Of Kisses and Hot Coffee

.

.

.

Wonwoo dan Mingyu berusaha keras mendorong meja kerja baru milik Wonwoo agar bisa dipindahkan dekat dengan meja milik Mingyu. Sudah hampir satu jam namun Meja itu belum bergeser sama sekali saking beratnya.

Setelah lama menarik-narik meja tersebut akhirnya meja itu bergeser juga. Mingyu yang bermaksud mempermudah memindahkannya berjalan menuju sisi meja yang tadinya menempel dengan dinding untuk bisa mendorongnya, dengan susah payah ia menyelipkan dirinya diantara Meja tersebut dengan dinding. Ia baru akan mendorong meja tersebut namun Wonwoo yang memegangi sisi meja lainnya langsung mengeluh

"Yah tunggu sebentar ini besar sekali~"

Mingyu yang kesakitan karena terjepit langsung mendorong meja tersebut

"Yah! Jangan didorong- Ah! M-Mingyuuuuu~ sakittt" Mingyu yang mendorong meja tersebut terlalu kuat mungkin, dan hal itu membuat jari kelingking kaki Wonwoo tertabrak meja tersebut, salahkan saja Wonwoo yang hobi melepas sepatunya saat bekerja.

Namun walaupun sudah sedikit terdorong dan sudah menyebabkan korban(?) tetap saja Mingyu masih terjepit, dia terus mendorong meja tersebut sedikit-demi sedikit. "se-sedikit lagi woo, aku mau keluar!"

BRUK!

Baru saja Mingyu hendak mendorong meja itu lagi namun tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan memperlihatkan Seungkwan dan Nyonya Kim yang terjatuh di depan pintunya. Mingyu dan Wonwoo mengerejap bingung.

"eomma? Sedang apa disini?" Ujar Mingyu yang bergegas membantu eommanya berdiri. Ibu Mingyu langsung melihat Mingyu kemudian matanya tertuju pada Wonwoo, kemudian ia kembali mengecek keadaan Mingyu dan kembali lagi ke Wonwoo sampai hampir lima kali.

Rambut? Masih rapih

Baju? Lengkap.

Kerah Teratas? Tertutup

Dasi? Masih rapih

Tanda-tanda kemerahan di leher? Nyonya Kim sedikit memicingkan matanya. Sepertinya tidak ada, mungkin aku terlalu ngeres ya…batin Nyonya Kim.

"ah tidak apa-apa, Ibu hanya merindukanmu Mingyu-ah~ kamu sih meninggalkan ibu sendirian di apartemenmu, kan ibu sudah bilang ibu mau bertemu pacarmu yang jadi perbincangan di kantor~" Ibu Mingyu mengedip kearah Wonwoo.

Wonwoo membulatkan matanya, ia bingung harus bilang apa, mana kemarin Seungkwan mengerjainya, matilah dia, bisa-bisa dipecat.

"Mingyu, Mingyu, kalau sudah punya pacar ya bilang! Ibu kan tidak perlu menjodohkanmu sana-sini lagi." Mingyu memutar bola matanya, namun mengetahui dia tidak akan dibebani dengan kecan buta yang bodoh lagi membuatnya senang. Ia langsung menarik tangan Wonwoo dan memeluk pinggang Wonwoo dari samping.

"Baby, perkenalkan dirimu, ini ibuku yang kuceritakan kemarin" Ujar Mingyu sambil tersenyum manis.

Wajah Wonwoo memerah, apa-apaan ini?!Mingyu terlalu dekat, ditambah lagi dengan senyum bodoh dan panggilan baby darinya.

"A-aku W-W-Wonwoo, Nyonya Kim, A-Aku P-pacarnya M-Mingyu" ujar Wonwoo gelagapan lantaran shock dengan posisi Mingyu yang terlalu dekat.

"Ah Manisnya~ panggil aku eomma saja sayang, kita akan menjadi keluarga~" Nyonya Kim mengedipkan matanya. "Berapa umurmu sayang?" Ujar Nyonya kim masih dengan senyum gembiranya.

