Halo lagi ^^ selamat datang di chapter 2 fanfic saya ^^ Semoga tidak terlalu menunggu lama ya xD Terimakasih bagi yang sudah membaca maupun meninggalkan jejak nya di kolom review ^^ terimakasih bagi yang sudah kasih masukan ^^ aku summon aja: Hikari Syarahmia, Go Minami Asuka Bi yang sudah merequest juga dan Rika Miyake ^^

Daripada bertele-tele aku lanjut aja ya fanfic nya ya… Selamat membaca ^^

Hope

By Yumiharizuki

Vocaloid bukan punya saya, tapi punya Crypton Future Mediadan Yamaha

Warning: masih abal, banyak typo, mungkin OOC, cerita kurang greget dan legit (?), dll

Note: Untuk amannya mungkin Rate nya aku ambil T plus (Syukur-syukur masih bisa T)

Part 2

Miku sudah bersiap di hari itu. Ia berdandan cantik dan rapi. Wajahnya memang cantik natural walau tanpa make up. Aura nona muda nya masih ada walaupun kini Miku sudah bukan seorang nona lagi. Miku mematut diri di depan cermin yang memiliki tinggi seukuran tubuhnya. Terpantul bayangan dirinya yang teramat cantik dengan balutan gaun sederhana berwarna peach, rambut panjangnya yang berwarna turquoise itu dibiarkan tergerai bebas. Miku tersenyum kecil. Keadaannya sudah agak lebih baik setelah selama seminggu tinggal bersama pasangan suami istri itu. Mereka sudah seperti orang tua Miku yang telah merawatnya dengan baik dan penuh kasih. Miku bahkan diperlakukan seperti anak kandung mereka sendiri. Sejujurnya Miku merasa bahagia bisa tinggal bersama mereka, walaupun hari ini ia akan pergi meninggalkan orang-orang yang sudah berbaik hati merawatnya itu.

Sebuah ketukan pelan terdengar di pintu kamar Miku tersebut.

"Miku, kau sudah siap?" tanya sang wanita paruh baya dari luar kamar.

"Iya bu," sahut Miku sejenak.

Miku kembali melihat pantulan dirinya dalam cermin. Pandangan matanya terfokus pada kalung liontin yang dikenakan di lehernya. Miku sedikit berpikir mengenainya. Apakah tidak apa-apa jika ia terus mengenakan liontin itu? Apakah tidak sebaiknya Miku menyimpan liontin itu tanpa seorangpun mengetahuinya mengingat kalung itu adalah benda yang teramat penting? Akhirnya Miku pun memutuskan untuk melepas kalung itu dan menyimpannya di tas dengan alasan keamanan. Kemudian Miku pun segera keluar dari kamarnya dan bergegas menemui kedua orang tua yang sudah merawatnya.

"Kau cantik sekali hari ini," ucap sang pria paruh baya saat melihat kedatangan Miku. Miku hanya bisa tersenyum simpul menanggapi pujian tersebut.

"Tentu saja. Dia kan putri kita," timpal sang istri. "Putri angkat kita,"

"Ano… Katanya hari ini ada yang mau menjemput Miku ya, bu?" tanya Miku. "Siapa orangnya?"

"Oh iya. Ibu lupa! Katanya bibi Merli akan datang untuk menjemputmu. Ia akan tiba sebentar lagi," ucap sang istri riang. "Akhirnya sebentar lagi Miku akan bertemu dengan keluarga Miku,"

"Iya, sudah lama sekali Miku tidak bertemu dengan bibi Merli. Miku tidak menyangka bibi Merli akan datang menjemput Miku. Padahal bibi sedang sibuk di Cina," kata Miku senang.

Pria dan wanita paruh baya itu ikut tersenyum melihat kebahagiaan Miku. Sebenarnya mereka cukup berat melepas kepergian gadis kecil yang sudah mereka anggap sebagai putri mereka sendiri. Mereka justru ingin Miku selamanya tinggal bersama dengan mereka. Namun mereka sadar kalau Miku membutuhkan kerabat dekat yang sedarah dengannya. Dibandingkan keberadaan mereka yang tidak memiliki hubungan darah dengan Miku.

