Soul Mates

.

.

Pagi ini cukup dingin dan membuat seorang pemuda manis menjadi malas untuk beranjak dari tempat tidurnya. Ia bergelung di bawah selimutnya dan hendak tidur lagi, namun terganggu karena bunyi dari ponselnya. Ia mengambil ponselnya dan sedikit menggerutu.

From : Mingyu

To : Wonwoo

Bagaimana dengan kencan hari ini? :)

Wonwoo menepuk jidatnya, ia lupa kemarin Mingyu mengajaknya untuk berkencan. Dia cepat-cepat mengetik balasan, tidak ingin calon kekasihnya itu menunggu.

From : Wonwoo

To: Mingyu

Tentu saja jadi! Tapi aku masih malas p n q

Aku bahkan belum keluar dari bawah selimutku n

Mingyu tertawa, balasan dari Wonwoo sangat lucu menurutnya. Emoticon yang digunakan Wonwoo sangat lucu dan manis, sama seperti Wonwoo sendiri. Lucu dan manis, ah dan bedanya, Wonwoo itu menggoda namun emoticonnya tidak menggoda.

From : Mingyu

To : Wonwoo

Aku jemput jam 12, kau punya waktu 3 jam untuk bangun dan

Terlihat manis untuk kencan hari ini ;)

Wonwoo tidak perlu membalasnya, ia langsung bergegas mandi, dan menggunakan colognenya dengan cukup berlebihan hari ini. Dan 1 fakta yang harus kalian ketahui, Wonwoo membutuhkan setidaknya 45 menit untuk mandi di hari biasa dan tentu saja waktu lebih lama untuk kencannya.

Menghidupkan handphone-nya dan memutar lagu yang dirasa dapat membuatnya sedikit santai karena ia harus memilih baju apa yang harus dikenakannya. Dia harus santai dan tenang atau dia akan mengacaukan kencannya karena dia mengenakan pakaian yang buruk.

Oke Wonwoo….oke tenang tenang tenang….

Wonwoo mengambil Sweater putih dengan garis biru yang agak kebesaran dan celana jeans hitam, melihat ke cermin apakah itu cukup bagus. Sejenak kemudian ia menggeleng. Baju itu terlalu besar, dia terlihat tenggelam.

Ia kemudian mengambil sweater rajutan warna putih miliknya. Sweater tersebut pas untuknya namun tetap memberi kesan imut karena tangannya tersembunyi dibalik lengan sweaternya. Namun Wonwoo kembali menggeleng.

Dia terlihat gemuk (halah lu kurus kek tulang semua juga -_-) Sweater itu terlalu tebal, seolah-olah ia sangat gemuk. Ia kemudian mengambil sweater yang berwarna biru muda dengan tangan menggantung. Sempurna! Sweater tersebut tidak terlalu tebal dan itu pas ditubuhnya. Ia terlihat ceria dan menggemaskan karena bahunya jadi terlihat kecil dan warna sweaternya yang cerah.

Wonwoo mengambil sepatu kets putih polosnya, mengenakannya dan langsung duduk di depan pintunya, menunggu Mingyu datang dan memencet bel. Tapi yang benar saja, itu baru jam 11.15 Jeon Wonwoo, masih 45 menit lagi sebelum mingyu –

Ting Tong

-datang

Wonwoo langsung membuka pintunya, tersenyum manis walaupun nafasnya sedikit tertahan melihat penampilan Mingyu. Mingyu mengenakan Sweater Hitam dengan dalaman Kemeja putih, jeans hitam, dan sepatu Jordans warna putihnya. Kakinya terlihat panjang dan – sempurna.

Mingyu tersenyum melihat Wonwoo yang ternyata sudah siap, tidak lupa memberinya sebuket bunga mawar pink yang telah dibelinya tadi, membuat Wonwoo tersenyum dan wajahnya berwarna sama dengan mawar yang diberikannya.

"kukira aku datang terlalu cepat, ternyata ada yang sudah siap, kau sepertinya tidak sabar hm?" Mingyu tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.

