Disclaimer © Masashi Kishimoto
Sasuke Uchiha X Sakura Haruno X Itachi Uchiha X Sai
(SasuSaku x SakuItha x SakuSai dan beberapa pairing lainnya)
Rate: T – M
Genre: Drama, Friendship, Family, Romance maybe, Hurt/Comfort and Angst.
Summary: Apa yang ada di pikiran kalian jika dihadapkan dengan angka 18? Apakah percintaan? Pemberontakan? Kenakalan? Perselingkuhan? Mimpi yang besar? Menyakiti diri sendiri? Atau kah persahabatan? Ini kisah mereka! Kisah para Ahli Waris.
Warning: OOC, pembashingan seluruh chara yang ada di fic ini maybe, beberapa scene saya ambil dari beberapa drama baik itu drama Korea, drama Mandarin, Thailand, novel, teenlit, komik ataupun anime yang cocok untuk diletakkan dalam fic ini, tidak bermaksud menyinggung para sosialita maupun kalangan kelas atas, fic ini hanya fiksi mohon jangan dianggap serius.
18
"Shikamaru, kau lihat bocah perempuan bersurai merah muda dengan gaun biru malam yang sangat indah itu" Kata tousannya sambil mengarahkan telunjuknya terhadap objek yang ia bicarakan.
"Iya tousan ..." Jawab Shikamaru.
"Dia itu seorang putri dari Klan Haruno, kau harus ingat Shikamaru kalau bocah itu orang yang harus selalu kau lindungi, kita dari Klan Nara dari dulu selalu melayani Klan Haruno bukan hanya melayani tapi harus menjunjung tinggi kesetiaan terhadap Klan itu karena seluruh Klan Nara memiliki hutang budi yang takkan pernah bisa kita bayar terhadap mereka" Jelasnya.
"Aku mengerti dan akan selalu kuingat" Kata Shikamaru dengan terus memperhatikan bocah perempuan bersurai merah muda yang tak lain adalah Haruno Sakura yang sedang berdansa dengan seorang bocah dari Klan Uchiha.
"Tentu akan selalu kuingat" Bathinnya sambil tersenyum dengan rona merah menghiasi kedua pipi chubinya.
18
Sakura menutup pintu ruang kepala penanggung jawab USC, sebelum sempat melangkahkan kakinya menjauh dari pintu tersebut seketika tangannya dicekal dan ditarik menuju lorong USC yang sepi.
"Sasuke ... apa yang kau lakukan?" Kata Sakura kaget saat mereka sudah berada di lorong tersebut.
Bukannya menjawab pertanyaan Sakura, Sasuke langsung memegang kedua pipinya kemudian menciumnya, ciuman itu bukan ciuman yang lembut penuh kasih sayang, begitu banyak perasaan kekhawatiran dan kekesalan yang Sakura rasakan dalam ciuman Sasuke.
"Ugh ...Sasuke" lirih Sakura.
Sakura membiarkan Sasuke menciumnya bukan hanya di bibir saja, ciuman Sasuke menjalar keleher Sakura bahkan tangan Sasuke sendiripun tidak berhenti hanya disatu tempat.
"Sudah puas" Bukan sebuah pertanyaan melainkan pernyataan yang Sakura ucapkan dengan santainya begitu Sasuke melepaskan kungkungannya.
Sakura menghela napas saat tak ada suara yang keluar dari mulut Sasuke, menyentuh kedua pipi Sasuke hingga mata onyxnya langsung menatap emerald Sakura.
"Kau sedang kesal denganku?"
"Hm ..." Jawab Sasuke.
"Apa yang membuatmu kesal?" Kembali Sakura bertanya.
"Kau pulang dengan siapa kemarin" Ini bukan pertanyaan.
"Aku tidak percaya ini, kau kesal denganku hanya karena aku pulang dengan Itachi-nii"
"Kau tahu lebih jelas alasannya tanpa harus kujelaskan Sakura" Kata Sasuke mulai geram.
