabat karibku. Yuta. Kau berangkat dengan siapa Baek?" Baekhyun tersenyum lalu membungkuk singkat pada Yuta. "Hai Yuta-ssi. Aku Baekhyun. Sahabat Jongdae, mungkin?" ketiganya terkekeh riang.

"Ah ya. Aku tidak membawa siapa-siapa. Kau tau sendiri kan, Jongdae.. Aku tidak memiliki siapa siapa disini" Baekhyun tersenyum singkat. Jongdae dapat merasakan aura yang mulai berubah. ".. Ah tapi Chanyeol yang akan menemaniku selama refreshing kali ini" sedetik kemudian, Jongdae menyeringai.

"Apa kalian berpacaran?" ingatan Baekhyun langsung menyusuri kejadian yang ia alami tadi malam. Sentuhan Chanyeol diwajahnya... Kata-katanya... Dan jangan lupakan senyuman tampannya walau Baekhyun hanya melihatnya samar karena ia sambil berpura-pura tidur. "Astaga... Kau merona" secara reflek, Baekhyun menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha menyamarkan rona merah.

"Baekhyun!" Suara hushky itu kembali membuat telinga Baekhyun terbuai. Sehingga kehadiran perawat idiot itu sama sekali tidak membantu. Untuk sekarang, Chanyeol berada disebelah kanan Baekhyun. Berhadapan dengan Yuta. Chanyeol membungkuk singkat. "Okay, kalian dipersilahkan untuk memasuki bus" ketiganya mengangguk. Jongdae menyeringai perlahan ia mendekati tubuh mungil sahabatnya dan berbisik "Selamat Berkencan, bro!"

"Yach!" Belum sempat Baekhyun memukul Jongdae, teman anehnya itu sudah berlari mendekati bus. Baekhyun mendengus dan melirik Chanyeol yang tengah tersenyum padanya. "Berikan tasmu. Biar aku yang membawanya"

Baekhyun membuka mulutnya ─hendak protes namun Chanyeol tampaknya tidak menerima penolakan. Jadi Baekhyun membiarkan Chanyeol menjinjing tas bawaanya ditangan kiri.

Dengan tangan kanannya yang ia gunakan untuk menggenggam erat jemari Baekhyun. Menuntunnya untuk segera masuk kedalam bus.

.

Tidak banyak hal yang terjadi di dalam bus selain Baekhyun dan Chanyeol yang sedang asik bercengkrama. Entah itu bernyanyi bersama maupun mengeluarkan cerita-cerita konyol. "Baekhyun, kau kalah! Lakukan aegyo dan katakanlah 'Yeollie... Kau sangat tampan. Miaw'" Baekhyun mendengus sebal. Tak setuju dengan keputusan Chanyeol.

Chanyeol terkekeh pelan. "Buktikan jika kau memang seorang gentle man" Baekhyun menatap datar manusia aneh didepannya.

"Baiklah. Tapi kumohon jangan tertawa" Chanyeol hanya mengangguk seraya menggigit bibir bawahnya ─menahan tawa. Di mata Chanyeol, terlihat Baekhyun yang menunduk, lalu perlahan simungil itu mengangkat wajahnya. Menangkupkan kedua tangannya dan memandang Chanyeol dengan tatapan sayu. Dengan memiringkan kepalanya, si mungil memulai aegyonya "Yeolli.. " Baekhyun sedikit memajukan bibir bawahnya "...kau sangat tampan" dan kemudian menjilat kedua bibirnya "Miawww"

Chanyeol tak tertawa. Justru dia terdiam memandang Baekhyun. "Ya Tuhan... Kau sangat menggemaskan"

"Auwww.. Yach! Jangan mencubiti pipikuuuuu!" Yeah. Mereka sangat berisik.

.

Kepala Baekhyun sedikit terantuk kedepan saat ia merasa kantuk yang melanda. Tak jarang kepalanya membentur jendela bus. Chanyeol masih belum kembali dari keperluan beberapa panitia. Dan yeah... Baekhyun bosan.

Maka dari itu Baekhyun mencoba tertidur sebentar. Tak lama Baekhyun tidur, Chanyeol kembali duduk di samping Baekhyun dan melihat pasien kesayangannya tengah tertidur pulas sambil menyender di punggung bangku. Dengan perlahan, Chanyeol menarik kepala Baekhyun agar simungil bersender dibahunya. Dan kemudian sedikit memiringkan tubuhnya dan menjulurkan tangannya untuk memeluk Baekhyun. Suhu tubuhnya agak rendah sekarang. Chanyeol harus mau membantu menghangatkan.

