Perjanjian Hati
Remake Story
Cast: Cho Kyuhyun, Lee Eunhyuk, Lee Jinki, (Kim) Cho Key / Kibum, etc.
Disclaimer: Cerita milik Santhy Agatha, aku mengubah beberapa adegan, nama latar tempat dan nama tokoh.
Warning: Genderswitch for uke
Happy reading
-o0o-
Ketika kau mencintaiku, aku akan selalu ada di hatimu
Begitu pun ketika kau membenciku,
aku akan selalu ada di pikiranmu
Pada akhirnya, aku akan selalu ada
-o0o-
Eunhyuk menatap kepergian Sohyun dengan langkah anggun dan dramatis itu, lalu menghela napas panjang. Di sisi lain Kyuhyun malah mengamati Eunhyuk, lalu terkekeh geli, membuat Eunhyuk melemparkan pandangan membunuh kepada lelaki itu.
"Kenapa kau tertawa?"
Kyuhyun bahkan makin tergelak. "Kau. Kau membuatku tertawa. Caramu menjawab pertanyaan Sohyun tadi membuatku sedikit bangga. Ternyata istriku rela mempertahankanku dari rayuan perempuan lain."
"Jangan salah paham. Aku cuma tidak suka sikapnya yang merayumu terang-terangan, padahal ada aku di sebelahmu.", Eunhyuk melirik ke arah Key dan Jinki yang juga tersenyum-senyum mendengar percakapan mereka. Sialan Kyuhyun! pasti sekarang Key dan Jinki mengira dia cemberut dan marah-marah karena cemburu.
Kyuhyun mengikuti arah mata Eunhyuk, menyadari bahwa Key dan Jinki mendengarkan percakapan mereka. Dia lalu mengedipkan mata ke arah Eunhyuk, mengirimkan isyarat bahwa percakapan ini belum selesai, kemudian melangkah menuju mobil.
Pantai itu indah sekali, terletak di bagian selatan kota Busan, dengan resort yang dihiasi oleh cottage-cottage yang indah dan artistik dengan hamparan pasir putihnya yang begitu indah.
Langit tampak cerah, biru dihiasi awan putih berbagai bentuk, seakan-akan menyambut mereka dengan keindahan pemandangannya.
Eunhyuk berdiri tanpa alas kaki, menginjak pasir putih itu dan memejamkan mata, merasakan hembusan angin laut yang hangat yang menerpa pipinya. Rasanya hangat dan mendamaikan, apalagi dengan alunan deburan ombak yang begitu menenangkan.
"Apa kau senang?" suara Kyuhyun yang dekat di sampingnya membuat Eunhyuk hampir terlonjak kaget. dia menoleh dan melihat Kyuhyun berdiri di sampingnya. Lelaki itu berpenampilan santai, dengan t-shirt putih dan celana pendek warna cokelat dan kaki telanjang, sangat berbeda dari penampilan sehari-harinya yang resmi.
Eunhyuk berpikir untuk membantah perkataan Kyuhyun, tapi dia akan tampak tidak tahu terima kasih kalau melakukannya, setidaknya biarpun menjengkelkan, Kyuhyun sudah mengajaknya bersama Jinki dan Key untuk menghabiskan akhir pekan menyenangkan dan merayakan ulang tahunnya.
"Ya aku senang." Eunhyuk mencoba tersenyum, mengajak berdamai. "Terima kasih sudah mengajakku kesini."
Kyuhyun membalas senyuman Eunhyuk dengan senyuman tipis, lalu menatap ke arah laut, hembusan angin laut membuat rambutnya berantakan tertiup angin dan menerpa dahinya, mengubah penampilan kerasnya menjadi lebih santai.
"Dulu kami sering berlibur kesini, sekeluarga. Aku, eomma, appa dan Key, waktu kami masih kecil." Pandangan Kyuhyun menerawang, mengenang, "kemudian tahun berganti dan appa menjadi semakin sibuk, eomma semakin lemah... kadangkala disaat aku lelah, aku melarikan diri kesini."
Eunhyuk mengernyit. Pasti Kyuhyun membawa kekasih-kekasihnya kemari untuk menghabiskan malamnya, pikirnya dengan sinis.
Tanpa diduga Kyuhyun menatapnya dan bisa membaca apa yang ada di dalam benaknya, lelaki itu terkekeh.
