Perjanjian Hati

Remake Story

Cast: Cho Kyuhyun, Lee Eunhyuk, Lee Jinki, (Kim) Cho Key / Kibum, etc.

Disclaimer: Cerita milik Santhy Agatha, aku mengubah beberapa adegan, nama latar tempat dan nama tokoh.

Warning: Genderswitch for uke

Happy reading

"Janganlah kau menikahi seseorang yang menurutmu kau bisa hidup dengannya. Tetapi nikahilah seseorang yang menurutmu, kau tidak bisa hidup tanpanya."

Wanita paruh baya itu sangat cantik, duduk di sana di tengah kebun bunga sambil meminum tehnya dari cangkir. Rambutnya disanggul dengan formal ke atas, dan gaunnya tampak sangat indah, berwarna hijau, menyatu dengan alam taman bunga di sekelilingnya. Eomma Kyuhyun dan Key ini pasti sangat cantik di masa mudanya, karena bahkan di masa tuanya pun gurat-gurat kecantikannya masih tersisa di sana. Eomma Kyuhyun mendongak ketika melihat Kyuhyun datang bersama Eunhyuk yang gugup, lalu senyum ramahnya mengembang.

"Silahkan duduk," gumamnya mempersilahkan sambil mengedikkan bahu dengan lembut pada kursi di depannya.

Dengan tenang Kyuhyun menarikkan kursi untuk Eunhyuk dan duduk di sebelahnya.

"Eomma tidak masuk angin minum teh sore-sore di luar seperti ini?"

Sang Eomma tersenyum lembut dan menatap Kyuhyun dengan sayang.

"Eomma cukup kuat kalau hanya duduk-duduk di luar Kyuhyun-ah, lagipula eomma bosan kalau di dalam terus, pemandangan taman ini di sore hari sangat indah, sayang untuk dilewatkan."

Eomma Kyuhyun benar. Pikir Eunhyuk mengiyakan. Pemandangan taman ini tampak luar biasa, dengan dedaunan yang rimbun dan tertata rapi serta bunga-bunga dan rumput hijau yang mengelilingi, ditambah lagi kolam ikan yang cantik dengan gemericik air terjun buatan yang mendamaikan suasana. Eunhyuk dengan senang hati akan rela melewatkan waktunya untuk duduk-duduk di taman ini menikmati keindahan suasananya. Tak disadarinya Eomma Kyuhyun mengamati Eunhyuk dengan penuh perhatian. Ketika Eunhyuk tersadar, dia langsung berguma gugup menyadari ketidak sopanannya karena langsung duduk dan melamun, bukannya memperkenalkan diri.

"Ehh, maaf… Saya… Saya Lee Eunhyuk," gumam Eunhyuk sambil mengulurkan tangannya gugup.

Eomma Kyuhyun menyambut uluran tangan Eunhyuk, tampak geli melihat kegugupan Eunhyuk, "dan perkenalkan aku ibunya Kyuhyun dan Key." Dia melirik Kyuhyun penuh arti, "begitu mendengar tentangmu dari Kyuhyun dan Key, aku benar-benar didera rasa ingin tahu."

Eunhyuk melirik Kyuhyun yang sepertinya sudah ada dalam mode berakting karena lelaki itu melirik lembut dan penuh cinta padanya.

"Aku tidak pernah merasakan yang seperti ini kepada gadis manapun, eomma. Dia istimewa dan aku harap dia yang terbaik." Kyuhyun bergumam dengan nada yang terdengar begitu tulus dan jujur. Bahkan Eunhyuk yang mengetahui bahwa itu hanyalah kebohongan semata, tersipu-sipu mendengarnya. Eomma Kyuhyun menyesap tehnya lagi, lalu melirik Eunhyuk dan Kyuhyun bergantian.

"Kau tidak pernah menceritakan tentang Eunhyuk sebelumnya."

"Aku sedang mengejarnya," jawab Kyuhyun santai, "sekarang aku sudah memilikinya, dan kupikir sekaranglah saat yang tepat untuk mengklaimnya dan menunjukkannya pada semua orang."

