Pure Love

By : Ayumi-Chan

Part 2...

Cast : Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

Jung Daehyun

Im Jinah / Nana

Other cast : Kim Jongdae

Kim Minseok (GS)

Kim Joonmyeon

Zhang Yixing (GS)

Do Kyungsoo (GS)

Kris Wu

Dan lain-lain.

Note : ini ceritanya bagian Flashback semua yah. Hehehe... biasa alurnya ngga jelas, maju mundur, maju mundur cantik. Hehehe..

Baekhyun menggeliat, terbangun dari tidur nyamannya. Otot-ototnya direnggangkan agar lebih enak, sekaligus melakukan beberapa gerakan pemanasan dipagi hari ini. Senyumnya mengukir.

"selamat pagi dunia. Pagi Baekki" baekhyun langsung duduk bersilah disamping kucing persianya. Kucing dengan bulu putih itu masih tertidur lelap, tapi terganggu tidurnya karena baekhyun yang mengangkat tubuhnya, untuk dipangku.

"bagaimana tidrumu hm? Nyenyak?" jemarinya mengelus lembut bulu Baekki yang halus. Sesekali Baekhyun menciumi baekki yang terlihat berusaha membebaskan diri dari cengkraman baekhyun yang mengganggu untuknya. Mengganggu waktu istirahatnya, dan mengganggu tidur cantiknya. Kasihan baekki.

Baekhyun terus tersenyum memeluk kucing cantiknya. Kucing pemberian daehyun itu sangat disayanginya, karena selain diberikan dihari ulang tahunnya yang ke 20, juga pemberinya adalah orang yang sangat spesial untuknya. Jung daehyun, kekasihnya. Mereka sudah berpacaran cukup lama, yang awalnya sahabat saat kecil, lalu saat tumbuh besar mereka menjalin kasih bersama. Baekhyun bahkan tidak menyangka ini terjadi padanya, jika difikirkan ini seperti beberapa cerita drama yang kerap terjadi. Tapi inilah kisahnya.

Lalu bagaimana dengan kisah cintanya kedepannya? Apakah lebih menarik?. Baekhyun sangat menunggu, karena selain penggemar drama, dia juga sangat menyukai dongeng. Tentang pangeran tampan dengan istana yang megah, yah walaupun pada akhirnya dia tidak mendapatkan pangeran seperti itu, tapi baekhyun tetap merasa beruntung bisa mengenal daehyun yang sangat baik, pangeran yang sangat mencintainya.

Tok.. tok.. tok..

Suara pintu kamarnya diketuk. Siapa yang mengganggunya dipagi ini? Padahal dia baru bangun tidur kan? Mengganggu saja. Baekhyun menggerutu dalam langkah menuju pintu.

Dia kesal di ganggu sepagi ini. Sudah pasti yang mengganggunya ini si menyebalkan jongdae yang kebetulan tuan rumah yang suka seenaknya. Jika saja baekhyun tidak numpang disini, sudah dari dulu dia yang mengusir jongdae karena sangat menyebalkan dan mengganggunya.

"bikinkan minum. Aku sedang punya tamu. Ingat. Ngga pake lama" setelah berucap itu jongdae langsung saja pergi, begitu saja, tanpa perduli dengan kecengangan baekhyun yang bingung.

"dasar muka kardus." Mau tak mau baekhyun harus menuruti perintah si tuan rumah meyebalkan, jika tetap ingin tinggal dan tidak pergi. Awas saja. Akan baekhyun balas di kemudian hari. Lihat jongdae jangan meremehkan baekhyun. Karena kamu akan menyesal melakukan ini pada baekhyun. Lihat saja.

"silahkan diminum tuan muda jongdae." Baekhyun sengaja menekan pada kalimat yang diucapkannya, dia kesal. Pada jongdae tentu saja, sepupunya itu benar-benar selalu membuatnya kesal. Dia jadi terlihat seperti pembantu kan? Uh.

"silahkan diminum tamu tuan muda yang terhormat." Baekhyun bemaksud melihat seperti apa tamu jongdae –yang menyebalkan-, dan saat dimana kedua matanya melihat orang itu, sungguh dunia baekhyun serasa berhenti, dan yang paling penting objek pandangnya bergerak slowmotion seolah sengaja berperaga layaknya difilm-film. Dan ini menakjubkan.

Dia tampan.

Tuhan! Baekhyun memekik dalam hati. Ingin berteriak layaknya fangirl yang memuja idol mereka yang sangat mempesona. Dan lelaki didepannya tak kalah mempesona dari para idol itu. Bahkan menurut baekhyun sangat cocok lelaki ini menjadi idol, atau bahkan aktor.