"Hentikan semua pikiran buruk yang ada di dalam kepalamu itu", gumamnya dalam tawa. "Sendirian. Aku selalu kemari sendirian. Cottage pribadi ini, sisi pantai yang ini, semuanya khusus hanya untuk keluarga."
Eunhyuk mengernyit lagi, "dan apakah kau pikir aku keluargamu?"
Tatapan Kyuhyun setelahnya begitu dalam dan misterius, tidak terbaca. "Kau istriku."
"Malam ini kita akan makan di restoran pinggir pantai." Key duduk di ranjang Eunhyuk dan tampak bersemangat, "Kyuhyun oppa memesan kue tart dari dapur resort khusus untukmu." Key mengedipkan matanya menggoda. "Dia tidak pernah seperhatian itu pada siapapun."
Pipi Eunhyuk memerah, entah kenapa. Padahal dia tahu pasti, Kyuhyun melakukannya karena ada Key dan Jinki disini. Semua ini hanya sandiwara... Tetapi kalau memang hanya sandiwara, kenapa jantungnya berdegup tak karuan saat ini?
Mereka menginap di cottage mewah di pinggir pantai Gwangalli, dengan tiga kamar dan berbagai fasilitas lengkap lainnya, dari penginapan bisa di lihat panorama Gwangan bridge yang mendapatkan predikat wisata
nomor satu di Busan. Eunhyuk tentu saja harus sekamar dengan Kyuhyun, sedangkan Key dan Jinki menempati kamar sendiri-sendiri.
Malam ini mereka akan makan malam di restoran tepi pantai yang terkenal dengan masakan seafood nya. Key sedang menunggu Eunhyuk berganti pakaian sambil bercerita tentang berbagai hal, dan Eunhyuk mendengarkannya sambil tersenyum. Tersenyum dan bersyukur, karena Key sepertinya telah berhasil melalui kesedihannya dengan ketegaran jiwanya,
"Aku sudah siap, ayo kita keluar, para pria pasti telah menunggu kita dengan jengkel." Gumam Eunhyuk sambil mengajak Key melangkah keluar kamar.
Kyuhyun duduk di sana sedang bercakap-cakap dengan Jinki, ketika Eunhyuk dan Key keluar, dia mengangkat alisnya dan tersenyum.
"Sudah siap?"
Eunhyuk mengangguk dan Kyuhyun langsung berdiri, menghelanya ke pintu. Mereka berjalan menyusuri pinggiran pantai, diikuti Key dan Jinki di belakangnya.
Restoran pinggir pantai itu benar-benar berada di pinggir pantai, tempat makannya ada di paviliun paviliun kecil dari kayu dan beratapkan rumbia, dengan lilin-lilin yang ditata secara rapi di sekelilingnya. Makanannya luar biasa nikmatnya, berbagai macam hidangan laut dan minuman kelapa yang menyegarkan. Mereka tertawa, mereka bercakap-cakap dalam suasana yang begitu santai, hingga Eunhyuk hampir melupakan suasana permusuhan yang dibangunnya bersama Kyuhyun.
Kyuhyun banyak tertawa malam ini, lelaki itu mengedipkan mata ketika seluruh hidangan dan piring kotor, serta meja mereka dibersihkan.
"Saatnya untuk yang paling istimewa."
Sedetik setelah Kyuhyun berkata-kata, seolah sudah direncanakan sebelumnya, seorang pelayan datang membawakan kue ulang tahun berwarna putih dengan lilin-lilin cantik di atasnya.
Pelayan itu meletakkan kue itu di meja, di depan Eunhyuk.
"Saatnya make a wish." Gumam Key sambil bertepuk tangan bersemangat.
Eunhyuk memejamkan matanya, lalu mengucapkan doa singkat, bahwa dia ingin semua orang yang dicintainya berbahagia.
"Tiup lilinnya." Gumam Key pelan.
Eunhyuk meniup lilin itu dan semua bertepuk tangan gembira. Suasana begitu membahagiakan, membuat Eunhyuk menoleh ke arah Kyuhyun dan tersenyum tulus.
"Terima kasih Kyu."
Tanpa diduga, laki-laki itu mendekatkan tubuhnya, lalu mengecup dahi Eunhyuk lembut.
"Sama-sama, sayang."
