Perjanjian Hati - Happy ending?
Remake Story
Cast: Cho Kyuhyun, Lee Eunhyuk, Lee Jinki, (Kim) Cho Key / Kibum, etc.
Disclaimer: Cerita milik Santhy Agatha, aku mengubah beberapa adegan, nama latar tempat dan nama tokoh.
Warning: Genderswitch for uke
Happy reading
-o0o-
Kadangkala cinta yang kau nanti sudah ada dalam genggaman tanganmu. Hanya saja kau belum menyadarinya.
-o0o-
Eunhyuk merasakan napasnya sesak ketika air laut mulai menenggelamkannya, asin yang panas memasuki tubuhnya, membuatnya megap-megap mencoba meminta pertolongan untuk terakhir kalinya, lalu semuanya hampir terasa gelap.
Lalu lengan kuat itu mengangkatnya, menempelkan tubuh lemasnya ke dada telanjangnya yang keras. Aroma itu.. aroma parfum yang sangat dikenalnya... Kyuhyun? Eunhyuk tersenyum dalam hati, menyadari Kyuhyun telah menyelamatkannya. Lalu kesadarannya hilang.
Ketika terbangun, Eunhyuk ada di rumah sakit. Yang dirasakan pertama kali adalah pusing, lalu dia mengenali wajah itu, ibunya dan Jinki di belakangnya. Yang duduk di tepi ranjangnya dan menatapnya dengan cemas.
Dia terbangun dan langsung terbatuk-batuk, membersihkan tenggorokannya yang terasa panas, Ibu Eunhyuk berusaha menepuk-nepuk pundak Eunhyuk untuk membantunya, sementara Jinki berlari keluar untuk memanggil dokter.
Eunhyuk menatap sekeliling ketika kesadarannya sudah kembali, dimana Kyuhyun? Itu yang terpikir olehnya pertama kali. Bukankah waktu itu Kyuhyun yang menyelamatkannya? Kenapa sekarang dia tidak ada? Tiba-tiba sebersit rasa kecewa memenuhi dirinya.
Jinki masuk kembali dengan dokter, dan Key yang mengikuti dengan cemas di belakangnya . Dokter memeriksa Eunhyuk sejenak lalu pergi dan tampak becakap-cakap dengan ibu Eunhyuk dan Jinki, sementara Key duduk di tepi ranjang.
"Syukurlah Eunhyuk eonni, eonni sudah sadar, kami cemas sekali menanti di sini." Key duduk di pinggiran ranjang dan menggenggam tangan Eunhyuk.
Eunhyuk tetap memandang ke sekeliling, masih susah berbicara. Dimana Kyuhyun? pikirnya.
Key sepertinya menyadari apa yang ada di benak Eunhyuk, dia tersenyum.
"Kyuhyun oppa sedang membeli kopi di kantin rumah sakit. Kami yang memaksanya supaya menyingkir karena seharian dia seperti orang gila, mondar mandir di koridor, keluar masuk kamar, menunggumu sadar."
Kyuhyun mencemaskannya sampai seperti itu? Benarkah? Sejenak dada Eunhyuk membuncah oleh perasaan hangat. Lalu dia teringat akan kejadian sebelum dia tenggelam, kedatangan Sohyun, sikap acuh tak acuh Kyuhyun ketika Sohyun terang-terangan menggodanya, dan kemudian kemarahan Eunhyuk yang kekanak-kanakan. Astaga, kenapa dia marah? Kalau dia tidak mempunyai perasaan terhadap Kyuhyun, dia tidak perlu semarah itu. Omong kosong kalau memang tidak menghargai keberadaannya, seharusnya hal itu tidak akan mengganggunya kalau dia tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Kyuhyun.
Pipi Eunhyuk memerah malu menyadari betapa kekanak-kanakan sikapnya sebelum tenggelam, Kyuhyun pasti menertawakannya, karena dia seolah menunjukkan kalau dia cemburu berat pada Sohyun.
"Kyuhyun oppa tampak sangat menyesal karena Eunhyuk eonni sampai tenggelam." Key menyambung, tidak menyadari perubahan ekspresi Eunhyuk.
Lalu pintu terbuka dan Kyuhyun masuk, lelaki itu langsung menghampiri Dokter dan bercakap-cakap dengannya, dan setelah dokter pergi, langsung melangkah mendekati ranjang.
Key, yang melihat ibu Eunhyuk serta Jinki melangkah keluar, langsung ikut berpamitan keluar dulu, memberi kesempatan pada Kyuhyun berduaan dengan Eunhyuk.
Laki-laki itu tampak letih. Eunhyuk menyimpulkan. Apakah karena dirinya?
"Bagaimana keadaanmu?" Kyuhyun menarik kursi mendekat dan duduk di samping ranjang, mengamati Eunhyuk dengan cermat.
"Aku baik." jawab Eunhyuk pelan, suaranya masih serak dan tenggorokannya masih sakit. Tetapi secara keseluruhan dia baik-baik saja.
"Maafkan aku." Suara Kyuhyun berbisik, "aku memaksamu berenang. Pada akhirnya aku tidak menjagamu."
Karena aku yang lari darimu, karena aku cemburu dan kekanak-kanakan. Eunhyuk mendesah dalam hati, tetapi kata-kata itu tidak bisa keluar dari bibirnya. Dia hanya menggeleng lemah.
Kyuhyun tersenyum tipis sambil menatap Eunhyuk, lalu menghela napas.