Sungguh ciptaan tuhan yang indah.

"terimakasih nona", dan senyumnya manis sekali. "sama-sama pangeran." Ucapan itu terlontar begitu saja, tanpa terproses melalui otaknya dulu. Karena itu murni dari perasaan kagumnya, dia menganggap lelaki itu adalah pangeran yang entah turun dari mana.

Jongdae mengernyit. Sementara sang tamu merasa sangat lucu dan hampir meledakan tawa, jika saja dia tak berusaha menahannya.

"hoy baekhyun!"

Panggilan jongdae belum membangunkan baekhyun. Masih saja gadis itu terbengong dengan kekagumannya sendiri. Memandnagi sang tamu tampan bak pangeran. Tubuh tinggi, wajah tampan dan penampilan keren. Bayangkan seberapa terpesonannya baekhyun. Sama seperti kau saat melihat idolamu pasti seperti itu. Atau kau mungkin akan berteriak histeris? Hahaha... semua respon orang akan berbeda-bedakan saat bertemu dengan yang dikagumi. Sama seperti saya. Ah.. kenapa jadi melebar kemana-mana. Ayo kembali kepada keterbengongan baekhyun.

"baekhyun..." tamu itu mulai bersuara, membuat baekhyun cepat tersadar dan menjawab, "ya?", dan setelah semua fikirannya kembali baekhyun segera menunduk dan menggumamkan kata maaf berkali-kali, dan buru-buru pergi dari sana untuk menghilangkan rasa malu.

Ya tuhan! Itu memalukan. Baekhyun meruntuk. Selama kembali dia terus menyalahkan dirinya yang merasa sangat bodoh, kenapa bisa seperti itu? Ah pesona pria itu sungguh membuat fikirannya tumpul dan serasa berhenti. Hanya fantasinya yang jalan.

Baekhyun berharap hal seperti itu tidak akan terjadi lagi. Tidak akan. Jika tidak dia akan merasa mati saat itu juga karena terlalu malu. Ah itu berlebihan. Paling baekhyun hanya akan terus menutupi dirinya dnegan selimut seharian, tidak akan berani menampilkan wajahnya pada lelaki itu lagi. Itu lebih terlihat normal.

Hari praktek pertama chanyeol menjadi dokter begitu sulit untuknya. Memang tidak terlalu berat yang harus dia lakukan, hanya saja dia merasa tidak begitu fit hari ini, entah karena terlalu banyak fikiran atau karena daya tahan tubuhnya menurun, dia merasa sangat lelah.

Mungkin dengan istirahat bisa membantunya.

Tapi, istirahat diapartemennya serasa sia-sia, dia tinggal sendiri dan tidak ada yang bisa dimintai tolong olehnya. Mungkin dia bisa sementara tinggal dirumah temannya jongdae, siapa tahu teman sesama dokternya itu bisa membantu.

Segera chanyeol membelokan kemudi kearah rumah jongdae, tidak jauh. Mungkin beberapa menit lagi sampai.

Selang waktu lama, pada akhirnya mobilnya tepat terparkir dirumah sederhana sang dokter kim sahabat baiknya. Cepat chanyeol turun dan mengetuk pintu. Beberapa saat dia harus menunggu sampai pintu terbuka, dan sebuah perasaan berbeda hadir padanya begitu pintu terbuka dan menampilkan sosok Baekhyun.

Gadis lucu yang beberapa hari lalu memanggilnya pangeran.

Perasaannya terasa aneh, dan entah kenapa Baekhyun sekarang jauh lebih cantik dari yang pertama dilihatnya. Rambut tergerai berponi, panjang menjuntai sampai pinggang, jepitan kupu-kupu kecil dirambutnya sebagai penghias, dan eyeliner, eyeliner di mata gadis itu mempertajam mata sipitnya, jadi kelihatan lebih cantik, bibir terpoles lipstik pink itu entah kenapa membuat chanyeol merasa kejolak naluri lelakinya naik.

Tuhan! Dia gadis kecil. Kenapa chanyeol jadi panas dingin begini ya?

"pasti mencari jongdae oppa. Sebentar saya panggilkan"

Chanyeol masih membeku. Dia juga tidak tahu kenapa dengan tubuhnya, kakinya sungguh sulit bergerak, apa ini efek dari tubuh tak enaknya dan rasa pusingnya? Entahlah?