Key dan Jinki tersenyum melihat keromantisan tulus yang ditampilkan Eunhyuk dan Kyuhyun. Tetapi Eunhyuk duduk disana dengan jantung berdegup kencang, mencoba meyakinkan hatinya bahwa semua ini hanyalah sandiwara sempurna yang diperankan olehnya dan Kyuhyun.
Malam itu ketika Eunhyuk membaringkan tubuhnya di ranjang, dia merasa gugup. Rasanya aneh, padahal selama ini dia biasa saja jika tidur di ranjang ini, menantikan Kyuhyun menyusulnya ketika hampir tengah malam setelah membereskan pekerjaannya, dan tidur di sebelahnya.
Malam ini terasa berbeda, entah kenapa. Mungkin karena suasana kamar yang temaram dan romantis dengan nuansa kuning kecoklatan dan debur ombak di kejauhan. Mungkin pula karena nuansa yang dibangun dari pagi tadi sampai sekarang, semua terasa berbeda dan jantung Eunhyuk berdesir pelan ketika pintu kamar mandi terbuka, dan Kyuhyun keluar, dengan rambut basah sehabis mandi.
"Sudah mau tidur?", laki-laki itu berdiri di tengah ruangan, menatap Eunhyuk dengan pandangan yang terasa misterius karena tertutup bayang-bayang kamar yang remang-remang.
Eunhyuk menatap Kyuhyun dan tersenyum gugup.
"Iya, aku lelah seharian ini."
Kyuhyun melangkah dan duduk di atas ranjang, mematikan lampu tidur hingga membuat suasana kamar gelap, hanya cahaya bulan yang menyusup dari balik jendela kaca yang tertutup gorden putih yang menyinari kamar, lalu Kyuhyun naik dan berbaring di sebelah Eunhyuk.
"Besok pagi kita melihat matahari terbit, kau pasti terpesona, indah sekali. Lalu kita bisa berenang di laut."
"Kedengarannya menyenangkan." Suara Eunhyuk tercekat, kenapa pula mereka melakukan pembicaraan basa-basi begini?
Lalu hening, Eunhyuk pura-pura tertidur, membalikkan tubuhnya membelakangi Kyuhyun. Lama dia dalam posisi itu dan dia tidak bisa tidur, tubuhnya terasa pegal, dan pelan dia mengubah posisi tubuhnya, supaya tidak membangunkan Kyuhyun yang diyakininya sudah tidur karena dia tidak mendengar suara apapun dari laki-laki itu.
"Tidak bisa tidur?" Suara Kyuhyun mendadak terdengar, menembus keheningan dan membuat Eunhyuk terlonjak karena kaget. Dia membalikkan badannya dan mendapati Kyuhyun berbaring terlentang berbantalkan lengannya.
"Kupikir kau sudah tidur." Bisik Eunhyuk lirih.
Kyuhyun menatap Eunhyuk, lalu tersenyum, "Tidak, aku juga tidak bisa tidur." Suaranya berubah parau.
"Kenapa?"
"Kau tahu kenapa." Nafas Kyuhyun terdengar berat, "aku tidak bisa tidur setiap malam sejak aku menikah denganmu."
"Karena kau tidur seranjang denganku?" Suara Nessa berubah cemas, apakah dia mendengkur dengan keras sehingga mengganggu istirahat Kyuhyun, ataukah gaya tidurnya berantakan, seperti kemarin, menempel-nempel ke tubuh Kyuhyun atau mungkin menendangnya dalam tidurnya?
"Ya. Karena aku tidur seranjang denganmu." Kyuhyun terkekeh, "tidur seranjang denganmu dan tidak bisa menyentuhmu."
Gumaman Kyuhyun itu, biarpun pelan membuat Eunhyuk langsung beringsut ke ujung ranjang dengan waspada.
"Apa maksudmu."
"Apakah aku harus menjelaskan maksudku dengan gamblang seperti menjelaskan kepada anak kecil?" Lelaki itu memiringkan kepala, menatap sinis ke arah Eunhyuk yang menjauh ke ujung ranjang, "kau pasti tahu pasti apa yang dirasakan lelaki dewasa ketika harus melewatkan malam demi malam dengan wanita di ranjangnya, tanpa bisa berbuat apa-apa."
"Memangnya kau mau berbuat apa?" kali ini suara Eunhyuk benar-benar cemas.
