Title : Cover Girl
Pairing: SasuSaku
Disclaimer: I do not own Naruto, nor the story.
Warning: This is an Indonesian translation of Annie Sparklecakes's story with the same title. Done with permission.
Summary:
Sakura mengatakan, Sasuke adalah pria paling tampan yang pernah dia lihat. Sasuke mengatakan Sakura adalah wujud kesempurnaan dalam sebuah foto. Mereka tidak akan mengatakan apa harapan mereka, tapi ini adalah cinta.
Chapter 5
.
.
Catwalk
.
.
Saat aku berusia tiga belas tahun, ibuku menikah dengan ayah Shikamaru, dan itu adalah perubahan paling canggung dalam hidupku. Sudah lama hanya ada aku, ibu dan beberapa temanku namun tiba- tiba saja rumah terasa sangat penuh dengan dua anggota baru. Tidak lama kemudian kami pindah dari apartemen lama kami ke sebuah rumah baru. Hal baiknya adalah, ayah Shikamaru mengantarkan kami berdua ke sekolah dan aku tidak perlu lagi naik bus.
Awalnya kami sama- sama tidak mau mengaku bahwa kami telah menjadi saudara, hanya ada beberapa teman dekat yang tahu akan hal itu. Namun suatu hari ada beberapa siswa sekolah tetangga yang menjahiliku, dan aku bukan tipikal gadis yang suka berkelahi. Kemudian Shikamaru muncul dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku, terlihat bosan dan menyelamatkanku, sesuatu yang baru kali pertama terjadi dalam hidupku.
"Hey, berhenti mengganggu adikku."
Sejak saat itu, Shikamaru menjadi pelindungku untuk waktu yang lama. Dia memberikan aku kejutan ulangtahun dengan balon- balon dan hadiah dan kue yang dia dan temannya, Chouji panggang sendiri. Dia membawaku menonton film yang aku tidak mau akui bahwa aku ingin menontonnya; film romantis, film anak tentang berbagai pahlawan super, atau film action jelek. Dia membelikan aku kopi saat aku begadang untuk belajar dan membuatkan sup ayam saat aku sakit. Dia menjagaku seperti seorang ibu tidak seperti ibuku, dan—
Namun pada akhirnya, Shikamaru harus perg juga. Dia punya wanita baru di hidupnya, satu wanita yang lebih penting dari aku yang hanya saudara tirinya. Dan aku tidak pernah merasa sekesepian saat itu, tapi aku rasa hidup terus berjalan, begitu juga aku.
Tapi ada hari di mana semuanya terasa begitu berat.
-x-
Dia berkata, "Mungkin salah jika aku menyukai bosku, tapi apa kau pernah melihat sosoknya?"
-x-
Terkadang ada hari dimana rasanya seperti semua orang dan semua hal bertentangan denganmu. Aku sangat tahu bagaimana rasanya, tapi mengetahui hal ini tidak seketika membuat semua menjadi lebih mudah.
Rambutku tidak mau diatur, teman sekamarku menghabiskan selai roti terakhir untuk sarapan, aku telat masuk kelas, aku punya teman untuk bersenang- senang namun tidak memiliki waktu karena harus belajar dan bekerja. Tidak disangkal bahwa hariku sangat buruk, namun hanya perlu satu orang untuk membuat hari itu terasa lebih baik.
Sasuke mendongak dari kameranya, dan menatap lurus padaku.
"Ada apa denganmu?" dia ingin tahu. Dia terlihat terganggu, dan itu seperti menambahkan minyak tanah pada kepalaku yang sudah cukup terbakar.
"Tidak ada," jawabku sadis, meremas gaun hitam panjangku. Gaun ini menempel erat pada tubuhku dan aku seketika merasa tidak percaya diri. "Kenapa? Fotoku jelek?"
"Buruk," jawabnya terus terang, "apa yang salah?"
Aku mengabaikan pertanyaannya, perutku seakan membentuk simpul. "Buruk?" aku mengulang.
