Perjanjian Hati

Remake Story

Cast: Cho Kyuhyun, Lee Eunhyuk, Lee Jinki, (Kim) Cho Key / Kibum, etc.

Disclaimer: Cerita milik Santhy Agatha, aku mengubah beberapa adegan, nama latar tempat dan nama tokoh.

Warning: Genderswitch for uke

Happy reading

"Kalaupun demi cintamu, bila harus berkorban akan kulakukan, akan kulakukan karena aku sangat menyayangimu."

Eunhyuk membelalakkan matanya mendengar kata-kata Kyuhyun. Sejenak dia mencoba mencerna apa yang baru didengarnya, berharap ada kemungkinan dia salah dengar.

Tetapi kemudian ketika dia menyadari bahwa apa yang dikatakan Kyuhyun itu benar-benar seperti yang dimaksudkannya, wajahnya merah padam oleh kemarahan bercampur rasa terhina.

"Saya tidak tahu kenapa anda melakukan penghinaan yang begitu besar kepada kami. Tapi yang perlu anda tahu, kami tidak butuh uang atau pemberian apapun dari anda, coba anda tanyakan ini pada Jinki dan mungkin dia akan menghajar anda."

Kyuhyun hanya diam di sana dan mengamati Eunhyuk tajam, seolah-olah ingin menelanjangi seluruh isi hatinya. Lama kemudian laki-laki itu tampaknya telah mengambil kesimpulan dan tersenyum.

"Oke, jangan marah. Kata-kataku tadi hanyalah ujian, aku memang mengatakannya pada siapapun, yang dekat dengan Key."

Eunhyuk mengernyit. "Mwo?"

"Kau tahu, kata-kata itu tadi, bahwa aku akan membayar mereka dengan timbal balik mereka harus meninggalkan Key." Wajah Eunhyuk mengeras. "Kau akan terkejut mengetahui berapa banyak yang setuju untuk menyambar umpanku mentah-mentah."

"Tidak semua orang miskin tidak punya harga diri," sela Eunhyuk sinis.

Donghae menatap Eunhyuk lagi, "Benarkah?" pertanyaan itu sepertinya tidak perlu jawaban, hanya sebuah retorika yang menyindir.

Eunhyuk menyadari bahwa berdasarkan pengalamannya, laki-laki itu punya pandangan negatif pada orang-orang yang tidak mampu. Dia tadi bilang banyak orang lain yang mau menerima penawarannya mentah-mentah.

"Apakah urusan kita sudah selesai?" Eunhyuk melirik gelisah ke lorong Taman kanak-kanak yang sepi. Laki-laki ini membuatnya tidak nyaman, entah kenapa.

Kyuhyun menegakkan tubuhnya yang sedari tadi bersandar santai di pilar.

"Belum." gumamnya tenang, "dan aku bersikeras untuk mengajakmu ke suatu tempat, dengarkan aku dulu,"serunya ketika melihat Eunhyuk akan membantah keras kata-katanya. "Kau adalah kakaknya Jinki, kekasih adikku. Aku berjanji tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padamu, demi adikku. Dan memang aku tidak punya niat buruk sama sekali, aku hanya ingin bicara."

"Bukankah saya bilang anda bisa membicarakan semua yang perlu anda bicarakan disini?"

"Tolong jangan pakai istilah anda dan saya." Kyuhyun mengerutkan alisnya, "itu terlalu formal dan mengganggu. Aku ingin berbicara tentang Key, penting."

Eunhyuk menatap wajah Kyuhyun. Laki-laki itu tampak serius. Benar-benar serius. Sejenak dia ragu. Beranikah dia mempercayakan dirinya untuk pergi bersama laki-laki ini? Eunhyuk menghela napas. "Baiklah, tetapi hanya sebentar, kalau lebih dari jam dua siang aku belum pulang, orang rumah akan bertanya-tanya."

Kyuhyun mengangguk, "hanya sebentar, kita bicara di cafe langgananku di dekat sini."

Handel & Gretel Cafe, cafe tersebut bertema garden cafe dengan ruangan-ruangan yang redup karena rimbunnya pepohonan dan taman dan lampu- lampu berwarna kuning hangat yang menentramkan. Seluruh dindingnya adalah kaca bening yang besar-besar, memantulkan suasana hijau di sekelilingnya. Hari ini mendung dan berada di cafe yang begitu hijau itu membuat Eunhyuk merasa semakin sejuk.