Kyuhyun terkekeh lagi, terdengar meremehkan. "Tenang Eunhyuk-ah, tak perlu melonjak dan lari dari ranjang ini, sesuai janjiku padamu, aku tidak akan menyentuhmu." Suara sensualnya kembali memenuhi ruangan, "kecuali kalau kau mau kusentuh."
"Aku tidak mau disentuh olehmu." Jerit Eunhyuk spontan. Sedetik kemudian Eunhyuk menyadari bahwa dia salah bicara, karena gerakan tubuh Kyuhyun tampak tegang, laki-laki itu tersinggung.
"Kenapa kau tidak mau kusentuh?" Kyuhyun bergerak mendekat, dan sebelum Eunhyuk bisa menyingkir dari ranjang, lengan Kyuhyun dengan kuat merengkuhnya, merapatkan tubuhnya padanya. "Apakah aku menjijikkan untukmu?" Nafas Kyuhyun terasa hangat di pipinya, membuatnya bergetar."
Eunhyuk mencoba meronta, tetapi kedua lengan Kyuhyun menahan punggungnya dan menjepit lengannya di kedua sisi "Lepaskan aku", seru Eunhyuk panik.
"Kenapa kau tidak mau kusentuh?" kali ini suara Kyuhyun berbisik di telinganya, membuat Eunhyuk merasakan gelenyar geli merayapi tubuhnya, "aku suamimu."
Kemudian bibir itu melumat bibir Eunhyuk, dengan panas dan penuh penguasaan, seolah berusaha menaklukkan dan mendominasi Eunhyuk. Bibir kuatnya melumat kelembutan bibir Eunhyuk tanpa ampun, membuat Eunhyuk terengah, kemudian lidahnya mencicipi, mencecap kehangatan permukaan bibir Eunhyuk yang lembut, ketika lidah itu ingin menjelajah masuk, Eunhyuk mengatupkan bibirnya erat-erat, sekuat tenaga.
"Ayo sayang, biarkan aku masuk." Suara Kyuhyun berat dan parau, penuh hasrat, bibirnya menggoda tanpa ampun, menggelitik sudut bibir Eunhyuk, hingga ketika Eunhyuk membuka mulutnya untuk memekik, dengan lihai Kyuhyun menelusupkan lidahnya, menjelajah masuk dengan teknik ciumannya yang begitu ahli dan tanpa ampun.
Hingga ketika lelaki itu selesai melumat bibirnya, Eunhyuk terbaring megap-megap dalam pelukannya.
Kyuhyun menatap Eunhyuk dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, membara, marah, sekaligus penuh kasih sayang.
"Nanti, ketika kau menyerahkan diri padaku, akan kubuat itu menjadi malam yang tidak terlupakan olehmu." Lalu dalam sekejap dia melepaskan pelukannya dan meninggalkan ranjang, tergesa keluar, meninggalkan pintu berdebam di belakangnya, dan Eunhyuk yang masih terbaring di sana dengan perasaan campur aduk.
Kyuhyun tidak kembali ke kamar malam itu, lelaki itu entah tidur di mana semalam, yang pasti, ketika Eunhyuk keluar untuk sarapan, Kyuhyun sudah duduk di sana, bercakap-cakap dengan Key dan Jinki.
Laki-laki itu hanya menatap Eunhyuk datar, lalu berdiri dan menarikkan kursi disebelahnya dengan sopan. Tidak ada indikasi sama sekali bahwa lelaki itu mengingat insiden ciuman paksanya di atas ranjang semalam. Eunhyuk mencoba menahan rasa panas yang menjalari pipinya ketika melihat Kyuhyun, mungkin bagi Kyuhyun itu hal biasa, tetapi bagi Eunhyuk hal itu sangat intim, sangat baru dan membuatnya teringat terus setiap detiknya. Tetapi, karena Kyuhyun bersikap seolah semalam tidak terjadi apa-apa, Eunhyuk berusaha bersikap sama. Tidak akan dibiarkannya Kyuhyun tahu bahwa ciumannya begitu mempengaruhi Eunhyuk.
"Kata Kyuhyun oppa, Eunhyuk eonni bangun terlambat karena kelelahan." Key tersenyum, "sayang sekali, padahal tadinya kita ingin mengajak eonni melihat matahari terbit."