"dia baru 23 tahun eomma, jadi jangan main paksa suruh menikah" ujar Mingyu sewot.

"cih iya iya, yang jelas kalo kamu hamilin dia kamu nikah, jangan di gugurin, eomma mau adik kecil!" ucap Nyonya Kim kekanakan membuat Wonwoo sedikit terkejut karenanya. Wonwoo berpikir Nyonya Kim itu galak, arogan, kejam, bertahi lalat di bawah bibir(?), dan berlipstik merah tebal seperti di drama-drama, namun kenyataannya Nyonya Kim berpenampilan sederhana, Rambut tergerai, wajahnya masih mulus, hanya ada sedikit keriput di dekat matanya namun kecantikannya masih kelihatan, matanya mirip dengan mata Mingyu.

"Jadi sudah berapa lama kalian pacaran?" Tanya ibu Mingyu lagi.

"4 bulan. Aku yang memaksa dia masuk ke perusahaan ini, aku membantunya menulis lamaran kerja agar ayah mau menerimanya dan memposisikannya dengan baik." Jawab Mingyu lancar, sepertinya dia memang sudah mempersiapkan hal ini, sedangkan Wonwoo hanya mengangguk saja, dia tidak tahu harus bicara apa.

.

.

.

Sudah hampir 2 bulan sejak Wonwoo bertemu ibu Mingyu, hampir setiap hari nyonya Kim menanyai Wonwoo tentang hubungannya dengan Mingyu. Dan hal itu juga memaksa Wonwoo menjadi dekat dengan bosnya tersebut.

Untungnya ini sudah penghujung tahun, dan dia mendapat libur panjang, ini hari pertama liburnya, ia berencana menonton televisi, memeluk bantalnya seharian di tempat tidurnya dan minum coklat hangat. Namun semua pikirannya buyar saat bel apartemennya bunyi.

Ting Tong!

Siapa?

Seingat wonwoo ia tidak ada janji. Ia mengecheck intercom-nya dan bergegas membuka pintu saat melihat Mingyu yang ada di luar sana.

"kenapa anda kesini?" Tanya Wonwoo memiringkan kepalanya lucu.

Mingyu tersenyum melihat pegawai manisnya tersebut. Wonwoo mengenakan celana panjang warna biru muda dengan sweater putih yang kebesaran yang menyembunyikan tangannya. Mingyu melangkah masuk saat Wonwoo memiringkan badannya, memberi tanda pada Mingyu untuk masuk.

"boleh minta tolong?" Ujar Mingyu masih dengan senyumnya,

"eum…. Apa ini tentang ibumu?" Wonwoo sedikit memerah melihat senyum itu, ya tuhan kenapa ada orang se tampan ini…

"mmm, mungkin?" Mingyu duduk di sofa berwarna cream di ruang tamu Wonwoo. "Ganti bajumu dan ikut aku." Ujar Mingyu lagi.

Wonwoo mendesah pelan, rencananya hari ini sepertinya harus dibatalkan, dia mengangguk kemudian bergegas ke kamarnya untuk berganti baju. Ia keluar kamarnya dengan jaket berwarna coklat, sweater putihnya tetap ia kenakan, syal biru tua dan celana jeans.

Mingyu berdiri dan berjalan ke pintu depan sambil menarik tangan Wonwoo, "Ayo cepat!" ujar Mingyu.

"pelan-pelan saja! Memang mau kemana sih?" Wonwoo jadi sewot karena Mingyu yang menarik-nariknya. Mereka langsung ke parkiran sesudah Wonwoo mengunci apartemennya. Namun saat Wonwoo hendak membuka pintu mobil Mingyu, Mingyu sudah membukakannya duluan sambil tersenyum, membuat wajah Wonwoo yang sudah merah menjadi tambah merah.

