Pure Love
By : Ayumi-Chan
Part 4...
Cast : Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
Jung Daehyun
Im Jinah / Nana
Other cast : Kim Jongdae
Kim Minseok (GS)
Kim Joonmyeon
Zhang Yixing (GS)
Do Kyungsoo (GS)
Kris Wu
Dan lain-lain.
~ Pure Love ~
Baekhyun masih memandang chanyeol yang sepertinya belum mau berbicara. Sampai detik-detik yang lama baekhyun menunggu. Dia masih menunggu chanyeol berbicara. Suaminya sudah diam sejak tiba tadi, hanya berucap sedikit dan selanjutnya diam lagi. Kenpa sebenarnya dengan suaminya ini? Ada masalahkah? Fikiran baekhyun menerka-nerka.
"chanyeol... sebenarnya ada apa? Kau punya masalah?" chanyeol memandnangnya dengan senyuman kecil. Menggelengan kepalanya. Lelaki itu mulai menyesap kopi yang sudah disediakan baekhyun untuknya. Menegaknya perlahan-lahan.
"sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Tapi sepertinya aku tunda saja"
Chanyeol mengernyit. Melihat baekhyun yang beranjak seperti hendak pergi, dia menahannya. Dan menarik pelan baekhyun untuk duduk kembali. "tanya apa?"
Baekhyun mendesah. Entah dia memang harus mengatakan ini pada chanyeol atau nanti saja. Tapi rasa penasarannya terlalu dalam. Mungkin memang harusnya dia bertanya pada chanyeol sekarang juga.
"mengenai seorang anak bernama taehyung"
Chanyeol mengernyit. Dia merasa tidak mengenal anak bernama taehyung. "memangnya siapa anak itu? Dan apa hubungannya denganmu?"
"itu masalahnya. Dia satu sekolah dengan sehun. Dan tadi pagi saat aku mengantar sehun ke sekolah. Anak itu bertingkah aneh sekali padaku" chanyeol masih tidak mengerti. Kenapa baekhyun harus memusingkan seorang anak yang bahkan dia tidak tahu apa hubungannya dengannya. Kenapa harus difikirkan. "lalu kenapa kamu memikirkannya? Mungkin dia memang aneh"
"bukan begitu yeol. Dia tiba-tiba saja memanggilku bunda" chanyeol terkejut. Perasaannya mulai gelisah menyadari itu. Taehyung ini apakah sebenarnya... "aku sudah mengatakan padanya kalau mungkin dia salah orang. Tapi anak itu tetap keukeuh bilang aku bundanya. Aku tidak mengerti yeol. Kenapa aku juga merasa dekat sekali dengannya? Apa mungkin ini ada kaitannya dengan masa laluku?"
Mati kau chanyeol. Suara hatinya menekan. Menyadari jika keganjalan akan segera terungkap. Dan disamping itu dia bisa kehilangan semuanya. Dunianya. Chanyeol terus memutar otak, mencari jawaban yang mungkin bisa meyakinkan baekhyun tentang anak yang bernama taehyung ini. Yah setidaknya mencegah kecurigaan baekhyun.
"yeol?" baekhyun mengernyit saat chanyeol hanya diam dan tak memberikannya penjelasan. Lelaki itu malah berusaha menyesap kopi seperti menghindari sesuatu. "kau tidak mendengarkanku" baekhyun cemberut dan hendak pergi. Tapi chanyeol menahannya dan menyuruhnya kembali duduk. "aku dengar sayang"
Baekhyun akhirnya kembali duduk. Meski masih dengan wajah kesal. Dia menunggu chanyeol berbicara.
Chanyeol mendesah. Sebaiknya dia memang menjawab apapun itu. Jangan sampai membut baekhyun curiga. "mungkin dia salah satu muridmu" chanyeol ingat dulu baekhyun adalah seorang guru disalah satu tempat les. Mungkin dengan mengatakan itu baekhyun akan percaya.