Sifat santainya Sakura berhasil membuat Sasuke geram, buat Sasuke, tak boleh ada orang lain hanya ada dia selalu dia yang harus menjadi pusat dunia Sakura seperti halnya Sakura yang menjadi pusat dunianya.
"Kau harus terbiasa dengan kata berbagi mulai sekarang Sasuke, pertunangan aku dan kalian tinggal seminggu lagi, saat pertunangan kita diresmikan saat itulah dimulai segalanya jadi biasakan itu mulai sekarang" penjelasan Sakura menghantamnya telak, bagaimana mungkin Sasuke mampu berbagi mengingat mereka berdua telah lebih jauh melangkah, sangat jelas diingatannya apa yang pernah mereka lakukan saat Sakura masih berada di London.
"Aku seorang Haruno, aku punya tanggung jawab yang lebih berat daripada Klan lainnya, memilih pendamping sekaligus sebagai penerus Haruno Corp tidak segampang memilih teman kencan"
Mata Sasuke berkilat, kali ini bukan hanya sekedar geram tapi kilatan marah terpancar dimatanya dan Sakura menyadari itu.
"Jadi kau anggap aku hanya sekedar teman kencan?" Sasuke berusaha menahan kemarahannya.
"Seorang calon tunangan tidak akan melakukan hal tadi Sasuke, kau tentu tahu aturannya kan? Lagi pula bukankah dulu saat aku di London kau datang menawarkan diri sebagai teman kencan"
Kalimat-kalimat Sakura tak dapat dibalas Sasuke. Sakura menghela napasnya kemudian memeluk Sasuke.
"Aku sangat mengenalmu dan aku pun sangat memahamimu tapi bisakah kau jangan membuat keadaanku menjadi sulit?" Kata Sakura lembut.
Sasuke memejamkan matanya menikmati pelukan dari Sakura perlahan kemarahannya mereda, Sasuke memang tidak pernah bisa terlalu lama marah, bukan karena dia tidak bisa marah tapi marah dan kemudian mendiamkan Sakura adalah hal yang sia-sia karena Sakura bahkan jauh lebih tidak peduli jadi percuma saja kalau mau ngambek ataupun menghindar yang ada malah menyiksa diri sendiri.
18
Sakura dan Sasuke beriringan memasuki ruang kelas yang ternyata sudah dimulai kegiatan belajar, Sakura melangkahkan kakinya menuju meja paling atas (ruang kelas di USC seperti ruang kelas di anime Naruto, dimana letaknya seperti tangga) dimana disana sudah ada Sai.
Sakura duduk di samping Sai sedangkan Sasuke berada di sampingnya tapi beda meja.
Tidak ada tradisi perkenalan terhadap siswa baru seperti di sekolah-sekolah pada umumnya.
"Apa aku harus menjadi teman kencanmu juga, agar bisa melakukan itu" Bisik Sai saat Sakura sudah berada di sampingnya.
Sakura menolehkan kepalanya kearah Sai, dan Sai yang ditatap Sakura memberikan isyarat dengan dagunya ke arah leher Sakura.
"Apa terlihat sangat jelas?" Tanya Sakura sambil menyentuh lehernya.
Sai hanya mengedikkan bahunya.
"Jangan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan saudaramu Sai ... kau harus lebih kreatif lagi" Kata Sakura santai tanpa Sakura sadari Sai mengepalkan kedua tangannya di bawah meja menahan kemarahan dan tanpa mereka berdua sadari juga seseorang memperhatikan mereka bertiga.
18
"Si pinky masuk kelas kita ternyata" Bisik Tayuya kepada teman sebangkunya yang tak lain Karin.
Mata Karin tak lepas dari objek bersurai merah muda yang sedang melenggangkan kakinya menuju bangku dengan diikuti Sasuke yang berada di belakangnya.
"Cih ... si jalang berwarna pink" Geram Karin.
Tayuya yang mendengar kalimat Karin, menatap tak percaya.
