== BL == BL == BL ==

Contains: fanmade plot twist! Twist tidak berkaitan dengan serial aslinya, merupakan reimajinasi dari penulis.

Pairing: Saitama x Genos [One Punch Man; keseluruhan esensi serial milik ONE/Yuusuke Murata]

Genre: Angst / Tragedy / Romance

Rating: TBA/under development

Sudah lama tidak menulis fic, mohon kritik dan saran happy reading! Maaf atas segala kekurangan dan typo serta autocorrect!

*) akhirnya UAS selesai ;w;/ terima kasih sudah menunggu guys! Review, fave atau follow membuatku senang Q/Q) enjoy the new chapter ya… (PS: part 3 / X, X artinya aku tidak begitu yakin bakalan berapa chapter… so kalau belum angka kembar ex 5/5, 6/6 dst, artinya masih to be continued ya :"D)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Vermillion Lullaby [Part 3 / X]

Guru, guru Saitama.

Kau bercanda soal rahasia kekuatanmu, bukan? Aku tahu. Tidak mungkin kau menjadi sekuat itu hanya dengan latihan sesederhana seratus kali push up, sit up, jump squat, dan sepuluh kilometer berlari setiap hari, selama tiga tahun. Aku yakin di balik kekuatanmu, ada rahasia yang mengagumkan. Mungkin rahasia negara ini untuk menjaga perdamaian bumi? Entahlah. Rahasia kekuatanmu selalu membuatku menerka-nerka. Apa yang kau lakukan agar benar-benar sekuat itu. Oleh karenanya, aku mengikutimu setiap saat. Aku mencatat yang aku perlukan. Caramu berjalan, berlari, duduk, makan, hingga tidur. Aku menatapmu sepanjang waktu. Dari kau terbangun di pukul delapan pagi, hingga terlelap pukul satu malam. Tidur yang cukup selama tujuh jam mungkin rahasiamu juga?

Aku memandangmu di setiap waktuku, sepanjang aku berada di sampingmu, maupun saat aku memiliki jarak denganmu pun, aku akan selalu mencarimu.

"AKU MELAKUKAN TUGAS PAHLAWAN INI KARENA AKU MAU! BUKAN KARENA AKU INGIN DIELU-ELUKAN KARENA ITU!"

Bentakmu, di hari itu. Kau berdiri tegap di tengah keramaian warga, di kondisi kota yang hancur berantakan karena pecahan meteor yang kau hancurkan. Warga yang marah, menyalahkannya atas perbuatannya: menghancurkan meteor raksasa, yang jika tidak dia hancurkan saat itu, yang terjadi adalah kiamat di muka bumi ini. tapi mereka tidah mau tahu. Mereka kehilangan rumah dan harta benda mereka, menjadikan mereka lupa apa yang telah sebenarnya guru selamatkan dari mereka: nyawa. Maka mereka, ditambah lagi dengan tindakan dua pahlawan-ah-sok pahlawan yang memanas-manasi mereka, menyalahkan guru. Seakan-akan, guru telah merenggut kehidupan mereka.

Ini salah. Ini salah. Mereka harusnya berterimakasih.

Tapi di sana, guru. Kau tidak gentar.

Kau menyerukan alasanmu menjadi pahlawan. Karena kau ingin. Karena kau mau. Kau melakukannya dengan suatu alasan yang tulus. Berbeda denganku yang menjadi pahlawan sebagai sebuah cara membalas dendam. Maka aku percaya, salah satu yang membuatmu kuat, adalah apa yang kau yakini dari dalam dirimu.

"SIAPA YANG MAU PROTES?! AYO MAJU KESINI!"

Jantungku meletup lembut.

Suaranya terdengar berani. Namun aku telah tinggal bersamanya selama beberapa waktu ini. aku meyakini telingaku, yang mendeteksi ada yang berbeda dari suara itu. Berbeda dari bagaimana dia selama ini berbicara lantang, aku menangkap adanya getaran dalam suara itu. Getaran yang sangat kecil, bahkan mungkin tidak dapat manusia biasa sadari.

Guru, kau sebenarnya terluka.