"Kau bilang pernikahan ini seperti di neraka." Wajah Kyuhyun tampak muram, "aku tidak menyadari kalau kau begitu tersiksa dengan pernikahan ini. Karena aku.. karena aku sendiri mungkin bisa dikatakan menikmatinya." Lelaki itu mendesah, lalu seolah tidak tahan duduk lama disitu dia berdiri dan memasukkan tangan ke saku celananya, "nanti setelah kau sembuh, kita bicarakan perihal perceraian. Aku akan memikirkan cara terbaik untuk menjelaskan pada semuanya. Memang tidak adil menahanmu ke dalam pernikahan sandiwara ini."
Kyuhyun mendekat ke tepi ranjang, lalu membungkuk dan tanpa di sangka, mengecup dahi Eunhyuk dengan lembut.
"Cepat sembuh ya." Bisiknya pelan sebelum melangkah pergi, meninggalkan Eunhyuk yang tertegun tanpa mampu berkata-kata. Perasaannya berkecamuk, dan dia bingung harus bagaimana.
Perceraian. Eunhyuk memejamkan matanya. Bukankah itu jalan keluar yang terbaik dari pernikahan sandiwara ini? Dari awal mereka menikah untuk mencegah perjodohan yang dilakukan eomma Kyuhyun untuk Kyuhyun dan Key, demi kebahagiaan adik-adik mereka. Dan memang benar, setelah eomma Kyuhyun meninggal, tidak ada yang perlu dipertahankan dari pernikahan ini.
Tetapi meskipun ini adalah jalan keluar yang terbaik, entah kenapa Eunhyuk merasa ini tidak benar. Hatinya memberontak ketika mendengar kata perceraian, dan itu karena alasan yang tidak dia tahu. Kenapa? Kenapa dia tidak menginginkan perceraian? Apakah itu karena dia merasa nyaman menjadi istri Kyuhyun, dan ingin terus menjadi istrinya. Apakah sebenarnya... tanpa disadarinya, dia telah jatuh cinta pada lelaki itu?
Eunhyuk memejamkan matanya ketika gemuruh perasaannya membuat kepalanya terasa pening. Jatuh cintakah dia pada Kyuhyun? Eunhyuk tidak berpengalaman dalam hal jatuh cinta. Dia hanya pernah satu kali menyerahkan hatinya pada laki-laki. Pada Changmin, dan itupun dia telah dilukai sedemikian rupa.
Perasaannya sekarang pada Kyuhyun berbeda, bukan perasaan berbunga-bunga, jantung berdegup kencang ataupun terasa melayang-layang ketika membayangkan Changmin seperti dulu. Perasaannya pada Kyuhyun ini tumbuh dengan pelan seiring berjalannya waktu. Muncul ketika menyadari betapa sayangnya Kyuhyun pada adik dan ibunya, muncul ketika dia merengkuh Kyuhyun yang rapuh menangis dalam pelukannya, muncul dari kebersamaan mereka ketika Kyuhyun tanpa ragu menopangnya ketika dia butuh dorongan, muncul di setiap detiknya bersama laki-laki itu. Dan mungkin inilah cinta, karena dia merasakan cemburu luar biasa atas kehadiran Sohyun.
Oh astaga. Aku benar-benar telah jatuh cinta pada Kyuhyun.
Tapi bagaimana sekarang? Karena dorongan cemburu yang kekanak-kanakan, dia telah mengatakan pada Kyuhyun bahwa pernikahannya seperti di neraka. Padahal sesungguhnya, dia bahagia. Dia bahagia.
Haruskah dia mengungkapkan semuanya pada Kyuhyun? Tapi perasaan Kyuhyun padanya sangat misterius. Lelaki itu mengatakan bahwa dia menikmati pernikahan mereka. Tidak lebih. Belum lagi kejadian malam itu, yang menunjukkan bahwa ketertarikan Kyuhyun padanya hanya sekedar nafsu.
Ataukah jangan-jangan... Kyuhyun memang menginginkan perceraian ini? Karena ada Sohyun? Karena dia merindukan kebebasannya bercinta dengan semua perempuan tanpa harus dibebani tanggung jawab pada seorang istri?
Benak Eunhyuk dipenuhi berbagai pikiran, membuat dadanya semakin sesak.
Pagi itu Eunhyuk pulang dari rumah sakit, Kyuhyun yang menjemputnya di jam makan siang, masih mengenakan jas kerja yang membuatnya tampak elegan dan begitu tampan. Mereka diam dalam perjalanan pulang.
Mereka masuk ke kamar dan Eunhyuk duduk di pinggiran ranjang, menatap Kyuhyun yang meletakkan tas-tas berisi pakaian Eunhyuk ke depan meja rias.
"Kau tidak berangkat kerja lagi?"
Kyuhyun menoleh dan tersenyum. "Tidak, aku tidak kembali lagi. Aku pikir mungkin kau perlu ditemani hari ini."
Eunhyuk mendesah, "Tidak apa-apa, aku bisa istirahat dan tidur seharian."
"Aku sudah memintakan izin ke Taman kanak-kanak tempatmu mengajar." Kyuhyun termenung, "kau akan bosan kalau berbaring seharian disini tanpa teman, jadi aku akan menemanimu. Key masih kuliah sampai sore, dan aku juga sudah meminta eomma untuk sementara tinggal di sini menemanimu besok kalau aku bekerja dan rumah kosong sementara kau masih harus istirahat di rumah, beliau baru bisa menginap disini nanti malam, aku sudah menyuruh supir untuk menjemput beliau."
"Terima kasih Kyu." Bisik Eunhyuk dengan tulus.
Kyuhyun tersenyum, lalu duduk di sofa di sudut kamar, menatap Eunhyuk dengan miris.