Wonwoo mengijak kaki Mingyu. Hey mungkin Wonwoo itu manis, tapi jangan lupa ia membuat pipi Mingyu bengkak di pertemuan pertama mereka.

"aku orang yang disiplin waktu, aku hanya tidak suka membuat orang menunggu." Jawab Wonwoo gengsi, mana mungkin dia mau mengaku kalau ia sebenarnya memang menunggu Mingyu dan tidak sabaran.

Mingyu tersenyum dan memeluk pinggwang Wonwoo dengan sebelah tangan, mendekatkan wajahnya ke wajah Wonwoo dan mencium bibir plumpnya, merepas pinggang Wonwoo lembut dan memberi sedikit lumatan pada bibir atas Wonwoo membuat pemiliknya mengerang. Namun sebelum terlalu jauh, Mingyu memutuskan untuk melepas tautan bibir mereka. Kencannya lebih penting sekarang.

"Kau terlihat manis hari ini, Jeon Wonwoo"

Mingyu menuntun Wonwoo menuju mobilnya dengan meletakkan lengannya di bahu sempit milik Wonwoo. Membukakan pintu mobilnya layaknya Wonwoo adalah seorang tuan putri dan memasangkan seatbelt untuk Wonwoo.

Dan Wonwoo tidak tahu apakah Mingyu sudah mempersiapkan kencan ini dengan sangat mendetail atau hanya kebetulan, namun lagu-lagu yang dimainkan di mobil Mingyu dari tadi merupakan lagu rap yang sangatlah cheesy, seperti lagu IKON yang berjudul My Type dan lagu milik Gary yang berjudul Your Scent.

"Woo jangan terkejut ya, tempat kencan kita sangat tidak biasa." Mingyu menampilkan smirk sexy-nya sambil tetap terfokus di jalan raya.

Wonwoo mengerejap bingung, di satu sisi ia berfikiran mesum karena smirk Mingyu tersebut dia dari tadi masih berusaha menetralkan detak jantungnya, ia mulai memikirkan berbagai kemungkinan seperti, mungkin saja Mingyu membawanya ke sebuah hotel lalu mereka minum wine kemudian Mingyu memeluknya dari belakang, menciumnya di leher kemudian mereka –

"Wonwoo? Kenapa melamun? Ayo turun." Wonwoo terlalu sibuk dengan pikirannya sampai ia tidak sadar jika mobil Mingyu sudah berhenti, bahkan Mingyu sudah membuka seatbeltnya dan membukakan pintu mobilnya.

Wonwoo menepuk pipinya dan menggeleng, begitu menggemaskan di mata Mingyu. Wonwoo cepat-cepat turun dari mobil dan melihat sekelilingnya, dia mengerenyit.

Tempat ini bukannya…

"pasar, kita akan berkencan di pasar. Senang?"Mingyu tersenyum jahil melihat wajah Wonwoo yang entahlah terlihat bingung.

"k-kenapa pasar?" Wonwoo hendak protes namun Mingyu sudah menariknya ke dalam pasar tersebut.

"Kau akan suka makan sampel. Dan kita akan masak nanti" Mingyu menarik Wonwoo menghampiri tempat yang terdapat banyak akuarium.

"Bibi Jung!" Mingyu memangigil Bibi penjual seafood tersebut yang sepertinya sudah mengenalnya

"Ah, Mingyu-ya, sudah lama tidak melihatmu, kemari, bibi punya banyak gurita segar."

"Mau Gurita?" Wonwoo hanya mengangguk.

"bibi, apa kami boleh coba guritanya?" Mingyu memamerkan senyumnya ke bibi penjual seafood tersebut, bibi itu langsung memotong gurita segar dan memberi sedikit pada Mingyu dan Wonwoo.

Mingyu tertawa saat melihat Wonwoo kesusahan memegang tentakel gurita yang licin, bibi penjual itupun ikut membantunya. "kalian mau coba gaebul? Bibi akan potongkan, itu enak dimakan mentah dengan kecap asin atau jahe, bibi punya kecap asin, mau coba?"