"kenapa kau hanya berdiri dipintu? Kemarilah"

Akhirnya kakinya bisa bergerak kembali setelah jongdae menegurnya, mereka duduk di sofa dan berbincang sedikit, dengan chanyeol yang merasa kembali normal. Mungkin memang itu hanya efek tubuhnya yang tidak fit.

"jadi kau ijin tinggal bersamaku selama beberapa hari karena tidak enak badan, dan apartemenmu sepi? Enak sekali."

Chanyeol tertawa. Meski ucapan jongdae terdengar menyakitkan secara halus, tapi bagi chanyeol itu hanya sebuah lelucon yang diucapkan jongdae untuknya. Teman biasa saling membully kan? Hehehe...

"jangan memasang wajah seperti itu sob. Biasa saja. Aku tidak akan merepotkanmu, mungkin hanya akan memusingkanmu hahahaha..."

"sial." Jongdae merasa dimanfaatkan, mentang-mentang chanyeol adalah perantau dari kota lain, jadi dia bisa seenaknya menumpang dirumahnya. Benar-benar menyebalkan chanyeol ini. Untung mereka berteman, jika tidak sudah jondae tendang dari tadi.

"silahkan diminum. Maaf lama, tadi aku buatnya agak sedikit kendala. Tapi semoga suka" Baekhyun datang memberikan minuman untuk chanyeol dan jongdae. Jus mangga, buatannya sendiri. Baekhyun juga berlaku layaknya asisten rumah tangga yang baik, padahal biasanya kan paling tidak mau disuruh-suruh, apalagi membuatkan minum untuk tamu. Ini? Kenapa datang sendiri dan dengan suka rela melakukannya. Aneh? Fikiran jongdae jadi bertanya-tanya. Mungkin sepupunya salah minum obat.

"terimakasih putri baekhyun"

Blush!

Pipi baekhyun memanas. Memunculkan semburat merah muda dipipinya yang putih. Pujian chanyeol mampu membuat jantungnya berdetak-detak dua kali lipat dari biasanya.

Jongdae menatap keduanya dengan kernyitan. Mereka berdua sama-sama tersenyum dengan berbeda respon, baekhyun yang malu-malu, dan chanyeol yang terus memandanginya dengan tersenyum. Aneh? Ada apa dengan mereka?

"kalian...",

"aku permisi dulu" baekhyun segera pergi dari sana, menghilangkan rasa aneh yang ada. Dia harus cepat-cepat menghindar agar tidak terlalu ketara. Selain itu agar tidak dicurigai jongdae juga. Bisa-bisa sepupu –menyebalkannya- itu berfikir yang tidak-tidak.

"kalian...",

"jadi bagaimana? Kau mengijinkanku tinggalkan?"

Jongdae mengernyit. Dia bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya sejak tadi, tapi terus dipotong. Apa yang salah disini? Dirinya atau memang mereka?

"kenapa kau berdiam diri seperti orang bodoh? Katakan. Aku diijinkan atau tidak?"

Dibilang orang bodoh siapa yang tidak kesal. Semua pasti kesal kan? Begitu juga jongdae, dia sangat kesal. Kesal sekali. Chanyeol tidak tahu diuntung, hampir dia ijinkan tinggal, tapi dengan ucapannya itu mungkin jongdae harus berfikir-fikir lagi.

"aku akan fikirkan. Tapi untuk sementara kamu bisa tinggal selama tiga hari disini, untuk memulihkan kondisimu saja. Padahal aku yakin kamu tidak sakit, hanya alasan saja. Cih!"

Chanyeol tidak perduli jongdae berfikir apa padanya. Yang penting dia bisa menginap disini selama tiga hari. Tidak masalah, dia merasa senang. Yah semoga saja dia juga bisa dekat dengan baekhyun. Eh? Kenapa baekhyun? Bukankah niat awal chanyeol kesini bukan itu? Kenapa jadi berubah? Sudahlah itu urusan dia, sebaiknya jangan ikut campur. Hihihi~

Baekhyun semakin dekat dengan chanyeol sejak lelaki itu ikut tinggal bersamanya dan juga jongdae. Yang awalnya Cuma tiga hari, pada akhirnya chanyeol benar-benar ikut inggal dengannya untuk beberapa bulan sampai praktek di busannya selesai. Baekhyun senang, karena akhirnya dia mempunyai orang yang bisa mengerti seperti chanyeol, tidak seperti jongdae yang menyebalkan. Chanyeol lebih dewasa dan memanjakannya. Baekhyun sangat suka diperlakukan bak adik kecil oleh chanyeol, dia jadi bisa bermanjaan layaknya kepada kakak sendiri. Dan baiknya chanyeol selalu setia mendengarkan ceritanya jika baekhyun butuhkan.

