Pure Love

By : Ayumi-Chan

Part 3...

Cast : Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

Jung Daehyun

Im Jinah / Nana

Other cast : Kim Jongdae

Kim Minseok (GS)

Kim Joonmyeon

Zhang Yixing (GS)

Do Kyungsoo (GS)

Kris Wu

Dan lain-lain.

Note : ini masih kelanjutan Flashbcak ya...

Wanita didepannya begitu cantik, menggoda dan penuh pesona. Sementara dirinya...

Baekhyun merasa minder. Dia kecil, tak menarik, dan biasa saja. Apa yang bisa dilihat darinya dibanding dengan seorang nana?. Baru sampai cafe saja sudah sangat terlihat banyak yang memandang kearah Nana. para pria yang kagum, bahkan wanita yang merasa iri.

Baekhyun rasa dia benar-benar tidak ada apa-apanya dengan nana.

"im nana?" seorang remaja beserta ketiga teman lainnya menghampiri nana dan baekhyun. Remaja dengan seragam sekolah itu terlihat begitu girang saat menyadari kalau dugaannya benar. Setelah nana mengangguk ketiga remaja lainnya mendekat menghampiri, dengan begitu gembira, "boleh minta foto bersama?"

Foto bersama?

Baekhyun semakin merasa heran. Apakah pesona nana benar-benar kuat? Sampai para remaja itu menganggapnya seperti selebriti. Atau memang baekhyun saja yang merasa ini semua aneh.

"terimakasih nana" selesai mengambil foto para remaja itu segera pergi. Baekhyun masih heran, sebenarnya siapa nana ini? Apa dia seorang selebriti?

Lalu ingatan itu melintas. Dimana saat itu chanyeol menceritakan perihal kekasihnya. Yang baekhyun tahu bernama.. nana! Oh pantas saja. Nana ini adalahs eorang aktris. Pemain film, yang namanya bahkans edang melejit karena sebuah drama romantis yang dibintanginya.

Baekhyun merasa bodoh. Dia sama sekali tidak mengenali seorang nana. Selebriti sekaligus mantan kekasih chanyeol yang sudah menolak menikah dengan chanyeol. Pantas saja. Nana pasti sangat menginginkan karirnya. Tapi melihat kejadian tadi diruangan chanyeol, nana sepertinya masih mencintai chanyeol. Entah alasan lain apa yang dia punya selain mempertahankan karir untuk menolak chanyeol. Mungkin dia takut karirnya langsung hancur saat menikah. Dimana saat sedang ebrsinar-sinarnya.

"kamu mau pesan apa baekhyun?"

Eh?

Baekhyun langsung tersadar dari lamunannya, dan mulai membuka menu yang berada didepannya. Melihat-lihat apa gerangan yang akan dipesannya, namun percuma dia tidak fokus dan bingung ingin pesan apa?

"terserah eonni saja" akhirnya hanya keputusan itu yang dirasa lebih baik untuk baekhyun. Dia yakin nana akan memilihkan minuman atau bahkan makanan yang sesuai untuknya.

Baekhyun merasa nana begitu baik dan cantik. Lalu apa yang salah? Kenapa chanyeol sampai tak mau memaafkannya? Bukankah chanyeol bahkan bilang dia sangat mencintai kekasihnya. Itu jelas im nana kan? Lalu apa lagi yang ditunggu lelaki itu?

"aku tidak mengerti baekhyun, chanyeol benar-benar berbeda. Apa dia begitu marah sampai tak mau memaafkanku?"

Wajah cantik nana begitu pilu. Terlihat kesedihan yang sesungguhnya dia pancarkan. Mungkin benar, nana begitu sakit melihat chanyeolnya berubah.

