Golden week, bukanlah minggu yang terasa emas bagi dua pemuda tim Otori yang malah dilanda sepi.
Liburan seminggu itu sebenarnya tidak terlalu spesial (karena benar-benar berjalan seminggu pun juga tidak) dan mereka bukan tipe-tipe menggembor-gemborkan Hari Showa atau semacamnya. Melainkan, mereka tipe yang akan bersarang di ruang latihan bersama rekan-rekan tim Otori-nya. Tentunya bukan berdiam diri saja sampai serba kesemutan, tapi menggerak-gerakkan kakinya dalam sebuah koreo hingga keringat bercucuran. Tapi, status golden week sekarang, mungkin, yang membuat keadaan mereka juga sedikit berbeda.
Lihat, saja, setelah tepuk tangan tanda istirahat dari senior tersayang, Otori Itsuki, Tengenji kembali menunjukan raut tak rupawan seperti orang kekurangan makan.
"Boys, waktunya istirahat. Ini minuman kalian," katanya sembari menjulurkan seplastik minuman jeruk kalengan untuk adik-adik kelasnya. Ah—sebuah catatan, karena pada golden week dihitung sebagai waktu liburan, mereka boleh meminjam ruangan latihan lama mereka termasuk 'meminjam' Otori untuk menjadi pembimbing mereka. Sesekali kembali menjadi Star Team bukan masalah, 'kan?
Ah, tapi, tetap saja yang dilakukan Tenenji malah mengorek-ngorek meja di pojokan sana. Atau kadang-kadang mengelus-elus piano bak orang gila.
"Tengenji, kau kenapa? Tarianmu tidak secantik dan gemilang biasanya, hm?" Otori menyinggungnya hingga Tengenji menoleh dengan air muka tak semangat hidup. Ada jeda sebelum Tengenji mau membuka mulutnya.
"... Tavian..."
Semua anggota yang ada di sana langsung menoleh.
"... sedang ada di dokter hewan... bidadariku menghilang... hidupku harus bagaimana... aku sendirian... aku tidak boleh menginap di dokter hewan..."
Keluarlah afeksi berlebihannya kepada Tavian.
Hoshitani awalnya mengeluarkan raut miris, agak jiji—maksudnya, kasihan pada sohib berambut merahnya tersebut. Ia menimang-nimang kata-kata apa yang harus ia ucapkan untuk menjadi memotivasinya dan masih belum menemukannya. Nayuki malah panik, hanya bisa merasa empati ketika membayangkan dua adik-adik 'manis'nya bila terpisah jauh darinya karena diambil oleh lelaki-lelaki random... oke mungkin yang itu situasinya agak berbeda. Otori dan Tsukigami juga terdiam—yang satu bingung 'ini anak kenapa', yang satu lagi acuh tak acuh akan keadaannya.
Kuga? Oh iya, Kuga sedang ada acara kerja sehingga tak ikut berdiri di situ. (Tepatnya, diajak berlibur oleh bosnya bersama semua pekerja lain di kafenya selama golden week.)
Tiba-tiba sebuah lampu menyinari otak Hoshitani untuk menandai ide yang baru muncul di benaknya.
"Kalau Tengenji kesepian, tidak sekalian tidur di kamar Tsukigami saja, biar berdua?" Polos.
Tengenji dan Tsukigami langsung mendelik ke arah Hoshitani, geli. Memangnya mereka anak kecil, apa, sampai tidak bisa tidur sendirian? Tambahan dari Tengenji, dia memang perlu tidur berdua, tapi 'kan maksudnya dengan Tavian! Lalu, di kala mereka sudah siap membunyikan protesnya, tiba-tiba—
"Ah, ide bagus, Hoshitani. Bisa juga menambah keakraban mereka berdua." Kata-kata tersebut entah kenapa terdengar begitu absolut bagi duo merah-biru tersebut.
-xXx-
Tengenji memasuki kamar Tsukigami dengan membawa beberapa barang yang biasa ia gunakan untukn persiapan tidurnya—misalnya hakama—walaupun tak banyak yang ia bawa karena jarak kamar Tsukigami dengannya tak sampai 10 meter. Tengenji lalu mendengus heran, kenapa akhirnya menjadi seperti ini. Tapi begitu Otori-senpai yang mengusulkannya, ia menganggapnya seperti perintah, lalu ia benar-benar bermalam di kamar Tsukigami, toh, Kuga juga sedang pergi—alasannya.
"Kau tidur di mana? Atas, bawah?" celetuk Tsukigami memulai konversasi pertama mereka malam ini.
"..." Tengenji memberi jeda untuk dirinya berpikir, "Bawah." Lalu Tsukigami mengiyakan.
Tak ada pembicaraan yang berarti di antara mereka. Di kasur atas, Tsukigami menikmati playlist lagunya, sementara di kasur bawah Tengenji berkutat dnegan berbagai macam bacaan. Sesekali ia mengambil camilan yang ia bawa dari kamarnya, atau kembali berurusan dengan koleksi foto Tavian-nya—oke, yang bawah abaikan.