"Fotonya akan lebih baik kalau kau lebih rileks." Sasuke memiringkan kepalanya ke samping, menatapku dari balik poninya. "Kau baik- baik saja, Sakura?" Aku tidak menjawabnya, hanya mendudukan diri dibantal hitam berbalut sutra tempat aku berpose.
"Sakura?"
Ini adalah minggu yang panjang. Terlalu banyak tekanan yang harus aku hadapi di sekolah, sendirian. Aku tidak sempat bertemu Ino, Ibuku terus menelepon dan mengeluh tentang ayah tiriku, yang jujur saja lebih aku cintai daripada ibu. Dan Shikamaru terasa semakin menjauh. Dan walaupun aku tahu bahwa ini bodoh, tapi aku merindukan Gaara. Berada di sekitar Sasuke membuat aku lebih sering memikirkannya, karena mereka mirip. Bedanya, Gaara akan menyentuhku dan memelukku dan menciumku dan menenggelamkan wajahnya di leherku dan mengatakan bahwa menurutnya aku cantik. Sasuke memang baik, dan menenangkan jika bersamanya. Dia juga seorang bos yang hebat. Tapi aku tahu bahwa dia tidak akan membiarkan jemari panjangnya di pinggangku, atau menekan bibir itu di leherku atau mengatakan namaku seperti cara Gaara memanggilku.
Aku merasa sebuah tangan dingin di leherku, dan Sasuke mengatakan dengan suara pelan, lebih lembut dan lebih manis dari yang pernah aku dengar sebelumnya, "Sakura."
Aku mendesah, membiarkan kepalaku jatuh memburu jemari Sasuke yang menyapu otot tegang di leherku. "Terimakasih," aku menghela.
"Sama-sama," katanya, dan aku tidak akan bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku menghampirinya lalu memintanya memijitku. Namun dia terlihat sungguh- sungguh mengkhawatirkanku, jadi aku mengatakan terimakasih. Lalu dia mengatakan, "Kau bintang modelku. Seluruh karirku tergantung padamu saat ini." Dia meremas pundakku, "aku akan menjagamu, oke?"
Sebelum aku bisa mengatakan apapun atau bahkan memberikannya senyuman seperti yang aku mau, dia berjalan menuju mejanya, dan mengambil sebuah amplop tebal. "Aku baru saja mencetaknya," dia memberitahu, membalikan badan. "Ini foto- fotomu."
Aku mungkin terlihat gelisah—Shikamaru selalu mengatakan padaku bahwa wajahku seperti buku yang terbuka, dan aku berharap aku mendengarkannya dan mencoba untuk merubah kenyataan itu—karena sekarang Sasuke memberikan senyum singkatnya dan mengatakan, "Rileks, semuanya bagus."
Dia melangkah mendekat, duduk di sampingku lagi dan memberikan amplop itu. Aku mengambil satu foto dengan tangan gemetar, mencoba untuk tidak memikirkan bahwa lengan kaos Sasuke menyentuh lengan telanjangku dan lutut kami bersentuhan. Aku menatap foto pertama dan nafasku terhenti, Sasuke memiringkan kepalanya menatapku.
"Bagus, kan?"
"Kau adalah fotografer yang sangat hebat," kataku jujur, aku cukup cantik tapi aku tidak cukup jelita untuk menciptakan foto- foto seperti ini, foto seorang gadis dengan rambut tersanggul lurus dan senyum indah dan ekspresi wajah yang membuatmu ingin melihat semakin dalam.
"Kau adalah model yang sangat hebat," dia membalasku pelan, dan nafasku menyangkut di tenggorokan, karena aku berani bersumpah itu adalah sebuah pujian. Aku menolehkan kepalaku namun aku tidak menyadari bahwa dia tepat di hadapanku.
Aku menahan nafas, bertanya- tanya apakah Sasuke bisa mendengar degupan jantungku yang menggila dan apakah aku boleh mengeliminasi inchi terakhir menuju bibirnya, atau apakah ini hanya bayanganku atau memang kepalanya mendekat dan kedua matanya menutup…
Tapi kemudian terdengar musik mengalun, Hey There Delilah, dan itu dari ponselku, nada dering khusus Ino, dan aku ingin berteriak karena Sasuke seketika bangkit dan menjauh dariku dan mantra ajaib itu menghilang.