"chanyeol oppa sangat mencintaimu eonni, dia hanya butuh waktu untuk menutup lukanya perlahan-lahan. Eonni berikan saja dia waktu yang cukup. Aku yakin dengan ini dia akan kembali seperti chanyeol eonni yang dulu"

Nana tersenyum getir. Menatap baekhyun dengan mata yang berkaca-kaca. Jika saja bukan ditempat umum, nana sudah yakin airmatanya akan lolos begitu saja.

"terimakasih baekhyun. Aku juga berharap begitu"

Selanjutnya hanya ada perbincangan kecil diantara mereka. Nana sedikit banyak bercerita mengenai kisah cintanya dengan chanyeol. Bagaimana dulu chanyeol mengejarnya, dan selalu tidak perduli bahkan saat nana terus menolaknya. Chanyeol begitu gigih, mengejarnya dengan cara apapun. Sampai akhirnya nana bisa tersentuh hatinya, dan menerima chanyeol dengan membalas cintanya.

Kembali bercerita masa lalu yang begitu indah itu, membuat nana kembali pilu. Dulu chanyeol bahkan tidak pernah sebegitu marahnya saat nana berbuat salah. Lelaki itu selalu memaafkannya meski kadang tingkah nana kelewatan. Cinta chanyeol begitu besar untuknya, sampai kesalahan selalu termaafkan dari lelaki itu. Tapi sekarang, sepertinya nana benar-benar sudah tak bisa mendapatkan maaf dari chanyeol. Lelaki itu sudah terlanjur sakit. Dan sulit untuk memaafkan nana. Dan kalau mungkin di maafkan, maka mereka tidak pernah bisa bersama seperti dulu.

Acara perbincangan itu selesai. Dengan mereka yang memilih berpisah di pertigaaan jalan saat keluar dari cafe. Baekhyun berniat ingin menemui daehyun, kekasihnya yang pasti sudah menunggunya. Dan nana mungkin akan kembali ke hotel untuk beristirahat sekaligus menjernihkan fikirannya.

"percaya padaku eonni, chanyeol oppa sangat baik. Dan dia akan memaafkanmu" senyum baekhyun berkembang. Membuat nana sedikit merasa lega.

Meski kenyatannya perasaan takut itu masih menggelanyutinya. Selama yang dia nilai dari baekhyun, gadis ini baik dan mneyenangkan. Mungkin itu juga yang membuat chanyeol menyukainya. Tidak!. Hati nana langsung berteriak. Chanyeol akan selamanya menyukainya. Dan dia tidak akan menyukai wanita lain selain dirinya. Harusnya seperti itu. Maka mungkin dia harus lebih berjuang lagi mengejar chanyeolnya. Membawanya kembali pada genggamannya. Harus. Meski kenyataan cara yang dipakainya sudah habis, mungkin dia akan menggunakan cara buntu.

"terimakasih baekhyun. Sampai jumpa lain waktu"

Kali ini mereka benar-benar terpisah. Menuju tujuan masing-masing.

Baekhyun berjalan dengan cepat ketempat janjiannya dengan daehyun. Dia berharap lelaki itu tidak menunggunya terlalu lama. Langkah kakinya dipercepat demi mengejar bus yang hampir melewatinya. Beruntung bus itu cepat berhenti saat menyadari akan ada penumpang naik. Segera baekhyun memijakan kakinya memasuki bus. Mendudukan dirinya di bangku bus yang lenggang. Tidak banyak orang didalam bus ini, karena memang sekarang tepat jam sepuluh. Waktunya orang menggeluti pekerjaannya. Berbeda dengan baekhyun yang hanya guru les, jadi dia bisa sedikit bebas dijam segini.