Eomma Kyuhyun terkekeh mendengar nada posesif dan kepemilikan di dalam suara Kyuhyun. Dia tersenyum pada Eunhyuk meminta permakluman.

"Maafkan anak laki-lakiku ini Lee Eunhyuk, dia memang terbiasa arogan dan keras kepala, mungkin kau juga menyadarinya. Aku senang karena dia akhirnya menemukan seseorang yang cocok untuknya, karena aku tahu betapa alerginya dia mengikatkan diri pada seorang gadis."

Eunhyuk tersenyum kaku, mencoba tampak santai. "Saya senang karena anda menerima saya."

"Tentu saja aku menerimamu, kau pilihan Kyuhyun, berarti kaulah yang terbaik." Sang Eomma tersenyum dan mengangkat bahunya. "Tentunya Kyuhyun sudah bercerita kalau aku berniat menjodohkannya dengan Key. Sebuah pemikiran yang kupikir keputusan terbaik, mengingat aku begitu menyayangi mereka berdua dan menginginkan mereka saling menjaga. Kalau-kalau aku sudah tidak ada lagi. Dokter bilang penyakit jantungku sudah parah dan sungguh untung kalau aku bisa hidup lebih dari 1 tahun ke depan."

"Eomma." Kyuhyun berseru memprotes perkataan eommanya. Sang eomma hanya tersenyum menenangkan.

"Yah… Aku pikir waktu itu Kyuhyun dan Key sama-sama belum mempunyai pasangan dan mereka tampak sangat cocok bersama, lagi pula aku sudah sangat ingin menimang cucu." Eomma Kyuhyun lalu tersenyum dengan mata berbinar. "Kabar kalau Kyuhyun ternyata sudah mempunyai pilihan hati memang tidak kusangka-sangka, tetapi kabar ini menyenangkan, dan menenangkan, aku pikir aku akan dengan senang hati menyiapkan pernikahan kalian."

"Pernikahan?" Kyuhyun dan Eunhyuk sama-sama berseru. Yang satu protes dan yang lain kaget.

"Tentu saja." Eomma Kyuhyun mengedipkan matanya ke arah Eunhyuk. "Mulai sekarang panggil aku Eomma, sayang. Karena saat ini aku sudah setengah jalan mempersiapkan pernikahan besar di akhir tahun" wanita paruh baya itu tampak menghitung di dalam kepalanya.

"Akhir tahun tinggal empat bulan lagi," dia lalu tersenyum lembut pada Eunhyuk.

"Dulunya pernikahan ini kurencanakan untuk pernikahan Kyuhyun dan Key, tetapi aku yakin sekarang akan lebih menyenangkan karena Kyuhyun mempunyai pilihan hatinya sendiri, kuharap kau akan sering kemari Eunhyuk-ah dan membantuku mempersiapkan pernikahan ini." Eomma Kyuhyun berucap manis, dengan senyum yang manis pula. Tetapi makna yang ada di dalam kata-katanya, tak terbantahkan.

"Pernikahan?" Eunhyuk berseru memprotes sambil menatap Kyuhyun yang sedang menyetir dengan tajam. "Tadinya aku pikir kita hanya bersandiwara sebagai pasangan kekasih. Lalu setelah Key bisa memperkenalkan Jinki pada Eommamu, kita akan pura-pura berpisah baik-baik dan mengatakan ada perbedaan prinsip yang menghalangi kita!"

"Key belum bisa memperkenalkan Jinki sekarang-sekarang ini. Mereka belum lulus kuliah, dan aku meragukan eomma akan menerima Jinki begitu saja, beliau pasti akan menganggap Jinki terlalu muda untuk serius dengan Key di usianya sekarang ini. Kita harus bertahan demi mereka. Segera setelah Jinki lulus dan mendapatkan pekerjaan yang baik, Key bisa membawanya pada eomma. Aku akan mengatur pekerjaan yang baik untuk Jinki nanti."

