Perjanjian Hati

Remake Story

Cast: Cho Kyuhyun, Lee Eunhyuk, Lee Jinki, (Kim) Cho Key / Kibum, etc.

Disclaimer: Cerita milik Santhy Agatha, aku mengubah beberapa adegan, nama latar tempat dan nama tokoh.

Warning: Genderswitch for uke

Happy reading

-o0o-

Aku pernah mencintaimu sampai terasa sakit luar biasa.

Sampai di titik sakitnya sudah tidak terasa lagi

Yang tersisa cuma cinta, yang terasa cuma cinta...

Meski akhirnya yang aku dapat hanyalah pengkhianatan...

-o0o-

Kyuhyun mengemudikan kendaraannya dengan kencang, mengumpat-ngumpat jika terkena kemacetan dan lampu merah, tapi selain itu perjalanan lancar. Sambil mengemudi Kyuhyun melirik ke arah Eunhyuk, yang meremas-remas tangannya dengan cemas sambil memandang ke depan.

"Apakah Changmin serius dengan kata-katanya?"

Eunhyuk menoleh menatap Kyuhyun yang sudah mengalihkan pandangannya lagi ke jalan.

"Dia... dia terdengar gila dan putus asa."

Kyuhyun menghela napas pendek. "Pasti gara-gara pernikahan kita." Lelaki itu mendengus kesal, "dasar laki-laki tidak punya otak."

"Jangan mengata-ngatai orang."

Kyuhyun menatap Eunhyuk marah

"Aku tidak salah bukan? Dia memang tidak punya otak, tidak punya hati dan pengecut luar biasa. Dulu ketika ada kesempatan dia tidak memperjuangkanmu, sekarang ketika jelas-jelas dia kalah yang dilakukannya hanya merajuk dan mengancam bunuh diri, benar-benar lelaki tak punya otak!", Kyuhyun mengencangkan laju mobilnya.

Eunhyuk terdiam, tidak bisa membantah kata-kata Kyuhyun karena semuanya mengandung kebenaran. Changmin dulu tidak berbuat apa-apa untuk memperjuangkannya. Lelaki itu hanya diam dan mencampakkannya dalam kehancuran. Sekarang, ketika Eunhyuk sudah dimiliki oleh lelaki lain, Changmin menggila. Kenapa Changmin melakukan ini semua? Benarkah ini didasari cinta Changmin yang masih tersimpan untuknya? Atau ini hanyalah estimasi cemburu buta yang merenggut kewarasan lelaki itu?

Taman kota itu tampak lengang, begitu Kyuhyun memarkir mobilnya di sana, Eunhyuk langsung keluar diikuti oleh Kyuhyun.

"Ke arah mana?" Tanya Kyuhyun sambil mensejajari langkah Eunhyuk.

Eunhyuk memandang ragu, sudah dua tahun berlalu sejak dia terakhir kali kemari. Terakhir kali dia di sini adalah di tengah hujan, saat Changmin mencampakkannya dua tahun lalu. Setelah itu jangankan kemari, memikirkannya pun Eunhyuk tidak berani.

Saat ini taman kota sudah berubah hingga Eunhyuk hampir tak mengenalinya. Di mana tempat dia dan Changmin sering menghabiskan waktu dulu?

"Eunhyuk-ah?" Kyuhyun menggeram, tak sabar.

Eunhyuk menelan ludah dan mengambil keputusan.

"Ke arah sana." Gumamnya sambil tergesa ke arah kanan, dengan Kyuhyun mengikutinya.

Changmin ada di sana, masih berpegang pada pagar kayu di jembatan itu. Jembatan setinggi lima meter, yang menghubungkan jurang dalam dengan aliran sungai berbatu di bawahnya. Salah satu keunggulan taman kota ini adalah pemandangan di atas jembatan ini. Dengan gemericik sungai dan air terjun buatan yang cukup mempesona, bagaikan harta karun alam tersembunyi di tengah hiruk pikuk polusi dan kesibukan kota.

Tetapi sekarang Eunhyuk tidak sempat mengagumi pemandangan indah itu, matanya terpaku pada Changmin dan tampak cemas.