Mengingat kembali percekapannya dengan nana, baekhyun jadi sadar. Dia memiliki daehyun yang mencintainya. Yang selalu memaafkannya saat baekhyun berbuat salah. Mungkinkah jika dia membuat kesalahan yang sangat fatal daehyun tidak akan pernah memaafkannya. Seperti apa yang dilakukan chanyeol kepada nana. Memikirkannya membuat baekhyun getir. Dia tidak mau kejadian itu terjadi padanya. Cukup dia mendengar itu dari nana. Dia ingin hubungannya dan daehyun tetap seperti ini. Damai. Meski masalah datang akan mampu menghadapinya dengan bijak. Tanpa perlu adanya perpisahan dan kebencian. Yah. Baekhyun sudah sangat nyaman seperti ini. Mungkin juga dia harus berusaha lebih pengertian lagi pada daehyun, dan tidak akan menuntut lebih lagi pada lelaki itu. Semua sudah cukup. Yang terpenting hubungan mereka baik-baik saja.

Baekhyun memantapkan diri. Dia yakin semua akan bisa berjalan sesuai jalur. Dan rencana-rencana bisa mereka atur bersama bukan. Dia dan daehyun. Itu jauh lebih indah.

Senyumnya mengembang.

Keadaan dan jalan kehidupan ternyata tak bisa kita atur sesuka hati saja. Meski kita sudah merencanakan semuanya dengan baik. Tuhan mengarahkannya berbeda. Dan itu sangat bersitegang dengan apa yang kita mau. Begitulah. Baekhyun rasa hidup benar-benar mempermainkannya. Mempermainkan hubungannya dengan Daehyun. Disaat dia sudah memilih dan akan tetap berusaha mempertahankan hubungannya dengan daehyun. Disaat itu masalah lain datang. Daehyun benar-benar harus pergi jauh darinya lagi. Bukan seoul ataupun kota lain dikorea. Tapi australia. Yang begitu jauh dijangkau. Dan itu membutuhkan waktu lama. Dua tahun.

Baekhyun mendesah. Mengaduk-aduk minuman didepannya dengan tidak bersemangat.

"baby" panggilan daehyun tidak membuatnya memandang daehyun. Dia hanya diam dengan perasaan kesal luar biasa. Dia benar-benar tidak mengerti jalan fikiran daehyun. Kenapa dengan tega dia meninggalkan baekhyun lagi, sendirian dikota ini, tanpa kepastian. Rasanya baekhyun ingin marah pada lelaki ini. Tapi... sepertinya percuma. Daehyun keras kepala. Dan dia pasti akan memiliki alasan yang selalu berhasil membuat baekhyun luluh. Dan akhirnya mengijinkannya.

"ini demi masa depanku baekhyun. Masa depan kita. Bukankah jika aku bisa berkarir bagus disana, maka disini aku akan sangat dianggap dan dipandang hebat. Baby aku janji tidak akan lama. Satu tahun aku pastikan pulang" daehyun berusaha membujuk baekhyun. Menggenggam tangan kekasihnya lembut. Memohon pengertian, bahwa jalan ini adalah baik untuk mereka.

Tapi baekhyun, tetap merasa ini salah. Jika daehyun benar-benar pergi dia merasa akan benar-benar berpisah dari daehyun. Perasaannya mengatakan demikian. Kalaupun dia katakan ini pada daehyun, dia tidak yakin Daehyun mempercayainya. Lelaki ini pasti hanya akan memberikan pengertian, bahwa baekhyun jangan terlalu khawatir. Semua akan baik-baik saja saat keduanya saling percaya. Daehyun sering mengatakan itu. Dan baekhyun bosan mendengarnya jika kata-kata itu diucapkan lagi.

Desahan nafas keluar dari bibir baekhyun. Merasa berat namun dia harus tetap memutuskan.

"baby..."

"aku tidak keberatan kamu pergi. Aku percaya padamu"

Daehyun langsung tersenyum begitu mendengarnya. Dia begitu senang, dengan terus mengecup tangan baekhyun berkali-kali sambil mengucapkan terimakasih yang entah berapa kali. Laki-laki itu terlihat begitu senang. Dan baekhyun mau tak mau ikut senang melihatnya

Mungkin memang ini yang terbaik untuk mereka. Yah. yang terbaik untuk sekarang. Tapi kedepan siapa yang tahu?.

Prang...