Aku ragu sejenak, namun Sasuke mengangkat satu alisnya padaku. "Kau mau mengangkatnya tidak?" jadi aku mengangkatnya, dalam hati bertanya bagaimana dia terlihat begitu tenang.
"Hey, Ino," mulaiku lemah.
"Hey!" sahutnya, sangat keras sampai Sasuke menoleh. Aku meringis malu padanya, dan dia hanya menggelengkan kepala, terlihat terhibur. Aku merasa pipiku memanas, karena itu bukanlah reaksi yang kau harapkan dari seseorang yang baru saja hampir menciummu.
"Maaf, apa aku baru saja menginterupsi sesuatu?" Kalau saja kau tahu, aku ingin teriak begitu, tapi tidak jadi karena Sasuke masih di sini. "Aku hanya mau bilang aku mungkin akan pulang sangat terlambat, jadi tidak bisa makan malam bersama. Maaf, aku mencintaimu, bye!" dia memutuskannya begitu saja dan aku sama sekali tidak sempat menjawabnya, namun aku masih bisa mendengar suara tawa maskulin di seberang, dan aku merasa semakin marah.
Ino menyukai Shikamaru dalam waktu yang sangat lama, perasaan yang sangat kuat. Terkadang rasanya seperti Shikamaru membalasnya, tapi itu sebelum dia bertemu dengan Temari, dan jatuh cinta seutuhnya padanya. Aku pikir Ino akan baik- baik saja tapi dia tidak pernah sama setelahnya dan ini bukan kali pertama dia membatalkan rencana kami untuk bermesraan dengan pria random. Dia adalah sahabatku maka sudah sewajarnya aku cemas, tapi aku tidak semestinya marah.
Sasuke menatapku saat aku mendongak, dan matanya sangat gelap hampir hitam pekat, aku memperhatikannya. Aku bertanya kenapa aku tidak menyadari sebelumnya, karena mata itu sangat jernih dan aku bisa melihat bayanganku sendiri di sana, terlihat kacau dan hilang arah. Aku mencoba tersenyum untuk menyembunyikan ketegangan, tapi aku tidak cukup baik saat melakukannya. Aku yakin dia bisa melihatnya dengan jelas.
"Sudah larut," katanya ringan, namun pandangannya sangat intens. Membuat hatiku sedikit sakit, aku ingin kembali pada sesaat tadi dan meneruskannya dan melupakan penolakan dan kesepian dan hati yang patah.
Sasuke bertanya, "kau lapar?"
Nafasku kembali menyangkut di tenggorokan, dia meneruskan. "Lagipula kita tidak ada yang perlu di kerjakan malam ini. Kita keluar dan makan malam lalu aku akan mengantarmu pulang."
"Aku tidak lapar," responku cepat, namun dia menatapku, membuatku diam. Walau aku tidak mau keluar di tempat umum dengan Adonis ini, karena aku tidak cukup berharga dan aku tidak tahu siapa saja yang akan melihatku dan berasumsi macam- macam, namun aku tidak mau berdebat dengan Sasuke karena—
Karena aku ingin pergi makan malam bersamanya.
Tapi saat dia mengarahkanku ke luar pintu dan menuju Mercedes hitam berkilaunya, dan mengemudi ke restoran, dan kami masuk, duduk di sebuah meja, dan saat menunggu waitress, aku tahu bahwa aku telah membuat kesalahan. Karena hal pertama yang Sasuke lakukan adalah menatapku dengan sangat tajam, kedua tangan menyatu di atas meja di depan kami dan mengatakan, "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Waitress datang, dan dia sangat cantik dan aku ingin membencinya tapi aku tidak bisa, walau dia mengabaikanku untuk Sasuke, karena aku tahu aku juga akan melakukan hal yang sama. Sasuke tidak terlihat memperhatikannya, hanya memesan dan membiarkan aku melakukan hal yang sama. Saat waitress pergi, Sasuke tidak berbicara karena waitress itu kembali satu menit kemudian. Aku bertanya- tanya apakah dia selalu mendapatkan pelayanan yang sebegini perhatian saat dia keluar untuk makan. Aku bertanya- tanya bagaimana rasanya menjadi begitu menawan, yang saat berjalan keluar dari pintu menuju jalan setapak , bisa membuat semua orang menatapmu karena kau sempurna dan menawan. Aku yakin Sasuke tidak pernah merasa minder, tapi kemudian aku memikirkan kembali tentang Itachi dan minggu lalu dan komentarnya tentang, "aku tidak terkenal."
