"YEACH, I AM JEALOUS"
(Sequel from Still Love You)
Main Pair : Kaisoo (GS for Uke)
Kim Jongin, Kim Kyungsoo
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Genres : Family / Romances
Length : OneShoot
Desclaimer : All cast belong to God but story is mine!
Rated : T
:::::::::::::::::::::::::
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Dug Dug Dug !
"Arrghh... eommaaaa... othokae..?" Kyungsoo masih merancu tak jelas dikamar mandinya pagi itu. Wajahnya kesal dan penuh amarah. Meski secara normalnya, orang akan berbahagia jika mendapat kabar berita di pagi hari, tidak halnya dengan Kyungsoo. Ia menatap kesal pada benda mungil persegi panjangnya yang digenggamnya di tangan kanannya. Wajahnya memerah menahan amarah.
"KIM KAI! Aku tak akan pernah memaafkanMU!"
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Jongin berjalan ke arah kulkas sambil mengucek kedua matanya. Sebenarnya nyawanya belum terkumpul semua, tapi ia tak bisa menghindari rasa haus yang menyerangnya di pagi hari itu.
GLEK...GLEK...GLEK...
Jongin menelan habis air putih langsung dari botolnya. Entah mengapa ia seperti bermimpi jika suasana dirumahnya ini sangat menyeramkan. Sesekali ia menggidikkan pundaknya. Apa ini karena ia mengabaikan para sesepuh yang katanya jika membeli rumah baru harus ada tasakurran supaya jauh dari yang namanya bala. Akh, Jongin hidup dijaman modern, ia tak mempercayai kata-kata tahayul itu. Tapi sepertinya ia harus mempercayai apa kata haelmonie nya. Ini pertama kalinya ia merasakan hawa horor di rumahnya.
"KKAMJAKIYA!" pekik Jongin yang terkejut saat ia membalikkan badannya dan melihat istrinya berdiri sekitar 2 meter darinya. Bahkan botol yang di pegang Jongin terjatuh. Jongin reflect memegang dadanya, ia benar-benar terkejut karena ternyata istrinya lah yang menatap punggunya dari tadi dan memberi kesan horor.
Wanita yang baru tiga minggu Jongin nikahi itu memandang horor padanya. Dengan matanya yang membulat besar, dan tampangnya yang siap membunuh. Wanita yang menggelar marga Kim itu hanya mendecih kesal. Ia kembali menata meja makan.
Jongin tersenyum memandangi istrinya. Istrinya ini pasti belum mandi, karena Jongin tahu, wanita yang sangat ia cintai itu tidak akan mandi sebelum pekerjaan rumah tangganya kelar atau malah jika tak acara keluar rumah ia tidak akan mandi.
Wanita yang dipandangi intens oleh suaminya itu hanya acuh tak acuh.
"Sayang, kau tak masak?" tanya Jongin sambil mendekati Kyungsoo
"Apa kau tak lihat,? Untuk sarapan pagi ini aku memasakan kue pie untukmu! Hari ini hari libur kan? Aku sedang malas masak berat" jawabnya ketus.
"Sayang, aku ingin makan nasi goreng" pintanya manja.
"Yak! Kim Kai! Berhentilah merepotkanku? Kau selalu meminta ini dan itu! Aku lelah, aku bukan pembantumu" Kyungsoo sedikit berteriak.
Jongin menghela nafasnya ia memegang pundak istrinya menatapnya dalam dan lembut "Dengarkan, aku.! Aku menikahimu bukan karena aku ingin dilayani sebagai seorang tuan. Aku memintamu karena aku mencintaimu. Aku hanya ingin istriku yang cantik ini memasakan aku nasi goreng khimci seperti biasa. Aku tidak memaksa jika kau tidak mau, tapi aku tak suka kau berteriak seperti itu pada suamimu..." katanya dengan lembut.
Istrinya kembali diam. Ia menghempaskan secara kasar kedua tangan Jongin dipundaknya "Aku sebagai istrimu juga meminta dengan hormat, makanlah apa yang aku masak!" katanya lalu berlalu meninggalkan Jongin dan masuk dalam kamarnya. Ia membanting pintu kamarnya dengan kasar.
