Jaejoong mengibaskan rambut panjangnya kebelakang, perawatan mahal yang rutin setiap minggu ia lakukan sangat berhasil membuat rambut pirangnya tetap terlihat rapih. Tidak perduli seberapa sering Jaejoong bergerak. Gadis cantik itu mendudukkan tubuhnya yang sempurna diatas sebuah kursi bar, sebuah standing mic tepat berada didepannya. Jemari lentik mengetuk-ngetuk ujung mic sebelum perempuan cantik itu mendekatkan bibir seksinya ke kepala mic.

Kedua mata bulatnya terpejam, mencoba menghayati lagu yang akan ia bawakan kehadapan para penggemarnya dalam café ini. Suara merdu Jaejoong mulai melantunkan melodi-melodi indah memabukkan. Ditemani oleh nada-nada soft blues dari instrument akustik yang dibawakan oleh bandnya malam ini.

Bibir seksi gadis itu mungkin hasil touch up dokter bedah pelastik yang memasukkan sedikit implant lip filler sehingga terlihat lebih seksi. Setidaknya para penggemar tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka tetap berimajinasi bagaimana jika bibir seksi miliknya melingkar, mengapit sesuatu dibawah sana.

Jaejoong melenggokkan pinggangnya, kedua tangannya meraba tubuh bagian depan. Tindakannya semakin memberikan efek sensual terhadap penampilan malam ini.

Ia bangga menjadi sebuah objek fantasi sex jutaan warga korea

.

.

NATIONAL ANTHEM

CHAPTER 3

"Yunho-yah"

"hmm?"

"Sekolah Moonbin mengundang orang tua murid untuk hadir diacara festival sekolah, kau akan datangkan?"

"Kapan aku harus datang?"

"Besok"

"Baiklah akan ku usahakan"

"Kau sebaiknya harus mengusahakannya, moonbin sudah merindukanmu. Mungkin kau tidak sadar, tapi sudah 3 hari kau tidak bertemu dengannya. Kau selalu berangkat dinas saat anak-anak belum bangun dan pulang ketika mereka sudah terlelap".

Yunho menghentikan ketikan jempol-jempolnya diatas layar touch screen. "aku merindukan tubuhmu". Itulah kata-kata yang tampil di dalam box pesan . Yunho belum sempat menekan tombol enter untuk mengirim pesan tersebut kepada seorang yang sebenarnya baru tadi pagi ia temui. Istrinya benar, ia sudah 3 hari belum bertemu dengan malaikat-malaikat kecilnya. Selama tiga hari yunho menghabiskan waktu dirumah yang baru ia beli untuk Jaejoong setelah seharian bekerja. Yunho akan pulang sangat larut, tergantung berapa ronde mereka melakukannya. Yunho menekan tombol send.

"Kau benar, kemarilah".

Go Ara beranjak dari meja rias dan menghampiri suaminya yang tengah bersandar pada sandaran kasur. Yunho menggenggam tangan Go Ara mengecupnya lembut. Lavender, istrinya selalu harum beraroma Lavender. Aroma yang membuatnya jatuh cinta, selain mata indah bak dewi Yunani milik istrinya. Tapi kini aroma tubuh istrinya telah tertutup sepenuhnya, dengan aroma milik seorang perempuan yang mangacaukan pikirannya selama seminggu ini. Aroma Strawberry.

Yunho menarik tubuh Go Ara kepangkuannya, tubuh mungil wanita itu bersandar kepada tubuh kekar Yunho. Kedua lengan berotot melingkari tubuh mungil wanita itu.

"Maafkan aku sudah mengabaikan kalian hmm?"

"Kau seharusnya meminta maaf kepada anak-anak. Aku tidak apa-apa, aku mengerti tanggung jawabmu sebagai presiden tidak mudah".

Yunho mengecup puncak kepala Go Ara, menyesap aroma lavender yang hingga kini selalu mampu menenangkan pikirannya jika sedang kalut. Tidak ada yang mampu menggantikan posisi perempuan bermata hazel dalam hati Yunho. Bahkan tidak juga Jaejoong.

Go Ara mengubah posisinya menghadap Yunho, jemari lentik yang kerap ia berikan hand cream aroma lavender meraba wajah sang suami. Merekam garis-garis wajah pria bermata musang melalui sensor-sensor yang tersembunyi dibalik jaringan epidermis. Sentuhan lembut itu mengalirkan getaran cinta dan kasih sayang yang datang langsung dari relung hatinya.

