Tarot Cards

Ace Card for Destiny


Agen Arthur Kirkland mengelus tengkuknya gugup.

Sudah sekitar tiga puluh menitan ia duduk di depan komputer sambil mengamati data milik target cariannya. Sinar radiasi dari komputer MI6 menyinarinya sejak tadi, agen Karpusi baru saja pergi meninggalkannya setelah berdikusi sebentar soal kasus yang baru mereka dapatkan dari sang inspektur.

"Dasar." Gerutuan lain terdengar dari mulut Kirkland saat melihat artikel lain soal sang buruan. Aduh, sepopuler apa sih targetnya yang satu ini? Sekali ia mengetikkan nama 'Gilbert Beilschmidt' dalam mesin pencari, bisa ada sampai ratusan alamat pencarian yang berhubungan dengan albino asal Jerman ini.

Kalau sang inspektur tidak mengancamnya akan memotong gaji bulanan miliknya dan Karpusi jika tidak segera menyelesaikan kasus ini, mungkin ia juga tidak akan seniat ini untuk mencari tahu soal sang Beilschmidt sulung. Ini dia saja atau memang tak ada catatan kriminal lain, selain kasus yang diserahkan padanya dan agen Karpusi, pada riwayat hidupnya?

Masih pagi tapi sudah disibukkan dengan urusan yang sebegini rumitnya. Ia juga tak habis pikir dengan sang inspektur; membeberkan identitas target—dalam kasus ini, seorang pembunuh berdarah dingin—pada media, itu artinya pada seluruh warga Inggris bahkan dunia, tanpa maksud yang jelas.

Ini jelas meresahkan.

Menurut Adnan sendiri, ini bertujuan agar siapapun yang mengenalinya segera melapor pada MI6 atau pihak berwajib. Kirkland tetap menganggap jika tindakan ini adalah sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Tentu saja, membeberkan bahwa seorang pembunuh berdarah dingin tengah berkeliaran di jalanan, akan membuat sebuah histeria masal.

Ditambah lagi, jika mereka—MI6—sampai salah mengenali tersangka. Ini bisa jadi masalah besar, reputasi MI6 sebagai badan intelejen Inggris Raya akan tercoreng karenanya. Mau berapa kali pun dipikir, rasanya terlalu dini untuk menetapkan seorang tersangka di awal kasus begini.

Padahal kasus baru diterima, tapi tersangka langsung tercantum begitu saja. Bukan hanya dalam status saksi atau calon tersangka. Tapi tersangka. Buronan. Apa maksudnya, sih? Memang, jarang menemui seorang albino bermata merah delima cerah keturunan Jerman yang tinggal di Inggris, tapi tetap saja …

Langkah yang diambil MI6 sepertinya adalah sebuah kesalahan besar.

Kesalahan yang dapat berakibat fatal.

.

.


Tarot Cards: Ace Cards for Destiny

Cast(s): Prussia/Gilbert Beilschmidt | Russia/Ivan Braginski | Spain/Antonio Fernandez Carriedo | Denmark/Mathias Køhler | Netherlands/Damian van der Mook

Genre: Mystery | Suspense | Romance | Drama | Slash | Action | Thriller

Rate: T – M for Mature Cotents, Violence, Illuminati Contents, and Other

Warning: Typo(s) | OOC, eh? | Human!AU | SARA, probably? | DenPruss mendadak mendominasi | RussPrusSpa | Someone x Prussia

Special Warning: Satanism | Historical, inaccurate? | Membicarakan Perang Salib, menyenggol masalah orde-orde di masa itu, yang akan saling sambung mengambung dengan alur di cerita ini | Ini hanya fiksi, beberapa yang saya ceritakan di dalamnya adalah fakta, namun selebihnya adalah imajinasi saya | Membahas Gereja Setan dan Freemason, juga perkumpulan lain, saya mohon maaf jika ada yang tersinggung karenanya | Fakta kurang akurat, jika saya salah, mohon dimaklumi karena ini hanya fiksi belaka

Now Playing: SHIVER © the GazettE


.

Bagian III

.

Knights

.


Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya

Inferno © Dan Brown

Tarot Cards: Ace Card for Destiny © Nekoya Chevalier


.

.

"Aku tidak mengerti …!" Mathias Køhler menyapukan tangannya di atas meja kerja kayu mahoni mahal itu, membuat dokumen-dokumen penting dan Note-book miliknya terjatuh. Väinämöinen menggigit bibir bawahnya melihat sang atasan mengamuk.

Sang ketua The Skandinaves mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan, menatap tajam Väinämöinen yang tengah memandangnya gugup. Menarik nafas untuk berusaha tenang, Køhler memutuskan untuk menyandarkan punggungnya di jendela, matahari baru saja terbit di ufuk timur Copenhagen.

Rintikan hujan gerimis menghantam jendela ruang kerja Køhler, atmosfer di sekitar masih sedingin iris biru sang pemimpin Skandinaves. Väinämöinen sendiri tak berani bicara banyak jika atasannya sudah semurka ini. Terakhir, yang Väinämöinen ingat, saat salah satu anggota baru Skandinaves berani menyela kemurkaan Køhler, acara itu berakhir dengan meregangnya nyawa sang prajurit anyar dengan tebasan di lehernya. Semenjak saat itu, tak ada seorangpun yang bernyali besar untuk menginterupsi amarahnya.

Amarah seorang Magnus adalah sesuatu hal yang absolut dan tak dapat diredakan dengan apa pun kecuali oleh sang empunya sendiri.