Dengan sopan, Kyuhyun menarikkan kursi untuk Eunhyuk dan duduk di depannya, lalu memesankan makanan mereka pada pelayan yang menunggu. Setelah itu menunggu pesanan datang, Kyuhyun menyandarkan punggungnya di kursi dan menatap Eunhyuk.

"Kau mau pesan apa?" Eunhyuk mengamati daftar menu dan tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika menemukan menu minuman kesukaannya. Susu strawberry.

"Aku mau strawberry milk."

Kyuhyun mengangkat alisnya dan tersenyum "aku tidak menyangka kau memesan itu. Itu pesanan anak umur sepuluh tahun."

Apakah menurutmu wanita dewasa tidak boleh memesan susu strawberry. "

"Bukan begitu," Kyuhyun mulai terkekeh ketika ia mendapatkan pelototan mata dari Eunhyuk, dia mengangkat bahunya.

"Kau nampaknya dari awal sangat defensif menghadapiku, aku sama sekali tidak menentang hubungan Key dengan Jinki." Kyuhyun tersenyum lembut, "kuharap kau mengerti. Aku hanya ingin menjaga adikku."

Eunhyuk mengerti perasaan Kyuhyun. Rasa ingin melindungi yang dalam, sama seperti yang dia rasakan pada Jinki, adiknya satu-satunya.

"Ada yang harus kukatakan padamu," Kyuhyun melanjutkan karena Eunhyuk diam saja, "sebelumnya kau perlu tahu bahwa aku sudah menyelidiki keluargamu, maafkan aku." Kyuhyun menatap Eunhyuk dengan permohonan penuh permintaan maaf ketika melihat tatapan tersinggung dari Eunhyuk. "Aku harus melakukannya supaya aku benar-benar yakin bahwa aku bisa mempercayai kalian."

Eunhyuk mengangkat bahunya. "Silahkan lakukan apapun sesukamu, toh kau tidak akan menemukan rahasia gelap keluarga kami, karena memang tidak ada." Kyuhyun mengangguk dan tersenyum, bersamaan dengan pelayan yang mengantarkan minuman mereka.

"Sejujurnya aku kagum ketika membaca berkas-berkas laporan tentang keluarga kalian. Tidak mudah tumbuh menjadi orang hebat ketika situasi keuangan keluarga tidak mendukung." Laki-laki itu berdehem menyadari bahwa kata-katanya mungkin saja sudah menyinggung Eunhyuk. "Kembali kemasalah tadi, setelah menerima laporan dari penyelidikku dan mempelajarinya, aku memutuskan kau adalah orang yang tepat untuk membantuku."

Eunhyuk mengernyit, kenapa laki-laki ini dari tadi berbicara dengan berputar-putar? Apa sebenarnya yang ingin dikatakannya?

"Perlu kau tahu, Key dan aku bukan saudara kandung," Kyuhyun menatap Eunhyuk, menilai reaksinya.

"Aku adalah anak angkat, yang diasuh dan dibesarkan oleh keluarga mereka dengan penuh kasih sayang dan tidak dibedakan sama sekali dari anak kandung mereka, Key."

Itu informasi yang sangat mengejutkan dan Eunhyuk tertegun mendengarnya. Kyuhyun adalah anak angkat keluarga kaya itu? Kenapa Kyuhyun membagikan informasi sepenting ini padanya?

"Ya, mereka keluarga yang baik dan sangat menyayangiku. Sejak appa kami meninggal lima tahun yang lalu akulah yang mengambil alih kendali perusahaan dan mengembangkannya dengan pesat sampai sekarang. Sementara yang dilakukan eomma kami adalah mencurahkan kasih sayangnya pada kami dengan sepenuh hatinya. Tetapi kemudian ada satu masalah," Kyuhyun menghela napas panjang, "Eomma kami mempunyai ide yang menurutnya brilliant, bahwa aku dan Key, kami seharusnya menikah saja dan menjadi keluarga sejati."

Eunhyuk membelalakkan matanya kaget, mwo?

"Tentu saja ide itu konyol untuk kami. Karena kami sudah dibesarkan begitu lama sebagai kakak adik, tidak mungkin kami berdua mengembangkan perasaan lebih dari itu. Apalagi saat eomma mengutarakan maksudnya, Key sudah mempunyai Jinki."

"Mereka sepertinya saling mencintai," gumam Eunhyuk akhirnya.