Seperti sekarang, mereka sedang berduaan didalam kamar, saling berhadapan dengan baekhyun yang terus menceritakan kisahnya dengan daehyun sang kekasih. Dia selalu menceritakan daehyun kepada chanyeol, dan dengan senang hati chanyeol akan mendengarkannya dan begitu antusias atas cerita-ceritanya.

"jadi?" chanyeol mengernyit saat baekhyun terdiam dan tak melanjutkan cerita dimana awal dia dan daehyun bertemu sampai akhirnya berpacaran, cerita yang berhenti itu dimana saat baekhyun akhirnya harus berpisah dari daehyun karena kekasihnya harus bekerja di seoul sebagai wartawan harian seoul, sementara dirinya dibusan hanya bisa menunggu dan mengobrolpun hanya lewat telephon. Baekhyun jadi merindukan daehyun.

"aku ingin dia pulang oppa. Melamarku seperti teman-temanku yang sudah menikah lainnya. Kita berpacaran sudah cukup lama"

"berapa tahun?"

"lima tahun. Tapi daehyun seperti tidak serius padaku. Sebenarnya kenapa? Dia bahkan harus pergi ke seoul untuk bekerja, memangnya tidak bisa disini apa? Aku yakin di seoul banyak sekali gadis cantik yang bisa dia pacari"

Chanyeol menggenggam tangan baekhyun, mengelusnya lembut, dengan tatapannya pada gadis kecil didepannya. Gadis kecil yang nyatanya sudah 23 tahun, hanya beda satu tahun dengannya. Yah bisa dibilang mereka hampri sebaya, mengingat chanyeol lahir pada bulan hampir terakhir ditahun kelahirannya dan baekhyun cukup di awal. Jadi? Lupakan bulan lahir dan tahun. Kembali pada chanbaek yang saling menatap.

"bukan masalah berapa lamanya kalian berpacaran atau berapa lama kamu harus menunggu. Tapi yang utama adalah kesiapan. Menikah bukan sekedar main-main dan bergembira saja, tapi juga sebuah rencana pembentukan keluarga. Jadi, harus benar-benar matang memikirkannya, jangan asal menikah, punya anak beres. Enggak begitu"

Baekhyun diam. Dia sebenarnya tahu itu. Hanya saja, selalu merasa iri baekhyun saat melihat teman-temannya yang sudah dilamar pacar masing-masing. Contohnya teman chinanya tao yang sudah dilamar kris pacar dari chinanya juga. Lalu? Dia kapan?

"Cuma iri saja oppa, setiap melihat orang lain yang dilamar kekasihnya. Sementara aku harus masih menunggu"

"sabar saja. Kamu percaya daehyun kan?", baekhyun mengangguk. "ya sudah sabar, dan tunggu, nanti juga dia akan datang sendiri dan melamarmu. Tinggal tunggu waktunya saja"

Baekhyun berfikir sebentar, sampai akhirnya mengangguk dengan mantap. Benar juga. Dia seharusnya berfikir seperti itu juga, kenapa dia harus termakan sama rasa iri dan dengki dengan orang lain ya? Dia harusnya percaya pada daehyun dan tidak berfikir yang aneh-aneh. Ah chanyeol benar-benar membantu.

"terimakasih oppa. Aku senang punya teman curhat seperti oppa" chanyeol mengelus rambut baekhyun dengan senyuman, membalas senyuman gadis didepannya yang begitu bahagia. Tapi detik selanjutnya senyum baekhyun hilang menjadi kernyitan. Dia menatap chanyeol dengan serius.

"lalu? Apa oppa sudah melamar pacar oppa?" pertanyaan baekhyun membuat pergerakan chanyeol terhenti. Lelaki itu menjadi diam, berfikir tentang hubungannya dengan nana –kekasihnya- yang kini masih di seoul. Baekhyun sudah tahu mengenai nana, karena memang chanyeol sudah menceritakannya. Tapi mengenai lamaran, dia belum sempat bercerita pada baekhyun kalau dia bahkan pernah melamar nana, tapi di tolak.

