Tarot Cards: Ace Card for Destiny


Tubuh Ivan dan Gilbert sama-sama membuat suara keras saat bertubrukan dengan tanah.

Keduanya menghela nafas panjang, sama-sama berusaha mengaktifkan saraf parasimpatik masing-masing untuk menormalkan detak jantung yang memburu. Tubuh mereka basah oleh keringat, tak menghiraukan udara dingin Rusia yang menusuk kulit. Ivan dan Gilbbert masih merasa panas luar biasa.

"Kurasa kita sudah aman, entahlah." kata Gilbert disela deru nafasnya. Ivan menoleh, menghapus keringat di dahinya dan menyandarkan diri di dinding pucat tepat di belakangnya. Gilbert tersenyum lemah, memilih untuk bersandar pada tubuh kokoh Ivan di sampingnya.

"Serius, aku mulai curiga kau ini kiriman pemerintah atau apa." desis Ivan, membuka mata untuk melihat matahari yang belum juga terbit. Kondisi yang sangat biasa di Rusia saat kau menanti matahari sementara matahari itu tak jua terbit.

Gilbert tertawa, suaranya terdengar parau. "Kau kebanyakan nonton film Amerika, tau." katanya.

Dan tepat saat Ivan mulai terlihat santai, sebuah benda menggelinding ke depan mereka.

Tubuh keduanya kembali menegang.

.

.

BAGIAN IV

BackGroundMusic: Headphone Actor © Jin ft. LiSA

.

.

"Aku bisa panggil polisi, loh?"

Damian menaikkan sebelah alisnya, rokok terakhirnya sudah berakhir di atas lantai. Di depannya, Francis Bonnefoy masih menyilangkan tangan di depan dada sembari memandangnya jengah.

Jangan ditanya, Damian juga jengah. "Ya, ya, silahkan saja."

Dammit, Francis juga tahu kalau itu percuma. Ia menyesali keputusannya pindah ke Rusia untuk beberapa minggu. Padahal ia bisa santai-santai dirumah bersama gelas-gelas wine yang sudah tua. Tapi dia malah terjebak kasus menegangkan dan membingungkan kawan lamanya. Ditambah lagi ia harus berurusan dengan Nederlanden jangkung berwajah datar yang kelihatannya galak sekali.

Uh, ia tak pernah suka orang Belanda. Sudah kasar, pelit, tidak pernah mengerti yang namanya passion pula.

"Aku yakin kau kenal Gilbert Beilschmidt?"

Kepala Francis mendongak kaget mendengar suara benada rendah dari hadapannya. "Eh-uh, ya, dia teman satu jurusanku waktu di Harvard." percuma berbohong, Francis, percuma. Ia mengingatkan dalam hati.

Damian nampak tak peduli. "Dia tahu kau ada disini?"

"E-eh, kukira tidak, aku hanya liburan disini, jad-"

"Tidak ada tanda-tanda taget kita, sir!" salah seorang prajurit hitam-merah itu melapor. Seragamnya nampak sedikit berantakan karena bergerak kesana-kemari. Francis menoleh penasaran dan menghela nafas perlahan.

"Ck," Damian berdecak, membalikkan tubuhnya dan mulai melangkahkan sepatu boots-nya. "Ayo kita kembali. Percuma mencari yang sudah tidak ada." katanya. Dan sebelum Francis mencerna apa yang dikatakan oleh sang Belanda, Damian kembali berucap.

"Sekali nanti kau menyusulnya, sampaikan pesan ini 'Cahaya dari kubah suci menunggumu, para pemalsu yang haus darah akan terus berusaha menjadikanmu sesembahan'."

"Eh, apa?"

Namun Damian dan pasukannya sudah masuk ke dalam van hitamnya.

.

.

Williams memandangi langkah ketiga bawahannya yang mulai berjalan menjauhi kapel miliknya.

Mata sewarna ametis-nya kemudian menatap sebuah buku di atas meja yang isinya tentang ketentuan-ketentuan menjadi seorang Skandinaves. Ia menghela nafas dan menyandarkan punggug di kursi bertatahkan beludru burgundinya dan menempelken punggung tangan di pipinya.