"Kita harus mulai mempersiapkan bagaimana menjelaskan pada mereka semua kalau kita akan berpisah."
Kenapa kau tampak sangat ingin segera berpisah denganku? Hati Eunhyuk dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya pedih, tetapi dia tidak mampu mengutarakannya.
"Mungkin kita harus mengutarakan yang sebenarnya pada mereka." Gumam Eunhyuk akhirnya.
Kyuhyun tersenyum, "Key akan mengamuk padaku. Dia pasti berpikir aku sudah menodaimu, mengingat reputasiku selama ini."
"Aku akan menjelaskan padanya." Eunhyuk tersenyum, "bahwa kau berlaku seperti malaikat terhadapku setiap malam."
"Malaikat?" Kyuhyun menatap Eunhyuk dengan pandangan misteriusnya lagi, seakan ingin berkata sesuatu tetapi tertahankan. "Aku sebenarnya tidak ingin perceraian ini terjadi, apalagi dalam waktu-waktu dekat ini."
Jantung Eunhyuk berdegup, merasakan harapan tumbuh di dalam dirinya. Kyuhyun tidak menginginkan perpisahan dengannya? Apakah itu karena Kyuhyun ingin bersamanya? Kyuhyun... mencintainya?"
"Kenapa?" suara Eunhyuk serak oleh antisipasi.
"Kalau kita bercerai kau akan menyandang janda di usia muda, diceraikan hanya dalam beberapa bulan pernikahan... aku laki-laki, beban sosialku tidak akan seberat dirimu." Kyuhyun mendesah, "aku mencemaskanmu. Itulah alasanku menunda-nunda perihal pernikahan ini."
Tetapi kau tidak mencintaiku. Eunhyuk mendesah lagi dalam hati. Seandainya kau bilang kau tidak menginginkan perpisahan karena kau mencintaiku, aku akan mengaku kalau aku mencintaimu...
"Aku tidak apa-apa. Aku sudah lelah dengan sandiwara ini." Eunhyuk mendesah, akhirnya.
"Kenapa kau begitu ingin perceraian?", Kyuhyun menatapnya lurus-lurus, "apakah kau tidak bahagia?"
Bukankah kau yang menginginkan perceraian? Eunhyuk menjerit dalam hati. Tetapi dia lalu memalingkan muka, bingung harus menjawab apa.
"Aku minta maaf kalau sudah membuat hidupmu bagai di neraka. Sungguh aku tidak berencana menyiksamu seperti itu. Kau mungkin ingin bebas dan menemukan cinta sejatimu di luar sana, dan itu tidak akan terjadi kalau kau masih terikat sebagai istriku." Kyuhyun mendesah, "aku tidak berhak menghalangi kebahagiaanmu."
Eunhyuk memejamkan matanya, tak sanggup lagi mendengar.
"Kau tidak apa-apa?" Kyuhyun tampak cemas melihat Eunhyuk memejamkan matanya sambil mengerutkan dahi.
"Aku hanya sedikit pusing." Jawab Eunhyuk pelan. Pusing dan patah hati, pastinya.
Kyuhyun mengangkat bahunya dan beranjak pergi.
"Yah.. istirahatlah, kita bicarakan nanti kalau kondisimu sudah lebih baik. Kalau kau butuh apa-apa, aku ada di ruang kerjaku." Lelaki itu beranjak dan meninggalkan ruangan.
Eunhyuk sepertinya sudah tertidur lama, karena merasa lemas ketika terbangun. Suasana rumah sunyi senyap, dengan pelan dia beranjak bangun dari ranjang dan melangkah keluar.
Rumah tampak lengang, tidak ada siapapun di sana. Para pelayan mungkin sedang sibuk di dapur. Dan Kyuhyun... mungkin ada di ruangan kerjanya. Eunhyuk melangkah menuruni tangga dengan pelan, kemudian tertegun ketika berada di ruang tamu dan menatap ke luar jendela. Ada mobil warna kuning cerah yang diparkir di halaman. Apakah Kyuhyun sedang menerima tamu?
Eunhyuk melangkah penuh ingin tahu ke ruang kerja Kyuhyun, terdengar suara percakapan samar-samar di sana. Pintu ruang kerja tidak tertutup sepenuhnya sehingga suara di dalam masih bisa keluar. Itu suara perempuan... suara Sohyun!
Oh astaga! Bahkan perempuan itu masih mengejar kemari, di rumah Kyuhyun. Saat dia ada di rumah! Sungguh keterlaluan!
Tetapi kemudian, percakapan yang terdengar olehnya membuatnya tertegun.
"Apakah tujuanmu pada akhirnya tercapai?", itu suara Sohyun.
"Tidak. Belum. Dan aku masih membutuhkan bantuanmu." Itu suara Kyuhyun, terdengar tegas dan dingin.
"Ah, Kyuhyun yang keras hati ternyata masih membutuhkan bantuanku." Sohyun terdengar terkekeh geli, lalu suaranya merendah sensual, "seperti malam itu, ketika kau menyusuhku menyusul ke cottage tempatmu berada, tepat setelah kau bertengkar dengan Eunhyuk... ternyata aku masih berguna juga untuk menyenangkanmu."
Kyuhyun yang menyuruh Sohyun menyusul ke cottage itu? Jadi bukan Sohyun yang menyusul dengan inisiatifnya sendiri karena obsesinya terhadap Kyuhyun?