"Kim Kyungsoo kau kenapa...? hey... baiklah aku akan makan pie ini,... tolong buka pintunya.. Kim Kyungsoo..." teriak Jongin pada istrinya di depan kamarnya.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Kyungsoo merebahkan badannya secara kasar di ranjang yang masih berantakan akibat ulah suaminya semalam. Ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal itu. Ia mengabaikan teriakan suaminya di depan pintu kamarnya. Padahal Kyungsoo tidak mengunci pintunya, itulah Kim Kai selalu membatasi dirinya untuk tidak sembarang masuk kamar tanpa Kyungsoo ijinkan pdahal itu kamar mereka berdua.
"Apa-paan sih Kai! Selalu minta yang aneh-aneh! Ada apa sih dengan nasi goreng, apa dia tidak bosan setiap hari sarapan nasi goreng" omel Kyungsoo. Entah mengapa ia sangat sebal hari ini dengan suaminya. "Benar-benar menyebalkan"
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Eung...!" Kyungsoo menggeliat. Ia tersadar dari tidurnya, ketika ia melirik nakas dan melihat sekarang sudah jam satu siang menurut KST. "Hoooaaam.. apa aku kesiangan? Lalu siapa yang menyiapkan peralatan Kai kerja?" tanya nya sambil menuruni ranjangnya. Ia menuju pintu kamarnya dan melihat Jongin di dapur tengah sibuk bergelut dengan kompor dan wajan.
"Kai-yah? Kau tidak bekerja?" tegur Kyungsoo
Jongin menoleh "Kerja?"
"Bukan nya sekarang hari Senin?"
Jongin tersenyum "Kau kenapa sayang,? Apa marah-marahmu tadi pagi membuatmu amnesia? Ini masih minggu, Kyungie!"
Kyungsoo mengerutkan keningnya, ia masih berdiri didepan punggung suaminya. Ia mengumpulkan puing-puing memori yang terbelah. Akh dia ingat. Tadi pagi ia kembali ke kamar dan langsung tertidur karena kesal pada permintaan Jongin.
"Kau tertidur tadi, aku melihat kau tidur sangat nyenyak jadi aku tak membangunkanmu" sambung Jongin.
Kyungsoo memeluk Jongin dari belakang "Mianhae!" Katanya sambil mengeratkan kedua tangannya di perut rata suaminya. "Aku hanya kesal tadi. Tidak seharusnya aku marah padamu"
Jongin mengangguk, ia memang sudah paham dengan watak istrinya yang seperti bunglon bisa berubah kapan saja dan dimana saja. Jongin mematikan kompornya ia membalikan badannya dan balas memeluk Kyungsoo yang badannya lebih mungil darinya. "Tak apa sayang... maafkan aku yang rewel yah.."
Kyungsoo mengangguk dalam pelukan Jongin.
"Cha... makanlah" perintah Jongin sambil menyodorkan hasil masakannya pada sang istri. Setelah sesi saling maaf memaafkan mereka meutuskan untuk makan siang bersama dengan nasi goreng khimci ala Jongin.
Kyungsoo hanya melirik ke arah sendok yang berisi makanan itu "Jongin-ah... kenapa kau sangat menyukai nasi goreng?" tanya Kyungsoo heran.
Melihat Kyungsoo yang tak segera melahap suapannya, Jongin memasukkan sendok itu ke mulutnya sendiri "Entahlah... beberapa akhir ini aku hanya menyukainya dan ingin selalu memakan nasi goreng.. apalagi buatanmu..." jawabnya sambil melahap nasi goreng buatanya, meski tak senikmat buatan Kyungsoo ia mencoba untuk menyantapnya dengan lahap.
Kyungsoo hanya tersenyum melihat suaminya makan terlalu lahap seperti anak kecil. "Pelan-pelan Jongin! Kau bisa tersedak nanti..." tegur Kyungsoo
Jongin mengangguk "Ah, mian. Nunna! Aku hanya kelaparan... pdahal tadi pagi aku menghabiskan kue pie buatanmu.. tapi entahlah, aku hanya ingin makan banyak akhir-akhir ini"
Kyungsoo tersenyum, melihat Jongin seperti anak kecil dan memanggilnya nunna, mengingatkan pada masa saat mereka sekolah dulu karena Jongin adalah junior Kyungsoo. "Jongin-ah! Aku ingin jalan-jalan..."
