== BL == BL == BL ==

Contains: fanmade plot twist! Twist tidak berkaitan dengan serial aslinya, merupakan reimajinasi dari penulis.

Pairing: Saitama x Genos [One Punch Man; keseluruhan esensi serial milik ONE/Murata]

Genre: Angst / Tragedy / Romance

Rating: TBA/under development

Sudah lama tidak menulis fic, mohon kritik dan saran happy reading! Maaf atas segala kekurangan dan typo serta autocorrect!

*) qwq) uwah senangnya ada yang baca fic ini… terima kasih banyak! Maaf saya seringnya silent reader… terima kasih sudah mau menunggu, ya. Setelah ini saya UAS dulu, but well, even if this story still a long way to finish, enjoy! :"D/ semangat ujian bagi yang menjalankan, dan selamat liburan akhir tahun! Xoxo 333

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Vermillion Lullaby [Part 2 / X]

Aku tidak pernah menyangka akan ada orang yang-tunggu, cyborg yang bersikeras mengikutiku sebagai seorang murid. Baiklah, anggap saja dia orang untuk saat ini. beberapa menit yang lalu kubuka pintu apartemenku dan menemukan dia berdiri tegap memanggilku 'Guru'. Atau bahkan 'Master'. Astaga, ini akan menjadi hari yang panjang. Aku tidak tega, atau sebenarnya lebih terganggu jika dia terus di depan pintu apartemenku jika aku tidak membiarkannya masuk sebentar saja. Kusuguhkan dia minuman dan secara gamblang menyuruhnya pulang jika sudah selesai. Betapa merepotkannya. "Guru, senjata apa yang kau pakai di kepalamu?" celetuknya setelah aku bertanya mengapa badannya kembali utuh setelah sebelumnya aku melihat tubuhnya terorak-arik nyamuk berdada tempo hari. "Ya ini namanya kulit." Jawabku. "Ah, baiklah. Berarti guru sudah botak di usia yang masih muda."

Jawabannya yang kelewat polos-atau sengaja polos itu membuatku kesal. "YA AKU MEMANG BOTAK, LALU APA MASALAHMU?!"

Beberapa saat kemudian, dia malah menangkap kata-kata sindiranku sebagai pertanyaan betulan- ah sialan. Ini membuang waktuku. Meskipun kemudian aku tahu cyborg ini… Genos, namanya, memiliki sejarah kekuatan yang cukup kelam rupanya. Mungkin berbeda denganku yang memang dari awal ingin menjadi pahlawan karena impianku semasa kecil untuk menghajar penjahat dalam sekali pukulan- dan dibalas oleh Tuhan melalui latihanku yang rutin- seutuhnya. Aku mengalahkan semua musuhku benar-benar dalam satu pukulan, dan saat ini membuatku frustasi dan bosan karena sudah lama sekali tidak merasakan debaran pertarungan.

Singkat kata, aku mengetahui dia saat ini berumur sembilan belas tahun. Dia masih muda, dan sudah jadi sekuat itu. Yah, sekuat 'itu' saja sih, kalau kulihat dari pertarungannya dengan si nyamuk tempo hari. Tapi mau dikata apapun, dia tetap saja lebih kuat dari manusia umumnya. Kurasa dengan latihan sepertiku dengan kemampuan dasarnya yang sudah lebih bagis dari manusia biasa, dia akan melampauiku dengan cepat. Toh, aku juga memulai latihanku di umur dua puluh dua tahun. Dan harus latihan selama tiga tahun sampai… sekuat ini. Kurasa.

"Tentu aku akan mengajarimu. Tapi kau harus tahu bahwa ini tidak mudah. Bisakah kau menghadapinya?" Aku bicara dengan nada dalam dan serius. "SIAP!" jawabnya lantang. Meskipun, tak lama, aku mendapati kenyataan baru tentang Genos, yakni: dia memang cyborg terobsesi dan tidak mudah puas.

Aku sudah katakan, bahwa kekuatanku berasal dari latihan yang intens selama tiga tahun: seratus kali push up, seratus kali sit up, seratus kali squat, dan sepuluh kilometer berlari setiap hari- serta tidak menyalakan AC bagaimanapun keadaannya, dan makan pisang saat sarapan. Ini rahasiaku. Tapi meskipun aku berkata dengan nada serius, tak satupun di ruangan itu mempercayaiku. Orang-orang jaman sekarang sungguh punya trust issue. Atau mereka terlalu lama duduk surving internet? Entahlah. Yang terpenting, hari itu akhirnya aku sempat berbelanja diskon.

