Perjanjian Hati
Remake Story
Cast: Cho Kyuhyun, Lee Eunhyuk, Lee Jinki, (Kim) Cho Key / Kibum, etc.
Disclaimer: Cerita milik Santhy Agatha, aku mengubah beberapa adegan, nama latar tempat dan nama tokoh.
Warning: Genderswitch for uke
Happy reading
"Ketika kau harus memilih, mana yang akan kau pilih? Sesuatu yang ada dalam genggamanmu, tetapi masih kau ragukan, atau…. sesuatu yang dulu pernah ada dalam genggamanmu, sempat terlepas, tetapi ingin kembali pulang?"
Eunhyuk ternganga, begitupun Key dan Jinki yang ada di ruang tunggu ICU itu. Dengan gugup Eunhyuk menelan ludah, menatap Kyuhyun yang tampak begitu serius, dan menatap Key dan Jinki yang mengamati mereka dengan penuh keingintahuan.
Eunhyuk bingung harus bicara apa. Kalau menurut kata hatinya, seharusnya dia langsung menolak mentah-mentah lamaran itu, bukankah saat ini mereka sedang mempersiapkan pernikahan yang hanya sandiwara? Kenapa Kyuhyun melamarnya di sini, di depan kedua adik mereka? Bagaimana Eunhyuk harus menanggapinya? Dengan sungguh-sungguh atau bersandiwara?
"Cho Kyuhyun?" Eunhyuk bergumam lirih berusaha supaya tidak terdengar oleh Key dan Jinki yang ada di ujung ruangan. Kyuhyun menatap Eunhyuk dengan mata membara, tampak tersiksa.
"Ku mohon." mulutnya membentuk permohonan tanpa bersuara.
Eunhyuk menelan ludah lagi. Kyuhyun pasti punya alasan melakukan ini, mungkin dia akan menjelaskannya nanti. Dan jika ternyata mereka salah arah, Eunhyuk berharap Kyuhyun bisa mengeluarkannya dari masalah ini. Dengan menguatkan hati, Eunhyuk menganggukkan kepalanya.
"Baik, Cho Kyuhyun aku bersedia menikah denganmu." Terdengar suara helaan napas Key di sudut ruangan, lega.
Sementara Eunhyuk mencuri pandang ke ekspresi adiknya yang tercekat. Mungkin sama seperti dirinya, Jinki kaget dan tidak menyangka hubungan Eunhyuk dan Kyuhyun berkembang secepat ini. Sedangkan Kyuhyun, lelaki itu memejamkan matanya tampak lega luar biasa. Lalu dengan cepat, seolah takut Eunhyuk berubah pikiran, dia menyelipkan cincin yang mereka beli barusan ke jemari Eunhyuk.
"Itu jadi cincin pertunangan kita. Besok kita beli lagi cincin untuk pernikahan." Bisiknya serak sambil mengecup jemari Eunhyuk yang bercincin. Kyuhyun lalu berdiri dari posisi berlututnya, tampak menjulang di depan Eunhyuk. "Baiklah Eunhyuk-ah, karena kau telah menyetujuinya, kita akan menikah besok."
"Besok?"
Kali ini yang bersuara kaget bukan hanya Eunhyuk, tetapi juga Jinki dan Key. Kyuhyun menghela napas panjang, lalu menoleh sedih ke arah ruangan ICU.
"Eomma sedang memperjuangkan hidupnya di sana, serangan ini tidak akan terjadi satu kali saja, pasti akan terjadi lagi, dan setiap terjadi kita mempunyai resiko kehilangan eomma, satu-satunya permintaannya adalah bisa melihat aku menikah."
Kesedihan di mata Kyuhyun bukanlah sandiwara, lelaki itu benar-benar sakit dengan kondisi ibunya. "Aku tidak mungkin menolak permohonan eomma kan? Akan hidup dengan penyesalan yang mendalam kalau sampai eomma meninggal dan aku tidak bisa melakukan amanat satu-satunya darinya."
Eunhyuk mengusap air matanya dengan pedih, membiarkan dirinya dipeluk oleh Kyuhyun. Sementara itu, Jinki mengamati Kyuhyun dan Eunhyuk secara bergantian.