Baekhyun tersentak dari lamunannya. Saat sadar dia menjatuhkan sebuah piring saat sedang membersihkannya. Fikirannya kemana-mana sejak tadi. Melamun, sampai tidak fokus sama sekali. Baekhyun meruntuk karena terlalu banyak yang difikirkannya. Seharusnya dia tidak memikirkan ini. Tidak. Karena dia tidak berhak memikirkannya. Yang harus difikirkannya hanya daehyun. Bukannya chanyeol.

"kamu melamun baek?"

Baekhyun mendongak. Memandang chanyeol yang menjulang diatasnya. Matanya terpengarah, saat menatap chanyeol bak pangeran negri dongeng yang datang menemuinya. Sampai chanyeol berjongkok didepannya. Baekhyun tak henti-hentinya memandang chanyeol. Baginya chanyeol bagai berlian indah yang hanya bisa dipandang, tanpa bisa disentuhnya.

"aku akan membantumu"

Baekhyun hanya masih diam. Sampai chanyeol selesai membersihkan pecahan piringpun, baekhyun masih diam. Memandang chanyeol disetiap gerakan yang dilakukan lelaki itu. Seolah baekhyun enggan mengalihkan pandangan barang sedetikpun.

"baekhyun..."

Belum sadar.

"byun baekhyun..."

Masih belum sadar.

"baby"

Baekhyun mengerjap. Saat ucapan itu terlontar dari mulut chanyeol. Pandangannya terhenti, dan baekhyun menunduk malu. Semburat kemerahan muncul dipipinya, dengan rasa hangat menjalar. Baekhyun begitu malu, dan terus meruntuki dirinya yang terlalu terbawa lamunan.

Chanyeol terkekeh kecil melihat baekhyun yang begitu lucu. wajahnya yang kemerahan semakin manis dipandangnya.

"baekhyun..." chanyeol mengangkat wajah baekhyun yang tertunduk, mengarahkannya untuk balas menatapnya. Kini dua pasang mata itu saling menatap.

Mata sipit dengan bola mata hitam itu balas menatap chanyeol, dalam tapi berusaha menghindar. Dan dari sudut pandang chanyeol, lelaki itu tahu. Baekhyun memandangnya memuja. Tetapi baekhyun seolah terus berusaha menghindarinya, dengan mencari-cari pandangan lain yang bisa mengalihkannya. Sayang, chanyeol bukan orang awam mengenai apa itu ketertarikan. Dan dia tahu baekhyun tertarik padanya. Bahkan saat dimana mereka pertama bertemu. Saat baekhyun memberikan minuman padanya, dihari dia pertama menginjakan kaki dirumah jongdae. Chanyeol tahu. Tapi dia berusaha tidak memperdulikan, karena yang dia tahu baekhyun memiliki seorang kekasih.

Tapi lambat laun, setelah kebersamaan mereka. Chanyeol merasakan hal yang berbeda. Setiap didekat gadis ini. Saat mendengarkan ceritanya. Ataupun saat dimana saling tertawa bersama. Dia merasa sangat nyaman, seperti pulang kerumah.

Baekhyun berbeda dengan nana. Nana bagai bintang yang selalu dipuja chanyeol dengan segala harapan. Selalu berusaha untuk menggapainya dengan cara apapun. Namun tetap saja, saat bintang sudah digenggamannya chanyeol merasa berbeda. Perasaan yang nyatanya hanya sebatas keinginan belaka. Tanpa kenyamanan yang didapatnya. Tapi dari baekhyun. Sejak gadis ini hadir di hidupnya chanyeol sudah merasakan kenyamanan, bagai berada dirumah. Tanpa perlu mengejar terlalu jauh, baekhyun ada untuknya. Membuatnya merasa tenang dan damai. Baekhyun adalah rumahnya.

