LIKE A BUTTERFLY

.

.

.

.

Author : Seva SAN

Yaoi a.k.a Boy x Boy

Genre : Romance , Little of Angst :"

Warning : Gaada Summary , Typo bertebaran , don't like don't read,

Lenght : Chaptered

FF ini didedikasikan untuk event OA Line HunHan Indonesia.

Follow , Fav , Review Juseyooo ^^

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 2

"Apa?"

Luhan tersentak saat mendengar yang Sehun ucapkan.

"Diamlah lu, atau kau akan membuat dia bangun lagi."

Sehun benar. Junior besar Sehun yang tertidur di dalam hole Luhan bisa bangun lagi kalau Luhan melakukan terlalu banyak pergerakan. Jadilah Luhan berdiam saja mendengarkan kata demi kata yang Sehun sampaikan.

"Aku minta , tak ada satu orang pun yang tau tentang kejadian ini", kata Sehun membuka percakapan.

Deg!

Ini cukup sakit untuk Luhan. Dengan mudah Sehun mengambil keperjakaan nya dan kini dia menyuruh Luhan untuk diam dan anggap semua tidak pernah terjadi.

"Tapi kenapa?", tanya Luhan tenang di sela gejolak hati yang bisa membuatnya menangis saat ini.

"Karena aku pikir mereka tidak perlu tau. Hal ini memang salahku , karena aku tak bisa menahan gairah setan itu. Tapi aku menganggap ini sebagai sex , bukannya bercinta. Aku melakukan ini tanpa alasan. Jadi aku rasa kau tak perlu mengingatnya , apalagi sampai orang lain tau"

"Tapi Sehun.. Taukah kau..em..ka..kalau aku..."

"Apa? Kau akan sulit untuk menerima nya karena ada laki-laki asing yang datang tiba-tiba mengambil kesucianmu, begitu?"

"Seperti itulah kurang lebih"

Sehun melepaskan tautan antara mereka berdua dan membalikan tubuh luhan. Dia juga memposisikan agar mata Luhan menatap tepat kedua bola matanya.

"Sekarang dengarkan aku. Kau bukan lah pria yang menarik. Kau memang cukup kaya, tapi sadarlah kau bukan tipe ku. Kau hanya pria nerd di sekolah yang membuat para gadis ingin muntah. Jadi jangan pernah berharap tinggi kalau aku, Oh Sehun , namja paling populer di sekolah melakukan ini karena aku suka padamu"

Itu sungguh sakit. Jadi sebenarnya apa pandangan Sehun kepada Luhan? Seorang pelacur? Atau pria penggoda. Ayolah, Luhan tak serendah itu.

"Waw.." kata Luhan sedikit terisak.

"Akhirnya aku tau isi otakmu sekarang Oh Sehun. Aku ... aku memang pria nerd yang membuang banyak waktu dalam hidup ku untuk mengagumi mu. Padahal orang yang aku puja bagaikan dewa , hanya menganggap ku sebagai seorang pelacur." , lanjutnya tegas.

Sehun melihat dengan jelas bulir bulir bening itu keluar jatuh satu persatu dari kedua mata indahnya. Jujur , ini memang sedikit meruntuhkan ketegaran Sehun. Dia benar-benar tak tega melihat Luhan seperti ini.

"Ayo cepat mandilah dan bersiap. Akan kusuruh anak buah ku menyampaikan ke sekolah kalau kita akan segera datang. Sekalian meyampaikan alasan kita terlambat", kata Sehun menetralkan kecanggungan diantara mereka sekarang.

Luhan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan berjalan ke kamar mandi meninggalkan Sehun dalam keadaan tertutup jas mandi yang baru saja ia kenakan.

Jauh dalam hati nya , Sehun merutuki dirinya sendiri. Hanya saja Sehun belum menyadari seberapa pedulinya ia pada Luhan. Dan dari rasa peduli ini lah yang nantinya akan berkembang menjadi perasaan yang berbunga indah semanjang masa. Disinilah sejarah mereka dimulai.

.

.

.

.

.

.

Luhan terdiam , tak seperti biasanya. Kejadian hari ini benar – benar merubah hidupnya. Dia hampir seperti mayat hidup saat ini . Dia tak tau lagi apa yang harus dia lanjutkan, karena sesungguhnya hidupnya sudah hancur karena seorang Oh Sehun.

