Satu kecupan, dua kecupan—hati Tengenji serasa dimabuk cinta ketika hidungnya menyentuh tubuh di hadapannya, saat menghirup wangi yang menempel pada perut sosok yang di sedang didominasinya, membuatnya terjebak pada rasa nyaman yang sempurna.
Ah, Tavian, betapa manisnya.
Seperti biasa, kegiatan paginya dimulai dengan memberi belaian pada kucing kesayangannya. Ia akan terbangun dalam kondisi bidadarinya sudah berhadapan dengan matanya persis, membuat hatinya terkoyak perasaan gemas ingin mendekapnya. Lalu, ia akan sadar bahwa Tavian sedang memerlukan minum paginya—dan segera menyiapkan untuknya. Untuk hari ini, ia iseng mengecek ponselnya sebagai hal kedua yang ia lakukan setelah memberi minum Tavian. Kebetulan juga, ia menemukan sesuatu yang menarik. Dengan senyum secerah matahari, ia memulai harinya ke sekolah dan diam-diam tak sabar bisa menemui teman-temannya saat latihan nanti.
-xXx-
"Ayo, pergi ke tempat yang penuh bidadari," dengan mata berkilauan dan nada yang terdengar ambigu.
"... itu tempat apa, Tengenji-kun?"
"Oh, kafe kucing yang baru buka dekat sini itu, ya?" sambil membalikkan lembar majalahnya, Tsukigami tepat sasaran.
"Kafe kucing?" Serentak, Hoshitani dan Nayuki yang bertanya-tanya.
"Kafe kucing itu kafe di mana pelanggan bisa menimkati jamuan kafe ditemani dengan kumpulan kucing yang sudah disediakan dari pihak kafe," jelas Kuga yang diikuti oleh senyum mengiyakan Tengenji. Sementara itu, Hoshitani malah mendadak bersembunyi di belakang Nayuki.
"... Kucing? Kucing betulan? Bukan pelayan kafe, ya?" Hoshitani mencengkram kaus Nayuki hingga kusut dengan tangan yang gemetar. Ya ampun, pelayan memakai kostum kucing—memangnya maid cafe, Hoshitani? Nayuki menghela napas merasakan temannya yang, ia bersumpah, terlihat ngeri setengah mati.
"Sepertinya, Hoshitani-kun tidak mungkin ikut, aku juga tidak dulu, deh, kali ini. Maaf, ya..." Nayuki mencoba pengertian ke dua belah pihak.
"... A-ah... maaf Hoshitani, aku lupa..." Tengenji mengalihkan pandangannya dari Hoshitani, sambil menggaruk belakang lehernya.
"Maaf, Tengenji, aku juga hanya punya waktu luang di akhir minggu," lanjut Kuga.
"Ah, ya sudah. Aku ke sana kapan-kapan saja," sedikit kecewa tetapi berusaha menyembunyikannya sebisa mungkin agar tidak membuat teman-temannya prihatin. Toh, saat ia melirik ke arah Tsukigami, tak terlihat tertarik.
-xXx-
Pada akhirnya, 'kapan-kapan' terasa terlalu lama bagi Tengenji, ia merasa tak boleh melewatkan mengunjungi surga dunia seperti ini, walaupun ia harus pergi sendiri—
—sebelum ia bertemu pandang dengan manik biru familiar di depan pintu kafe.
"Heh, Tsukigami. Ternyata kau tertarik dengan bidadari juga, ya?" Tengenji menyunggingkan senyum meledek.
"Ya, kudengar makanan (manis) di sini enak, sih," Tsukigami bahkan tak melihat ke arahnya.
Lalu ketika pintu kaca dibuka, membuat dering bel terdengar dari atasnya, mereka memutuskan untuk memilih meja untuk berdua.
Hal pertama begitu Tengenji menapakkan kakinya masuk ke dalam kafe adalah... mabuk? Bukan. Melayang di angkasa? Bukan juga. Rasanya afeksi berlebihan memenuhi seluruh tubuhnya, bagaikan narkoba tersendiri, membuatnya tak tahan untuk tidak tersenyum—sedangkan ia harus menarik napas karena harus menyiapkan hatinya melihat surga yang, ternyata, seindah ini.
Tsukigami tidak menunjukkan ekspresi khusus, ia segera menuju mejanya dan Tengenji, berbeda dengan temannya yang langsung berhenti melangkah di bagian depan, yang penuh kucing, untuk mengelusnya satu per satu. Begitu duduk, ia kembali menoleh ke arah Tengenji, ingin tertawa karena ia yakin tanpa kacamata penyamarannya pun, tak akan ada penggemar yang dapat mengenalinya dengan ekspresi terlalu bahagia seperti itu.
Tengenji tersadar dari setengah lamunannya akibat merasakan dirinya dikelilingi para bidadari lalu menegakkan kakinya yang sebelumnya dalam posisi berjongkok. Ia melihat ke arah mejanya dan Tsukigami, melihat Tsukigami yang sedikit tersenyum saat membuka buku menu—ia tahu orang itu barusan mentertawakannya, ia tahu dan yakin—lalu segera duduk ketika sampai di depan mejanya. Begitu kepalanya dan tsukigami berhadapan, ia siap melontarkan seribu protes dan alasan bagi Tsukigami yang mentertawakannya barus—
Satu kecupan.
(Ah. Manis. Sangat manis. Begitu manis. Terlalu manis. Terlalu, sangat manis. Hal yang paling manis di dunia ini?)
Bibir Tengenji tak dapat membuka.
Entah pemandangan apa yang barusan ia lihat, ketika satu kecupan—ketika hidung malaikat dan bidadari bersentuhan dengan senyum lembut yang begitu mendewa, apa yang bisa Tengenji lakukan kecuali membisu dalam rasa terpukau? Lagipula, tunggu—sejak kapan Tengenji menyebut Tsukigami malaikat?
"Kenapa, Tengenji?"
"Kenapa apanya?"
"Mukamu merah,"
Dalam diam, Tengenji menyimpan degup jantungnya yang begitu cepat, dan di bawah sadarnya, afeksi dan surganya bertambah untuk dan karena seseorang.
.
.
fin
A/N:
tumben bukan sekuhara ya /hus