Mingyu menganggukmengunyah kaki gurita yang telah dipotongkan, terkiki karena Wonwoo sepertinya tidak terlalu menyukai makanan kenyal.

"kau pernah makan gaebul?" Tanya Wonwoo. Mingyu mengagguk lagi."Aku suka seafood mentah makanya aku kepasar" bibir Wonwoo membentuk huruf 'o' dia tidak menyangka orang seperti Mingyu hobi kepasar.

"nah ini dia, tenang saja, ini tidak se amis gurita." Bibi itu tersenyum karena Wonwoo yang sepertinya kurang menyukai gurita tadi.

Wonwoo masih berfikir untuk makan gurita itu atau tidak, namun tiba-tiba Mingyu sudah menyuapkan gaebul ke mulutnya. Wonwoo menguyah makanan tersebut sambil mengerenyit, sedikit merasa jijik karena tekstur kenyal-kenyal dari cacing tersebut.

"Hey ini enaaak! Kau hanya harus terbiasa!"Wonwoo memutar bola matanya dan mengangguk pasrah.

Setelah mencicipi banyak hal, mereka melanjutkan belanja mereka, Mingyu sudah memegang kotak kecil berisi gurita hidup dan sekantung penuh gaebul, dan Wonwoo memegang kotak kecil berisi ikan segar.

"Wonwoo, kau mau makan mandu? Aku tahu tempat makan mandu yang enak dan murah disini!" Wonwoo dengan cepat mengangguk, dia sangat suka mandu.

"okay, tapi kita harus meletakkan belanjaan ini di mobilku sebentar ne?" Wonwoo kembali mengangguk, mengikuti Mingyu kembali ke mobilnya untuk memasukkan ikan dan makanan tadi ke bagasinya yang tidak terlalu jauh dari pasar tersebut.

.

.

.

"Pesan 2 jjinmandu dan 2 gunmandu lagi ya!" Mingyu berteriak dari tempat duduknya. Wonwoo heran, Mingyu sudah makan 7 porsi mandu, dan masih belum kenyang. Wonwoo bahkan sudah kenyang hanya dengan 5 porsi saja.

"Makanlah lagi, lihat kau seperti tulang berjalan" Mingyu mengoceh sambil mengunyah mandunya, Wonwoo hanya menggeleng, dia memakan kkakdugi-nya. Mingyu tidak menyerah. Bahkan dengan teganya Mingyu menyumpalkan dua buah mandu sekaligus ke mulut Wonwoo, membuat pipinya menggembung lucu.

Wonwoo menginjak kaki Mingyu lagi, ia terpaksa menelan mandunya dengan bantuan sikhyenya, dia sudah kenyang, bagaimana bisa Mingyu makan sebanyak itu.

.

.

Hari sudah menunjukkan pukul 4 sore, Mingyu dan Wonwoo sedang dalam perjalanan dan entah Wonwoo tidak tahu mereka akan kemana. Yang jelas ikan didalam kotak yang mereka beli tadi masih rewel(?)

Mereka berhenti di parkiran sebuah apartemen nan mewah. Mingyu mengangkat belanjaan mereka dan menuntun Wonwoo ke lift, menyuruh Wonwoo menekan angka 15. Sesampainya di lantai 15, Mingyu membuka pintu ruangan dengan nomor 1587. Apartemen tersebut sangat luas menurut Wonwoo. Dengan langkah gugup ia memasuki apartemen mewah milik Mingyu dan duduk di sofa ruang tamunya.

" Woo, kemari, akan kutunjukkan seluruh isi apartemenku." Mingyu yang baru selesai menyusun belanjaannya di kulkas menarik tangan Wonwoo, menggeser sebuah pintu besar dan mulut Wonwoo terbuka lebar melihat isi ruangan tersebut.

