Title : Cover Girl

Pairing: SasuSaku

Disclaimer: I do not own Naruto, nor the story.

Warning: This is an Indonesian translation of Annie Sparklecakes's story with the same title. Done with permission.

Summary:

Sakura mengatakan, Sasuke adalah pria paling tampan yang pernah dia lihat. Sasuke mengatakan Sakura adalah wujud kesempurnaan dalam sebuah foto. Mereka tidak akan mengatakan apa harapan mereka, tapi ini adalah cinta.


Chapter 4

.

.

Strike a Pose

.

.

Setiap hari aku menatapnya lama, karena setiap hari dia selalu mempunyai hal baru untuk diperlihatkan. Dia memakai anting perak kecil di kedua telinganya, dan emerald kecil di daun telinga kirinya. Rambut permen kapasnya biasa diikat asal, seperti dia mengikatnya dengan sebelah tangan memegang buku sambil berjalan ke kantorku. Kalau rambutnya tidak diikat karena suatu hal, dia memakai ikat rambut hitamnya di pergelangan tangan kanannya. Dia tidak pernah memakai gelang atau jam tangan atau cincin, tapi dia punya kalung. Dengan liontin bunga sakura kecil dengan hiasan rhinestone dan berlian di tengahnya yang menggantung di benang perak kecil dan tidak pernah dia lepaskan.

Saat dia mengunyah permen karet dan mencoba untuk menyembunyikannya dariku, dia akan menempelkan permen karet itu di belakang gigi sebelah kanan, membuat pipinya sedikit mengembung dan membuatnya terlihat lebih muda daripada dia biasanya. Dia tidak banyak tersenyum, walaupun masih lebih banyak jika dibandingkan denganku. Saat dia tersenyum, satu sisi bibirnya lebih naik daripada yang lainnya, seperti ragu- ragu. Dia selalu terlihat kelelahan, aku tebak karena efek samping belajar terlalu banyak untuk menjadi seorang dokter. Tapi dia lebih terlihat kehabisan tenaga, bukan kelelahan karena kurang tidur dan itu membuat aku cemas. Karena dia adalah bintang modelku, dan dia harus selalu dalam penampilan yang baik.

Dia selalu memakai eyeshadow hijau dan abu-abu dengan gaya smokey. Dia tidak memakai bedak atau yang lainnya selain lip gloss tanpa warna saat dia datang, sebelum Karin mendandaninya. Bulu matanya luar biasa panjang, sampai menyapu pipinya saat dia berkedip. Jika dia berkedip, kelopak matanya cepat menutup tapi pelan saat membuka, seperti dia enggan melihat apapun. Tapi saat akhirnya matanya membuka, saat dia menunjukan bola mata hijau bersih itu, aku selalu memiliki hasrat untuk mengambil kameraku, mencoba menangkap pandangan memperdayanya, seduktif dalam kelelahannya. Tanpa arahan pose, tanpa efek spesial, hanya dia dan matanya yang begitu hijau, yang berhasil menangkapku hanya dalam satu kali pandang.

-x-

Dia berkata, "Ketertarikan adalah saat kau mencoba menyentuh seseorang, tapi menyentuh tangannya saja tidak cukup."

-x-

Aku tidak membenci kakakku; aku hanya tidak menyukainya. Dia menyebalkan seperti kakak pada umumnya, dan impianku adalah mengalahkannya. Tapi itu bukan berarti aku ingin menjadi model seperti dia, walau semua orang berpikir aku akan mengikuti jejaknya.

Ironi adalah bagaimana dia tetap menjadi favorit ayah, walau dia keluar dari universitas untuk berpose di depan kamera sedangkan aku berhasil melompat dua kelas, belajar siang dan malam berminggu- minggu dan bertahun-tahun untuk berdiri di tempatku sekarang.

Aku sebenarnya tidak ingin membuatnya berpose dengan Sakura karena; A. aku yang menemukannya, dan Sakura bukan property dari industri tempat kakakku berkecimpung, tempat yang penuh dengan makhluk plastik dan tulang, dan B. Aku merasa seperti menggunakan ketenaran kakakkku untuk menjadi terkenal.

Tapi ini adalah saran dari Naruto, dan idenya biasanya bagus, walau aku benci mengakuinya. Tambahan, Naruto juga berjanji dia tidak akan mengiklankan pemotretan ini, jadi jika aku mendapat perhatian, itu bukan karena kakakku terkenal. Aku harap.

Itachi memasuki ruangan, bodyguardnya, Kisame berjalan kaku di belakangnya, seperti selalu. Aku selalu berpikir ada yang salah dengan pria itu tapi saat aku mengatakannya pada Itachi, dia hanya menatapku dengan pandangan aneh.