"murid? Apa aku seorang guru?" chanyeol mengangguk. "guru les tepatnya. Dan kau memang sering bercerita padaku kalau ada salah satu murid yang sangat dekat denganmu. Dan setelah aku ingat-ingat memang kamu sering memanggilnya dengan taetae. Mungkin taehyung yang ini. Jadi wajar saja. Anak-anak kadang seperti itu"
Baekhyun mengangguk. Berusaha mengerti. Walau kenyataannya dia masih tidak yakin dengan penjelasan chanyeol. Apalagi mengenai taehyung yang mengaitkan dengan ayahnya. Pasti ada sesuatu yang lebih terjadi. Tapi baekhyun berusaha untuk tak menanyakan lebih. Mungkin jika dia sampai bercerita, takut ini bisa membuat masalah untuknya dan chanyeol. Jangan sampai masalah sepele bisa menghancurkan rumah tangga mereka.
"kasihan anak itu. Sepertinya dia sangat merindukan ibunya, sampai aku dipanggilnya ibu" baekhyun terkekeh. Sambil dirinya bersandar pada bahu chanyeol. Memeluk pinggang lelaki disampingnya dengan manja.
"yah mungkin ibunya sedang pergi jauh dan bersama seseorang" chanyeol menimpali dengan kekehan dan elusan tangannya dirambut baekhyun. Lelaki itu balas memeluk baekhyun dengan sangat posesif.
Baekhyun cemberut. "jahat sekali mengatakan seperti itu. Kalau tidak bagaimana? Kau bisa melukai perasaan anak sekecil itu" chanyeol mengangkat bahu.
"siapa yang tahu"
"tenanglah. Baekhyun pasti akan ketemu. Bersabarlah" youngjae menenangkan daehyun dengan elusan dibahunya.
Sahabatnya daehyun baru saja pulang dari busan, setelah berniat mencari baekhyun disana. Tapi setelah sampai dan mencari kemana-mana. Baekhyun tetap tidak ditemukan. Daehyun sudah hampir frustasi. Jika saja tidak ada youngjae disampingnya. Mungkin lelaki itu akan bertindak nekat.
"aku tidak tau harus mencari kemana lagi jae-ah. Baekhyun benar-benar menghilang tanpa kabar" ucapannya begitu sedih. Dia sudah berusaha sebisanya, tapi hasilnya sama. Baekhyun belum bisa ditemukannya. Sebenarnya kemana baekhyun?
"aku yakin baekhyun pasti berada di suatu tempat. Bersabarlah."
Daehyun mendesah. Jika dikatakan sabar dia sudah sangat sabar. Tapi tetap saja dia begitu takut. Takut baekhyun tidak akan bisa kembali lagi dengannya. Takut bahwa kenyataan telah memisahkan mereka.
Handphone daehyun berdering. Setelah keheningan terjadi diantara dirinya dan youngjae. Lelaki itu mulai mengangkat panggilan masuk dari handphonenya.
Taehyung calling...
Setelah tersambung suara sapaan semangat terdengar dari seberang. Suara putra tercintanya Taehyung. Begitu ceria diseberang sana dengan mengatakan hal-hal konyol yang membuat daehyung tersenyum. Putra semata wayangnya memang selalu bsia menaikan moodnya. Taehyung benar-benar mengingatkannya pada baekhyun.
Daehyun kembali termenung, saat sadar dia kembali mengingat baekhyun. Perasaan kosongnya kembal mengrogoti. Taehyung di seberang terus memanggil-manggilnya. Karena daehyun sama sekali tidak menimpali ucapannya. "iya tae. Kamu mengatakan apa?"
Hembusan nafas kecil bisa Daehyun dengar. Anaknya pasti sudah setengah kesal karena tidak didengar. Namun tidak lama suara taehyung kembali terdnegar. Dengan ucapan yang begitu mengejutkannya.
"tae bertemu bundah yah"
Sehun mengkerucutkan bibirnya. Melihat luhan yang begitu bahagia bersama taehyung. Dia iri, tentu saja. Melihat gadis yang disukainya bersama taehyung yang paling dibencinya. Lihat saja taehyung. Mungkin kau akan mendapatkan masalah dari sehun.