Aku mengetahuinya. Kau, bagaimanapun juga adalah manusia. Sebagaimanapun kau berusaha untuk tidak peduli, kau tetaplah merasa terluka ketika tidak dihargai. Meskipun tubuhmu menutupinya. Dan aku sesungguhnya tahu. Oleh karenanya, aku menghampirinya. "Guru… ayo kita pulang."

Senja itu, sepanjang perjalanan pulang, aku menatap punggung guru yang luas di balik jubah pahlawannya. Dia telah menjadi pahlawan sesungguhnya. Untukku, itu cukup. Selama aku berjalan di belakangnya, jantungku tetap berdebar halus, sejalan dengan aku mengikuti langkah guru. Saat itulah aku memutuskan, aku tidak akan meninggalkan guru.

Aku akan terus mengikutimu.

Aku berjanji pada diriku.

.

.

.

Saat ini, aku merasa berada di ujung tanduk. Atau… apapun rasanya. Sudah jam tiga pagi, dan aku belum bisa menutup mataku dengan benar, merilekskan tubuhku dan beristirahat. Aku memejamkan mataku terlalu kuat, tubuhku masih kaku, dan aku masih terjaga. Aku membuka mataku lagi dan menatap langit-langit dengan mataku yang berpendar pelan. Aku tidak bisa tidur.

Aku tidak bisa tidur dengan suara jantungku yang semakin kuat. Ini adalah kali pertamanya aku terjaga dalam posisi tidur, tidak pula sedang mengobservasi guruku yang biasanya terlelap pulas.

Karena aku sedang (berusaha) tidur di dampingnya.

Aku bertanya-tanya kenapa jantungku terus menerus berdegup seakan-akan aku sedang latihan. Apakah guru mengetahui ini dan memintaku untuk tidur dengannya adalah karena ini juga? Bagaimanapun, tetap saja, apapun alasannya, aku tidak bisa tidur. Meskipun aku biasanya terjaga semalam sekalipun, aku harus tidur. Sederhana alasannya: guru memintaku beristirahat dan tidak melakukan apapun selain tidur jika aku dan dia telah dibalut selimut. Hal itu membuat aku tidak mungkin bangkit dan melakukan observasiku seperti biasanya. Dan ini menggangguku.

Sejak kapan aku selalu berdebar seperti ini? entahlah. Aku mencoba memanggil kembali memori sejak kapan aku seperti ini. namun yang ada di dalam memoriku hanya ada jalan ceritaku selama ini bersama guru. Rutinitas pagi hari, siang hari, malam hari. Aku menjalaninya beberapa waktu ini dengan manusia yang sedang mendengkur di sampingku. Dan bukannya menemukan jawabannya, tubuhku malah menjadi lebih panas, dan aku semakin tidak bisa tidur.

"Nyam… sa…wi…hngg…"

Seperti biasanyapun, guru selalu mengigau beberapa kali.

"Hmmmm semur… dagh—eeengggg… dissskooo—nnn…nyam-"

Sepertinya malam ini, guru memimpikan semur daging. Mungkin aku bisa membuatkannya untuk makan malam. Gumamku pelan.

Aku kemudian memiringkan tubuhku. Menatap wajahnya saat tidur. Dia tidur terlentang, membuatnya sering mendengkur. Sepertinya, meskipun hari ini dia tidak menghadapi musuh yang kuat – tentu saja karena dia sangat kuat -, hari ini juga cukup melelahkan baginya. aku merasa tidak enak karena makan malam tadi, aku hanya memasak Tamagoyaki, ikan panggang dan sup konbu biasa, hingga dia bermimpi makan malam yang lebih lezat. Mengesampingkan pikiranku untuk ide makan malam, menatap wajah guru saat tidur dalam jarak sedekat ini merupakan hal yang baru untukku. Selama ini aku hanya bisa menatap wajahnya yang terjaga. Penuh dengan kekuatan. Saat ini jika aku menatap wajahnya yang sedang tidur, dia kembali terlihat seperti manusia biasa yang kelelahan. Aku tersenyum melihatnya. Entah kenapa. Rasanya aku juga ingin sepertinya. Tidur dengan pulas selayaknya manusia yang telah bekerja seharian.