"Shim Changmin." Serunya dalam bisikan tertahan, takut kalau suaranya terlalu keras akan mengagetkan lelaki itu dan membuatnya terlompat.

Changmin yang semula menatap kosong ke bawah, menoleh perlahan dan menemukan Eunhyuk dan Kyuhyun di ujung jembatan. Matanya membara penuh tekad.

"Jangan mendekat!" serunya keras, "Atau aku akan lompat."

Eunhyuk berseru frustasi, bingung harus berbuat apa. Taman kota ini nampak sepi, disiang yang lengang ini. Syukurlah, kalau tidak pasti sudah ada keramaian menghebohkan di sini.

"Lompat saja kalau berani, aku pikir itu akan membuat Eunhyuk puas." Kyuhyun bergumam tenang tetapi cukup keras untuk di dengar Changmin.

Seketika Eunhyuk dan Changmin menatap Kyuhyun dengan kaget.

"Cho Kyuhyun…!" Eunhyuk mendesis mencoba memperingatkan lelaki itu agar tidak memperkeruh suasana, tetapi Kyuhyun hanya mengedikkan bahunya tak peduli, lelaki itu menatap Changmin yang tengah menatapnya dengan senyum mengejek.

"Lompat saja Shim Changmin, aku menunggu disini, untuk melihat sampai dimana keberanianmu." Dengan sinis Kyuhyun tersenyum, "kau pikir kau lompat atau tidak akan berpengaruh pada Eunhyuk? Kau terlalu percaya diri. Eunhyuk kemari mencegahmu karena dorongan hatinya yang terlalu baik, tapi kenyataannya kau sudah tidak ada lagi di kehidupannya. Kau mau mati atau hidup, tidak ada untung ataupun ruginya bagi dia. Aku pribadi merasa terganggu dengan tingkahmu yang kekanak-kanakkan dan merepotkan ini, jadi cepat lompat saja dan mati sekalian, biar semua kerepotan ini usai."

Changmin menatap Kyuhyun marah, napasnya terengah-engah, penuh ketersinggungan.

"Kau tidak ada urusannya untuk mengomentari hubunganku dengan Eunhyuk, semua ini antara aku dan Eunhyuk, kau tidak berhak ikut campur!". Serunya emosi

Kyuhyun mengangkat alisnya.

"Tidak berhak ikut campur?" Dengan sengaja dia merangkul Eunhyuk supaya merapat padanya, "Eunhyuk adalah istriku. Dan jika ada lelaki gila yang mengganggu dan mengancam akan bunuh diri karenanya, maka aku berhak ikut campur." Tatapan Kyuhyun menajam dengan jahat. "Aku menyelidikimu Shim Changmin, aku tahu pasti masa lalumu dengan Eunhyuk, dimana kau mencampakkan gadisku ini dengan kejam. Baiklah... sebenarnya masa lalu itu urusan kalian berdua, tapi kalau sampai masa sekarang, kau masih merecoki Eunhyuk, aku akan turun tangan. Dan ketika aku turun tangan, itu berarti kehancuran bagi kau dan keluargamu"

Changmin menatap Kyuhyun, menelan ludah dan tampak meragu, rupanya baru menyadari situasinya.

"Jadi silahkan kalau kau mau bunuh diri dan mati di bawah sana. Tetapi jangan ikut-ikutkan istriku dalam permasalahanmu. Jangan pernah berani-beraninya lagi kau mengganggu istriku." Kyuhyun membalikkan badan, dan menyeret Eunhyuk bersamanya. "Ayo Eunhyuk-ah, kita pergi. Yang penting kita sudah mengutarakan maksud kita. Biarkan dia mengambil keputusannya sendiri."

Dengan sedikit memaksa Kyuhyun menyeret Eunhyuk agar mengikuti langkahnya. Eunhyuk mencoba memberontak dan melepaskan pegangan Kyuhyun, tetapi lelaki itu mencengkeramnya dengan begitu kuat sampai terasa sakit, sampai akhirnya Eunhyuk menyerah dan mengikuti langkah Kyuhyun. Sempat dia menoleh ke belakang dan melihat Changmin masih termenung di jembatan.

Ya Tuhan, semoga Changmin tidak melompat. Desahnya dalam hati sambil memejamkan mata.

