Title : Cover Girl
Pairing: SasuSaku
Disclaimer: I do not own Naruto, nor the story.
Warning: This is an Indonesian translation of Annie Sparklecakes's story with the same title. Done with permission.
Summary:
Sakura mengatakan, Sasuke adalah pria paling tampan yang pernah dia lihat. Sasuke mengatakan Sakura adalah wujud kesempurnaan dalam sebuah foto. Mereka tidak akan mengatakan apa harapan mereka, tapi ini adalah cinta.
Chapter 6
.
.
Down the Runway
.
.
Saat aku dan Naruto lebih muda, kami sering berkumpul di rumahku dengan ibuku. Dia adalah wanita yang selalu manis; adalah seorang guru sekolah dasar sebelum dia melahirkan Itachi. Aku ingat suatu hari Naruto duduk di meja dapur, menceritakan pada ibu setiap detail kisah cintanya. Aku suka Ayame, Riiku mengajakku berkencan, Hikari memberi aku kode dengan tatapannya, dia akan bercerita di sela kunyahan brownies. Ibuku selalu mendengarkan sepenuh hati.
Dia senang memanggang semua makanan manis untuk Naruto dan menyuruh Naruto mengerjakan PR-nya. Aku, jelas tidak perlu disuruh untuk mengerjakannya. Aku juga bukan seseorang yang menggemari makanan manis, namun ibu selalu menyiapkan bola- bola nasi dan tomat khusus untukku, walau ayah selalu menyuruhnya untuk memberikan makanan ringan lain yang lebih banyak untukku.
Ibuku menurut pada ayah dan sangat sabar menghadapi Itachi, tapi dia selalu membuat pengecualian padaku. Aku tahu aku adalah anak favoritnya, dan aku menyayanginya sama besarnya. Dia adalah jenis wanita yang tidak akan bisa kau tolak.
Mungkin itu alasan kenapa aku membawa Sakura untuk bertemu dengannya.
-x-
Dia berkata, "Hal yang paling canggung untuk dilakukan adalah mengenalkan modelmu pada orang tuamu. Apalagi saat ibumu terlalu banyak membaca novel romantis."
-x-
Untungnya Naruto juga ikut datang bersama Sakura dan aku ke rumah orangtuaku, kalau tidak, mungkin semuanya akan berakhir sangat canggung. Sakura duduk di kursi sebelah kemudi, menatap ke luar jendela, tangannya dilipat bersama di atas pangkuan, tubuhnya tegang dan gelisah. Aku mencoba mengatakan padanya untuk rileks, namun dia hanya menatapku dengan mata hijau lebarnya dan sepertinya tidak memahami apa yang baru saja aku katakan.
Saat kami akhirnya sampai di rumah, Sakura terlihat seperti dia ingin melarikan diri. Aku berpikir sepertinya aku harus meraih tangannya, menggenggam kecemasannya, tapi mungkin aku akan terlihat aneh maka aku membiarkan tanganku di saku. Naruto berjalan di belakangnya, jadi aku tahu bahwa Sakura tidak akan mencoba melarikan diri. Aku menekan bel.
Hal pertama yang dilakukan ibu saat membuka pintu adalah mengatakan pada Naruto dan aku betapa kami telah tumbuh dewasa, bertanya apakah kami makan dengan cukup, dan meminta kami untuk berbaring dan istirahat sejenak karena kami sama- sama memiliki kantung mata! Semua itu dikatakan dalam waktu tiga puluh detik tapi begitulah ibuku. Ibuku selalu begitu.
Kemudian dia menarik nafas dalam, matanya bersinar dan menatap penuh harap pada Sakura yang terlihat takut. Aku bahkan takut apakah Sakura akan pingsan, tapi tidak, dia menyapa ibuku dan mengatakan terimakasih karena sudah menerimanya berkunjung kemudian aku masuk.
"Ini adalah…" apaku? Model? Teman? Orang yang aku suka? "…ini adalah Sakura."
"Aku sudah menceritakan tentang dia, ingat?" Itachi ikut berbicara, mendekat dan berdiri di belakang ibu. Ibuku mengangguk.
"Itachi sudah bercerita banyak tentang kamu." Aku mencoba untuk tidak memutar bola mataku saat melihat kakakku menyeringai, namun itu sangat sulit. Karena, da hanya bertemu Sakura sekali, memangnya dia tahu seberapa banyak?
"Sangat senang bertemu dengan anda," kata Sakura tersipu. Aku tidak tahu Sakura bisa begitu, walau jika di dekatku dia terlihat sedikit pendiam dan malu, tapi mudah untuk mengetahui alasannya. Di dekat orangtuaku, dia lebih terlihat gugup. Di dekatku terkadang dia terlihat lebih berani, bahkan terkadang dia menyebalkan. Seperti saat dia mengambil mentimun yang sedang aku iris dan dengan santainya memasukannya ke dalam mulut.
