Pure Love
By : Ayumi-Chan
Part 5...
Cast : Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
Jung Daehyun
Im Jinah / Nana
Other cast : Kim Jongdae
Kim Minseok (GS)
Kim Joonmyeon
Zhang Yixing (GS)
Do Kyungsoo (GS)
Kris Wu
Park Chanboo (OC)
Dan lain-lain.
Note : back to flashback yah...
Ok enjoy...
~ Pure Love ~
Daehyun tertegun, saat mendnegar ucapan nana tentang rencana yang akan dilakukannya. Dia tidak percaya nana bisa setega ini melakukan hal licik. Hanya demi mendapatkan chanyeol.
"aku tahu ini terdengar licik. Tapi daehyun-ssi aku harap kau mau membantuku. Ini demi kita juga, agar aku bisa mendapatkan chanyeolku kembali dan kau tetap bisa mempertahankan baekhyun disisimu"
"ini gila!"
Nana mengernyit saat daehyun tiba-tiba berseru cepat. "kenapa daehyun-ssi? Kau tidak setuju?"
"kau fikir? Aku tahu ini menguntungkan nana-ssi, tapi tetap saja baekhyun akan membenciku setelah aku mengikuti ide gilamu itu. Kau jangan egois!"
Nana tersenyum kecut. Daehyun ternyata tak semudah yang dia fikirkan. Dia fikir daehyun akan begitu saja meneriwa tawarannya tentang kerjasama ini. Bukankah saling menguntungkan untuk mereka.
"ini menguntungkun untukku dan untukmu. Lagipula nanti kau bisa selamanya bersama baekhyunmu, bukankah itu bagus?"
"dan membiarkan baekhyun tersiksa dan jika dia tahu aku ada snagkut pautnya dengan ini, maka dia akan membenciku. Aku tidak mau" daehyun segera beranjak saat itu. Membungkuk hormat sebelum pergi. "terimakasih atas undanganmu nana-ssi, aku senang kau mau meluangkan waktumu untuk bertemu denganku. Tapi untuk tawaran ini maaf aku tidak bisa menerimanya. Kalau seandainyapun aku kehilangan pekerjaanku karena ini, tidak masalah untukku. Karena bagiku mencintai baekhyun bukan berdasarkan egoisku saja, tapi juga menjaga perasaannya. Terimakasih. Semoga kau beruntung" setelah mengatakan itu daehyun segera pergi.
Membuat nana diam ditempat dengan emosinya yang tertahan. Dia tidak menyangka. Daehyun menolak begitu saja tawarannya. Bukannya seorang wartawan akan bagus mendapatkan informasi banyak dari seorang artis yangs edang digandrungi. Dan dengan kesombongannya daehyun menolak begitu saja kesempatan besar itu.
Nana marah. Dan kesal. Dia benar-benar tidak mempuyai partner yang bisa membantunya memisahkan chanyeol dan baekhyun. Daehyun sama sekali tidak berguna. Dia pria paling bodoh yang dikenalnya. Lihat saja, sampai dia kehilangan baekhyun. Dia akan menyesal.
Perasaan daehyun masih kalut. Fikirannya tentang rencana nana masih berputar terus dan membuatnya tak fokus menyetir. Mobil yang dikendarainya langsung diparkirkan begitu saja ditepi jalan. Kepalanya menunduk pada stir. Rasanya snagat pusing.
"aku ingin memisahkan chanyeol dan baekhyun. Mereka sudah terlalu dekat, dan aku yakin mereka sudah saling mencintai"
Ucapan nana tadi kembali mengingan difikirannya. Tentang baekhyun, benarkah? Kekasih kecilnya mencintai orang lain, dan itu adalah park chanyeol. Daehyun tidak tahu kenapa ia sampai kecolongan tentang ini. Apa karena dia terlalu sibuk bekerja, sampai baekhyun merasa bosan dan mencari cinta lain.
Tidak. Tidak. Dia harus yakin baekhyun mencintainya.
"aku ingin kamu membantuku untuk rencanaku" saat itu daehyun mengernyit tentang ucapan nana. Seolah nana mengatakannya begitu serius. Dan kata selanjutnya yang terucap membuat daehyun tercengang. "aku ingin kau membuat baekhyun hamil, yah setidaknya itu membuat kamu cepat menikahi baekhyun. Dan membiarkan chanyeol kembali dalam pelukanku." Wanita itu gila. Snagat gila. Dia bahkan merencanakan hal paling menjijikan yang didengarnya. Tentu saja daehyun tidak akan melakukan itu, tidak akan. Karena dia sangat menjaga baekhyun. Dan melindungi baekhyun bukan malah merusaknya.
