Title : Cover Girl

Pairing: SasuSaku

Disclaimer: I do not own Naruto, nor the story.

Warning: This is an Indonesian translation of Annie Sparklecakes's story with the same title. Done with permission.

Summary:

Sakura mengatakan, Sasuke adalah pria paling tampan yang pernah dia lihat. Sasuke mengatakan Sakura adalah wujud kesempurnaan dalam sebuah foto. Mereka tidak akan mengatakan apa harapan mereka, tapi ini adalah cinta.


Chapter 2

.

.

Say Cheese!

.

.

Aku hampir berhenti saat Kakashi mengatakan bahwa aku harus menemukan seorang model untuknya. Alasannya adalah karena aku bisa menarik gadis- gadis semua umur, berbagai bentuk, dan ukuran hanya dengan berjalan di jalan, jadi menurutnya tidak ada masalah bagiku jika aku mengamati mereka satu- satu saat mereka mencari perhatianku. Tapi aku seorang fotografer, bukan pria mesum sepertinya. Aku bahkan tidak tertarik pada gadis- gadis itu.

Bukan berarti aku gay. Aku sangat normal, tidak usah pedulikan apapun yang Naruto katakan padamu. Aku hanya tidak merasa tertarik pada gadis yang melemparkan dirinya padaku; memangnya siapa yang mau kalau begitu?

Tapi aku tidak benar- benar berhenti, Kakashi mungkin tahu itu. Aku menempelkan iklan di tempat- tempat yang aku tahu banyak didatangi gadis belasan tahun akhir atau dua puluhan awal, menentukan tanggal dan menunggu mereka datang kepadaku.

-x-

Dia berkata, "Tidak ada yang lebih menarik daripada seorang gadis yang tahu batas kemampuannya sendiri dan menghargai batas kemampuanku."

-x-

Banyak gadis yang datang, lebih dari yang aku dan Kakashi perkiraan. Gadis- gadis senang jika orang mengatakan mereka cantik, lebih suka lagi jika yang mengatakannya adalah seseorang sepertiku.

Mungkin aku terdengar sombong, tapi aku tidak. Aku tahu efek yang aku berikan pada para gadis. Aku kaya. Aku pintar. Aku kuat. Dan aku memiliki semua kategori yang orang bilang tinggi, tampan, misterius. Tapi aku tidak suka menjadi pusat perhatian, itulah kenapa aku berada di belakang kamera, bukan di depan.

Aku memasuki ruangan dan menyapukan pandangan pada gadis- gadis dengan lirikan singkat. Beberapa pirang, beberapa berambut merah, beberapa brunet, dan beberapa berambut raven. Banyak gadis dengan rambut diwarnai, bertindik, dan memakai rok mini. Ada yang memakai jeans, berambut panjang atau diikat tinggi, berpotongan bobs bahkan ada yang memakai setelan jas kerja. Beberapa memakai kacamata, beberapa berpenampilan sederhana, beberapa bertubuh pendek, beberapa tersenyum. Kebanyakan memakai make-up. Tidak ada yang mencuri perhatianku—sampai aku melihat dia.

Dia memiliki rambut panjang merah muda sewarna permen kapas, matanya hijau dan melebar saat pandangannya mendarat padaku. Dia mungkin lebih pendek satu kaki dariku, terlihat takut, dan tidak tersenyum, tapi saat itu aku sudah tahu aku mau dia. Aku tidak akan menemukan gadis sepertinya lagi dan aku harus mengambil kesempatan yang sudah diberikan padaku ini. Aku sudah merencanakan berbagai pose dan latar belakang dan sudut pengambilan gambar yang akan aku pakai pada gadis paling cantik dan unik yang pernah aku lihat ini saat detik berikutnya sosok itu menghilang dari pandanganku.

Aku mendengar seseorang berteriak, "Ya Tuhan, gadis ini pingsan!"

Aku harap itu bukan karena aku—bukan berarti ini adalah kali pertama.

Aku menatap sekeliling saat melihat Kakashi berjalan melewatiku menuju gadis yang jatuh pingsan tadi. Aku bisa mendengar Kakashi bertanya apakah gadis itu baik- baik saja, mencoba menjadi seorang gentleman yang aku tahu bukanlah karakternya. Aku berjalan mendekatinya untuk memastikan bahwa Kakashi tidak mencoba meraba- raba dan membuat kami mendapat tuntutan saat aku akhirnya melihat gadis yang terjatuh di lantai. Aku menyadari bahwa itu dia.