"Apakah… Apakah kalian yakin? Aku tidak tahu seberapa lama dan seberapa dalam hubungan kalian berdua. Meskipun aku sangat senang kalian bersatu, tapi pernikahan mempunyai dasar pertimbangan lain selain cinta dan pemenuhan amanat untuk orang lain. Pernikahan adalah komitmen seumur hidup. Untuk selamanya kalau bisa," gumam Jinki, mencoba mencari jawaban dari ekspresi dua manusia di depannya.
Wajah Eunhyuk memucat, tetapi tidak bisa berkata-kata. Jinki benar, pernikahan adalah hal yang sangat serius untuk dilakukan. Mereka melakukan janji di hadapan Tuhan, dan itu bukan main-main. Selain itu, jangankan komitmen seumur hidup, mereka bahkan tidak mempunyai cinta satu sama lain yang bisa mendukung komitmen itu. Apa yang harus dia lakukan? Dia menyetujui sandiwara ini dari awal dan kemudian terseret arus, tidak bisa kembali lagi.
Kyuhyun merangkul Eunhyuk dengan sebelah lengannya.
"Tidak apa-apa. Kami saling mencintai," jawab Kyuhyun tegas, mengetatkan rangkulannya untuk menegaskan maksudnya.
"Aku akan menemui ibumu Eunhyuk-ah, untuk meminta izin."
"Jadi begitu ceritanya eommonim. Mohon maaf saya mendesak secara mendadak seperti ini. Tetapi kondisi eomma sayalah alasan satu- satunya saya mempercepat pernikahan ini, meskipun resepsi akan tetap dilaksanakan empat bulan lagi."
Eomma Eunhyuk menatap Kyuhyun yang begitu serius dengan permintaannya. Sebagai seorang eomma, tentu saja dia kaget anaknya dilamar mendadak seperti ini. Oh. Eomma Kyuhyun dan Kyuhyun sendiri pun sudah menemuinya minggu kemarin, untuk membicarakan persiapan pernikahan. Tetapi itu untuk pernikahan empat bulan lagi, bukannya pernikahan dadakan besok pagi. Dengan lembut, eomma Eunhyuk melirik ke arah putri satu-satunya yang dari tadi tidak bersuara, sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Hyukkie, eomma terserah padamu, karena kau yang menjalaninya."
Eunhyuk meringis. Bagaimana bisa dia terjebak dalam situasi ini? Sepanjang jalan ke rumah tadi, Eunhyuk ingin meledak pada Kyuhyun, marah karena ditempatkan dalam posisi seperti ini tanpa rencana. Tetapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa pada Kyuhyun, karena Jinki ikut bersama mereka untuk mengambil baju ganti sebelum kembali ke rumah sakit lagi, sementara Key masih di rumah sakit, berjaga menunggui eommanya.
"Eunhyuk sudah setuju dengan saya eommonim, toh kami memang sudah berencana menikah, benarkan Eunhyuk-ah?" Sela Kyuhyun cepat, mencegah Eunhyuk mengeluarkan penolakan sehingga Eunhyuk hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah.
Eomma Eunhyuk menghela napas panjang, "baiklah Hyukkie, eomma memberikan restu. Eomma yakin, pernikahan ini bertujuan baik, dan semua yang bertujuan baik pasti akan berujung baik."
"Noona yakin?" Jinki mendekatinya, ketika Eunhyuk sedang melangkah memasuki kamarnya.
Jinki sudah membawa tas ransel berisi beberapa baju ganti dan selimut. Lelaki itu akan menemani Key menginap di ruang tunggu ICU sambil menunggu eomma Kyuhyun bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Dia sudah akan berangkat lagi ke rumah sakit diantar Kyuhyun. Kyuhyun sendiri belum bisa menginap di rumah sakit, dia harus mempersiapkan segala urusan untuk pernikahan dadakan itu di pagi harinya, baru mungkin dini hari nanti dia akan menyusul Key dan menggantikan adiknya menunggui eommanya.
Eunhyuk menatap mata adiknya, ada kecemasan di sana. Eunhyuk tahu pikiran Jinki terlalu tajam dalam melihat semua ini. Jinki pasti merasa semua terlalu cepat, dan dia terlalu mengenal noonanya untuk mengabaikan kecemasan yang berkecamuk di dalam hati Eunhyuk.
Sambil tersenyum pada adiknya, Eunhyuk menganggukkan kepalanya, "Pernikahan ini adalah jalan yang terbaik," gumamnya.
Jinki menatap Eunhyuk tajam, mencoba menembus mata noonanya.