"Tino," Køhler mengalihkan pandangan dari jendela berjejak jarum air ke arah kaki tangannya, membuat Väinämöinen terkesiap saat amethyst miliknya bertubrukan dengan azure cerah berkabut milik Køhler.

"A-ada apa?"

Satu helaan nafas lain dari Køhler, sebelum akhirnya ia memejamkan mata dan melanjutkan, "Segera cari tahu kebenaran berita ini, dan …"

"… bawakan aku semua buku yang dikarang oleh Gilbert."


—Tarot Cards—


Sejarawan asal Perancis, Francis Bonnefoy, melangkah menuju ruang makan dimana sang pelayan wanita berada; meninggalkan Ivan dan Gilbert di ruang tamunya. Sey Dubois memandang awas ke arah ruang tamu lalu mengisyaratkan Francis untuk memelankan suaranya.

"Ada apa, sih?"

"Ssssh … mon cher, ini tentang teman Anda." Dubois berujar setengah berbisik, perlahan meraih remote di atas meja nakas dan menyalakan televisi yang dipasang Francis di dekat ruang makan. Francis makin kebingungan begitu sang pelayan memilih salah satu saluran televisi dari negeri Britania Raya.

Saluran televisi itu tengah menampilkan acara berita pagi, dan Francis membelalak membaca head-line yang ada di sana. 'Pembunuh berantai melarikan diri.' Dan ia makin kaget begitu melihat foto sang sahabat di sana. Gilbert Beilschmidt adalah seorang buronan.

Seorang pembunuh berantai.

Francis buru-buru melangkah ke ruang tamu. "Gilbert Beilschmidt! Kau membohongiku!" jeritnya marah, memandang garang ke arah kedua orang berkulit pucat di atas sofa rumahnya.

"O-oi, ada apa, Fra—"

"Kau membohongiku!" teriaknya murka. "Kau ada di televisi, Gilbert, dan kau adalah seorang pembunuh!"

Di saat itu semua menjadi kacau.

Dokter Ivan Braginski memandang bingung ke arah Gilbert dan Francis, sementara Gilbert sendiri terhenyak kaget seraya berdiri dari posisinya dan menjauh dari kedua orang di hadapannya. Bisa bahaya kalau ia benar-benar diyakini sebagai seorang pembunuh. "Dengar, Francis …" ujarnya, berusaha tenang walaupun jantungnya berdebar keras. "Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan."

Ada kilatan ragu di mata Francis. "Gilbert, kau ada dalam berita Inggris, dan mereka mengatakan bahwa kau adalah seorang pembunuh yang melarikan diri!" sentaknya, meraih sebuah Baretta di atas meja nakas dan mengarahkannya ke arah Gilbert. Sang dokter adal Rusia bertindak sergap, meraih Revolver dari saku Trench-coat miliknya dan mengarahkannya pada Francis.

"Hati-hati dengan semua gerakan yang kau buat, da."

Iris ungu itu berkilat garang. "Seinci saja kau melukai albino di sana, kau akan berakhir dengan lubang menganga di dada." Ancamnya, mengokang senjata laras pendek di tangannya. Gilbert menahan nafasnya, dadanya terasa tercekat.

"De-dengar, kalian berdua …" Gilbert memijit pelipisnya, memandang awas pada Baretta di tangan Francis. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, ta-tapi …" ia susah payah menelan liurnya sendiri saat Francis turut mengokang Baretta itu, sementara Ivan maju beberapa langkah membidik sang sejarawan.

Sarjana sejarah Harvard itu melanjutkan ragu, "Jika kau menuduhku seorang pembunuh, kau salah besar."

Tawa lantang terdengar dari bibir seorang Francis Bonnefoy. "Hei, mana ada pencuri yang mau mengaku?!" ia memandang ke arah Ivan yang tengah menatap Gilbert ragu. "Oi, Russian di sana, kau percaya padanya?"

Kaki Gilbert gemetar. Dirinya dipenuhi ketakutan di sekujur tubuhnya. Bagaimana jika Ivan tidak percaya padanya? "I-Ivan …" panggilnya takut-takut, memandang wajah tegas berdarah Rusia itu kalap.

Ivan menghela nafas dan membidik kembali Francis dengan benar. "Da, aku percaya padanya." Dan begitu, Francis mendecih dan mendekatkan Baretta miliknya ke arah Gilbert. Sang German memekik pelan saat merasakan denyutan nyeri di kepalanya. Ini semua membuatnya terlalu bingung. Efek amnesia miliknya kembali muncul.

"Gil …!"

Semuanya buram, namun Gilbert berusaha tetap terjaga, ia memandang takut-takut ke arah Francis. "Dengarkan aku, Francis …" ujarnya, terengah, berpegangan pada sofa; mencengkeramnya. "Kau … percaya padaku, kan?"

"Ugh …" Francis mengeryitkan dahinya. Ia yakin ada yang salah dengan berita itu, tidak mungkin seorang Gilbert Beilschmidt, sahabatnya yang sekaligus teman satu kamar asramanya sewaktu di Harvard, kini berubah haluan menjadi seorang pembunuh berantai.

"Francis, kau—"

Pelatuk itu tertarik begitu saja.

Sey Dubois yang melakukannya.

Iris safir dan amethyst itu membelalak menatap tubuh ramping sang albino yang ambruk di hadapan mereka. Ivan segera berlari menangkap tubuh Gilbert dan berteriak marah pada sosok wanita berkulit tan yang berdiri memegang senapan manual dengan was-was.