"kau fikir apa? Jangan sampai chanyeol duluan yang menikahi baekhyun. Itu akan melunturkan harapanmu memiliknya. Setelah aku lihat, cinta baekhyun begitu besar pada chanyeol. Jadi rencana ini adalah satu-satunya. Aku tahu, baekhyun sangat menghargaimu dan tidak ingin menyakitimu. Maka dari itu aku yakin dia tidak akan menolak apapun yang kamu inginkan"
Nana memang benar. Bagaimana kalau chanyeol lebih dulu menikahi gadisnya? Baekhyunnya? Akankah setelah itu dia mempunyai kesempatan?. Daehyun menggeram. Setelah perang dalam fikirannya. Dia mengarahkan mobilnya menuju rumah jongdae, tempat dimana baekhyun tinggal sekarang.
"yang itu jelek. Aku tidak suka. Ganti yang lain" baekhyun mencibir gaya pakaian chanyeol yang terlihats eperti bapak-bapak berusia 40 tahun. Dia tidak mau disangka kencan dnegan om-om, meski kenyataannya wajah chanyeol sama sekali tidak nampak seperti om-om. Tapi dengan pakai itu dia terlihats eperti ayahnya sendiri.
"ini bagus baek, aku akan terlihat dewasa"
"dewasa apanya. Bapak-bapak iya"
'ting.. tong' baekhyun langsung berdiri setelah mendengar bel berbunyi. "aku akan membuka pintu. Selama aku kedepan, oppa ganti bajumu. Itu jelek sekali" setelah itu langkahnya segera dipercepat menuju pintu.
'cklek' saat pintu terbuka baekhyun tertegun. Melihat daehyun didepannya, lelaki itu tersenyum begitu hangat. "siang baby" rasanya seluruh tubuh baekhyun tidak bisa bergerak. Bagaimana ini? Daehyun datang disaat dia akan melakukan kencan dengan chanyeol.
"siapa yang bertamu baek?" chanyeol menyusul dibelakang. Dan pandnagannya langsung melebar melihat daehyun disana. Kekasih baekhyun.
Chanyeol memang belum pernah tahu rupa sesungguhnya daehyun selain dari foto. Tapi dia bisa melihat senyum ramah lelaki itu kepadanya. "oh halo dokter park. Aku mendnegar banyak tentang mu dari baekhyun. Terimakasih sudah menjadi kakak yang baik untuk kekasihku"
'kekasihku' kata itu begitu menusuk chanyeol. Diucapkan dnegan begitu santai oleh daehyun. Tapis eolah itu merubah atmosfir yang ada dirumah itu. Suasana mendadak hening. Baekhyun menggigit bibirnya. Bingung dengan situasi ini, dia begitu gugup. Bagaimana menjelaskan ini pada daehyun?
"oh hai adik ipar" jongdae yang baru keluar dari kamarnya menyapa daehyun, melakukan peluk saudara yang sering mereka lakukan saat bertemu. "kufikir kau benar-benar tidak akan pernah datang kemari lagi. Ternyata dugaanku salah" ekor mata jongdae menatap baekhyun yang amsih diam. Jongdae sepertinya memberikan sebuah isyarat kepada baekhyun tentang apa yang dikatakan gadis itu tempo hari. "daehyun akan pergi ke asutralia. Satu tahun lebih" dan sekarang daehyun disini. Membuat suasana begitu canggung.
"baek. Kenapa diam, buatkan minum untuk kekasihmu" baekhyun segera sadar dan mengangguk. Cepat-cepat dia menuju dapur, dan bersyukur bisa bebas dalam situasi yang mencekam ini.
"yeol kenapa diam saja disitu. Kemari, kita mengobrol bersama adik ipar" jongdae yang sudah duduk terlihat begitu semangat mengatakannya. Kedekatannya dengan daehyun memang tidak dipungkiri lagi, mereka sudahs eperti saudara. Jadi wajar jongdae snagats enang dengan kedatangan daehyun.
Chanyeol melangkah setelah tadi terus berdiam. Dia duduk dengan canggung disseberang daehyun. Lelaki itu menatapnya, dengan tatapan yang sulit dimengerti.
