"Shin-chan~"

Yang dipanggil menoleh, lalu tak lama kemudian seorang gadis berdiri di hadapannya seraya membawa beberapa tangkai krisan putih. Midorima mengernyitkan alis.

"Kenapa kamu bawa bunga krisan putih nanodayo? Kau kira aku ini orang meninggal apa?"

Takao mengerucutkan bibir. "Ih sok tau. Yang untuk orang meninggal itu kan biasanya lily putih!"

(Takao-chan sayangku, justru kau yang sok tahu nak...)

Midorima hanya mengangkat bahu, lalu memfokuskan diri pada buku yang sedari tadi ia baca; Panduan Memasak Kudapan Tradisional Jepang―omong-omong, itu lucky itemnya. "Kalau tidak ada keperluan pergi saja. Kau menggangguku Takao."

"Eeeh?" Takao merengut dan menatapnya dengan mata (yang dibuat) berkaca-kaca. "Aku kesini kan buat kasih bunga ke Shin-chan, humph!" Kali ini gadis kecil itu menggembungkan pipi. Midorima sukses menoleh pada lawan bicaranya.

"Krisan itu? Untuk apa, aku tak butuh nanodayo."

Semangat Takao jadi mengendur, ekspresi wajahnya mendung. "Ya sudah, aku kasih ke Murasakibara-kun―"

"Baiklah, sini bunganya!"

Takao menoleh dengan terkejut, lalu akhirnya senang. "Yeay aku suka Shin―"

"M-maksudnya kalau dikasih ke Murasakibara itu bahaya! Nanti waktu dimakan dia keracunan―e-eh, aku gak peduli nanodayo! Pokoknya sayang aja kalau bunganya dikasih ke orang kayak dia!"

..

..

..

Hanakotoba

Ketika bunga berbicara

..

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Romance, Friendship

(Kindergarten ver.)

..

..

3) Midorima Shintarou x Takao Kazuna (Fem!Takao)―

White Chrysanthemum

Sekarang, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan dengan krisan pemberian Takao.

Tiga tangkai bunga itu tergeleletak di atas meja belajarnya begitu saja. Setiap kali Midorima mengambil krayon untuk mewarnai gambarnya, ia selalu menoleh pada bunga itu.

"Tsk. Jelek nanodayo," gumamnya saat melihat sendiri hasil karya yang diwarnai tadi. Kesal, lelaki itu melempar pelan krayon yang ia pakai untuk mewarnai. Kini Midorima fokus sepenuhnya pada bunga itu. Selama beberapa menit, ia terus memandanginya.

'A-aku mencintaimu, Shin-chan!'

Ayolah, mereka baru saja bertemu setahun di taman kanak-kanak. Masih terlalu kecil untuk mengungkapkan perasaan. Berani sekali menggunakan kata 'cinta' untuk mengekspresikan perasaan.

Tapi ya mau bagaimana lagi, namanya juga anak-anak... dengan polos mereka akan mengungkapkan isi hati secara gamblang; tak peduli reaksi yang akan keluar.

Midorima menghela napas, memutuskan untuk membuang krisan itu ke tempat sampah di rumahnya.

..

..

..

"Lho, bunga siapa ini?"

Seorang wanita bunga berjalan menuju ruang makan dengan setangkai bunga krisan tergenggam. Midorima yang sedang menyantap daging ikan gorengnya untuk sarapan pagi itu, hampir tersedak tatkala irisnya menangkap bunga yang kemarin diberi Takao untuknya.

"...Aku, nanodayo."

Sang kepala keluarga memandangnya heran, namun tak mengeluarkan pertanyaan yang terbesit dalam benaknya. Sementara ibu Shintarou jadi sedikit antusias. "Oh, dari siapa?" itu, adalah pertanyaan yang tadinya hendak diajukan oleh pria dewasa itu, namun didahului oleh sang istri.

Shintarou kecil mengalihkan pandangannya, dengan gugup membenarkan kacamata. "T-takao―"

"Oh, Takao-chan? Manis sekali memberi bunga ini padamu." Sang ibu nampaknya tak peduli jika anak semata wayangnya ini telah menginjak masa puber lebih cepat―tertarik dengan lawan jenis. Tetapi yang namanya Midorima Shintarou, tentu akan mengelak.

"Dia tidak manis, nanodayo." Ia mulai gusar. "Takao hanya iseng."

Sekarang, tangan lembut wanita itu mengusap pelan kepala anaknya dengan sayang. Seraya sebeah tangannya menyodorkan bunga krisan itu. "Akan kita simpan bunga ini di dalam vas agar tidak layu. Takao-chan tentu akan kecewa jika Shintarou-kun membuangnya." Senyum tulus terukir, mau tidak mau lelaki kacamata itu terpaksa menurut.

..

..

..

Besoknya, Takao mendapat kejutan.

"Lucky itemku untuk hari ini," Midorima menunjuk vas bunga kecil yang ia bawa. "Adalah vas bunga dan warna putih."

"Tapi Shin-chan. Vas itu warnanya hijau."

"Urusai nanodayo." Mendapat ucapan itu, tentu membuat Takao sebal. Midorima melanjutkan perkataannya, "Karena warna putihnya berasal dari krisan putih yang kau berikan kemarin nanodayo. Syukurlah aku tak perlu memetik bunga dari halaman rumah Hyuuga-sensei yang akan berakibat dimarahi olehnya." Ia berujar, sedikit merinding membayangkan kejadian tiga minggu lalu dimana dirinya memetik krisan yang terjulur ke luar pagar sebagai lucky item, dan dimarahi pria kacamata itu.

Sejak saat itu ia bertekad untuk tidak melirik krisan putih yang menggugah untuk dipetik. Bukan hak miliknya―kata Hyuuga waktu itu.

Bel tanda masuk berbunyi. Pelajaran pertama adalah berhitung. Midorima melangkah dengan tenang sementara Takao mengekor dengan senyum kaku.

"Ada apa nanodayo?" tanya Midorima setelah mereka duduk berdampingan. Hyuuga Junpei masuk, membawa beberapa mainan yang menjadi alat peraga. Sementara Takao tertawa kaku.

"Gomen ne, Shin-chan. Hyuuga-sensei yang memberi krisan itu padaku. Lalu aku beri saja untuk Shin-chan."

Midorima terdiam sesaat, lalu menjatuhkan pandangan pada setangkai krisan putih yang masih mekar. Tiba-tiba saja jadi kurang bersemangat dengan pelajaran pagi itu.

Di sebelahnya, Takao menertawai lelaki yang ia sukai itu.

..

Krisan putih: Kebenaran

..

End

..


..

Yah, telat update lagi- maafkan... m(_ _)m

Sebenarnya yang ini sudah diketik lama, tapi berhenti di tengah jalan. Makanya ada bagian yang maksa banget. Sekali lagi, maaf...

Info aja /? chapter selanjutnya chara-chara akan dalam versi remaja junior high schooler~