== BL == BL == BL ==

Contains: fanmade plot twist! Twist tidak berkaitan dengan serial aslinya, merupakan reimajinasi dari penulis.

Pairing: Saitama x Genos [One Punch Man; keseluruhan esensi serial milik ONE/Yuusuke Murata]

Genre: Angst / Tragedy / Romance

Rating: TBA/under development

Sudah lama tidak menulis fic, mohon kritik dan saran happy reading! Maaf atas segala kekurangan dan typo serta autocorrect!

*) I'll try my best for picturing these stuffs - ; w ; )/ thanks for waiting!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Vermillion Lullaby [Part 4 / X]

Aku bahkan tidak ingin mengingat lagi apa-apa tentangmu.

Karena kau adalah kelemahanku. Kurasa begitu.

Kau tahu, aku hampir tidak pernah terluka. Dengan segala keanehan logika yang pernah terjadi, hanya sekali aku tergores pisau saat memotong bawang putih. Ya, logika yang aneh. Aku tidak seharusnya dapat terluka karena goresan kecil bahkan dari tanganku sendiri. itu sengaja kulakukan agar aku sesekali lebih dekat padaku.

Kau cyborg yang lugu.

Dan aku mencintaimu. Dimana aku tak paham alasannya mengapa, sejak kapan, bagaimana. Di titik ini aku mirip sepertimu. Aku tak paham diriku sendiri.

Tapi aku paham betapa aku terluka saat kini,

Kau

Tak ada lagi.

.

.

.

.

.

Dia menghilang beberapa hari ini. lagi-lagi ulahnya yang memusnahkan musuh level dewa membuatnya naik peringkat. Tak dapat dipungkiri, saat ini dia seharusnya sudah menjadi pahlawan kelas S, jika saja dia datang ke markas utama Asosiasi Pahlawan untuk mengkonfirmasinya.

Setelah mengalahkan 'mantan' pahlawan kelas S yang mengamuk di hari itu.

"Kenapa kalian harus mencari si botak bodoh yang melukai kami, sih? Dia tidak berguna! Masa' untuk mengalahkan musuh kecil seperti itu masih pakai perasaan sampai0sampai harus mencegah kami melakukannya? Itu namanya egois kan! Usir saja dia dari Asosiasi Pahlawan! Huh!" Tatsumaki baru saja memaki-maki staff Asosiasi Pahlawan yang mencari-cari Saitama selama satu minggu ini. dan hasilnya nihil, meskipun mereka mengerahkan segala cara. Membuat Tatsumaki jengkel, karena pertama kalinya Asosiasi Pahlawan begitu ngotot mencari pahlawan yang menghilang. "Dia bahkan tak sekuat itu!" jawab Tatsumaki lagi.

Pada kenyataannya, Tatsumaki, pemegang pahlawan ranking 2 kelas S, melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Saitama nyaris membunuhnya jika Tatsumaki tidak melayangkan dirinya ke udara saat dirinya mencoba menghancurkan Genos. Kadang mengingatnya membuatnya sedikit gentar, tapi sedikit keras kepala, tidak akan membuat siapapun tahu.

Tapi memang, menghilangnya sang pahlawan membuat banyak orang bertanya-tanya.

Sementara itu, sang pahlawan sedang malakukan pencarian.

Satu tujuan: professor Kuseno. Dia yang menciptakan Genos. Dia yang memperbaiki Genos.

… dia yang juga merusak Genos.

Oleh karenanya dapat disimpulkan: dia dapat memperbaiki Genos kembali.

Jikalaupun jawabannya tidak, maka yang bisa professor itu dapatkan sudah jelas: tidak perlu lagi hidup di dunia ini.

.

.

.

"Kuseno."

"Ah, Saitama. Ada apa kau kemari? Bagaimana kau bisa menemukanku di tempat persembunyian rahasiaku ini? Kali pertama ada orang yang mampu kesini. Ke dalam sini, di bawah tanah. Bahkan Genos pun tak pernah-"

"Tak perlu banyak basa-basi. Kau telah membuat Genos menderita. Perbaiki dia sekarang, atau kau tahu jawabannya; kau tidak akan pernah membuat apapun lagi sepanjang sisa hidupmu."