""ternyata dokter park benar-benar tampan. Pantas saja kekasihnya tidak mau melepaskannya" chanyeol dan jongdae mengernyit. Kekasih siapa yang dimaksud daehyun? Apa itu... "im nana. Aktris yang sedang popiler itu. Aku bertemu dengannya beberapa hari lalu, dan kita mengobrol. Sebenarnya tidak banyak karena bagaimanapun aku seorang wartawan yang bisa kapan saja mempublikasikan berita ini pada media. Tapis epertinya akut idak perlu melakukannya, karena ini menyangkut dokter park dan park grup company. Jadi aku akan merahasiakannya tenang saja"
Ada perasaan lega dan juga khawatir saat daehyun mengatakan itu. Dia tentu tidak tau alasan daehyun bertemu nana, mereka tidaks aling mereka dua orang yang saling bersitegangan. Artis dan wartawan. Bagaimana bisa mereka mengobrol dengan santai?
"silahkan diminum" baekhyun datang membawa minuman. Juga cemilan kecil utnuk mereka makan. Setelahnya gadis itu duduk disamping daehyun, tepat bersebrangan dengan chanyeol.
"kalian membicarakan apa saja?" tanya baekhyun yang sepertinya sudah kembali bisa bersikap normal. Memandnag satu-satu laki-laki disana dengan penasaran. "kenapa diam?" baekhyun mulai cemberut karena pertanyaannya sama sekali tidak dihiraukan.
Daehyun terkekeh juga jongdae. Sementara chanyeol masih diam seperti patung.
"tidak ada baby. Ini pembicaraan lelaki. Perempuan tidak boleh tau" baekhyuns emakinc emberut mendengar ucapan daehyun. "ish! Menyebalkan!" tawa daehyun dan jongdae mngelgar di ruangan itu. Membuat baekhyun semakin cemberut dibuatnya. Tapi saat pandangan mata baekhyun menangkap chanyeol yang memandangnya, dia terdiam. Dan menunduk. Entah kenapa dia melihat aura berbeda dari chanyeol. Seperti aura hitam yang menunjukan laki-laki itu sedang marah atau kesal.
Baekhyun segera undur diri, dan cepat pergi dari sana. Menghindari atmosfir tak enak antara dirinya dan chanyeol.
Ribuan bintang kerlap-kerlip menghiasi langit. Begitu indah dan mneyejukan mata. Membuat daehyun sejak tadi tersenyum, tapi tidak dengan baekhyun disampingnya. Gadis itu memang memandnag langit tapi fikirannya tidak fokus, dan kemana-mana. Antara daehyun dan juga chanyeol. Baekhyun tidak tahu mana yang lebih dicintainya. Chanyeol atau daehyun. Karena dua-duanya begitu penting untuknya, dan dia tidak ingin menyakiti keduanya atau salah satunya. Baekhyun juga tidak mau berpisah dengan dua orang itu dengan tidak baik. tapi...
"baby?"
Baekhyun tersadar saat daehyun memanggilnya. Wajahnya menoleh kearah daehyun yang kini juga sudah menatapnya. Daehyun mungkin berbeda dengan chanyeol, tapi lelaki ini juga tampan dan sangat baik padanya. Tapi kenapa? Baekhyun seolah tidak puas dan mencintai orang lain. Dia merasa menjadi yang paling jahat.
"memikirkan chanyeol?" baekhyun langsung terpengarah saat daehyun bertanya. Dan semua itu jelas membuatnya terkejut. Bagaimana bisa? Bagaimana daehyun tau mengenai fikirannya tentang chanyeol.
Tangan daehyun terulur, mengelus pipinya dnegan sayang. "aku tahu. Aku sudah tahu semuanya. Kamu memiliki cinta juga kan padannya, juga perasaan ingin bersamanya. Aku tahu itu" baekhyun semakin tidak percaya. Daehyun tahu? Jadi selama ini daehyun tahu? Lalu kenapa dia diam saja. Kenapa dia tidak bertindak mempertahankannya setelah tahu ini.
Apa daehyun sudah tidak lagi mencintainya?. Fikiran itu entah kenapa membuat baekhyun takut. gadis itu mengarahkan pandnagannya pada tanah. Wajahnya langsung berubah sedih. Daehyun pasti sangat kecewa padanya.
