Tarot Cards

Ace Cards for Destiny


Fasilitator Berwarld Oxenstierna menatap agen lapangan Vash Zwingli dan eksekutor Lukas Bondevik yang baru kembali tadi. Oxenstierna menghela nafas dan membetulkan letak kacamatanya, menyenderkan punggung dengan nyaman di depan mobil Ferrari merah miliknya.

"Jadi?"

"Jangan tanya." Ujar kedua anggota Skandinaves itu bersamaan, Oxenstierna mendengus pelan dan masuk ke dalam mobil.

Zwingli dan Bondevik menghempaskan tubuh mereka di atas jok mobil sambil menggerutu kesal seraya merutuk dalam bahasa mereka. Sang fasilitator Skandinaves menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Ia melirik ke arah hutan yang tergambar seperti guratan cat minyak hijau di belakang mereka lewat kaca spion dan kembali terfokus ke jalanan.

Sementara itu, di dalam gua, Ivan panik setengah mati mendapati Gilbert yang pendarahan hebat. Mimisan. Awalnya Gilbert mengira itu hanya karena ia sempat jatuh di tengah hutan tadi, dan sialnya benar. Hidungnya terantuk sesuatu hingga pendarahan berat seperti itu.

"Aku serius, Gil, kita harus ke rumah sakit. Segera."

Gilbert mendelik ke arah Ivan, ia masih berusaha menghentikan pendarahan di hidungnya. "Kalau aku—uh! Mas ... suk ke rumah—scheiβe! Sakit ...! orang-orang gila itu akan menemukanku dan aku akan mati, bodoh!"

"Dan jika darahmu habis, kau juga akan mati, Gil." Suara dingin dokter Rusia itu berbanding terbalik dengan tangan hangatnya yang bergerak menangkup tubuh Gilbert dalam dekapan dan membaringkan sang German di pangkuannya. "Sekarang, diam. Aku harus mengurus hidungmu yang patah ini, da."

"Tapi ... kira-kira kenapa mengejarku, ya?" tanya Gilbert, menatap wajah Ivan yang tengah berusaha menghentikan pendarahan di hidungnya. Ivan mengerling sejenak ke arah Gilbert lalu kembali terfokus pada hidung pucat miliknya.

"Mana kutahu, da. Yang dikejar kan kau, bukan aku."

Saat iris crimson Gilbert mendelik ke arah Ivan, ia teringat akan isi SD-card itu. "Kurasa kita harus memeriksa SD-card itu lagi, Ivan."

Ivan terdiam sejenak lalu mengangguk membenarkan.

Kunci semua misteri yang terjadi di antara mereka pasti ada di dalam SD-card itu. Pasti.

.

.


Tarot Cards: Ace Cards for Destiny

Cast(s): Prussia/Gilbert Beilschmidt | Russia/Ivan Braginski | Spain/Antonio Fernandez Carriedo | Denmark/Mathias Køhler | Portugal/Alfonso Fernando Carriedo

Genre: Mystery | Suspense | Romance | Drama | Slash | Action | Thriller

Warning: Typo(s) | OOC, eh? | Human!AU | Plot ga jelas | DenPruss mendadak mendominasi | RussPruss | SpaPruss | Someone x Prussia | Possessive!Spain

Now Playing: Ma Ka Se Te Tonight © Kore wa Zombie Desu ka Ost.


.

Bagian II

.


Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya

Inferno © Dan Brown

Tarot Cards: Ace Card for Destiny © Nekoya Chevalier


.

.

"Kasus?"

Agen Arthur Kirkland dari difisi sebelas MI6 mengurungkan niat untuk menyesap Darjeeling miliknya. Inspektur Sadiq Adnan dengan santai mengangkat bahu dan berdiri pergi meninggalkan Kirkland.

"O-oi! Sir! Kasus ini—"

"Kau dan Karpusi yang urus."

Dengan setengah tak rela, agen Kirkland menghela nafas dan menyandarkan punggung di sandaran kursi. Enam tahun ia bekerja di MI6, dan yang ia dapatkan adalah tugas yang aneh-aneh dan cenderung tak biasa.