Melihat Luhan yang seperti ini membuat Sa Neul penasaran. Bagaimana pun Sa Neul adalah satu-satunya gadis yang menyukai Luhan. Dia tidak akan kuat lama-lama diam melihat keadaan Luhan.

"Hei lu. Ada apa dengan mu?"

Luhan hanya menoleh sekilas untuk tersenyum kepada Sa Neul.

"Lu. Sudah 5 hari kau diam. Apa tak ada yang ingin kau sampaikan?"

Luhan hanya menggeleng mantap.

Sa Neul benar-benar tak kuat seperti ini. Dia lalu menggenggam erat tangan Luhan dan menariknya berlari.

"Sa Neul.. Kau mau membawa ku kemana? Aku harus pulang" , tanya Luhan di tengah kegiatannya.

Sa Neul tak menghiraukan Luhan dan tetap berlari menuntun Luhan hingga ke atas perbukitan.

Luhan bingung dan hanya melihat ke sekitar. Pemandangan yang sangat indah. Sebenarnya bukan kali pertama Luhan kesini, karena bukit ini adalah tempat Luhan dan Sa Neul membuang keluhan mereka sejak dulu. Sejak Sa Neul dan Luhan mulai dekat, bukit inilah yang menjadi tempat pelarian mereka.

"Mau apa kita kesini?"

"Tak apa, aku hanya rindu tempat ini. Kita jarang berkunjung kesini akhir-akhir ini"

"Tapi kita hanya kesini saat ada masalah. Apa kau sedang ada masalah?"

Sa Neul menatap wajah khawatir Luhan dan tersenyum. Dia menggeleng.

"Bukan aku, tapi kau"

Luhan diam. Kini dia tau tujuan awal Sa Neul.

"Kau berubah sejak 5 hari ini. Kemana Luhan sahabat ku yang ceria? Kemana Luhan yang selalu merajuk saat ku jahili? Aku rindu pada mu lu. Aku rindu Luhan ku yang manis itu"

Luhan hanya diam.

"Aku adalah pria nerd dan menjijikan. Bahkan semua wanita ingin muntah melihat ku"

"Tidak. Kau adalah namja termanis yang aku kenal. Tak peduli kau dianggap apa oleh orang diluar sana. Percayalah dirimu sendiri sudah bersinar"

Jalan pikiran mereka berbeda sebenarnya. Sa Neul mengira Luhan berbicara seperti itu karena tak ada gadis selain Sa Neul yang mau dekat dengan nya. Padahal kenyataan nya , Luhan seperti ini karena kejadian dengan Sehun beberapa hari lalu.

"Lu.. aku akan ada di sampingmu. Akan ku dampingi kau dalam sedih dan senang mu. Percayalah aku ada saat tak ada satupun manusia yang tersisa di dunia ini untuk membelamu."

Luhan senang dia memiliki sahabat seperti Sa Neul. Sahabat yang ada saat dia dalam keadaan seperti ini. Perasaannya tetaplah pada Oh Sehun , karena Luhan tak akan bisa menjadi namja yang straight lagi. Oh Sehun benar-benar menyegel hatinya untuk berhenti mencintai wanita. Walaupun ada wanita secantik dan sebaik Sa Neul di dekatnya. Sa Neul hanya Luhan anggap sebagai adik yang sangat ia sayangi. Walaupun Sa Neul memendam perasaan yang berbeda.

.

..

.

.

.

.

"Jadi saham itu sedang krisis saat ini?"

"Benar Tuan Oh"

"Bagus, kalau begitu aku bisa manfaat kan kesempatan ini untuk menaikan keuntungan perusahaan."

"Aku pulang..."

Sehun menyapa laki-laki paruh baya yang berstatus sebagai Appa nya ini.

"Kau sudah pulang Sehun?"

"Ne appa. Aku izin pelajaran terakhir karena kurang sehat."

"Kalau begitu segera ke kamar mu dan istirahatlah"

"Baik appa"

Oh Si Joon. Appa dari Oh Sehun sekaligus pemilik perusahaan terbesar di Korea dan China . Bisnis mereka bermacam-macam dan juga cabangnya ada di mana-mana. Tak seorang pun yang tak mengenal sosok hebat ini. Dia memang appa yang sangat menyayangi Sehun. Sejak istrinya pergi dengan laki-laki lain, Si Joon lah yang merawat Sehun seorang diri. Sehun adalah anak satu-satunya , makanya tak ayal kalau dia sangat memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani Sehun.

..

.

.

.

.

.

