Title : Cover Girl

Pairing: SasuSaku

Disclaimer: I do not own Naruto, nor the story.

Warning: This is an Indonesian translation of Annie Sparklecakes's story with the same title. Done with permission.

Summary:

Sakura mengatakan, Sasuke adalah pria paling tampan yang pernah dia lihat. Sasuke mengatakan Sakura adalah wujud kesempurnaan dalam sebuah foto. Mereka tidak akan mengatakan apa harapan mereka, tapi ini adalah cinta.


Chapter 3

.

.

You're a Star

.

.

Sudah sangat lama sejak terakhir kali aku tersenyum. Aku merasa otot di wajahku terpelintir dan tertarik paksa dan rasanya aneh. Leherku terdorong ke depan, deretan gigiku terlihat, hidungku mendongak.

Namun hasilnya, aku terlihat cukup baik. Aku bisa melihat refleksi diriku di cermin yang ada di sisi lain ruangan, dekat seluruh peralatan dan kamera dan Sasuke yang tengah memberi aku aba- aba. Aku terlihat alami, malah bisa dibilang cantik. Aku mulai memikirkan apakah memang sudah sangat lama sejak terakhir kali aku tersenyum lebar seperti ini sampai rasanya seaneh ini. Apa yang sudah terjadi padaku sampai- sampai aku melupakan satu hal yang pernah aku lakukan sepanjang waktu—tersenyum?

Namun sebelum aku menyelam lebih dalam untuk memikirkannya, atau saat aku bertanya pada diriku apakah aku benar- benar ingin berpikir tentang kesehatan mentalku—yang sungguh tidak ingin aku pikirkan lebih jauh—Sasuke kembali menanyai aku beberapa pertanyaan tentang jadwal dan komitmenku pada pekerjaan ini.

Aku harus fokus untuk menjawabnya dan tidak boleh tersandung kalimatku sendiri atau terlalu memikirkan masalah lain sampai lupa menjawab. Hal itu pernah terjadi di interview sebelumnya, dan itu membuat aku mendapatkan detensi, dimarahi, dan mendapatkan putaran bola mata. Aku tidak mau mengulangi pengalaman itu, tidak dengan bos baruku yang menawan ini.

Sayangnya, aku telah melupakan nasehat dan tips yang sudah Tenten beritahu tentang wawancara kemarin dan awal hari ini, dan malah menjawab semua pertanyaan dengan jujur, yang kata ibuku adalah hal terbaik. Tapi, aku memang selalu begitu.

"Bagaimana dedikasimu terhadap pekerjaan ini nanti?"

"Sebaik yang aku bisa asalkan pekerjaan ini bisa membiayai pendidikanku."

"Akan naik apa kau kesini setiap hari?"

"Naik bus."

"Apa itu tidak akan membuatmu terlambat?"

"Mungkin."

Setelah interogasinya, Sasuke menyuruhku berdiri di depan layar putih polos dan menyuruhku untuk berpose. Aku hanya berdiri di sana untuk beberapa menit, tidak yakin harus melakukan apa, Sasuke mendesah, menyalakan sebuah CD dan berjalan ke arahku.

Fall Out Boy mengisi keheningan ruangan dan Sasuke mengatur posisiku, menyuruhku duduk di sebuah blok di depan layar, satu lutut dinaikan ke atas dan kedua lengan memeluknya. Satu kakiku yang lain dibiarkan jatuh ke bawah, menunjukan sedikit kulit kakiku.

"Aku ingin kau terlihat seperti gadis paling bahagia di dunia," suruhnya. Kalimat itu terdengar sangat aneh keluar dari bibirnya, dengan suara dalam dan mata gelap dan bibir yang tetap membentuk satu garis lurus. Tapi saat itu, aku berpikir bahwa aku mungkin adalah gadis paling bahagia, mungkin tidak di seluruh dunia, setidaknya di dalam gedung ini. Maka aku mendongakan kepalaku, tersenyum, dan kamera berkilat.

-x-

Dia berkata, "Aku tidak pernah membayangkan jenis pekerjaan seperti ini ada untukku, tapi aku senang bahwa hidup gemar memberikan kejutan padaku –walau tidak dalam hal percintaan."