Ruangan yang tidak terlalu besar tersebut berisi berbagai macam baju, sepatu dan benda-benda seperti topi, kacamata dan ikat pinggang yang semuanya bisa dikatakan memiliki brand terkenal."Wowww keren! Ini semua punyamu?" mata Wonwoo berbinar. Ia belum pernah melihat koleksi sebanyak ini dirumah seseorang, Mingyu mengangguk dan mengecup pipi Wonwoo lantaran gemas.

"Ayo kutunjukkan ruangan lain." Mingyu menyeret Wonwoo ke sebuah kamar yang memiliki satu tempa tidur besar dengan seprai berwarna putih dan selimut putih dengan motif garis-garis biru tua. Didalam kamar tersebut terdapat jendela besar yang langsung menghadap jalan, menampilkan pemandangan indah di seoul.

"Wah… Indahnya" Wonwoo melihat melalui jendela tersebut, mengagumi keindahan yang ada didepannya namun sedikit terkejut saat Mingyu memeluknya dari belakang. "Tapi kau lebih indah" Bisik Mingyu ditelinganya, membuatnya menunduk sambil tersenyum senang.

"Ayo, aku punya ruangan lain yang kau pasti suka." Ujar mingyu, berjalan sambil tetap memeluk pinggang Wonwoo dari belakang. "Ini ruang baca sekaligus ruang kerjaku, aku menyimpan banyak buku disini" Ujar Mingyu.

Wonwoo kembali terkagum-kagum, Wonwoo sangat suka membaca, ia langsung berputar dan melihat-lihat judul buku yang ada di lemari besar milik Mingyu saat Mingyu melepas pelukannya.

Tangannya berhenti di sebuah buku berjudul love and misadventure karangan Lang Leav.

"Kau suka puisi?" Tanya Wonwoo. Mingyu tersenyum dan mendekati Wonwoo, kembali memeluk pinggangnya mendekatkan bibirnya ke telinga Wonwoo dan membisikkan sebuah puisi di telinga Wonwoo.

There are people I will never know

And their lives will still ensue;

Those that could have loved me so

And I'll never Wonder who

.

.

Of all the things that come and go,

There is no on else like you.

.

.

The things I never think about –

And the only thing I do.

Dan hal tersebut membuat Wonwoo tidak ragu-ragu untuk berbalik dan mencium Mingyu di bibirnya, Wonwoo mengalungkan lengannya di leher Mingyu, memagut bibir Mingyu dengan lembut. Mingyu balas mencium Wonwoo, mengeratkan pelukannya pada pinggang lelaki yang kebih kecil, sedikit menjilat bibir cherry milik Wonwoo meminta Wonwoo untuk membuka mulutnya, yang langsung dikabulkan oleh Wonwoo.

Mingyu menjelajahi mulut hangat milik Wonwoo, menautkan lidah mereka dan mengelus pinggang Wonwoo, menggigit bibir Wonwoo lembut dan mengangkat kaki Wonwoo, Melingkarkan kaki kurus milik Wonwoo di pinggangnya, tersenyum diantara ciumannya saat mendengar erangan lolos dari bibir mungil Wonwoo.

Mingyu membawa Wonwoo ke kamarnya sambil tetap memagut bibir manis yang menjadi candu baginya. Melepas ciuman mereka dan meletakkan Wonwoo di tempat tidurnya, dengan hati-hati. Mingyu kemudian kembali mencium bibir Wonwoo. Tangannya mulai merayap dibawah sweater Wonwoo yang berwarna cerah, menampakkan kulit putih mulus milik Wonwoo, Ciuman Mingyu turun ke leher Wonwoo, menjelajahi leher putih tersebut sambil mengemut dan menjilat beberapa titik yang membuat Wonwoo mendesah lembut.

Tangan Wonwoo sudah mengacak-acak rambut Mingyu, sesuatu dibalik celana jeansnya mulai mengeras. Tangan Mingyu yang terus mengelus perutnya dibalik sweaternya membuatnya terangsang. Wonwoo merengek kecil saat jari Mingyu sengaja menyentuh putingnya. Mingyu yang terus saja mengemuti leher Wonwoo mengangkat sweater Wonwoo sampai ke dadanya, tersenyum saat ia melihat wajah Wonwoo yang memerah karena malu dan nafsu. Ia mencumi dada Wonwoo dan terus turun sampai keputing pink milik Wonwoo yang menegang, dijilatnya tonjolan tersebut pelan, menyukai reaksi Wonwoo yang benar-benar merangsangnya.