Yah, mengingat itu chanyeol merasa miris sendiri. Dan itu juga yang menjadi alasannya kemari, menghilangkan bagaimana sakit hatinya dia saat nana tidak menerima lamarannya hanya karena alasan sepele, nana menginginkan karirnya dahulu, baru mereka menikah. Dan chanyeol pada akhirnya memutuskan menjauh dan berusaha tak mengejar nana lagi, mungkin gadis itu memang tidak ditakdirkan untuknya. Siapa tahu ada gadis lain untuknya, yang jauh lebih baik dari nana.

"oppa? Oppa tidak apa-apa?" baekhyun merasa khawatir saat chanyeol diam saja, dia bahkan terlihat menatap kosong tanpa objek. Sebenarnya apa yang terjadi dnegan chanyeol? Apa dia memikirkan sesuatu? Apa baekhyun salah bicara?. Baekhyun menjadi merasa bersalah.

"maafkan aku oppa kalau pertanyaanku begitu menganggu oppa. Jadi lupakan saja hehehe..." baekhyun berusaha menetralisir suasana kembali hangat, tidak dingin dan canggung. Melihat chanyeol kembali tersenyum dan mengelus rambutnya, dia bisa bernafas lega kembali. Chanyeol sepertinya tidak ambil pusing dengan pertanyaannya. Dia lega,

"aku sudah pernah melamarnya. Tapi ditolak"

Baekhyun begitu kaget. Dan dia bsia tahu dari mata chanyeol terpancar kesedihan disana. Baekhyun begitu tahu bagaimana rasanya, pasti chanyeol sangat sedih, sangat kecewa, karena keseriusannya tidak ditanggapi sama sekali. Kasihan chanyeol.

Baekhyun segera memeluk chanyeol yang terlihat rapuh sekarang. Menumpuhkan kepala lelaki itu pada bahunya, dan membiarkan lelaki itu menumpahkan kesedihannya.

"jika oppa butuh seseorang untuk dipeluk. Aku akan sediakan tubuhku untuk oppa peluk. Aku juga bersedia mendampingi oppa saat sedih. Aku janji"

Perkataan baekhyun membawa kehangatan diantara kepedihan chanyeol yang ada. Kesedihannya perlahan menjadi kebahagiaan. Chanyeol begitu serius menanggapi ucapan baekhyun. Dan dia selalu ingin baekhyun didekatnya. Memeluknya, seperti sekarang.

Chanyeol membalas pelukan baekhyun. Begitu erat. Seolah tidak ingin melepaskannya barang sedetikpun.

Ting.. tong..

Clekk...

"Yeoliii~" seorang wanita langsung menubruk chanyeol saat pintu apartemennya dibuka, wanita itu memeluknya erat dengan luapan rasa rindu yang besar. Chanyeol begitu kaget saat menyadari siapa wanita yang memeluknya. Im nana, mantan kekasihnya.

"nana?"

"aku sangat merindukanmu sayang~" nana masih memeluknya erat, sama sekali tidak ingin melepaskannya. Sudah lama dia ingin bertemu chanyeol dan memeluknya. Chanyeol kekasihnya yang sangat baik pastilah merindukannya juga.

"kamu pasti merindukanku juga. Aku tahu itu"

Nana sama sekali tidak sadar jika ucapannya itu mampu membuat perubahan di wajah chanyeol. Lelaki itu perlahan melepaskan pelukan nana, memyisihkan jarak diantara mereka beberapa centi meter.

"kamu pasti lelah dari seoul, biar aku buatkan minuman hangat untukmu" saat chanyeol hendak berbalik nana menahannya, memandang lelaki didepannya yang terlihat berbeda.

Ada apa dengan chanyeol? Dia tidak terlihat seperti biasanya. Nana merasa lelaki didepannya bukan seperti chanyeol yang dia kenal dulu. Ini berbeda, bahkan serasa asing.

"yeolli ada apa? Kamu terlihat aneh"

Chanyeol menghadap nana, memegang kedua bahu wanita cantik didepannya yang dulu begitu dicintainya. Tapi sekarang, semua berbeda. Chanyeol merasa nana sudah tak lagi spesial untuknya. rasa cinta itu bahkan sepertinya sudah hilang.

"tidak ada yang aneh. Ini wajar. Sekarang duduklah, biar aku buat minuman dulu" chanyeol langsung saja pergi, bahkan dengan tak berbasa-basi lama. Nana begitu aneh memandangnya. Chanyeolnya berbeda. Tidak seperti dulu.

"ini es krim strawberry tuan putri baekki"

Baekhyun langsung mengambilnya dari tangan daehyun, dengan ulasan senyum kecil dia menggumamkan terimakasih. Perlahan langsung memakan es krim favoritenya dengan begitu antusias. Dia senang, daehyun disini bersamanya. Tapi dia merasa berbeda.