Sehun merebahkan badannya ke kasur nyaman tercinta nya. Dia memutar posisi ke kanan dan ke kiri mencari posisi yang sesuai.

Tiba-tiba dia teringat dengan Luhan. Dia teringat bagaimana pria mungil ini terisak karena nya. Bagaimana kejam nya dia menghancurkan masa depan nya dan bagaimana omongan nya menyakiti hati Luhan.

Sehun menyesali ini dalam hati dan pikiran nya. Hanya saja dia tak mampu untuk sekedar mengucapkan kata maaf. Bukan takut mentraktir Suho dan kekasihnya –Lay di restauran nya. Kalau hanya itu Sehun bahkan mampu membelikan Suho dan Lay pulau untuk mereka berdua. Yang membuat Sehun berat untuk menyesali semua nya di hadapan Luhan adalah dirinya sendiri. Dia tak mau mebuat Luhan terluka lebih jauh. Saat dia meminta maaf dan membuat Luhan kembali berharap, disitulah Luhan akan terluka. Sehun sama sekali tak tau apa itu cinta , dia tidak ingin karena ketidaktahuan nya Luhan akan tersakiti karena mencintai nya. Sehun bukan lah pria yang baik untuk Luhan. Jadi biarkan Luhan membencinya sehingga Luhan bisa melupakan sosok dirinya.

.

.

.

.

Pagi ini sedang ada acara pembukaan untuk pensi sekolah Sehun. Para murid dan guru berbaris rapi sampai peresmian acara ini selesai. Sehun yang lupa memakai jas sekolah ditarik guru BK dengan paksa. Bukannya menasehati atau memberi teladan yang baik guru ini malah menampar Sehun di depan semua orang. Sehun langsung menampar balik guru itu sampai pria malang itu tersungkur ke tanah. Kejadian itu membuat suasana hening seketika.

Sehun dipanggil ke ruang Kepala Sekolah untuk kejadian itu.

"Oh Sehun. Kenapa kau sampai berbuat hal seperti itu?", tanya kepala sekolah.

Sehun menarik napasnya tenang.

"Beliau dibayar disini untuk menjadi guru. Dan tugas guru adalah mengajarkan hal-hal kepada muridnya untuk kehidupan mendatang. Saya sebagai murid akan mengikuti apa pun yang dia lakukan. Kalau dia menampar saya maka akan saya tampar balik."

"Tapi itu salah Sehun. Kau tak seharusnya meniru hal yang buruk"

"Maaf pak, tapi saya tidak menganggap itu kesalahan. Kalau sudah tahu itu buruk maka untuk apa perilaku seperti itu diperlihatkan di depan semua murid di sini? Dia adalah guru yang seharusnya mengajarkan hal baik dan bukannya menampar seorang murid di hadapan ber ratus pasang mata. Hal itu lah yang salah , dan bukan lah diri saya. Maaf pak saya permisi"

Sehun meninggalkan ruang Kepala Sekolah itu meninggalkan Bu Kepala Sekolah yang tercengang dengan ucapan Sehun. Hal itu benar , apa yang Sehun argumenkan semua nya benar. Dan itulah kenapa Kepala Sekolah mulai kagum dengan sosok Oh Sehun. Sosok lain Sehun dibalik kenakalannya. .

.

.

.

"Woaaahhh. Kau hebat Sehun", kata Suho memberi applause untuk sahabatnya itu.

"Berhenti bersikap seperti orang-orang di luar sana. Kau sahabat ku, jadi tunjukkan itu ke semua orang."

"Maaf. Tapi aku sungguh bangga menjadi sahabatmu. Kau bisa membuat kepala sekolah diam dan malah kagum dengan mu. Kau menjadi pembicaraan hangat sekolah ini. Semua bagian baik murid, guru , ataupun pekerja membicarakan mu. Kau benar- benar hebat"

"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Berlebihan kalau kalian semua mengagungkan ku"

"Ah..terserah. Yang jelas aku sangat bangga padamu"

Pandangan Sehun teralihkan oleh namja berkacamata yang duduk di sebrang kursinya. Pandangan Sehun dapat menangkap jelas sosok itu yang sedang duduk menikmati makanannya dengan gadis di sebelahnya.

Yak, namja itu adalah Luhan. Luhan memang mencuri perhatian Sehun akhir-akhir ini. .Suho yang bingung dengan arah pandang Sehun menoleh ke belakang dan mendapati sosok Luhan di sana.

"Oh..aku mengerti.", kata Suho menyeringai.