Chanyeol mengecup kening Baekhyun singkat "Mimpi indah, Baekhyunie" ucap Chanyeol lirih. Dan terlonjak kaget saat menoleh mendapati Jongin yang sedang menyeringai setan.

"Wow kalian seperti sepasang kekasih"

Chanyeol tak menjawab.

.

Semua pasien dibebaskan untuk bermain disekitar pantai. Pasien tidak diperbolehkan mendekati laut karena air laut sedang pasang. Baekhyun dan Chanyeol lebih memilih bermain istana pasir. Terlihat kekanakan. Tetapi mereka menikmati.

Istana yang Baekhyun bangun termasuk cukup megah. Didekatnya terdapat bulatan pasir terlihat sedang berbaris. "Baek, apa yang kau buat?" Baekhyun menoleh menatap Baekhyun. Dengan senyum manis perlahan Baekhyun mulai menceritakan.

"Ini adalah aku." Baekhyun menunjuk salah satu bulatan pasir. Dengan masih tersenyum, Baekhyun berdiri dan menunjuk istana besar yang ia bangun. "Dan ini adalah impianku" Chany eol tersenyum singkat mendengarkan cerita Baekhyun.

"Lalu kemudian dia datang" Baekhyun menggunakan jari telunjuk dan jari tengah layaknya orang berjalan. Kedua jari itu berjalan mendekati bulatan pasir yang di anggap Baekhyun "Tapi setelah dia datang..." Chanyeol tersenyum antusias. Namun senyuman Chanyeol luntur ketika tangan Baekhyun menghancurkan istananya.

SLASH.

"dia menghancurkan semuanya. Semuanya. Hingga aku sendiri disini. Dengan kehancuran yang dibuat orang itu" Chanyeol tertegun menatap Baekhyun yang tersenyum.

"Jangan tersenyum, Baek" Chanyeol menarik Baekhyun ke pelukannya dan pada akhirnya Baekhyun menangis. "Bagaimana aku bisa tenang... Bagaimana aku bisa sembuh jika tidak ada seorangpun yang mencintaiku, Yeol? Bagaimana?" Chanyeol memejamkan mata. Ikut mencoba merasakan apa yang Baekhyun rasakan. "Aku tidak kuat, Yeol... Aku mau mati"

"Aku mencintaimu" Chanyeol mengalun tegas. Dengan nafas tersendat, Baekhyun membalas "Kau mencintai semua pasienmu"

"Aku mencintaimu sebagai pria" Baekhyun menegang. "Aku menyayangimu, Baek. Sungguh sangat menyayangimu. Ayo kita selesaikan rehabilitasimu dan aku akan segera melamarmu. Kau harus berhenti menjadi seorang pecandu, Baek"

Baekhyun membola. Melamar? Itu terlalu jauh. Baekhyun menarik dirinya dari pelukan Chanyeol "Jangan seperti itu. Aku tidak butuh belas kasihan"

Chanyeol mendecak "Aku tidak ─"

Dengan mata berapi-api Baekhyun memotong pembicaraan "Kau mengatakan kau menyayangiku? Bulshit. Kau bahkan tidak mempercayai bahwa aku bukanlah pecandu narkoba! Kau bahkan tidak mempercayaiku dengan mengambil kotak obat yang dapat memanjangkan umurku dan kau, sebaiknya kau bercermin dahulu..." Baekhyun mengusap air matanya yang mulai meleleh disekitar pipinya yang benar-benar tirus sekarang. dengan memejamkan matanya Baekhyun menegaskan "...Kau ahli psikologi. Tetapi kau tidak sadar bahwa jiwamu sedang terguncang. Kau menyukai lelaki, Yeol. Itu sesama jenis dan benar-benar tabu"

Baekhyun berbalik meninggalkan Chanyeol yang masih termenung. Kotak obat itu...

Chanyeol harus segera mencari tau.

Jika ini menyangkut nyawa orang yang ia cintai.

.

Baekhyun telah terlelap diranjang hotel dan Chanyeol masih asik berkutat dengan ponsel pintarnya. Dengan cekatan, Chanyeol mengetikkan angka dan huruf ─sebenarnya itu nama obat '3BNC117' dan dalam hitungan detik, beratus-ratus artikel telah muncul. Chanyeol mengklik salah satu laman.

Chanyeol terus membaca secara teliti. Membacanya hingga ia menarik satu kesimpulan.

.

.

.

.

Tidak Mungkin

.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : TELAT BANGET UPDATE! maaf baru dapet ide dan nyadar kok kalo aku kehilangan kemampuan menulis TT semoga masih pada ingeet dan karena mau liburan, bisa dipastiin chap depan fast update! Asal review memadai yah. Haha

Mungkin dua chap lagi tamat

Ok bye... Review please?