Wajah Eunhyuk memucat. Astaga, betapa keterlaluannya Kyuhyun. Pada satu titik dia merayu Eunhyuk karena terdorong nafsu di atas ranjang, dan ketika Eunhyuk menolaknya, dengan mudahnya Kyuhyun memanggil perempuan lain untuk memuaskan nafsunya!
Eunhyuk mungkin telah salah menilai Kyuhyun, lelaki ini bermoral bejat, dia tidak seharusnya mencintai Kyuhyun!
"Eunhyuk-ah?" Suara Kyuhyun membuat Eunhyuk yang berdiri terpaku di pintu terlonjak dari lamunannya, "sudah sejak kapan kau ada di situ?"
Suara Eunhyuk bergetar karena emosi, "sudah sejak aku mendengar betapa tidak bermoralnya dirimu!" Ditatapnya Kyuhyun yang terpaku dengan tatapan cemas dan Sohyun yang memandangnya dengan senyuman aneh, "aku menginginkan perceraian. Segera." Air mata mulai membuat matanya terasa panas. Tidak! Kyuhyun tidak boleh melihatnya menangis!
Dengan segera, dia membalikkan badan, hendak meninggalkan tempat itu. Tetapi Kyuhyun bergerak cepat dan meraih tangannya, menahannya dengan keras.
"Tunggu dulu!" serunya marah, "kau salah paham! Biar aku jelaskan."
"Menjelaskan apa?" Kali ini Eunhyuk tidak bisa menahan air matanya, "aku mendengar sendiri, ternyata kau yang menyuruh Sohyun menyusulmu ke pantai itu. Bukan Sohyun yang mengejarmu! Aku jijik padamu Kyuhyun! Aku tidak menyangka kau tidak bisa menahan nafsumu, padahal status kita masih suami istri. Setidaknya kau harus menghormatiku, meskipun pernikahan ini hanya sandiwara!", Eunhyuk berteriak tidak peduli ada Sohyun di sana, mendengar semuanya. Toh pernikahan ini akan berakhir bukan?
"Kau salah paham! Aku tidak menyuruh Sohyun menyusul untuk menidurinya!", Kyuhyun berseru setengah emosi, "aku menyuruhnya untuk membantuku! Untuk membuatmu cemburu!"
Apa? Eunhyuk tertegun. Pernyataan terakhir Kyuhyun.. apakah dia tidak salah dengar? Kyuhyun meminta Sohyun membantu membuatnya cemburu? Kenapa Kyuhyun melakukannya? Ditatapnya Sohyun yang melihat pertengkaran mereka sambil mengangkat alis dan senyum menghiasi bibirnya yang ber lipstick merah menyala itu.
"Wah..wah, sepertinya ini pertengkaran pribadi suami istri, dan aku tidak berhak ikut campur." Sohyun meraih tasnya yang tergeletak di meja, "seharusnya kau berbangga hati Eunhyuk-ssi, seorang Kyuhyun, yang tidak pernah peduli pada seorang perempuan, sampai memohon bantuanku hanya untuk membuatmu cemburu." Sohyun mengedipkan sebelah matanya sebelum melangkah pergi, "dulu aku dan Kyuhyun memang kekasih, tetapi sekarang tidak lagi. Kami hanya bersahabat, aku sudah menikah secara rahasia dengan kekasih sejatiku, bahkan Kyuhyun yang menjadi saksi pernikahan kami. Aku berhutang pada Kyuhyun, karena itulah aku setuju untuk membantunya."
Sohyun lalu melempar senyum pada Kyuhyun, "sepertinya sampai di sini aku bisa membantumu, Kyuhyun sayang. Semoga kau bisa membereskan masalah rumah tanggamu dengan baik dan berujung bahagia." Lalu perempuan itu melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Eunhyuk tertegun, menatap kepergian Sohyun, lalu berbalik menatap Kyuhyun dengan marah, dihempaskannya tangan Kyuhyun yang masih menahan tangannya, kali ini Kyuhyun menyerah dan melepaskannya. Mereka berdiri berhadap-hadapan di depan ruang kerja Kyuhyun.
"Apa maksud semua ini."
Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi, lalu melangkah memasuki ruangan kerjanya. "Duduklah, dan aku akan menjelaskan semuanya."
Tanpa suara Eunhyuk mengikuti Kyuhyun dan duduk di sofa ruang kerja itu, di depan Kyuhyun.
"Jelaskan padaku." Gumam Eunhyuk dengan suara bergetar ketika Kyuhyun tetap tidak bersuara.
Lelaki itu memejamkan matanya, lalu menghembuskan nafasnya.
"Seperti yang kau bilang tadi, aku meminta bantuan Sohyun untuk membuatmu cemburu."
"Kenapa?" Sela Eunhyuk cepat.
Kyuhyun menatap Eunhyuk dengan tajam. "Karena aku ingin kau cemburu padaku."
"Lalu apa tujuanmu? Apakah untuk memuaskan egomu ketika istrimu cemburu padamu?" Gumam Eunhyuk jengkel. Sialan! semua ini direncanakan dan dia terpancing dengan mudahnya. Mungkin Kyuhyun dan Sohyun menertawakan sikapnya diam-diam di belakangnya. Pemikiran itu membuat hatinya terasa sakit.
"Bukan, astaga Eunhyuk-ah, kenapa kau selalu berpikiran buruk padaku?" Gumam Kyuhyun marah, "aku ingin kau cemburu padaku karena aku mencintaimu."
Kali ini Eunhyuk benar-benar ternganga, itu tadi.. apakah itu pengakuan cinta Kyuhyun padanya?
Kyuhyun melirik Eunhyuk yang terpaku, lalu tersenyum kecut.