"Apakah… Apakah ada yang kau rahasiakan padaku?"
Eunhyuk langsung menatap Jinki waspada. Apakah sandiwara mereka begitu kelihatan di mata Jinki? "Kenapa kau berpikiran seperti itu?"
Jinki mengangkat bahunya, tersenyum miris, "entahlah noona."
Senyumnya berubah menjadi permintaan maaf, "maafkan aku, bukannya aku tidak percaya akan cinta kalian, tapi ini semua terlalu cepat. Aku bahkan tidak menyangka Kyuhyun hyung mau berkomitmen pada seseorang, Key selalu cerita kalau oppanya sangat menghindari pernikahan, dia selalu ingin menjadi lelaki bebas. Lamarannya tadi, aku takut dia terlalu tergesa-gesa karena dorongan hatinya ingin menyenangkan eommanya. Kalau yang dilamarnya bukan noona, mungkin aku akan tenang-tenang saja. Tetapi kau, noonaku, dan aku sangat menyayangimu. Aku tidak ingin ada penyesalan nantinya."
Eunhyuk merasakan matanya panas dan berkaca-kaca. Ingin rasanya dia mengungkapkan semuanya pada adiknya, yang sangat disayanginya. Tetapi dia tidak bisa. Jinki akan merasa sangat bersalah, karena sandiwara dengan skenario yang kacau ini asal mulanya adalah demi kebahagian Jinki dan Key.
"Noona sudah siap Jinki-ya, kau jangan mencemaskan noona ya."
"Apakah kau mencintai Kyuhyun hyung?" Jinki berdehem salah tingkah. "Maksudku, Kyuhyun hyung memang sangat mudah dicintai dengan berbagai kelebihannya itu, tapi apakah noona benar-benar mencintainya untuk hidup bersamanya dalam satu pernikahan?"
Bagaimana mungkin? Eunhyuk meringis kesal. Kyuhyun tidak mudah dicintai. Lelaki itu arogan, angkuh dan suka memaksakan kehendak. Tapi Eunhyuk bisa apa? Semoga Tuhan memaafkannya karena melakukan perjanjian palsu untuk menikah. Semoga Tuhan mengerti bahwa ada alasan baik di balik sandiwara yang berujung tak terduga ini.
"Noona mencintainya Jinki-ya." Eunhyuk berbohong dengan lancar. "Tenang saja, seperti kata eomma tadi, apapun yang dilakukan dengan tujuan baik, pasti akan berujung baik."
Mereka menikah pagi itu di rumah sakit. Kondisi eomma Kyuhyun sudah membaik sehingga bisa dipindah ke ruang rawat inap yang luas dan lebih privat. Pernikahan itu sederhana, hanya dihadiri oleh beberapa perwakilan keluarga kedua belah pihak sebagai saksi. Semua berlangsung begitu cepat, tiba-tiba saja Kyuhyun sudah memakaikan cincin pernikahan itu. Cincin dengan berlian besar yang ditolaknya kemarin, ke jemarinya, dan mereka sudah sah sebagai suami istri.
Eomma Kyuhyun tampak lemah dan pucat, tetapi senyum bahagianya memancar ketika dia meremas jemari Eunhyuk, dan mengucapkan terima kasih dengan lemah, air mata menetes dari mata indahnya, membuat jantung Eunhyuk serasa ditusuk- tusuk oleh rasa bersalah. Tuhan, seandainya saja eomma Kyuhyun tahu ini semua hanya sandiwara, betapa hancurnya perasaannya.
Key pun memeluknya dengan rasa terima kasih dan kasih sayang persaudaraan yang tulus, membuat Eunhyuk semakin sesak dadanya. Semua orang berterima kasih padanya, tetapi kenapa rasa bersalah tetap menggelayutinya, rasa bersalah dan ketakutan tersembunyi. Ketika dia menyadari bahwa dia sudah menjadi istri sah Kyuhyun.
Eunhyuk diantarkan masuk oleh petugas kamar hotel mewah di dekat rumah sakit tempat eomma Kyuhyun di rawat. Kyuhyun sengaja memesankan kamar untuk bulan madu mereka di sana, karena tempatnya dekat dengan rumah sakit sehingga mereka bisa bergegas ke sana kalau-kalau ada apa-apa.