"angh~ M-Mingyu…" Wonwoo mendesah saat Mingyu menggesekkan membernya dibalik jeans mereka dan menggigit nipplenya. Ciuman Mingyu kemudian turunke perut san pinggang Wonwoo, ia kemudian melihat kearah Wonwoo, meminta izin untuk membuka celananya yang direspon dengan anggukan oleh Wonwoo.

Mingyu membuka celana Wonwoo sekaligus, menampakkan paha mulus milik Wonwoo dan membernya yang menegang, Mingyu tersenyum saat Wonwoo menyembunyikan wajahnya dibalik tangannya.

"jangan malu…kau sangat indah Wonwoo" Bisik Mingyu sambil membuka tangan Wonwoo yang menutupi wajahnya.

Mingyu kemudian kembali menjelajahi tubuh Wonwoo dengan ciuman dan berhenti di depan member Wonwoo yang sudah menegang. Dilebarkannya paha Wonwoo dan ia memasukkan ujung junior Wonwoo ke mulutnya, menyesapnya sebentar baru menurunkan kepalanya, dan memasukka milik wonwoo seutuhnya kedalam mulutnya.

"Ah! Oh – Min- mingyu ngh~" Wonwoo tanpa sadar menaikkan pinggulnya, Mingyu mendesah disekitar milik Wonwoo, membuat Wonwoo merasakan getaran dari mulut Mingyu.

Mingyu terus menaik turunkan kepalanya, matanya terus menatap Wonwoo, mempercepat gerakkannya saat Wonwoo mulai berkedut didalamnya "ngg Min – a-aku mau ngh~" belum sempat Wonwoo menyelesaikan kalimatnya ia sudah menyemburkan cairan putihnya ke mulut Mingyu.

Mingyu tersenyum dan meneguk seluruh cairan Wonwoo, Mingyu kemudian duduk bertumpu pada lututnya sendiri. Melepas sweater dan kemejanya, menampakkan kulit kecoklatannya dan tubuh sixpack-nya, membuat Wonwoo semakin memerah. Mata Wonwoo mengagumi pahatan pada tubuh Mingyu tanpa sadar.

"kau menyukainya hm?" tanya Mingyu sambil tersenyum dan membuka ikat pinggangnya dan jeansnya sendiri, ia menurunkan celananya sampai ke lututnya dan menurunkan boxernya, menampakan kejantanannnya yang besar dan tegang, Wonwoo bahkan ragu apakah benda itu akan muat didalamnya.

Mingyu kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Wonwoo, menciumnya dengan penuh nafsu, tangan panjang Mingyu menmbuka laci disebelah tempat tidurnya, mengambil sebotol lube. Ia kembali duduk diantara paha Wonwoo.

Mingyu membuka tutup lube tersebut dan memasukkan dua jarinya. Mingyu kemudian mengarahkan jarinya yang sudah dilumuri lube menuju opening milik Wonwoo. Sedikit menggesekkan jarinya ke belahan berwarna kemerahan tersebut dan melesakkan satu jarinya ke dalam hole Wonwoo.

"p-pelan-pelan..i-ini pertama kali bagiku.." Wonwoo mengerenyit, dan sedikit menjerit, ini tidak sakit hanya saja ia merasa kurang nyaman, Mingyu mulai menggerakkan jarinya, menambah satu jari lagi saat Wonwoo sudah terbiasa. Jari Mingyu mencari-cari titik milik Wonwoo yang dapat membuatnya melayang.

"AH!" Wonwoo mendesah nikmat saat jari mingyu menyentuh sesuatu didalam tubuhnya, kakinya melebar tanpa sadar, Wonwoo menggigit bibirnya menahan desahan-desahan memalukan yang ingin dikeluarkan.