"Dia pembunuh … dan aku …" Dubois berujar, ngeri. " … aku membunuhnya …"

"Sey! Kau segera masuk ke kamarmu!" perintah Francis seraya mengambil perban dari laci meja nakas dan menghampiri Ivan juga Gilbert. Francis memandang takut pada darah pekat yang mengalir membasahi kemeja putih sang German. Ivan dengan sigap membuka kemeja berlumuran darah Gilbert dan memeriknya lukanya.

"I-Iva—"

"Jangan banyak bicara."

Gilbert meringis—ia tak lagi mempunyai kekuatan untuk berteriak sakit ataupun menjerit nyeri—saat Ivan menekan luka di sekitar tempat di mana peluru itu menembusnya. "Untungnya," Ivan berujar tanpa nafas, terlalu ngeri membayangkan Gilbert tewas di hadapannya. "pelurunya tidak bersarang di tubuhmu." Ia memandang tak suka pada lubang di tembok rumah Francis.

"Gi-Gilbert …" desis Francis ragu, mengelus helaian perak yang sedikit ternodai darah itu. Nafas albino di pangkuan Ivan yang terengah-engah seolah tengah meregang nyawa. Ia menampik fantasi mengerikan di otaknya dan menggenggam tangan Gilbert.

Sorot mata itu membuatnya melengos sedih.

Itu bukan sorot mata seorang pembunuh berantai.

Bukan, Francis meyakinkan dalam hati.

"Aku butuh pertolongan pertama, segera!"


—Tarot Cards—


Alfonso Fernando Carriedo memandang tak suka ke arah kembar Vargas yang duduk di atas meja.

Kedua Italian itu mengoceh sedari tadi, sementara ia membaca alkitab sembari berusaha berkonsentrasi. Adiknya menemui seorang Magnus, dan sang ketua malah menugaskan tugas berat dan cenderung irasional padanya. Rasanya ia ingin protes, namun ia sadar bahwa perintah sang ketua adalah mutlak.

"Fratello jahaat!" suara Feliciano Vargas memecah pikirannya, ia mendelik ke arah dua orang berjubah hitam itu. Sang Vargas bungsu nampak sedang merajuk pada kakaknya, sementara si sulung tak menghiraukannya dan malah menggerutu entah tentang apa.

"Diamlah, Feli!" bentak Lovino Vargas, membuat Alfonso merasa teliganya bergaung beberapa sekon. Feliciano kembali merengek dan menarik-narik tudung jubah milik Lovino, sang kakak marah-marah dengan suara besar; hingga Alfonso akhirnya menutup alkitab miliknya dan menggebrak meja.

"Diam, atau mulut kalian akan kuplester."

Desisan murka dari sang Carriedo sulung membuat kembar Vargas itu terdiam. Alfonso menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, memijit pelipisnya. "Tolong jaga tatakrama kalian selama masih di dalam Tempat Suci." Ujarnya, perlahan meletakkan alkitab bersampul hitam itu di pangkuannya.

"Kudengar salah satu dari kalian akan berangkat ke Paris," Alfonso memandang dari balik bulu matanya. "ke Notre Dame."

Feliciano menghela nafas. "Ve … sepertinya Fratello yang akan pergi." Ujarnya, menunjuk Lovino dengan dagunya. Lovino memprotes, menghentak-hentakkan kakinya ke atas lantai kayu. Alfonso mendengus kesal melihat keduanya yang sangat kekanakan.

"Demi LaVey …" sang Portugis memijit batang hidungnya dan berdiri dari duduknya, menutupkan tudung di jubah hitamnya. "Kalian itu benar-benar menyusahkan." Gerutunya, menenteng alkitab hitam miliknya dan hendak berjalan ke luar tempat gelap itu sebelum Feliciano memanggil.

"Fratello Alfonso," panggil si bungsu Vargas, membuat Alfonso menghentikkan langkahnya dan menoleh setengah hati ke arah Feliciano. "Hari ini ada persembahan, ya?"

Alfonso menepuk dahinya kalap. "Astaga ..." keluhnya, melirik arloji di pergelangan tangannya. "Aku harus segera cari korbannya."


—Tarot Cards—


Fasilitator Berwarld Oxenstierna turun dari Ferarri miliknya.

Di belakangnya, agen lapangan Vash Zwingli dan eksekutor Lukas Bondevik mengikuti langkahnya turun dari mobil. Wajah mereka pucat pasi, salahkan Oxenstierna yang menyetir mobil gila-gilaan—makin mengerikan dengan wajah datarnya yang tetap tak berubah walau mobil polisi sudah menyuarakan sirinenya di belakang.

Mereka melangkah di atas salju tebal Rusia, memasuki sebuah pintu gerbang besar dengan lambang singa bersayap—satu dari sekian banyak yang akan kau temui jika berjalan-jalan di Venezia—di atas cat hitamnya. Zwingli menatap arloji asal Swiss yang melingkar di pergelangan tangannya, dan mengerang.

Waktu terasa berlalu begitu lama. Ini masih pukul sembilan pagi di Moskow, setelah pengejaran yang begitu lama dan juga durasi dalam menempuh jarak menuju kantor cabang The Skandinaves di Moskow, seharusnya ini sudah siang. Sepertinya bahkan waktu, tak dapat menemukan sirkumnya dengan baik.