"Aku tidak seharusnya mengubah posisi kalian dalam tingkatan prioritas, keluarga haruslah yang utama bukan?".

Go Ara menggelengkan kepalanya. "Itu tidak bijaksana Yunho-yah, suamiku presiden yang bijaksana. Oxford mungkin tidak mengajarkan kita tentang kebajikan. Tapi jangan lupakan ajaran pendahulu kita. Kau dan aku dipertemukan karena prinsip konfusianis yang telah menjadi ajaran turun temurun keluarga. Aku harap ajaran-ajaran itu tidak hilang diterpa realita yang kau hadapi. Karena aku akan kecewa pada diriku sendiri nantinya".

Yunho mengelus punggung istrinya. "Kau istri dan ibu yang baik Ara-yah, jika aku melakukan kesalahan semuanya murni kesalahanku. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu".

Perempuan bermata hazel menyandarkan kepalanya kedada sang suami. Mendengar bisikan detak jantung yang tidak pernah bosan ia dengar.

"Tentu saja aku punya andil, akulah yang bertugas menjadi pendampingmu dalam hidup. Jika kau gagal mengemban suatu tanggung jawab. Artinya aku gagal mengingatkanmu, menjadi pengawas dan malaikat penjagamu"

"Aku sudah gagal menjadi ayah dan suami yang baik."

"Kau tidak gagal Yunho-yah, 3 hari tidak bertemu dengan anak-anakmu bukan sebuah kegagalan" Go Ara terkikik. Yunho terdengar sangat konyol menurutnya. "Sebaiknya kau jangan mengecewakan anak-anak di festival sekolah nanti".

Telepon genggam Yunho bergetar. Sebuah icon pesan baru muncul dalam bar notifikasi. Yunho memasukan komposisi nomor kunci telepon genggamnya dan membaca pesan tersebut.

Aku ada showcase di Ritz Carlton hotel malam ini, mau mampir?

Yunho mengetik sesuatu dan menekan tombol send. Lelaki itu mengelus rambut hitam wanita dipangkuannya. "Ara-yah, sepertinya aku tidak akan pulang malam ini. Ada diplomatic dinner dengan investor dari Arab Saudi hingga larut malam. Dan sepertinya aku akan menginap disana".

Helaan nafas terdengar begitu nyata. Lagi, malam ini lagi-lagi ia harus pergi ke ranjang sendiri. Go Ara adalah wanita sehat, ia juga butuh sentuhan suaminya. "Apakah meetingnya sangat penting? Aku merindukanmu Yunhoyah".

"Begitulah, kami akan membicarakan tentang explorasi offshore laut kuning".

"Kau akan memberikan proyek ini pada Saudi Aramco?"

"Entahlah masih belum diputuskan, Exxon dan Shell juga mengajukan proposal yang sama. Kita lihat saja mana yang lebih menguntungkan".

"Baiklah".

"Beranjaklah Ara, aku harus pergi sekarang".

Yunho mrengambil kemeja dan jas yang telah disiapkan sang istri kemudian segera bergegas mengganti pakaian. Tiba-tiba sepasang tangan melingkar dan meraba tubuhnya. Memijat otot-otot halus di dada sang suami. Lelaki bermata musang sangat paham, istrinya sedang ingin disentuh. Jemari-jemari lentik GoAra berputar di dua tombol kecil yang tertutup kaus dalam. 7 tahun bersama, Ara sangat tahu puting dada adalah titik sensitive

"Aku sangat merindukanmu Yunho-yah".

Pria bermata musang itu berbalik, menatap sepasang mata berwarna hazel milik istrinya. Wajah Yunho mendekat ke wajah wanita cantik dihadapannya. Bibir hati Yunho menyesap bibir Go Ara, melumat, menggigit. Menghisap. Membangkitkan gairah wanita cantik yang telah 7 tahun melayani kebutuhan seksual Yunho.

"Kita hanya punya 15 menit Ara-yah sebaiknya kita segera bergegas".

Wanita bertubuh mungil itu melepas blous yang melekat ditubuhnya dengan kedua tangan. Kedua bongkahan dada yang tersembunyi dibalik bra putih seakan memberi salam "hai sudah lama tidak bertemu" . Yunho menyingksatkan sebelah kantung bra, membebaskan gunung mungil yang sedari tadi meminta untuk dimanjakan. Payudara kirinya di remas dengan lembut sementara bagian kanannya dihisap.