"Tapi mereka berdua baru lulus tiga bulan lagi, itu sangat beresiko mengingat ibumu merencanakan pernikahan empat bulan lagi. Terlalu tipis waktunya, apalagi untuk membatalkan semuanya secara mendadak. Mungkin… Mungkin kita harus jujur saja pada ibumu. Aku lihat ibumu wanita yang kuat dan berpikiran luas, dia mungkin mau menunggu sampai Jinki lulus dan melihat bukti keseriusannya pada Key."

Kyuhyun memandang lurus ke depan, tampak serius. "Dia memang selalu berusaha tampil kuat Lee Eunhyuk, tetapi dia rapuh. Lagipula kita sudah maju sejauh ini, tak bisa mundur lagi. Kalau kita mengatakan bahwa ini semua hanya pura-pura kepada eomma, dia pasti akan kecewa dan itu akan mempengaruhi kondisi tubuhnya. Saat ini dia bahagia, kita biarkan saja. Semoga nanti begitu Jinki lulus dan Key memperkenalkannya, eomma pasti begitu bahagia sehingga dia tidak kecewa ketika kita membatalkan pernikahan itu. Kita berdoa saja semoga semua berjalan seperti semestinya."

"Dan jika tidak?" Jantung Eunhyuk berdegup kencang, memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Kyuhyun menoleh, dan menatap Eunhyuk dengan senyum ironisnya.

"Jika tidak… Maka mungkin kau dan aku akan terjebak dalam sebuah sandiwara pernikahan."

"Eunhyuk-ah." Sang ibu mengetuk pintu kamar Eunhyuk, suaranya terdengar cemas. "Ada tamu mencarimu." Eunhyuk yang sedang membaca di dalam kamar mengernyit, lalu melirik jam di dinding, sudah jam delapan malam, siapa yang bertamu semalam ini? Eunhyuk membuka pintu kamarnya dan berhadapan dengan wajah ibunya yang cemas.

"Siapa Eomma?" Suara sang eomma berbisik pelan, "Changmin. Dia memaksa bertemu denganmu, eomma bilang mungkin kau sudah tertidur tetapi dia minta eomma membangunkanmu. Kau ingin bertemu dengannya atau tidak?"

Eunhyuk mengernyit, untuk apa Changmin datang ke rumah ini malam-malam begini? Saat ini? Bukankah sejak lelaki itu mencampakkannya dua tahun lalu, jangankan datang ke rumah ini, mengirimkan kabar pun lelaki itu tidak pernah. Perasaan ingin tahu membuat Eunhyuk terdorong mengambil keputusan.

"Aku akan menemuinya eomma."

Sang eomma menahan tangannya, "Kau tidak apa-apa Eunhyuk-ah, eomma tahu kau sudah menjalin hubungan baru dengan Kyuhyun. Tetapi eomma…"

Eunhyuk memang sudah menceritakan bahwa dia menjalin hubungan dengan Kyuhyun, supaya sang ibu tidak kaget nantinya. Ibunya cukup senang meskipun juga mengutarakan kecemasannya karena Eunhyuk menjalin hubungan lagi dengan lelaki kaya. Tetapi Eunhyuk meyakinkan ibunya bahwa hal ini tidak akan menyakiti hatinya lagi, toh dalam hati Eunhyuk menyadari bahwa hubungan ini hanyalah sandiwara yang tidak melibatkan hati sama sekali. Tetapi insting seorang ibu memang luar biasa, ibunya bisa merasakan bahwa Eunhyuk masih menyimpan luka mendalam akibat perbuatan Changmin.

"Tidak apa-apa eomma," Eunhyuk tersenyum lembut, "jangan cemas ya."

Eunhyuk melangkah ke ruang tamu dan menemukan sosok Changmin yang duduk termenung di sofa, lelaki itu langsung berdiri begitu melihat Eunhyuk.

"Hai Eunhyuk, aku tadi lewat di dekat-dekat sini dan memutuskan untuk mampir."

"Ada apa Changmin-ssi?" Eunhyuk memutuskan untuk tidak menanggapi pernyataan basa basi Changmin, dia bersedekap dan menatap lelaki itu dengan dingin.