"Halo, adik," sapa Itachi. Aku menggeretakan gigi, dia membuatku merasa seperti anak lima tahun.

"Bersiaplah," kataku, Itachi menyeringai namun menurutinya. Dia memasuki ruang ganti dan mengambil pakaian yang sudah disiapkan Juugo untuknya, dan membuka pintu.

"Eek! Keluar keluar keluar!"

Sakura melemparkan kaos ke arah Itachi, dan membanting pintu. Itachi terlihat terperangah selama tiga detik, Naruto mulai tertawa dan aku mencoba menyembunyikan seringaiku. Pintu terbuka beberapa detik setelahnya, dan Sakura, terlihat kaget dan sedikit panik mengeluarkan kepalanya.

"Apa aku baru saja melemparkan bajuku ke Itachi?" aku harap itu suara histeris itu bukan berarti Sakura adalah penggemar Itachi.

Itachi melangkah maju, menawarkan satu tangannya, "kau benar. Aku tebak kau adalah kekasihku untuk pemotretan ini?"

Wajah Sakura memerah, dan aku memutar mataku. "Benar, makanya cepat ganti baju agar kita bisa mulai." aku membentak. Sakura biasanya sangat professional. Apa kakakku akan menjadi seseorang yang merubahnya?

Itachi, dengan masih menampakan seringainya menghilang di balik ruang ganti dan aku sedikit terkejut saat Kisame tidak mengikutinya. Dia berdiri di luar pintu dan memelototi Sakura sampai gadis itu melangkah mendekatiku.

"Kisame," aku mendesah, "berhenti menakuti modelku."

"Aku akan melindungimu, Sakura-chan." kata Naruto. Sakura semakin menempel padaku saat mendengar kalimat Naruto.

Naruto sudah menjadi teman baikku sejak aku dua belas tahun. Dia bisa dipercaya, baik dan orang idiot paling bodoh, ceroboh, dan berisik yang pernah aku temui. Kami punya selera, hobi dan ketertarikan yang sama namun dia lebih terbuka mengakuinya. Dia mau menghampiri para gadis dan menanyakan nomer mereka, dia bisa membuat teman baru hanya dalam waktu satu jam. Dan dia gagal hampir di semua kelas saat SMA, namun sekarang dia menjadi agen yang sukses.

Aku tidak yakin Sakura akan percaya itu; dia tidak terlihat tertarik saat Naruto menggodanya, jadi aku menatap Naruto memberi kode. Itachi keluar dan berjalan mendekati kami, saatnya bekerja.

Sakura memakai gaun putih panjang. Gaun yang memeluk tubuh bagian atasnya sempurna, namun mengembang dari bagian pinggang ke bawah, mengayun indah saat dia berjalan. Karin memoles kelopak matanya dengan eyeshadow putih, memberikan perona pipi dan mengoleskan lipgloss berkilau dan glitter di pipi, bahu, dan leher, membuatnya terlihat seperti malaikat. Gaunnya tidak memiliki lengan dan menunjukan kaki kirinya yang jenjang. Caranya menatap kamera sangat berkebalikan jika dideskripsikan dengan kata inosen, tapi itulah yang aku mau.

Itachi tidak terlihat sama seperti aku. Kami sama- sama memiliki rambut hitam gelap dan wajah serta tinggi yang sangat bercirikan Uchiha, namun rambutnya panjang dan diikat di belakang. Dia memakai kontak lensa berwarna merah hampir sepanjang waktu, termasuk sekarang. Dia punya garis dari mata sampai ke hidung, yang membuatnya terliat lebih tua. Namun dengan karekter wajah yang tajam, dan cara berjalannya, dan dia yang tidak pernah menunjukan emosinya membuatnya terlihat berbahaya dan itulah yang aku butuhkan.

Itachi memakai pakaian serba hitam, kemeja yang menunjukan tato di bisepnya, dan celana hitam –sangat kasual jika dibandingkan dengan Sakura, yang rambutnya disanggul tinggi dan indah yang hanya bisa dibuat oleh Karin. Bunga lili menghias rambut, anting panjang menggantung di telinganya, dan kalung miliknya bersinar dan jatuh di leher.

"Apa dia akan baik- baik saja dengan pemotretan ini?" tanya Naruto dengan suara rendah.

"Seharusnya," gumamku sambil mengatur kamera. Naruto menggelengkan kepalanya.

"Kau memperlakukan gadis dengan sangat buruk," dia memberitahu, aku mengabaikannya.

"Sakura," panggilku, "Itachi, kita mulai sekarang. Sakura, seperti yang sudah aku katakan, kau adalah pengantin perawan." dia merona, membuat aku menyeringai saat mengingat komentarnya sebelumnya. Saat aku mulai berpikir dia lebih dewasa, dia membuka mulutnya.