Erangan lembut keluar dari bibir Go Ara, ketika ia menyadari dirinya sudah terbaring diatas ranjang. Bokong Go Ara berada di ujung ranjang dengan kedua kaki jenjang yang menjuntai Terhitung sudah 3 minggu sejak Yunho dan dirinya melakukan hubungan suami Istri. Kini wanita itu harus memanfaatkan 15 menit waktunya dengan sangat baik.

Yunho mengerang ketika istrinya meremas gundukan di celananya. Sesungguhnya Yunho sama sekali tidak terangsang. Tapi sebagai suami ia harus tetap melakukan kewajibannya. Bibir hati Yunho terus memanjakan tubuh istrinya yang cantik. Mencium, menghisap, menjilat mengalirkan sensasi yang membuat wanita dibawahnya melayang.

Rok yang dikenakan Go Ara disingkap oleh jemarinya. Yunho membantu istrinya melepaskan pakaian dalam yang masih membungkus organ kewanitaan yang telah cukup lama tidak ia manjakan. Lidahnya segera menyambar bibir vagina sang istri.

Jemari gadis bermata hazel mencengkram sprei dibawahnya ketika rambut-rambut halus dan papilla lidah Yunho menggelitik klitorisnya. Ia harus segera memuaskan wanita dibawahnya. Minimal agar sang istri tidak menyadari kalau ia tidak sama sekali bergairah.

"Oh..."

Go Ara menggigit bibir, lidah Yunho melesak masuk memijat dinding vaginanya. Bibirnya terus mengeluarkan racauan-racauan nikmat. Lidah suaminya keluar masuk semakin cepat dan kuat. Ujungnya dengan cepat menekan titik sensitif yang membuatnya melihat bintang.

Suaminya memang sangat pandai dalam urusan ranjang. Salah satu factor yang membuatnya terlena mabuk kepayang ketika Yunho dan ia masih pacaran. Apalagi Yunholah laki-laki yang mengambil keperawanannya. Ia tahu ia tidak akan pernah menyesal.

"Nghh.."

Gelombang arus kenikmatan terlepas bagaikan tsunami. Go Ara meneriakan nama suaminya saat orgasme melanda. Yunho memang mampu membuatnya keluar hanya menggunakan lidah saja. Wanita cantik itu memejamkan kedua bola mata hazel, menikmati sisa-sisa kenikmatan dan mempersiapkan untuk tindakan selanjutnya.

Namun, tiba-tiba Go Ara merasa kehilangan. Saat ia membuka kedua bola mata indahnya, Yunho sudah memakai jas dan sedang membuat simpul dasi. Pemandangan ini membuat wanita yang masih dalam keadaan telanjang mendesah.

"Tidak dilanjutkan?".

"Maafkan aku Ara-yah , tapi aku tidak ingin terlambat".

Lelah. Go Ara hanya menutup matanya. Menutup diri dan pikirannya dari kenyataan yang pahit dan prasangka buruk. Ia hanya mendesah untuk menyatakan kekecewaannya.

Sebuah kecupan ringan mendarat diatas dahi wanita yang terlentang masih tanpa busana

"Aku pergi, jaga dirimu dan anak-anak dengan baik".

Hatinya semakin tercekit bersamaan dengan suara pintu yang tertutup. Yunho meninggalkannya sendiri bahkan tanpa menutup tubuhnya yang telanjang. Setidaknya menyelimutinya.

Tetesan Kristal bening meleleh dari ujung mata kanan Go Ara, kemudian disusul dengan mata kiri. Tidak Diinginkan. Itulah yang ia rasakan sekarang.

.

.

.

Gaun yang harus ia kenakan malam ini adalah gaun dari rancangan desainer ternama dunia. Reputasi Jaejoong yang semakin mengglobal. Apalagi isu kedekatannya dengan presiden China semakin ramai menjadi topik di headline majalah. Tentusaja Jaejoong senang, dari dulu inilah yang ia inginkan. Menjadi pusat perhatian. Meski kenyataan terlalu berbaik hati padanya, memberikan ia sebuah tempat yang lebih luas. Pusat perhatian dunia.