"Ya, dari sisi Key aku tahu dia mencintai Jinki." Kyuhyun tersenyum. "Mulanya aku skeptis dan tidak yakin ketika Key menceritakan tentang Jinki dengan begitu bahagia padaku. Katanya dia menemukan cinta sejatinya, padahal menurutku mereka masih anak kuliahan, hidup mereka masih panjang dan kekasih sejati yang dia maksud itu mungkin masih menunggu di depan sana. Apalagi dengan pengalaman burukku pada lelaki-lelaki yang mendekati Key, hampir keseluruhan dari mereka menerima tawaranku untuk memberikan uang agar mereka mau meninggalkan Key," Kyuhyun tersenyum pahit.

"Aku minta maaf atas pengalaman pahitmu dengan orang-orang seperti kami," gumam Eunhyuk ketus. "Tapi kau perlu tahu bahwa kami tidak seperti itu. Kalaupun kau memang ingin Jinki meninggalkan Key, aku bisa berbicara dengan Jinki dan kami tetap tidak mau menerima sepeser pun darimu."

Kyuhyun terkekeh, "sepertinya kata-kataku selalu menyinggungmu ya," laki-laki itu mengangkat bahu. "Maafkan aku", dan keadaan hening seketika.

Hening yang lama sampai kemudian pelayan datang mengantarkan makanan dan minuman pesanan mereka.

Eunhyuk menatap tertarik pada strawberry milk yang diletakkan di depannya, minuman itu mengepul di dalam cangkir putih yang besar, tampak kental, manis dan begitu nikmat. Dia tidak dapat menahan diri. Dengan sangat berminat diambilnya cangkir itu, dihirupnya aroma strawberry yang nikmat, sebelum kemudian meneguknya. Rasanya manis, bercampur dengan aroma khas yang nikmat dan kehangatan yang menenangkan melalui tenggorokannya. Eunhyuk menyukainya. Dan dia berjanji akan terus kembali ke cafe ini untuk mencicipi strawberry milk yang nikmat ini.

Lama kemudian baru Eunhyuk menyadari bahwa dia sibuk dengan strawberry milknya dan melupakan Kyuhyun. Ketika dia mengangkat kepalanya, barulah disadari bahwa Kyuhyun sedari tadi mengamatinya sambil tersenyum geli. Pipinya merah padam menahan malu dan berusaha mengalihkan perhatian Kyuhyun pada hal lain.

"Lalu apa maksudmu menceritakan semuanya padaku?" Eunhyuk bergumam, berusaha mengembalikan percakapan ke konteks semula.

Kyuhyun tercenung, "meskipun tidak setuju, Key tidak berani membantah permintaan Eomma supaya dia menikah denganku. Dan aku juga tidak mau terjebak situasi pernikahan yang aneh, dengan adikku sendiri. Tetapi Eomma bukanlah orang yang mudah di bantah, dia bisa keras kepala kalau dia mau. Apalagi dia melihat kalau selama ini aku dan Key belum berhasil dengan hubungan asmara kami. Kau tahu, Key belum berani mengenalkan Jinki pada Eomma."

Dengan tenang Kyuhyun menatap Eunhyuk tajam, "perlu kau tahu, Eomma menderita lemah jantung, kalau ada hal-hal yang menjadi beban pikirannya, atau membuatnya terkejut maupun sedih, kami khawatir akan berakibat fatal pada kesehatannya. Belum lagi sebuah beban berat di pundakku, karena aku anak angkat yang berhutang budi pada eomma, aku tidak bisa menolak idenya mentah-mentah begitu saja."

"Entah kenapa aku bisa mengerti dilema yang dirasakan Kyuhyun." Batin Eunhyuk.

"Kemudian sebuah ide tercetus di benakku," sambung Kyuhyun, "eomma tidak akan sedih kalau tahu bahwa kami masing-masing punya alasan untuk menolak pernikahan itu. Key bisa menunjukkan pada eomma bahwa dia bahagia dengan pilihannya, dan aku akan melakukan hal yang sama. Masalahnya…" Kyuhyun memajukan tubuhnya, dan menatap intens Eunhyuk, "aku tidak punya wanita yang bisa kubawa untuk di perkenalkan pada Eomma."

Eunhyuk mengernyit, "kau bisa membawa wanita manapun yang kau mau, begitulah yang kudengar." Kyuhyun terkekeh, "betul, sangat gampang mencari wanita yang mau denganku. Tetapi sangat susah membawa wanita yang bisa kubawa ke hadapan eomma untuk kemudian diterimanya. Eomma memiliki insting sangat tajam terhadap sesama wanita."

Eunhyuk terdiam, entah kenapa merasa penuh antisipasi.

"Jadi Eunhyuk-ssi, aku mengusulkan sebuah perjanjian untukmu. Maukah kau, berpura-pura menjadi kekasihku, calon istriku untuk kubawa ke hadapan eomma?"

