A/N: Mengandung candaan dengan tingkat kemesuman tinggi; dldr


"T-Tengenji, tunggu...!"

Mendengarnya, pria bersurai merah itu malah makin menyudutkan rekan birunya itu di tengah tangan-tangannya yang seperti mengunci pergerakan rekan birunya itu. Tsukigami pun tak tahu harus bagaimana lagi selain merasa punggungnya mulai merebah santai tak santai ke pada tembok. Wajah Tengenji terus mendekatinya dengan senyum—yang Tsukigami bisa bersumpah ia membencinya.

"Untuk apa kau dapat menyuruhku menunggu, Yabosuke? Hal manis tak bisa menunggu."

Perawakan Tengenji yang lebih tinggi darinya benar-benar menbuatnya terasa terjebak, apalagi ketika ia mencoba mendorong tubuh yang notaben lebih besar darinya itu, ia dapati tak ada pergerakan sama sekali. Sudah ia coba membenamkan jari-jarinya, mengusutkan kemeja sekolah Tengenji, dan saat ia mencoba menatapnya tetap tak ada yang bergeming.

"Sudah kubilang, T-Tengen... ji... tunggu— ukh, kh..."

Tsukigami tak sedikitpun merasakan kenikmatan dari paksaan ini.

Yang ia rasakan hanyalah tubuh Tengenji yang terus merapat pada miliknya, sedangkan tenaganya makin lama makin habis akibat dirinya yang menahan naluri alami, nafsunya sendiri. Ia tak suka bagaimana cairan dari bagian bawahnya seperti mendesak ingin keluar saja. Tapi bila ia menyerah dan melepaskannya di sini ia hanya akan menebar malu di hadapan Tengenji. Ia, tentunya, sangat anti akan hal itu.

"Hm? Apa, Yabosuke? Tidak terdengar!"

Oh, betapa kesal Tsukigami. Di saat seperti ini, Tengenji masih kolot memanggilnya dengan panggilan rendahan itu; setidaknya bila ia mendengar namanya disebut ia takkan terlalu terusik sekarang! Bisikan 'cinta' yang terus berusaha menggoda Tsukigami, atau tatapan mata yang menatap tajam Tsukigami seperti menjelaskan Tengenji ingin melahapnya sekarang juga, antara mempan tak mempan pada dirinya. Nafasnya terasa semakin memanas, dan sedikit tersengal semakin lama Tengenji mempertahankan posisinya. Ia berusaha menahan bibirnya tak untuk mengeluarkan suara memalukan tapi pada akhirnya satu-dua patah kata tak mustahil untuk mencapai telinga Tengenji; membuat raut yang terlihat semakin puas, dan Tsukigami ulangi: ia benci itu.

"U, ukh... Tengenji... a-aku s..udah tidak kuat... mau keluar, a-akh-"

Masih berusaha menahannya. Tapi sudahlah.

Ia muak.

Ia langsung mengerahkan seluruh sisa tenaganya yang membuat Tengenji kaget dan refleks melepaskan Tsukigami, selagi ia merasa berada di 'puncak kemenangannya'. Hampir mau ditariknya lagi tangan-tangan lembut, yang lebih mungil darinya itu, sebelum—

"Woi, kalo mau latihan kabedon lihat sitkon targetnya dulu, dong! Kebelet pipis, tahu!"

—Tsukigami langsung ngacir ke toilet.

.
fin