Tidak hanya itu saja, Mingyu bahkan memasangkan seat-belt Wonwoo, Wajah mereka sangat dekat dan entah Mingyu itu gila atau apa yang jelas dia mengambil kesempatan mencium pipi Wonwoo saat sedang memasangkan seatbelt-nya.

Wonwoo baru mau protes namun Mingyu sudah menutup pintunya duluan dan tidak memperdulikan rutukan Wonwoo dan tetap tersenyum, terkadang saat lampu sedang merah Mingyu akan iseng mecubiti pipi Wonwoo dan dihadiahi oleh pout lucu dari bibir cherry milik Wonwoo.

Setelah 20 menit perjalanan Mingyu memarkirkan mobilnya di depan sebuah café. Mingyu kembali membukakan pintu untuk Wonwoo, dan Wonwoo yang tidak mau jantungnya kembali berdegup terlalu kencang dan pipinya kembali merah cepat-cepat membuka seatbeltnya sendiri.

Mingyu menggandeng Wonwoo masuk ke café tersebut dan duduk di sebuah meja yang berada dekat dengan jendela besar yang langsung menghadap ke jalan. Mingyu memesan secangkir peppermint mocca hangat sedangkan Wonwoo memilih Vanilla Latte hangat dan Cinnamon Rolls, yang mendapatkan gombalan kecil dari Mingyu karena pilihan kopi yang manis.

"Vanilla Latte? Wah orang manis memang suka makan yang manis-manis ya" Mingyu mengerling kecil, Wonwoo hanya memutar bola matanya karena boss-nya yang cheesy namun tak lama kemudian mereka sama-sama tertawa.

"ehm..Mingyu" Wonwoo yang memang sudah terbiasa memanggil nama bossnya tersebut heran, bukankah tadi Mingyu meminta bantuan karena ibunya yang 'kepo' masalah hubungan mereka? Tapi kenapa Nyonya Kim malah tidak ada?

"Mana Ibumu? Bukannya tadi kau minta tolong karena ibumu?" Mingyu menggeleng, menyesap kopinya kemudian mengelap sudut bibir Wonwoo, membuat Wonwoo sedikit salah tingkah karenanya.

"kan aku hanya bilang mungkin" Mingyu tertawa kecil, "Bisa saja sebenarnya aku hanya ingin minta tolong agar kau mau berkencan denganku hari ini" Wonwoo yakin wajahnya bak kepiting rebus sekarang.

Mingyu kembali mencubit pipi putih Wonwoo yang memerah tersebut. "kau sangat manis kalau malu-malu begitu, beda sekali dengan bocah sialan yang meninju wajahku~" Mingyu tertawa, kembali menyinggung pertemuan mereka yang kurang menyenangkan.

"heh kan kau juga yang genit" balas Wonwoo, menendang kaki Mingyu dari bawah meja.

"dasar, manis tapi sadis"

Mereka berdua kembali tertawa, dan hari itu dihabiskan mereka berdua dengan candaan, beberapa cangkir kopi , wajah Wonwoo yang terus bersemu, dan tidak lupa juga dengan ciuman manis dan dalam, didepan pintu apartemen Wonwoo yang membuat keduanya kehabisan nafas dan memerah.

Mungkin hari ini Wonwoo tidak bisa menonton televisi seharian atau memeluk bantal empuknya sambil minum cokelat panas hari ini, namun hari ini Wonwoo melihat banyak senyuman dan kata-kata manis yang menghibur dari Mingyu dan tetap hangat dengan beberapa minuman hangat dari café dan tidak lupa dengan ciuman manis pengantar tidurnya malam ini . . . a.n: halo, maaf ya lama updatenya, dan makasih buat yg sampe pm aku suruh ngelanjut ff ini kkkk, laptop author rusak nih -_- mana kmrn ulangan numpuk jadi ga sempet update, tp tenang aja sekarang udah libur jadi bisa buat ff heheh . . Oh iya author juga rencananya mau buat ff baru nih, ff Soulmate!au Meanie heheh semoga aja kesampean buat tuh ff