Suasana malam dengan bintang-bintang yang menghias cakrawala biru gelap dan di bawahnya ada 5 lelaki muda berjalan pulang beriringan dengan obrolan-obrolan akrab. Mereka... tim Otori.

Bahasan mereka yang selalu nano-nano setiap ada waktu untuk pulang bersama pun hari ini tak kalah unik; contohnya perkelahian kecil Tsukigami dan Tengenji sementara mereka berada di posisi paling depan. Nayuki di belakangnya hanya tertawa-tawa miris, Hoshitani sekali-dua kali mencela (tepatnya, ikut-ikutan masuk ke obrolan mereka). Sedangkan Kuga, walaupun yang lain menyumbangkan suara, seperti biasa dia hanya mesem-mesem di belakang dengan senyum ikemen-nya.

Omong-omong, soal perdebatan Tengenji dan Tsukigami, adalah mengenai luasnya pengetahuan masing-masing, sebagai sesama dari keluarga terhormat dalam dunia entertainment. Biasa, saling tidak mau kalah satu sama lain.

(Tapi kok, sudah tahu yang dibahas hal begitu, Hoshitani masih nekat mau coba ikut-ikutan ya? 'Kan hanya cari mati saja—ah, abaikan.)

Meluas dari bahasan idol, bahkan mereka sudah mulai membicarakan referensi-referensinya segala. Hoshitani makin ketinggalan kereta pembicaraan. Nayuki bingung mau memberhentikan perdebatannya atau mau menonton karena temanya semakin menarik. Kuga perannya memang cuma menutup mulut meski sekali-kali melihat ke arah jam tangannya—yang di depan memperlambat pace jalan mereka, batinnya diam-diam.

"Novel A diangkat jadi drama pada tahun 19**, aktornya pun senior-senior yang sudah menjadi idola para artis jaman sekarang. Naskahnya pun juara sampai jadi panutan ayahku. Yang itu kau tidak tahu, 'kan?"

"Itu 'kan drama minor, Yabosuke! Cuma kau kali yang tahu sebegitu detilnya!"

"Bukannya kau saja yang hanya fokusnya ke kucing saja, Tuan Pencinta Kucing?"

"Apa salahnya mencintai bidadari?!"

"Tsukigami... aku juga tidak tahu, kok, yang kamu maksud, hehe—"

"Kita gak nanya kamu, Hoshitani." Mendadak kompak.

"Hoshitani-kun, sudah... mundur saja," lalu Hoshitani mencari pelukan hangat sang ibunda tim.

"Heh, tapi, Brocon,"

"Aku bukan brocon,"

"Kalau yang ini kau paling tidak tahu—"

Kelabu yang perlahan menghilang dari sang rembulan, lalu Tengenji yang mendangakkan kepalanya hingga menghadap bulan, membiarkan rautnya tersiram guratan-guratan cahaya sang penjaga malam.

"Bulannya indah, ya, Tsukigami."

Suaranya rendah dan lirikannya tertuju langsung pada manik Tsukigami.

(Tsukigami membisu.)

"Eh, kenapa mendadak... Tengenji-kun?" Nayuki bertanya-tanya.

"Eh, iya, awannya barusan hilang, ya! Bulannya jadi terlihat—eh, Tsukigami?" Yang suaranya semangat itu Hoshitani.

"... sebuah kalimat... novel..." Tsukigami melirik ke bawah bingung mencari-cari apa yang dimaksud oleh si Anak Emas Kabuki. Kalimat itu terdengar familiar dan janggal; ia ingin mengbrak-abrik isi otaknya untuk mengetahui jawabannya. Rasanya ia pernah membacanya di sebuah literatur tapi apa, ia lupa—

"Wajahmu bingung, heh. Tidak tahu 'kan, Yabosuke."

Tsukigami masih terdiam dan mengalah. Kalimat itu terasa begitu mengganjal hingga ia tak ingin memperdulikan apa lagi yang akan dikatakan Tengenji. Ia sangat ingin mencari alasan hatinya terasa tergetar, alasan suara Tengenji yang mengucapkannya terdengar begitu menggelora di telinganya, alasan ia merasa sedikit menjadi Tavian, kenap—

Tengenji tiba-tiba saja sudah tidak ada di depan matanya, langkahnya telah membuatnya berjalan jauh mendahului anak tim Otori lainnya, dan punggungnya terasa terangkat lebih tinggi dari biasanya, termasuk matanya terlihat menerawang ke arah bulan.

(Tapi entah kenapa hati Tsukigami masih lirih mengingat perkataanya.)

.

fin


a/n: tsuki wa kirei da na / bulannya indah ya: setara dengan 'aku cinta kamu', bahasa dramatisir dari suatu literatur klasik di jepang yang saya lupa apa
*tehepero*

tengenji nerawang langit di akhir itu implisit nyeritain kalo dia abis modus; dan dia antara mau gak mau kodenya dipekain ama ybs

prompt diambil karena nama tsukigami ada 'bulan'-nya, dan saya awalnya nulis ini biar tengenji bilang kalo tsukigami cantik =))) /NO