Ia ingat saat dulu, ia dan rekan asal Mesir-nya harus mengurus kasus peneroran anggot kerajaan, yang ternyata pelakunya adalah pangeran termuda sendiri. Ia membuka lembaran berkas yang Sadiq beri padanya, dan ia menghela nafas lagi.

Pencarian Buronan. Tertulis besar-besar di atasnya. Ia membuka lembaran kedua, dan sosok rekannya membuka pintu sebelum ia membaca. "Kirkland," agen Heracles Karpusi dari difisi yang sama dengannya menguap dan masuk lebih dalam ke ruangannya. "kudengar ada kasus yang harus kita urus."

Karpusi menatap berkas di tangan Kirkland dan menaikkan sebelah alisnya. "Kasus macam apa memangnya?"

Agen Kirkland mendesah panjang sambil mulai membaca laporan di berkasnya. "Berdoa saja kita tak disuruh mencari kucing peliharaan Ratu." Ia meringis dan meletakkan berkas itu di atas meja. "Pencarian buron."

Dengan malas, Karpusi membaca nama target mereka. "Gilbert ... Beil—apa itu?"

"Gilbert Beilschmidt, kurasa. Orang Jerman atau Belanda, mungkin?" Kirkland menopang dagu dengan tangannya. "Semoga saja cepat ketemu, lah ... memangnya dia dicari kenapa, sih?"

"Umm ..." Karpusi menarik berkas itu lebih dekat ke arahnya dan mulai membaca. "di sini dikatakan kalau dia melakukan pembunuhan berantai."

Kirkland mengeryit. "Oh? Benarkah?" ia menegakkan tubuhnya. "Aku tidak pernah dengar kasus pembunuhan yang sebegitu menggemparkannya hingga MI6 harus ikut turun tangan, tuh."

"Aku juga," Karpusi mengelus tengkuknya. "aku juga baru dengar."


—Tarot Cards—


Alfonso Fernando Carriedo duduk di pinggir kasur adiknya. Sang adik menoleh senejak lalu kembali terfokus pada buku di tangannya. "'Toni," Alfonso memanggil. Antonio mendongak dan bergumam menyahut. "Kau mendatangi Magnus?"

Gerakan Antonio yang hendak membuka lembaran kertas lainnya terhenti, ia mendongak menatap sang kakak dengan pandangan penasaran. "Hermano kenal Mathi—Magnus?" tanyanya, menutup buku dan duduk bersila menghadap Alfonso.

Ragu, Alfonso memutar bola matanya. "Err ... ya, aku mengenalnya." Ia menjawab tak yakin.

"Bagaimana ...?"

"Aku pernah," Alfonso memainkan jemarinya gugup. "Aku pernah menyewa jasanya."—dan aku menyesal pernah menyewa jasanya.Alfonso melainjutkan dalam pikirannya.

Antonio memiringkan wajahnya. "Benarkah? Bantuan macam—"

"Tidak penting." Buru-buru, Alfonso menyela perkataan adiknya, mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Mediteranian yang identik dengan Antonio. "Yang lebih penting," ia menatap serius Antonio. "Kenapa kau menemui Magnus?"

"Dia temanku." Jawab Antonio, singkat. "Dan aku juga tahu pekerjaan sampingannya, tentu saja." Cengiran jahil terlukis di wajah sang Spaniard.

Mata Alfonso memicing. "Kau tidak menyewa jasanya, kan?"

"Tidak," Antonio menggeleng polos. "untuk apa?"

Helaan nafas lega terdengar dari sosok Alfonso. "Baguslah." Dan ia beranjak keluar dari kamar sang adik.

Saat pintu kamar tertutup, seringaian terbentuk di wajah Antonio.


—Tarot Cards—


"Aku benar-benar tak mengerti maksudnya."

Gilbert mengeluh seraya menggaruk helaian surai salju milikknya. Ivan di sebelahnya, mengelus tengkuk dan mencoba merangkai hipotesa; yang semuanya sama sekali tak menemukan titik terang. "Apa kita harus mengikuti petunjuknya?"