"Mau apa kita ke sini?" Bondevik bertanya setelah ia disambut beberapa prajurit tingkat bawah The Sandinaves, melangkah di atas karpet merah mahal alih-alih salju tebal seperti di luar tadi. Oxenstierna menoleh, menatap replika patung-patung Eropa yang tersusun rapi di sepanjang jalan mereka.

Ia tahu, cabang Moskow adalah salah satu cabang paling royal di antara cabang-cabang Skandinaves lainnya. Meski bukan cabang terbesar, bahkan untuk kawasan Rusia, namun cabang yang terletak di ibu kota sang negara Sosialis-Komunis selalu mempunyai keistimewaan tersendiri.

Ketua mereka, Magnus, sering datang dan menata sendiri interior dari bangunan bak istana ini; seperti istana, namun sebenarnya adalah camp militer sekaligus penjara untuk para pemberontak sebelum akhirnya dieksekusi.

"Kita akan meminta bantuan, mungkin." Sang fasilitator menjawab santai, berjalan tegap ke arah pintu bertahtakan emas di atasnya, mendorongnya pelan. Ruangan yang ada di sana lebih mewah di banding di luar, sebuah ruang aula. Di dominasi warna merah dan emas tanda kejayaan dan keanggunan.

Ruang di mana para petinggi The Skandinaves akan berkumpul dan membicarakan masalah penting, tak jarang jua dipakai untuk tempat rapat kecil sebelum eksekusi akan salah satu pembelot dimulai.

Dalam organisasi The Skadinaves, ada beberapa peraturan penting yang harus ditaati. Tiap kedudukan posisi di tahta Skandinaves mempunyai peraturan tersendiri. Untuk pemimpin, Magnus, ada tiga peraturan penting yang harus ditaati; menjaga privasi klien, tak bertanya, dan hanya menjalankan tugas sesuai orderan. Seolah robot, ketua Skandinaves tak boleh menggunakan hati dalam setiap tugas. Hanya otak dan otot.

Untuk para petinggi, ada cukup banyak peraturan yang wajib ditaati dan tak boleh dilanggar. Jika dilanggar, hukuman bagi para petinggi ini yaitu adalah pengucilan diri dan pencabutan status sebagai anggota resmi The Skandinaves. Keluar dari Skandinaves, sama artinya dengan meregang nyawa. Saat hitam tertulis di atas putih, saat itu pula merah terpeta di atas kulit.

Berbeda dengan petinggi The Skandinaves, para prajurit yang dikerahkan untuk memusnahkan serangga pengganggu mempunyai banyak sekali peraturan. Sekali mereka melanggar salah satu peraturan yang telah tertera, atau mereka gagal menjalankan misi, maka habislah. Mereka akan dieksekusi.

—artinya mati.

Matthew Williams berbalik mendengar suara pintu berderak terbuka.

"Ah," sang petinggi Skandinaves tersenyum lebar dan mempersilahkan tiga orang di hadapannya untuk duduk. Ketiganya mengikuti gestur sang kepala cabang Moskow agar mereka duduk di atas salah satu kursi di ruangan itu. Williams tersenyum, kemudian berkata, "Kalian datang lebih cepat dari yang kukira. Selamat datang, sir Oxenstierna, sir Bondevik, dan sir Zwingli."

Zwingli dan Bondevik melempar pandangan tajam ke arah Oxenstierna. "Magnus sudah memberitahuku kalau kalian akan datang dan meminta bantuan." Ujar sang Canadian pemilik tahta tertinggi di Moskow, menyandarkan punggunya di sandaran berudu merah lembut sembari menggesturkan pelayan di dekat mereka untuk menuangkan teh ke cawan masing-masing.

"Jadi," mempersilahkan ketiga tamunya untuk meminum jamuan masing-masing, Williams menarik cawannya sendiri dengan anggun dan menyesapnya pelan. "apa yang kalian butuhkan?" tanyanya, menyilangkan kedua kaki dengan elegan.

Oxenstierna mengangguk samar, dengan sopan menarik cawan miliknya mendekat dan mengangkatnya, memilih menjawab sebelum akhirnya meneguk tah miliknya. "Kami butuh data-data dari seseorang."

Williams menaikkan alisnya. "Rusia?" tanyanya, Oxenstierna mengangguk dan kembali menjauhkan cawannya. "Hm ... siapa Russian yang kita cari kali ini?"

"Ivan Braginski."

"Oh?"

Canadian muda itu menjentikkan jari, membuat seorang pelayan pria berjalan ke arahnya dan menunduk sopan di sebelahnya. Williams membisikkan sesuatu pada sang pelayan, lalu dengan sopan, pesuruh itu meninggalkan ruangan tanpa bicara lagi. "Braginski?" ia memastikan, Bondevik mengeryit.

"Kau mengenalnya?"

Tertawa sejenak, Williams lalu menjawab, "Tentu saja, sir Bondevik." Ia memasukkan dua balok gula ke dalam tehnya, lalu melanjutkan, "Dr. Braginski adalah dokter muda yang cukup terkenal di Rusia." Mengaduk cairan coklat kemerahan itu, Williams menyesapnya kembali.

Pelayan itu kembali, dengan sebuah berkas di tangan. Williams langsung menyerahkan map manila hijau itu pada ketiga orang yang duduk tak jauh darinya. "Itu profil Dr. Braginski, semoga membantu sedikit untuk kalian."

"Ini membantu banyak." Eksekutor Bondevik menuturkan sopan, menarik map manila itu mendekat dan membukanya.