"Yah, semua karena aku mencintaimu, mau dibilang bagaimana lagi. Kau mungkin tidak percaya. Tapi aku sudah menyimpan perasaan padamu sejak di pesta itu, ketika aku melihatmu pertama kali, berdiri dengan cantiknya disana sendirian. Lalu dengan angkuhnya menolak rayuanku. Aku menyelidiki masa lalumu lebih karena aku ingin tahu tentangmu, bukan karena kau adalah kakaknya Jinki. Dan aku semakin mencintaimu ketika tahu kisahmu, masa lalumu bersama Changmin, segalanya..." Kyuhyun mendesah frustasi, "kau mungkin tidak akan percaya, tapi bahkan aku menawarkan perjanjian sandiwara gila itu lebih karena aku terdorong oleh perasaanku, daripada akal sehatku."
Ketika Eunhyuk tetap tidak berkata-kata, Kyuhyun melanjutkan.
"Seiring berjalannya waktu perasaanku semakin dalam. Pernikahan ini adalah saat paling membahagiakan dalam hidupku. Ketika aku bangun di pagi hari dan menyadari kau sedang bergelung mencari kehangatan di tubuhku, ketika aku bergegas pulang dari kantor karena tidak sabar bertemu denganmu. Ketika aku menatapmu dan bergumam dalam hati, memanggilmu sebagai istriku. Aku merasa terlalu bahagia, sehingga menyimpan harapan konyol bahwa pernikahan ini akan berlangsung selamanya."
Kyuhyun menatap Eunhyuk lekat-lekat, matanya tampak sedih, "tapi aku tidak bisa membaca hatimu. Aku tidak bisa menebak perasaanmu, karena itulah aku meminta Sohyun membantuku, untuk melihat apakah kau cemburu padaku." Kyuhyun mendesah, "cara kau memarahi Sohyun waktu itu membuatku bahagia luar biasa, kau dengan gigih mempertahankanku. Karena itulah malam itu aku berharap lebih, terlalu percaya diri, aku memutuskan untuk merayumu..." Kyuhyun mengerjapkan matanya, "tapi kau tahu hasilnya seperti apa bukan? Bukannya merayumu, aku malah menunjukkan padamu bahwa aku hanyalah bajingan yang menyimpan nafsu tak bermoral padamu."
Eunhyuk menggelengkan kepalanya, tapi tidak bisa berkata-kata.
"Malam itu aku begitu marah." Gumam Kyuhyun, "aku ingin membuatmu menunjukkan kalau kau juga menyimpan perasaan yang sama padaku. Dalam kemarahanku aku menelepon Sohyun, untuk menyusul ke pantai, untuk memancing cemburumu lagi. Mungkin dengan kehadiran Sohyun kau bisa menyadari bahwa kau sebenarnya juga tertarik padaku." Kyuhyun tertawa pahit, menertawakan dirinya sendiri, "pada akhirnya kau malah mengatakan padaku bahwa pernikahan kita bagaikan di neraka untukmu. Dan kemudian aku malah membuatmu celaka... Oh astaga padahal yang kuinginkan hanyalah mengetahui perasaanmu padaku. Aku akan sangat senang kalau kau juga mencintaiku, tapi kalau kau belum mencintaiku pun aku bertekad akan membuatmu mencintaiku."
"Bukan salahmu kalau aku tenggelam..." desah Eunhyuk cepat.
Kyuhyun mengangkat bahu, "jangan membelaku, semua salahku. Aku yang memaksamu mencoba berenang di laut, aku berjanji untuk menjagamu tetapi pada akhirnya kau malah tenggelam. Aku tidak ingin membuatmu menderita, karena itulah aku menyerah. Kau akan kuberikan perpisahan yang sangat kau inginkan itu. Tetapi... aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu Eunhyuk-ah, dan aku tidak peduli kau membalas cintaku atau tidak. Aku ingin kau tahu, kau memiliki hatiku, bahkan nanti ketika kita sudah bercerai. Seandainya pun kau memberiku kesempatan, aku ingin menunjukkan bahwa aku mencintaimu, lebih dari yang pernah kau tahu."
Mata Eunhyuk mulai berkaca-kaca. Semua informasi ini terlalu mendadak, sekaligus terlalu membahagiakan. Eunhyuk tidak pernah menyangka kalau Kyuhyun menyimpan perasaan padanya. Bahwa lelaki itu memupuk perasaannya pelan-pelan, diam-diam dan semakin dalam selama pernikahan mereka.
"Tetapi aku tidak ingin bercerai." Gumam Eunhyuk pelan.
Kyuhyun mengerutkan keningnya mendengar jawaban Eunhyuk, "tapi kau bilang kau tidak bahagia, karena pernikahan ini seperti di neraka?"
Eunhyuk berdehem, jantungnya berdegup liar, "itu semua luapan perasaan kekanak-kanakanku, karena aku cemburu."
"Apa?" Suara Kyuhyun menjadi dalam dan was-was, "apa Eunhyuk-ah?"
"Aku mengatakan itu karena aku cemburu." Kali ini suaranya lebih mantap.
"Dan itu karena...?" Suara Kyuhyun semakin tegang, Eunhyuk bisa merasakan jantung Kyuhyun berdegup liar, sama sepertinya.
"Karena aku sepertinya juga menyimpan perasaan padamu."
"Eunhyuk-ah!" Kyuhyun berseru, lalu melangkah cepat ke arah Eunhyuk dan menariknya berdiri menghadapnya. "Katakan sekali lagi! Apa maksudnya itu?"