Tapi sayangnya aku hanyalah cyborg. Aku memang bisa tidur, tapi tidak bisa sepulas itu. Profesor Kuseno kuminta untuk memasangkan sejenis sensor yang tetap bekerja mendeteksi musuh di sekitarku meski aku dalam keadaan beristirahat. Artinya, aku tidak pernah benar-benar terlelap. Dan, perlu diketahui juga, sekali lagi, aku saat ini tidak bisa tidur karena jantungku yang masih saja berdegup kencang. Bahkan lebih kencang lagi setelah aku menatap wajah guru saat ini. semakin kencang, hingga rasanya suara itu semakin mirip dengan dentuman King. Aku agak panik. Aku takut akan membangunkan guruku.

"Hmmh… Genos…? Suara apa itu… King disini?"

Oh tidak, aku telah membangunkan guru. "A-ah— ti-tidak guru! Kembalilah tidur—"

"Ya aku tidak bisa tidur kalau suaranya berisik begini… suara apa ini?" katanya dengan mata setengah terbuka, menguap, dan mengusap matanya. "Kau tidak tidur—hoaaahhhmmm—Genos?" tanyanya. "A-ah, aku berusaha tidur, guru! Jangan khawatir, perintahmu akan kulaksanakan—" jawabku panik. Sial, aku telah melanggar perintah guru, batinku. Guru menyuruhku untuk tidur, tapi aku sama sekali tidak mematuhinya.

"Hmm…? Kau tidak bisa tidur? Kenapa?" balas guru sambil-

Memiringkan tubuhnya, ke arahku.

Membuat jarak wajahnya sangat dekat denganku. Bahkan mungkin hanya sekitar sepuluh senti. Sangat dekat. Aku bahkan bisa melihat bulu matanya yang pendek dan halus dari jarak sedekat ini-ah bukan, jantungku semakin berdegup kencang. Aku yakin, suara itu akan menjadi semakin nya—

"Eh? Itu suara darimu, toh, Genos?"

—ring.

"wah, aku tidak pernah tahu suara jantungmu bisa sekencang itu juga, hampir-hampir bisa mendekati King, tapi tetap saja King lebih berisik dari ini sih— ini kenapa lagi? Jantungmu tidak bisa dipelankan suaranya?"

"Ah maaf— guru." Aku bingung bagaimana caranya. Andaikan aku tahu. "Aku—juga tidak tahu caranya— jantungku…"

Sejenak terjadi hening di antara aku dan guru. "Ah… jantungmu… manusia ya." Kata-kata guru memecah hening. "Eh— iya, guru. Ini adalah salah satu dari sedikit bagian dari manusia yang dipertahankan dariku." Kataku sambil menyentuh dadaku. Dilapis metal, dan dapat berpendar. "Aku tidak yakin jika hanya dengan jantung saja bisa dikatakan manusia—"

"Ah, kau benar-benar hanyalah Genos." Jawab guru, memotong kata-kataku. Sejenak aku mengedipkan mataku, tangan guru telah menyentuh dadaku dengan lembut. "Meski dilapis dengan metal, kau tetap saja seperti manusia. Jantungmu berdegup, seperti manusia."

Belum selesai aku terpaku karena sentuhan guru, aku lebih dikejutkan lagi ketika dia melingkarkan tangannya pada tubuhku. Membuat tubuhku tertarik padanya, dan akhirnya membuat wajahku terbenam di dadanya. "G-g-guru—-" lagi-lagi, guru berbuat sesuatu yang tidak bisa kuprediksikan. Baru saja beberapa jam yang lalu dia mengecupku—

Mengecupku.

Mengingatnya saja membuatku seperti mengalami kerusakan sistem.

"Iya, iya. Aku paham. Aku tidak bisa membuat jantung seorang manusia berhenti untuk berisik. Namanya aku menyuruhmu mati. Dan aku tidak mau itu." Katanya tenang. "Mungkin kau berdebar karena pertama kali tidur dengan orang lain? Hahaha—"

Mungkin benar?

Aku berdebar karena tidur dengan orang lain?

"Atau karena aku?" celetuknya lagi.