-x-

Aku tidak pernah berpikir bahwa yang harus aku lakukan hanyalah berjalan masuk, jatuh pingsan, membuat kekacauan, dan mendapatkan perhatian dari pria paling hot sedunia. Tapi itulah yang terjadi.

Hari pertama, Sasuke membawaku masuk ke sebuah ruangan yang ada di sisi belakang gedung. Ada banyak foto indah tergantung di dinding, beberapa dibingkai hitam gelap tebal, beberapa berbingkai perak dan gaya. Beberapa adalah foto berwarna, beberapa hitam dan putih, beberapa berwarna sepia. Beberapa berlatar jelas, panorama kota, matahari terbenam, alam. Beberapa berlatar blur dan tidak jelas, kerumunan orang yang berjalan cepat dan menyatu dengan jalan dan bangunan di sekelilingnya. Semuanya mengelilingi seseorang, kebanyakan adalah wanita, dan aku merasa gelisah karena mereka terlihat lebih cantik dari aku.

Aku ingin berjalan keluar saat itu, namun Sasuke tengah menatapku dengan matanya, dan aku terlalu takut untuk bergerak. Maka aku memutuskan untuk mendudukan diri dan Sasuke menundukan badannya. Aku merasa ingin meleleh menyatu dengan kursi saat itu karena tatapan Sasuke yang gelap dan intens padaku rasanya terlalu berlebihan.

"Aku perlu mengukurmu," katanya. Aku tidak menyangka dia akan mengatakan hal itu, walau seharusnya aku tahu, maka aku memberikan respon yang sangat pintar, "huh?"

Bibir Sasuke menekan bersama, entah karena jengkel atau mencoba untuk menahan senyum. Aku tidak tahu. Dan aku rasa tebakan pertama lebih benar, membuat aku bertanya- tanya apakah aku salah telah datang ke sini. Tapi aku melakukan apa yang dia minta, berdiri di atas skala, membiarkannya melingkarkan alat pengukur di sekeliling tubuhku (walau aku merona dan terbata; dia tetap sangat keren dan profesional).

Ini sudah hari ke empat aku bekerja dan aku sudah jatuh cinta pada pekerjaanku. Saat aku datang, Sasuke mendudukan aku di sebuah kursi, menyiapkan peralatannya, dan setelah beberapa saat berpikir, dia memberikan aku untuk didandani stafnya.

Pertama, Karin mengerjakan make-upku. Aku rasa kami berdua sama- sama tidak nyaman, karena dia menyukai Sasuke, begitu juga denganku.

Aku tidak tahu apa yang menarik dalam diri Sasuke, mungkin itu karena cara rambutnya jatuh menutupi matanya, atau cara dia menyandar di meja saat membuka lembaran portofolio, atau mungkin gayanya yang santai dan seperti dia tidak pernah terganggu dengan hal apapun, atau setidaknya, dia tidak menampakannya. Atau mungkin setidaknya untukku, karena Gaara juga sepasif dia (dan setelah memikirkannya, Neji dan Sai juga begitu. Shikamaru juga, tapi aku tidak mau membandingkan kakakku dengan bosku yang membuat aku sangat tertarik). Namun Gaara benar- benar tidak memiliki ekspresi; walau saat dia sedang menciumku, atau saat tangannya merayap di bawah kaosku, matanya akan berubah liar dan hijau gelap, namun ekspresi wajahnya tidak berubah. Sasuke masih bisa tersenyum walau kecil saat dia sedang melihatku di balik kameranya, membuat aku ikut tersenyum.

Aku sering melakukannya. Rasanya seperti saat aku berada di dekatnya, aku tenggelam pada dirinya. Tanpa sadar, aku selalu menemukan diriku cukup dekat dengan dirinya, sampai aku dapat mencium aroma sisa bercukur. Aku juga selalu mengikuti semua instruksi posisi yang ia suarakan. Dia selalu memuji kerjaku bagus setelah pemotretan. Dan walaupun dia mengatakannya tanpa melihatku atau tersenyum padaku dan tidak ada kehangatan dalam suaranya, kupu- kupu selalu berhasil memenuhi perutku.

Karin sering mengejekku dengan suara tajamnya bahwa dengan rona merah di wajahku, aku tidap perlu memakai blush on. Aku selalu berharap bahwa Sasuke tidak mendengarnya, tapi aku yakin walaupun dia dengar, itu tidak akan memperngaruhinya. Aku yakin dia tahu pasti efek yang dapat ia berikan pada para gadis. Aku penasaran kenapa dia tidak menjadi model.