"…"

Professor tersebut membalikkan punggungnya dengan tenang. "Apa masalahmu?" tanyanya tenang sambil mengambil kembali cangkir kopi hangat yang tadi ditaruhnya, karena kehadiran Saitama yang begitu mendadak. "Genos, dia… hanyalah bagian kecil dari hidupmu. Bahkan aku bisa membuat Genos yang baru dari manusia baru. Tapi ternyata terlalu beresiko membuat cyborg penghancur yang memiliki inti tubuh manusia. Begitu rapuh, sungguh merupakan kegagalan desainku yang luar biasa-"

"KAU MASIH MAU MEMBUAT CYBORG GILA LAGI?!" kata-kata Kuseno membuatnya mulai naik pitam. "APA TUJUANMU?!"

"Sederhana. Mengetes sejauh mana kemampuanku mengendalikan dunia dengan tanganku."

Kuseno tertawa kecil. "Impian masa lalu yang ingin kuwujudkan. Dan sesungguhnya aku membantu Genos untuk mencapai tujuannya juga, bukan? Apa yang salah dari itu? –Oh, salahnya adalah dia terlalu lemah untuk segala usahaku."

Saitama tidak kuat lagi untuk melayangkang pukulan serius ke kepala professor gila itu. Professor sinting, sialan, dan apapun itu, makian yang dapat kau pikirkan. Dia maju dengan langkah pelan yang penuh amarah. Rasanya mungkin akan lebih lega jika dia melihat ruangan ini bersimbah darah seseorang. "Meskipun begitu, nyatanya aku telah menemukan manusia terkuat di muka bumi ini."

Saitama berhenti melangkah saat professor Kuseno berbalik lagi, dan menghadapinya dengan hampir tak ada raut ketakutan di wajahnya. "Saitama, kau. Dan satu dunia lagi yang belum kutaklukan." Katanya, setelah satu teguk kopi.

"Apa maksudmu?"

"Sejauh ini aku telah melakukan apa yang aku bisa untuk menguasai dunia- kucoba, kucoba menguasai dunia. Dengan kemampuanku. Aku menciptakan cyborg sebagai alat untuk menaklukan umat manusia. Namun setelah sepanjang kegagalanku ini, aku ingin mencoba sesuatu yang baru- meskipun sudah lama aku merencanakannya."

"JANGAN BERTELE-TELE!"

"Aku ingin menguasai waktu."

"…Hah?"

"Aku telah mencoba menciptakan alat yang dapat mencapai singularitas- yang kubutuhkan untuk merombak ruang dan waktu. Dan yang terakhir kubutuhkan, adalah orang sekuatmu, Saitama."

"Dengarkan aku, professor sinting. Aku tidak peduli dengan penelitian anehmu. Silahkan kau berbicara sendiri. urusanku denganmu sekarang hanya tentang Genos!"

"Bagaimana jika kau bertemu dengan Genos sekali lagi?"

Saitama yang tadinya ingin berteriak sekali lagi-jika professor itu masih mengoceh tidak jelas- mendadak berhenti. Otaknya memutuskan untuk mendengarkan omongan professor aneh ini- sekalipun saat ini otak dan hatinya tidak berjalan selaras. Otak Saitama mengirimkan sinyal pada tangannya untuk segera bergerak, memukul orang gila di hadapannya, sementara hatinya membekukan tubuhnya, meneruskannya pada syarafnya untuk membeku. "Bertemu… sekali lagi?"

"Ya."

Lanjutnya, "Aku tidak bisa membetulkan Genos. Kau telah memutuskan inti tubuhnya dengan jantungnya. Ketahuilah hanya itu kelemahan yang kusisakan padanya, dan sangat fatal. Aku hanya menyediakan satu kelemahan yang sangat fatal dank au telah melakukannya. Memang aku yang merusak Genos, tapi kaulah- KAU LAH YANG MEMBUNUHNYA, bukan aku. Aku hanya secara 'kebetulan' menemukan anak itu, dengan motivasi balas dendam yang luar biasa, untuk dijadikan alat. Kalau saja aku menemukanmu terlebih dahulu, Saitama, jelas aku akan lebih memilihmu."

Kata-kata 'membunuh' itu sangat menyakitkan bagi Saitama. Tidakkah orang ini sadar bahwa keadaan Genos yang tersiksa di dalam tubuh metal terkutuk itu- sangat tidak manusiawi, sebagaimana Genos masih memiliki tubuh manusia? Terbakar, melepuh, merasakan sakit... "Apa kau akan membunuhku sekarang? Karena jelas itu tidak akan dapat membangkitkan Genos. Apapun yang kau lakukan di masa kini… tak aka nada artinya. Bunuh aku sekarang dan hiduplah. Namun ketahuilah aku memiliki solusi yang lebih baik- kau bisa membunuhku di masa lalu, dan semuanya akan selesai- kurasa."