Tiba-tiba telepon rumah mereka berdering. Dengan cepat, sang wanita paruh baya berlari dan mengangkat telepon. Miku mendengarkan dari jauh dengan harap-harap cemas. Tak lama setelahnya, telepon pun terputus. Sang wanita paruh baya kembali dengan wajah yang sedih.

"Ada apa, bu?" tanya Miku penasaran sekaligus cemas melihat perubahan ekspresi dari wanita itu.

"Miku. Maaf karena ibu harus mengatakan ini. Bibi mu tidak jadi datang menjemputmu. Baru saja ia menelepon. Katanya urusannya di Cina masih belum selesai dan tidak bisa ditinggalkan. Maaf karena sudah membuatmu kecewa," ucap sang wanita paruh baya itu kecewa.

Miku tidak dapat menyembunyikan perasaan kekecewaannya terhadap hal tersebut. Ia sudah menantikannya sejak lama begitu mendapatkan kabar mengenai bibi nya yang akan datang. Tapi ternyata bibinya gagal datang. Masalahnya bukan hanya sekali hal itu terjadi. Sudah hampir sekitar sepuluh kali keluarganya gagal menjemputnya. Hal yang sangat aneh sekali. Apalagi kebanyakan dari mereka membatalkan janji secara tiba-tiba bahkan ada yang tidak bisa memberikan alasan yang jelas untuk itu. Seolah-olah ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk membawa Miku pergi.

"Permisi…," ucap seseorang.

"Iya," sahut wanita paruh baya. Ia membuka pintu rumahnya dan terlihatlah sosok wanita berambut pendek dengan gaun merah yang tersenyum ke arahnya.

"Namaku Meiko, keluarga jauhnya Miku. Aku datang untuk menjemput Miku," kata wanita yang bernama Meiko.

"Ah… Begitu ya. Saya masih agak bingung karena kita belum pernah membuat janji sebelumnya. Biasanya kerabat Miku selalu menelepon terlebih dahulu untuk membuat janji," kata wanita paruh baya.

"Oh ya? Harus membuat janji dulu ya? Maaf aku tidak tahu," ucap Meiko sambil tertawa sedikit terkikik. "Tapi jangan khawatir, aku datang kesini untuk menggantikan Merli yang tidak bisa datang. Apakah Merli tidak memberitahukan kedatanganku?"

"Sepertinya tidak. Tadi Nyonya Merli seperti buru-buru sekali ketika menelepon. Mungkin ia sibuk," jawab wanita paruh baya.

"Hahaha, Merli memang begitu. Baiklah, bisa kuajak Miku pergi? Aku sudah tidak sabar untuk melepas rindu setelah sekian lama," ucap Meiko to the point. "Miku! Lama tidak bertemu denganmu! Apa kau merindukan bibi?"

Bukannya menyambut Meiko, Miku malah terlihat ketakutan. Ia justru bersikap waspada kepada Meiko. Ia bersembunyi dibelakang tubuh wanita paruh baya itu. Sang wanita paruh baya merasa bingung dengan sikap Miku.

"Miku, ada apa? Ini bibimu datang menjemput. Jangan bersikap begitu," kata wanita paruh baya itu.

"Hahaha, tidak masalah. Wajar ia bersikap begitu. Miku dan aku sudah lama sekali tidak bertemu. Apalagi aku bukan keluarga langsung dari keluarganya," kata Meiko sambil tertawa. "Bibi cuma mau datang menjemput. Karena bibi begitu merindukanmu. Nah ayo kita pulang ke rumah. Bibi akan memberikanmu makanan kesukaanmu yang dulu sering kita makan bersama, Lalu kita akan pesta minum teh bersama, bertemu dengan kerabat-kerabat. Pokoknya kita akan melakukan hal yang menyenangkan bersama-sama,"

Miku tetap diam di tempatnya. Ia masih terlihat ragu untuk ikut dengan Meiko.

"Ayo Miku, pulanglah bersama bibimu. Kasihan ia sudah jauh-jauh kesini hanya untuk menjemputmu tapi kamu malah bersikap tidak baik terhadapnya," bujuk sang wanita paruh baya.