"Mengerti apa kau tolol?", ketus Sehun.

"Wah..sepertinya sebentar lagi aku akan bisa dinner dengan Lay hyung di restauran mahal mu itu", ejek Suho.

"Sudah ku bilang mimpi lah terus" , sangkal Sehun yang lalu berlalu ke kelas.

Sementara Suho hanya terkekeh melihat sahabatnya. Dia sudah duga sejak awal kalau pada akhirnya Sehun akan suka dengan Luhan. Makanya dia bersemangat taruhan dengan Sehun.

.

.

.

.

Sa Neul meletakkan nampan berisi makanan yang baru ia beli, lalu duduk di samping Luhan menyantap makanannya.

"Hei Lu, bukan kah itu Sehun?" , tanya Sa Neul sambil menunjuk Sehun yang berjalan ke arah kelas melewati mereka.

Luhan menoleh melihat sosok itu , dan hatinya kembali perih.

"Kau tau? Gara –gara insiden tadi, dia jadi pembicaraan no.1 di sekolah", kata Sa Neul bersemangat. Bagaimanapun Sa Neul adalah seorang wanita yang akan bersemangat saat membicarakan orang lain.

Sa Neul terus saja menceritakan percakapan orang-orang tentang Sehun dan hanya dibalas 'heum' di setiap jeda bicaranya.

"Lu, kau tak mendengarkan ku ya?", tanya Sa Neul ketus.

"Aku mendengarkan mu Sa Neul...Sungguh...", jawab Luhan sambil mencubit gemas pipi chubby itu.

"Lalu kenapaa reaksi mu hanya 'heum..heum..' dari tadi?"

"Memang apa yang harus aku lakukan? Berteriak heboh layaknya yeoja – yeoja gatal itu?"

"Benar juga. Yasudahlah lupakan saja"

"Aku ingi ke kelas duluan. Kau lanjutkan saja makan nya", kata Luhan berlalu dibalas anggukan kepala Sa Neul.

.

Lorong menuju kelas Luhan terlihat sepi. Hanya ada Luhan yang berjalan seorang diri menuju terhenti dan bersembunyi di belakang tembok di luar kelasnya.

Dia mendengar suara aneh dari dalam sehingga dia mengurungkan niatnya untuk masuk.

"Ouh..damn..kau..ah..."

"Suara apa itu?", batin Luhan

"Sial...ah..lu..more..more.."

Suara itu? Luhan tau suara siapa itu. Itu suara Sehun. Berarti Sehun ada di dalam. Tapi apa yang sedang Sehun lakukan? Kenapa dia mendengar Sehun menyebut namanya?

Dia menjadi takut saat ini, sehingga dia memutuskan untuk menjauh. Entah ini takdir buruk Luhan atau Tuhan sudah tidak menyayanginya. Luhan menabrak Sehun saat ingin lari. Sehun tiba-tiba saja keluar dengan tangan yang dipenuhi cairannya sendiri. Itu sungguh menjijikan. Peluh Sehun juga membanjiri dahi dan wajahnya. Setelah sadar bahwa Luhanlah yang ia tabrak , Sehun menarik paksa tangan Luhan memuat dia meronta-ronta minta dilepaskan. Sehun terus berjalan tanpa menghiraukan permohonan Luhan. Dia membawa Luhan ke dalam satu bilik toilet lalu mengunci pintunya. Sehun menyandarkan tubuh Luhan ke tembok dan mengunci gerakan Luhan dengan tangan dan tubuhnya.

"A..apa yang kau mau?"

Sehun menyeringai melihat Luhan yang sedang ketakutan sekarang. Napas luhan tersengal – sengal. Sehun yakin hati Luhan sedang tak karuan saat ini.

Dia mengusap lembut surai madu Luhan dan mendekatkan wajah mereka.

"Jadi kau mendengar semuanya heum?"

"Me..mendengar? Apa maksudmu? Aku tidak tau apa-apa", elak Luhan

Sehun tau Luhan berbohong. Jelas – jelas Sehun mendapati Luhan sedang ingin berlari.

"Kau pikir aku percaya pada celoteh mu hah? Kau mendengarnya bukan? Jadi kau sudah berani senakal itu? Apa kau mau bermain dengan ku lagi sekarang.?"

"Tidak." Jawab Luhan tegas dan mendorong tubuh Sehun hingga menjauh. Luhan berlari namun sayang tangannya ditarik lagi oleh Sehun membuat Luhan jatuh ke dekapan Sehun. Bagaikan kembang api dan petasan tahun baru. Perasaan nya meledak-ledak saat ini. Oh Sehun selalu sukses melempar hati Luhan hingga langit le-7.