Chanyeol mendekatkan wajahnya kepada baekhyun. Berusaha sehalus mungkin melakukan tindakan yang mungkin akan membuat baekhyun marah setelah sadar nanti. Tapi chanyeol ingin. Dia sangat ingin merasakan kelembutan bibir baekhyun. Mencecapnya. Merasakan sensasi nikmat yang bisa menenangkannya.

Hingga saat kedua bibir itu bersentuhan. Tak ada gerakan dari baekhyun. Gadis itu masih terdiam, dengan mata terbukanya. Mungkin syok dan tidak menyangka. Namun didetik berikutnya mata baekhyun terpejam. Membuat chanyeol lebih berani melakukan lebih. Mulai menggerakan bibirnya. Melumat dengan lembut dan perlahan. Memberikan kesan pada baekhyun jika ciuman mereka ini akan indah. Lembut dan juga terkenang selamanya.

Baekhyun membalas ciumannya. Rasa senang luar biasa bagi chanyeol. Saat kedua bibir itu saling memangut. Memberikan sensasi-sensasi manis satu sama lain. Ciuman itu lembut tanpa nafsu. Hanya penunjukan rasa cinta terpendam keduanya. Rasa cinta yang diutarakan lewat ciuman yang ringan namun dalam.

Chanyeol dan baekhyun mulai sadar. Perasaan mereka selama ini. Yang selalu mereka anggap sebagai rasa sayang biasa. Namun nyatanya lebih. Dan itu terbukti saat keduanya mulai sadar ingin memiliki satu sama lain. Biarlah egois. Yang terpenting adalah mereka bisa bahagia memiliki rasa ini. Rasa yang jika tak tertuangkan akan membunuh mereka secara perlahan. Rasa yang terus mengrogoti jiwa jika terus terpendam. Dan rasa yang begitu dalam dan semakin dalam jika tak dikeluarkan.

Dan sekaranglah saatnya rasa itu diluapkan. Untuk kebahagiaan keduanya. Kelegaan hati yang selama ini serasa menghimpit dengan tumbuhnya rasa yang semakin hari semakin besar.

"aku..." chanyeol berdehem saat menyadari suaranya terdengar serak. Nafsu mulai menyerangnya, jika saja tidak dia tahan sekuat tenaga, mungkin akan terluapkan tadi. Dan bisa jadi bukan hanya ciuman yang terjadi. Tapi lebih dari itu. "aku mencintaimu baekhyun"

Baekhyun diam. Dia sebenarnya sudah tahu akan apa yang dikatakan chanyeol. Tapi entah kenapa dia masih merasa tidak siap mendengarnya. Tapi mau bagaimana lagi, kata itu sudah terucap dari chanyeol. Dan fikirannya bena-benar kalut. Bergelut antara iya atau tidak.

Dia mencintai chanyeol. Dan baekhyun sadar itu, apalagi saat ciuman mereka beberapa saat lalu. Baekhyun sudah sangat menyadarinya. Dia menginginkan chanyeol. Dan berharap mereka bisa memeliki sebuah hubungan. Hubungan yang mengikat keduanya. Untuk saling mencintai dan menjaga.

Tapi kenyataan berkata ini salah. Dia sudah punya daehyun. Dan chanyeol sudah punya nana. Dan jika mereka bersama, akan ada dua hati yang terluka.

Baekhyun memejamkan mata. Begitu berat memutuskan semua ini. Ingin dia mengatakan pada chanyeol. 'ya aku juga mencintaimu' tapi... jika kata itu terucap maka yang terjadi adalah...

"kau tidak perlu menjawab apapun baekhyun. Aku tau kau juga mencintaiku. Tapi fikiranmu selalu mengatakan itu salah karena kau masih terikat dengan daehyun" baekhyun memandang chanyeol yang masih begitu dekat dengannya. Wajah mereka masih berhadapan.

Baekhyun mulai merasakan sentuhan chanyeol dipipinya. Mengiring anak rambutnya menuju belakang telinga. Mengelus pipinya dengan begitu lembut. Damai dan tentram. Baekhyun selalu merasa tenang saat chanyeol menyentuhnya. Bagai dia menemukan sosok yang cocok untuk tempatnya berlindung.