"Ah, sayang sekali bukan aku yang mengurus kasus ini. Padahal aku ingin melihat buruanku yang satu ini bermain petak umpet denganku." katanya sambil tertawa pelan, menyilangkan kakinya dan menatap langit-langit kantor utama Skandinaves bagian Eropa Utara dengan seksama.

"Yah, nanti juga kalau keadaannya diluar kendali, Magnus akan menyuruhku mengambil alih." ia berbisik pada diri sendiri, merilekskan diri di atas kursi. "Ia akan sadar sebentar lagi, mengirim kutu-kutu seperti mereka takkan mempan mengatasi seorang Gilbert Beilschmidt." matanya menatap ponsel di meja.

"Ya kan, mantan kekasihku tersayang?"

.

.

Itu cuma sebuah bola.

Gilbert yang pertama menyadarinya, namun Ivan masih memasang pandangan awas saat sebuah siluet datang ke arah mereka. Ivan sudah bersiap-siap untuk membawa Gilbert berlari lagi sebelum akhirnya menarik nafas lega.

Keduanya mengintip ke balik dinding untuk melihat dua orang anak kecil menatap mereka takjub.

"Waaaa! Ada manusia salju!"

"Eh?" Gilbert mengerjap-ngerjapkan mata delimanya. Si gadis kecil bertudung merah muda tersenyum lebar sambil menunjuk Gilbert dengan telunjuknya. "M-manusia salju?"

Gadis kecil itu tersenyum makin lebar. "Iya! Habis, kakak putiiiiih sekali! Itu, di atas kepala kakak juga salju, kan?" gadis itu makin bersemangar, bajunya yang bernuansa hitam-merahmuda agak terangkat saat ia melompat-lompat di depan Gilbert.

"O-oh ..." tangan Gilbert meraba-raba rambut peraknya dan tersenyum pada gadis itu sebelum akhirnya bejongkok untuk menyamakan tinggi dengan si gadis kecil. "Aku cuma albino, itu saja.."

"Al-bi ... No?"

Kepala Gilbert mengangguk. "Kulitku agak lebih pucat dari orang kebanyakan."

"Yah ..." gadis itu kelihatan kecewa. "Kukira kakak manusia salju ..."

Seorang anak yang sedari tadi diam maju beberapa langkah mendekati si gadis kecil dan menyenggol lengannya. "Aisyah, jangan berbicara dengan orang asing!" katanya dengan aken timur tengah kental.

"Sudahlah, Nur! Eh-kalau begitu, kakak yang disana itu pacar kakak ya?!" tanya si gadis yang tadi dipanggil 'Aisyah'. Ia menunjuk Ivan dengan telunjuknya seperti tadi ia menunjuk Gilbert.

Wajah Gilbert kembali memerah, namun ia tak menjawab. "Waa! Kalian cocok sekali, kakak yang cantik dengan kakak yang tampan!"

Tanda tanya besar muncul di wajah Gilbert. "Cantik?" tanyanya ragu.

Aisyah tersenyum. "Iya, kakak cantiiiik sekali!"

Sebuah batu besar baru saja menimpa kepala Gilbert. Sementara itu, Ivan tertawa di belakang kedua gadis kecil itu melihat Gilbert yang sekarang tengah memandang tanah dengan pasrah.

"Aisyah! Nur! Sudah kakak bilang kalau bertemu orang lain, beri salam!"

Kedua gadis kecil itu berlari ke belakang seorang wanita yang baru muncul dari pintu di salah satu rumah yang ada di jajaran bangunan rusak. Gilbert menoleh dan memiringkan kepalanya. "Ah!" katanya, ikut berlari ke hadapan wanita itu.

"Nona Annisa, kalau aku tak salah?" tanya Gilbert, sedikit menundukkan kepalanya di depan wanita itu. Ivan mengeryit, sebelum akhirnya berjalan mendekat ke arah mereka berdua. "Waktu itu kita bertemu di ... Eh, Wina? Aku lupa ..." kata Gilbert seraya menggaruk kepalanya.