"Karena aku juga mencintaimu." Kali ini Eunhyuk tersenyum lebar, "dan aku berterima kasih pada Sohyun, dia memang membantumu, karena kalau tidak ada dia, aku tidak akan menyadari perasaanku."
Kyuhyun berseru pelan, lalu memeluk Eunhyuk erat-erat. "Ah. Ya Tuhan Eunhyuk-ah." Suara lelaki itu bergetar, "kau tidak menyadari betapa seringnya aku mencoba membaca hatimu, menebak-nebak apa yang ada di dalam kepala cantikmu itu. Aku tidak pernah merasa begini pada wanita lain sebelumnya. Tidak pernah!"
Dengan lembut, Eunhyuk membalas pelukan Kyuhyun, lelaki itu kini terasa lebih dekat, tanpa penghalang saat mereka sudah saling mengungkapkan perasaan masing-masing.
"Jadi kita harus bagaimana." Gumam Eunhyuk dalam senyuman.
Kyuhyun menatapnya serius. "Tidak ada perceraian. sudah pasti tidak akan ada!" Kyuhyun menjauhkan tubuhnya sedikit dari Eunhyuk, lalu mengecup dahinya, mengecup pipinya, mengecup bibirnya dengan kecupan ringan yang lembut. "Suka atau tidak suka kau akan menjadi istriku selamanya."
Eunhyuk terkekeh, "kau sangat arogan, Cho Kyuhyun."
Lelaki itu balas tersenyum, "aku sudah memilikimu sebagai istriku, dan akan kupertahankan." Mata Kyuhyun bersinar sensual dan suaranya menjadi parau, "mungkin sekarang kita bisa membahas masalah malam pertama."
Eunhyuk memukul lengan Kyuhyun sambil tertawa, "apakah hal itu tidak jauh-jauh dari otak kotormu selama ini?"
Kyuhyun tertawa, tawanya lepas, tampak bahagia. "Kau tidak tahu betapa susahnya untukku menahan diri tidak menyentuhmu di ranjang itu. Setiap pagi aku bangun dengan nyeri yang menyiksa. Tetapi saat itu kupikir semua sepadan, karena pada akhirnya aku akan memilikimu."
"Tetapi kau menyerah untuk melepaskanku tadi."
"Karena aku mencintaimu, karena aku ingin kau bahagia." Kyuhyun menundukkan kepalanya, lalu mengecup bibir Eunhyuk dengan lembut, "sekarang setelah aku mengetahui perasaanmu padaku, jangan harap kau akan kulepaskan."
Eunhyuk membalas kecupan Kyuhyun, sejenak mereka hanyut dalam ciuman yang panas, sampai Kyuhyun mengangkat kepalanya dengan napas terengah. "Aku merencanakan bulan madu di Paris dengan suasana romantis, tapi sepertinya aku tidak mau menunggu." Matanya bersinar penuh pertanyaan, membuat Eunhyuk terharu sekaligus merasa sangat dihargai.
Ketika Eunhyuk menganggukkan kepalanya dengan lembut, Kyuhyun meraih Eunhyuk dan menggendongnya, seolah Eunhyuk begitu ringan ditangannya. "Kalau begitu sekarang." Gumamnya penuh hasrat, lalu mengangkat istri yang belum pernah disentuhnya, dan membawanya menaiki tangga menuju kamar.
Eunhyuk mengalungkan lengannya di leher Kyuhyun dengan bahagia, tak pernah disangkanya pernikahan sandiwara karena perjanjian ini akan berakhir seperti ini. Berakhir menjadi penyatuan hati, menjadi perjanjian hati.
Eunhyuk memejamkan matanya, tidak ini bukan akhir. Ini adalah awal segalanya, bisa dibayangkannya dia dan Kyuhyun bergandengan di usia senja, menatap wajah anak cucu mereka dengan bahagia. Tuhan memang selalu memberikan skenario misterius bagi umatnya. Dulu dia pernah begitu mencintai Changmin hingga merasa tidak mampu mencintai lelaki lain. Tetapi kemudian Tuhan memberikan Kyuhyun untuknya, yang dicintainya dengan begitu saja. Yang juga mencintainya dengan begitu saja.
Dan dia yakin bahwa mereka akan bahagia sampai akhir. Karena mereka saling mencintai, dan hati mereka sudah saling berjanji.
END
Next EPILOG
Perjanjian Hati – EPILOG
**KyuHyuk**
-o0o
"Pernikahan itu bagaikan perjanjian hati. Perjanjian hati untuk saling mengerti, saling memaafkan dan saling menjaga cinta satu sama lain."
-o0o-
Pagi hari yang mendung, hujan rintik-rintik turun di luar sana, membuat suasana pagi gelap dan temaram. Eunhyuk menarik selimutnya sampai ke pundak, merasa lelah dan mengantuk luar biasa. Lalu dia merasakan lengan itu melingkari pinggangnya, lengan yang kuat, memeluknya dengan posesif.
Eunhyuk mengerutkan kening, membuka matanya pelan dan menunduk melihat lengan itu, kesadarannya kembali… Itu lengan KyuHyun, suaminya. Suaminya. Pipi Eunhyuk memerah dan dadanya dipenuhi oleh perasaan hangat. KyuHyun benar-benar telah menjadi suaminya yang sesungguhnya, semalam. Ingatannya melayang pada malam sebelumnya dimana KyuHyun berlaku sangat lembut padanya, menyentuhnya dengan hati-hati dan penuh penghormatan, lalu KyuHyun memberinya pengalaman luar biasa dan membuat mereka benar-benar menjadi suami istri.