"Aku tidak tahu kalau kau bisa memasak," kata Sakura, mengayunkan kakinya dari atas meja konter tempatnya duduk. Aku senang dia sudah kembali normal namun aku tidak tahu berapa lama ini akan berakhir, karena dia selalu terlihat nyaman di dekatku, ibuku mungkin menyadarinya, maka dari itu dia meminta kami untuk menyiapkan makan malam saat dia ditemani Naruto dan Itachi pergi belanja untuk makanan utama. Ayahku masih di kerjaannya, dan hanya ada kami di rumah, ini mungkin membantu Sakura rileks. Jujur saja aku tidak mengira Sakura bisa berakhir sampai di sini, karena dia seharusnya hanya menjadi modelku, Sekarang dia bahkan sudah bertemu dengan orangtuaku dan itu mungkin menjadi klu untuknya bahwa dia tidak akan pernah hanya menjadi modelku saja.
Aku mulai mengiris tomat. "Memang kau pikir aku makan apa?" aku bertanya, "dan berhenti memakan bahan- bahanku."
Dia mengerutkan hidungnya, dan aku hampir mengatakan padanya untuk jangan bergerak dan mempertahankan gayanya, sebelum aku ingat bahwa kami tidak sedang berada di studio. Aku harus membiasakan diri, pikirku, tapi kemudian pikiran itu membuat aku mengernyit. Aku tidak seharusnya melakukan ini. "Jangan cemas," dia menenangkan, "aku benci tomat." Lalu dia menyandarkan berat tubuhnya di kedua tangan dan berkata dengan nada yang sudah aku tahu adalah tipikal gaya Sakura, "Dan aku baru saja menyadari bahwa kau tidak pernah makan atau tidur. Seperti Batman."
Aku menatapnya, Sakura sering mengatakan banyak hal tanpa berpikir, dan aku hampir saja tergoda untuk mengomentarinya kali ini, tapi memutuskan untuk tidak melakukannya karena ada hal lain yang lebih penting.
"Kau benci tomat?" ulangku. Aku pribadi sangat menyukai tomat, aku akan memakannya terus kalau bisa. Aku tidak tahu bahwa ada orang yang tidak menyukainya, dan aku tidak pernah berpikir ada yang membencinya.
Sakura mengangguk, "Tomat itu menjijikan. Dan seriusan, ya, tomat itu apa sih? Buah? Sayur? Fungus?"
"Buah," jawabku masam, "buah yang sangat lezat." Aku menggigit satu untuk membuktikan. Rahang Sakura terbuka. "Kapan terakhir kali kau makan tomat?"
Sakura mengedikan bahu, mengambil irisan mentimun yang lain. "Sudah lama sekali. Saat aku masih remaja dan bodoh."
Aku mengambil satu irisan dan memberikan padanya. Sakura mencoba menjauh, maka aku menggenggam lengannya. Aku tidak pernah merasa senyaman ini bersamanya dan dia tidak pernah merasa serileks ini di dekatku, aku bertanya- tanya apa gerangan yang membuat sesuatu berbeda di antara kami. Aku menahan tubuhnya, mencoba menyuapinya, berdiri sangat dekat dengannya sampai bisa melihat bayanganku di matanya, melihat anting di telinganya, melihat tali kamisolnya mengintip dari balik kaosnya. Aku bisa melihat sudut bibirnya terangkat sedikit, walau dia mencoba menyembunyikannya, aku bisa melihat lip glossnya sedikit dari bibir bawahnya—
"Kalau kau makan ini," kataku serius, "aku akan memberikan kenaikan gaji."
Alis Sakura terangkat, dan seketika aku berpikir bahwa dia terlalu banyak menghabiskan waktu denganku. Aku tidak berpikir bahwa aku ingin merubah hal itu. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya mengejek. "Seberapa banyak, Bos?"
Aku memiringkan kepalaku, jadi jika aku berjingkat sedikit, jika aku mendorong tubuhku ke depan sedikit saja, bibirku akan ada di bibirnya dengan posisi sempurna, pose sempurna.
"Sebanyak yang kau mau," kataku, menggoda. Alis Sakura bertemu, dan aku tahu bahwa dia tidak mempercayai aku walau aku benar- benar serius. Tapi sama sepertiku, dia tidak mau permainan ini berakhir. Maka dia membuka mulutnya, wajahnya merengut seperti menunggu sesuatu yang buruk terjadi. Tanpa berpikir dan tanpa menunggu, aku memasukan tomat ke bibirnya. Aku menunggunya mengunyah, aku melihat lidahnya menyapu bibirnya untuk membersihkan cairan yang meleleh dan walaupun dia terlihat sperti baru saja menelan asam, aku ingin menciumnya.