"dan aku tau kamu masih memikirkan bahwa aku juga memiliki nana yang masih harus ku tangani" chanyeol mulai tediam sesaat, memandang baekhyun begitu intens. "tapi kau tidak perlu khawatir tentang nana. Aku sama sekali sudah tak mencintainya. Dan kenyataan dia sudah menyakitiku sudah kulupakan lama. Dan aku sudah memaafkannya"

Baekhyun masih diam. Menunggu chanyeol melanjutkan ucapannya.

"aku tahu ini salah baekhyun. Tapi cinta tidak pernah salah. Aku mencintaimu bukan dengan alasan apapun, karena aku tidak pernah punya alasan mencintaimu. Cinta ini hadir begitu saja. Tumbuh semakin besar, dan menyesakan jiwa. Aku tidak butuh suatu hubungan keterikatan. Karena yang terpenting mengetahui kau juga mencintaiku adalah yang lebih indah"

Perasaan berbeda dirasakan baekhyun. Entah sedih atau sakit. Namun rasanya sungguh menghimpit. Chanyeol benar. Mereka tak butuh hungan keterikatan. Karena nyatanya mereka dalam posisi yang sulit. Posisi yang jika bergeser sedikitpun akan melukai sebelah pihak yang ikut didalamnya. Dan baekhyun sungguh tidak mau menyakiti siapapun. Tidak. Karena orang itu daehyun. Yang sangat baik padanya, dan juga sangat mencintainya.

"kau benar oppa. Kita tidak butuh hubungan keterikatan. Karena mengetahui kau juga mencintaiku adalah yang paling indah"

Dalam suasana sunyi. Mereka mulai mendengar detak jantung masing-masing. Saat dimana mereka saling berpelukan. Menuangkan kasih bersama. Dalam nuansa sunyi yang pekat. Mereka saling berbisik kata cinta. Penenang jiwa. Yang mampu membuat mereka bahagia disaat ini. Namun entah esok apa yang terjadi.

"bagaimana kalau kita backstreet?"

Baekhyun mengernyit. Dan langsung melepaskan pelukannya dari tubuh chanyeol. Membuat lelaki itu dengan tidak rela juga melepaskan pelukannya.

"maksud oppa?"

"kita berhubungan dibelakang. Dengan tidak ada siapapun yang tau. Bagaimana?"

Bugh!

"aw!" chanyeol langsung pura pura menjerit kesakitan saat baekhyun memukul bahunya, cukup kencang. Namun sebenarnya tak seberapa, karena tenaga baekhyun yang kecil tak akan membuat tubuh chanyeol yang besar menjadi kesakitan.

"aku tidak akan mengikuti ide gilamu oppa. Tidak akan!" baekhyun berdiri dan berbalik meninggalkan chanyeol menuju kamarnya. Dengan kaki yang dihentak-hentakan.

"fikirkan baik-baik little baekki. Aku akan menunggu jawabanmu!"

Brakk! Pintu dibanting keras saat baekhyun masuk kedalam kamarnya. Chanyeol terkekeh. Karena rasanya sangat konyol. Dia bahkan tidak mengerti jalan fikirannya sendiri. Backstreet? Ada-ada saja. Chanyeol menggeleng-geleng dengan langkah menuju kamarnya.

"awas kepalamu copot bung."

Jongdae yang kebetulan berpapasan dengannya langsung berceletuk. Namun chanyeol tak memperdulikannya, hanya mengacungkan ibu jari yang bahkan sangat tidak nyambung dengan apa yang dikatakan jongdae barusan.