Sebenarnya isu kedekatannya dengan presiden China itu tidak sepenuhnya benar. Lelaki tua itu memang memintanya menjadi simpanan, tapi perempuan berambut pirang tersebut sama sekali tidak tertarik dengannya.

Namun, tentusaja Jaejoong tidak menolak tawaran ratusan harta yang diberikan padanya. Setidaknya sebelum keadaan menjadi semakin gawat, Jaejoong bisa membuat sang presiden China itu puas hanya dengan berbincang dan ditemani minum olehnya.

Jaejoong mengenakan gaun yang sudah dirancang khusus untuknya. Gaun itu sangat indah, warnanya pink muda, bahannya satin, sangat menunjukan sisi elegan, imut, feminine, dan tentunya menantang. Apalagi dengan bagian bawah yang transparan dan memperlihatkan seluruh permukaan pahanya yang mulus. Bagian privatnya tertutup oleh kain yang berbentuk sepeti bikini. Dengan ornament berbentuk bunga rose tepat berada dibagian tengah, bagian alat kelaminnya. Sebagai perlambang kewanitaan.

Jaejoong terkikik jika mengingat bukan organ kewanitaan yang ada dibalik bunga rose dan kain itu.

.

.

.

Yunho memijat pelipisnya, denyutan itu terasa semakin kencang mengacaukan konsentrasi pria bermata musang itu saat membaca proposal dan surat yang ada dimejanya. Yunho menelan kapsul berwarna biru dan meneguk air untuk menghilangkan rasa pahit yang tertinggal.

Berita yang disampaikan News Anchor hari ini membuatnya sebal, bagaimana bisa presiden China begitu bodoh hingga isu kedekatannya dengan seorang artis seksi tersebar ke media?. Tidak, bukan itu yang membuatnya kesal. Fakta bahwa Jaejoong lah artis yang dikabarkan dekat dengannya membuat kepalanya seakan mau pecah.

Telepon genggam pribadi Yunho kembali bergetar. Ia membaca pesan dari seseorang yang menjadi pusat perhatiannya akhir-akhir ini.

Kau pasti akan datang kan? Jam 8 malam. Jangan sampai telat.

P.S. aku mengenakan gaun special untukmu. Oppaa~ ( ~.^)

yunho mengetik sebuah balasan, meskipun ia tengah kesal sekarang. Tapi bayangan wajah Jaejoong yang menggemaskan membuat moodnya membaik.

Aku ada urusan dengan investor dari Arab Saudi sebentar, jadi mungkin akan sedikit telat. Tapi aku akan menghabiskan semalam penuh bersamamu, bagaimana?.

Pengawal Presiden mengingatkan agenda selanjutnya melalui intercom. 5 menit lagi ia harus bergegas mengikuti diplomatic dinner di hotel Ritz Carlton. Yunho tidak sabar, mungkin setelah ini ia bisa mengajak investor dari dubai itu untuk menghadiri showcase kekasihnya.

.

.

.

kedua bola mata indah Jaejoong yang terpejam membantunya untuk menghayati lagu terakhir yang ia bawakan malam ini. Lagu sexy tentunya, lagu yang mengundang hasrat ingin bercinta. Bahkan judulnya saja Burning Desire, lagu ini ia tulis untuk mengungkapkan bagaimana Yunho mampu membuatnya menggila.

Jaejoong mengelus standing mic, tubuhnya ikut bergoyang naik turun seiringan dengan helaan nafas yang memberikan efek sensual kepada lagu itu. Para penyanyi pengiring membantu performa vokalnya diatas panggung. Bukan berarti ia tidak bisa bernyanyi sendiri, mereka hanya berfungsi sebagai pemanis saja

I got a burning desire for you baby

(I got a burning desire)

I got a burning desire for you baby

(I got a burning desire)

Pingganngnya berlenggok, matanya terpejam. Jaejoong membayangkan ketika sang presiden menyentuh tubuhnya didepan penonton. Shit. Penghayatan Jaejoong terhadap sentuhan Yunho sepertinya berhasil menyalurkan hasratnya kepada penonton Penampilannya selalu berhasil membuat penontonnya 'tegang'.

I drive fast wind in my hair

I push you to the limit cause I just don't care

Jaejoong mengelus mic dihadapannya. Memberikan imajinasi liar bagi penonton yang 90% berjenis kelamin laki-laki.