Jongin meneguk air minumnya "Baiklah, aku akan mengantar istriku kemanapun kau mau.."
Kyungsoo berbinar "Benarkah? Baiklah, aku akan mandi dulu dan bersiap yah.."
Jongin mengangguk.
Kyungsoo beranjak dari duduknya dan menuju kamarnya.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Kyungsoo menarik kasar sticky note berwarna kuning yang sepertinya di tempelkan Jongin di pintu kulkas. Selesai membaca, Kyungsoo meremas kertas persegi itu lalu membuangnya ke tong sampah.
"Dasar... nappeun namja! Lebih mementingkan pekerjaannya daripada keinginan istrinya!" omel Kyungsoo sambil mengelus perutnya.
Selesai mempersiapkan diri, Kyungsoo segera menyusul Jongin. Seperti yang mereka janjikan, Jongin akan mengantarnya kemana pun ia mau. Tapi nyatanya, Jongin malah meninggalkannya karena ada sedikit masalah dengan bengkel otomotifnya yang ia dirikan beberapa tahun lalu dengan sahabatnya, Oh Sehun.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Nona.. apa anda tidak akan turun...? ini halte pemberentian terakhir" suara supir bus berwarna biru inu menganggetkan lamunan Kyungsoo.
Kyungsoo tersentak, ia celinguan, dan ia hanya melihat dirinya seorang diri didalam bus itu. "Ah,, maaf ajusshi" katanya lalu dengan cepat ia keluar dari bus tersebut.
"Ish,, jinjja... gagara seorang Kim Jongin aku jadi seperti ini" omelnya sambil menjitak kepalanya.
Kyungsoo akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Tak tentu arah dan yah, dia tersesat sepertinya. Kyungsoo berjalan ke arah selatan dari halte tersebut. Ini bukan kawasan yang ia kenal. Ini bukan Myeondong pusat kota Seoul, ini juga bukan kawasan Gangnam. Kyungsoo benar-benar tak tahu arah dan dia buruk dalam yang namanya menentukan arah. Itu sebabnya ia sering tersesat. Dan juga hey, Kyungsoo hampir 5 tahun di London, ia juga juga bukan anak yang suka keuar rumah dan sekerdar hangout seperti Tao, adiknya. Ia lebih suka menghabiskan waktunya dengan membaca atau sekedar tidur dikamarnya. Entahlah, hari ini ia ingin sekali keluar rumah. Ia ingin mengajak Tao tapi ia tau jika Tao juga pasti akan sibuk dengan kekasihnya, Kris. Jadi ia memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri tanpa Kim Jongin suaminya yang ternyata lebih mementingkan pekerjaannya.
Tanpa Kyungsoo sadari ia sudah berjalan kaki kurang lebih dua jam, dan kini ia tengah terpukau dengan pemandangan indah disekelilingnya. Ia berdiri diantara bangunan-banguanan rumah yang tersusun rapi yang menyerupai seperti bangunan tempo dulu. Ah tidak, ini asli ini rumah-rumah jaman Korea dahulu memang asli. Kyungsoo berdecak kagum, ia kini merasa hidup di jaman tempoe dulu. Bukan hanya Kyungsoo yang menikmati pemandangan itu ada beberapa turis asal manca yang di pandu oleh tour guide juga menikmati pemandangan indah tersebut. Kyungsoo mengernyitkan keningnya, ia seolah tahu jika tour guide tersebut tengah menjelaskan tempat wisata ini.
"Oh.. Kyungsoo eonnie?" pekik seseorang sambil membawa bendera plastik Korea ditangannya.
"Luhan...?" tanya Kyungsoo tak percaya jika sang pemandu wisata tersebut adalah Luhan mantan kekasih suaminya dan kini menjadi kekasih Sehun sabahabat suaminya. Hidup benar-benar misteri!.