"sepertinya otak anak itu berpindah"

Nana mengaduk-aduk minumannya dengan tidak bernafsu. Jus jeruk itu sama sekali belum disentuhnya, hanya dipermainkan dan dipandanginya terus menerus, tanpa berniat meminumnya. Fikirannya terlalu kalut. Perasaannya begitu kosong. Chanyeol yang dulu selalu didekatnya semakin menjauh, menjauh dan kian menjauh.

Nana mendesah. Ini memang salahnya. Yang terlalu gegabah menolak chanyeol. Tanpa merindingkannya dahulu. Mungkin kalau dulu dia bicarakan penolakan itu dengan baik baik, chanyeol masih bisa seperti dulu. Tapi nyatanya semua sudah terlambat. Terlanjur terjadi. Dan tak ada yang bisa diperbuatnya.

"maaf jika anda menunggu lama. Kebetulan saya sedang sibuk mengurus keberangkatan saya ke australia" seorang lelaki langsung duduk didepannya, dengan nafas -yang sedikit memburu. Sepertinya laki-laki itu begitu tergesah untuk menemuinya.

Nana memandangnya santai. Dengan senyum manis yang selalu dikeluarkannya. Senyum hangat dan ramah. Membuat semua orang terpesona. Dia mempersilahkan laki-laki itu duduk setelah mengucapkan kata tidak masalah.

"anda mau pesan apa tuan jung?"

"terserah nona im saja"

Nana segera memanggil pelayan dan mengatakan sebuah minuman hangat untuk tuan jung. Setelah pelayan itu pergi, nana mulai memandang pria didepannya dengan serius.

"sebenarnya aku mengajakmu bertemu bukan karena aku ingin diwawancara secara eksklusif olehmu. Tapi karena hal lain." Daehyun mengernyit. Ditelfon tadi nana mengatakan kalau dia bersedia diwawancara olehnya secara eksklusif, tapi yang didengarnya sekarang berbeda. "mengenai hal lain apa?"

"ini menyangkut kekasihmu. Sebenarnya aku tidak mau mencapurkan ini dengan pekerjaan. Tapi tentu kamu membutuhkan informasi banyak tentangku bukan? Dan aku bersedia menerima tawaran wawancaramu asal kau mau melakukan apa yang kumau"

Sekali lagi daehyun dibuat bertanya-tanya mengenai apa yang diinginkan nana. Wanita didepannya ini terlihat penuh misteri dengan berbagai hal yang disembunyikannya.

"dan hal yang harus kubantu itu adalah..."

Sudut bibir nana terangkat. Dengan gerakan pelan dia mengucapkan sebuah kalimat yang membuat daehyun harus melebarkan bola matanya.

Benarkah itu.

Dan selanjutnya cerita panjang mengalir dari bibir nana. Sebuah cerita mengenai kedekatan kekasihnya Baekhyun dengan seorang dokter bernama Chanyeol yang baru diketahuinya jika itu adalah kekasih nana. Daehyun sangat kaget mendengar informasi itu. Lebih kaget lagi ini ada kaitannya dengan baekhyun. Kekasihnya. Ya tuhan. Kenapa bahkan dia tidak pernah tau informasi ini.

"aku akan datang bu. Tenang saja aku akan bersama baekhyun, aku akan kenalkan dia padamu bu" chanyeol melirik baekhyun disebelahnya yang sedang asyik menyantap es krim strawberry yang dipesannya beberapa menit lalu. Kembali dia fokus kepada ibunya yang berbicara diseberang lewat telephon. Chanyeol tersenyum mendengarnya.

"pasti bu. Aku yakin ibu akan sangat menyukainya. Dia sangat manis"

Baekhyun mengernyit. Saat mendengar ucapan chanyeol. Wajahnya menatap lelaki itu yang mengedipkan sebelah mata kearahnya, membuat pipinya kembali merona. Chanyeol benar-benar mampu membuat seluruh tubuhnya merasakan hal-hal aneh dan berbeda.