Kyuhyun membukakan pintu untuk Eunhyuk lalu membanting pintu itu setelah Eunhyuk masuk dan dengan sigap melangkah ke kursi pengemudi dan melajukan mobilnya, membawa Eunhyuk meninggalkan taman kota itu.

"Kupikir kau mengebut mengantarku ke taman kota tadi untuk membantuku mencegah Changmin melompat." Desis Eunhyuk kesal, ketika mereka sudah memasuki jalan raya yang ramai, "tak ku sangka kau malah datang untuk menyuruhnya lompat."

Kyuhyun terkekeh dan mengedikkan bahunya ke arah Eunhyuk

"Dia pantas menerimanya."

Eunhyuk menelan ludah. "Bagaimana kalau dia benar-benar melompat?"

Tawa Kyuhyun makin keras, meremehkan.

"Changmin? Melompat? Aku berani bertaruh dia tidak akan mampu melakukannya, dia terlalu pengecut untuk itu. Yang dia lakukan hanyalah menggertak. Dia hanya ingin kau datang, lalu dia akan mengancam, dia akan membuatmu memohon kepadanya agar tidak melompat, pada akhirnya, kau akan berjanji menuruti semua kemauannya." Kyuhyun mendengus kesal. "Aku tahu persis tipikal lelaki pengecut macam dia Eunhyuk-ah, kau harus berhati-hati." Jeda sejenak, kemudian Kyuhyun bertanya, "apakah kau masih mencintainya?"

Eunhyuk tertegun. Apakah dia masih mencintai Changmin? Melihat Changmin di jembatan tadi, rapuh, tak berdaya dan putus asa, membuat hati Eunhyuk serasa diremas. Tetapi apakah itu cinta? ataukah itu hanya rasa kasihan? Eunhyuk tidak tahu, dia tidak bisa menjawab.

Dan Kyuhyun sepertinya juga tidak mengejar jawaban darinya. Lelaki itu mengalihkan pandangannya lagi ke jalan dan melajukan kendaraannya pulang.

"Mau kemana?"

Eunhyuk hampir saja terlonjak kaget ketika mendengar suara Kyuhyun muncul dari kegelapan lorong. Dia hendak keluar bersama Jinhee, teman mengajarnya di Taman kanak-kanak. Mereka berdua seumuran dan sama-sama suka membaca buku, biasanya di hari sabtu sore mereka keluar berdua untuk makan, bersantai dan berburu buku-buku bekas di pasar buku yang sangat sering mereka datangi. Sejak Eunhyuk menikah, mereka tidak melakukannya lagi, tapi tadi Jinhee menelepon dan mengajaknya, dan karena rumah sedang sepi karena Key sedang mengajak ibunya periksa di rumah sakit, Eunhyuk memutuskan untuk pergi bersama Jinhee.

Biasanya Kyuhyun belum pulang jam-jam segini. Lelaki itu selalu pulang larut dari pekerjaannya, jam sembilan atau jam sepuluh malam baru sampai ke rumah, sementara sekarang masih jam lima sore.

Eunhyuk menatap Kyuhyun yang tampak lelah. Lelah tetapi tetap tampan, dia masih mengenakan setelan jas dengan dasi sudah dilonggarkan dan rambut yang sedikit acak-acakan.

"Eh... aku ada acara dengan temanku." Jawab Eunhyuk segera setelah debar dihatinya mereda melihat ketampanan Kyuhyun.

Lelaki itu mengangkat alisnya,

"Acara? Malam minggu? Dengan laki-laki?"

Eunhyuk merasa tersinggung, sebenarnya lebih mudah kalau dia langsung menjelaskan kalau dia pergi dengan teman perempuannya. Tetapi nada arogan di suara Kyuhyun membuat harga dirinya tergelitik. Lelaki itu tidak berhak mengatur-atur dengan siapa dan kapan dia akan menghabiskan waktunya.

"Apa bedanya kalau dengan laki-laki atau perempuan?"

"Tidak boleh kalau dengan laki-laki." Suara Kyuhyun datar, tapi mengancam. Hal itu malah membuat Eunhyuk semakin tersulut kemarahannya.