Taehyung yang tak sengaja menangkap sehun yang menatapnya seram segera menunduk. Takut kepada anak lelaki berwajah datar itu. Sehun memang tidak pernah dekat dengan siapapun selain luhan, dan sekarang luhan bersamanya. Sudah jelas sehun akan membuat perhitungan dengannya. Menyadari itu taehyung menegak ludahnya kasar. Dia tidak tau harus berbuat apa setelah ini. Dia takut kepada sehun. Yang memang sering membullynya bersama temannya kai yang juga sama tak menyukainya.
Waktu istirahat taehyung gunakan untuk menonton pertandingan bola kakak kelas yang kebetulan sedang berlangsung. Dia sedikit merasa tenang, selain dia suka menonton bola dia juga bsia terhindar dari sehun. Namun sepertinya perkiraan taehyung salah. sekarang sehun tengah menghampirinya bersama temannya kai. Dengan wajah seram khas sehun yang datang. Taehyung jadi merinding.
"kai tarik dia." Kai segera menarik taehyung yang sedang duduk. Dan segera diseret mengikuti sehun menuju belakang sekolah yang sepi.
Mereka berhadapan disana. Dengan taehyung yang menatap takut, dan sehun memandang dengan tajam seolah siap menjadikan taehyung mangsanya. Kai disampingnya hanya sibuk bermain game sehun yang dipinjamkan. Ini salah satu alasan kai mau berteman dan mengikuti semua perintah sehun. Dia bebas bermain game psp milik sehun dan selalu mendapatkan traktiran. Itu yang namanya mengambil keuntungan dalam pertemanan.
"maafkan aku sehun. Aku tidak bermaksud mengambil luhan atau membuat dia jauh sama sehun. Aku Cuma mau berteman sama luhan. Dan aku juga ingin berteman dengan sehun sebenarnya. Tapi..."
"siapa yang mau membahas luhan?" taehyun mengernyit. Sehun didepannya sudah tidak menyeramkan lagi. Tetapi tetap saja wajahnya masih datar khas sehun sekali. "aku Cuma mau minta maaf kemarin udah dorong kamu. Aku dimarahin mama gara-gara itu. Kamu mau maafin aku kan?"
Taehyung diam. Dia tidak percaya yang didengarnya bukan kemarahan atau bentakan seperti biasa. Sehun malah terlihat memohon padanya dengan mimik memelas. "mau kan taehyung. Maafin sehun ya? Please."
Taehyung Cuma mengangguk. Meski dia masih tidak percaya seorang sehun meminta maaf. Tapi bagaimana lagi, kalau dia tidak segera menjawab dia takut akan membuat masalah baru dengan sehun. Dia Cuma ingin punya banyak teman. Bukan banyak musuh.
"jadi kita berteman?" sehun mengacungkan jari telunjuknya, menunggu disambut taehyung. Merekapun saling menyentuhkan jari telunjuk dengan tersenyum bersama. Kai yang sepertinya sudah sadar dari keterhanyutannya memandang keduanya dengan kernyitan. Karena yang seharusnya terjadi adalah sehun yang membentak taehyung. Kenapa sekarang mereka tertawa bersama dan saling berpelukan seperti itu. Aneh.
"kalian tidak bertengkar?" bersama taehyung dan sehun menggeleng. "kita berteman" ucapan mereka bahkan serentak. Membuat kai bingung. Keterdiamannya membuatnya ditinggal taehyung dan sehun yang sudah kembali kekelas untuk mengikuti pelajaran kembali.
"hei tunggu aku. Kalian jelaskan apa yang terjadi."
Nana memandang orang didepannya dengan kernyitan. Seorang pria yang mengaku sebagai kepala polisi. Bernama kim joonmyeon.
Wajahnya terlihat tidak menandakan sebagai seorang polisi. Lebih terlihat seperti seorang dokter. Berwajah damai dan tenang bagai malaikat. Bagaimana bisa dia seorang kepa polisi? Fikiran nana sedikit tidak percaya.