Setelahnya, Juugo menyerahkan outfitku saat Suigetsu menyusun set pemotretan. Saat aku sudah siap dan berjalan menuju set yang sudah tertata, Suigetsu akau bersiul dan memujiku. Dia sedikit jahil tapi aku menyukainya. Aku menyadari bahwa Sasuke membiarkannya tetap berada di set sampai dia mengambil beberapa foto awal saat aku masih belum siap, pipiku masih merah dan senyumku masih menahan malu.

Ada juga Kakashi, kepala perusahaan yang memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Dia tidak begitu sering datang, namun dia selalu mengatakan padaku bahwa aku bagus. Dia juga selalu mengatakan sesuatu pada Sasuke yang membuat ekspresi netralnya terlihat terganggu dan membuat pekerjaan kami semua tidak selesai.

Namun semuanya menyenangkan; pujian malu- malu Juugo, godaan Suigetsu, dan Karin yang melakukan sihirnya padaku, membuat aku merasa cantik.

Tapi tidak ada yang sebanding dengan saat aku bertemu dengan Naruto Uzumaki. Rambutnya pirang, memiliki sepasang mata biru dan wajahnya sangat tampan. Aku bertemu dengannya pagi ini, saat aku tergesa masuk ke dalam ruangan, membuka pintu dengan cepat (aku telat) dan bertabrakan dengannya.

Aku menjatuhkan bukuku, berteriak, jatuh dan ternganga melihatnya seperti ikan yang baru keluar dari air. Aku menyadari bahwa aku mungkin terlihat sangat tidak menarik, dan aku bergidik membayangkan bagaimana jika Sasuke melihat aku berekpresi seperti itu. Karena aku adalah modelnya, dan aku harus anggun dan selalu terlihat dalam penampilanku yang paling baik. Tapi sayangnya aku tidak.

Naruto, setelah dia mengendalikan kekagetannya—lebih cepat dariku—bangkit berdiri, dan membantuku berdiri sambil tersenyum, dan membantuku membersihkan debu dari tubuhku.

"Naruto," kata Sasuke tajam, "tolong jangan raba modelku."

Aku melangkah mundur mendengar kalimat Sasuke, merasa terganggu. Naruto meleparkan senyum malu padaku, lalu menjulurkan lidah pada bosku.

"Kau sangat kekanakan." Sasuke mendesah.

Aku menyadari bahwa Sasuke selalu terlihat lelah, seperti semua orang di sekitarnya adalah hal yang mengganggunya. Itu sedikit membuat aku takut, padahal aku bukan orang yang tidak percaya diri. Padahal aku mengobrol dengan orang lain tanpa kesulitan. Bahkan aku yang pertama kali mengajak Gaara pergi kencan. Namun saat Sasuke menatapku, aku merasa seperti kakiku berubah menjadi jeli dan jantungku berdegup kencang.

Rasa takut itu mungkin karena dia sangat sempurna dan aku pikir aku sangat menyukainya, walaupun itu tidak seharusnya. Tapi mungkin karena dia juga tidak terlihat benar- benar puas padaku. Dan aku tahu bahwa dia kaya dan pintar dan menawan, tapi setidaknya aku punya satu dalam kategori itu. Aku juga cukup cantik jadi kalau aku merasa terintimidasi olehnya, itu adalah hal bodoh—cukup bodoh sampai pernah aku mengatakan hal bodoh dan rahangku jatuh ke lantai saat dia mendekat untuk membenarkan posisi bajuku .

Dia tidak kasar padaku. Awalnya aku berpikir dia tipe yang sombong, tapi itu hanya caranya untuk membuat aku tidak canggung. Contohnya seperti saat hari pertama bekerja, saat dia bertanya berapa umurku dan aku bilang duapuluh dua dan dia menulisnya. Kemudian aku bertanya berapa umurnya, aku tidak mengharapkan dia benar- benar akan menjawabku, tapi dia menjawabnya, dua puluh empat. Lalu aku tidak tahu apa yang harus aku katakan selanjutnya karena dia tengah menatapku, maka aku tanpa sengaja mengoceh tak jelas, 'Oh, jadi kita sama- sama sudah dewasa'. Dan pipiku seketika memanas, bukan hanya karena itu adalah hal bodoh untuk dikatakan tapi karena aku mengirimkan sinyal yang salah. Namun Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya, memberikan senyum sangat- kecilnya padaku dan berkata 'Iya, kita sudah dewasa.' dan melanjutkan pertanyaan selanjutnya.