"Eonnie, kau sedang berlibur?"
Kyungsoo mengangguk "Kau seorang pemandu wisata?"
Luhan mengangguk "Hanya kerja sambilan untuk membiayai kuliahku, aku memandu mereka yang dari Thailand,, mereka sangat antusias dengan Bukchon village ini..." kata Luhan sok akrab menurut Kyungsoo.
Kyungsoo hanya nyengir, ia melihat segerombolan yang kebanyakan ahjumma-ahjumma dan ahjussi-ahjussi itu tengah mengagumi gaya Korea jaman dahulu.
"Apa eonnie sendiri? Mana Jongin?"
Kyungsoo menggeleng "Dia sibuk, anni,, aku sedang menunggu temanku... kau lanjutkan saja pekerjaanmu.." pinta Kyungsoo.
Luhan mengangguk "Baiklah... kalau begitu. Kupikir kau sendiri. Jika sendiri aku akan mengajakmu berwisata ke Namsan Tower setelah ini"
Kyungsoo lagi-lagi tersenyum. Jujur ia membutuhkan pertolongan untuk menemukan jalan pulang, ditambah hari sudah mulai sore. Namun, ia terlalu gengsi untuk meminta tolong Luhan yang pernah menjalin hbungan dengan Kim Jongin, suaminya.
Kyungsoo kembali berjalan, kini ia berada di sebuah taman dan ia duduk di ayunan. Sedih sekali. Ia tak tahu arah pulang, dan ia tak bisa menghubungi siapa-siapa karena poselnya mati.
Kyungsoo mnghentak-hentakkan kakinya. Ia menyilangkan kedua tangannya didadanya karena ia merasa kedinginan. Matahari sudah berganti menjadi bulan.
"Hiks..Hiks..Hiks..." Kyungsoo tak kuasa menahan tangisannya. "Dasar Kim Kai jahat..." omelnya. Ini semua bermula dari Kai yang membatalkan janji mereka sepihak. Kyungsoo sangat membenci suaminya sekarang. "Aku lapar..." katanya lagi sambil mengelus perutnya yang ia lupa ternyata ia belum makan seharian.
"Aku benci kamu.. KIM Jongin siaaalaaan..." omel Kyungsoo sedikit berteriak. Ia menggoyang-goyangkan ayunan dengan badannya. Entahlah, Kyungsoo merasa seperti anak kecil yang menunggu jemputan padahal ia yakin tak akan ada yang menjemputnya. Bahkan ada yang tahu posisi diamana juga tidak.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Kau dimana, sayang...! jawab telpon ku..." omel Jongin penuh kekhawatiran sambil melepas sit beltnya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Ia sangat khawatir saat pulang kerumah, Kyungsoo sudah tak dirumah. Padahal ia meminta untuk menunggunya. Jongin sudah mengelilingi seluruh distrik yang ada di Kota Seoul, namun ia tak menemukan Kyungsoo. Jongin yakin Kyungsoo tak pulang ke rumah orangtuanya, karena ia tadi sudah menelpon appa mertuanya dan malah appa nya menanyakan kabar Kyungsoo. Beruntunglah ia bertemu Luhan yang sedang memandu turis dan memberitahunya bahwa ia sore tadi bertemu Kyungsoo di Bukchon Village.
Jongin menyusuri tempat wisata rumah-rumah tradisonal itu. Suasana sudah sepi karena memang sudah malam. Jongin benar-benar frustasi mencari istrinya. Terlebih ia baru tahu jika istrinya tak hanya pergi seorang diri.
"Kyungsoo-yah!" pekik Jongin tiba-tiba saat ia melihat sosok yang ia kenali sebagai istrinya tengah duduk di taman dan seperti anak hilang diayunan.
Wanita yang diteriaki oleh Jongin mengembangkan bibirnya dan tersenyum ke arah Jongin. Ia bangkit dari duduknya saat Jongin berdiri tepat di depannya.
"Jongin-ah.." sapanya dengan senyum yang khas. Ia lega akhirnya ia bertemu dengan suaminya yang terlihat terengah-engah dan memasanng wajah panik.