"jika kau fikir kenapa aku tidak marah saat mengetahui itu. Aku tentu sangat marah, apalagi mengetahui kalian punya hubungan lebih dari sekedar teman dan kakak adik." Ucapannya terdengar santai, tapi penuh emosi didalamnya. Baekhyun memandnag kedua mata itu. Mata yang tajam, mata yang penuh kekecewaan serta rasa sedih disana. Dan mata yang selalu memandnagnya teduh.
"maafkan aku dae" ucapan lirih itu keluar dari bibirnya yang bergetar. Bibirnya menahan suara isak tangis yang akan terjadi saat airmatanya mengalir begitu saja. Daehyun menghapus arimatanya, emngelus pipinya lagi dengan lembut.
"tanpa kamu meminta maafpun aku sudah memaafkanmu" baekhyun lagi-lagi memandang lelaki didepannya tidak percaya. Bagaimana bisa? Daehyun dengan mudah memaafkannya saat kesalahan fatal itu terjadi. Dan baekhyun semkakin merasa dia sangat jahat.
Mata daehyun berkaca-kaca. Seolah rasa sakit dihatinya tak mampu lagi dia tahan. Pandangannya langsung dialihkan kearah lain, tidak ingin baekhyun melihat bagaimana dirinya mengeluarkan airmata. Dia seorang pria. Sesakit apapun hatinya, dia akan menahannya. Dan menunjukan dia baik-baik saja.
"kalaupun seandainya kamu lebih mencintainya aku tidak apa baekhyun. Aku merelakanmu jika itu membuatmu bahagia. Bagiku kebahagiaanmu nomor satu" ada jeda diucapannya sebelum kembali melanjutkan. "jika saja aku bisa egois, maka aku akan tetap mempertahankanmu disisiku tidak perduli kau mencintai dia. Tapi aku tidak bisa, karena itu sama saja aku menghalangi kebahagiaanmu" daehyun kembali memandnag baekhyun yang kini sudah menangis dengan terisak-isak. Airmatanya mengalir begitu deras, gadis itu, dia merasa sangat sakit mendnegar ucapan tulus daehyun itu. Ucapan yang begitu menusuk jantungnya. Mengeluarkan luka yang mengalirkan darah. Dia tidak mau. Tidak mau jika harus berpisah dengan daehyun yang sangat baik. dia tidak mau.
Baekhyun segera memeluk daehyun. Dengan isak tangisnya yang semakin mengeras. "jangan katakan itu dae, aku mohon. Aku tidak mau kita berpisah aku tidak mau hiks." Daehyun hanya diam. Membiarkan baekhyun memeluknya.
Tangannya tak ebrgerak sama sekali membalas pelukan baekhyun. Rasa kecewa itu masih ada. Yah saat dimana dia melihats endiri bagaimana baekhyun ebrpelukan dengan chanyeol. Berciuman. Tuhan! Sakit itu begitu dirasakannya. Dia sangat mencintai baekhyun, sangat dan bahkan hampir bisa membunuhnya sendiri. Rasa cinta ini bukan sekedar dia ingin bersama baekhyun. Tapi juga membuat baekhyun bahagia.
"aku... tidak akan... meninggalkanmu dae... aku janji." Janji baekhyun seperti yang sudah-sudah. Tak membuat luka daehyun tertutup. Bahkans emakin terbuka. Jika baekhyun mengatakan itu, apa karena dia memang menginginkan daehyun selalu disisinya atau karena hanya perasaan bersalah. Daehyun tidak mau baekhyun bersamanya karena terpaksa. Dia ingin baekhyun bersamanya karena cinta.
"jika kau melakukan itu hanya karna ras abersalahmu padaku, tidak perlu kau lakukan baekhyun. Aku tidak apa-apa. Kau mencintainya dan aku rela" saat daehyun melepaskan pelukannya dan baekhyun bisa melihats enyuman diwajah lelaki itu –meski terlihat getir- baekhyun tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Dia berdosa. Dia jahat. Dia melukai daehyunnya yang baik. tuhan! Tolong maafkan baekhyun. Dan berikan kebahagiaan kepada daehyun.
"terimakasih dae" ucapan itu dilanjutkan dengan baekhyun yang langsung mencium bibir daehyun, membuat lelaki itu diam di awalnya. Baekhyun berusaha melakukan yang terbaik dengan perpisahan ini. Memberikan kesan idnah pada daehyun. Daehyun sadar itu, dan memejamkan matanya., bersama dia membalas ciuman baekhyun dengan lembut. Merasakan sensa-sensai indah namun menyakitkan disana. Ini ciuman mereka, ciuman akhir mereka untuk segala kesakitan yang terjadi.