"aku datang untuk mengintrogasimu secara langsung nona. Sengaja aku tak melakukannya dikantor karena permintaan seseorang" ucapan kepala posisi kim itu membuat nana mengernyit lagi, lebih dalam.
Permintaan? Permintaan siapa? Namun belum sempat nana terpuaskan dengan fikiran-fikirannya yang terus memutar mencari siapa yang dimaksud kepala polisi itu. Kembali dia harus dikagetkan dengan nama yang diucapkan polisi kim.
"park chanyeol memintaku agar mengintrogasimu secara pribadi." Seolah tahu kebingungan nana, polisi kim langsung mengatakannya. Sebagai bentuk jawaban pertanyaan di otak nana. Wanita itu tentu masih tercengang. Tidak percaya.
"chanyeol?"
"benar. Dan bisa kita mulai introgasinya. Aku perlu bukti bahwa kau memang tidak bersalah ataupun kebalikannya. Biar kasus ini cepat selesai"
Nana sama sekali tak menangkap baik ucapan sang kepala polisi. Dan saat pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari sang polisi nana hanya menjawab seadanya. Kadang ya, dan tidak. Tapi saat disuruh menceritakan detailnya. Nana mulai bercerita.
Bercerita dimana malam itu dia tak sengaja lewat jalan sepi yang belum pernah dia lewati sebelumnya, dengan alasan menghindari paparazi yang taks engaja menangkapnya baru saja keluar dari sebuah apartemen. Yang nana tak ceritakan untuk apa dia di apartmen itu.
Dia mulai bercerita bagaimana awalnya iu. Saat itu dia tidak tahu bawa seorang wanita sedang berjalan sendiri di jalan sepi itu. Dia sama sekali tidak fokus, karena pandangannya masih sesekali melihat kebelakang untuk memastikan paparazi tidak mengikutinya. Hingga tabrakan itu terjadi, nana tidak tahu sama sekali. Semua itu terjadi begitu saja. Saat dia menginjak rem pun rasanya tidak berguna.
Dan pada akhirnya karena rasa takut. dia meninggalkan perempuan itu begitu saja. Tergeletak tak berdaya dan seorang diri.
"saya salut anda menceritakannya begitu detail dan jujur" sang polisi mengumbar senyum hangatnnya. Namun nana hanya memandangnya datar.
"saya tidak akan merangkai sebuah kebohongan untuk sesuatu yang sudah saya lakukan. Tapi dengan harapan kasus ini jangan sampai didengar paparazi"
Senyum misterius tercetak diwajah malaikat sang polisi. Dengan berdiri, polisi itu hendak pamit untuk pulang. Karena introgasinya sudah selesai. Dia hanya perlu bukti dan saksi mata, jika sebenarnya kasus ini memang disengaja. Bukans ekedar kecelakaan biasa. Seperti apa yang dikatakan chanyeol.
"saya rasa anda harus berdoa. Bisa saja tanpa diketahui paparazi mencium berita ini, dan dengan cepat meluas keseluruh negri, bahkan dunia" ucapan polisi kim menelak nana. Membuat tubuhnya begitu dingin. Perasaannya gelisah. Bagaimana jika benar? Itu akan mengganggu karirnya. Dan masa depannya.
"kalau begitu saya permisi nona im. Semoga hari-hari anda menyenangkan." Kepala polis itu pamit, dengan melangkah perlahan keluar. Dengan nana yang mengikutinya, masih dengan perasaan gelisah yang menderanya.
"oh iya satu lagi. Orang yang anda takbar adalah seseorang yang terpenting untuk park chanyeol. Namanya byun baekhyun... saya harap anda tidak menyesal menceritakan ini pada saya. Karena mungkin park chanyeol tidak akan membiarkannya begitu saja".
Tubuh nana kembali menegang. Perasaan takut luar biasa menggerogotinya. Hingga sampai polisi kim pergi, dia masih mematung ditempat.