Kenapa ya?

Pertanyaan itu terus menginap di otaknya. Seolah ini bukan seperti dia yang sama saat daehyun bersamanya. Seharusnya dia senangkan? daehyun yang selalu dia tunggu ada disini. Tetapi kenapa fikirannya malah memikirkan orang lain dan ingin bertemu dengannya sekarang juga.

Chanyeol. Park chanyeol. Kenapa dia harus memikirkan sang dokter muda itu. Kenapa bukan daehyun kekasihnya yang sudah jelas sangat dirindukannya. Ini tentu aneh bukan? Baekhyun sampai harus sering diam karena pemikiran-pemikiran itu.

"kamu jadi pendiam sekarang. Kenapa? Ada masalah?"

Daehyun merasakan kekasihnya berbeda. Karena memang. Baekhyun kekasihnya yang cerewet, banyak bicara, menjadi pendiam dan kalem. Ini sungguh bukan baekhyun yang selama ini dikenalnya. Dan kenapa jika memang ada masalah dia harus diam dan tidak langsung bercerita seperti biasanya?

"tidak juga dae, aku hanya sedang kurang sehat saja"

"kurang sehat kenapa minta es krim? Sini es krimnya nanti kamu jadi demam lagi." Daehyun mengambil es krim ditangan baekhyun, dan langsung membuangnya. "aku tidak mau kamu sakit"

Baekhyun diam. Sama sekali tidak protes dan menolak seperti biasanya. Dia jadi merasa bersalah kepada daehyun. Kenapa dia harus berbohong?

Ini salah. Seharusnya dia harus bercerita pada daehyun. Atau? Tidak perlu karena itu akan menyakiti perasaan daehyun. Arghhh! Hati baekhyun berteriak frustasi dalam mengartikan perasaannya yang aneh. Ini salah! Ini salah! Hati baekhyun terus menekan. Menyadarkan dirinya jika tak seharunya dia seperti ini.

Yah. Harusnya dia memikirkan daehyun. Hanya daehyun dan bukan orang lain.

"daehyuni~"

"hm"

Baekhyun rasanya berat akan mengatakan semuanya. Tapi... jika tidak dia menjadi merasa bersalah terus kepada daehyun. Jadi apa baekhyun harus berterus terang? Atau diam saja? Ini membingungkan untuk baekhyun.

"aku mencintaimu" ucapan itu malah berbeda dengan apa yang difikirkan baekhyun. Seharusnya bukan itu yang dikatakanya. Melainkan kata maaf atau yang lainnya. Ada apa dengan baekhyun. Dia bahkan harus terus meruntuk dalam hati saat kata-kata itu keluar dari mulutnya.

Kenapa harus itu. Bukan itu harusnya. Bukan itu. Hati baekhyun terus protes.

Daehyun mengernyit di detik dia mendnegar ucapan baekhyun itu. Detik selanjutnya dia langsung tertawa, merasa baekhyun begitu konyol. Karena sudah jelas mereka berpacaran, saling mencintai dan bahkan sudah sangat serius jika seandainya harus melangkah kejenjang pernikahan. Kenapa kata-kata yang seharusnya diucapkan pasangan baru itu terlontar dibibir mungil baekhyun. Gadisnya memang kadang aneh.

"aku tahu. Dan sangat tahu," daehyun menggenggam tangan baekhyun, memandnag kedalam bola mata gadisnya dalam, "dan akupun mencintaimu. Kita saling mencintai dan akan selamanya seperti itu kan?"

Benar. Seperti itu kan memang harusnya. Kenapa baekhyun harus berfikir lagi. Ah jadi ikut bingung dengan perasaan baekhyun ini. Mengambang bagai diudara. Sulit diartikan secara nyata.

"yah daehyun. Aku akan 'selalu' mencintaimu"

Sebenarnya hubungan yang bertahan lama bahkan puluhan tahunpun tidak akan bisa menjamin kita akan selalu bersama seseorang yang kita kira sebagai jodoh kita untuk selamanya, dan nyatanya itu terjadi pada baekhyun. Lima tahun perjalanan cintanya dengan daehyun tak mampu membuatnya menahan agar tak mencintai orang lain. Nyatanya cinta itu ada, begitu saja. Kepada seseorang yang bahkan dia tidak pernah di duga.