"Aku berhak pergi dengan siapapun yang aku mau. Kau memang suamiku, tetapi hanya di atas kertas. Kau tidak punya hak-hak sebagai suami yang semestinya padaku, karena pernikahan kita hanya sebatas perjanjian!"

"Hati-hati dengan perkataanmu Eunhyuk-ah, jangan mengancamku. Kau akan menyesal kalau aku sampai marah."

Memangnya siapa dia sampai aku harus ketakutan padanya? Eunhyuk berseru dalam hati, dilumuri oleh rasa marahnya. Meskipun tidak dapat disangkal, ada sebersit ketakutan yang muncul jauh dalam hatinya mendengar ancaman Kyuhyun itu.

"Aku tidak peduli kau marah atau tidak. Aku manusia bebas dan kau tidak berhak melarangku!", Eunhyuk menghentakkan kakinya dan berjalan melewati Kyuhyun, tetapi lelaki itu dengan cepat meraih siku Eunhyuk dan mencengkeramnya.

"Katakan dulu kau pergi dengan laki-laki atau perempuan."

"Bukan urusanmu."

"Aku berhak tahu, aku suamimu."

"Kau cuma suami sandiwara!", Eunhyuk meronta mencoba melepaskan cengkeraman Kyuhyun di sikunya, tetapi pegangan itu begitu eratnya hingga usaha Eunhyuk sia-sia. "Lepaskan aku!"

"Tak akan kulepaskan hingga kau menjelaskan dengan siapa kau pergi dan apa keperluanmu."

"Aku pergi dengan teman mengajarku, Jinhee! Dia perempuan! Puas?!", Eunhyuk menjerit, dipenuhi rasa frustasi atas sikap kasar dan arogan Kyuhyun.

Dalam sedetik, lelaki itu melepaskan pegangannya, membuat Eunhyuk bisa berputar secepat kilat dan melemparkan telapak tangannya ke pipi Kyuhyun, mendaratkan sebuah tamparan yang cukup keras di sana.

PLAK!

Kyuhyun terdiam. Sejenak suasana hening. Antara Eunhyuk yang menunggu penuh antisipasi dan Kyuhyun yang seolah tertegun karena tamparan itu.

Lalu pelan lelaki itu melemparkan pandangan menusuknya ke arah Eunhyuk.

"Berani-beraninya kau menamparku." desis Kyuhyun geram, membuat Eunhyuk gemetar tetapi bertahan. Dia tidak boleh takut pada lelaki ini, Kyuhyun adalah tipe penindas, sekali Eunhyuk mundur, lelaki itu akan mendesaknya sampai di titik Eunhyuk akan menyerah dan menuruti semua kemauannya. Eunhyuk tidak mau berakhir seperti itu. Kyuhyun harus sadar bahwa dia tidak bisa memperlakukan Eunhyuk sama seperti orang lain.

"Karena kau harus disadarkan." Seru Eunhyuk berusaha setegas mungkin. "Kau tidak punya hak apapun atas diriku. Pernikahan ini hanya sandiwara, begitu pula dengan hak dan kewajiban yang menyertainya!"

Kyuhyun menatap Eunhyuk dengan tatapan membunuh, lalu mensedekapkan tangannya.

"Terserah padaku mau memperlakukanmu seperti apa. Selama kau masih tercatat sebagai istriku, kau harus mengikuti aturan-aturanku."

"Persetan denganmu!", Eunhyuk membalikkan badan dengan marah dan segera melangkah pergi meninggalkan Kyuhyun yang masih berdiri di sana.

Sengaja malam itu Eunhyuk pulang larut dan mematikan ponselnya. Biar saja Kyuhyun marah besar padanya!

Diliriknya jam tangannya, sudah jam sepuluh malam. Dengan hati-hati Eunhyuk memasuki pintu rumah itu. Tidak biasanya suasana ruang tamu gelap, dan sepi. Begitupun ruang keluarga. Biasanya sampai malampun, sudah terang benderang. Apakah semua orang sudah tidur?

Eunhyuk melangkah memasuki kamarnya dan Kyuhyun, kamar itu kosong, tidak ada tanda-tanda orang di sana. Dengan ragu dia meletakkan tasnya, kemudian meraih ponsel yang dia matikan.