Changmin berdiri dengan salah tingkah. "Aku… Aku berpikir, sekian lama aku tidak melihatmu dan kemarin ketika melihatmu, kau sudah berubah, lebih dewasa dan lebih cantik…. Dan ternyata… Aku… Aku masih merindukanmu."

Apa maksud Changmin dari pernyataannya ini? Eunhyuk mengernyitkan keningnya. Lelaki itu sudah mencampakkannya dan bahkan kemarin sudah mengundangnya ke pesta pernikahannya. Dan sekarang dengan tak tahu malu, Changmin berdiri di sini dan mengatakan merindukannya? Changmin menelan ludah.

"Aku tahu kau sakit hati dengan perlakuanku dulu, tetapi aku harap kau mau mengerti, aku terpaksa, aku juga menderita, sama sepertimu. Tekanan dari keluargaku sangat kuat. Keluargaku mempunyai hutang budi yang begitu besar pada keluarga Hyojin, aku bagaikan tumbal mereka dan aku tidak bisa melawan. Kalau aku menolak, maka keluargaku akan hancur."

Eunhyuk mengernyit, dan kenapa baru sekarang Changmin memilih untuk menjelaskan padanya? Kenapa tidak dulu ketika lelaki itu mencampakkannya tanpa kata-kata dan membiarkannya terpuruk dalam kedukaan mendalam karena patah hati? Setidaknya kalau Eunhyuk tahu alasan itu dari dulu, mungkin dia bisa lebih berbesar hati ketika kehilangan Changmin.

"Aku ingin menghubungimu dulu waktu itu. Tetapi pengawasan keluargaku sangat ketat. Hyojin juga… Dia terobsesi padaku dan sangat posesif, dia mengancam akan menghancurkanmu kalau aku sampai berhubungan lagi denganmu, dan dulu mengingat begitu berkuasanya keluarga Hyojin, mereka bisa menghancurkan keluargamu dengan mudah."

"Dan kenapa sekarang kau tetap menemuiku? Tidakkah ini akan membuat Hyojin mengamuk kalau dia tahu?"

Changmin menggeleng, tersenyum kecut. "Tidak, sekarang keluargaku dan Hyojin tidak bisa berbuat apa-apa. Kau, kau entah bagaimana dengan beruntungnya menjadi kekasih Tuan Cho Kyuhyun, yang beribu kali lebih berkuasa dari kami. Mereka tidak akan berani berbuat macam-macam padamu, karena itulah aku bisa menemuimu dengan leluasa seperti akhir-akhir ini."

Mata Changmin tampak berkaca-kaca. "Aku sudah menunggu kesempatan ini begitu lama, dua tahun lamanya. Aku selalu tersiksa, memikirkanmu, memikirkan keadaanmu yang kutinggalkan begitu saja dengan begitu menyakitkan. Waktu itu aku berpikir kalau kau kutinggalkan dengan kejam, kau akan membenciku, dengan begitu kau akan lebih mudah melupakanku. Aku sadar bahwa aku sudah menyakitimu begitu dalam. Maafkan aku." Suara Changmin berubah serak dia menatap Eunhyuk dengan memohon. "Di Taman kanak-kanak kemarin itu aku sudah ingin mengungkapkan semuanya padamu. Tapi aku berubah pikiran ketika kau bertemu denganku, kau begitu tegar dan kuat dan kau bilang kau tidak memikirkanku lagi. Jadi aku mengatakan alasan-alasan bodoh kenapa aku menemuimu waktu itu," Changmin menghela napas panjang.

"Tetapi perasaan ini menghantuiku. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa tidak pernah sedikitpun terbersit di benakku untuk menyakitimu, mencampakkanmu. Aku sangat mencintaimu, bahkan sampai sekarang pun aku masih..."

Eunhyuk tanpa sadar meringis merasakan kesakitan yang menusuk benaknya. Harusnya Changmin tidak usah mengungkapkan semua ini. Dia sudah bisa berjalan tegak sejak keterpurukannya karena ditinggalkan Changmin, dia sudah bisa menutup luka hatinya meskipun kadangkala masih terasa pedih. Tetapi apa yang diucapkan Changmin hari ini seperti membuka luka lamanya lagi, membuatnya menganga dan berdarah.