Akhirnya Miku pun memberanikan diri untuk menghampiri Meiko tanpa bicara apa-apa. Sang wanita paruh baya segera memberikan tas Miku kepada Miku.

"Baiklah. Kami pergi dulu. Terimakasih untuk kalian berdua yang sudah menyelamatkan dan merawat Miku selama ini. Aku memiliki sedikit hadiah untuk kalian berdua. Semoga cukup untuk kebutuhan kalian sehari-hari," ucap Meiko. "Pelayan, segera bawa masuk!"

Para pelayan segera masuk dengan membawa barang-barang yang diberikan Meiko sebagai hadiah kepada suami istri itu. Mereka membawa satu peti besar yang isi nya uang koin emas. Kemudian berbagai hasil bumi pun turut diberikan sebagai hadiah kepada pasangan itu.

"Aduh, tidak usah repot-repot Nyonya," sang wanita paruh baya merasa tidak enak dengan pemberian itu. "Bukankah ini terlalu banyak untuk kami?"

"Tidak masalah. Ini semua tidak ada artinya dibandingkan dengan kebaikan kalian," kata Meiko. "Bahkan kalau memang masih kurang, aku akan menambahnya lagi,"

"Tidak Nyonya, tidak perlu," ucap wanita paruh baya itu.

"Baiklah kalau begitu. Kami pergi sekarang," kata Meiko sambil menggandeng Miku pergi.

"Tunggu," kata wanita paruh baya. Ia segera menghampiri Miku untuk terakhir kalinya dengan mata yang berkaca-kaca. Kemudian ia berlutut di depan Miku sambil memegang pundak gadis kecil yang dikasihinya itu. "Jaga dirimu baik-baik, anakku. Kami sudah menganggapmu sebagai putri kecil kami sendiri. Jangan pernah lupakan kami. Kau bisa kembali kapan saja ke rumah ini. Pintu rumah ini akan selalu terbuka kapanpun untukmu,"

"Iya ibu," ucap Miku yang juga ikut terbawa suasana sedih. Ia sampai menitikan air matanya.

Akhirnya Meiko pun membawa serta Miku pergi dari kediaman kedua orang tua paruh baya itu. Sepanjang perjalanan, Miku selalu menatap keluar jendela dengan perasaan yang tak menentu. Ini adalah awal baginya sebagai seorang anak yang sebatang kara. Miku melirik sedikit ke arah Meiko yang tengah duduk tenang di sebelahnya. Miku benar-benar merasa tidak mengenali Meiko. Apa mungkin benar apa yang dikatakan oleh Meiko kalau Miku dan dirinya pernah bertemu? Tapi Miku sama sekali tidak bisa mengingat hal itu. Sedikit memori mengenai kebersamaan mereka berdua pun sama sekali tidak ada dalam ingatannya.

Mobil yang membawa Miku pun kini sudah memasuki gerbang mansion mewah yang ada di pinggir kota. Mansion itu bergaya Eropa sama seperti rumah kediaman Miku yang telah habis terbakar. Miku turun dari mobil begitu pelayan membukakan pintu untuknya. Ia langsung melihat sekelilingnya dengan perasaan tak karuan.

"Ayo Miku, kita masuk," ajak Meiko sambil menggandeng tangan Miku.

Miku pun mengikuti Meiko tanpa berbicara sedikitpun. Perasaannya masih tetap sama. Ia masih merasa asing dengan Meiko dan belum sepenuhnya mempercayai wanita itu. Kedatangan Miku disambut serempak oleh para pelayan di mansion yang berjejer rapi mulai dari pintu masuk sampai anak tangga.

"Nah Miku, anggap saja seperti di rumah," kata Meiko sambil tersenyum. "Pelayan, antarkan Miku ke kamarnya,"

"Baik Nyonya," kata seorang pelayan wanita sambil memberikan hormat. Kemudian pelayan itu memberikan isyarat kepada Miku untuk berjalan mengikutinya.