Daehyun maupun baekhyun berharap. Keputusan yang terjadi tak membuat mereka terluka. Karena ini sudah jadi awal dimana mereka bisa menuju hidup masing-masing lagi.
"maafkan aku dae" disela ciuman itu baekhyun menggumam. Dengan tulus dari hatinya. Dia selalu berdoa daehyun akan mendapatkan yang terbaik untuknya. Lebih baik, dan tidak akan menyakitinya seperti baekhyun.
Dan ditaman ini baekhyun akan mengingatnya. Dimana saat perpisahannya bersama daehyun, dengan ribuan bintang yang menyaksikan.
Chanyeol merebahkan tubuhnya pada kasur apartemennya. Sudah lama sekali dia tidak kemari, karena tinggal dirumah jongdae. Keputusan chanyeol tentang kembali ke apartmen adalah yang terbaik untuk menghindari baekhyun. Entah kenapa dia mulai merasa bersalah, karena sudah mengganggu kehidupan cinta baekhyun dan daehyun.
Chanyeol mendesah. Mungkin memang tak seharusnya dia masuk kedalam kehidupan baekhyun, membiarkannya mencintai gadis itu. Dans ekarang perasaannya begitu tersiksa. Karena rasa cinta begitu dalam yang dimilkinya tak mampu membuatnya memiliki baekhyun. Chanyeol mengurut pelipisnya, merasa sangat pening memikirkan kisah cinta yang pelik ini.
Handphonennya berdering. Panggilan masuk dari ibunya diseoul tertera dilayar handphone. Tanpa menunggu chanyeol mengangkatnya, dan mendnegar daris eberang sapaan ibunya yang begitu lesu. Chanyeol mulai khawatir terjadi apa-apa disana.
Sampai dia mendnegar penuturan ibunya mata chanyeol membola. Handphona sudah tak digenggamnya dengan baik, dan terjatuh dikasur. Tubuhnya emmatung, dengan perasaan syok luar biasa. Perkataan ibunya diseberang masih mengiang ditelinga chanyeol.
Appa meninggal yeol.
Dunia serasa semakin mencekiknya. Dan seolah tak mengijinkannya hidup. Kehidupannya sudah seperti hancur. Chanyeol mulai merasakan itu. Perasaan sakit yang begitu dalam. Kehilangan orang yang sangat disayangnya. Ayahnya.
Semua datang memberikan bela sungkawan. Ibu chanyeol masih saja terus menangis dalam pelukan kakak lelakinya. Sementara chanyeol masih diam mematung tak ebrkata apa-apa. Dia tidak menangis, karena dia tidak bisa. Sesakit apapun yang dirasakannya dia tidak akan bis amengeluarkan airmata. Karena nyatanya perasaanya seolah sudah mati. Perlahan-lahan orang-orang yang disayangnya mulai pergi meninggalkannya. Hanya tersisa ibunya.
Hari semakin sore. Semua orang sudah mulai pergi meninggalkan rumah duka, dan chanyeol masih tetep disana. Memandang foto ayahnya yang terpajang. Dengan wajah datar lelaki itu sama sekali tidak bersuara, sejak pagi. Bahkans ejak mendengar kematian ayahnya. Dia masih diam.
Daehyun disana, memandang chanyeol yang terlihat menyedihkan. Baekhyun disampingnya tak henti-hentinya menangis. Dia begitu sedih, karena rasanya kehilangan orangtua pasti sangat menyakitkan. Dan sekarang chanyeol mengalaminya. Dia pastis angat terpukul.
"baek sudahlah, berhenti menangis" jongdae sudah mulai jengah melihat baekhyun yang tidak berhenti menangis. Baekhyun tidak perduli, dia tetap menangis. Karena dia tahu, chanyeol begitu sedih kehilangan ayahnya, apalagi mereka sangat dekat. Chanyeol selalu bilang ayahnya adalah idolanya, dan lelaki itu juga yang selalu mendukung chanyeol dalams egala hal. Dan sekarang orang itu sudah pergi untuk selamanya. Chanyeol pasti sangat sakit. Dia tidak bisa menangis, karena kekerasan hatinya. Maka dari itu baekhyun mewakilkannya untuk menangis.