"Kau masih marah?", tanya Sehun sambil mengecup pucuk kepala Luhan

"Marah? Memang aku punya hak marah padamu?", jawab Luhan ketus.

"Hahaha." Sehun tertawa dengan jawaban Luhan yang jutek itu. Benar-benar menggemaskan menurutnya.

"Jadi kau masih marah? Baguslah ", lanjut Sehun

"Sudah aku bilang kan aku tak perlu marah padamu. Memang apa hak ku? sekarang lepaskan", jawab luhan sambil meronta-ronta. Namun Sehun mekin mempererat dekapan itu membuat Luhan tenggelam dalam aroma tubuh Sehun yang menghilangkan kesadarannya.

"Kau memang seharusnya marah padaku. Atau membenciku lebih tepatnya. Agar kau bisa melupakan ku."

"Kenapa kau berbicara begitu?"

"Karena aku mau kau berhenti menjadikanku sosok idola mu. Kita tidak ditakdirkan bersama jadi jangan lakukan ini lagi . Mengerti?" ,

Sehun lalu pergi meninggalkan Luhan sendiri. Sendi-sendi kaki Luhan terasa lemas. Bahkan lututnya sudah tak mampu menahan berat tubuhnya sendiri sehingga dia terduduk di lantai.

Satu persatu bulir bening itu jatuh membanjiri wajahnya. Hatinya kembali sakit untuk kesekian kalinya karena Sehun. 'Kita tidak ditakdirkan bersama jadi jangan lakukan ini lagi .' . Kata-kata itu sangat menusuk hatinya. Setelah semua yang ia lakukan untuk Sehun dan setelah Sehun menodai kesuciaannya , Sehun malah menyuruhnya berhenti? Apa seorang Oh Sehun tidak mempunyai hati sehingga dengan teganya meremukkan hati Luhan berulang kali.

.

.

.

Sehun membungkam mulutnya rapat-rapat. Apa yang ia lakukan? Apa dia menyakiti hati luhan lagi? Ah sial, seharusnya dia jangan bertemu Luhan dulu untuk beberapa waktu. Kalau begitu dia akan izin sekolah satu bulan untuk liburan. Dia harus pergi jauh dari pandangan Luhan. Biarkan semua berjalan tenang tanpa dirinya.

.

.

.

" Lu, kau darimana saja?". Tampak kekhawatiran dari wajah Sa Neul.

"Aku..eng..aku tidak enak badan tadi. Jadi aku istirahat di UKS"

"Kenapa tidak pulang saja? Ayo aku antar"

"Tidak perlu Sa Neul-ah. Aku sudah baik-baik saja"

Luhan melihat kursi Sehun kosong. Kemana anak itu?

"Eumm..dimana Sehun?", tanya Luhan tiba-tiba.

"Eung?" Sa Neul menoleh polos.

"Ohh , tadi Sehun izin pulang katanya ada urusan dadakan. Dan dia juga izin akan pergi selama satu bulan?"

"Satu bulan? Mau kemana dia selama itu?" , tanya Luhan tidak sabar. Dia sungguh kesal dengan sikap Sehun. Kenapa dia harus pergi untuk waktu yang lama.

Lalu bagaimana dengan dirinya? Oh ya Luhan lupa, memang Sehun pernah menganggapnya? Bukankah Luhan hanya sebagai laki-laki penghibur dimatanya?

"Kau ada apa bertanya tentang sehun? Tidak seperti biasanya?", tanya Sa Neul curiga.

"Aku tidak ada maksud apapun. Aku hanya ingin tau kenapa pria arrogant itu tidak terlihat batang hidungnya"

"Ohh begitu"

.

.

.

"Iya appa tau. Tapi kenapa kau tiba-tiba ingin ikut ke Paris bersama appa?"

"Masalahnya appa disana untuk satu bulan. Aku sedang butuh appa. Aku tak mau jauh dari appa"

"Sepertinya ada yang aneh dengan anak appa. Kau ada masalah?"

Sehun menggeleng.

"Benarkah? 17 tahun bersama appa dan kau masih beranggapan appa tidak akan tahu?"

"Aku hanya belum bisa cerita sekarang. Akan kuceritakan kalau sudah tiba waktunya"

"Baiklah appa percaya padamu Oh Sehun"

"Jadi appa mengizinkan ku ikut kan?"