Hari-harinya akan lebih buruk lagi.
bel pulang berbunyi. Saatnya anak-anak pulang dengan suka cita. Begitu juga sehun yang kini bergandengan tangan dengan taehyung keluar kelas. Hal ini jelas mengundang tanya bagi Luhan, yang biasanya melihat mereka saling bermusuhan.
Bukankah sehun tidak menyukai taehyung. Kenapa sekarang mereka berteman? Dan terlihat akrab sekali. Ada apa sebenarnya.
"aku benar-benar sedih. Sehun tidak mau meminjamkan psp lagi padaku sejak berteman dengan taehyung. Hueee~ mama~" kai berlari menuju ibunya yang sudah menunggunya. Mengadu mengenai masalahnya dengan sehun yang tidak mau meminjamkan pspnya lagi.
Sang ibu terlihat menenangkan kai dan mengajaknya pulang.
Luhan mendengus. Setidaknya dia senang sehun tidak berteman dengan kai si anak nakal lagi. Sebaliknya dia berteman dengan taehyung yang baik. itu berarti sehun bisa menjadi baik juga kan.
"lu~" ibunya memanggil, dengan dress kuning langsat yang diknekannya sang ibu tersenyum cerah kearah luhan. Gadis itu segera beralari dan memeluk ibunya. "pulang sekarang?"
Luhan langsung mengangguk dan berjalan bergandengan dengan ibunya menuju mobil mereka yang sudah terparkir. Hari ini dia akan ikut dengan ibunya kekantor ayahnya, demi melihat bagaimana sang ayah yang berkerja selalu serius.
"kamu mau kan maen kerumah sehun. Lagipula mama ngga keberatan kan ma?" sehun mendongak, meminta persetujuan baekhyun tentang idenya mengajak taehyung kerumah.
Baekhyun mengangguk dengan tersenyum. "tentu saja tidak sayang. Mama tidak keberatan. Taehyung mainlah kerumah sehun, disana banyak mainan loh"
Taehyung terlihat menimbang-nimbang. Namun akhirnya dia setuju dengan anggukan, karena sepertinya ayahnya tidak akan kebertanan dia bermain sebentar kerumah teman. Lagipula mungkin bundanya-menurut taehyung- bisa sekalian mengantarnya dan ikut pulang bersama. Ide taehyung benar-benar pintar bukan?
"baik bunda. Tapi nanti tae ijin sama ayah dulu"
Baekhyun bersiap akan protes saat taehyung memanggilnya bunda. Bukan tidak suka, dia hanya tidak mau sehun marah lagi. Namun saat dilihat anaknya Cuma tersenyum baekhyun merasa lega, sepertinya sehun bahkan sudah tidak perduli taehyung memanggilnya bunda. Anak itu sedang bahagia karena memiliki teman baru. Baguslah.
"ayah sudah mengijinkanaku, katanya boleh main kerumah sehun" kata taehyung yang baru selesai berbicara dengan ayahnya lewat ponsel.
"yey~" sehun bersorak senang. Dengan langsung dia menarik taehyung menuju mobilnya yang sudah terparkir. "kalau begitu ayo!." Sehun menaiki mobil dengan antusias. Baekhyun tersenyum dibelakangnya.
"nanti kita maen iron man, aku punya banyak koleksinya. Nanti taehyung boleh pinjem kok, semua mainanku. Kita main sama-sama"
"taehyung tidak apa-apa memanggil mamaku bunda. Iya kan ma?" sehun bertanya kepada baekhyun disampingnya. setelah tadi mendengar cerita sedih taehyung tentang bundanya yang pergi dan tidak kembali-kembali, membuat hati sehun terketuk. Dia juga sedih, dan pernah merasakan hal yang sama. Hingga pada akhirnya dia bisa kembali bertemu mamanya.