Ivan menoleh. "Memangnya," ia menghela nafas, lalu mekanjutkan, "akan membawa kita kemana?"

"'Kami telah menantimu'. Kurasa itu artinya mereka ... menantikanku? Tapi untuk apa?" Gilbert mendecak sambil menarik nafas tajam dan memajukan bibirnya kesal. "Hilang ingatan itu sangat tidak awesome."

"Lalu ini, 'iblis bermuka dua'," Ivan membawa Gilbert dalam dekapannya, mengelus lembut surai perak itu sementara ia kembali membuat postulat. "Apa maksudnya seseorang, manusia, maksudku, yang bermuka dua? Dalam makna konotasi, artinya munafik, bukan?"

Menyamankan posisinya dalam dekapan Ivan, perlahan dahi Gilbert mengeryit. "Ya, dan ... 'garis edar klandestin dalam setiap petunjuk' kurasa itu artinya kita harus menemukan sesuatu yang berhubungan dalam setiap petunjuk yang kita temukan."

"Hmm ... 'banyak mata yang selalu mengawasi' ini aku saja atau iblis itu sedikit mirip dengan seseorang yang mengejar kita?" Ivan meletakkan dagunya di atas pucuk kepala Gilbert, sementara sang German bergumam.

"... atau seseorang yang menyuruhnya untuk mengejar kita."

Russian muda di sebelah Gilbert mengangguk setuju lalu menatap ke arah mulut gua. "Kita harus segera mencari tahu semua ini, jika kita ingin ini cepat selesai." Ia berujar, mengerling sejenak ke arah Gilbert yang lalu mendesah pelan dan menutup laptop milik Ivan.

"Kurasa juga begitu."

"Dengar, kurasa kita bisa kembali ke rumahku dan mengambil mobil."

Gilbert melempar tatapan tajam ke arah Ivan. "Hah? Kau gila?! Pasti ada beberapa orang yang berjaga di sana!" ia memeluk kedua lututnya yang telah ditekuk, lalu meraba hidungnya yang sudah diperban oleh Ivan tadi. "Kita harus cari cara lain."

"Lalu apa? Kau punya kenalan yang bisa dipercaya di Rusia?"

Keryitan di dahi Gilbert terlihat jelas, nampak ia sedang berfikir. "Kurasa," Gilbert bangkit dari posisinya dan menatap orb keunguan Ivan. "kurasa aku punya." Ia menyerangai nakal ke arah Ivan, sementara ruby-nya berkilat semangat. Ivan memutar bola matanya.

"Kalau begitu, ayo." Ia melampirkan tas-nya di punggung setelah sebelumnya memasukkan laptop kelabu miliknya ke dalam. "Kita tak punya banyak waktu."


—Tarot Cards—


Mathias Køhler mengeryit membaca jurnal milik sang target.

Ia mengalihkan pandangan ke arah jam yang ada di atas meja. Baru jam setengah enam pagi tapi ia sudah dipusingkan dengan urusan yang benar-benar membuatnya pening setengah mati. Mungkin memang benar adanya bahwa The Skandinaves seringkali membantu pihak yang salah—sebenarnya, Køhler sendiri tak terlalu peduli tentang identitas klien-nya; namun kali ini berbeda.

Ada yang benar-benar salah dengan permintaan Antonio untuk mengembalikan Gilbert padanya. Lebih kompleksnya, kenapa Gilbert harus lari dari Antonio? Køhler bisa saja bertanya, tapi itu menyalahi prosedur kerja The Skandinaves. Dan ia tak ingin dicap sebagai ketua-yang-tidak-baik oleh para anggotanya.

Magnus adalah ketua The Skandinaves yang mengikuti tata cara prosedural secara keseluruhan.

Sumpahnya bertahun-tahun yang lalu saat dilantik menjadi pemimpin perkumpulan mengerikan ini tidak akan berakhir sia-sia. Semua tugas yang telah dilakukannya, korban yang berjatuhan, darah yang ditumpahkan, dan air mata yang dilimpahkan tak akan menjadi debu belaka karena tugas bodoh ini.