Namun sekarang aku masih menatap Naruto penuh ingin tahu dan aku hampir tidak mendengar perkataan Sasuke, "Bersiaplah, hari ini ada seseorang yang akan berpose denganmu."

Aku memproses kalimatnya dan bertanya, "Benarkah? Siapa?"

Sasuke terlihat sedikit terganggu, walau aku tidak tahu apakah itu karena pertanyaanku atau karena Naruto yang melangkah di belakangku. Sasuke tidak menjawabku, maka pemuda pirang itu mewakilinya. Aku sedikit terkejut saat Sasuke tidak menendang Naruto dari kantornya.

"Itachi," dia memberitahu, "aku agennya."

Aku pernah mendengar nama itu sebelumnya. Ingatanku sangat baik, aku mengingat pernah mendengar nama itu di majalah, di bawah sebuah foto seorang pria yang sangat tampan yang beberapa tahun lebih tua dariku. Aku merasakan daguku jatuh ke lantai saat memikirkan bahwa aku akan bekerja dengannya.

"Serius? Kau bisa meminta Itachi datang?" aku mulai memikirkan ulang pandanganku tentang Sasuke. "Aku tidak tahu kau seterkenal itu, Sasuke."

"Aku tidak terkenal," responnya pendek, "dia kakakku. Cepat ganti pakaianmu."

Aku tidak akan pergi sekarang.

"Dia kakakmu? Aku tidak tahu itu!"

"Itu bukan sesuatu yang bisa aku banggakan. Sekarang cepat bersiap," dia setengah membentak, melemparkan sebuah gaun padaku.

Aku menatap gaun itu tanpa benar- benar melihatnya. Pikiranku penuh dengan berbagai pertanyaan—tentang aku yang akan menjadi model bersama Itachi untuk Sasuke. Aku tidak yakin aku siap untuk itu, apalagi setelah aku bertanya apa temanya kemudian mengatakan sesuatu yang aku harap tidak aku katakan. Karena itu membuat Naruto tertawa dan Sasuke mengangkat sebelah alisnya, yang mana aku tahu selalu dia lakukan saat dia merasa terhibur atau saat dia tahu sesuatu yang aku tidak tahu. Dia mengangkat dua alisnya saat seseorang mengatakan hal bodoh, dan aku pernah mendapatkannya beberapa kali yang membuatku sangat malu. Karena seharusnya kau tetap keren dan profesional di depan bosmu, walau kau sedikit menyukainya (bukan cinta, karena cinta adalah untuk seorang pria yang memelukku di lengannya dan menguburkan kepalanya di rambutku dan mau membiarkan aku waktu sendiri).

Aku pergi, berlari ke ruang ganti dan mengutuk diriku yang tidak berpikir panjang dan berharap bahwa bosku tidak begitu tampan dan tidak begitu sempurna. Aku mengutuk alisnya, dan bibirku dan Itachi dan Naruto dan biaya sekolah kedokteran sambil memasukan gaun putih itu melewati kepalaku sebelum keluar ruangan.

-x-

"Kau akan menjadi seorang pengantin perawan."

"Tapi Sasuke—aku bukan seorang perawan!"

"…tidak banyak orang yang akan tahu tentang itu. Dan aku tidak harus tahu."

-x-


ThanksTo: Hyemi761, ai. uchiharunochan, hana. khoirunissa. 33 , YashiUchiHatake, setyajotwins, adora13, pinktomato, CoolAndCold, Cherrynia Uchiha, haruno, Orchidflen, kura cakun, R, koizumi chiaki, dinda adr

AN: Okay, jadi Eve memang bilang akan update 2 chapter sekaligus. Walaupun aku sudah selesai ngetik chapter selanjutnya, tapi aku terlalu flu untuk ngecekin typo dua chapter sekaligus. Janji deh hari minggu akan aku tambahi chapter 4nya.

Anyway, Terimakasih sudah membaca.

Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.

-with cherry on top-

.the autumn evening.