Sambil menghela napas panjang Eunhyuk duduk di ranjang, perasaannya terasa tidak enak, dinyalakannya ponsel itu.

Layar putih itu tampak berkedip-kedip kemudian memunculkan pemberitahuan. Bahwa dia telah dihubungi hampir tiga puluh kali dari nomor Kyuhyun dan mendapat dua puluh pesan kakaotalk selama ponselnya tidak aktif.

Sambil mengernyitkan keningnya Eunhyuk membuka pesan itu, dasar lelaki maniak, gerutunya memikirkan sempat-sempatnya lelaki itu mengganggu acaranya dengan mengiriminya pesan dan menghubunginya berkali-kali.

Tetapi kemudian kernyitannya berubah menjadi panik ketika menyadari bahwa semua pesan Kyuhyun bertuliskan hal yang sama.

"Kau di mana? Eomma masuk rumah sakit. Eomma kondisinya sudah kritis."

Eunhyuk langsung meraih kembali tasnya dan berlari menuruni tangga.

Langkah-langkah kaki Eunhyuk terdengar jelas di lorong rumah sakit yang sepi itu. Dia sampai di ruang ICU dan menemukan Key sedang menangis terisak-isak di pelukan Jinki.

"Noona, kau kemana saja." Jinki langsung berseru ketika melihat Eunhyuk. 'Kami semua mencoba menghubungimu, tetapi tidak bisa."

"Maafkan aku." Permintaan maaf Eunhyuk terucap dari lubuk hatinya. Ah, berapa bodohnya dia! Perbuatan kekanak-kanakannya karena marah pada Kyuhyun ternyata merepotkan semua orang. "Bagaimana keadaan eomma?"

Jinki mengetatkan pelukannya pada Key yang terisak semakin keras dan menggeleng sedih, "Eomma sudah meninggal setengah jam yang lalu."

Dan detik itu juga, hati Eunhyuk dipenuhi penyesalan yang mendalam, mencengkeramnya dan mengancam akan menenggelamkannya ke ujung dunia.

"Eunhyuk eonni." Key mendekati Eunhyuk ketika mobil mereka memasuki gerbang rumah, dia kelihatan sedih dan pucat. Tentu saja, siapa yang tidak sedih ketika kehilangan ibunya?

"Iya Key?" Eunhyuk berusaha selembut mungkin, mengingat berapa rapuhnya Key saat ini. Mereka ada di kursi belakang mobil Jinki yang sedang mengemudi. Sementara Kyuhyun masih di pemakaman, menyelesaikan semua urusan sebelum nanti menyusul pulang.

"Kyuhyun oppa, aku harap eonni bisa membantunya."

Eunhyuk mengernyitkan keningnya, Membantu Kyuhyun? Dalam hal apa? Lelaki itu tampak begitu tegar, bahkan kemarin ketika dia akhirnya melihat Eunhyuk menyusul kerumah sakit, lelaki itu hanya mengangkat alisnya, dengan wajah datar seperti batu. Dan wajah itu yang terus dipakai Kyuhyun sampai sekarang hingga proses pemakaman usai. Tidak ada air mata, tidak ada emosi dan ekspresi apapun yang menyiratkan kepedihan. Wajahnya keras, seperti batu.

"Dia memang tampak tegar di luar." Key bergumam, seperti bisa membaca pikiran Eunhyuk, 'tapi dia rapuh eonni... dia selalu begitu ketika terpuruk, selalu membangun benteng kokoh di sekelilingnya supaya tidak ada orang lain yang bisa memasuki dan melihat jiwanya yang rapuh", Key meringis. "Mungkin eonni belum tahu, kalau Kyuhyun oppa sebenarnya pernah hancur karena pengkhianatan."

Eunhyuk menoleh dan menatap Key penuh ingin tahu. "Pengkhianatan?"