Atau karena guru, sedekat ini, adalah salah satu jawaban terlogis yang bisa kudapatkan saat ini. aku ingat betapa seringnya jantungku meletup ketika kau berada di dekatku, guru. Dan saat ini, jarakmu dan aku hampir tidak ada. Hanya satu hembusan napas saja, bahkan kurang. Aku sudah dapat merasakan hangat tubuhmu dibalut piyama motif garismu ini. aku bisa merasakan bibir tipismu menyentuh rambutku. Aku bisa merasakan tanganmu mengusap punggungku perlahan. Aku bahkan bisa membalasnya dengan kedipan mataku, ketika bulu mataku bersentuhan dengan tulang selangkamu. Kau begitu dekat. Begitu hangat. Aku kemudian membalas dekapanmu dengan tanganku lagi. "Jantungku bekerja terpisah dengan pembuluh darah buatan, sehingga ketika tubuhku tercecer sekalipun, aku masih bisa hidup asalkan aku masih tersambung dengan inti tubuhku—yang mana ada di dalam kepalaku, sebagaimana professor Kuseno katakana padaku. Aku kurang paham juga, guru. Oleh karenanya, aku masih bingung apa yang menyebabkan jantungku berdegup sekencang ini… tapi, kurasa ini karena…"

Aku meneguk ludahku. "Memang karena aku berada sedekat ini denganmu…"

Tangan guru menangkap pergelangan tanganku yang mendekapnya. Mendorongnya ke samping tubuhku, dengan kekuatannya — yang mana sangat ringan baginya, mungkin— dan membuatku kembali terlentang, dengan posisi menghadap langit-langit—ah tidak. Aku menatap guru Saitama di hadapanku. Dia sedang berada di atasku. "G-guru—-Saitama—ke-kenapa? A-apa aku tadi membuatmu tidak nyaman—"

"Ya, kau membuatku tidak nyaman." Jawabnya cepat.

Aku langsung merasa tidak enak. "M-maaf jika aku membuatmu tidak nyaman dengan suara jantungku dan tanganku tadi—" "KAU MEMBUATKU TIDAK NYAMAN KARENA KAU MENDADAK BERTINGKAH—"

"…? Bertingkah?"

"…bertingkah… ma-manis—"

"…?! M-ma-man—is…?"

"Kau tidak bisa berhenti membuatku terkejut dengan reaksimu yang aneh-aneh? Sebenarnya apa yang professor itu taruh di dalammu?!"

"A-apa maksudmu—guru— aku tidak-"

"Sialan, tahu!" katanya sambil menggenggam kedua pergelangan tanganku lebih kencang, namun sepertinya guru menahan kekuatannya agar tidak merusak tanganku. Wajahnya tertunduk dalam, napasnya terdengar lebih berat. "G-guru—kau kesal padaku? Kau marah padaku?" aku khawatir. "Aku minta maaf—"

Dia mengangkat wajahnya padaku, dan menatapku lurus dengan mata yang lebih sayu. "Aku tidak kuat lagi untuk menyentuhmu, tahu." Jawabnya. Aku melihat wajahnya yang merah dengan pendaran mataku. Meski gelap sekalipun, aku bisa melihat wajahnya dengan penglihatan malamku. Dan sebagaimana dia menggenggam kedua tanganku, aku bisa merasakan suhu tubuhnya yang meningkat. "Kau— kau ini— aku menyesal mengajakmu tidur bersamaku. Tadinya kupikirdengan kau tidur bersamaku, kau akan berhenti mengobservasiku dengan memotretku yang aneh-aneh—"

Ah, ternyata begitu. Guru ternyata tidak nyaman dengan tindakan observasiku. Aku ingin berkata 'Kalau begitu, guru bisa memintaku berhenti', namun baru saja mulutku terbuka untuk berkata,

Dia telah menyentuhkan bibirnya pada bibirku. Itu terjadi begitu cepat. Aku bahkan tidak pernah menyangkanya lagi. "Hh-hnn—"

Guru menciumku dengan cara yang berbeda dari beberapa jam yang lalu. Aku merasakan adanya tekanan yang lebih kuat, membuat napasku terburu. Aku menutup mataku terkejut, aku tidak sempat lagi melihat wajah guruku. Beberapa detik, guru melepaskan sentuhan bibirnya padaku. Hal itu terjadi hanya beberapa saat, tapi aku merasa napasku seperti tertahan di penghujung pernapasanku. Aku mencari oksigen secepat yang aku bisa. Dan membuka mataku.