"aku akan telephon lagi nanti. Bye bu aku mencintaimu"

Sambungan telephon itu terputus setelah dari seberang chanyeol mendengar ibunya mengucapkan salam dan kata sayang yang sering didengarnya selama hidupnya. Chanyeol senang ibunya sudah bisa ceria dan memperlakukannya seperti dulu. Dan dia senang. Hidupnya serasa lebih berwarna lagi. Tanpa perlu bayang-bayang cemas menakutinya. Dan semua itu berkat baekhyun. Gadis yang dicintainya.

"oppa mengatakan apa pada bibi park? Jangan-jangan membicarakanku ya?" baekhyun memicing dengan mengacungkan sendok es krim kearah chanyeol. Membuat chanyeol terkekeh dan dengan cepat berkilah. "jangan terlalu percaya diri. Makan saja es krimu itu dengan benar" chanyeol menarik tangan baekhyun, mengarahkan sedok es krim pada cup untuk mengambil es krim dan diarahkan kedalam mulutnya. "enak juga"

Baekhyun berdecak saat chanyeol dengan seenaknya memakan es krimnya. Namun selanjutnya dia menyendok es krim untuk dimasukan lagi kemulut chanyeol "A!" cepat chanyeol membuka mulut, dan es krim strawberry itu sudah lumer dalam mulutnya. Chanyeol tersenyum dengan tangannya mengacak rambut baekhyun gemas.

Baekhyun cemberut, disela-selanya memakan es krim. Kebiasan chanyeol memperlakukannya seperti anak kecil kadang membuatnya kesal. Tapi baekhyun juga menyukainya. Karena chanyeol selalu bisa membuat perasaannya terus berbunga-bunga.

"aku akan mengenalkanmu pada ibuku. Dia ingin sekali bertemu denganmu" baekhyun menghentikan sendokan kemulutnya, memandnag chanyeol dengan kernyitan. "kenapa?"

"karena aku menceritakanmu padanya. Dan dia begitu penasaran padamu, dan memaksaku membawamu ke seoul, weekend ini" chanyeol memandang baekhyun yang diam, dengan kernyitan diwajahnya chanyeol melihat ada keraguan pada raut wajah baekhyun. "kau keberatan?"

Baekhyun menggeleng. Menyendokan kembali es krim kemulutnya. "sama sekali tidak. Hanya saja, aku pasti akan canggung sekali pada bibi park." Chanyeol terkekeh, sebelum tangannya menggenggam tangan sebelah baekhyun yang terabaikan. Senyumnya mengembang.

"tenang saja, ada aku. Tidak usah khawatir. Ibuku sangat baik dan dia tidak akan memakanmu"

"aw!" chanyeol langsung menjerit saat kakinya diinjak baekhyun dibawah meja. Wajah Baekhyun menggeram protes. Menurutnya ini sama sekali tidak lucu dan chanyeol tetap saja menganggapnya seperti lelucon.

"ini tidak lucu dokter park!"

Meski begitu chanyeol hanya tertawa. Karena selain senang dia mengerjai baekhyun. Dia akan senang saat melihat wajah kesal baekhyun yang begitu lucu. begitu menggemaskan dan mampu menaikan naluri lelakinya.

"kau benar benar membuatku bergairah nona byun"

Jdakkk!

"dasar dokter mesum!"

.

.

.

.
To be continute...

Hello... ini udah versi editnya loh hehehe.. maaf yah kalau masih banyak typo. Maklum editnya pagi-pagi pas mau berangkat kerja hehehe... part depan bakal masuk ke sekarang bukan masa lalu lagi. Dan jika kalian merasa bingung dengan alur maju mundur ini, maafkan saya. Karena ini sudah menjadi ceritanya hehehe... maklumin saja.

Saya ngga bisa balas review yah. Maaf banget. Yang pake akun bisa saya balas lewat inbok. Yang ngga maaf yah ngga bisa saya bales. Tapi saya tetep baca review kalian kok. Review kalian adalah penyemangatku. Terimakasih. Aku sayang kalian...

Ok. See you next chapter ...