I got a burning desire for you baby.

Kelopak mata Jaejoong membebaskan kedua bola mata yang terpejam. Seseorang menyambut pandangan pertamanya, seseorang yang ia tunggu sedari tadi. Bibirnya menyunggingkan senyuman.

Senyuman yang diperuntukan bagi satu-satunya dambaan hati yang ada di ruangan ini. Senyuman miliknya seorang. Bukan bagi puluhan penonton yang memberikan standing ovation, bukan juga bagi mereka yang bertepuk tangan dan bersiul padanya.

Senyuman hanya untuk the one and only. Sang presiden.

.

.

.

Jaejoong tengah mencium bunga pemberian penggemar di ruangannya. Showcase malam ini seperti showcase sebelumnya. Tidak ada yang special kecuali kehadiran seorang laki-laki yang ia puja dan memujanya.

Jaejoong menyalakan korek gas dan mendekatkan ujung rokok yang terapit dalam bibir merahnya yang seksi. Wanita berambut pirang itu menghisap asapnya dalam-dalam. Nikotin yang terhisap selalu mampu membuat mentalnya rileks.

Park Yoochun, asisten cerewet itu menghampirinya.

"Kerja bagus Jaejoong-ah, sekali lagi kau berhasil membuat penonton puas dengan performamu"

Sebuah kecupan mendarat dipuncak kepala Jaejoong. Jelas Yoochun bangga dengan artisnya yang fenomenal. Meski seberapa sering Jaejoong melakukan hal bodoh yang membuat Yoochun tidak berhenti mengelus dada. Tapi wanita transgender itu selalu berhasil membuat rekening pria berjidat lebar semakin membengkak.

"Jaejoong-ah, kau seharusnya berhenti merokok, kau tahu kualitas suaramu akan terancam"

Wanita berambut pirang itu menghembuskan asap rokok ke wajah sang manajer.

"Kau seharusnya berhenti berbicara Yoochun-ah".

"Kau ini tidak bisa berhenti menjadi keras kepala dan menyebalkan. Untung aku sahabatmu yang bisa mentorelir sikap mu yang menyebalkan itu".

"Ck. Aku bukan sahabatmu".

"Terserahlah".

Jemari lentik wanita berambut pirang membuka kunci telepon genggamnya. Sekali lagi mengecek pesan yang sudah lama ia tunggu. Namun sialnya ia, hanya dapat BBM menyebalkan dari presiden China yang memuji penampilannya. Sial, darimana pria tua itu tahu?. Jangan-jangan si tua Bangka itu menghadiri showcasenya?.

"ah ya aku lupa memberitahumu, presiden China itu meminta izin untuk menemui mu disini".

"Apa?. Katakan padanya aku sedang tidak ingin menemui siapapun".

Bunyi ketukan pintu terdengar. Damn, terlambat.

"Maaf, aku sudah terlanjur bilang kau bersedia. Sorry Joongie, mereka membuatku tidak bisa berkata apa-apa pada uang ratusan ribu dolar".

"Kau menjualku?".

"Ya!, aku bukan menjualmu, kau sendiri yang tidak membagi yang kau dapatkan dari si tua itu. Kau membuatku tidak punya pilihan!".

Dasar mata duitan, Jaejoong harus bertahan dengan sikap manajernya yang menyebalkan. Lagi pula hanya Yoochun yang ia percaya. Manajer sebelumnya selalu tidak bisa menjaga privasi dan mengancamnya macam-macam. Yah walaupun menyebalkan, hanya Yoochun yang membawanya sampai tangga kesuksesan seperti ini.

Jaejoong menatap punggung Yoochun yang membuka pintu. Sejenak ia berharap Yunho yang ada dibaliknya. Harapannya pupus sudah ketika situa Bangka Han Geng yang masuk. Ingin rasanya Jaejoong menendang perut buncitnya hingga ia tergelinding bagaikan bola bekel.

"Halo princess, kau tahu, gaun mu menggodaku".

Jaejoong tersenyum, ia tidak bisa meninggalkan kesan buruk pada si tua Bangka ini. Akan repot nantinya.

"gege.. aku lelah sekali, aku ingin segera pulang dan tidur".

Wanita cantik itu merajuk dan menggoda Hangeng. Presiden berubuh gempal itu merangkul pinggang langsing Jaejoong. Tanpa penolakan tentu saja.