"Roma. Sekitar empat tahun lalu di Roma, saat konferensi PBB." jawab si wanita. Ivan mengerutkan dahi. "Saya tidak menyangka akan bertemu dengan Tuan Beilschmidt di sini, dan Tuan ...?"

Ivan tergelak. "Uh, Braginski. Ivan Braginski."

"Braginski. Kalau boleh saya tahu apa yang kalian lakukan di desa kecil seperti ini?" tanya Annisa -si wanita- dengan senyum ramah di wajahnya. Ivan melirik Gilbert, sementara sang German hanya mengangkat bahu dan nyengir lebar.

"Eh, anu, bisa bantu kami sedikit?"

.

.

Baru beberapa jam Mathias tidak tidur, tapi rasanya matanya lelah sekali.

Ia bahkan menyadari supernova yang menunggunya bilamana ia terus membiarkan keambiguitasan menggantung, tapi rasanya untuk bergerak meminum anggur merahnya saja ia sudah kepayahan.

Kalau tahu begini akhirnya, tak akan ia mengiyakan permintaan teman lamanya itu. Sialan, si Carriedo itu membodohiku. Pikirnya kesal. Kenapa menangkap target semudah kelinci putih saja jadi seperti misi menangkap singa putih, sih? Padalah si Latin sialan itu cuma minta agar targetnya dibawa, tapi masalahnya malah membludag seperti ini.

Lebih mudah membunuh seorang presiden kalau begini ceritanya, geram Mathias dalam hati.

Ia paling malas berurusan dengan masalah agama. Sebagai seseorang yang tumbuh dalam lingkungan kristen yang taat, Mathias termasuk orang yang cuek terhadap apa yang disebut sebagai kepercayaan itu. Ia lebih memilih untuk tak menyangkal keberadaan Tuhan namun tak pernah sekalipun datang ke Gereja di Misa minggu pagi bahkan di hari Natal.

Makannya, jarang-jarang ia mau berurusan dengan masalah keagamaan. Lebih baik membunuh seseorang daripada mengacaukan agamanya. Pernah sekali Mathias berurusan dengan Vatikan, disitu ia bersumpah ia takkan sudi berurusan lagi dengan gereja pusat sialan itu.

Teleponnya berdering.

"Halo? Ya-apa? Kau belum-ah! Kukira kau bisa kuandalkan, Bondevik? Baiklah, baiklah, tarik Zwingli mundur. Aku tidak mau kehilangan agen lapangan terbaikku hanya karena hal sepele macam kasus ini. Ya-dengar, Oxenstierna akan terus bersamamu, jadi-ya, ya."

Eksekutor Lukas Bondevik baru saja menelepon. Kehilangan target, apa yang harus saya lakukan, blablabla. Ah, ia bingung.

Apa ia harus mengutus Williams?

Ah, tidak tidak ... Eksekutor gila satu itu bisa-bisa malah membunuh Beilschmidt ...

Tapi ... Kalau tidak ada pilihan lain-

"Halo, Matthew?"

.

.

TBCTBCTBC

.

ADUH HAI SEMUANYAAAAA!

MAAF YA SAYA HIATUSIN NI FF LAMA BINGITS.

Hepi niu yer gais! Maaf setelah dua tahun saya baru bisa ngapdet ni FF! Ini cuma chapter opening saya aja, soalnya saya harus membiasakan diri dengan cerita ini lagi. Ini bisa dibilang cuma chapter dimana pertanyaan-pertanyaan baru mulai muncul lagi.

Oohohoho, gimana gimana?

Pokonya saya minta maaf banget gais. Saya lagi ngetik novel saya, jadi ya, maklumin saja. Tapi saya janji, kali ini mah beneran, bakal apdet bulan ini. Saya akan mulai membuka kotak jawaban soal FF ini.

RIPIU YA GUYS!

.

.

XOXO,

Yacchan