Dering telepon menyadarkannya, ia segera meraih teleponnya dan meletakkannya di telinga. "Magnus," suara fasilitator Berwarld Oxenstierna terdengar di ujung telepon, Køhler menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan menyilangkan kakinya di atas meja.

"Ada apa?"

Suara desis lembut mesin mobil Ferarri terdengar oleh Køhler, ia bertaruh Oxenstierna sedang menyetir. "Kami kehilangan Beilschmidt." Jawab sang fasilitator, Køhler mengeryit, lalu mengerang kecewa sekaligus kesal. "Maaf, Magnus. Kami tengah melacaknya kembali, ada berita dari kantor?"

"Ah," Køhler menggerakan kursi putarnya ke arah lemari di belakangnya, memutar kursi itu lalu membuka lemari kayu yang terlihat klasik. "belum ada berita dari kantor, tapi aku ingin kau dan Tino mencari tahu soal dokter yang bersama Beilschmidt."

"Tunggu, Magnus, dimana posisimu sekarang?"

Køhler menarik keluar sebuah berkas tebal, memutar kembali kursinya dan meletakkan berkas berat itu di atas meja. Menjawab tenang, "Aku ada di kantor pusat Copenhagen. Ada masalah dengan itu?"

Oxenstierna tidak terdengar untuk beberapa saat. "Tidak, aku hanya ingin tanya, ada berapa banyak cabang Rusia?"

Gumaman terdengar dari mulut Køhler, sebelum ia menjawab, "Kita punya ..." ia mengecek dalam data dalam layar Notebook yang masih menyala di atas mejanya. "Cabang di Izhevsk, Kaliningrad, St. Petersbug, Moskow, dan Vladivostok." Jawabnya, beralih kembali pada berkas di atas mejanya. "Kenapa?"

"Kurasa aku perlu lebih banyak bantuan untuk menangkap Beilschmidt dibanding satu agen lapangan dan satu eksekutor."

Terdiam sejenak, Køhler lalu menjawab. "Itu bisa diatur nanti. Cari tahu saja soal dokter Rusia itu, oke?" setelah sang fasilitator muda mengiyakan, Køhler segera menutup teleponnya dan membuka ulang berkas itu.

"Beilschmidt ... dimana marga itu ... oh, ini dia." Ia meletakkn jemarinya di atas tulisan Beilschmidt dalam berkas itu lalu mulai membaca. "Keturunan terakhir ... Ludwig dan Gilbert Beilschmidt. Biar kulihat, Gilbert Beilschmidt ..."

Matanya membulat seketika. "Wow," gumamnya, mulai fokus membacanya. "sepertinya target kita punya IQ di atas rata-rata." Tulisan yang menyatakan tentang seorang lulusan S2 sejarah dan S1 kimia di universitas terkemuka dunia menjeblak di hadapan sang pemimpin The Skandinaves.

Ia segera menekan tombol di teleponnya. "Tino, coba cari dan bawakan aku seluruh buku karangan Gilbert Beilschmidt."


—Tarot Cards—


Kedua pemuda dengan latar belakang berbeda itu berdiri di depan sebuah gedung pintu kayu dengan ornamen-ornamen klasik nan elegan.

"Francis! Francis, kau di dalam?!"

Tepat setelah Gilbert berteriak, pintu berderak dan terbuka di hadapan mereka. Sosok seorang pria pirang berkemeja putih nampak di sana. Gilbert menyeringai ke arah sosok Francis Bonnefoy di hadapannya. "Francis!" dan langsung menghambur ke pelukan sang sahabat.

"Wah! Sudah lama tak bertemu, Gil-chan~!" sang Frenchman mengemukakan, mempererat pelukannya pada sang German ramping dalam dekapannya; Ivan mendengus kesal. "Ada apa tiba-tiba datang ke sini, Gil?" tanyanya, melepas pelukannya untuk menatap wajah sang albino.

Sejenak, Gilbert melirik ke arah Ivan. "Kami butuh tempat untuk berdiam sejenak, Francis." Francis mengeryit lalu menatap ke arah sosok Russian di belakang Gilbert dan menatap albino itu kembali. "Dia Ivan, kawanku."