"iya, kamu panggil saja bibi bunda. Tidak apa-apa" baekhyun mengucapkan itu dengan rasa iba. Juga hati bersayat didalamnya. Dia sendiri tidak tahu kenapa perasaannya begitu sakit, melihat taehyung menangis atas kerinduan pada ibunya. Anak sekecil ini, kenapa ibunya tega meninggalkannya. Bukankah seharusnya taehyung adalah anak yang bahagia dengan ibunya yang ada disampingnya, seperti anak-anak lain.
Taehyung mengusap airmatanya, dengan senyum yang memperlihatkan giginya anak itu merangkul sehun. Membuat mereka berdua berpelukan. "terimakasih sehun"
"panggil aku hyung"
"terimakasih hyung"
Baekhyun rasanya ingin menangis. Melihat kedua anak kecil disampingnya berpelukan, dengan penuh kasih sayang. Rasa bahagia juga haru membuat baekhyun meoloskan airmatanya. Membuatnya tanpa sadar terjatuh ditangan sehun.
"mama/bunda menangis?" kedua anak itu bertanya khwatir padanya. Dengan wajah yang lucu baekhyun memeluk mereka, dengan kasih sayang. "tidak sayang. Cuma terharu".
Mereka bertiga berpelukan dalam kasih sayang. Tanpa sadar itu membuat perasaan hangat yang selama ini hilang didiri baekhyun. Dia merasakan telah menemukan sesuatu yang hilang dalam dirinya.
Anaknya..
Suara bel apartemen nana berbunyi berkali-kali. Seperti tidak sabaran menunggu nana membukanya. Nana berjalan cepat, setelah tadi baru keluar dari kamar mandi dia mendnegar suara bel yang dibunyikan berkali-kali.
Dia membuaka pintu dengan cepat. Saat itu tubuhnya langsung membeku. Melihat seseorang yang datang ke apartemennya. Orang itu..
"Chanyeol?"
Chanyeol begitu saja masuk tanpa dipersilahkan. Wajahnya dingin, seolah menyimpan amarah yang siap kapan saja meledak.
Nana merasakan tubuhnya mulai gemetar. Dia mengenal chanyeol, sangat baik. jadi dia tahu bagaimana chanyeol. Lelaki itu mungkin sangat baik, bertanggung jawab dan dewasa. Tapi disisi lain dia bagaikan singa yang jika terluka sedikit akan sangat begitu marah, dan siap mamangsa siapa saja yang mengganggunya. Chanyeol memang selalu bisa menahan emosinya. Tapi disaat seseorang sudah mengusik hidupnya, mengganggu kebahagiaannya. Maka tak segan-segan dia akan membuat hidup orang itu tak tenang.
"ma- ekhem.." nana berdehem, saat disadari suaranya tercekat ditenggorokan. Dia masih sangat sulit mengatur ketakutannya pada chanyeol. "mau minum apa?"
"tidak perlu." Ucapannya dingin, dengan sorot mata tajam.
"k- ekhem.. kalau begitu silahkan duduk"
Chanyeol segera duduk dengan masih mempertahankan ekspresinya. Membuat nana seketika menciut, chanyeol benar-benar sama. Mereka tidak ada yang terbuang sedikitpun.
"aku tidak akan membawamu kepengadilan untuk kasus percobaan pembunuhan ini. Tapi katakan padaku, apakah kau terlibat dengannya." Bibir chanyeol menipis. Berusaha menahan emosinya yang kapan saja bisa meluap. Dia sebisa mungkin jangan gegabah, dan membuat nana ketakutan. semua harus terkendali ditangannya, jangan samapi lepas begitu saja.
"aku... tidak tau maksudmu yeol. Dia siapa?"
"tidak usah mungkir. Katakan ini ada kaitannya dengan orang itu kan?! Apa dia yang menyuruhmu?!" nana menunduk. Chanyeol sudah meluapkan emosinya dengan bentakan, juga wajah marahnya yang menyeramkan. Lelaki didepannya pasti sudah sangat emosi sejak tadi.