Park chanyeol. Dokter muda teman jongdae itu sejak awal sudah mempesona, menarik hatinya untuk kagum. Dan kemudian menguncinya dalam dan seolah tak akan membiarkan keluar. Baekhyun mencintainya. Dia sadar, karena baekhyun bukan anak kecil lagi, yang sulit mengartikan apa itu cinta. Dia tahu ini cinta, meski nyatanya penuh dengan kebingungan. Pada akhirnya bisa menyakinkan jika dia memang mencintai chanyeol. Dan itu mungkin. Apalagi jika tuhan yang turun tangan, siapa yang bisa mencegah?

"baekhyun..." panggilan chanyeol menarik baekhyun dalam fikiran dalamnya. Dilihatnya chanyeol yang mengernyit, memandang bingung dirinya yang sejak tadi diam.

"kamu memikirkan sesuatu?"

Iya. Dan itu memikirkanmu. Hati baekhyun menjawab, namun tidak dengan lidahnya. Dia hanya masih diam memandnag chanyeol yang semakin bingung.

"baekhyun."

"tidak oppa. Tidak apa-apa."

Berikutnya tidak ada lagi perbincangan. Chanyeol terlihat sedang sibuk dengan laptopnya, entah apa yang dikerjakan lelaki itu. Mungkin beberapa data pasiennya, atau sesuatu yang baekhyun tidak tahu.

Tapi melihat chanyeol yang sangat serius membuat dada baekhyun berdesir. Chanyeol ini memang mempesona. Pasntas saja mampu menarik hatinya dan memejarakannya sehingga tersiksa. Andai semua bisa semudah rasa itu muncul, maka baekhyun tidak pelru seperti ini.

Cklek...

Pintu ruangan itu terbuka. Berdiri seorang wanita cantik disana, melangkah dengan anggun menghampiri chanyeol dan baekhyun.

Wanita itu... baekhyun rasa tidak asing. Wajahnya sangat familiar. Tapi siapa?

"oh ada orang lain rupanya" wanita cantik berambut panjang itu duduk disamping baekhyun, menghadap chanyeol yang masih sibuk dengan laptopnya, seolah tidak perduli dengan kedatangan seseorang lagi diantara dia dan baekhyun. "kamu pasti baekhyun. Benar bukan?"

Dengan canggung baekhyun mengangguk pelan. Tidak tahu harus mengatakan apa dengan wanita didepannya. Mereka baru pertama kali bertemu. Dan pasti canggung berbicara satu sama lain.

"aku tahu dari jongdae. Katanya selama disini chanyeol sangat dekat dneganmu. Kalian sudah seperti pasangan hahaha... lucu sekali. Padahal aku yakin itu tidak mungkin. Dan chanyeol bilang kalau dia Cuma menganggapmu sebagai adik kecilnya"

Jderr! Kata 'adik kecilnya' begitu memohok hati baekhyun.

Benarkah? Chanyeol Cuma menganggapnya sebagai adik? Ah! Kenapa baekhyun harus berharap tidak. Itu kan memang kenyataannya. Tapi... "jangan bicarakan hal yang tidak perlu nana"

Chanyeol langsung menutup laptopnya. Menghadap dua wanita didepannya. Nana dan baekhyun, memandnagnya dengan sorot berbeda. Baekhyun yang seolah menyimpan sesuatu yang terpendam dan ingin mengungkapkannya namun ragu. Dan nana yang begitu manis tersenyum padanya.

"itu kenyataan kan sayang." Chanyeol mendesah. Rasanya nana sudah keterlaluan mengatakannya. Entah kenapa chanyeol merasa seperti itu? Padahal itu memang kenyataannya-diawalnya-, dan kenapa harus ditutupi. Nana fikir baekhyun harus tahu. Agar gadis itu tak berharap lebih kepada kekasihnya.

"lagipula apa hubungannya denganmu. Baekhyun dan aku dekat. Dan tentu dia juga mempunyai pasangan sendiri kenapa kau harus sibuk mengurusi ini."

Nana sudah tidak lagi heran, jika chanyeol yang sekarang kerap berkata dingin padanya. Karena sejak perjumpaan di apartemen chanyeol itu semua sudah jelas berbeda. Dan kecurigaannya adalah karena wanita lain. Dan benar saja, saat nana tahu dari jongdae chanyeol dekat dengan baekhyun, maka dia sudah menjatuhkan tuduhan kepada gadis itu. Baekhyunlah yang mengubah chanyeolnya, dan diapun harus kembali mengubah chanyeolnya dan membuat baekhyun sadar. Dia tidak salah bukan? Seorang kekasih tidak akan rela kekasihnya berubah karena wanita lain. Dan jangan sampai lelakinya berpaling kepada wanita lain. Maka sebelum itu terjadi nana perlu bekerja keras membuat kekasihnya kembali seperti dulu. Chanyeol yang mencintainya, dan tetap akan seperti itu.