"Oh? Tentu saja! Tuan Ivan ...?"

"Braginski, da." Jawabnya, singkat. Sang sejarawan asal Perancis mengangguk mengerti.

"Kalau begitu ayo masuk!"

Di dalam, Gilbert langsung duduk di atas sofa dan meminta Francis untuk duduk di sebelahnya. "Ada apa sebenarnya, hm? Kenapa kau terlihat terburu-buru begitu?" tanyanya, memandang Ivan dan Gilbert bergantian.

"Begini, kami—"

"Kami sedang dikejar-kejar oleh dua—mungkin lebih—orang, dan kami butuh tempat perlindungan sementara." Potong Ivan, membuat Gilbert langsung melempar tatapan tajam pada sang rekan pelarian. Francis menatap sang sahabat dan orang asing dalam rumahnya bingung.

Gilbert akhirnya menghela nafas dan meletakkan tangannya di atas tangan Francis. "Francis," ia mendesah pelan, menatap gusar sang sahabat lama. "kami butuh bantuanmu, kumohon."

"Apa maksudmu? Bantuan macam apa—"

"Francis,"

Sang albino mendongak menatap sahabatnya yang memandangnya bingung, ia menghela nafas. "Kurasa aku terlibat sesuatu yang besar."

Kerutan di dahi Francis bertambah jelas. "Apa maksudmu, Gil-chan?"

Sejenak, Gilbert mengerling ke arah Ivan yang mengangguk. "Kau … tahu sesuatu tentang … err … iblis?" tanyanya, Francis seolah baru saja melihat sesosok hantu. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya.

Lalu tawanya menggelegar. "Astaga, Gil! Kau adalah lulusan master sejarah terbaik Harvard!" Gilbert memandang risih ke arah Ivan yang menatapnya meminta penjelasan, ia meringis pelan saat Francis melanjutkan, "Kau adalah rajanya soal sejrah, dan jika iblis yang kau maksud adalah iblis dalam penggambaran orang Eropa lama, aku yakin kau adalah satu yang paling bisa mengerti!"

Iris delima Gilbert melebar saat itu juga. "Penggambaran … Eropa lama?" ia menepuk dahinya. "Ya Tuhan!"

Ivan dan Francis sama-sama memandang sang albino bingung. "Dengar, Francis, Ivan," ia menyeringai ke arah dua temannya. "aku dapat petunjuk soal SD-card itu!" serunya girang, membuat Francis buru-buru menyela.

"Eh! SD-card apa? Aku makin tak mengerti apa yang kalian bicarakan!"

Sang Russian menyeringai dan menyerahkan laptopnya pada Gilbert. Sang German segera mengakses SD-card itu dan menunjukkannya pada Francis. Sejarawan Prancis itu membaca serius setiap kata-kata yang terpampang di layar laptop itu.

Kami telah menantimu.

Kau harus cepat, iblis bermuka dua telah bangkit dan kau harus buru-buru menghentikannya.

Temukan! Temukan semua garis edar klandestin dalam setiap petunjuk, dan satukan! Maka kau akan menemukan titik akhir.

Kau harus cepat, dia akan segera menangkapmu saat kau lengah.

Hati-hati, iblis mempunyai banyak mata yang selalu mengawasimu.

"Aku masih belum—"

Jari telunjuk Gilbert menunjuk ke tulisan kecil yang ada di pojok kanan bawah layar. "Lihat! Francis, lihat ini!" ia berteriak senang, mendekatkan wajahnya ke arah layar dan menyeringai lebar ke arah Francis.

Bintang siarah yang membimbing para pengembara selamat melewati jalannya.

Saat itu juga, Francis menyadari sesuatu dan ia berseru, "Mon ami! Dante Alighieri! Inferno Canto satu! Ini sastra Italia lama!" Francis lalu menatap Gilbert serius. "Kalau kau bilang ini sesuatu yang penting dan ini mengenai sejarah, aku yakin ini melibatkan masa depan." Ia berujar.