"Iya appa rasa walaupun appa larang kau akan tetap ikut bukan?"

Sehun tertawa mengerti maksud appa nya

"Baiklah kalau begitu besok kita berangkat . Malam ini siapkan kebutuhan mu"

"Baik appa" kata Sehun berlalu.

.

.

.

Jam itu berdentang berkali-kali tanda waktu sudah memasuki dini hari di sekitar Seoul. Tapi diantara kesunyian masih ada segelincir orang yang bangun karena beberapa hal. Luhan contohnya, dia masih asik bergelut dengan pulpen dan buku pr nya. Sebenarnya bisa saja dia kerjakan pr ini pagi hari, toh besok pagi adalah hari libur. Tapi Luhan tidak melakukannya , karena dia ingin bebas tanpa tanggung jawab apapun.

Setelah pr nya selesai, Luhan duduk di atas jendelanya untuk melihat gemerlap malam Seoul. Luhan mengadahkan kepalanya menatap langit Seoul yang dihiasi jutaan bintang. Seekor kupu-kupu datang menghampiri Luhan. Luhan tersenyum manis.

"Andai saja aku bisa seperti mu yang bebas terbang kemana pun aku mau. Aku akan terus disisi Sehun sepanjang hari. Atau andai saja kau bisa jadi penghantar perasaan ku agar Sehun cepat-cepat menyadari itu. Apa ini? Aku rasa delusi ku terlalu tinggi. Kau bahkan tidak mengerti apa yang ku bicarakan , bagaimana kau bisa jadi kurir cinta, hehehehe", Luhan tertawa polos setelah berceloteh panjang lebar.

Kupu- kupu itu terbang menjauhi Luhan konstan. Luhan melambaikan tangannya dan pergi istirahat. Luhan tidak tahu kalau kupu-kupu itu yang akan merubah hidupnya. Baik kupu-kupu itu ataupun kupu-kupu lainnya adalah jalan penghantar Luhan menuju ke kehidupan bahagia nya...

Bahagia bersama...

Sehun...

.

.

.

Cuit..cuit..cuit...

Lantunan nyanyian burung sudah ramai bersautan. Tapi lelaki berparas rupawan ini sudah siap dalam kursi tunggu nya. Pria itu-Oh Sehun- dia masih menunggu pesawatnya yang delay. Dia memejamkan matanya untuk menikmati musik yang melantun dari ponselnya.

"Cantik..." itulah komentar pertama Sehun saat membuka matanya.

Ada seekor kupu-kupu yang hinggap di bahu kanan nya. Kupu-kupu bersayap biru yang sangat cantik, mebuat dia teringat pada sesorang..

Luhan...

Hanya satu nama itu yang terlintas saat melihat kupu-kupu cantik itu.

"Bagaimana dengan Luhan? Aku belum minta maaf atas kejadian kemarin dan sekarang aku malah mau lari dari kenyataan.. Sungguh bajingan kau Oh Sehun. ", batinnya.

Di satu sisi dia rasa dia memang seharusnya seperti ini. Luhan bukan lah satu-satunya namja di dunia ini. Sehun masih bisa mencari dua atau tiga yang lebih baik lagi.

Tapi disisi lain dia merasa kalau dia tidak punya hak menyakiti Luhan terus menerus.

"Astaga .. apa yang harus aku lakukan," gusrah Sehun.

.

.

.

.

"Euhh..",

Kedua kelopak matanya perlahan terbuka menampakkan dua butir hazel yang sangat indah.

Luhan baru saja terbangun dari mimpinya , walaupu kalau boleh jujur Luhan lebih suka tinggal di alam mimpi, dimana tak ada satupun yang bisa menghancurkan kebahagiaan hidupnya.

"Lu..ada tamu"

Suara eomma nya terdengar dari bawah

Siapa tamu yang pagi-pagi mengunjunginya? Apa Sa Neul? Tapi rasanya tak mungkin

Luhan bergegas menuruni satu persatu anak tangga dan berlari ke pintu

Ceklek...

Cit...

"Hai ..."

Luhan membelalakan kedua matanya lebar-lebar merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat. Dia bahkan menampar pipinya untuk memastikan kalau ini bukan mimpi. Dan benar, ini bukanla mimpi.

"Mau apa kau kesini?Kim suho?"

"..."

.

.

.

.

.

.

TBC

Thanks For Your Support

Laflaf guys ({})