Selepas merasakan hangatnya air membasahi tubuh mereka, tim Otori segera membawa canda tawa mereka ke kamar tempat mereka menginap. Musim gugur ini mereka memutuskan untuk memiliki liburan bersama berkedok training camp kali ini tanggung jawab diserahkan pada Tengenji. Awalnya, mereka berpikir untuk mencari usulan Otori sebelum mereka mengingat acara jalan-jalan sebelumnya adalah sebuah perjalanan yang bisa membuat mereka agak... kapok. Mereka tak mau terdampar di pelosok gunung untuk kedua kalinya.
"Setelah ini, main kartu, yuk!" usul Hoshitani.
"Toh hari ini sudah malam, Otori-senpai juga mengusulkan latihan dimulai besok di bawah pengawasannya. Kurasa bukan ide buruk," balasan pertama dari tsukigami.
Kuga menunjukkan senyumnya sebagai tanda setuju.
"Hm... kartu, ya," Tengenji terlihat bingung, tetapi ia menyetujuinya.
"Mmm, Hoshitani-kun—" Lalu suara pertama yang terdengar keraguan di dalamnya; oleh nayuki.
"Nayuki tidak mau ikut?"
"Bukan itu..." telunjuknya di arahkan pada Hoshitani, "... yukatamu terbalik."
Hening.
"Pfft—" sebelum suasana pecah oleh tawa Tsukigami.
"Eh—terbalik?!"
"Hoshitani-kun... jangan bilang kau tidak bisa memakai yukata?"
"Eh... bukannya hanya tinggal dipakai, saja?" Hoshitani polos.
"Hoshitani, itu cara memakai yukata orang meninggal," Kuga angkat bicara.
Hoshitani mengunci mulutnya.
"Hmph, dasar payah, sini kubantu pakai, Yabosuke," Tengenji berujar sambil menampangkan senyum bangganya.
"Ah, makasih, Tengenji! Kau kan sering memakai yukata, pasti jago, ya!" tetapi tengenji tak begitu memikirkan pujian Hoshitani begitu konsentrasinya tertuju pada yukata Hoshitani yang sedang ia betulkan pemakaiannya. Begitu selesai mengikat tali yukatanya, Tengenji kembali tersenyum untuk mendapati Tsukigami mendengus.
"Orang biasa juga bisa memakai yukata, Hoshitani," Tsukigami merujuk ke Kuga, Nayuki dan dirinya sendiri. Tetapi entah kenapa Tengenji merasa tertohok karenanya.
"Tsukigami, aku memang jago memakai yukata, tahu!" tangannya langsung menarik tali yukata Tsukigami dengan senyum jahilnya. Awalnya, Tsukigami mendorong balik Tengenji tapi malah berakhir terjatuh dan ikut tertawa. Diikuti anggota tim Otori lain.
"Ya, terserah," masih sedikit tersandung-sandung tawanya, ia merelakan tali yukatanya yang longgar ke Tengenji, lalu berdiri untuk memudahkan temannya yang bersikeras—diselingi bercanda—ingin memakaikan yukatanya. Serelah selesai, Tsukigami mencoba melangkah ke futonnya—
—lepas.
Tali yukata Tsukigami cepat sekali melonggar membuat Tsukigami menoleh ke Tengenji, "Kau benar bisa memakaikan yukata?"
Tengenji gugup. "Bisa, enak saja! Sini, kubetulkan!"
Setelah percobaan kedua, yukata Tsukigami terpasang dengan baik, tidak longgar seperti sebelumnya, membuat Tengenji akhirnya bisa tertawa pamer akannya. Tsukigami tak begitu mengurusinya, hanya tawa bercanda (dan... agak terdengar meremehkan), membuat mereka sempat hampir terlibat tertawa perkelahian. Untung saja, Hoshitani dan Nayuki cepat mengalihkan perhatian mereka dengan memulai permainan kartu. Sementara Otori baru sampai besok (alasan ia mengundur waktu latihan), akhrinya mereka tidur setelah waktu menuju larut malam.
-xXx-
Dingin pagi hari memaksa si pemuda bersurai biru untuk membuka matanya. Padahal ia yakin waktu masih menunjukkan pukul 5 lebih sedikit. Saat ia bangun dan duduk pun, semua rekannya masih nyenyak bergemul dalam futon mereka masing-masing. Begtiu penglihatannya sudah fokus—ia sadar bahwa yukatanya sudah berantakan.
Talinya yang sudah hampir lepas, lalu yukatanya yang melorot menampilkan bahu yang putih, cantik nan halus—seperti porselen yang tak ternilai harganya, serta mengekspos lekukan pada dadanya yang terlihat begitu kontras dengan warna malam dan yukata menambah rasa mencolok dari dirinya—belum lagi, ekspresinya yang masih di awangan akibat baru bangun tidur yang membuatnya nampak lebih provokatif—
Matanya tiba-tiba bertemu tatap dengan milik Tengenji... yang ternyata juga sudah bangun.
(Tsukigami sedikit melihat? Bahwa pupil Tengenji sedikit membulat atau guratan-guratan merah yang muncul pada pipi sang Putra Emas Dunia Kabuki.)
"... Tsukigami,"
"... apa, Tengenji,"
"Tidurmu rusuh, ya... ?"
Kali ini, Tsukigami sendiri yang merasa mukanya memanas—tentu saja karena malu. Ia buru-buru berdiri dan menghadap belakang untuk membetulkan yukatanya yang sudah hampir tak terpasang lagi, dan begitu ia berbalik arah ia melihat Hoshitani sudah terjaga—diikuti teman-temannya yang lain.
Pagi, sudah dipenuhi dengan perbincangan. Tentunya dimulai dari ucapan selamat pagi hingga masuk ke dalam topik obrolan, yang mengejutkannya, bukan mengenai sinar matahari pagi yang terasa menyejukkan hati, melainkan sesuatu yang terdengar sedikit... feminim.
"Tengenji memang jago, ya! Bajuku bisa tidak berantakan sama sekali!"
"Ah, iya. Punyaku dengan Kuga-kun saja masih menjadi sedikit lebih longgar setelah bangun tidur, tapi kalian masih terlihat rapi saja,"
"Heh, tentu saja, Yabosuke!"
Dan saat itu Tsukigami berpikir. Kenapa bisa tangan yang sama saat memakaikan yukatanya memberi hasil... beda, ya?
.
.
fin
A/N:
Isi drabble saya lama-lama:
Incredible sexual harassments towrads Tsukigami
Kemodusan Tengenji