"Kau tidak ingin bermain sebentar dengan gege mu ini"

Jaejoong menggeleng dengan manja. Tangannya mengelus dada Hangeng. "kau tahu, hari ini aku lelah sekali, pagi hari aku ada jadwal wawancara, siangnya pemotretan, dan malamnya showcase. Bayangkan aku melakukan ini seminggu berturut-turut. Dan aku masih harus menyimpan tenagaku untuk besok."

Hangeng mengelus rambut pirang Jaejoong dengan lembut, meraba wajah mungilnya dan mencubitnya gemas. "Sedikit kecupan? Bagaimana?".

"kecupan saja ya?. Tidak ada French kiss?"

Tanpa ba-bi- bu, Hanggeng mengecup tepat dibibir Jaejoong. Wanita itu bahkan harus menahan napasnya agar tidak mual.

Oh tidak, si tua Hangeng mulai melumat bibirnya. Jaejoong segera melepas pagutan lelaki tua itu dan mendorongnya perlahan. Bibir Hanggeng terus mengejar bibir seksinya. Seakan yang ia berikan tidak cukup untuknya.

"gege! Sudah kubilangkan tidak ada French kiss?. Sudah ya! Aku ingin berganti pakaian dan beristirahat".

Raut wajah Hangeng mengisaratkan kekecewaan. Tapi ia tidak ingin membuat si cantik Jaejoong kesal dengan perbuatannya. Ia lebih baik mengalah.

"Baiklah, aku akan mentransferkan beberapa dolar untuk pertemuan singkat kita malam ini".

"Ah ya, aku menunggu notifikasi dari mobile banking ku. Tarifnya tidak berubah ya".

"Ya, akan ku berikan bonus karena ini pertama kalinya kau memberiku kecupan".

"Asik, trimakasih gege, kau memang yang paling baik". Jaejoong mengecup pipi Hangeng sebagai ucapan sampai jumpa. Sebelum mengantarnya kedepan pintu.

Jaejoong menghembuskan nafas. Akhirnya satu orang pengganggu lenyap dari pandangannya. Wanita itu mengambil tisu dari meja riasnya dan mengelap bibirnya kasar. Menjijikan. Hangeng adalah pria paling menjijikan yang pernah menyentuhnya. Nafasnya bahkan sangat bau, mungkin hasil pembusukan bangkai bangkai lawan politik yang ia bunuh dan konsumsi.

Yah setidaknya Hangeng tidak pernah mengecewakan rekening pribadi Jaejoong.

Suara ketukan kembali terdengar, Jaejoong mendesah. Apalagi yang tua Bangka itu inginkan?. Dengan gusar perempuan berambut pirang membuka pintu ruangannya. Lama-lama ia bisa mencekik Hangeng dengan dasi mahal yang terlilit dikerah bajunya.

"Oppa..".

False alarm. Siapa sangka lelaki yang mengetuk pintunya adalah seseorang yang ia tunggu-tunggu dari tadi, Yunho. Tatapan mata Yunho tidak lembut atau bergairah seperti biasa. Tatapan itu tajam, menghakimi Jaejoong. Membuatnya serasa telanjang dan dipermalukan, membuatnya merasa telah melakukan sesuatu yang sangat nakal.

Yunho masuk dan mengunci ruangan itu.

"ada hubungan apa antara kau dengan Hangeng?". Jaejoong tersenyum, ia sangat senang dengan sikap Yunho yang kasar dan posesif seperti ini.

"sejauh yang ku tahu, hubungan ku dengan Hangeng tidak ada sangkut pautnya denganmu bukan?"

Lelaki bermata musang itu mendengus kasar. Ia sangat tidak suka berbagi mainan dengan orang lain.

"Aku paling tidak suka berbagi".

Jaejoong melipat kedua tangannya. Sebuah gerakan defensive. Wanita berambut pirang menatap lelaki dihadapannya dengan tatapan menghakimi.

"aku bukan milikmu, kita hanya berbagi kenikmatan diatas ranjang. Tidak ada hal lebih ingat? Kau sendiri yang membuat peraturan jika kita tidak boleh memiliki ikatan. Jadi semua terserah padaku aku ingin mencari kerja sambilan kepada siapapun".