Ketika gelap benar-benar sudah menguasai langit, dan jarum jam sampai pada angka 10, mereka memutuskan untuk mematikan lampu ruangan dan beranjak tidur. Biasanya, Tengenji sebenarnya tipe-tipe yang membuat percakapan menjadi panjang (dan melelahkan) tetapi, ketidakberadaan Tavian mungkin sedikit mengubahnya. Sementara Tsukigami, dia tak terlalu peduli dengan apa yang namanya obrolan—hal tersebut hanya perlu dilakukan jika dibutuhkan.
Lalu malam menjadi (lebih) hening.
…
… atau seharusnya begitu.
Tsukigami tidak dapat menikmati tidur lelapnya ketika mendengar erangan-erangan mengkhawatirkan dari kasur bawah. Ketika ia melihat keadaan temannya, yang ia lihat adalah cucuran keringat yang lebih parah daripada saat ia latihan menari tadi siang. Lalu nama yang ia sebut-sebut begitu familiar—Tavian, Tavian, Tavian. Dasar—ya ampun, separah apa sih, ketergantungannya dengan Tavian? Batinnya.
Ia memutuskan untuk turun lalu membangunkan Tengenji, atau menenangkannya denagn sedikit siraman—air, bukan rohani. Tapi, sebelum rencana di kepalanya itu berhasil ia laksanakan, tangannya keburu ditarik oleh tangan yang lebih kekar sekaligus tan, membuatnya terhempas dan terbaring di atas kasur tempat Tengenji seharusnya terlelap.
Mata Tengenji membuka sedikit dengan pandangan yang agak berbeda dari biasanya.
"Tavian,"
(Siapa yang Tavian—)
"Ah, bukan... Bidadari lain... Kau yang akan menjadi kucingku selama Tavian pergi..."
(Hah, kucing—)
"Bidadariku... sementara..."
Tsukigami tidak bisa berpikir sehat, tapi tangannya terkunci oleh genggaman Tengenji yang lebih kuat daripada yang ia kira.
"Jadi, kau mau kumanja dengan kasar atau lembut?"
Mendadak Tsukigami terpikir saat Nayuki mengatakan impresi pertamanya mengenai Tengenji. Selain itu—tunggu! Kenapa suara Tengenji agak menggelitik telinganya? Kucing? Kenapa dadanya menjadi sesak? Kenapa mukanya memanas? Kenapa jantungnya berdebar begitu keras? Kenapa suaranya tidak mau keluar agar Tengenji melepaskannya?
"Hei, bidadariku, kalau kau tidak menjawab, aku yang akan memilihkannya, ya?" ia merasakan tangan Tengenji menyentuh kulit-kulit pinggangnya yang menjadi kian sensitif setelah mendengar semua ucapan-ucapan manis dari Tengenji, sementara entah kenapa ia malah menggigit bibirnya sendiri agar tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Padahal otaknya sudah beribu kali memaksa agar ia berteriak.
Tetapi, otot-ototnya sendiri malah otomatis memasrahkan diri, membiarkan wajah Tengenji mendekatinya wajahnya, membiarkan nafas Tengenji berderu dengan telinga dan pipinya membuatnya semakin hangat, membiarkan dirinya merasa kalah dan didominasi oleh tubuh pemuda berzodiak Leo yang berada di atasnya—
—BRUK!
Kepala Tengenji jatuh tepat di sebelah wajah Tsukigami, lalu ia mendengar suara dengkuran Tengenji yang menandakan dirinya sudah tidur nyenyak.
"... mengigau, ya, sialan."
Tsukigami segera menyingkir dari tubuh Tengenji yang menindihnya, lalu kembali ke tempat tidurnya di atas. Lalu, ia segera menikmati malamnya yang menjadi tenang dan pergi menemui alam mimpi.
(Tak sadar betapa merah wajahnya sendiri.)
-xXx-
Raut Tengenji kembali positif seperti biasanya.
"Ah, kemarin malam Tengenji-kun mimpi bertemu kucing 'kah?" Nayuki bertanya dengan manis sembari melakukan pemanasan seperti merentangkan kakinya.
"Ya, begitulah. Aku bertemu bidadari lain yang sementara akan menemaniku selama Tavian di dokter," Tengenji mengatakannya dengan semangat—walau masih berusaha memasang imej cool-nya, "Ternyata, tidur denganmu tidak buruk juga, Yabosuke."
Lirikan (yang sedikit erotis) terlempar dari Tengenji pada Tsukigami.
(Otori tertawa sambil berkata 'oh boys', Nayuki langsung terbatuk, dan tubuh Tsukigami kaku seketika.)
.
.
fin
A/N:
menyelipkan wordplay kucing = neko= uke dalam bahasa bl
prompt diangkat dari Tengenji yang suka bisik2 "sweet nothings" dan ini buatnya bisa dibilang keburu-buru makanya berantakan dan banyak kata-kata yang lupa dimasukin /shot/
maaf kalau OOC dan terima kasih sudah membaca!