"hibur dia baek. Aku yakin dia membutuhkanmu" daehyun menoleh kearah baekhyun, membuat baekhyun memandnag tidak mengerti. Lalu dengan isyarat daehyun menunjuk chanyeol, menyruh baekhyun untuk menghiburnya. "dia membutuhkanmu." Baekhyun emnagguk kecil, dengan sebelum melangkah dia menghapus airmatanya. Mednekati chanyeol yang nampak kaku.
"oppa" panggilan baekhyun hanya mampu membuat chanyeol menatapnya sekilas, lalu kembali memandnag foto ayahnya. Baekhyun mendesah. Tangannya bergerak membalikan tubuh chanyeol yang kaku, dan menarik tubuh tinggi chanyeol untuk memeluknya. Tangan baekhyun melingkar dileher chanyeol, meski chanyeol belum bergerak. Baekhyun yakin chanyeol membutuhkan pelukan.
"luapkan perasaanmu oppa. Jangan dipendam terus. Luapkan, itu hanya akan menyiksamu." Chanyeol langsung membalas pelukan baekhyun. Begitu erat dia memeluk baekhyun. Tubuh chanyeol mulai bergetar, dengan wajah terbenam diceruk lehernya, baekhyun bisa tahu chanyeol menangis. Menangis meluapkan kesedihan yang selama ini dipendamnya.
"aku selalu bersamamu oppa. Ada aku disampingmu" baekhyun mengelus-elus penggung chanyeol. Menenangkan lelaki itu. Baekhyun lega, akhirnya chanyeol bisa membebaskan perasaan sakitnya. Dia tidak akan tertekan lagi.
"kita pergi" daehyun menarik jongdae yang melongo tidak percaya. Dan membawanya keluar dari rumah duka. Disana hanya tinggal chanyeol dan baekhyun, juga nyonya park yang dari arah luar biasa melihat mereka. dengan perasaan lega dia memandnag putranya, dalam pelukan baekhyun. Gadis itu, bisa membuat putranya nyaman. Dan gadis itu yang dicintai putranya, seperti apa yang selalu dia dengar dari chanyeol.
Nyonya park tersenyum tipis, disela airmatanya yang masih mengalir. "junho sepertinya kita tidak perlu khawatir dengan chanyeol. Kau bisa meninggalkannya dengan tenang. Ada yang menjaganya, selain diriku" nyonya park bergumam memandnag foto suaminya, park junho, dengan perasaan lega.
Nana merenung di kamar apartemennya. Setelah tadi dia baru saja pulang dari rumah duka keluarga park, hatinya begitu perih. Melihat bagaimana chanyeol bersedih. Dia tidak tau kenapa perasaannya juga ikut sakit, apalagi saat dia melihat sendiri dengan mata kepalanya chanyeol berpelukan dengan baekhyun, dan membiarkan wanita itu menampung arimatanya dan menenagnkannya. Nana ingin berada diposisi baekhyun, dan menenangkan lelaki itu, tapi dia sadar dia tidak punya daya apa-apa.
Semua ini salahnya. Salahnya yang sudah menghancurkan hati chanyeol dan membuatnya menjauh. Salahnya juga yang tidak pernah bisa memahami perasaannya sendiri kepada chanyeol. Dia mencintai lelaki itu. Bukan kakaknya, tapi kenapa nana begitu patuh pada Park Chanboo dan lebih memilih menyakiti chanyeol.
Nana benar-benar marah pada dirinya. Dia gadis bodoh, yah hanya perduli ketenaran dan kekayaan, tanpa melihat ketulusan cinta. Sekarangs emua terlambat. Dia harus bisa melakukan apa?
"pisahkan mereka" chanboo tiba-tiba berdiri diambang pintu kamar apartemennya. Dengan wajah datar dan aura arogannya yang sangat telihat. Lelaki itu tidak menangis sejak dirumah duka, sama seperti chanyeol. Bedanya chanboo memang tidak benar-benar menangis. Karena ini yang dia mau. Satu persatu orang yang ingin dilenyapkannya pergi. Dan dia bisa bebas memiliki semuanya.
"apa maksudmu?" nana mengernyit tidak mengerti. Dengan tatapan tajam chanboo mendekatinya, bergerak perlahan dengan mengunci nana untuk diam tak bergerak. Tubuh wanita itu mendadak terkunci oleh tatapan chanboo, air ludahnya bahkan susah keluar. "ke-ke-napa me-natapku se-perti itu chan?" nana begitu takut, nada suaranya terdengar bergetar.