.

.

.

Itu adalah hari dimana Genos akhirnya menjadi cyborg yang selalu berada di sampingku. Cyborg terobsesi dengan balas dendam. Dan seperti yang kukatakan, dia adalah cyborg yang cukup keras kepala. Bagaimana tidak? Dia selalu mempertanyakan rahasia kekuatanku, meskipun aku sudah berkata formulanya. Dia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Bahkan di hari kami mengikuti ujian untuk masuk ke dalam Asosiasi Pahlawan, dan kemudian dia memutuskan untuk tinggal bersamaku. Dan lebih anehnya lagi, dia selalu mencatat apa yang kulakukan, apa yang kukatakan. Bahkan terkadang dia menggambar sejenis sketsa sekira-kiranya bagaimana aku duduk, tidur, makan. meskipun beberapa waktu kemudian, dia merubah sedikit kebiasaannya. Tidak hanya sketsa, namun aku juga menemukan dia menempelkan fotoku di dalam jurnalnya. Entah apa maksudnya. Fotoku yang sedang tidur paling banyak. Bagaimana aku tahu? Ya bagaimana aku tidak tahu jika dia menyimpan jurnalnya yang ternyata sudah berjilid-jilid di lemariku?

Karena itulah, aku memutuskan untuk menyuruhnya tidur bersamaku. Agar aku mengetahui jika malam tiba dan dia bangun untuk mengambil fotoku lagi.

"Genos," panggilku suatu malam, sambil menonton televisi, menunggu Genos selesai dengan urusan dapur.

"Ya, guru?" jawabnya singkat, terdengar siap. Meskipun dia sedang mengaduk-ngaduk telur. Kurasa hari ini menunya adalah Tamagoyaki.

"Kau sudah cukup lama tinggal di sini. Dan kau selalu tidur di ujung ruangan ini, kan?"

"Ya, guru! Dengan begitu aku bisa mengobservasi pola tidur dan mode tidurmu, siapa tahu itu berhubungan dengan kekuata-"

"ASTAGA! GENOS! KAU ITU MALAH TERLIHAT SEPERTI STALKER!" kataku. Dia mengakuinya, toh? Dia mengakui dia mengobservasiku? Aku langsung keringat dingin. "Ah, maksudku, begini." Jawabku cepat. "Daripada kau tidur di ujung ruangan dan mengobservasiku seperti stalker-YANG JUJUR SAJA itu sangat-SANGAT menggangguku (apalagi jika kau mengambil fotoku saat tidur). Mulai malam ini, kau tidur denganku saja."

"…"

"Yah, sekalian saja kau memperhatikanku dari jarak dekat, supaya aku juga tidak merasa merinding, kan? Lebih sederhana (dan mencegahmu mengambil lebih banyak fotoku saat aku tidur), bukan?"

"…"

"… Oi, Genos?"

Mendadak hening. Sebegitunya tidak setujukah dia tidur bersamaku? Apa karena aku mengigau? Atau aku mendengkur? Atau posisi tidurku? Aku melihat Genos menundukkan wajahnya, seperti menatap mangkuk kocokan telur yang dia pegang. Dan dia diam. "O-Oi, Genos- kau konslet?" aku beranjak dari tempatku berlesehan, menghampirinya. Aku tidak bisa menerka apakah dia marah atau kecewa saat aku memintanya tidur denganku jika aku tidak melihat wajahnya. Saat kudekati pun, dia masih saja membeku. "Ge-Genos, kalau kau tidak mau tidur denganku, aku tidak memaksamu, lho- sungguh. Kau kenapa?"

Dia menaruh mangkuk kocokan telur di meja dapur. Dia membuang tatapan wajahnya menghindariku. Ya Tuhan, dia benar-benar tidak mau tidur bersamaku? Bukan masalah besar, sih. Tapi artinya memang aku harus bertahan jika setiap malam lagi, dia memotretku saat tidur untuk ditempel di jurnalnya. "Ba… ik, guru. Aku… akan tidur denganmu mulai malam ini."

"Eh-ehm- dari nadamu, aku tahu kau tidak mau. Yah, aku tidak memaksa, sungguh. Aku kan jadi tidak enak."