"Ada lagi yang bisa kubantu?"

Ketiganya berdiri bersamaan, agen lapangan Zwingli berbalik sejenak sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu. "Akan kami beritahu perkembangannya nanti."


—Tarot Cards—


Perlahan, Gilbert Beilschmidt mengerjap-ngerjapkan matanya.

Sinar matahari langsung memaksa matanya untuk segera berakomodasi. Ia menyipitkan matanya dan mengalihkan pandangan ke arah sosok lelaki yang duduk di kusen jendela. "Ivan ...?" tebaknya, menatap sosok bertubuh tegap itu. Dokter Ivan Braginski menoleh setengah kaget, tersenyum seperti biasa lalu duduk di pinggiran ranjang Gilbert.

"Bagaimana perasaanmu?"

Gilbert memajukan bibirnya. "Secara fisik, aku merasa agak pusing." Ia memejamkan kembali matanya. "Secara psikis, aku merasa sangat kacau." Ivan tertawa mendengar penuturan sang pasien, ia meletakkan telapak tangannya di dahi Gilbert yang masih diperban.

"Perbanmu dudah kuganti tadi."

"Oh? Jadi kau juga yang mengganti bajuku?"

Sebuah seringaian tertarik di wajah Ivan. "Kalau iya, kau ada masalah, da? Atau ..." merangkak naik ke atas kasur, membayangi sang German dengan siluet tubuhnya. Menuduk, menghembuskan nafas di telinga albino muda itu. "... kau mau aku lebih dari sekedar menggantikan pakaianmu, da?"

"Apa aku mengganggu, mon cher?"

Russian muda itu segera beranjak dari atas kasur dan tersenyum ke arah Gilbert yang tengah berusaha menutupi wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus. Francis Bonnefoy menghela nafas geli dan menaruh nampan berisi makanan di meja nakas. "Maafkan aku, Gil ... seharusnya ... aku tidak langsug percaya—"

"Tak apa." Gilbert berujar setelah ia menenangkan nafasnya. "Kau sendiri yang bilang jangan percaya pada orang Inggris." Statement itu membuat Francis tertawa, menarik kursi dan duduk di atasnya.

"Omong-omong, Ivan, Gil," sang Frechman meraih remote dan menyalakan salah satu siaran televisi berita Inggris di sana.

"Kasus pembunuhan terjadi kembali di wilayah Manchester, korbannya sama seperti sebelumnya, seorang wanita hamil. Diketahui, Gilbert Beilschmidt, pelaku sementara yang ditetapkan kepolisian Inggris, telah mengambil janin dari rahim sang ibu. Lalu—"

Layar hitam.

Francis meringis. "Itu lah kenapa aku memercayai bahwa kau bukanlah pembunuhnya." Ia menggaruk pipinya. "Jika kau ada di sini, kau tidak mungkin ada di sana dan melakukan pembunuhan keji begitu."

"Nah," Gilbert menghela nafas frustasi.

"Maafkan Sey karena sudah ... menembakmu."

"Oh, ya ... bagaimana kabarnya?" tanya Gilbert, dibalas oleh Francis yang mengangguk. Menyatakan bahwa Dubois baik-baik saja. "Sekarang ... kita kembali ke pokok masalah." Ujarnya, menyamankan posisi kepala di atas bantal empuk di bawahnya.

Sejarawan asal Perancis di sebelah Gilbert meggumam. "Kurasa ... kita bisa lewati masalah SD-Card itu sejenak, lalu ..." ia melempar pandangan ke arah iris delima Gilbert. "Mungkin kita bisa membahas tentang siapa yang membuatmu menjadi seorang pembunuh di Inggris, mon ami."

"Hm ..."

Ruby milik Gilbert mengerling ke arah Ivan yang tengah bergumam di dekatnya. "Ini pernyataan resmi dari kepolisian Inggris," ia menghela nafas tak tenang. "kita berhadapan dengan seseorang yang tidak bisa dianggap remeh."

Frenchman bermarga Bonnefoy yang duduk di kursi simpel itu kembali menggumamkan sesuatu. "Seseorang ... atau ..."

"... sebuah perkumpulan." Gilbert melanjutkan, mengeryitkan dahinya dan mencoba mengais-ngais ingatannya. "Francis," Gilbert menengadah ke arah Francis yang lebih tinggi darinya, membuat Francis menaikkan alisnya tanda bertanya. "Mari kulihat isi SD-card itu lagi."

Sebuah laptop menjeblak terbuka di pangkuan Gilbert, dan ia baru saja mengakses SD-card itu. Beberapa kali menekan tombol di key-pad laptop, beberapa kali menggerakan pointer, hingga akhirnya Gilbert melebarkan matanya. "Mein Gott ..."

"Mon Dieu ..."

Ivan lah satu-satunya yang hanya bisa mengeryit. Yang ada di hadapannya hanyala dua lambang salib berwarna merah dan hitam. Itu saja. "Ada apa?"

"Ini lambang Ordo Ksatria Teutonik dan Ordo Ksatria Templar." Jawab Gilbert, meletakkan laptop itu di atas meja nakas. "Keduanya, adalah Ordo militer dari pihak Kristiani dalam Perang Salib."

Perang Salib.

Perang keagamaan yang meletus di wilayah Yerusalem. Perang yang dimulai dari 1095 sampai 1272. Dalam perang ini, dua oposisi bertanding satu sama lain untuk mendapatkan kota suci Yerusalem dan beberapa kota di sekitarnya. Dua kekuatan yang salig bersiteru di tanah suci itu adalah Muslim dan Kristiani.