Laki-laki ini sudah gila rupanya. Menawarkan hal seperti itu padanya? "Kau sepertinya perlu memeriksakan otakmu ke dokter." Eunhyuk menggeram marah lalu berdiri hendak meninggalkan meja mereka. "Sepertinya sudah cukup aku berada di sini."

"Lee Eunhyuk." Nada suara Kyuhyun yang tenang itu entah kenapa berhasil membuat Eunhyuk menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kyuhyun.

"Kau harus pikirkan ulang sebelum menolak ide ini. Eommaku merencanakan pernikahanku dan Key akhir tahun ini. Kalau kita tidak bisa bekerja sama demi adik-adik kita, mereka akan patah hati."

Eunhyuk tertegun. Menyadari kebenaran perkataan Kyuhyun, disini bukan hanya Kyuhyun dan dirinya saja yang terlibat, ada kepentingan Jinki dan Key disini. Entah apa yang akan terjadi nanti, tapi yang pasti Eunhyuk tahu bahwa perasaan yang dirasakan Jinki pada Key sangat kuat, Eunhyuk yakin itu. Jinki tidak pernah secinta ini pada seorang gadis. Dan mengetahui bahwa Key akan menikah dengan Kyuhyun akhir tahun ini pasti akan membuat Jinki terpuruk.

Tetapi ide untuk berpura-pura menjadi pasangan Kyuhyun, berpura-pura menjadi calon istrinya, masih terasa seperti ide gila yang sedikit menakutkan di benaknya. Dia sama sekali tidak mengenal laki-laki ini selain sebagai kakaknya Key dan sedikit membaca kesan penakluk wanita pada auranya. Beranikah dia?

"Aku berjanji, ketika permasalahan sudah beres dan eomma bisa menerima bahwa aku dan Key berhak menentukan cinta sejati kami masing-masing, kita bisa melepaskan ikatan di antara kita tanpa masalah, mungkin aku bisa bercerita bahwa kau dan aku pada akhirnya tidak cocok. Tentang Key dan Jinki, biarlah mereka menentukan masa depan mereka masing-masing."

Perkataan Kyuhyun terasa begitu menggoda, karena membuat semuanya tampak berjalan mudah. Eunhyuk menghela napas panjang. "Tolong berikan aku waktu untuk berpikir."

"Oke." Kyuhyun menyerahkan kartu namanya pada Eunhyuk, "hubungi aku disini kalau kau sudah siap memberikan jawaban. Tapi ingat Eunhyuk-ssi, jangan terlalu lama waktu kita sedikit."

"Tadi aku menjemput noona ke Taman kanak-kanak, tapi kepala sekolah bilang noona sudah pulang bersama seorang pria." Jinki menatap Eunhyuk mengernyit. "Katanya pria itu naik mobil mewah," adiknya itu langsung menyambutnya ketika Eunhyuk berjalan memasuki rumah.

Tadi Eunhyuk tidak mau pulang diantar oleh Kyuhyun, syukurlah. Tidak terbayangkan bagaimana kagetnya Jinki kalau melihat Eunhyuk di antar pulang oleh kakaknya Key. Mungkin Jinki akan lebih kaget lagi kalau pada akhirnya Eunhyuk menyetujui kesepakatan yang diajukan Kyuhyun. Tetapi itu nanti, Eunhyuk harus memikirkan segalanya dengan baik terlebih dahulu.

"Noona?" Jinki mendesah ketika Eunhyuk tidak menjawab pertanyaannya.

"Oh…yang pulang bersamaku? Ehh dia seorang teman kuliah noona dulu, kami berjanji bertemu untuk membahas reuni angkatan kami," jawab Eunhyuk asal-asalan.

Dan rupanya jawaban itu tidak memuaskan Jinki, "pria itu bukan Changmin kan noona? Aku tahu kita bertemu dengannya di pesta kemarin, dia adalah satu-satunya laki-laki yang pernah dekat denganmu dan pernah menjemputmu dengan mobil mewahnya dulu. Maafkan pertanyaanku ini noona, aku cuma takut kau berhubungan lagi dengannya dan mengalami kesakitan seperti dulu lagi."

Sejenak Eunhyuk mencerna kata-kata Jinki, semula dia hendak marah karena Jinki seolah menuduhnya, kemudian hatinya menyadari bahwa Jinki sungguh menyayanginya dan mencemaskannya.

"Tidak Jinki-ya, noona tidak pernah memikirkan Changmin lagi, meskipun hati ini masih sakit, tapi perasaan itu sudah mati."