Eunhyuk menatap Key dengan pandangan menyesal
"Maafkan aku Key, aku langsung tertidur lelap semalam, dan bangun-bangun sudah siang, mungkin aku memang benar-benar kelelahan."
"Tidak apa-apa Eunhyuk noona, kita masih bisa berenang di laut sekarang, noona bisa mencoba kembali berenang sambil ditemani Kyuhyun hyung. Kata Key, Kyuhyun hyung sangat hebat berenang melawan ombak."
Eunhyuk menoleh pada Kyuhyun yang tersenyum menggoda, "kau tidak bisa berenang, Eunhyuk-ah?"
"Eunhyuk noona takut air." Jawab Jinki sambil mengangkat bahu, "dulu waktu Sekolah Dasar kami pernah berenang di kolam renang umum. Ketika mencoba menyelam, kaki Eunhyuk noona kram, tapi karena dia di dasar, tidak ada yang tahu kalau Eunhyuk noona mulai tenggelam, dia sudah tenggelam beberapa lama dan mengalami serangan panik sampai kemudian salah satu orang tua murid menyadari dan menyelamatkannya. Sejak itu Eunhyuk noona tidak mau berenang lagi."
Kyuhyun menatap Eunhyuk penuh perhatian. "Jadi kau akan melewatkan kegiatan menyenangkan kita untuk berenang di laut pagi ini?"
Eunhyuk menghela napas, "aku sangat menyesal, tapi mungkin aku memang harus melewatkannya."
"Tidak." Kyuhyun berseru keras kepala, "kau akan berenang, dan kau tidak akan tenggelam, aku akan menjagamu."
"Aku tidak mau." Eunhyuk mengernyit, meminta pertolongan pada Key dan Jinki, tapi keduanya hanya mengangkat bahu, tidak ada yang bisa membantah Kyuhyun kalau laki-laki itu memutuskan sesuatu.
"Kau harus mau, titik." Kyuhyun beranjak berdiri, "sekarang ganti baju renangmu aku menunggu di depan."
Ketika Kyuhyun melangkah pergi, Eunhyuk menatap punggungnya sambil mengucapkan berbagai macam cacian yang bisa diingatnya. Dasar lelaki arogan yang keras kepala!
"Ayo." Kyuhyun menggenggam lengannya setengah memaksa, "aku akan menjagamu."
Kyuhyun sudah berhasil memaksa Eunhyuk ke tengah laut, masih di tepian tetapi sudah lumayan dalam, dengan ombak bermain di pinggang mereka, membuat kaki Eunhyuk kadang-kadang terasa melayang-layang.
Eunhyuk mengikuti Kyuhyun setengah terpaksa, "kau memang suka memaksakan kehendakmu ya, kuharap kau puas."
Kyuhyun tertawa, tidak menutupi rasa puasnya, "ya aku puas. Lagipula sekarang kau sadar bukan, ketakutanmu hanya ilusi. Kau bisa berenang dan air tidak akan mengalahkanmu."
"Tidak kalau kau kram dalam kedalaman air lima meter dan tidak ada orang yang menyadari bahwa kau tenggelam." Eunhyuk meringis ketika kenangan yang membuatnya sesak napas itu tergambar kembali di otaknya, membuatnya gemetar.
Kyuhyun menyadari itu, dia menggenggam lengan Eunhyuk lembut.
"Aku menjagamu, jangan takut."
Entah kenapa kata-kata Kyuhyun itu terdengar tulus, membuat Eunhyuk hampir saja memaafkan kelakuan Kyuhyun di insiden semalam ketika lelaki itu menciumnya dengan paksa.
"Kyuhyun!"
Suara itu familiar sekaligus membawa kenangan buruk bagi Eunhyuk. Dia langsung menoleh dengan waspada, dan mendapati mimpi buruknya benar-benar terjadi, kenapa pula Sohyun ada di pantai pribadi ini?
Key dan Jinki tadi memutuskan keluar untuk berjalan-jalan dan membeli ice cream, dan sekarang Eunhyuk harus sendirian menghadapi perempuan yang merayu Kyuhyun tanpa malu-malu dan tidak mempedulikan kehadirannya.