Key menganggukkan kepalanya. "Ya... Dulu Kyuhyun oppa punya seorang kekasih, kekasihnya adalah perempuan yang sangat dicintainya. Namanya Sohyun. Mereka sudah berpacaran lama dan sangat cocok. Oppa tampak sangat bahagia waktu itu, beda dengan yang sekarang, dia banyak tertawa, jahil, suka bercanda." Key tersenyum, tampak mengenang. "Lalu Kyuhyun opp memutuskan untuk memperkenalkannya pada Appa kami." Key mendesah, "appa kami adalah seorang pebisnis yang sangat pandai dan arogan, meskipun begitu dia appa yang baik bagi keluarganya. Di makan malam perkenalan itu, dengan lantang appa mengajukan penawaran pada Sohyun. Jika Kyuhyun oppa menikahi Sohyun, maka oppa akan kehilangan seluruh hak warisnya dan diusir dari rumah appa. Tetapi jika Sohyun mau meninggalkan Kyuhyun oppa, maka dia akan diberikan cek oleh appa senilai seratus juta won." Key menghela napas, "tentu saja appa hanya menggertak, beliau tidak mungkin mengusir Kyuhyun oppa dari rumah, beliau sangat sayang pada Kyuhyun, penawaran itu sebenarnya hanyalah ujian bagi Sohyun."

Eunhyuk menatap mata Key yang sedih, ingin tahu apa yang terjadi kemudian. Jinki yang sedang menyetir di depanpun tampak memasang telinga, mendengarkan.

"Sayangnya yang terjadi kemudian tidak kami duga. Sohyun menerima cek itu dan akhirnya meninggalkan Kyuhyun oppa."

Eunhyuk menelan ludah. Pengkhianatan semacam itu dan dilakukan di depan keluarganya pula. Pantas saja mengubah Kyuhyun menjadi orang yang begitu dingin, dia masih ingat perkataan Kyuhyun siang itu ketika lelaki itu menawarinya perjanjian sandiwara ini.

"Kau akan terkejut mengetahui berapa banyak yang akan menyambar umpan itu mentah-mentah."

Begitu ucapan Kyuhyun waktu itu, dengan nada pahit yang sekarang baru disadari Eunhyuk artinya.

"Hal itulah yang membuat Kyuhyun oppa menutup hatinya seperti sekarang ini eonni.", sambung Key parau. "Ketika Kyuhyun oppa akhirnya membuka hatinya untuk Eunhyuk eonni dan menikahi eonni, aku sangat bahagia, aku tahu betapa baiknya eonni, dan betapa eonni bisa membahagiakan Kyuhyun oppa." Key mendesah, "cuma aku sedikit cemas, setelah eomma meninggal, sikap Kyuhyun oppa sama persis seperti dulu ketika dikhianati Sohyun, dia memasang topeng datar dan dingin di wajahnya, di hatinya, membuat kita tidak bisa mendekatinya." Key menyusutkan air matanya, "aku sangat mencemaskannya eonni."

Eunhyuk memeluk Key yang terisak-isak ke dalam rangkulannya. Hatinya terasa hangat karena menerima pemahaman baru, bahwa Kyuhyun juga pernah merasakan sakitnya dikhianati, sama seperti dirinya.

"Aku membawakan sup hangat untukmu."

Malam sudah sepi dan semua orang sudah masuk ke kamar tidurnya. Eunhyuk mengintip ke ruang kerja Kyuhyun, lelaki itu sepulang pemakaman, langsung menenggelamkan dirinya di sana dan tidak keluar untuk makan malam.

Kyuhyun mendongak dari berkas-berkas di meja kerjanya dan mengerutkan kening.

"Aku sedang tidak ingin makan apapun."

Eunhyuk meletakkan nampan di meja, bersikeras, "tapi kau harus makan Kyu, aku tidak melihatmu makan apapun dari pagi. Bahkan sejak pemakaman tadi."

Kyuhyun memasang tampang paling dingin dan menyatukan telapak tangannya di bawah dagunya.

"Kenapa kau repot-repot memikirkanku eoh?" Gumamnya sinis.

Lelaki ini menyerangnya demi melindungi dirinya. Eunhyuk menghela napas, mencoba memahami, dia harus sabar menghadapi lelaki ini. Kyuhyun sedang sedih meskipun sekarang dia sedang bersandiwara sebagai seorang bos yang arogan dan jahat. Lelaki ini menutupi kesedihannya dengan semua itu.

"Karena aku mencemaskanmu."