Lengan KyuHyun yang memeluknya bergerak, lelaki itu rupanya terbangun dan langsung mengecup pipi Eunhyuk dari belakang dengan lembut.
"Selamat pagi." bisiknya serak di telinga Eunhyuk.
Eunhyuk menolehkan kepalanya dan tersenyum malu-malu pada Eunhyuk, "Selamat pagi juga."
KyuHyun melirik ke arah hujan yang mulai turun dengan deras di luar, "Hari ini hari minggu dan diawali dengan hujan yang turun deras." lelaki itu mengedipkan matanya, "Sepertinya kita akan berada di atas ranjang seharian."
Eunhyuk sempat tertawa geli ketika KyuHyun menariknya setengah menggoda ke dalam pelukannya dan menciuminya. Dan memang benar, mereka baru turun dari ranjang lama sekali sesudahnya.
Ketika Eunhyuk dan KyuHyun turun untuk makan siang dan melewatkan sarapan, mereka bertemu dengan Key dan Jinki yang sedang duduk di ruang makan, menikmati makan siang mereka. Jinki memang sengaja datang untuk menjemput Key ke sebuah acara kampus di hari minggu.
Key mengangkat alisnya melihat pasangan itu dan tersenyum menggoda. "Aku pikir kalian tidak akan bangun seharian." gumamnya penuh arti, membuat pipi Eunhyuk merah padam karena malu.
KyuHyun hanya terkekeh menanggapinya dan merangkul pinggang Eunhyuk erat-erat, "Kau tidak boleh protes, kami kan masih bisa disebut pengantin baru."
"KyuHyun-ah!" Eunhyuk berbisik pelan sambil menyikut pinggang suaminya pelan, membuat KyuHyun tergelak dan Key serta Jinki ikut tertawa.
Masih tersenyum KyuHyun menarikkan kursi makan untuk Eunhyuk dan duduk di sebelahnya. Mereka lalu makan bersama.
"Eomma di rumah sendirian?" Eunhyuk melirik ke arah Jinki, memikirkan ibunya dan tiba-tiba ingin tersenyum, ibunya akan sangat bahagia dengan perkembangan ini, bahwa Eunhyuk dan KyuHyun benar-benar berbahagia dalam arti yang sesungguhnya.
"Eomma ada acara dengan ibu-ibu sekitar rumah, tadi aku sudah mengajaknya ke sini tetapi dia tidak bisa karena sudah berjanji akan datang ke acara itu."
"Oh." Eunhyuk menganggukkan kepalanya dan memusatkan perhatiannya kembali pada makanannya.
"Kami akan berbulan madu ke Paris." gumam KyuHyun memecah keheningan.
Key yang menanggapi pertama dengan senyum lebarnya, "Akhirnya kalian berbulan madu juga." desahnya.
"Kapan Eonni?" tanyanya bersemangat.
Eunhyuk menggelengkan kepalanya, dia sendiri tidak tahu rencana ini, dia memang mendengar KyuHyun sempat mengatakannya kemarin, tetapi dipikirnya waktu itu KyuHyun masih akan melakukannya beberapa bulan lagi.
Eunhyuk menoleh ke arah Kyuhyun dengan penuh pertanyaan, "Aku juga tidak tahu…" jawabnya pada Key, "Memangnya kita akan berbulan madu kapan Kyuhyun-ah?"
Kyuhyun tersenyum penuh rahasia, "Segera." gumamnya,
"Minggu depan."
Key tersenyum makin lebar, "Dan kuharap kalian membawakanku oleh-oleh calon keponakan sepulangnya kalian dari sana."
Pipi Eunhyuk memerah mendengarnya, dan Kyuhyun tersenyum lembut.
"Ada yang harus kukatakan kepada kalian," Kyuhyun menatap Eunhyuk meminta persetujuan, ketika Eunhyuk mengangguk, Kyuhyun melanjutkan. "Aku harap kalian tidak marah pada kami."
Key dan Jinki saling bertukar pandang, lalu menatap Kyuhyun dengan bingung.
"Tentang apa Oppa?" gumam Key penasaran.
"Tentang pernikahan kami." Kyuhyun menghela napas panjang. "Semula kami menikah hanya berdasarkan perjanjian."
"Perjanjian?" kali ini Jinki yang menyela, menatap Eunhyuk dengan was-was.
Kyuhyun mengangguk dan menatap Jinki dengan serius, "Jangan menyalahkan Hyukkie karena berbohong pada kalian selama ini, sebenarnya akulah yang mengusulkan perjanjian ini padanya." Dia menghela napas, "Kau mungkin belum tahu Jinki karena aku yakin Key tidak cerita padamu… Kau pasti sudah tahu bahwa aku adalah anak angkat keluarga ini, bahwa aku dan Key tidak ada hubungan darah. Jadi karena ingin menjaga keutuhan keluarga, ibu kami ingin menjodohkan kami. Aku dan Key ke dalam sebuah pernikahan. Tentu saja waktu itu ibu kami belum mengenalmu, Jinki-ah."
Jinki menoleh kepada Key dengan pandangan bertanya-tanya, dan Key mengangguk, membenarkan perkataan Kyuhyun.
"Aku berpikir aku tidak mungkin menikahi Key, dia sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri, dan aku yakin begitu pula sebaliknya." Kyuhyun melempar senyum pada Key. "Kami berdua sangat ingin menolak pernikahan ini, tetapi mengingat kondisi eomma waktu itu, kami sangat bingung dan tidak ingin membuat eomma kecewa. Aku juga pusing memikirkan jalan keluar dari polemik ini, sampai kemudian kau membawa Eunhyuk ke pesta itu dan mengenalkannya sebagai kakakmu." Kyuhyun menggenggam tangan Eunhyuk, menatap mata istrinya dengan lembut, "Ide itu muncul begitu saja. Aku dan Eunhyuk berkompromi untuk menjalankan hubungan pura-pura ini, supaya kalian bisa menentukan kisah cinta kalian sendiri."