Miku berjalan mengikuti pelayan tanpa banyak bicara. Ia justru sedang terhanyut dalam pikirannya sendiri. Anak tangga demi anak tangga telah ia tapaki. Ia sudah melewati beberapa koridor untuk sampai ke kamarnya. Sungguh mansion itu bisa membuatnya tersesat. Miku benar-benar membutuhkan pemandu. Untung saja pelayan itu dengan cekatan mengarahkan Miku. Hingga sampailah mereka di depan sebuah pintu berbahan kayu jati.

"Selamat beristirahat Nona Miku," ucap pelayan itu. Pelayan tadi segera memberi hormat dan lekas meninggalkan Miku sendirian di dalam kamar barunya.

Kini Miku benar-benar sendirian di tempat yang asing. Ia berada di dalam sebuah kamar dengan nuansa serba putih yang terkesan mewah namun minimalis. Meninggalkan perasaan nyaman pada diri Miku. Miku sedikit menggeliatkan badannya. Ia merasa sedikit lelah. Miku memutuskan untuk mandi. Dan Miku merasa sangat nyaman saat itu. Ia merasa seperti seorang tamu istimewa. Segala kebutuhannya telah dipersiapkan tanpa ia perintahkan. Ketika Miku sudah selesai membersihkan tubuhnya, di atas meja sudah tersedia bungkusan berisi pakaian. Miku segera mengenakan pakaian itu dan ia sangat puas mengenakannya. Sebuah gaun ber brand mewah dengan desain yang sederhana telah melekat cantik pada tubuh rampingnya. Sedikit sentuhan berupa pita di rambutnya membuat penampilannya bertambah manis namun elegan.

Sebuah ketukan pelan mengiterupsi kegiatan Miku saat itu. Seorang pelayan masuk ke dalam kamarnya seraya memberikan hormat.

"Nona Miku, Nyonya Meiko menyuruh anda untuk makan malam bersama," kata pelayan itu. "Nona sudah siap? Mari saya antar,"

"Iya," jawab Miku pendek.

Miku pun pergi ke ruang makan ditemani oleh pelayan. Ruang makan itu berada lumayan jauh dari kamarnya. Ketika Miku datang, Meiko sudah mengambil tempat di ruang makan itu. Ia duduk agak berdekatan dengan seorang laki-laki tampan berambut biru dan Miku sama sekali tidak mengenal siapa dia.

"Miku! Akhirnya kamu datang juga! Ayo kemari, duduk di dekatku," ucap Meiko riang.

Miku sebenarnya masih merasa sungkan terhadap Meiko. Namun ia kembali teringat kalau Meiko adalah keluarga jauhnya. Maka Miku harus bisa membiasakan dirinya. Miku akhirnya duduk persis di sebelah Meiko. Para pelayan segera melayani Nona baru mereka. Mereka menuangkan teh chamomile dan juga menghidangkan hidangan makan malam di piring sang Nona.

"Ini dia orang yang kuceritakan kemarin. Kenalkan ini adalah Miku Von Hatsune. Ia merupakan saudara jauhku," kata Meiko kepada laki-laki berambut biru yang sedang menikmati makan malamnya.

"Oh! Iya, aku kenal nama itu! Von Hatsune sedang ramai dibicarakan sejak seminggu lalu akibat insiden kebakaran itu kan? Aku turut menyesal terhadap peristiwa itu, Miku-san," kata laki-laki itu. "Oh iya, perkenalkan namaku adalah Kaito. Aku merupakan tunangan dari Meiko,"

"Saya Miku," kata Miku dengan sedikit senyum yang terkesan dipaksakan.

"Oh iya, aku penasaran. Kenapa ya hanya keluarga Von Hatsune yang mengalami kejadian seperti itu? Kudengar itu bukan kebakaran biasa. Apa mungkin ada yang diincar oleh penjahatnya? Mungkin seperti harta?" kata Kaito panjang lebar.

"Mungkin," timpal Meiko. "Oh iya Miku, maaf jika aku menanyakan ini. Tapi adakah hal yang kau ingat sebelum kebakaran itu terjadi? Misalkan saja seperti kedua orang tuamu yang mengatakan wasiat terakhirnya kepadamu?"

"Saya…," ucap Miku terbata.