Chanyeol mendesah. Bersuaha mengatur dirinya kembali sebelum kembali berbicara lebih lembut. "aku tau kamu bukan perempuan licik. Semua kamu lakukan untuk dia kan? Bahkan disaat kamu menyakitiku"
Nana tersentak. Chanyeol kembali mengungkitnya, mengungkit masa lalu mereka yang kelam. Rasa kecewa itu nyatanya masih ada pada chanyeol. Dimana saat dimana nana menghancurkan hidup lelaki ini, menghancurkan cintanya. Dan menghancurkan kebahagiannya. Nana merasa begitu jahat kepada chanyeol. Lelaki ini baik, dan dia pantas bahagia. Tidak seharusnya dia mengganggu kebahagiaan chanyeol lagi. Seperti dulu.
"kau yang dulu membuatku terpisah dari baekhyun. Dan saat ini kau juga ingin baekhyun lenyap?! Katakan kalau ini ada sangkut pautnya dengan dia" chanyeol lagi-lagi membahas 'dia' seseorang yang sebenarnya nana tahu, tapi tidak untuk menyebutkan namanya. Apalagi didepan chanyeol. Lelaki ini pastilah sangat membenci orang itu. Begitupun sebaliknya.
"tidak ada yeol. semua murni kesalahanku. Ini... hanya kecelakaan yang tidak disengaja"
Nana tetap saja membelanya. Bahkan disaat dia dalam keadaan terhimpit sekalipun. Chanyeol menggeram, mengepal tangannya kuat-kuat sebelum memukul meja dengan kasar.
"terserah! Kalau itu memang maumu aku akan benar-benar membawamu kepengadilan!" setelah berucap begitu chanyeol pergi begitu saja. Tanpa mau mendengar penjelasan nana lagi, atau melihat raut wajah wanita itu yang menyedihkan.
Saat diambang pintu chanyeol bisa mendengar suara lantang nana. Suara yang menatangnya.
"kalau memang kau tega melakukan itu padaku lakukan yeol. Tapi aku juga tidak akan segan-segan membuat baekhyun meninggalkanmu. Ingat itu!" nana berteriak dengan penuh emosi, dengan kepalan tangannya yang juga airmukanya yang penuh amarah.
Wanita itu benar-benar merasakan marah dan sakit secara bersamaan.
Chanyeol awalnya diam, mendengar itu. Namun selanjutnya kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat dengan sebelumnya menutup pintu apartemen nana secara kasar.
Nana terduduk setelahnya. Dengan raut wajah yang sulit diartikan. Namun satu hal. Dia seperti meemndam sebuah rasa sakit disana. Dan juga amarah.
Suara tawa diruang tamu terdengar renyah. Membuat chanyeol yang baru masuk kedalam rumah mengernyit, saat menyadari seseorang anak kecil lain yang kini sedang bercanda dnegan sehun dan baekhyun. Anak laki-laki itu mungkin sebaya dengan sehun, atau lebih muda.
Tanpa curiga chanyeol menghampiri mereka yang sedang asyik bercanda. Seolah perasaan camur aduknya tadi sebelum pulang kerumahnya hilang begitu saja, melihat baekhyun dan anaknya. Chanyeol bisa kembali tersenyum.
chanyeol duduk disamping baekhyun. Merangkul bahu istrinya. Membuat baekhyun sadar, dan tersenyum memandang chanyeol.
"jadi? Apa yang kalian bicarakan sampai tertawa terbahak-bahak eoh?" mendengar suara chanyeol sehun segera berhambur memeluk chanyeol. "papa!". baekhyun tersenyum, dengan mengelus rambut sehun sayang.
Taehyung merasa iri. Melihat sehun dengan kedua orangtuanya. Dia juga ingin seperti itu, kembali bersama bunda dan ayahnya. Tapi kenyataan bundanya belum kembali taehyung menjadi sedih.
"oh iya pah. Kenalkan itu taehyung teman baruku. Dia yang kemarin manggil mama bunda sampai aku cemburu" chanyeol mengernyit, memandnag kearah seorang anak yang menunduk. Anak itu terlihat ketakutan.