Jinki terperangah, "Jadi kalian berdua benar-benar baru mengenal pertama kali di pesta itu? Bukan sudah mengenal lama seperti yang kalian katakan?"
Kyuhyun mengangguk, "Sekali lagi aku minta maaf karena kami telah membohongi kalian semua, tetapi waktu itu kami pikir itulah jalan yang terbaik." Kyuhyun meremas jemari Eunhyuk semakin erat, "Pernikahan itu pada awalnya hanyalah sebuah perjanjian. Tetapi kemudian kami saling mencintai. Dan kami mensyukuri perjanjian pernikahan itu."
Mata Key berkaca-kaca, "Kalian… Kalian terlah berkorban demi kami berdua… Kalian mengikat diri agar kami bisa bebas menentukan cinta kami." ditatapnya Jinki yang berusaha menelaah semua ini, suaranya serak penuh perasaan, "Terima kasih Oppa."
Kyuhyun tersenyum lembut kepada adiknya, "Sama-sama sayang, pada akhirnya aku menemukan wanita yang akan aku cintai selamanya, istriku."
Jinki menghela napas panjang, "Aku juga harus mengucapkan terima kasih… Dan aku senang kalian akhirnya berujung bahagia." matanya menatap lembut ke arah Eunhyuk, "Selamat Noona."
Eunhyuk tersenyum pada adiknya, "Sama-sama Jinki-ah." bisiknya tulus. Ternyata begitu mudah berterus terang pada kedua adik mereka. Tidak ada kebohongan lagi sehingga Eunhyuk akan lebih mudah melangkah ke depannya bersama Kyuhyun.
"Aku mencintaimu." Kyuhyun memeluk Eunhyuk dari belakang dengan menggoda, dia baru pulang dari kantor dan memeluk istrinya dari belakang dan menggelitiknya setengah menggoda.
"Kyuhyun-ah!" Eunhyuk berteriak kegelian dan menerima kecupan-kecupan sayang Kyuhyun di pipinya.
Kyuhyun terkekeh sambil masih menciumi Eunhyuk, menghirup aroma istrinya yang sangat dirindukannya seharian ini, "Apakah kau merindukanku selama aku tidak ada di rumah?" bisiknya lembut, "Dan kau harus menjawab 'ya' kalau tidak aku akan marah."
"Ya Cho Kyuhyun." Eunhyuk membalikkan badannya dan memeluk Kyuhyun, membiarkan dahinya dikecup dengan lembut.
"Aku juga." Kyuhyun mengaku. "Setiap saat yang kupikirkan hanya kau, aku tidak sabar untuk cepat-cepat pulang."
Pipi Eunhyuk bersemu merah dan menatap suaminya penuh cinta. "Aku sangat bahagia bersamamu." bisiknya kemudian membuat Kyuhyun langsung memeluknya semakin erat.
"Syukurlah." gumam Kyuhyun penuh perasaan, "Kau tahu kebahagiaanmu telah menjadi obsesi pribadiku. Aku berjanji akan menghabiskan seluruh sisa hidupku untuk membahagiakanmu." dikecupnya ujung hidung Eunhyuk, "Ngomong-ngomong tentang berbahagia, kita akan berangkat ke Paris Sabtu ini. Aku sudah menyiapkan semuanya."
Mata Eunhyuk berbinar, "Kau sudah bisa melepaskan diri dari kegiatan kantormu?" Eunhyuk tahu Kyuhyun sibuk luar biasa, karena lelaki itu bisa dibilang mengendalikan seluruh perusahaan dengan kepandaiannya. Dia adalah orang inti di perusahaan dan sangat sibuk, sehingga berbulan madu hampir sebulan di Paris tentunya memerlukan persiapan yang cukup lama bagi perusahaannya.
Kyuhyun tersenyum, "Sesibuk-sibuknya aku, kaulah prioritasku, lagipula aku sudah membagi semua tugas kepada para asistenku, aku yakin mereka semua memiliki kemampuan yang baik untuk mengelola perusahaan selama aku tidak ada."
Eunhyuk mendesah lega, "Jadi, kita akan berbulan madu?"
Kyuhyun menganggukkan kepalanya, "Kita akan meneruskan usaha untuk menciptakan Kyuhyun Junior di Paris." godanya, membuat pipi Eunhyuk bersemu merah.
Laki-laki itu terpesona melihat kecantikan istrinya, sehingga tidak bisa menahan diri untuk menunduk dan mengecup bibir istrinya dengan penuh gairah. Disesapnya bibir yang lembut itu dengan penuh kasih sayang.
Ketika mereka berdua mengangkat wajahnya, binar-binar kebahagiaan memancar dari mata mereka, penuh dengan cinta.
Eunhyuk sangat bahagia sekarang, kisah cintanya dengan Kyuhyun baru dimulai. Dia tersenyum membayangkan masa depannya, bersama Kyuhyun, bersama anak-anak mereka nanti.
The End
Thanks to: Ddangko, elferani, loeloe07, sontol, lovehyukkie19, Misslah, Baby niz 137, jihyunelf, kim hyun soo.
Tengkyuuu yang udah mau baca :), mau fokus di ff TMTETS yg jumlahnya 20 part *kenyang*. kkkkkk ^.^/