"Ya… Ya? Katakan saja, jangan ragu. Karena aku sebagai wali mu harus mengetahui sedikit banyak mengenai keluargamu. Seperti apa saja asset keluargamu. Lalu berapa banyak peninggalan benda berharga yang diwariskan mereka kepadamu. Dan bentuk nyata benda berharga itu seperti apa? Karena di mata hukum hal itu diperlukan agar mempermudah ijin hak asuh terhadap dirimu," kata Meiko panjang lebar. Kali ini nada bicaranya terdengar berambisi dan sedikit memaksa.

"Itu…," Miku ragu untuk menjawab. Karena dirinya sama sekali tidak mengerti mengenai hal yang Meiko ucapkan kepadanya tadi.

"Sudahlah sayang, jangan menyuruhnya untuk berpikir keras. Biarkan Miku-san menyantap makan malamnya terlebih dahulu," kata Kaito berusaha melerai. "Kita bisa membicarakan mengenai hal ini besok. Mungkin kalau besok, Miku-san sudah bisa berpikir dengan tenang dan mendapatkan jawabannya,"

"Benar juga ya. Baiklah kalau begitu," ucap Meiko dengan nada menyerah. "Kalau begitu, mari kita makan dahulu,"

Miku merasa sedikit lega saat itu karena Meiko menghentikan pertanyaannya yang membingungkan. Miku pun akhirnya menyantap makan malamnya yang terlihat lezat. Ia memotong daging steak dengan perlahan dan memakannya dengan lahap. Sementara itu, Meiko dan Kaito sedang sibuk mengobrol. Miku sudah hampir menyelesaikan makan malamnya. Miku pun meraih cangkir berisi teh chamomile untuknya dan meneguk teh itu sedikit demi sedikit. Namun tiba-tiba, Miku merasakan pusing di kepalanya. Ia langsung menjatuhkan cangkirnya sehingga pecah berkeping-keping. Pandangan matanya mulai meredup. Matanya sangat berat sekali dan sulit untuk terbuka. Dirasakannya tubuh Miku melemas dan akhirnya ambruk.

o0o

Miku perlahan membuka matanya. Rasa sakit di kepalanya telah berangsur menghilang. Ia terbangun di dalam kamarnya yang bernuansa serba putih itu. Miku mengerjapkan matanya berkali-kali. Pandangan matanya langsung tertuju pada jam dinding yang terpasang di kamarnya. Jam itu kini sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Miku ternyata sudah lumayan lama tidak sadarkan diri.

Miku berusaha mengingat kejadian sebelum ia pingsan. Terakhir kali yang ia ingat adalah, ia hanya berusaha menyelesaikan makan malamnya. Dan terakhir ia meminum teh chamomile hingga akhirnya pingsan. Miku sendiri bingung mengapa ia bisa jatuh pingsan. Apakah ia tersedak ketika makan? Atau memang tubuhnya sudah terlalu lelah? Miku sama sekali tidak mengetahui dengan pasti penyebabnya. Harus ia akui, tubuhnya terasa sangat lelah saat ini. Matanya pun masih terasa berat untuk terbuka. Hanya saja Miku merasa tidak ingin tidur. Dan ia merasa sedikit tidak wajar dengan keadaan tubuhnya.

Akhirnya dengan penuh perjuangan, Miku pun memutuskan untuk bangun dari tempat tidurnya. Tangannya menggapai benda-benda di sekitarnya sehingga ia bisa berjalan dengan merayapi dinding. Miku tidak tahu mau kemana. Yang pasti ia ingin keluar dari kamar itu dan berjalan-jalan sebentar. Ia rasa sepertinya dirinya membutuhkan udara segar.

Miku berjalan dengan perlahan. Kepalanya masih agak berat di beberapa bagian. Miku membuka pintu kamarnya dan di dapatinya suasana malam yang sepi di mansion itu. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Sepertinya para penghuni mansion itu sudah menuju ke alam mimpinya masing-masing. Miku terus berjalan menyusuri koridor mansion yang temaram. Perjalanan itu terasa sangat melelahkan baginya. Miku berniat keluar dari mansion, namun yang ia dapati hanya jalan buntu. Hingga akhirnya Miku tersesat entah dimana. Miku benar-benar tersesat. Dan suasana mansion malam hari benar-benar membuatnya merinding.