"KAU MEMBUATKU PUSING!" bentak Saitama. "JELASKAN APA YANG KAU MAU LAKUKAN DENGANKU-DAN BAGAIMANA CARANYA AKU BERTEMU DENGAN GENOS!"

.

.

.

"Lebih baik lagi, kau dapat menyelamatkannya."

"…"

"Aku telah menciptakan mesin waktu, yang awalnya ingin kugunakan untuk melintasi waktu, mengubah sejarah. Namun perjalanan waktu sangat beresiko bagi tubuh manusia yang punya kekuatan normal… sepertiku. Perjalanan waktu membutuhkan singularitas, yang mana dapat menghilangkan eksistensi materi termasuk waktu dan materi. Sehingga aku butuh orang sekuatmu- materi terkuat di muka bumi. Kau orang yang cocok untuk mengetes penemuan mesin waktuku."

"Ke masa lalu?" Tanya Saitama.

"Sederhananya, kau memiliki tiga pilihan." Jawab professor Kuseno.

"Yang pertama, kau kembali ke masa lalu, dan membunuhku."

Pilihan yang pertama terdengar gila. Meskipun sesungguhnya semua konsep dan teori tentang perjalanan waktu ini sudah cukup gila untuk Saitama. Sesungguhnya dia berusaha tidak peduli. Tapi karena diberi iming menyelamatkan Genos, dia harus memastikan apa yang dia lakukan tidak sia-sia. "Kalau aku membunuhmu di masa lalu, maka seharusnya kau tidak ada saat ini, bukan?"

"Pertanyaan bagus." Jawab professor Kuseno. Dia menghirup aroma kopinya lagi, meneguknya. Menatap cangkirnya. "Resiko yang dapat terjadi jika aku mati di masa lalu adalah, masa depan ini, yang sekarang kau tinggali, tidak berubah. Ini adalah konsep multilinear dalam perjalanan waktu. Apapun yang kau lakukan padaku, tidak akan mengubah masa depan. Sama halnya ketika kau melemparkan batu ke sungai yang mengalir. Kau bisa member percikan di sungai itu, tapi kau tidak bisa menghentikan aliran waktu. Nantinya, kejadian hari itu pasti akan terjadi meski tanpa diriku."

"Kau membuang-buang waktuku," kata Saitama. "Kau hanya berusaha memanfaatkan orang lagi."

"YANG KEDUA," potong professor Kuseno. "Kau bisa membawa Genos di masa lalu, yang masih hidup, ke masa kini. Hidup."

"APA?!"

"Sederhana, bukan?"

"Kenapa tidak bilang dari tadi?!"

"Karena memiliki banyak resiko juga. Segala sesuatu yang menentang hukum alam tidak akan tanpa resiko." Jawab professor Kuseno sambil tersenyum pahit. "Resiko yang terjadi jika kau membawa Genos ke masa depan adalah, Genos bisa saja mati dalam perjalanan waktu ke masa kini. Buatmu, jika kau berhasil menembus ke masa lalu, maka kau telah membuktikan bahwa kau adalah yang terkuat untuk menghadapi singularitas. Tapi bagaimana dengan Genos? Dia bisa saja hancur di perjalananmu kembali."

"… SEMUA CARAMU INI OMONG KOSONG!" jawab Saitama kembali.

Semua ini omong kosong. Jawaban aneh ini… semuanya, intinya, ujung-ujungnya, adalah mematikan Genos. Dari awal berjalan melawan hukum alam sudah merupakan ide tergila yang pernah dia temui. Sejak awal harusnya dia membunuh professor tersebut. namun sialnya, dalam baying-bayang kepala Saitama, tetaplah terbayang muridnya saja. Betapa menyesalnya dia telah menghilangkan eksistensi Genos di dalam hidupnya. Betapa dia merasa kehilangan dan sakit. Semua ini karena orang di hadapannya… yang tersial… yang pernah ada.