"Aku ingin tahu semua—"

"Mon Cher Francis," seorang pelayan wanita berkulit coklat muncul dari balik pintu dan memanggil Francis. Sang sejarawan mendesah malas kemudian tersenyum ke arah Gilbert sebelum menyusul pelayan wanita itu.

Ivan langsung beranjak mendekati Gilbert. "Aku tidak terlalu suka dia." Ujarnya. "Dia meraba tubuhmu tadi."

Wajah Gilbert memanas selagi ia kembali memeriksa tulisan di layar laptop Ivan. "Su-sudahlah!"


—Tarot Cards—


Fasilitator Berwarld Oxenstierna menyetir mobilnya dengan santai. Tak ada niatan sama sekali untuk memacu kecepatan di atas batas normal. Seisi mobil Ferarri itu dilingkupi kecanggungan sunyi, selain suara geram lembut dari mesin mobil, tak ada suara lain.

Mata sang fasilitator mengerling ke spion tengah mobil, mendapati eksekutor Lukas Bondevik tengah memandang keluar jendela. Ia kembali mengalihkan pandangan ke arah kiri, dimana agen lapangan Vash Zwingli duduk sambil memandang lurus ke depan. Oxenstierna menghela nafas, memegang kemudi mobil dengan baik kemudian menaikkan kecepatan.

Lima cabang di Rusia. Mencari cabang paling dekat pasti ia akan memilih Moskow—karena ia sendiri tengah berada di Moskow. Tapi kalau masalah banyaknya personil dan sumber daya, ia menebak kantor cabang di Vladivostok atau St. Pitersbug—Magnus tidak sebodoh itu untuk menaruh cabang besar di tempat keramaian—adalah yang paling memadai.

Ngomong-ngomong soal Magnus … tadi ia memberitahunya untuk mencari tahu soal dokter asal Rusia yang bersama Beilschmidt. Dengan Tino Vainamoien. Tunggu, bukankah pria Filandia itu juga ada di Copenhagen? Oxenstierna menghela nafas mengingat cara pikir ketuanya itu.

"Kita seperti disupiri seekor siput, tahu."

Komentar dari agen lapangan Vash Zwingli membawanya balik ke dalam mobil. Ia menajamkan pandangannya ke arah sang agen lapangan asal Swiss yang tengah membuang muka ke luar jendela. "Aku hanya takut kau menangis kalau-kalau aku menyetir terlalu cepat di tengah jalanan bersalju yang licin." Ia menginjak pedal gas, menerima tatapan bengis Zwingli. "Dan," gas lagi. "aku bukan supirmu."

Zwingli hendak protes sebelum akhirnya Oxenstierna menaikkan kecepatannya. "Tapi kalau itu yang kau mau," memandang lurus ke depan, mengabaikan tatapan ngeri dari eksekutor Lukas Bondevik di bangku belakang. "baiklah." Meninggalkan Zwingli dan Bondevik yang memekik pelan saat laju mobil bertambah kencang—sedikit tak terkendali di atas licinnya salju.

"Bodoh." Cibir Bondevik pada Zwingli, sang agen lapangan mengerlig malas ke arah Bondevik ke belakang. Iris violet sang pria Norwegian memandang tak suka ke arah Zwingli yang hanya bisa menarik nafas panjang saat Oxenstierna membelokkan tiba-tiba mobilnya.

"Hei … kita mau kemana?" tanya Zwingli was-was, takut-takut kalau sang fasilitator tiba-tiba membawa mereka ke pinggir jurang lalu memacu Ferarri berwarna merah terang itu melesak ke dalam jurang. Memikirkan masa depannya yang hancur gara-gara seorang fasilitator muda dari Swedia saja sudah membuatnya meringis ngeri.

Untuk beberapa saat kemudian, Oxenstierna tak menjawab dan sibuk mengendalikan laju mobil. Dengan gila-gilaan menyalip mobil-mobil; untungnya tak ada polisi yang berjaga di daerah yang mereka lewati. "Kita punya rencana baru, dan aku harus melibatkan cabang di Moskow untuk ini." Jawabnya, akhirnya memelankan laju mobilnya—membuat kedua penumpangnya mendesah lega.