"kau masih tanya kenapa?" tatap matanya tajam, bagai pisau yang siap mengoyak siapa saja didepannya. "pisahkan mereka. chanyeol dan gadis itu! Jangan biarkan dia bahagia!" ucapannya begitu tajam, membuat nana merasa takut. setelah itu sudut bibir chanboo terangkat. "aku tidak ingin melihat anak itu bahagia. Hidupnya harus benar-benar hancur!"
Setelah mengatakan itu chanboo meninggalkan nana begitu saja. Dalam keheningan. Wanita itu diam. Dengan gigitan dibibirnya. Perasaannya gelisah. Ingin membantah. Tapi... dia sudah terlalu terikat oleh lelaki kejam itu. Jika nana tak melakukan perintahnya, maka sudah dipastikan hidupnya hancur saat ini juga.
Daehyun memandnag tiket ditangannya. Tiket penerbangan asutralia. Desahan lolos dari bibirnya saat sdar dia akan segera meninggalkan negara ini. Meninggalkan baekhyun. Dan membiarkan gadis itu bersama chanyeol.
Senyum getir mengiasi bibirnya. Sampai dia memantaokan diri, tubuhnya beranjak dan melangkah masuk menuju pintu penerbangan setelah panggilan terdengar jika penerbangan astralia sudah akan tiba. Sebelum benar-benar masuk. Chanyeol memandnag kebelakang. Berharap menemukan orang yang dia cari. Namun nihil. Dia tak mendapatkan baekhyun disana.
Daehyun mendesah dan benar-benar melangkah masuk sekarang dengan ucapan lirih dari bibirnya. "selamat tinggal baby, sampai berjumpa lagi" dan dia sudah benar-benar pergi.
Baekhyun berlari-berlari begitu kencang, dengan chanyeol dibelakangnya yang mengikuti. Sampai tiba diruang tunggu dia segera mencari daehyun. Namun nihil, tak ada daehyun disana. Dan saat dia bertanya kepada petugas bandara, penerbangan asutralia sudah setengah jam yang lalu. Tubuh baekhyun langsung terduduk lesu, dengan pandangan kosongnya.
Daehyun sudah pergi. Dan dia belum mengucapkan selamat tinggal.
"terimakasih pak" ucap chanyeol kepada petugas bandara. Lelaki itu berjongkok didepan baekhyun. Memeluknya yang terlihat begitu sedih. "daehyun tidak akan lama disana. Dia akan kembali" senyuman dibibir chanyeol membuat perasaan sedih baekhyun menguap.
Yah. Chanyeol benar, daehyun tidak akan lama. Dia akan kembali. Dengan dibimbing chanyeol untuk berdiri, baekhyun bangkit. Berjalan dengan bergandnegan bersama chanyeol keluar bandara.
'selamat tinggal daehyun. Kita akan bertemu lagi' hatinya berucap begitu tulus. Dengan senyum kecil membawanya masuk mobil chanyeol. Dan meninggalkan bandara.
.
.
.
.
To Be Continute...
.
.
.
.hehehe... flashback satu ini sedih ngga sih. Saya udah berusaha membuat dengans epenuh kesakitan saya karena sesuatu *uhuk* jadi masuk ngga sedihnya? Hehehe...
Antagonisnya bukan chanyeol, daehyun atau nana yah tapi Chanboo hehehe... entah dapat ide darimana nama itu. Tapi seneng aja, trus masukin kedalam cast.
Cerita ini mungkin kaya drama, yang gitulah. Tapi emangs engaja saya buat drama, biar agak sedikit menguras air mata hehehe... padahal ngga tau juga sih feelnya dapet ngga. Tapi semoga saja.
Nanti chanbaek or daebaek masih belum jelas nih. Kan belum tentu juga. Dan untuk chapter depannya saya buat dimasa sekarang lagi ya? *ini apasih alurnya, maju mundur ngga jelas -_-* hehehe... maaf banget readers kalau kalian jadi bingung dan tidak mengerti. Saya bingung nempatinya soalnya. Mau dibuat flashback pas akhir, ih nanti udah tau duluan akhirnya gimana. Kalau dibuat dari awal. Kurang greget aja hehehe.. jadi semoga suka yah readers sayang..
Terimakasih untuk selalu setia.. aku sayang kalian..
See you next chapter...