Eunhyuk duduk di sofa di kamar itu dengan gugup, sambil menatap Kyuhyun yang melepas jasnya dan melemparkan dasinya ke kursi. Inilah kesempatan pertama kalinya mereka bisa berdua saja. Sebelumnya selalu banyak interupsi, dan Kyuhyun begitu sibuk mempersiapkan pernikahan dadakan ini sehingga susah ditemui. Bahkan tadi pagi Eunhyuk baru melihatnya pertama kali, beberapa menit sebelum pernikahan dilangsungkan.
"Kita harus bagaimana?" Gumam Eunhyuk lemah pada akhirnya.
Kyuhyun menghempaskan tubuhnya di sofa diseberang Eunhyuk. "Maafkan aku menempatkanmu pada situasi sulit seperti ini." Dengan frustasi dia mengusap wajahnya. "Aku juga tidak menyangka akan berujung seperti ini."
Eunhyuk menghela napas panjang dan menatap Kyuhyun dalam. "Apakah kita bisa mengurus perceraian dengan mudah nantinya?" Dan dia akan menyandang status janda di usianya yang masih muda. Perceraian itu mungkin mengandung konsekuensi yang sangat berat, selain pandangan masyarakat, belum lagi berbagai pertanyaan dari keluarganya nantinya, bagaimana mungkin Eunhyuk bisa menghadapinya? Tatapan Kyuhyun tampak mengeras.
"Jangan bicarakan perceraian dulu. Kita jalani saja pernikahan ini dengan sebaik-baiknya dulu. Semoga nanti ada jalan keluar," suara Kyuhyun berubah serius. "Aku berjanji Eunhyuk-ah, selama menjadi suamimu, aku akan menghormatimu sebagai istriku."
Eunhyuk menelan ludahnya, apa maksud Kyuhyun dengan menjalani pernikahan ini dengan sebaik-baiknya? Apakah mereka juga harus? Pipi Eunhyuk memerah. Kyuhyun tampaknya memahami ekspresi Eunhyuk itu, senyumnya tampak miris.
"Tidak Eunhyuk-ah, jangan takut. Aku tidak akan menyentuhmu, jika itu yang kau takutkan." Tanpa sadar Eunhyuk menghela napas lega. Pernikahan ini sudah terasa seperti ikatan yang menyesakkan dada. Eunhyuk tidak akan bisa menanggungnya kalau mereka harus lebih terikat lagi.
"Apakah kita akan tidur bersama dalam satu kamar nantinya?" tanya Eunhyuk was-was.
Kyuhyun melemparkan tatapan meminta maaf pada Eunhyuk. "Ya Eunhyuk-ah, kita akan tidur bersama, setelah eomma pulang, kau akan ikut pindah ke rumahku, tinggal di kamarku, dan tidur seranjang denganku, kita harus melakukannya. Kalau tidak, akan muncul gosip di kalangan pelayan yang mungkin akan sampai ke telinga eommaku. Jangan takut."
Kyuhyun menyadari ekspresi Eunhyuk yang berubah pucat. "Aku tidak akan berbuat tidak senonoh padamu, aku berjanji. Eunhyuk menghela napas lega, tetapi rupanya Kyuhyun belum selesai dengan ucapannya.
"Kecuali kalau kau yang meminta padaku."
Ucapan susulan Kyuhyun itu langsung mendapat hadiah pelototan mata dari Eunhyuk.
"Aku cuma bercanda." Gumam Kyuhyun terkekeh geli sambil menatap Eunhyuk. "Tetapi aku sungguh-sungguh Eunhyuk-ah, kalau kau yang memintanya, aku pasti tidak akan menolak untuk melakukan sesuatu yang lebih." Suaranya berubah sensual.
Eunhyuk menatap Kyuhyun dengan pipi merah padam dan napas terengah, merasa malu sekaligus marah.
"Itu hanya akan terjadi dalam mimpimu!" Serunya mantap kemudian, dan disambut dengan gelak tawa Kyuhyun. Kurang ajar sekali lelaki itu!
Dalam seminggu, eomma Kyuhyun sudah boleh pulang, wajahnya masih pucat dan lemah meskipun tampak lebih sehat dari terakhir kali keluar dari rumah sakit.
"Eomma sudah tidak sabar mempersiapkan resepsi pernikahan kalian," sang eomma tersenyum ketika Kyuhyun merebahkannya di atas ranjang.
"Istirahatlah dulu saja eomma, eomma harus lebih kuat lagi. Toh kami sudah menikah, jadi resepsi pernikahan hanyalah syarat saja," suara Kyuhyun terdengar serak.