"Ti…dak, guru. Aku baik-baik saja. Aku bersedia jika kau yang meminta."

"Eh? Sungguh?" meskipun dia setuju sekalipun, tetap saja mengkhawatirkanku jika dia menghindari menatap wajahku. Aku tidak bisa tahu sebenarnya dia terpaksa atau tidak. Meskipun aku tahu dia akan selalu menuruti perkataanku, tapi tetap saja aku merasa canggung jika dijawab dengan nada seperti menunjukkan keraguan seperti itu. Aku menarik tangannya, dan menyentuh pipinya. Aku mengangkat mukanya dengan perlahan, aku ingin memastikan bahwa dia benar-benar setuju soal itu. "Hei, lihat pada gurumu ini ketika sedang bicara, karena aku tidak paham apakah kau bersungguh-sungguh atau ti-"

Aku menghentikan kata-kataku saat aku melihat wajahnya.

Aku tidak pernah benar-benar menatap wajahnya dari jarak sedekat ini. Aku tahu dia memang tampan hingga memiliki banyak penggemar bahkan melebihkiku. Tapi aku bisa melihat matanya yang gelap dengan bola mata keemasan dengan jarak kurang dari dua puluh sentimeter. Saat ini, bola mata tersebut berkaca-kaca saat menatapku. Wajahnya yang kusentuh… dia memiliki kulit manusia. Pipinya sangat lembut dan hangat- bahkan menurutku, agak panas. Dengan rona merah muda. "G-Genos? Kau demam? A-apa karena permintaanku membuatmu tidak nyaman sampai kau sakit? EH- apa kau bisa sakit?!" tanyaku khawatir.

Dia menggelengkan kepala lembut. Membuka bibirnya perlahan. "Aku… tidak tahu kenapa. Tapi tubuhku menghangat saat aku mendengar permintaanmu, guru."

Aku tertegun. "Aku tidak tahu sistem apa yang berjalan di tubuhku saat ini. aku tidak merasa kesal, atau keberatan. Tapi yang kurasakan, aku semakin hangat. Dan rasanya, sungguh… tidak bisa dideskripsikan. Jantungku berdegup lebih kencang… tapi lebih lembut dan rasanya tenang. Aku tidak paham ini apa, guru. Maafkan jika reaksiku membuatmu khawatir…"

Dia menjawabnya dengan nada rendah yang halus. Membuatku terdiam sesaat mendengar deskripsi tentang apa yang dia rasakan saat ini.

Terdiam, lalu tersenyum kemudian. "Gu…ru?"

"Ah, maaf."

"… apa… reaksiku… lucu?"

"Ah! Bukan, bukan! Bukan lucu- yah- memang lucu sih."

Aku melihat lagi wajahnya. Ada garis senyum yang muncul dari sudut bibirnya. "Entahlah. Aku tidak tahu kenapa aku merasa senang mendengarnya."

"…mendengarku lucu, guru?"

Aku tidak terlalu paham sistem yang dipakai oleh cyborg ini. Yang jelas, deskripsi reaksi yang dia rasakan, saat aku mendengarnya, jantungku juga berletup-letup pelan. "Sepertinya aku merasakan hal yang sama."

"Eh… guru, kau memakai mesin di dalam tubuhmu? Ternyata kau juga cyborg?"

"Bu-bukan! Bukan itu!"

Aku mendekapnya. "Begini maksudku, lho." Aku lebih pendek dari Genos. Barangkali sekitar lima atau tujuh senti. Sehingga saat aku mendekapnya, wajahku tepat bersandar di lehernya. Wajahku menghangat. Entah karena aku terkena hawa tubuh Genos, atau memang wajahku. Atau memang, semakin lama, Genos semakin hangat di dekapanku. "G-g-gu...ru…?" aku mendengar suaranya terbata. Meskipun dia cyborg, ternyata aku masih bisa mendengar suara jantungnya. Semakin kencang, rupanya. Namun begitu juga dengan jantungku. "Hei, Genos. Kau dengar suara jantungku? Dan jantungmu? Kurasa saat ini mereka sedang berduet." Kataku sambil tertawa kecil.

Memang.

"Maksudku, yang kau rasakan tadi-sekarang, juga kurasakan. Jantungku berdegup kencang. Tapi, aku senang. Ini perasaan yang aneh rupanya, ya, kan?"

Aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku. Pada kami. Genos yang terdiam itu kemudian membalas dekapanku dengan tangannya. "Gu…ru… maaf… aku membuatmu merasa aneh."

"Hei, hei, tidak apa. Kau ini selalu menganggap serius bermacam hal. Aku bukannya sakit, tahu."

"Iya, guru. Maafkan aku."

"Duh, sekali lagi kau minta maaf, aku akan-"

"Maaf, guru-"

"Ya ampun, hentikan!"

Aku melepaskan sedikit dekapanku. Lalu menarik dagunya perlahan. Waktu terasa berhenti. Aku bahkan tidak tahu aku punya kemampuan tambahan untuk memperlambat laju waktu, ketika debaran jantungku secepat ini. Entah sejak kapan tubuhku bereaksi sendiri akan kata-kata cyborg itu. Tanganku yang bersigap untuk menangkap wajahnya, mendekatiku.

Lalu aku menyentuhkan bibirku dengan bibirnya, perlahan. Jika tidak, aku bisa saja mendorongnya sampai merusak dinding dapur, kurasa.

Hening, dan hening.

Aku telah mengecup bibir cyborg di hadapanku ini. aku merasakan bahwa sebagaimanapun dia memiliki tubuh buatan, aku tetap merasakan riwayat tubuhnya sebagai manusia. Bibirnya lembut, seakan rapuh. Tersadar aku telah melakukan perbuatan… yang bahkan cukup membuatku terkaget sendiri, sambil menahan napas dan malu, aku melepaskan kecupanku. "Li-lihat kan! Kalau kau tidak berhenti bilang 'maaf', ini yang bisa kulakukan!" kataku panik. Saat kulihat lagi wajahnya, kuharap Genos tidak menunjukkan wajah yang menandakan bahwa dia membenciku. Tunggu, sejak kapan aku peduli kalau Genos membenciku atau tidak? Padahal sejak awal kedatangannya, aku merasa dia merepotkan. Cyborg yang tidak pernah puas, selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Ketika aku bertarung. Ketika aku tidak bertarung. Saat aku bekerja maupun tidak. Cyborg di hadapanku selalu mengikutiku kemanapun aku pergi.

Termasuk saat orang-orang bodoh yang berkata bahwa aku telah menghancurkan kota dengan pecahan meteor sialan. Atau saat aku menghapuskan hujan dari raja ikan dengan satu pukulan, dan mereka berkata aku hanyalah sok pahlawan. Dia tetap di sampingku.

Mungkin karena itulah, keberadaannya menjadi hal yang biasa untukku. Mungkin karena itulah, dalam diriku muncul perasaan takut kehilangan. "Genos? Oi?"

"Gu…ru…"

Waku melihat wajahnya yang semakin merona. "Guru… aku…" dia menutup bibirnya dengan kedua tangannya. "Wha- maaf, Genos! Aku tidak sengaja (?!), sungguh! Kalau kau begitu membencinya, tolong katakan! Aku tidak akan melakukannya lagi!" kataku lebih panik lagi.

"Ti-tidak, guru! Aku…"

Dia menangkap ujung bajuku, dengan ragu, atau malu. "Aku… menyukainya."

"…Eh?"

"Jika… kau berkenan. Kau… boleh melakukannya lagi, guru."

"… EH?!"

Tidak pernah kuduga seorang cyborg akan bereaksi sedemikian rupa. Aku kembali tersenyum. "Pfft… Genos." Jawabku lagi.

Aku kembali mengecupnya sedikit. "Jadi, mulai sekarang, kau tidur denganku, oke?"

"Baik, guru." Jawabnya pelan, dengan senyum yang mekar di bibirnya.

Aku mengusap kepalanya lembut. Cyborg ini-ah, bukan. Aku harus menyebutnya dengan namanya. Hanya dirinya. Dia bukan cyborg lagi. dia hanyalah Genos.

.

.

.

.

.

"GENOS!" Saitama berteriak dari ujung blok. "GENOS, BERHENTI!"