"Boleh aku ikut bergabung bersama kalian?" Sohyun melepas handuk yang melilit pinggangnya dan melemparnya ke pasir, lalu mulai masuk ke air laut yang hangat, perempuan itu tersenyum manis sambil menatap Eunhyuk, senyuman palsu yang penuh ejekan "Oh, hai Eunhyuk-ssi, kau ada di sini juga? kemarin aku memutuskan menyusul kalian ke sini, untung aku masih mendapat cottage di sebelah cottage kalian, jadi Kyuhyun bisa dekat kalau memutuskan mampir malam-malam" di liriknya Kyuhyun dengan tatapan menggoda, "iya kan sayang?"
Kyuhyun tidak menjawab, hanya terkekeh geli, lalu mengarahkan Eunhyuk untuk mencoba berenang ke tepian yang lebih dalam. "Ayo Eunhyuk-ah, berenanglah, aku akan berjaga di sebelahmu."
Darah Eunhyuk naik ke kepala. Kyuhyun tampak tidak kaget melihat Sohyun menyusul kesini. Jangan-jangan semua yang dikatakannya bohong, jangan-jangan Kyuhyun sering mengajak Sohyun ke sini untuk bermalam, melihat Sohyun begitu luwes dan tampak terbiasa memasuki bagian pantai pribadi di cottage yang selalu di sewa Kyuhyun kalau mereka kemari. Dan semalam, Kyuhyun tidak pulang ke kamarnya, apakah jangan-jangan lelaki itu menginap di tempat Sohyun?
Suara Eunhyuk bergetar ketika dia menghentakkan tangan Kyuhyun dengan kasar.
"Jangan dekat-dekat! Aku bisa sendiri!" serunya kasar.
Kyuhyun berdiri di sana, menatap Eunhyuk yang memalingkan muka tak mau menatapnya. "Kenapa Eunhyuk-ah? Kau tampak marah, apakah karena Sohyun menyusul kemari? Jangan pedulikan dia, dia memang suka mengikutiku kemanapun mengingat dia sangat terobsesi padaku." Gumam Kyuhyun pelan, mengedikkan bahunya ke arah Sohyun yang sudah mulai berenang ke tengah dengan elegan, melambaikan tangannya dan mengajak Kyuhyun bergabung bersamanya.
"Aku tidak peduli kalau kau mau menghabiskan waktu dengan simpananmu. Tapi sungguh suatu penghinaan kalau kau mengajaknya ke sini, saat kau sedang bersamaku!"
"Aku tidak pernah mengajaknya ke sini, dia sendiri yang bilang tadi menyusul kita kemari, dia menginap di cottage sebelah, lalu kau pikir aku harus berbuat apa? Mengusirnya?"
Kau bisa mengusirnya dari pantai ini! Eunhyuk menjerit dalam hati, ingin rasanya dia memukuli dada Kyuhyun dengan marah. Tetapi itu tidak dilakukannya, dia menahan dirinya sekuat tenaga, menghembuskan nafasnya panjang-panjang. Rasa sakit itu mulai menyeruak ke dadanya, rasa sakit yang sama, rasa sakit yang menakutkan.
"Aku sangat membencimu. Pernikahan ini seperti neraka untukku!", Eunhyuk menggeram marah, meninggalkan Kyuhyun yang tertegun mendengar perkataannya, lalu dengan nekat masuk ke air menyelam ke dalam lautan, dan berenang ke tengah, menjauhi Kyuhyun.
Semua biasa saja, Eunhyuk merasakan berenang di laut ternyata sangat menyenangkan, berbeda ketika berenang di kolam renang. Disini dia harus bisa menyesuaikan diri dengan hempasan ombak yang membawa tubuhnya mengikutinya. Sejenak Eunhyuk menikmatinya, senang ketika dia bisa menjauh dari pasangan tak tahu malu itu, Kyuhyun dan Sohyun yang mungkin sedang bercengkerama di sana, dia berenang makin jauh, dan jauh... sampai kemudian dia merasakan rasa sakit itu. Rasa sakit menyengat di kakinya yang mulai terasa kaku. Kakinya kram lagi!
Dengan panik Eunhyuk berusaha menjejak, menyadari dia sudah berada jauh di tengah sehingga pasir sudah tidak bisa digapai oleh kakinya. Eunhyuk mulai tenggelam dengan sebelah kaki kram dan sakit setengah mati. Tidak bisa berteriak.
Kyuhyun-ah!
Teriaknya panik dalam hati sebelum kegelapan menelannya.
TBC