"Terima kasih sudah menjelaskannya padaku." Suara Eunhyuk terdengar serak. "Tapi bagaimanapun semua sudah terjadi. Kita tidak bisa menoleh ke belakang lagi. Aku sudah melanjutkan hidupku, begitu pun dirimu. Semoga tidak ada lagi kesalahpahaman dan luka masa lalu di antara kita."

Changmin mengacak rambutnya dengan frustrasi. "Lelaki itu, Tuan Cho Kyuhyun. Apakah kau benar-benar mencintainya?"

Eunhyuk menghela nafasnya sebelum mengucapkan jawaban semantap mungkin. "Ya, aku benar-benar mencintainya."

"Yah. Kemudian Changmin tersenyum pahit sambil mengangkat bahu, apalagi yang kuharapkan, dia lebih segala-galanya dariku, jadi wajar kalau kau semudah itu melupakanku. Wajahnya tampak sedih, meskipun aku tidak pernah melupakanmu selama ini, Eunhyuk-ssi. Dua tahun berlalu, aku memang bertunangan dengan Hyojin, tapi hanya tubuhku yang terikat dengannya. Hatiku masih selalu menjadi milikmu."

"Aku tidak mau menerima hatimu," sela Eunhyuk dengan tegas. "Biarkan itu menjadi milik Hyojin, kalian akan segera menikah, aku harap kau akan berbahagia dengannya."

Changmin menggeleng, hendak membantah, tetapi kemudian tampak mengurungkan niatnya.

"Ya, baiklah. Tidak ada lagi yang perlu kusampaikan," ditatapnya mata Eunhyuk dalam dalam, seolah-olah berusaha mencari cinta yang tersembunyi di sana, kemudian dia memalingkan mukanya dengan sedih. "Kalau begitu aku permisi dulu Eunhyuk-ssi, selamat tinggal."

"Selamat tinggal Shim Changmin-ssi." Kali ini ucapan selamat tinggal itu benar-benar terucap dari hatinya, kepedihannya masih terasa, apalagi mendengarkan pengakuan Changmin barusan. Setidaknya kemarahan dan kebenciannya di masa lalu atas perlakukan Changmin padanya terjawab sudah, lelaki itu punya alasan sendiri meninggalkannya, dan Eunhyuk sudah menerimanya.

"Kau suka nuansa ini Eunhyuk-ah?" Eomma Kyuhyun tersenyum pada Eunhyuk sambil menunjukkan foto dekorasi ruang pesta yang begitu mewah. "Aku ingin kesannya elegan dengan nuansa warna emas dan putih."

Eunhyuk melirik foto itu, lalu melirik Kyuhyun di sebelahnya yang memasang muka datar dengan gugup. "Ehh ya… Putih dan emas bagus juga eomma," gumamnya lembut.

Saat ini Eunhyuk dan Kyuhyun sedang berkunjung ke rumah Kyuhyun, sang eomma bersikeras menunjukkan foto-foto gedung dan desain ruangan yang harus dilihat oleh Kyuhyun dan Eunhyuk dulu sebelum diputuskan mana yang akan dipilih. Dengan terpaksa Eunhyuk datang, karena kata Kyuhyun kalau Eunhyuk terus menerus menghindar, eomma Kyuhyun akan curiga.

"Kalian sudah membeli cincin?," eomma Kyuhyun menatap putranya. "Kau bilang kalian akan memilih cincin akhir minggu kemarin."

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Belum eomma, aku sibuk sekali akhir minggu kemarin, ada rapat mendadak di perusahaan, mungkin minggu depan, lagipula acaranya kan masih lama, jadi waktu kami masih panjang."

Eomma Kyuhyun menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Tidak bisa begitu," gumamnya keras, "cincin pernikahan adalah hal yang paling penting yang harus diprioritaskan. Kalian bersikeras menolak dilakukannya pertunangan lebih dulu, eomma sudah setuju. Tetapi eomma ingin kalian menyiapkan cincin pernikahan itu dulu, selain sebagai bukti keseriusan kalian, eomma ingin memastikannya sesuai dengan tema pesta pernikahan ini."