Aku hampir melakukannya. Aku meletakan kedua tanganku di kedua sisi tubuhnya dan mencondongkan badan ke depan, dia mulai menutup matanya, aku menunggu saat itu terjadi sampai aku mendengar suara tawa dan mata kami membuka.
Naruto berdiri di depan pintu, kantung belanjaan di tangan, dengan seringai tergambar di bibirnya. Aku ingin meninju wajahnya namun ada hal lain yang lebih penting, aku tengah berdiri di antara kaki modelku.
Aku menjauh tepat saat Itachi dan ibu masuk, dan mereka sepertinya tidak memperhatikan kami jadi aku lega. Tapi saat ibu menyuruh kami berempat untuk keluar dari dapur, dia tersenyum padaku mengisyaratkan bahwa dia tahu dan sekarang aku sangat benci kenapa Uchiha sangat pandai menganalisa suasana.
Aku menghilang ke lantai atas menuju kamarku, aku bisa mendengar Naruto yang menawarkan untuk mengajak Sakura berkeliling. Dia setuju begitu saja, tapi aku yakin kalau saja aku ada di bawah sana, dia akan menolak dan berlindung di balik punggungku. Ini sedikit menggelikan; Naruto tidak seburuk itu…
Tapi aku bukanlah seorang gadis, jadi aku tidak tahu bagaimana pendapat mereka.
Berpikir tentang hal itu, membuatku jatuh tertidur. Aku bangkit saat ayah membangunkanku untuk makan malam. Aku tidak punya waktu untuk berpikir mengenai Sakura lagi, karena ada sesuatu yang harus aku lakukan.
Aku turun ke lantai bawah, mendudukan diri di antara Sakura dan Naruto. Aku mengabaikan bisik- bisik percakapan di belakangku dan membersihkan tenggorokanku, menunggu keluargaku berhenti berbicara dan menatapku sebelum aku meneruskan. Ini adalah momenku, kesempatanku, untuk menunjukan pada ayah apa yang telah aku kerjakan sejak lama, untuk membalas ibuku, untuk mengungkapkan masterpiece-ku, modelku, ciptaanku. Aku mulai membuka mulut, berbicara dengan percaya diri, kembali berpikir tentang hampir-mencuri-ciuman di dapur, memikirkan pengambilan gambar yang sempurna di studio:
"Tiga minggu lagi, aku ada pameran foto di kota," aku menjeda. Mata ibuku bercahaya, rahang Sakura jatuh karena terkejut, Naruto memukul punggungku pelan memberi selamat. Aku menatap ayahku, "Aku ingin kalian semua datang."
Dia tidak terlihat begitu bangga. Itachi memberikan selamat tanpa pikir panjang, ibu seketika setuju untuk datang. Aku tahu bahwa ayah juga akan datang, tapi aku mau itu karena kemauannya sendiri; aku rasa hal itu tidak akan terjadi.
Di bawah meja, lutut Sakura menyentuh lututku lagi, aku menatapnya; dia kembali memucat, tiba- tiba menjadi sangat pendiam walau Naruto tengan mencoba menarik perhatiannya. Aku berharap dia menatapku, dan dia menatapku, tapi dia tidak benar- benar menatapku. Karena matanya tidak berkilau, bibirnya tidak membentuk kurva senyum kecilnya, tangannya gemetar saat dia mengangkat gelas menuju bibir dan di bawah meja, aku melihat tangan kirinya menggantung tak berdaya. Aku meraihnya, meremasnya pelan, aku mencoba mengatakan padanya bahwa apapun yang tengah ia khawatirkan akan baik- baik saja pada akhirnya.
Harus baik- baik saja.
-x-
"Katakan padaku kau ingin undang siapa ke galeri?"
"Kenapa aku harus mengundang seseorang ke galeri?"
"Karena pameran itu bertema disebut 'Femme Fatele' dan kau adalah Femme-ku."
Femme Fatale : (noun) A Woman who is considered to be dangerously seductive woman. Wanita yang misterius/ wanita maut/ wanita yang menggiurkan dan memiliki pesona untuk menjerat orang yang dia cinta dalam hasrat yang sangat kuat, membuat mereka jadi wanita yang berbahaya dan mematikan karena daya tariknya.
ThanksTo : AoRizuki, kura cakun, saradaya, koizumi chiaki, uchiha javaraz, zarachan, adora13, Hyemi761, thedarkests,Omiie Uchiharuno
Anyway, Terimakasih sudah membaca.
Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.
-with cherry on top-
.the autumn evening.