"Rencana baru?" tanya Bondevik, sibuk menenangkan deru nafasnya. "Dan … sampai harus melibatkan cabang Moskow segala? Untuk apa?" lanjutnya, menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

Tak ada banyak perubahan emosi di wajah Oxenstierna saat ia melanjutkan, "Kalian yakin bisa mengurus Beilschmidt sendirian?"

Mata kedua anggota terbaik The Skandinaves itu memicing menatap Oxenstierna. "Kau meragukan kemampuan kami?"

Alih-alih menjawab geraman sang agen lapangan, Oxenstierna malah melempar sebuah tablet ke arah Zwingli dan Bondevik. "Tebak apa yang kudapat saat kalian mengejar mereka tadi," ia berkata tenang, berhenti tepat di depan lampu lalu lintas yang kini berwarna merah.

"Ini …" iris hijau Zwingli dan violet Bondevik melebar tak percaya.

"Aku mencari kata kunci Gilbert Beilschmidt dan itu yang kudapatkan." Ujar sang fasilitator, menginjak pedal gas dan memindahkan kopling. "Gilbert Beilschmidt, master sejarah Harvard dan analis kimia dari Jerman." Sang Sweden membelokkan kemudinya ke arah kanan dan memarkirkan Ferarri-nya perlahan.

"Juga seorang penulis novel terkenal." Zwingli mendesis di sela-sela giginya, ia menatap bangunan di hadapannya. "Target kita royal sekali, ya."

"Ya." Komentar Oxenstierna, keluar dari mobil diikuti agen lapangan Vash Zwingli dan eksekutor Lukas Bondevik selanjutnya. "Dan kita dibayar mahal untuk mendapatkannya."


—Tarot Cards—


"Kita punya kabar buruk."

Mathias Køhler menoleh ke arah Tino Väinämöinen yang berdiri di ambang pintu, sang ketua The Skandinaves menengadahkan kepalanya untuk dapat menemui amethyst dari kaki tangannya itu. "Ada apa? Dan … mana buku yang kumin—"

"Ini lebih penting daripada fiksi di kepala Beilschmidt, Mathias." Geram Väinämöinen, meraih remote televisi di atas meja Køhler dan menyalakan monitor televisi yang ada di ruangan anggota tertinggi The Skandinaves itu. "Perhatikan."

Køhler sudah was-was kalau salah satu aksi mereka terekan kamera dan dipublikasikan ke media. Namun yang selanjutnya muncul membuatnya menghela nafas kurang lega. Pencarian buronan. Siapa buronannya? Salah satu anggota The Skandinaves, kah?

"Hei, Tino, in—"

"Ssshh …" Väinämöinen mengisyaratkan sang boss untuk diam, Køhler menutup mulutnya dan fokus ke arah layar LED di hadapannya. Dan seketika itu juga, iris biru es-nya membulat tak percaya.

Ia refleks menoleh ke arah Väinämöinen. "A-apa maksudnya ini?!"

"Target kita …" sedikit menyesal, Väinämöinen menghela nafas. "… adalah pembunuh berantai."


—Tarot Cards—


Antonio Fernandez Carriedo mengguratkan tanda tangannya di atas berkas penting yang menumpuk di atas meja. Helaan nafas senantiasa terdengar dari bibirnya, sesekali ia memilih untuk menghempaskan punggung ke sandaran kursi dan mengamati dunia luar lewat jendela; namun itu tak berlangsung lama mengingat kesibukannya sebagai direktur perusahaan.

"Aaahh …" ia melemaskan otot-otot tangannya kemudian memijat pelan lehernya yang serasa mati rasa. Akhirnya, ia memilih untuk mengabaikan kertas-kertas di atas meja dan membuka laci mejanya. Menyeringai lebar mendapati selembar fotonya yang tengah merangkul seorang albino.

Memutar kursinya menghadap ke arah jendela, Antonio berbisik pelan, "Sebentar lagi, Gil …" mencium lembaran foto itu. "Kau kelak akan jadi milikku." Matanya berkilat lapar. "Hanya milikku."