Kyuhyun dan Eunhyuk saling berpandangan, berucap tanpa kata. "Baiklah eomma, kami janji minggu depan pasti sudah membawa cincin untuk ditunjukkan pada eomma."

Eunhyuk duduk di Handel & Gretel Cafe, kali ini ia sendirian, tanpa Kyuhyun. Dia sekarang hampir setiap hari sepulang kerja mampir ke sana hanya untuk minum strawberry milk hangat yang sangat enak itu. Para pelayan bahkan sudah mengenalinya sebagai pelanggan tetap.

"Ini dia strawberry milk pesananmu, Eunhyuk-ssi, seperti biasanya Jihoo pelayan ber umur 40 tahun yang selalu tampil trendy dengan kemeja putih dan rompi hitamnya meletakkan pesanan Eunhyuk di mejanya. Eunhyuk tersenyum pada Jihoo.

"Terima kasih Jihoo ahjussi."

"Kali ini kau tidak bersama Tuan Cho lagi?" Jihoo bertanya, karena seringnya Eunhyuk berkunjung ke cafe ini setiap sore sepulang kerja membuatnya akrab dengan beberapa pelayan di sini, termasuk Jihoo yang sudah seperti pamannya. Eunhyuk menatap Jihoo. "Aku hanya satu kali datang bersama dia. Kenapa ahjussi menanyakannya?"

Jihoo tergelak. "Karena Tuan Cho adalah pelanggan tetap cafe ini, tapi sebelumnya dia tidak pernah membawa satupun gadis kemari. Kaulah yang pertama, jadi kupikir kau istimewa."

Eunhyuk mengernyit menerima informasi itu, lalu dia menghela nafas panjang. "Aku dan Kyuhyun akan menikah."

"Jeongmal?" Jihoo membelalakan mata dan tersenyum lebar. "Wow. Kalau begitu aku harus memberimu selamat." Lelaki itu mengamati Eunhyuk dengan teliti. "Tetapi kenapa kau tampaknya tidak bahagia, Eunhyuk-ah?"

"Karena aku masih ragu dan takut. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya."

"Para calon pengantin biasanya memang meragu dan ketakutan." Jihoo mengedikkan bahunya pada minuman Eunhyuk.

"Pegang perkataanku Hyukkie, jangan pernah ragu ketika harus menjalani pernikahan. Kau lihat ini? Strawberry itu pada dasarnya rasanya asam dan sedikit manis, tapi dia diolah sedemikian rupa, dengan madu dan susu kental manis, dengan takaran yang pas sehingga bisa menjadi minuman yang terasa nikmat untukmu. Begitupun juga dengan pernikahan, semua pernikahan menyimpan resiko di dalamnya, tetapi kalau kau bisa mengaturnya dengan baik, pasti rumah tanggamu akan berjalan dengan harmonis" Jihoo mengedipkan matanya, ia lalu melangkah pergi, meninggalkan Eunhyuk yang termenung sendiri sambil menatap gelas berisi strawberry milk hangat di hadapannya.

"Kau mau yang seperti apa?" Kyuhyun mengedikkan bahunya kepada jajaran cincin-cincin pernikahan yang diletakkan berjejer dalam kotak beludru di atas etalase. Eunhyuk mengamati cincin-cincin itu, luar biasa mewahnya, tapi tentunya cincin yang dipersiapkan untuk pengantin Kyuhyun pasti akan luar biasa bukan?

"Cincin ini tidak akan pernah kugunakan," Eunhyuk bergumam lirih pada Kyuhyun, takut terdengar petugas toko perhiasan itu. "Mungkin kau pilihkan saja yang sesuai seleramu."

Kyuhyun menatap Eunhyuk tajam, lalu mengangkat bahunya. "Baiklah. Yang itu saja."