"Hmm... kejutan. Seorang Lee Eunhyuk mencemaskanku. Apakah kau cemas aku akan terpuruk dalam kesedihan, sayang." Dengan gerakan halus, lelaki itu meluncur berdiri dan tiba-tiba sudah ada di dekat Eunhyuk, menjebaknya ke tembok. "Mungkin aku tidak akan terlalu bersedih kalau kau bersedia menghiburku", disusurkannya jemarinya dengan lembut di pipi Eunhyuk.

"Aku tidak akan menghiburmu dengan cara tidak senonoh!", suara Eunhyuk sedikit meninggi, antara takut, marah dan sedikit gelenyar panas yang mengaliri tubuhnya merasakan usapan sensual Kyuhyun di pipinya.

Untunglah lelaki itu memutuskan tidak mendesaknya lebih jauh, Kyuhyun hanya terkekeh, lalu melepaskan Eunhyuk, meskipun masih berdiri di dekatnya.

"Aku tidak butuh simpati dari siapapun." Gumam Kyuhyun sambil mengacak rambutnya, "terutama darimu..." tiba-tiba suara laki-laki itu hilang seakan tertelan. Kyuhyun memalingkan mukanya, dan melangkah menjauh dari Eunhyuk, pergilah!"

"Kyu..."

"Pergilah!" suara Kyuhyun berubah menjadi bentakan keras.

Eunhyuk menghela napas panjang, hubungan mereka memang sudah tidak baik dari awalnya. Sudah terlambat untuk menunjukkan simpati dan niat baik, sesalnya dalam hati, dengan pelan, dia melangkah menuju pintu.

"Jangan lupa dimakan supnya."

Hening.

Dan Eunhyuk membuka handle pintu hendak keluar.

Lalu isakan itu terdengar.

Eunhyuk menoleh dan mendapati Kyuhyun berdiri membelakanginya, isakan itu terdengar darinya, lelaki itu menangis. Kali ini benar-benar menangis sepenuh hati, suaranya penuh kedukaan dan kesakitan, duka yang membuat bahunya berguncang dengan keras.

Tanpa pikir panjang, didorong oleh hatinya, Eunhyuk langsung melangkah mendekati Kyuhyun dan merengkuhnya. Lelaki itu langsung memeluknya dengan erat, dan menangis dalam pelukannya, beban tubuhnya membuat Eunhyuk terjatuh ke sofa, dengan Kyuhyun menangis dipelukannya.

Diusapnya bahu Kyuhyun, rambutnya, berusaha meredakan kesedihannya. Berusaha membantu lelaki itu menumpahkan apa yang ada di hatinya. Tiba-tiba perasaan lembut menyelimutinya, perasaan lembut yang sama ketika mengetahui sisi rapuh lelaki ini, yang tidak pernah di perlihatkannya di depan orang lainnya.

Eunhyuk memeluk Kyuhyun erat-erat, sampai lama kemudian isakan itu mereda, berubah menjadi napas yang tenang dan teratur, dan lelaki itu masih meringkuk dengan kepala tenggelam di bahu Kyuhyun.

Lalu Kyuhyun mengangkat tubuhnya dan menjauhkan kepalanya.

'Maaf." suaranya terdengar parau.

Eunhyuk tersenyum.

"Tidak apa-apa Kyuhyun-ah, aku ... aku senang bisa membantu."

"Aku tidak pernah menangis di depan siapapun sebelumnya."

"Aku tahu."

"Aku tidak sengaja menangis tadi."

"Itupun aku tahu." Senyum Eunhyuk tertahan. "Kau sedang sedih, dan aku sedang ingin membantumu. Aku harap kau merasa sedikit ringan setelah menangis tadi."

Kyuhyun tidak berkata apa-apa, hanya menatap Eunhyuk sambil mengacak rambutnya frustasi. Lama mereka bertatapan, lalu tatapan Kyuhyun melembut.

"Terima kasih."

Eunhyuk menganggukkan kepalanya, "Sama-sama Kyu."

Lelaki itu menatap Eunhyuk lagi dengan tajam, kemudian tersenyum kecut dan memalingkan kepalanya,

"Tidakkah kau sadar? Setelah kematian eomma. Kau dan aku tidak harus terikat lagi." Suaranya setajam tatapannya kemudian, "kita bisa mengakhiri pernikahan ini."

TBC