Apalagi kemarin, setelah dia mengalami penghinaan oleh tunangan Changmin dan lelaki itu seperti tanpa daya tak mampu berbuat apa-apa, "dan kau bisa tenang, yang menjemputku tadi benar-benar bukan Changmin."

Jinki menarik napas lega, lalu merengkuh Eunhyuk ke dalam pelukannya. "Syukurlah… Aku sebenarnya mencemaskanmu noona, karena aku semalam ada di pesta itu, melihat sendiri kau bertemu dengan Changmin yang dulu pernah begitu noona cintai. Aku ingat betapa terpuruknya noona dulu, aku cuma takut noona, noonaku yang paling kusayangi disakiti lagi olehnya."

Eunhyuk tersenyum penuh haru dan membalas pelukan Jinki, "noona sudah dewasa dan sudah kuat Jinki-ya, tidak seperti dulu lagi, kau tidak perlu mencemaskan noona seperti itu."

Jinki menjauhkan wajahnya dan menatapnya serius.

"Sebenarnya dari dulu aku sudah tidak suka dengan Changmin dari awal dia memang kelihatan seperti lelaki yang lemah, tapi waktu itu aku masih terlalu muda dan tidak berani berpendapat, apalagi ketika aku melihat noona begitu mencintainya, ketika noona dulu disakiti aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang aku juga sudah dewasa noona, noona bisa mengandalkanku. Kalau ada lelaki yang berani-beraninya mendekatimu, mereka harus melalui aku dulu, dan kalau mereka menyakitimu, akan kuhajar mereka sampai babak belur."

Eunhyuk terkekeh geli dan tiba-tiba terlintas di benaknya, kalau dia benar-benar menerima kesepakatan dari Kyuhyun, situasi antara mereka berempat, Eunhyuk, Jinki, Kyuhyun dan Key pasti akan menjadi sangat lucu.

"Bagaimana kabar Key?" Eunhyuk bertanya untuk mengalihkan pikiran tentang Kyuhyun. Mendengar nama gadis yang dicintainya itu, seketika itu pula tatapan Jinki berbinar.

"Key sungguh gadis yang luar biasa." Jinki tertawa sendiri, "dengan latar belakangnya yang seperti itu, dia sungguh tidak keberatan jalan-jalan dengan mobil butut kepunyaan kita, makan di kedai pinggir jalan, aku benar-benar jatuh cinta padanya noona. Semoga kemarin kesan kita ke kakak Key bagus ya. Aku tidak bisa membayangkan kalau kami harus menghadapi ketidaksetujuan dari keluarga Key, karena saat ini kami sungguh menghadapi setiap waktu dengan berbahagia."

Jinki menggesek-gesekkan telapak tangannya dengan bersemangat. "Malam ini aku mengajak Key supaya makan malam di rumah kita, agar dia bisa lebih mengenal eomma. Eomma juga senang sekali. Beliau sedang ke pasar untuk berbelanja untuk acara makan malam."

Eunhyuk tersenyum, antara miris sekaligus tersentuh dengan kebahagiaan Jinki. Tiba-tiba sebuah keputusan sudah muncul di benaknya. Sambil beralasan ingin berganti pakaian, Eunhyuk pun melangkah memasuki kamarnya. Tetapi yang dilakukan pertama kali adalah duduk di tepi ranjang dan mengeluarkan kartu nama Kyuhyun dari saku bajunya. Saat ini, sebagai seorang noona, mungkin inilah yang bisa dilakukannya demi kebahagiaan Jinki.

Dikeluarkannya ponselnya dan di hubunginya nomor itu. Eunhyuk tegang menunggu hubungan tersambungkan. Dalam deringan ketiga, ponsel diangkat dan suara Kyuhyun yang dalam menyahut di sana.

"Yeoboseyo?"

Eunhyuk menelan ludah, suaranya terasa tercekat dan tenggorokannya terasa kering ketika akan menyatakan keputusannya dia lalu teringat pada Jinki, binar binar mata adiknya itu ketika membicarakan tentang Key sungguh membuat Eunhyuk yakin betapa sakitnya kalau Jinki harus dipaksa meninggalkan Key. Eunhyuk akan melakukan apa saja untuk menjauhkan Jinki dari kesakitan, meskipun kebahagiaannya sendiri yang menjadi taruhannya.

"Yeoboseyo… Ini aku Eunhyuk… Aku… Aku cuma ingin bilang, aku akan melakukan kesepakatan yang kau bicarakan tadi."

TBC