Umat Kristiani, kebanyakan berasal dari Eropa, bersikukuh dalam menegakkan ajaran mereka di atas tanah suci Yerusalem. Paus sendiri menjanjikan pengampunan dosa bagi siapa pun yang ikut ambil andil dalam pertumpahan darah di Yerusalem, menjanjikan kemakmuran bagi mereka yang menengakkan ajaran Kristen di wilayah Yerusalem.

Mereka yang berjuang mengibarkan bendera Kristen di atas tanah suci Yerusalem sendiri, di sebut Pasukan Salib.

"Dalam perang besar ini, para Pasukan Salib membentuk berbagai Ordo untuk mempererat persatuan antar pasukan Perang Salib." Gilbert menyandarkan punggungnya di dash-board kasur, meringis merasakan kontraksi otot di daerah yang tadi ditembak oleh pelayan Francis. Sebelum akhirnya melanjutkan, "Di antara Ordo-Ordo itu, salah satu yang paling dikenal adalah Ksatria Templar dan Ksatria Teutonik."

Ordo dari pihak Kristiani yang paling terkenal sekaligus yang paling misterius adalah Ksatria Templar. Ordo satu ini didirikan oleh Hughes de Payens, veteran Perang Salib Pertama bersama delapan orang sahabatnya pada tahun 1118. Di hadapan Patriach Yerusalem, mereka mengucapkan sumpah setia untuk membela agama Kristiani. Raja Baldwin II dari Yerusalem akhirnya memberi mereka markas di atas bukit Kenisah atau Temple Mount, yang dulunya adalah tempat di mana Kenisah Solomon berdiri.

Karena lokasi markas mereka, maka nama lengkap dari Ordo Templar itu sendiri adalah Poor Knights of Christ and the Temple of Solomon. Kelompok baru ini mengambil aturan Santo Bernardus dari Clairvaux—biarawan Ordo Cistercian—sebagai cara hidup mereka. Karena alasan itu pula lah, Para Ksatria Templar mengucapkan tiga kaul selayaknya biarawan biasa. Selain tiga kaul, mereka pun mengucapkan sumpah lain, yaitu janji setia sebagai Ksatria Perang Salib.

"Seorang Ksatria Templar mengenakan jubah putih meniru jubah biarawan Cistercian, hanya saja, mereka menambahkan sebuah salib merah besar pada jubah mereka." Francis menjelaskan, melipat kedua tangannya di depan dada seraya memandang Gilbert, mengisyaratkan sang German agar melanjutkan.

Gilbert menghela nafas, sebelum akhirnya menjelaskan pada Ivan, "Pemimpin tertinggi Ksatria Templar disebut Grand Master atau Guru Agung. Jabatan ini disandang seumur hidup." Mengambil jeda sejenak untuk menarik nafas. "Grand Master pertama adalah Hughes de Payens sendiri, pendiri Ordo Templar yang berasal dari Perancis."

"Penjelasanmu membuat mereka terdengar seperti sekelompok Biarawan biasa …" ringis Ivan, merasa sedikit pusing dengan penjelasan sejarah dari kedua lulusan Harvard di dekatnya ini. Francis menghela nafas.

"Tidak juga …" ujarnya, menunjuk lambang salib besar berwarna merah yang terpampang di layar laptop milik Ivan. "Sebagai Ksatria Templar yang akan bertarung di Perang Salib, mereka juga menjalani pelatihan militer yang keras." Setelah Francis selesai menjelaskan, Gilbert menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.

Albino bermata merah bak helaian kelopak mawar merah yang mekar di saat musim semi itu berkata, "Mereka digambarkan sebagai singa garang saat pertumpahan darah dan domba jinak di luar medan peperangan," mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya kembali berujar, "Prajurit tak takut mati di medan perang, namun Rahib yang saleh di dalam bangunan suci Gereja."

"Lalu, mereka—"

Bising-bising di luar membuat mereka menghentikkan lintas masa lalu.

"Apa itu?" desis Gilbert, merasa ada yang tak beres. Ivan berdiri perlahan, mengecek ke luar jendela kamar Francis, lalu menggerutu sambil merutuk pelan.

Sang Russian menghampiri jendela dan menggeram rendah. "Kita punya masalah."


—Tarot Cards—


Agen Damian van der Mook turun dari mobil Sport silvernya diikuti beberapa tentara berbaju putih-merah.

Damian mendongak menatap bangunan bergaya Eropa lama yang menjulang di hadapannya. Menghisap rokok di antara ceruk bibirnya lalu membuangnya dan menginjak puntungnya di atas tanah. Melirik ke arah tentara dengan warna putih dan merah yang mendominasi seragam mereka. "Jadi ..." ujarnya, melipat kedua tangan di depan dada.

"Ini tempat dimana kelinci kecil kita bersembunyi?"

Sang Naderlanden mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, lalu berkacak pinggang. "Tunggu apa lagi? Aba-aba dariku, heh?" tanya Damian, merogoh sekotak rokok lain dari saku celananya, hendak menyulutnya dengan korek api di genggaman tangannya.

"Temukan target kita, sesuai arahan."