Tak sengaja, tangannya menghantam sesuatu di atas meja hingga benda itu terjatuh ke atas lantai. Menggeram malas, ia sudah hendak mengambil benda yang adalah remote itu namun televisi di dalam ruangan kantornya keburu menyala. Dan yang membuat gerakan jarinya terhenti di tengah jalan untuk menggapai remote adalah; foto Gilbert ada di sana.

Dan di bawahnya tertulis besar-besar: Pembunuh Berbahaya.

Matanya membulat. "Apa-apaan ini?!"


—Tarot Cards—


"Sir,"

Alfonso Fernando Carriedo berdiri di ambang pintu kayu mahoni. Mengetuk kusennya untuk menyadarkan seseorang yang tengah duduk di atas kursi sambil mencermati acara berita di layar televisi. "Alfonso?" kursi itu berputar ke arahnya, Alfonso segera membungkuk sopan.

"Kita berhasil mengelabui media dan M16." Ujar sang Portugis, kembali menegakkan tubuhnya. Tawa menggelegar keluar dari sosok yang tengah duduk di kursinya. Alfonso menggigit bibir bawahnya.

"Bagus! Bagus! Ahahaha! Permainan sudah dimulai!" tepukan tangan dari sosok pria itu menggaung di dalam ruangan gelap yang menurut Alfonso sangat pengap untuknya. "Ini sudah saatnya kita mengambil peran!" serunya girang, lalu memutar kembali kursinya menatap layar televisi di ruangannya.

Pria itu melirik ke arah Alfonso di ambang pintu. "Aku ingi sekali melihat kelinci kecil kita berlarian kesana kemari menghindari maut," si pria menyeringai, irisnya berkilat senang. "dia memilih pihak yang salah! Dia malah memilih untuk berdiri di dekat si arostokrat gila itu! Padahal kalau dia ada di pihak kita, aku akan memberikannya kenikmatan! Ahahahaha!"

Kau yang gila, geram Alfonso dalam hati. Ia mengepalkan tangannya. "Saya undur diri." Ujarnya, membungkuk dalam sebelum berbalik pergi dari hadapan si pria yang tadi tertawa.

"Tunggu, Alfonso."

Kepala Alfonso berputar melirik pria itu.

"Bunuh siapapun yang menghalangi."

Untuk kesekian kalinya, Alfonso menggigit bibirnya.

"Baik, sir."

Tawa mengerikan itu kembali menggelegar.


To Be Continued


[Author's Territory: The Song For Great Satan © Kagamine Rin]

Lagunya kece deh.

Duh, masih ada yang inget fic ini, ga ya? Ada yang masih nungguin? Ada yang masih hidup kah? #salah oke … err … saya minta maaf banget karena apdet yang ngaret, soalnya saya udah kelas tiga SMP, jadi banyak persiapan buat menghadapi UN, pemantapan, dan T.O. Juga tugas bejibun. Udah tiga hari saya gak tidur nih, ada yang mau bantu saya ngerjain tugas? OwO

Udah sih … saya udah biasa sendiri #JoNes #woi jadi … gimana menurut Anda sekalian? Alurnya udah kebaca? Makin ribet? Jadi males baca? Atau … apa? Saya tadinya mau membuat ending jadi angst … dan udah jadi sebenernya. Tapi itu saya gagalin, jadi bingung sendiri endingnya … #penulistakbertanggungjawab

Itu … cowok gila mana lagi yang ngejar Prussia coba? Duh, ore-sama… maaf deh, di otak saya Anda sangatlah uke. Dan saya gak rela kalau Anda jadi seme, bahkan jikalau pair-nya Canada. Anda tetep harus kudu jadi uke, Puroisen-san #ngotot

Oke, ini penjelasan obrolan Francis sama Gilbert: 'Bintang siarah yang membimbing para pengembara selamat melewati jalannya' adalah kutipan dari Canto pertama di Inferno karangan Dante Alighieri, salah satu orang yang saya kagumi. Yang isi aslinya; Meski tetap dengan tiang bintang siarah, yang membimbing para pengembara selamat melewati jalannya.

So … review?

Sincerely,

Nekoya Chevalier