"Yang terakhir," jawab professor lagi, "Kau bisa hidup di masa lalu. Mencegah Genos bertemu denganku, dan sebagainya." katanya terkekeh. "Namun, untuk melakukannya, kau tidak boleh memiliki kehidupan ganda dalam satu waktu. Tidak boleh ada dua dirimu. Yang terjadi adalah manifestasi memori dan tubuhmu. Manifestasi memori dapat mengubah ingatanmu secara total-menyebabkan kau lupa akan Genos sama sekali dan akan sia-sia untuk tujuanmu. Dan jika terjadi manifestasi pada tubuhmu, antara kau dan dirimu di masa lalu, salah satunya akan menghilang. Dan waktu akan berjalan seperti biasanya sampai hari itu akan terjadi lagi di masa depannya. Kau harus memusnahkan dirimu di masa lalu sebelum manifestasi itu terjadi."

.

.

.

"Singkat cerita, kau membunuh dirimu di masa lalu, dan menjalani waktu dengan jalur waktu yang baru. Jika kau berhasil, maka kemungkinan percakapan kita saat ini tidak akan pernah terjadi lagi."

"KAU SUDAH GILA?!"

"Memang." Jawab professor itu santai. "Bagiku cukup mengetahui jika kau berhasil. Penelitianku di masa lalu tidak akan sia-sia. Aku telah meneliti semua hal tentang perjalanan waktu dari lama. Dokumenku yang ada di masa lampau akan menuntun seseorang pada akhirnya."

"Kau akan kucegah!" jawab Saitama.

"Tentu, di masa lalu, bukan?"

Professor Kuseno menaruh kembali cangkir kopinya dan berjalan tenang, menghampiri Saitama yang berdiri dalam kekakuan: marah, bingung, ragu. Apa yang professor Kuseno katakana sangat masuk akal. yang sangat mungkin untuk mencegah semua ini adalah…

"Bunuh dirimu sendiri di masa lalu, dan hiduplah untuk melindungi anak itu."

Professor Kuseno tersenyum, "Bukankah kau sudah lama menginginkan musuh yang setara bagimu, Saitama?" dan kemudian, professor itu berjalan keluar dengan santai, menghabiskan tegukan terakhir kopinya. Melihat reaksi orang di hadapannya terpatung membuatnya sedikit merasa puas.

.

.

.

.

.

===Author's note===

Singularitas: sebuah tempat dimana konsep-konsep klasik ruang dan waktu runtuh sebagaimana pula runtuhnya hukum fisika.

Singularitas terbesar sejauh ini ditemukan di dalam blackhole, yang mana terjadi kemahahampaan, ditarik oleh sebuah gravitasi mahakuat. Di sana, materi seperti benda, suara dan cahaya akan tertelan hingga habis (hal itu membuat manusia biasa seperti Kuseno hampir tidak mungkin melakukan perjalanan waktu sendiri, sementara menjadi hal yang 'kemungkinan' mudah untuk Saitama), begitupun waktu yang akan terhenti.

.

Saya tidak berusaha menjelaskan tentang blackhole; maka sederhananya bayangkan analogi ini:

"Bagaimana anda naik ke gerbong kereta yang sedang berjalan, namun tidak pernah berhenti di manapun?" Jawabannya: kita harus secepat kereta tersebut, dan pada gerbong yang kita inginkan, kita hentikan keretanya, dan masuk ke dalamnya.

Anggaplah gerbong kereta adalah masa-masa yang kita inginkan. Maka yang harus kita lakukan untuk datang ke waktu yang kita inginkan adalah, kita harus secepat waktu itu dan menghentikan waktu itu. Cara menghentikan waktu adalah dengan singularitas.

.

Apa yang dilakukan Kuseno? Dia akan menciptakan benda yang dapat bergerak membawa objek (Saitama) dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya melalui ruangan dengan gravitasi yang sangat tinggi (tidak perlu melalui blackhole, tapi konsep ini masih bias) untuk menciptakan singularitas. Tujuannya adalah mengejar 'gerbong waktu' yang diinginkan, sembari menghentikan'gerbong waktu' tersebut dengan singularitas. Lalu alat tersebut masuk ke 'gerbong waktu' yang diinginkan.

Bentuknya seperti apa tidak bisa penulis definisikan juga. Karena nyatanya belum ada yang membuat alat yang mampu bergerak melewati kecepatan cahaya dan berhasil menempus gravitasi mahadahsyat.

But anyways, I hope you'll still enjoy this fic. This is the hardest part of this fic, I promise you.