"hihihi.. dia takut padamu yeol" baekhyun terkikik saat menyadari taehyung yang langsung tertunduk saat chanyeol menatapnya, apalagi anak itu terlihat memainkan jari-jarinya, ciri khas takut ala anak-anak.
"dia tidak mungkin takut dengan orang tampan sepertiku ini. Kita buktikan"
Chanyeol mendekati taehyung dengan berjongkok didepannya. "namamu taehyung?"
Taehyung mengangguk samar. Dia masih tidak berani memandang chanyeol. "jangan takut. paman tidak gigit ataupun memangsamu, paman orang baik" mendengar ucapan chanyeol itu taehyung langsung mendongak.
"benar paman?" tanya taehyung yang berubah raut wajahnya menjadi sangat ceria. Tersenyum cerah dengan semangatnya yang kembali. Chanyeol mengangguk. "benar. Dan sekarang panggil paman papa, seperti sehun"
"cih. Jangan ikut-ikutan yeol dia tidak mungkin memanggilmu papah. Aku rasa dia tidak mau punya papa yang menakutkan" baekhyun masih saja meledek suaminya. Membuat chanyeol mendengus dan kembali menatap taehyung menunggu. "bagaimana?"
"ok papa!"
Baekhyung terdiam tidak menyangka saat taehyung langsung memeluk chanyeol. Pun sehun yang ikut-ikutan memeluk chanyeol. Membuat keduanya kini memeluk chanyeol dengan senang. Senyum baekhyun langsung mengukir. Melihat chanyeol seperti itu dia menjadi lega sekaligus bahagia. Entahlah, baekhyun bahkan tidak mengerti kelegaan apa yang membuatnya bahagia. Tapi hal yang pasti baekhyun tahu, dia bahagia. Titik.
"jadi mama tidak diajak berpelukan nih? Oke."
"tidak mama/bunda." Sehun dan taehyung segera menahan baekhyun yang hendak beranjak, dengan langsung menyerbu baekhyun dengan pelukan. Membuat baekhyun bersandar pada sofa dan memeluk keduanya dengan sayang. "aku sayang mama/bunda" keduanya berucap begitu tulus. Membuat baekhyun terharu, dan chanyeol yang tersenyum memandangnya.
Lelaki itu mendekat. Ikut bergabung dengan memeluk ketigannya. "papah juga sayang kalian" perasaan chanyeol jadi lebih tenang. Lebih bahagia. Hadirnya baekhyun kedalam hidupnya kembali membuatnya bisa merasakan indahnya kehidupan, indahnya kasih sayang dan indahnya cinta. Chanyeol begitu mencintai baekhyun, menyayangi sehun dan menyayangi taehyung yang chanyeol tahu adalah anak baekhyun. Tapi biarlah, dia simpan rahasia ini dari baekhyun. Karena kebahagiaan ini sudah lebih dari cukup untuknya.
Tapi satu hal yang harus chanyeol sadar. Sesuatu yang tertutupi tentu akan terkuak pada akhirnya. Tinggal tunggu waktunya, maka semua akan terjadi...
.
.
To Be Continute...
.
.
.
Halooo...
Gimana? Udah lumayan ngerti ceritanya?. Maaf yah kalau buat kalian terus bertanya-tanya. Cerita ini memang agak rumit, dan membosankan. Tapi berharap saja kalian tidak bosan, seperti saya yang menulisnya kadang bosan hehehe... tapi ngga deh. Setiap baca review kalian kebosanan itu lenyap. Dna digantikan dengan semangat 45.
Saya senang, kalain masih menunggu cerita saya. Meski saya tidak bisa menjawab review kalian satu-satu. Tapi saya membacanya kok. Dan lagi, saya bisa balas kalau kalian punya akun. Ya ngga maaf yah. Soalnya saya tidak mungkin jawab disini. Entah kenapa kesanya tidak nyaman hehehe...
Buat yang follow dan favorite makasih loh. Buat silent reader makasih juga mau sempetin baca cerita saya
Pokoknya buat kalian semua makasih banget. Aku sayang kaluan
See you next chapter