Wajah guru begitu merah. Alisnya mengkerut, matanya menatap tajam padaku.

"Aku akan melakukan ini lagi jika kau tidak bisa berhenti bertingkah seperti itu- entah kau mau atau tidak, aku akan menciummu lagi kalau kau membuatku berdebar aneh seperti tadi."

Aku terdiam. Dia mengangkat genggaman tangan kanannya, dan pindah ke pipiku. "Ini namanya, aku ingin memilikimu, Genos."

"Guru…"

"Sialan."

"Apa itu artinya aku akan berada di sampingmu?"

"E—eh…"
"Apa itu artinya apapun yang terjadi aku boleh berada di sampingmu?"

"Genos—"
"Apa itu artinya aku boleh berdegup kencang lagi, sehingga kau bisa terus menciumku, dan membuatku milikmu, guru?"

Aku tidak tahu apa yang menabrak sistemku, membuat kata-kata memalukan itu terlontar begitu saja dari bibirku, dengan napasku yang semakin tercekat. Tapi aku tidak peduli soal itu. Mungkin itulah yang sejak awal ingin kukatakan. "…Kukabulkan, Genos."

"Akan kukabulkan setiap degupanmu."

.

.

.

.

.

"Gu—ru—"

Cyborg itu mulai berkata-kata, memanggil sosok berjubah di hadapannya dengan kata-kata yang lebih familiar. "OH! GENOS!" jawab laki-laki itu. "Syukurlah! Kau bisa mendengarku kan? Kau menggila, dan semua orang berusaha membunuhmu! Tapi sekarang kau sudah sadar, ayo keluar sebelum yang lain datang padamu lagi, kau merepotkanku karena aku harus menahan mereka untuk tidak menyerangmu, Genos!"

"Guru—Saitama-"

"Ya, Genos! ini aku!"

Sembari mereka membuka kata-kata, tubuh Genos masih berusaha bergerak maju dengan tubuh metalnya yang terus berusaha merusak sekitarnya, tanpa bisa dia cegah. "Ow-ow- hentikan membuat kekacauan!" perintah Saitama pada muridnya. "A—aku—tidak—tahu—ca…ranya—"

Baru beberapa saat, setiap gir dalam tubuh cyborg itu seakan-akan marah karena inangnya tidak menuruti kemampuan merusak- gird an setiap bagian metal itu berderit, menjepit, memanas, mengeluarkan uap yang panasnya mungkin bisa melepuhkan kulit manusia biasa. Dan Genos di dalamnya. "GHAAAAAAAAAAA-KKKKKKKHHH!" jeritnya.

Setiap bagian tubuhnya yang tersambung dengan metal itu seperti menggerogotinya jika tidak berusaha menuruti kemauan mesin itu- menghancurkan segala sesuatu yang berada di depannya. Suara aneh, kencang, mengerikan. "GRRRRHHK-GHHHK-AAAAGH!"

"GENOS! KELUARLAH!" Saitama melepaskan tangannya yang menahan laju Genos. Dia saat ini menyadari, semakin ditahan, tubuh Genos yang membungkusnya dari luar ini akan menyiksa Genos di dalamnya. Mau tidak mau, jalan keluarnya adalah melepaskan tubuh metal gila ini dari bagian manusia Genos di dalamnya, sebagaimana rencananya semula. Jika dia tidak bisa membuat Genos keluar karena terperangkap, maka yang bisa dia lakukan adalah menghancurkan perangkapnya. "Sialan! Keluarkan Genos, dasar besi sialan!"

Saitama menguatkan kepalan tangannya sendiri, memecahkan tangan-tangan metal yang tidak bisa diam, membuat cyborg gila di hadapannya tidak lagi mampu menggenggam apapun-dia rasa. Namun bagian tubuhnya yang lain tetap berulah. Mengeluarkan kejut api dan listrik, seperti murka. Tidak hanya itu, bagian metalnya masih bergerak dengan sendirinya meski tidak tersambung dengan tubuh aslinya. "KALIAN BUKAN AMOEBA, DASAR METAL SINTING!"

Saitama kemudian melihat baying Genos di dalam tubuh utama itu. Perlahan dia membukanya dengan sedikit kekuatan. Dia menemukan genos yang sedang berusaha kuat menahan sakit.