Tapi aku tidak lagi bisa memikirkannya, karena Sasuke mencondongkan badannya ke depan lalu berkata, "Sakura, kau terlihat lelah."
Dia terdengar sangat perhatian, tapi aku tidak menjawabnya, karena aku tidak bisa. Karena tenggorokanku mengering dan aku harus meneguk setengah gelas kola sebelum aku bisa memikirkan jawabannya.
Karena aku lelah, karena aku perlu bekerja sampai larut agar aku bisa meneruskan sekolahku. Agar aku bisa menjadi sandaran diriku sendiri, tidak seperti ibuku. Agar aku tidak perlu menikah, agar aku tidak memiliki suami yang kelak akan meninggalkanku seperti ayahku, seperti Neji, seperti Sai, seperti Gaara, seperti yang akan dilakukan Shikamaru, agar aku tidak perlu hidup dengan sahabatku selamanya dan menghalangi kehidupan mereka.
Aku merasa tenggorokanku terbakar, kali ini untuk alasan yang berbeda.
"Aku baik- baik saja," kataku, "hanya mengalami hari yang panjang."
Dan begitulah cerita hidupku, tapi terkadang ada bab baru yang cukup baik seperti saat ada bos tampan yang membawamu makan malam dan memberikan senyuman singkat dan terkadang menyentuh tanganmu terjadi.
Aku berharap saat seperti ini tidak akan berakhir, aku bertanya- tanya apakah dia juga berharap demikian. Atau aku hanya dimanjakan karena aku adalah modelnya, dan dia pada akhirnya akan meninggalkanku juga.
"Sakura," katanya lagi, sepertinya dia memanggil namaku begitu banyak hari ini saja, tapi kali ini berbeda, seperti sesuatu yang berbeda terjadi dalam hubungan kami. Yang adalah aneh, karena aku tidak mengatakan apapun, "apa yang kau lakukan pada akhir pekan panjang besok?"
Aku mengedikan bahu, menatap tangannya yang sedang membungkus tanganku. Ibu bukan orang yang suka keluar, biasanya aku dan Shikamaru makan di luar dan membeli es krim dan menonton film dengan Chouji. Namun aku ragu bahwa kami akan melakukannya lagi, karena dia punya Temari, Tenten dan Hinata dan Neji akan menghabiskan waktu di kediaman Hyuuga, Ino akan pulang ke rumah agar ayahnya bisa membuatnya gendut. Jadi aku sendirian.
"Tidak ada, sepertinya." jawabku, mencoba untuk terdengar tidak peduli. Aku tidak yakin aku berhasil, melihat alis Sasuke yang terangkat.
"Well…" dia terlihat gugup, untuk pertama kalinya. Aku tidak menginterupsinya, dan itu membuatnya sebal karena itu sama sekali tidak membuatnya lebih mudah. Tapi aku memang tidak tahu apa yang dia coba katakan.
"Ibuku sangat pandai memasak, dan seorang wanita yang sangat baik." katanya, pelan. Dia menundukan kepala, sebelum mendongak menatapku melewati poninya, "apa kau mau bertemu dengannya?"
-x-
"Serius? Kau bertemu orang tuanya?"
"Memangnya aneh?"
"Tidak, ini sesuatu yang orang namakan cinta."
-x-
ThanksTo : koizumi chiaki, Omiie Uchiharuno, pinktomato, zarachan, sakura sweetpea, evjnrs, Kura cakun
Anyway, Terimakasih sudah membaca.
Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.
-with cherry on top-
.the autumn evening.
