Pernah sekali, Seijuurou menerima beberapa tangkai lilac putih yang sepertinya baru saja dipetik dari tanaman asalnya.
"U-untukmu..." gadis kecil itu menyodorkannya dengan malu-malau. Seijuurou kecil yang tidak tahu menahu tentang bunga, akhirnya menerima saja dan memberi balasan berupa senyuman tipis; tanda bahwa ia senang akan bunga itu.
"Terima kasih. Bunganya indah. Akan kuberikan pada okaa-san," ujarnya seraya menimang-nimang bunga mungil berwarna putih itu.
Sementara gadis di hadapannya ini tengah menunduk; menyembunyikan rona merah wajahnya dan kegugupannya kala ia berhadapan dengan sang pujaan hati.
..
..
..
Hanakotoba
―Ketika bunga berbicara―
..
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Romance, Friendship
(Kindergarten ver.)
..
..
2) Akashi Seijuurou― White Lilac
..
..
..
"Tadaima."
"Okaerinasai." Langkah kaki yang pelan terdengar; seorang wanita yang teduh pancaran matanya, menatap sang putra yang sedang melepas tali sepatu dan menenteng biolanya untuk masuk ke dalam kamar. Irisnya menangkap sesuatu yang tak biasa. "Sei-chan, bunga dari mana itu?"
Seijuurou menurunkan pandangannya pada rumpun lilac yang sedang ia genggam, lalu menunjukkan bunga itu pada ibunya. "Ada gadis yang memberikanku ini. Bunganya bagus, jadi aku terima saja. Okaa-san suka?"
Akashi Shiori tertawa pelan―khas sekali aura keibuannya. Tangannya terulur untuk mengelus pelan surai crimson putranya. "Iya. Bunganya cantik. Ayo letakkan di vas," ajaknya, kemudian menggandeng Seijuurou ke ruang tengah dan melakukan hal yang ia ucapkan tadi.
"Wah..." Kini bunga itu telah ditempatkan pada vas kaca yang bening; membuat Seijuurou terkagum-kagum dengan perpaduan antara beningnya wadah itu dengan warna mahkota lilac yang ia bawa tadi. Akashi Shiori duduk di sofa, di sebelah putranya yang tengah asyik mengagumi lilac itu. "Sei-chan pasti punya fans ya..."
Ucapab itu membuat Seijuurou menoleh dan memandang heran ibunya. "Fans? Tapi kan Sei bukan artis."
"Tapi bagi gadis itu Sei-chan pasti artisnya, makanya dia ngefans sama Sei-chan." Wanita itu tersenyum lembut, sementara Seijuurou masih tetap tidak mengerti. "Hm... maksudnya dia suka sama Sei, begitu?"
"Ya, sepertinya." Akashi Shiori lagi-lagi tersenyum. Merasa geli karena anaknya ditaksir pada usia semuda ini. Yah, namanya juga anak kecil, apa-apa yang disuka dilabeli sebagai cinta pertama. Padahal belum tentu begitu.
Hanya saja ia sebenarnya ingin tahu siapa gadis kecil yang memberikan bunga lilac itu pada putranya.
Seijuurou hanya terdiam dan memandang bunga itu.
..
..
..
"Lho, sudah mau mati."
Seijuurou membawa vas yang berisi bunga lilac itu pada ibunya seminggu kemudian. Tampak bahwa kondisi bunga itu sudah tak segar lagi seperti pertama ia membawanya pulang.
Akashi Shiori yang saat itu tengah mencuci piring, membasuh tangan dan akhirnya meraih vas yang tadi dipegang Seijuurou; mengamati bunga itu. "Mau bagaimana lagi, karena dia tidak ditanam di tanah dan memiliki akar, jadi masa segarnya hanya sebentar, Sei-chan." Ia mengalihkan pandangan pada putranya yang menatap bunga itu dengan sedikit sendu. Akashi Shiori tersenyum tipis.
"Kita buat menjadi hiasan kartu pos saja ya."
Ucapan itu membuat Seijuurou terperangah. "Memangnya bisa?"
Sebuah anggukan tanpa ragu diberikan oleh ibunda. "Tentu. Dengan begitu bunganya akan tetap indah. Sei-chan juga bisa mengirimnya pada teman."
Beberapa menit setelahnya, mereka sedang sibuk menghias kartu pos dengan bunga lilac itu di ruang keluarga. Seijuurou dengan hati-hati menata setangkai bunga lilac itu, lalu mengemasnya dengan pelan; takut kelopaknya akan lepas. Sementara ibunya sudah siap dengan alat cetak mereka.
"Sei belum bertemu sama gadis itu lagi."
Akashi Shiori tidak menoleh, tetapi ia mendengarkan cerita putranya. "Sei-chan tahu namanya?"
"Tidak." Seijuurou menatap satu bunga lilac yang telah ia susun pada kertas karton bercorak. Tinggal ditekan dengan alat press dan dihias, lalu ia bisa menggunakannya setelah itu. "Dia jarang bermain di sekitar sini, tapi kadang kalau bertemu, dia suka senyum ke Sei."
Seijuurou menghitung berapa banyak kartu pos yang mereka buat hari itu. "Tapi pasti nanti Sei ketemu sama dia. Hm... dia cantik seperti okaa-san." Ia memalingkan wajahnya dengan wajah yang sedikit merona, sedangkan Akashi Shiori tertawa pelan dan mengelus pucuk kepala anaknya.
"Kalau ketemu dengannya, Sei-chan harus kasih satu pembatas buku ini ya. Makanya ini harus dijaga baik-baik sama Sei-chan."
Seijuurou menyunggingkan senyum, lalu mengangguk. "Sei pasti ketemu sama dia! Soalnya dia mirip okaa-san. Sei suka sama perempuan yang mirip okaa-san!"
Akashi Shiori tertawa pelan, tak menyangka jika anaknya juga telah jatuh cinta pada gadis yang mengagumi Seijuurou.
..
―Lilac putih: cinta pertama
..
End
A/N:
Maaf atas keterlambatan update. Keasyikan sibuk di dunia drama/? (re: RP) /nak
Chapter 3 akan secepatnya di update