Raut wajahnya yang berantakan, dengan napas tercekat, dimana bagian tubuh yang terlihat hanyalah kepala dan torsonya yang sudah mulai tercabik. Kulit manusia yang membungkus wajahnya, sebagian terburam karena luka bakar, sebagian lagi terlihat melepuh, nyaris meleleh, dikaranakan panas luar biasa yang ada di dalamnya.

"Genos! Bertahanlah!"

"Guru—ja-jangan mendekat—"

"Jangan memerintahku, Genos! Aku akan menyelamatkanmu bagaimanapun caranya!"

"Guru—AAAAAGHHHHHK!"

Teriakan Genos membuat Saitama menjadi gugup. Genos mengejang, sepertinya tubuh metaliknya berusaha memerintah sang otak, Genos, untuk bergerak menghancurkan. "HHHK-HAAA-HHH…!" Genos berusaha kuat untuk menahan bagaimana bagian tubuhnya memberontak keinginannya sendiri. Setiap jerit Genos membuat Saitama panik. Apa yang harus dia lakukan? "Genos—jangan membuatku bingung, bodoh— apa yang harus aku lakukan, hah?!" jawabnya.

Saat ini, tubuh cyborg itu masih tidak bisa maju lebih cepat. Sebagaimanapun Genos menderita di dalamnya, cyborg itu tetap bergerak. "Aku akan menghancurkan tubuh sialan ini, kau tidak perlu menjadi kuat lagi, Genos! Aku akan melindungimu!"

Saitama kembali menghancurkan setiap metal yang ada di sekujur tubuh Genos. Namun semakin dia memisahkan metal itu dari tubuh inti Genos, Genos semakin merasakan sakit. "Bertahanlah, Genos! Ini akan semakin sakit, tapi yang penting kau lepas dari tubuh jelek ini dulu!"

Genos berusaha bertahan sebagaimana diperintahkan oleh gurunya saat ini. namun part metalnya masih terus berulah meskipun sudah dihancurkan sedemikian rupa. "SIALAN! KOK MEREKA TIDAK BERHENTI-HENTI SIH?!" teriak Saitama kesal.

.

.

.

Genos memutar memorinya pelan. Semuanya terasa seperti mimpi. Saat ini, matanya buram, karena sebagian telah melebur, sebagian lagi telah diwarnai abu. Buram, dan merah.

Sejauh ini, Saitama masih berusaha memanggil namanya. Terdengar begitu jauh, batin Genos. Jantungnya berdegup lembut lagi. ini pertanda meskipun suara gurunya terasa jauh, sesungguhnya dia berada begitu dekat.

"Guru…"

"Genos— jangan menutup matamu dulu— bangkitlah dan bantu aku menyelamatkan dirimu—"

"Aku… tahu caranya… guru—"

"EH?! SUNGGUH?! Kenapa tidak bilang dari ta—ah sudahlah! Syukurlah jika kau tahu! Beritaku aku segera—cih! Kabel-kabel sialan yang tersambung dengan tubuhmu ini— bagaimana cara melepasnya sih?! Aku dari tadi berusaha melepaskan tubuh aslimu keluar dari sini, tapi kabel-kabel sialan ini membuatku pusing! Akan kubunuh professor sialan itu ketika aku sudah sele—"

"Guru,"

"O-oh iya, bagaimana caranya, tadi?"

Jantung Genos tetap meletup lembut. Saat ini, gurunya berada di hadapannya lagi. mungkin jaraknya sama seperti malam saat pertama kali Genos tidur dengan gurunya, saat pergelangan tangannya digenggam dengan lembut di malam itu. Seakan de javu dengan keadaan yang berbeda, Genos tersenyum tipis. "Jantungku masih berdegup seperti malam itu, guru." Katanya dengan tenang.

"He-hei, ini bukan waktunya untuk—"

Saitama seakan membeku saat melihat senyum tipis yang tersisa dari wajah Genos.

"Guru, hentikanlah jantungku sekarang."