Eunhyuk melirik pada pilihan Kyuhyun dan membelalakkan matanya, sepasang cincin itu memang begitu indah di dalam kotak beludru warna biru safir itu. Cincin untuk laki-lakinya begitu maskulin tetapi yang mengganggu adalah cincin untuk wanitanya yang dihiasi dengan batu berlian yang begitu besar berkilauan, terasa berlebihan.

"Tidakkah kau bisa memilihkan cincin yang lebih sederhana?" gumam Eunhyuk ketus.

Kyuhyun tertawa, "aku akan memilihkan yang itu untuk calon istriku, lagi pula kau tadi bilang mau yang sesuai seleraku."

"Aku berubah pikiran," gumam Eunhyuk sambil melirik sinis, "Yang itu saja."

Kyuhyun mengangkat alisnya melihat cincin pilihan Eunhyuk sepasang cincin dengan ukiran sederhana tapi elegan, hanya cincin polos dengan variasi ukiran indah buatan tangan. Tanpa batu berlian apapun.

"Terlalu polos dan sederhana," gumam Kyuhyun tidak suka. Eunhyuk menatap Kyuhyun tajam, "Pokoknya yang itu." Kyuhyun terkekeh, geli dengan kekeraskepalaan Eunhyuk.

"Oke….. Oke …Baiklah." Dia melirik kepada Manager toko yang menunggu mereka, "kami ambil yang itu."

Ketika Manager toko menyiapkan cincin itu, Eunhyuk berbisik pelan pada Kyuhyun.

"Kau membeli sesuatu yang jelas-jelas tidak akan digunakan. Bisakah nanti kau menjual cincin itu kembali kalau perjanjian sandiwara kita ini gagal?"

Kyuhyun melirik Eunhyuk seolah tersinggung, "harga cincin itu tak seberapa," gumamnya tenang. "Jangan kau pikirkan, tidak apa-apa."

Ketika mereka menerima kotak cincin itu, ponsel Kyuhyun berbunyi. Lelaki itu mengangkatnya dengan tenang. Lalu setelah menerima penjelasan dari ujung sana, wajahnya memucat, berubah tegang.

"Eunhyuk-ssi. Kita harus ke rumah sakit segera. Eomma tadi sesak napas, lalu pingsan. Sepertinya penyakit jantungnya kambuh. Kita harus ke rumah sakit sekarang."

Mereka setengah berlari menuju lorong rumah sakit tempat Eomma Kyuhyun ditangani, dan menemukan eomma Kyuhyun terbaring lemah di ruang ICU rumah sakit. Masih dalam penanganan dokter. Yang bisa mereka lakukan hanyalah mengintip dari dinding kaca di ruang ICU.

Key yang menyambutnya di sana bersama Jinki, gadis itu menangis sesenggukan, "Kyuhyun oppa, eomma pingsan, tadi kondisinya mengkhawatirkan. Tetapi sekarang kata dokter sudah sadar."

Kyuhyun menatap cemas ke arah ruang ICU. "Sudah bolehkah kita menengoknya?" Key mengangguk.

"Tadi aku sudah menengoknya, tetapi eomma belum sepenuhnya sadar. Kata dokter pengunjung boleh masuk, asalkan satu-satu." Kyuhyun menghela napas panjang. "Aku akan menengok eomma dulu," gumamnya sambil melangkah memasuki ruangan ICU yang tertutup itu.

Lama kemudian, Kyuhyun tidak keluar. Jinki masih memeluk Key yang terus menerus memandang cemas ke arah pintu itu. Sementara Eunhyuk berdiri dengan bingung, tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Kemudian pintu terbuka dan Kyuhyun melangkah keluar, wajahnya tampak pucat pasi, tetapi matanya menyala penuh tekad. Lelaki itu langsung melangkah lebar-lebar dan berdiri di depan Eunhyuk.

Eunhyuk menatap Kyuhyun bingung. Ada apa?

Tak di sangkanya, sedetik kemudian, Kyuhyun berlutut didepannya dengan posisi melamar, mengeluarkan kotak cincin itu dan menunjukkannya pada Eunhyuk.

"Lee Eunhyuk, maukah kau menikah denganku, segera?"

TBC