Derap lagkah tegap para tentara segera memenuhi lingkungan sepi di sekitar mansion milik Francis Bonnefoy. Sementara itu, Damian van der Mook menyulut rokoknya dengan korek api dan menghisapnya, membuang nafasnya hingga asap rokok mengepul menggulung di depan wajahnya. "Dasar," desisnya di sela-sela batang rokok, melangkah lebih dekat ke dalam mansion sembari menenteng M-15 di bahunya.

"seenaknya saja menyuruh orang."

Di dalam kamar Francis, ketiga orang itu panik setengah mati. "Itu orang-orang yang mengejar kalian?" tanya Francis Bonnefoy was-was, melihat jumlah orang-orang bertubuh tegap di depan rumahnya. Ivan Braginski menyipitkan matanya ke arah jendela, dan menoleh cepat ke arah Gilbert.

"Sebelumnya tidak sebanyak ini." Geramnya, setengah berlari ke kasur Gilbert. "Francis, kau punya jalan keluar lain selai pintu utama?" tanya Ivan, menenteng tas ranselnya di bahu dan menatap Gilbert kembali.

Sang sejarawan berfikir sejenak. "Ada, di lantai satu, setelah dapur, belok kanan." Jelasnya, Ivan mengangguk mengerti.

"Hei, tunggu, aku tidak bisa berjalan kalau keadaanku seperti in—"

"Naik ke punggungku."

Intruksi singkat dari sag Russian membuat Gilbert termangu. "Cepat!" namun ia masih tetap harus mengikuti perintah mutlak dari sang dokter. Perlahan—mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya—ia merangkak naik ke punggung Ivan. "Kami membutuhkanmu untuk mengalihkan sementara perhatian mereka, Bonnefoy."

"Aku akan melakukan semampuku." Diam sejenak, Francis menambahkan, "Lalu akan menyusul kalian."

Seringaian mengembang di wajah Ivan sementara Gilbert memekik kaget karena sang dokter jangkung tiba-tiba berlari dengan kencang ke lantai bawah. Francis Bonnefoy menarik nafas panjang, lalu memantapkan diri untuk turun ke bawah, menghadapi para tentara berseragam putih-merah itu.

Ketukan itu menggelegar di seluruh mansion Francis, sang Frenchman merapikan kemejanya dan bersiap menyambut tamu tak diundangnya. Dalam sekali tarikan nafas, ia membuka pintu rumahnya dan tersenyum ramah pada sekelompok orang di depan pintunya. "Kalau boleh saya tahu," ia berujar, sopan. "Ada keperluan apa Anda semua ini berkunjung ke rumah saya?"

Satu di antara para tentara itu hendak menjawab, sebelum akhirnya mereka membuatkan jalan bagi agen Damian van der Mook untuk melewati mereka. "Kami mencari seorang albino bermata merah."

"Maaf? Anda adalah ...?"

Damian mendecih dan melempar tatapan dingin ke arah Francis. "Nama tidak penting, sekarang, dimana albino yang kami cari ini?"

Francis menggeram dalam hati. "Hmm ... rasa-rasanya saya tidak punya kolega ataupun kenalan seorang albino, wah ... apa Anda sekalian mencari tokoh animasi ke sini?" candanya, membuat Damian memutar bola matanya malas seraya menghela nafas tajam.

"Geledah rumah ini."

"Hei—"

"Dan kau, jangan protes."


—Tarot Cards—


Alfonso Fernando Carriedo memasuki ruagan gelap itu sambil menutuplan tudung jubahnya.

Duo Vargas menyambutnya dalam sunyi saat ia menapakkan kaki di atas altar. Dengan lirikan mata hazel cerah dari kedua Italian yang lebih pendek darinya itu, Alfonso sudah tahu kalau sang ketua telah berdiri di atas mimbar utama altar.

"Kita semua sudah berkumpul."

Ujar seorang pria di atas altar utama, diikuti suara riuh orang-orang di sekitar Alfonso. "Seperti yang kita tahu, malam ini, kita akan mengadakan Misa Hitam." Ujarnya, disahut oleh suara bahagia dari para pendegarnya. "Kita akan mendapat perlindugan dari Lucifer sekarang, berbahagialan, kalian!"

"Bersyukurlah kita mempunyai Iblis yang dapat melindungi kita dari segala kesulitan, wahai pengikutnya!"

Tawa bahagia nan bangga berkoar di seluruh ruangan, termasuk berasal dari Feliciano Vargas dan Lovino Vargas. Sementara itu, Alfonso memutar bola matanya dan melirik gusar ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Sekarang," sang pria beriris biru terang mengangkat cawan berlapis emas di genggaman tangannya. "saatnya kita memulai Misa Hitam kita!"

Alfonso memandang tak suka ke arah salib terbalik yang dipasang di altar utama.


—Tarot Cards—


Agen Heracles Karpusi menguap lebar-lebar.

Di sampingnya, agen Arthur Kirkland mengecek sesuatu di ponselnya. Mereka berdua menatap ke arah sebuah bangunan apartemen yang menjulang tinggi di hadapan mereka. "Oi," Kirkland menggaruk pipinya seraya menoleh ke arah Karpusi yang nampak sedang menahan kantuk beratnya. "di sini?"

"Yah ... begitu kata Inspektur, kan?"

Kirkland menghela nafas panjang dan menyumputkan tangannya di dalam saku celana. "Kalau begitu ayo, git." Melirik sekali lagi ke arah bangunan apartemen klasik di hadapannya. "Waktu kita tak banyak."