Pipinya merah muda, dan dia terlihat malu. Dia menundukan kepalanya, helai merah muda panjang jatuh melewati pundaknya, kontras dengan kaos hitam yang membungkus tubuhnya.

"Aku baik- baik saja, terimakasih. Hanya gugup." Suaranya lembut, dan manis, membuat aku berpikir bahwa mungkin dia lebih dewasa dari penampilannya. Dia memakai celana jeans pudar dan boots hitam. Aku menatap sepasang kakinya yang ia lurusakan. Aku bisa melihat ujung celana jeans yang membungkus kaki sebelah kanannya sedikit tersingkap membuatku dapat melihat kilasan kulit di antara celana dan sepatu bootsnya. Sempurna, pikirku.

"Kau tidak perlu gugup," kata Kakashi dengan tawa kecil, "aku yakin kau akan menjadi kandidat yang bisa dipertimbangkan." Aku yakin Kakashi mengatakannya hanya agar gadis itu tersenyum seperti yang sedang gadis itu lakukan sekarang, tapi ironisnya, Kakashi benar. Aku sudah tidak ingin melihat gadis lainnya, karena gadis ini akan menjadi modelku.

Aku masih belum bisa memindahkan pandangan mataku dari perpotongan kulit yang diperlihatkan celana jeansnya sampai gadis itu bergerak dan membuat aku tidak bisa melihatnya lagi. Lalu aku mengalihkan pandanganku pada wajahnya. Dia tengah menatapku, bibirnya terbuka sedikit. Aku menunduk dan berjongkok agar aku bisa menatap tepat di mata hijaunya dan melihat bayanganku di sana.

"Kau tidak akan membuat ini menjadi kebiasaanmu, kan?"

"Tidak," katanya dengan sangat pelan, aku hampir tidak mendengarnya. Tangannya menyisir kaosnya lalu memelintirnya, aku bisa melihat Kakashi menyeringai menatapku.

"Bagus, kau diterima."

Aku berdiri, menawarkan satu tanganku untuk menariknya bangkit dan mengabaikan keluhan dari gadis- gadis lain yang ada di dalam ruangan. Kakashi berbalik mencoba mengatasi suasana, namun konsentrasiku terfokus pada tangan kecil halus yang tengah meraih tanganku. Tangannya terasa berkeringat karena gugup, namun terasa sangat lembut, dan hilang sepenuhnya saat aku melingkupkan tanganku menutupinya.

"Aku Sasuke," kataku, melepaskan tangannya saat aku rasa dia sudah stabil berdiri di kedua kakinya.

"Aku Sakura," balasnya. Nama yang sesuai, "apa kau sungguhan? Aku diterima?"

"Aku tidak bercanda." kataku.

Seketika, senyum ragu namun menggetarkan hati tersuguh di wajahnya, dan aku pikir dia lebih cantik dari kesan saat pertama kali melihatnya. Dia mungkin akan menjadi model yang akan melambungkan karirku.

"Ikuti aku. Kita perlu mendiskusikan jam kerja, tanggung jawab, dan bayaranmu."

Dia melompat mengikuti langkahku mendengar kalimatku, mengabaikan tatapan tajam gadis lainnya dan mengatakan, "Sasuke, aku rasa ini akan menjadi awal dari hubungan yang indah."

Aku tidak akan mengatakan padanya bahwa aku sangat setuju dengan kalimatnya.

-x-

"Aku mau kau untuk tepat waktu, siap bekerja dan tersenyum."

"Aku bisa."

"Kalau begitu lakukan sekarang, tersenyumlah untukku."

-x-

ThanksTo: hana. khoirunisa. 33 Hyemi761, pinktomato, kHaLerie Hikari, zeedezly. clalucindtha, kura cakun, adora13,

AN: Pendek banget yah? I know~

Mungkin yang berikutnya Eve akan berbaik hati dan update dua chapter sekaligus, kalau kamu mau sih. Mau?

Anyway, Terimakasih sudah membaca.

Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.

-with cherry on top-

.the autumn evening.