"Yak! Apa yang ada dipikiranmu, Soo! Meninggalkan rumah tanpa seijinku. Aku hanya pergi sebentar, kenapa kau tak menungguku, eoh!" bentak Jongin yang sangat tidak diharapkan oleh Kyungsoo. Harusnya kan Jongin memeluknya. "Kau tidak tahu seberapa paniknya aku! Dari siang aku mencarimu, bodoh!" Jongin tak bisa menahan amarahnya.
Kyungsoo menunduk. Ia juga marah sebenarnya tapi entahlah, ia hanya ingin diam melihat Jongin marah dan bahkan membentaknya.
"Aku memintamu untuk menungguku, Soo!" lirinya.
Kyungsoo mendongkakkan wajahnya dan memperlihatkan cairan bening dimatanya yang siap untuk balapan mencapai pipi cabi Kyungsoo "Mianhae.. aku hanya ingin keluar.. hiks,,hiks,,,hiks,,, aku tersesat disini,,," isaknya.
Jongin memeluk Kyungsoo "Maaf, aku hanya terlalu khawatir padamu... pada anak kita.." katanya lagi.
Reflek Kyungsoo melepaskan pelukkannya "Anak? Kau tahu..?"
Jongin mengangguk "Aku baru mengetahuinya tadi saat aku ke kamar mandi dan menemukan tespeck di washtafel. Kenapa kau tak memberitahuku, eoh?"
"Itu tidak mungkin, Jongin! Alat itu belum tentu akurat"
"Baiklah,, kita akan ke rumah sakit besok"
Kyungsoo memasangkan wajah cemberutnya.
"Soo-yah! Kenapa?"
Kyungsoo menatap jongin tajam "Kenapa kau lama sekali menemukanku, eoh! Aku tersesat disini berjam-jam. Aku takut dan aku lelah..." kini giliran Kyungsoo yang mengomel.
Jongin hanya tersenyum "Mainhae sayang... jika bukan karena Luhan aku mana tahu kau ada disini, aku mencarimu kemana-kemana , kau tahu?"
"Ku pikir kau hanya membutuhkan Sehun! Kau meninggalkanku hanya karena Sehun tak mampu menangani masalah di bengkel mu!"
"Kau cemburu pada adikmu itu?"
Kyungsoo membulatkan matanya "Iyah aku cemburu! Kau puas!"
Jongin terkikik, lalu kembali memeluk istrinya. "Aku senang kau cemburu, kau tahu dulu sangat susah sekali membuatmu cemburu... kurasa ini karena anak kita makannya kau mulai cemburuan,," goda Jongin.
"Jangan bicara anak jika itu belum pasti KIM JONGIN!"
"Arra... arra... aku lapar.. sebaiknya kita cari makan"
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Jongin terus menerus bersenandung sambil terus menyetir mobilnya. Ia benar-benar bahagia hari ini, pasalnya di rahim sang istri tengah tumbuh jabang bayi yang baru berusia dua minggu.
"Kau berisik sekali, Kim Jongin!" omel Kyungsoo yang duduk di sebelahnya.
"Kenapa? Aku hanya sedang mengekspresikan kebahagiaanku karena aku akan menjadi seorang ayah" katanya. Saat itu mereka baru saja menemui dokter kandungan Choi sahabat eomma Kyungsoo.
Kyungsoo hanya merengut. Sepertinya hanya dia yang tak menyukai dengan kehamilannya.
"Kau kenapa? Apa kau ingin sesuatu?" tanya Jongin yang menyadari ekspressi Kyungsoo yang datar.
"AKU MEMBENCIMU KIM JONGIN!" teriaknya dan refleck membuat Jongin mengerem mobilnya. Untungnya mereka tidak sedang berada di tol.
"Mworaguu?"
"Aku membencimu.. benar-benar membencimu,,," katanya lagi.
Jongin heran, ia langsung menepikan mobilnya suapa tidak menggagu pengendara yang melintas. Jongin memegang erat-erat setir mobil. Nafasnya memburu tak beraturan.