"Aku harus pergi… Kemana?" tanya Miku bingung.

Akhirnya Miku mengandalkan naluri nya. Ia berjalan sesuai kata hatinya sampai ia kembali ke jalan yang pernah dilalui nya. Ia ingat tadi pernah melalui sebuah kamar berpintu kayu jati dengan ukiran tumbuhan menjalar di beberapa sisinya yang menghiasi gagang pintu. Kini pintu itu terbuka sedikit, menampilkan kondisi terang benderang. Rupanya ada orang yang masih terbangun pada jam selarut itu di dalam ruangan tersebut. Miku bisa mendengar suara dua orang bercakap di dalamnya. Ia bisa mengenali suara itu sebagai suara Meiko dan juga Kaito.

"Kukira hari ini kita bisa mendapatkan informasi penting dari anak itu, tapi ternyata dia sama sekali tidak dapat diandalkan," gerutu Meiko dari dalam ruangan itu.

"Sayang, apa dia benar-benar mengetahui apa yang sedang kau cari? Kulihat dari raut wajahnya, sepertinya Miku benar-benar tidak mengetahui apa-apa," kata Kaito menimpali.

"Jangan tertipu! Bisa saja dia sengaja menampakan wajah polosnya untuk mengalihkan fokus kita!" kata Meiko dengan sedikit emosi. "Sial! Kenapa jadi sesulit ini? Padahal aku hanya ingin tahu dimana letak harta itu,"

"Sabarlah Meiko sayang. Sesuatu yang berharga tidak akan bisa didapat dengan mudah. Butuh pengorbanan besar untuk itu," Kaito memberikan nasihat.

"Kau benar. Kita coba besok. Kalau dia masih tidak memberi tahu kita, aku tidak akan segan-segan untuk menyiksanya. Bahkan aku akan membunuhnya jika dia keras kepala," kata Meiko.

"Jangan. Itu terlalu kejam. Lebih baik buat dia menderita pelan-pelan seperti tadi. Tambahkan dosis obat pada minumannya," Kaito menyarankan.

"Baiklah," Meiko setuju.

Miku membelalakan matanya setelah mendengarkan pembicaraan antara Meiko dan Kaito tersebut. Jadi Meiko memang memiliki maksud tersembunyi terhadapnya? Jadi Meiko menginginkan kekayaan keluarganya? Miku benar-benar tidak habis pikir. Padahal ia mengira Meiko adalah orang yang baik. Ia pikir Meiko adalah bibinya. Pantas saja Miku merasa enggan pergi bersama Meiko. Miku harus pergi dari sana.

Miku pun mempercepat langkahnya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari tempat itu. Tapi apalah daya, tenaga nya masih belum pulih. Langkahnya masih terseok. Kini ia rasakan tubuhnya lelah. Ia hampir saja tumbang namun kakinya masih bisa menahan berat tubuhnya.

"Sedikit lagi… aku akan mencapai tangga itu…," ucap Miku sambil terengah.

"Kau mau lari kemana anak nakal!" seru seseorang membuat Miku terpaku di tempat. Meiko telah berdiri dibelakangnya, dengan wajah yang sangat menakutkannya.

"Bi… bi?" ucap Miku terbata-bata.

"Kau sengaja mendengarkan pembicaraan pribadiku dan sekarang kau berusaha untuk kabur? Haha, tak akan semudah itu. Aku tidak bisa melepaskan begitu saja burung kecilku, tambang emas berhargaku!" geram Meiko.

Miku sama sekali tidak berkutik di tempatnya. Meiko menyeringai kejam. Ia berjalan perlahan mendekati Miku.

"Katakan, dimana harta itu?" tanya Meiko.

"Aku tidak tahu," jawab Miku jujur.

"Kau pembohong!" seru Miku. "Atau kau ingin benda kesayanganmu saja yang berbicara?"

Meiko mengeluarkan sesuatu dari saku gaunnya. Sebuah kalung liontin yang begitu familiar bagi Miku kini berada di tangan Meiko.

"Kalungku!" teriak Miku. "Kembalikan itu! Kembalikan, kumohon!"

"Memohonlah nak," ujar Meiko di depan Miku. Kemudian ia jambak rambut Miku dengan keras, membuat Miku kesakitan.