"Itachi bukan pria yang akan kau nikahi, dia adalah pria yang membuatmu jatuh cinta. Ini adalah satu- satunya kesempatan untuk bersamanya, dan kau akan memakainya dengan baik." Aku tidak menjelaskan lebih lanjut. Sakura memucat, dan Itachi terlihat bosan. Bahkan figur seorang gadis semenakjubkan Sakura sekalipun, tidak akan cukup untuk membuatnya tertarik.

Suigetsu menghidupkan musik, karena itu membuat modelku terlihat lebih rileks dan alami. Dengan segera, Itachi meraih tubuh Sakura dan mendorongnya ke dinding, membawa wajahnya mendekat. Sakura terlihat kaget dan itu sangat bagus di kamera, maka aku menangkapnya. Dan mereka melanjutkannya. Sakura menarik ikat rambut Itachi dan menggenggamkan tangannya pada rambut itu, Itachi menyapukan bibirnya ke leher Sakura. Bibir mereka hanya berjarak beberapa milimeter, dan saat Sakura menutup matanya, perutku memutar. Tangan mereka bertaut, mereka melihat lurus ke kamera, mata Sakura gelap, dan Itachi terliat seperti dia kesulitan bernafas dan walaupun itu adalah sebuah akting, mereka sangat bagus. Itachi mengangkat Sakura di lengannya dan menggendongnya bridal-style menuju ranjang, dan Sakura menguburkan wajahnya di dada Itachi sampai dia terjatuh di atas ranjang. Saat Itachi bergerak untuk bergabung dengannya, Sakura mendudukan diri, aku meluruskan tubuh.

"Sasuke—" mulainya panik, namun aku menenangkannya dengan mengangkat sebelah tangan.

"Baiklah. Sudah cukup. Terimakasih Itachi, kau akan mendapatkan ceknya dalam beberapa minggu."

"Adik kecil bodoh," Itachi bangkit dari ranjang, meregangkan tubuh dan menatap Sakura dengan pandangan yang tdak dapat dimengerti, membuat gadis itu canggung. "Aku keluargamu, tidak perlu membayarku."

Aku memelototinya, "pergi."

Itachi mengeluarkan suara dengusan kecil yang mungkin adalah suara tawanya, menatap Sakura sekali lagi dan berkata, "senang bertemu denganmu."

"Aku juga," katanya, wajahnya sangat merah membuat aku mengangkat alis. Sakura mendudukan diri di kursi dan tidak mengatakan apapun sampai Naruto pergi dan menggumamkan selamat tinggal sampai semua orang pergi dan hanya tinggal aku dan dia.

"Kau baik- baik saja?"

"Kau seharusnya memperingatkan aku." katanya lemah.

Aku mengangkat bahu, "kau harus siap untuk berfoto semacam ini. Aku tidak membuat kalian melakukannya terlalu jauh, tapi aku bisa saja melakukannya suatu hari nanti."

Dia tersenyum padaku, "kau sengaja menghentikannya? Makasih Sasuke." Dia terlihat terkejut karena aku baik padanya dan itu seharusnya membuat aku tersinggung, namun aku tidak. Aku menyuruhnya mengganti baju, kemudian dia mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi. Aku mengatakan 'Kerja bagus' dan dia menjawabku dengan senyum malu, senyum yang hanya mengangkat satu sudut bibirnya lebih tinggi dari yang lainnya.

Aku sendirian dan ponselku berbunyi, aku menjawabnya walau aku tahu itu adalah telepon Itachi dan aku tidak ingin mengangkatnya. Tapi aku mengangkatnya karena aku sedang dalam suasana hati yang baik karena pemotretan yang sempurna.

"Adik bodoh. Kau seharusnya lebih pintar dan tidak jatuh cinta pada modelmu sendiri, kan?"

Dan hanya dengan begitu saja, suasana hatiku berantakan.

-x-

"Ibu ingin kau mengunjunginya minggu ini. Bawa gadis itu."

"Sakura? Kenapa?"

"Sebaiknya dia tahu apa yang sedang dia hadapi sebelum dia mengatakan 'iya', kan?"

"…pergi saja ke neraka."

-x-


ThanksTo : Hyemi761, dianarndraha, adora13, koizumi chiaki, ai. ichiharunochan, hana. khoirunnisa. 33, pinktomato, Omiie uchiharuno, kHaLerie Hikari

AN: Yaay update sesuai janji, dengan jarak satu hari . Eve baik atau baik?

Anyway, Terimakasih sudah membaca.

Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.

-with cherry on top-

.the autumn evening.