Agen Karpusi mengangguk samar sambil setengah malas melangkahkan kakinya menuju bangunan itu. Naik beberapa lantai, resepsionis mengatakan bahwa sebelumnya ada beberapa orang juga yang mencari Gilbert Beilschmidt. Mungkin kawannya, Kirkland sendiri tak mau tau dan malas mencari tahu.

Jemari berbalut sarung tangan coklat milik Arthur Kirkland memutar kenop pintu alumunium yang ada di pintu kamar milik Beilschmidt. Pintu merah marun itu terbuka, menampilkan kamar apartemen mewah yang sedikit berantakan. Tipikal laki-laki yang hidup melajang tanpa keluarga.

Kirkland membawa dirinya masuk ke dalam kamar itu, diikuti Karpusi di belakangnya. "Aku akan cari ke kamar itu." Karpusi berujar pelan, melangkah masuk ke arah pintu kamar tidur bercat kuning kayu.

"Hm ..." Kirkland mendesah pelan, mengeluarkan kamera miliknya dan memotret keadaan kamar Beilschmidt. Bukan salahnya juga bahwa ia meletakkan banyak sekali ekspetasi pada prediksinya bahwa Beilschmidt berada jauh dari tanah Britania Raya. Foto-foto sang albino dengan latar belakang tempat-tempat bersejarah di dunia sudah membuktikan satu fragmen dari eksistensinya.

Zambrudnya melirik ke arah meja di depan televisi plasma milik beilschmidt, memasukkan kembali kamera digital ke saku, Kirkland duduk di atas sofa hitam-putih dan meraih sebuah map di atas meja. Perlahan, dibukanya map bersampul merah terang itu.

Satanic Church.

Gereja Setan.

Anggota MI6 itu menyandarkan punggungnya di sofa empuk dan mulai membuka lembaran demi lembaran kertas yang ada di map itu. Sepertinya Beilschmidt bukan hanya seorang sejarawan yang memberi keterangan historis pada media yang haus berita, namun sepertinya targetnya adalah seseorang yang tertarik pada konspirasi sejarah.

Gereja Setan didirikan di San Fransisco, California, pada malam Walpurgis 30 April 1966 oleh Anton Szandor LaVey. Kirkland menaikkan sebelah alisnya, kembali membalik lembaran kertas putih yang ada di dalamnya. Pada tahun 1950-an, Anton LaVey membentuk sebuah kelompok yang dinamakan The Order of the Trapezoid, yang kemudian berubah menjadi badan pengurus Gereja Setan.

"Hng—"

"Aku tidak menemukan apa pun yang mencurigakan."

Suara agen Karpusi membuatnya mengalihkan fokus dari bacaan itu.


—Tarot Cards—


Roderich Edelstein mengitari altar utama Vatikan dengan gusar. Feliks Łukasiewicz—yang sedari tadi memerhatikan sang Lord mondar-mandir—mengeryitkan dahinya seraya berujar, "Apa yang mengganggumu, Lord Edelstein?"

Kaget, Edelstein mendongak dan menjawab gugup, "Sesungguhnya," ia menggigit bibir bawahnya. "saya mengkhawatirkan sesuatu hal yang sangat penting." Ujarnya, membuat Łukasiewicz mengangguk mengerti.

"Tenanglah, Lord Edelstein." Ujar Łukasiewicz, turun dari altar utama Katedral Vatikan dan menghampiri sosok berjubah putih itu. "Semua akan berjalan dengan baik, yang bisa kita lakukan hanyalah memanjatkan doa." Ujarnya, tersenyum lembut pada Edelstein.

Edelstein mengangguk pelan. "Ya ... kurasa juga begitu." Ujarnya, tersenyum balik ke arah Łukasiewicz, lalu ia berjalan ke arah deretan kursi di dalam Vatikan, hendak duduk di atasnya. "Sampai jumpa lain waktu?"

Łukasiewicz tertawa pelan dan mengangguk samar, "Yesus memberkatimu, Lord Edelstein." Ujarnya.

"Yesus memberkatimu, Łukasiewicz."

Namun di dalam lubuk hatinya, ia merasa risau. Perlahan, ia meraih kalung salib di lehernya.

Bapa, lindungi kami semua.


To Be Continued


Yaaak, rasanya fic ini makin berat saja.

Apa saya harus ganti rating? =w=" saya minta pendapat Anda semua, deh ... soalnya saya juga bingung dalam nentuin rating. Dan ... gimana chapter ini? Makin ribet, yah/? Aduh ... maaf deh, saya gak tau saya bakal se-enjoy ini dalam mengerjakan fic gak jelas satu ini, jadi ... pengaruh mempelajari sejarah Eropa dan mengetik fic ini ... #cough tapi saya gak bermaksud nge-bash loh ...

Eh, udah tau kan? Si Alfonso itu termasuk anggota apa? Saya belum masukin aliran Freemason ke sini, saya gak tahu bakal masukin atau engga, soalnya begini aja udah puyeng =n=p

Duh, maaf deh ... jadi makin ribet, ya? Tapi ... alurnya udah mulai kebaca, kan? Penjelasan soal Ksatria Templar dan Perang Salibnya ... mudah dimengerti kah? Rencananya, di chapter depan ... saya bakal ngejelasin tentang Ksatria Teutonik. Gimana? Lanjut ga fic ini?

Kalau ada yang ingin bertanya soal fic ini, silahkan kontak saya di PM, E-mail, atau ... terserahlah ._.

Review? Flame—saya tau chapter ini pantes banget di-flame—silahkan?

Sincerely,

Nekoya Chevalier