Mingyu kemudian menyentuh titik tersebut beberapa kali, menghapal letak titik terlemah milik Wonwoo tersebut dan mengeluarkan jarinya dan melumuri memberya yang sudah menegang dengan menekuk kaki Wonwoo dan kembali mencium Wonwoo.

Mingyu mulai memasukkan ujung membernya ke lubang milik Wonwoo, membuat Wonwoo berteriak karena benda besar tersebut.

"AH! M-Mingyu –" Mingyu membungkam teriakkan Wonwoo dengan ciuman lembut, tangannya sibuk mencubiti nipple Wonwoo, berusaha mengalihkannya dari rasa sakit. Mingyu semakin memasukkan membernya kedalam Wonwoo hingga miliknya tertancap sempurna didalam Wonwoo.

Mingyu melumat bibir Wonwoo, ia sedikit menggeram merasakan lubang sempit milik Wonwoo. Ia benar-benar ingin menggerakkan pinggulnya sekarang, namun ia tidak ingin menyakiti Wonwoo. Mingyu menciumi seluruh wajah Wonwoo, tangannya menyentuh junior Wonwoo yang sudah kembali menegang.

"b-bergeraklah…" Mingyu tersenyum, ia menggrakkan pingulnya, mengingat-ingat letak prostat Wonwoo dan mengarahkan juniornya tepat ke titik tersebut membuat Wonwoo mendesah hebat.

"ngh~ mingyu~ AH!" Mingyu beregark dengan cepat, menumbuk titik tersebut dengan kuat, Mingyu menyembunyikan Wajahnya di leher Wonwoo, tangannya berada disamping kanan dan kiri kepala Wonwoo.

"Won-Wonwoo ugh – " Mingyu dapat merasakan Wonwoo sudah dekat, sama seperti dirinya, ia makin mempercepat gerakkannya. Bibirnya menggigiti telinga Wonwoo, kembali membisikkan puisi-puisi romanti yang pernah dibacanya.

Wonwoo mendesah hebat, meneriakkan nama Mingyu. Tangannya memeluk leher Mingyu dengan Kuat. Matanya terpejam karena kenikmatan yang dirasakannya. Nafasnya mulai tidak beraturan, ia merasa akan keluar sebentar lagi.

Wonwoo menyemburkan cairannya diantara perutnya dan Mingyu bersamaan dengan Mingyu yang menyemburkan cairannya di dalam Wonwoo. Mingyu mencium Wonwoo, tersenyum saat Wonwoo menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Mingyu.

"Jangan Malu, aku sudah melihat semuanya Jeon Wonwoo. Kau sangat luar biasa." Wonwoo menepuk dada Mingyu. Mingyu tertawa pelan, ia, memeluk pinggang Wonwoo dan memutar posisi mereka hingga Wonwoo berada diatasnya, menyandarkan kepala Wonwoo di dadanya dan memeluk pinggang Wonwoo dengan satu tangan dan sebelah tangannya mengelur surai Wonwoo yang basah karena keringat.

Wonwoo mengangkat kepalanya kemudian mencium bibir Mingyu lembut, membisikkan sesuatu di telinga Mingyu

I don't know how you are so familiar to me—

or why it feels less like

I am getting to know you and more

as though I am remembering who you are

.

.

How every smile, every whisper brings me closer to the impossible conclusion

that I have known you before,

I have loved you before—

in another time,

a different place, some other existence.

a.n :

aneh ya? emang xD wkwkwk btw buat yang gatau gaebul itu cacing, rasanya aneh =_= gue makan itu waktu ke korea kemaren, kapok gue makan tuh barang -_-

terus disini aku pake puisinya Lang Leav, judulnya "you" sama "Soul Mates" terus maap ya kalo banyak typo :' author gapunya beta reader soalny

terus makasih juga yang udah review, i lop you all 3 semoga suka ya sama chapter gaje ini wkwkwk oh iya kan gue rencananya mau buat ff baru nih, enaknya side pairing nya siapa ya?