"Ku…. Mohon," ucap Miku sambil meringis.

"Ups, aku tidak bisa. Aku tidak bisa memaafkan pembohong sepertimu. Kalau begitu, aku akan mengambil kalung ini. Kalung ini cukup berharga. Ini sangat cukup untuk membeli gaun-gaun mewah selama tiga bulan," kata Meiko sambil tersenyum jahat.

"Tidak!" seru Miku.

Tanpa basa-basi, Miku pun menggigit tangan Meiko yang tengah mengenggam kalungnya, membuat kalung itu terjatuh. Miku segera mengambil kalungnya, namun Meiko malah menghadiahi sebuah tamparan atau lebih tepatnya pukulan keras di wajahnya, membuat Miku terhuyung ke belakang.

"Anak sialan!" teriak Meiko. "Aku akan membunuhmu!"

Miku langsung bangkit dari tempatnya sebelum Meiko kembali memukulinya. Ia langsung menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Gaun itu membuat langkahnya kacau. Miku sampai jatuh berguling-guling di anak tangga karena tersandung oleh gaunnya sendiri.

"Kau tidak akan bisa melarikan diri dariku!" teriak Meiko dari atas sana.

Miku tidak memperdulikan Meiko yang terus meneriakinya. Miku hanya harus menyelamatkan dirinya dan keluar dari rumah itu. Ia harus kembali ke rumah orang tua angkatnya apapun yang terjadi. Ia kini sudah berada di halaman mansion yang luas itu. Dan bukan hanya Meiko yang mengejar Miku, kini para pelayan pun dikerahkan untuk mengejar gadis itu. Miku benar-benar kewalahan dengan hal ini. Ditambah tubuhnya sudah tidak bisa lagi diajak berkompromi. Ia bisa saja tumbang kapanpun tanpa di duga. Sebuah tangan menarik Miku dengan keras. Miku terkejut bukan main dibuatnya.

"Jangan takut, aku akan menolongmu," bisik seseorang yang menarik tangan Miku.

Miku bisa merasa tenang ketika melihat orang yang berniat menolongnya tersebut. Seorang laki-laki berambut honey blonde yang seusia dengannya tengah tersenyum lembut ketika menatapnya. Laki-laki itu menuntun langkah Miku agar Miku mengikutinya. Miku mengikuti laki-laki itu dalam diam hingga akhirnya mereka sampai di luar gerbang mansion.

"Bagaimana aku bisa membalasnya? Aku benar-benar berterimakasih…," ucap Miku sambil berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah.

"Tidak perlu," ucap laki-laki itu tulus. "Oh iya, aku harus segera pergi. Kau larilah ke desa segera. Desa itu letaknya tidak terlalu jauh dari tempat ini. Jaga dirimu baik-baik,"

"Sungguh… Terimakasih," ucap Miku. "Ano… Siapa namamu?"

"Panggil saja aku Len," ucap laki-laki itu sambil tersenyum.

Seketika itu, Miku merasa ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Membuat perasaan gadis itu menjadi tak menentu. Len pun kembali masuk ke mansion setelahnya, sedangkan Miku berusaha untuk mencapai desa secepat yang ia bisa.

TBC

Hwaaa akhirnya… Maaf karena saya terlambat dan selalu terlambat untuk menyelesaikan chapter fanfic saya xD *kebiasaan* Semoga ceritanya tidak terlalu buruk bagi pembaca… Saya akan langsung balas review yang masuk.

Hikari Syarahmia: Hehe makasih :3 Semoga ceritanya tidak terlalu buruk xD Ini udah dilanjut, maaf kelamaan update xD

Go Minami Asuka Bi: Hehe gomen, soalnya sama aku ada perubahan di beberapa sisi cerita, semoga tetep suka sama ceritanya walaupun seperti ini xD

Rika miyake: Hehe makasih sudah kasih masukan :3 Saya emang kurang paham dengan hal seperti itu, maklum masih abal xD Ano, maaf telat update xD Semoga suka lanjutannya xD

Nah sampai ketemu di chapter selanjutnya, mudah-mudahan saya bisa segera update :v