"aku kira. Lagipula aku harus menegaskan ini sayang. Kalian Cuma dekat satu sama lain. Tidak lebih." Nana masih keukeuh dengan pendapatnya jika suatu saat baekhyun bisa mengambil chanyeol darinya. Kekhawatiran kekasih tentu tidak tanpa alasan. Karena nyatanya baekhyun dan chanyeol terlalu dekat, itu yang dia dengar dari jongdae.

"sepertinya aku harus pergi oppa, aku lupa kalau aku punya janji dengan daehyun" baekhyun beranjak, mengambil tasnya dan membungkukan badanya sedikit sebelum benar-benar keluar dari ruangan chanyeol.

Chanyeol kembali menghembuskan nafas berat. Dia merasa baekhyun pasti sangat kecewa atau apalah yang berada dihatinya pasti tidak enak. Kenapa disaat seperti ini nana harus datang kembali padanya, dan membuatnya semakin rumit.

"jadi apa urusanmu kemari?"

Nana tersenyum begitu manis. "aku datang karena merindukanmu sayang. Dan membuat suasana diantara kita kembali hangat. Kamu tau, perlakuanmu kepadaku beberapa hari ini begitu kejam." Nana mengucapkannya dengan manja, berharap chanyeol bisa luluh padanya, dan kembali memperhatikannya. Seperti dulu.

Tapi nyatanya yang diinginkan nana berbeda dari kenyataan. Chanyeol terlihat jengah, dan berusaha sebisa mungkin tak memperlihatkannya pada nana. Perasaannya entah sudah pergi kemana, karena baginya nana bukan lagi seseorang terpenting untuknya. Posisi itu sudah tergantikan, oleh orang yang baru dikehidupannya. Begitu spesial dan mampu membuat hidupnya berbeda dan fikirannya meluas. Orang itu Byun Baekhyun, gadis yang selalu ada untuknya, yang selalu mengisi hari-hari kosongnya. Dan membuatnya kembali memandang maju.

"aku sibuk nana. Kamu bisa pulang, karena kerjaanku banyak. Maaf aku tidak bisa mengobrol denganmu." Chanyeol kembali memfokuskan dirinya kepada laptop. Mengabaikan nana yang mendengus sebal.

Nana langsung beranjak dan keluar dari ruangan chanyeol dengan perasaan kesal. Kesal kepada chanyeol dan perubahan sikapnya.

"Baekhyun..." baekhyun membalikan tubuhnya saat mendengar namanya dipanggil.

Seorang wanita berlari mendekatinya dengan senyuman. Wanita yang tadi berada diruangan chanyeol bersamanya. Yang baekhyun tahu namanya adalah Nana. Kenapa dia memanggil baekhyun? Apa ada yang ingin dibicarakan?.

"ada apa nana-ssi?"

Nana tersenyum sebelum mulai berbicara. Wajah ramahnya membuat baekhyun terheran-heran, bukankah tadi nana terlihat begitu tak menyukainya. Kenapa jadi terlihat begitu ramah?.

"ada yang ingin aku bicarakan dneganmu. Bisa kita berbicara?"

Baekhyun mengernyit.

Melihat wajah nana yang begitu memohon membuatnya menyetujui begitu saja. Tanpa berfikir dulu sebenarnya apa yang ingin nana bicarakan. Baekhyun berharap ini bukanlah pembicaraan buruk atau sesuatu yang bisa mengganggu fikirannya.

"kalau begitu, ayo bicara di cafe depan itu"

To be continute...

Saya buat yang versi full part 2. Kemaren baru setengah, yah kalau diitung itu bisa sekitar tiga perempat. Loh? Hehehe... jangan dibahas yah. Suka ngga jelas memang saya xD

Oke bagaimana part duanya?

Saya minta respon kalian boleh?

Minimal favorite/follow ngga apa-apa. Comentnya juga bagus banget. Lebih bagus koreksi cerita saya. Karena bagaimanapun tulisan saya masih sangat tidak baik, karena itu saya minta koreksi dari kalian. Namanya juga belajar. Iya engga?

Maaf yah kalo banyak typo. Saya belum sempat ngedit soalnya. Terlalu sibuk di kerjaan hehehe... :D

Oke sip. See you next chapter...