Saitama berlari secepatnya. Genos rupanya telah mengacaukan kota sejauh dia pergi. Saitama menyesal datang terlambat seperti biasanya. Hal itu dikarenakan Saitama harus berurusan dengan para pahlawan lainnya. Para pahlawan berusaha membunuh Genos dikarenakan akibat dari perbuatannya. Genos mengamuk dan menghancurkan kota. Membakar apa yang ada di hadapannya. Bahkan menurut statistic, Genos adalah 'musuh' pertama yang menjatuhkan lebih banyak korban jiwa dibanding musuh-musuh sebelumnya. saitama berusaha menahan setiap pahlawan yang berusaha melukai Genos. Alhasil, yang terjadi dia harus memikirkan cara menumbangkan para pahlawan, tanpa membunuh mereka, sementara juga harus melindungi warga kota, karena Genos tak pernah berhenti bergerak. Saitama tidak tahu mengapa Genos menjadi cyborg gila.

Seharusnya, dengan mudah Saitama dapat mengalahkan Genos, bahkan dengan sekali pukulan.

Tapi masalahnya: Genos bukanlah musuh baginya.

Pikiran keraguan itu membuat kabut di dalam pikirannya. Sudah berkali-kali pahlawan yang datang menghadapinya, mendorongnya untuk menghabisi Genos. Genos saat ini bukanlah dirinya. Genos adalah musuh. Genos harus dimusnahkan.

Namun Saitama hanya bisa memutar memorinya tentang Genos selama ini. dan dia tidak bisa melakukannya. Saitama hanya bisa yakin untuk memisahkan Genos 'yang asli' dari tubuh cyborgnya yang gila.

"SAITAMA! APA YANG KAU LAKUKAN!" teriak Bang. "Kau tidak bisa membiarkannya lebih jauh! Sudah banyak orang yang terluka disini, kau lihat! Bahkan pahlawan saja kau pukul mundur, sadarlah! Genos bukanlah Genos lagi!"

"BERISIK, DASAR TUA BANGKA!" amuknya.

"BETAPAPUN KAU MELIHATNYA SEBAGAI GENOS YANG BIASANYA, DIA SUDAH MENJADI ANCAMAN LEVEL DEWA! SADAR, DASAR BOTAK!" jerit Tatsumaki di langit. Tatsumaki beranjak dari permukaan tanah, mencegah Saitama menyentuhnya, jika Tatsumaki berani melayangkan bongkahan batu atau menggepengkan Genos dengan kekuatannya. Tatsumaki saat inipun sedang terluka cukup parah, dikarenakan harus melawan Saitama saat dia berusaha menghimpit Genos dengan dua gedung. "DIAMLAH! KAU TIDAK MENGERTI!"

Saitama dalam keadaan terjepit. "Aku tidak peduli jika aku harus kehilangan status kepahlawananku lagi!" katanya sambil bergegas.

Genos.

Genos.

Genos.

"Kau tetaplah Genos yang kukenal, sialan!" gumamnya.

Setelah beberapa saat berdebat tentang cyborg gila yang ada di hadapannya, dia memutuskan untuk menghadapinya sendiri. dia melaju secepat mungkin, hingga kemudian, dia berada di hadapan Genos.

"GENOS, INI AKU, SAITAMA!"

Genos tidak berhenti. Bahkan saat ini, Genos meraung-raung gila. Tubuhnya yang bermutasi dengan mesin, membuatnya lebih tinggi dan kokoh, serta setiap langkahnya dapat menjebol jalanan beton. "Genos, berhenti! Kau menghancurkan rumah kita, tahu!"

Genos tidak mampu menjawab. Saat genos mulai melangkah lagi, lebih cepat, Saitama menghentikannya dengan satu tangan. "Kau… APA KAU BERUSAHA MEMBANGKANG DARI GURUMU, HAH?!"

Guru, katanya.

Genos, berada di dalam tubuh yang mengamuk itu, membuka matanya lagi. Sekitarnya begitu merah. "GENOS, JIKA KAU TIDAK BERHENTI SEKARANG, KAU AKAN MEREPOTKANKU, DAN AKU AKAN MENGUSIRMU DARI RUMAH KITA!"

Suara itu memanggil Genos.

"GENOS, SADAR DAN KELUARLAH DARI TUBUH JELEK INI! INI PERINTAH! KAU TIDAK PERLU MEMBALASKAN DENDAMMU LAGI, KAU MEREPOTKAN!"

Sesaat, cyborg itu seperti tersengat listrik. Tubuhnya terkejang pelan, lalu kembali berjalan. Satu tangan Saitama bahkan ternyata tidak cukup kuat menahannya. "GENOS!"

.

.

.

"Rumah…kita…"

"Rumah… kami…"

"Kami…"

"Guru… Sai…tama…"