Kyungsoo membuang pandangannya ke arah jendela mobil.
"Katakan! Apa masalahnya Soo!" pintanya.
Kyungsoo melirik Jongin dan menatapnya tajam "Kau sengaja kan membuatku hamil?"
"Sengaja atau pun tidak kau kan istriku, lalu kenapa jika kau hamil? Aku ayahnya dan aku pasti bertanggungjawab karena aku suamimu dan aku mencintaimu!"
"Tapi kita baru menikah, Jongin! Kau kan berjanji tidak akan membuangnya didalam?!"
Jongin tersenyum kecil "Maaf, Soo! Aku kelepasan! Tubuhmu terlalu menggoda dan aku tak bisa mengontrol diriku.. dan lagi, aku kasihan padamu yang tiap pagi harus menyuci spreii dan menggantinya. Kau pasti lelah kan?"
"Itu karena kau yang selalu memintanya setiap hari.. aku yang lelah karena setiap malam haru mengangkang untukmu!" balas Kyungsoo kesal.
Jongin tersenyum, melihat Kyungsoo bertingkah seperti itu "Semunya kan sudah terjadi, sayang! Kau tak bisa apa-apa lagi! Kau harus membesarkan jagoan kecil kita"
"Kau benar-benar" Kyungsoo kesal. "Kau menikahiku cepat-cepat padahal kau tahu aku baru seminggu diwisuda, dan sekarang kau membuatku hamil... aku kan ingin bekerja Jongin!"
Jongin mengelus rambut istrinya "Bekerjalah menjadi nyonyah Kim dan ibu dari anakku! Kau sendri yang menantangku untuk menikahimu! Kan aku sudah bilang, jika kau macam-macam di London aku akan menikahimu! Dan kau malah dekat-dekat dengan si Henry itu"
"Kau benar-benar... kau merusak semua mimpiku! Aku membencimu, pokoknya!"
"Sini" Jongin memegang dagu Kyungsoo, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Kyungsoo.
CHUP!
Jongin menngecup bibir Kyungsoo. Hanya mengecup.
"Kau tahu, dari kemarin kau bawel sekali, telingaku sakit mendengarmu uring-uringan terus. Kim Kyungsoo, aku bahagia!" kata Jongin pelan.
"Kau bahagia?"
Jongin mengangguk lalu ia duduk seperti semula "Sangat, aku memilikimu dan aku akan memiliki seseorang yang akan melengkapi hidupku, hidup kita! Untuk sementara bertahanlah sebentar sayang, maaf jika aku merusak mimpi-mimpimu, maaf jika aku terlalu egois, Tapi aku titip ini" Jongin mengelus perut Kyungsoo.
Kyungsoo memandangi elusan tangan Jongin diperut ratanya.
"Untuk sementara aku ingin kau mengurusnya dengan baik, untuk aku, Kim Kyungsoo. Setelah itu kejarlah apa yang menjadi impinmu! Kau tahu kan jika aku selalu mendukungmu!"
Kyungsoo mengangguk. Ia luluh. Tidak semestinya ia membenci Jongin hanya karena ia hamil. Toh ini buah cinta mereka. Ini yang akan melengkapi hidup mereka, melengkapi pernikahan mereka. Kyungsoo tersenyum ia memeluk suaminya.
"Maafkan aku, Jongin! Aku hanya terkejut dengan apa yang terjadi dalam hidupku,,, kau tahu kan?"
Jongin mengangguk, ia mengelus rambut istrinya "Arra! Terimakasih sudah mengerti aku, Kim Kyungsoo"
Kyungsoo mengangguk. Ia bertekad akan membesarkan anaknya dengan baik sesuai dengan keinginan Jongin. Ia pun rela untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya demi Jongin dan buah hatinya.
"Saranghae.."
"Nado saranghae, Kim Jongin!"
KEUT !
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Entah, ini cerita apaan! Hanya itu yang tiba-tiba terpikirkan di pikiran aeri..
Cerita gaje, kagak jelas,, karena efek aeri GALAU ! huuuweeeeee...
Boleh deh buat ngeREPIUUW :D
XOXO
==aerii==