Eomma Kyuhyun tersenyum lembut dan menggenggam jemari Kyuhyun. "Terima kasih sayang, terima kasih. Eomma merasa tenang dan bahagia sekali dengan pernikahan kalian. Eomma sangat menyayangimu dan ingin kau bahagia, kau tahu itu kan", dengan lembut sang eomma mengusap dahi Kyuhyun. "Kau adalah anakku yang sangat kucintai, detik itu, ketika aku menggendong bayimu yang menangis keras-keras, aku sudah menasbihkanmu di dalam hatiku sebagai anak laki-lakiku."
Kyuhyun tersenyum lembut dan mengecup dahi eommanya. "Istirahatlah eomma sayang, aku juga sangat mencintaimu."
Ketika eommanya tertidur kemudian, Kyuhyun melangkah keluar kamar dengan tergesa-gesa, hampir tersandung, membuat Eunhyuk cemas dan mengikutinya keluar.
"Cho Kyuhyun ada apa?" Eunhyuk berdiri, menatap Kyuhyun yang berpegangan pada pegangan tangga di luar kamar. Punggung Kyuhyun tampak bergetar. Dengan gugup, Eunhyuk mendekat, dan menyentuh pundak Kyuhyun.
"Hei, kau kenapa?" Lalu secepat kilat, tanpa diduga, Kyuhyun membalikkan badan dan merengkh tubuh Eunhyuk kuat-kuat, memeluknya seakan ingin meremukkan tulangnya. Tubuh Eunhyuk terasa sakit, tetapi ditahannya ketika merasakan isakan Kyuhyun tenggelam di rambutnya.
Ah ya Tuhan, lelaki arogan ini menangis di pelukannya. Dengan lembut, Eunhyuk melingkarkan lengannya di punggung Kyuhyun, mengusapnya lembut, membiarkan lelaki itu menumpahkan perasaannya.
"Dokter bilang…" suara Kyuhyun terdengar serak dan tersengal, "Dokter bilang eomma sudah tidak bisa bertahan lagi." Lalu isak tangis itu terdengar lagi.
Eunhyuk memeluk Kyuhyun kuat kuat, mencoba menyalurkan kekuatan pada lelaki itu. Lelaki yang sebenarnya tidak begitu dikenalnya, tetapi sekarang sudah menjadi suaminya.
Lama Kyuhyun menumpahkan perasaannya, sampai kemudian lelaki itu mengangkat kepalanya dari rambut Eunhyuk, matanya tampak basah. Ditatapnya Eunhyuk dengan lembut, "gomawo Eunhyuk-ah."
Tiba-tiba perasaan hangat menjalari dada Eunhyuk, menemukan sisi Kyuhyun yang rapuh ini ternyata menghangatkan perasaannya. Lalu tiba-tiba tatapan Kyuhyun meredup, lelaki itu kemudian mendekatkan kepalanya dan mengecup dahi Eunhyuk, sebelum Eunhyuk sempat menghindar. Kecupan yang lembut dan sopan, tapi entah kenapa membuat tubuhnya seperti tersengat listrik ketika menerimanya. Lelaki itu lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi tanpa kata, meninggalkan Eunhyuk yang berdiri di sana sambil merasakan panas membara di bekas kecupan Kyuhyun di dahinya.
"Jadi malam ini kita tidur bersama?" Eunhyuk memandang Kyuhyun yang baru selesai mandi, rambutnya basah dan lelaki itu sedang menggosoknya dengan handuk. Mereka ada di dalam kamar Kyuhyun sekarang. Kamar Eunhyuk juga, koreksi Eunhyuk dalam hati.
"Tentu saja." Kyuhyun meletakkan handuknya, "kau ingin aku tidur di sofa." Betapa baiknya lelaki itu menawarkan itu padanya.
Eunhyuk melirik sofa lembut yang ada di ujung kamar Kyuhyun, sofa itu besar dan tampak nyaman. Tetapi dia sangat tidak berperasaan kalau mengusir Kyuhyun dari ranjangnya sendiri.
"Aku saja yang tidur di sofa", gumam Eunhyuk kemudian.