Kata-kata itu membuat Saitama semakin membeku. "A—apa—yang kau katakan—"

"Semua bagian dari metalku terhubung pada inti tubuhku. Inti tubuhku terhubung dengan jantungku. Tubuhku tidak dapat mengontrolnya— bagian metalku memiliki jalan pemikirannya sendiri. kekuatan utamanya tetap ada padaku. Jadi selama aku masih hidup, mereka tidak akan berhenti—dan mereka juga tidak bisa berhenti meleburkan bagian luar tubuhku ini— bagian tubuh biologisku ini—ini adalah satu-satunya cara mereka memaksa inti tubuhku untuk memberikan energy bagi mereka untuk merusak." Jelas Genos dengan napas yang berat. "Sebagaimana kukatakan… inti tubuhku dan jantungku terhubung—ketika kau menghentikan jantungku, semua akan berakhir."

"PENJELASAN MACAM APA ITU! OMONG KOSONG! KAU HANYA BERANALISIS SEENAKNYA! ITU TIDAK MUNGKIN, SADAR BODOH!"

"Guru, ketika jantungku berhenti… aku akan merindukanmu."

Genos seakan-akan menjadi tuli. Sebagaimanapun Saitama membentaknya, menghinanya bodoh untuk menyuruh gurunya sendiri membunuhnya, Genos tetap tersenyum tipis. Telah Menahan segala penyiksaan dari tubuh metalnya—agar tidak membuat Saitama semakin khawatir, dia terus meminta Saitama untuk menghentikan jantungnya. Dan pada titik Saitama terus memakinya, Genos memotongnya. "Guru, kau sangat berharga untukku. Hentikanlah detak jantungku, agar aku bisa tenang… aku tidak akan melukaimu ataupun semua orang."

"…"

"Aku mungkin telah gagal membalaskan dendamku—adalah hal yang bodoh memang, memiliki kekuatan untuk membalas dendam. Aku terlambat menyadarinya. Seharusnya memang aku mengikutimu. Kekuatan ini seharusnya kugunakan dengan setulus hatiku—andaikan aku bisa menjadi manusia sepertimu—tapi saat ini cukup…"

"…"

"Tolong, guru. Ini adalah permintaan terakhirku."

"Kau—tidak pernah berhenti—membuatku repot, bukan…?"

"… Aku berjanji ini adalah yang terakhir, guru."

"Bagaimana dengan janjimu untuk terus mengikutiku?"

"…"

Saitama menyentuhkan tangannya ke dada Genos yang berpendar dan panas membara. Seperti malam itu, lagi-lagi de javu. "Kau sakit?" Tanya Saitama.

"… ya, guru. Bagian metal itu saat ini terus berusaha menggerogotiku. Tapi tak apa."

"…"

"Aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk terus mengikutimu. Tapi aku yakin akan datang padamu nantinya, murid yang jauh lebih berguna dariku."

"KAU TIDAK PERNAH MENGERTI!" teriak Saitama. "AKU MENCINTAIMU, BODOH!"

Genos menghentikan senyumnya. "INI KARENA—KARENA KAU SAKIT. AKU AKAN MENGABULKANNYA— INI HANYA KARENA KAU SAKIT— KARENA KAU TERSIKSA—"

Suara gurunya kembali bergetar. Sama seperti siang itu pun, suara yang bergetar: guru sedang terluka. "AKU TIDAK AKAN MENCARI MURID LAGI— ITU MEREPOTKAN—DAN AKU TIDAK PERNAH INGIN, TIDAK PERNAH SEKALIPUN, MEMILIKI YANG LAIN SELAIN DIRIMU— DAN AKU TIDAK MENGANGGAP KEHADIRANMU BERGUNA ATAU TIDAK—KAU BERADA DI SAMPINGKU, ITU SUDAH CUKUP BUATKU, DASAR SIALAN!"

"Guru—"

"Aku… akan… melakukannya…"

Dari sudut mata laki-laki berjubah itu, turun air mata. "Karena aku tidak ingin kau menderita seperti ini…"

Tangannya berada di dada Genos, terasa bergetar. "Guru… terima kasih." Jawab Genos.

"Andaikan aku punya tangan, aku ingin mendekapmu sekali lagi."

"…"

"Aku mencintaimu, guru Saitama."

.

.

.

.

.

Api telah padam.

Dan di ujung kota itu, seorang laki-laki mendekap sesuatu di dadanya. Sebuah wajah terlelap yang indah. Berambut keemasan, yang akhirnya tertidur dengan tenang.