"Kau tidak perlu mengeluarkan kata kasar seperti itu, kita itu kalangan terpandang dan terhormat lagipula atas dasar apa sampai kau harus bicara seperti itu" Kata Tayuya tidak suka.
"Kau tidak lihat ruam merah tercetak jelas di lehernya, tanpa perlu memicingkan mata aku bisa tahu itu ruam baru saja dibuat, apa namanya kalau bukan jalang? Dan ini masih jam sekolah" Sinis Karin.
"Terserah kau sajalah, tapi aku hanya mengingatkan kamu, dari pertama dia ada d USC dia terlihat sangat akrab dengan Klan Bangsawan, aku hanya mewarningmu untuk berhati-hati atau kalau perlu membatalkan apapun rencanamu untuk si pinky itu"
Karin hanya mengibaskan tangannya tanda tak peduli, sedangkan Tayuya hanya bisa menghela napas, Tayuya sangat mengenal Karin, dia tahu pasti Karin sangat terobsesi dengan Sasuke dimulai saat mereka sama-sama satu kelas saat di Junior High School USC sebelum Sasuke di kirim ke LA, hanya karena saat itu Sasuke menolongnya yang hampir jatuh akibat ingin mengambil buku di perpustakaan yang letak buku tersebut berada dipaling atas, hanya satu kali itu, sedangkan Sasuke sendiri, Tayuya yakin tidak ingat sama sekali dengan kejadian yang membuat temannya terkesan dan terobsesi dengannya, miris.
18
"Sakura-chan ... kau tidak ikut bergabung dengan kami di kantin?" Tanya Ino
"Sakura akan ke kantin Ino tapi tidak bergabung dengan kalian, karena Sakura akan bersamaku di private room" Jelas Sasuke.
Ino hanya mendengus mendengar penjelasan Sasuke, terlihat jelas Ino kesal karena Sasuke mulai memonopoli Sakura, sebagai sahabat yang 10 tahun lebih tidak bertemu dan berkomunikasi tentunya Ino juga ingin menghabiskan waktu bersama Sakura.
"Kau tidak keberatan Sai?" Tanya Ino.
"Apapun itu Ino, selama Sakura melakukan hal dengan senang hati aku tidak akan keberatan" Jawab Sai sambil mengelus pipi Sakura yang dibalas dengan senyum manis dari Sakura.
Sasuke yang melihat Sai mengelus lembut pipi Sakura hanya mendengus kesal.
Kemudian mereka semua; Ino, Hinata, Neji, Gaara, Naruto, Shikamaru dan Sai beranjak meninggalkan ruang kelas mereka.
Hanya tersisa Sakura dan Sasuke yang masih bertahan di dalam kelas.
"Kau sebenarnya ada urusan apa Cherry?" Tanya Sasuke begitu teman-temanya yang lain sudah tak terlihat lagi.
"Kau duluan saja kekantin, nanti aku menyusul" Bukannya menjawab pertanyaan Sasuke, Sakura mengalihkan pembicaaraan.
Sasuke berdecak kesal.
"Aku akan menunggumu di sini"
"Kau harus segera kekantin untuk membooking private room sebelum semua ruangan terisi kalau kau ingin hari ini aku menghabiskan waktuku bersamamu"
Sasuke menghela napasnya dan dengan enggan meninggalkan Sakura.
"Kau sudah disana?" Tanya Sakura kepada seseorang yang sedang dia hubungi via handphone.
"Baiklah, aku segera kesana" Tutup Sakura kemudian meninggalkan ruang kelas.
TBC
(Kebenaran bukan dilihat dari bentuk luarnya saja. Meskipun kita tak bisa mempercayainya, tapi seperti itulah kenyataannya. Armin-SnK)
Masih pendek? Gomen chap selanjutnya akan saya usahakan lebih panjang lagi.
Terimakasih bagi yang udah review dan maaf kali ini tidak bisa balas review tapi aku tetap berharap yang mampir di fic berkenan meninggalkan jejak ^_^