"Tidak." Reaksi Kyuhyun begitu cepat, lelaki itu mengerutkan dahinya tersinggung, "kau pikir aku laki-laki seperti apa Eunhyuk-ah? Membiarkan seorang gadis, istriku sendiri tidur di sofa sementara aku di ranjang?" Kyuhyun menghela napas panjang. "Kita tidur di ranjang bersama-sama, seperti rencana semula dan aku janji tidak akan mengganggumu."
Lalu tanpa kata Kyuhyun mematikan lampu besar dan membiarkan kamar diterangi cahaya temaram lampu tidur. Dan kemudian melangkah ke sisi lain ranjang, membaringkan tubuhnya membelakangi Eunhyuk dan menarik selimutnya. Hening.
Eunhyuk mendengar napas Kyuhyun yang teratur. Sejenak dia meragu, tetapi dia mengantuk. Akhirnya setelah menghela napas panjang, Eunhyuk berbaring di sisi ranjang yang satunya, berusaha sejauh mungkin dari Kyuhyun. Kantuk kemudian langsung membawanya lelap, hingga dia hanyut dalam mimpinya. Eunhyuk sangat lelap sehingga tidak menyadari beberapa saat kemudian, ketika Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan menopang kepalanya dengan jemarinya. Matanya mengamati Eunhyuk dalam keheningan yang misterius.
Siang itu Eunhyuk sedang menunggui eomma Kyuhyun di kamarnya, mereka sedang membicarakan mengenai dekorasi resepsi dan persiapannya.
"Nuansa emas akan sangat cocok untuk pernikahan kalian," eomma Kyuhyun tersenyum. "Terima kasih sudah membuatku begitu tenang. Kau membuatku bisa meninggalkan dunia ini dengan mudah, mengetahui bahwa anak-anakku sudah menemukan pasangan hidupnya masing-masing."
Rasa bersalah langsung mendera Eunhyuk, menyadari bahwa mereka telah membohongi eomma Kyuhyun, wanita yang sedang sakit dan berjuang untuk hidupnya. Apakah hal ini bisa dibenarkan? Sebuah kebohongan dengan alasan demi kebaikan? Kalau memang ini benar, kenapa hati Eunhyuk dipenuhi oleh rasa bersalah?
"Eomma jangan begitu, Eunhyuk yakin eomma akan menghabiskan lebih banyak waktu lagi bersama kami. Asal eomma mempunyai semangat." Gumam Eunhyuk lembut.
Eomma Kyuhyun mendesah dan menggelengkan kepalanya, "aku sudah merasakannya, Eunhyuk-ah. Tubuhku sudah lelah… Tidak perlu diagnosa dokter untuk mengetahui bahwa umurku tidak akan lama lagi."
"Eomma…. " Eunhyuk mencoba berbicara, tetapi eomma Kyuhyun menggeleng dan menahannya.
"Jangan menghiburku." Gumamnya lembut, "aku sudah siap. Satu hal yang eomma minta darimu, Hyukkie. Bahagiakanlah Kyuhyun, anak itu sudah menderita karena cinta di masa lalunya, kaulah satu-satunya hal yang menyangkut cinta yang bisa di pegangannya." Eomma Kyuhyun menggenggam tangan Eunhyuk dengan lembut, "berjanjilah untuk terus ada di samping Kyuhyun dan membahagiakannya."
Napas Eunhyuk tercekat di tenggorokannya, dia bingung harus berkata apa. Di satu sisi kalau dia berjanji, maka itu akan menjadi sebuah kebohongan terbesarnya. Tetapi di sisi lain, Eomma Kyuhyun saat ini sedang menatapnya penuh harap, menanti jawaban Eunhyuk, demi ketenangan hatinya. Akhirnya Eunhyuk menghela napas panjang dan menatap ibu mertuanya. Eunhyuk berjanji eomma."
Di dalam hatinya Eunhyuk berdoa, semoga Tuhan mengampuninya karena telah membohongi wanita sebaik ini, atas nama kebaikan.
Ketika Eunhyuk sedang memberi nilai pada gambar hasil karya anak didiknya, pintu ruangan kelasnya diketuk. Eunhyuk memang tidak berniat untuk pulang cepat, dia menunggu Kyuhyun menjemputnya, lelaki itu sekarang mengantar jemputnya setiap Eunhyuk bekerja, dan tidak mengizinkan Eunhyuk naik kendaraan umum lagi. Ketika Kyuhyun sedang sibuk dengan pekerjaannya, dia akan mengirimkan supir.
Pernikahan ini sudah berjalan hampir dua minggu, dan mereka baik-baik saja. Kyuhyun mengajak Eunhyuk tinggal di rumahnya bersama eommanya dan Key. Mereka tidur seranjang meskipun Kyuhyun menepati janjinya untuk tidak menyentuhnya.
Pada malam-malam pertama tentunya terasa canggung, Eunhyuk tidak pernah seranjang dengan lelaki manapun seumur hidupnya, kecuali dengan Jinki, itupun ketika mereka masih berumur 7 tahun. Ketika tanpa sengaja kaki atau lengan mereka bersenggolan, Kyuhyun akan segera meminta maaf dengan canggung, lalu mereka akan bergeser dengan cepat masing- masing di ujung sisi ranjang yang berseberangan. Tetapi lama kelamaan mereka terbiasa, mereka akan mengucap selamat tidur tanpa kata, lalu menempati posisi masing-masing, sambil berusaha tidak menyentuh satu sama lain di ranjang itu.
Setidaknya setelah Kyuhyun menangis di pelukannya waktu itu, Eunhyuk menemukan sisi positif dalam diri Kyuhyun. Lelaki itu memang arogan, angkuh dan suka memaksakan kehendaknya. Tetapi dia juga lelaki yang bertanggung jawab, yang sangat mencintai eomma dan adik perempuannya. Eunhyuk bisa memahami itu karena dia juga begitu sayang dengan ibunya dan Jinki.
Ponsel di tangannya berdering. Dan Eunhyuk melirik ke layarnya, lalu mengernyitkan matanya, Changmin? Eunhyuk masih menyimpan nomor Changmin di ponselnya ternyata, dan ini nomor yang sama, yang berdering dan membuat layar ponselnya terus berkedip-kedip, tak mau menyerah. Eunhyuk mendiamkan ponsel itu, ragu. Tetapi Changmin di seberang sana tampak tak mau menyerah. Kenapa Changmin meneleponnya lagi? Sambil menghela napas panjang, Eunhyuk mengangkat telepon itu.
"Yeoboseyo…"
"Eunhyuk-ah ini aku…" suara Changmin terdengar serak dan tersiksa di seberang sana. "Aku dengar… Aku dengar kau sudah menikah dengan tuan Cho…" Apakah isakan Changmin yang terdengar di sana? "Aku tak kuat lagi Eunhyuk-ah, aku mau mati saja."
"Astaga Shim Changmin jangan bicara sembarangan!" Eunhyuk berseru kaget mendengar kalimat Changmin, suara diseberang sana tampak rapuh dan tidak main-main.
"Aku mencintaimu Eunhyuk-ah, aku sangat mencintaimu! Meskipun aku hanyalah pecundang lemah yang tak mampu melawan keluargaku, aku sangat mencintaimu. Aku tak kuat lagi menahan beban demi keluargaku, kau yang kucintaipun sudah menikah dengan lelaki lain, jadi untuk apa aku hidup?"
"Ya, Shim Changmin!" Eunhyuk bergumam tenang, berharap ketenangannya menular pada Changmin yang tampak histeris. "Tenangkan pikiranmu Changmin-ssi, kau ada di mana?"
"Aku akan mati saja. Sekarang aku ada di tempat perpisahan kita dua tahun yang lalu. Aku… Aku akan terjun dari jembatan itu… Selamat tinggal Eunhyuk-ah.."
"Ya! Shim Changmin! Jangan lakukan apapun! Aku akan kesana!" Eunhyuk meraih tasnya dengan cepat dan berlari menembus koridor taman kanak-kanak, dan bertabrakan dengan Kyuhyun yang sedang berjalan dari arah berlawanan.
"Eunhyuk-ah ada apa?" Kyuhyun menyentuh kedua lengan Eunhyuk yang panik.
Eunhyuk menahan napasnya yang tersengal, "Changmin, Changmin di taman kota… Mencoba bunuh diri… Lompat dari jembatan." Setiap kata-katanya berhamburan, bercampur dengan kepanikannya. Kyuhyun mencerna kalimat itu dalam sedetik, kemudian menggandeng Eunhyuk dan mengajaknya melangkah ke mobilnya yang diparkir di depan dengan setengah berlari.
"Ayo." Gumamnya, mendorong Eunhyuk duduk di kursi penumpang, lalu masuk ke kursi pengemudi dan melajukan mobilnya secepat kilat.
TBC