Yunho gusar, ia mengusap mukanya dengan kasar. Lelaki bermata musang itu tidak senang dibantah. Yunho menarik tubuh ramping Jaejoong kedadanya. Mengeleminasi oksigen diantara mereka berdua. Bagaikan tembakan laser. Tatapannya menusuk kedalam mata bulat Jaejoong.

"Kau. Milikku."

Tubuh ramping Jaejoong terlempar keatas ranjang, mulutnya meracau erangan. Ia sangat senang diperlakukan dengan kasar seperti ini. Membuat libidonya naik seketika.

Yunho meraba gundukan dibalik dress Jaejoong, memijatnya dengan kasar.

"Dasar pelacur!. Kau senang saat lelaki tua itu menjarah tubuhmu? Kau senang saat penis kotor mereka memasuki dirimu?".

Dirty talk! Yes! Selama ini Yunho terlalu memperlakukannya dengan lembut, ia ingin sedikit kasar. Ia ingin didominasi, diikat, disiksa sampai ia tidak berdaya.

Yunho menarik paksa, merobek gaun seksi bak pelacur wanita dibawahnya. Lelaki itu tidak menyadari bahwa Jaejoong menatapnya horror ketika gaun mahal puluhan juta dolar terbelah menjadi dua. Ia harus memikir alasan apa yang harus di katakan pada perancang gaun itu. Mungkin nanti, ia lebih baik menikmati sentuhan Yunho sekarang.

Pemandangan menggiurkan terpampang dihadapannya. Jaejoong tidak mengenakan apapun dibalik gaun pelacur itu. Hanya sebuah G-String yang menutupi penis wanita cantik itu. Payudaranya naik turun seiring dengan hembusan nafas Jaejoong.

Bibir hati Yunho menyambar bibir seksi Jaejoong. Tidak ada kelembutan sama sekali dalam ciumannya. Yang ada hanya hisapan kuat dan gigitan kencang yang membuat Jaejoong meronta kenikmatan. Yunho menghisap bibir Jaejoong, menggigiti organ lembut itu sampai rasa besi dari darah memanjakan sensor kecapnya.

Tali liur bercampur darah menghubungkan bibir Yunho dan Jaejoong ketika lelaki bermata musang melepaskan pagutannya. Yunho menciumi wajah gadis berambut pirang meninggalkan hisapan hisapan kecil. Tangannya menyambar payudara Jaejoong, memijat, meremas, menggelitiki putting kecil berwarna pink yang menggemaskan.

Erangan nikmat dengan sedikit teriakan keluar dari bibir seksinya ketika remasan Yunho di payudaranya mengencang dan lidah panjang lelaki bermata musang itu menjilati rongga telingannya keluar masuk. Jaejoong meracau kenikmatan, meski sedikit merintih ketika Yunho mencubit putingnya terlalu keras.

Yunho melepas dasi dan remasan tangannya pada payudara Jaejoong. Yunho mengangkat kedua tangannya keatas kepala perempua berambut pirang itu dan mengikat kedua lengannya dengan dasi. Jaejoong sama sekali tidak meronta. Ia sangat menunggu apa yang akan Yunho lakukan pada tubuhnya.

Jaejoong menggeram, lidah Yunho menyapu permukaan ketiaknya. Rasanya sangat nikmat bahkan ia tidak bisa berhenti meracau. Yunho terus menciumi dan menjilati ketiaknya. Sementara kedua tangan nakalnya kembali meremas gunung kembar Jaejoong.

Air mata Jaejoong meleleh, yunho memang paling pandai menggunakan lidahnya untuk memanjakan tubuhnya yang panas. Jaejoong menggigit bibir ketika bibir Yunho beralih menghisap payudara kirinya. Hisapan Yunho pada areola diiringi dengan gigitan-gigitan kecil. Jaejoong berteriak ketika Yunho menggigit putting payudaranya dengan sangat kencang, lidah Yunho juga menjilati ujung kecil yang tersisa mengalirkan getaran getaran electric dalam tubuhnya dan menjalar hingga bagian selatan.

Menyadari hal ini, Yunho menghentikan hisapannya dan memandangi pemandangan menggiurkan. Jaejoong barusaja mengalami orgasme.

Bibir Jaejoong kembali mengeluarkan rintihan ketika telapak tangan Yunho menggenggam alat kelaminnya yang barusaja mengeluarkan lahar panas. Demi tuhan, Yunho akan menyiksanya malam ini. Penisnya masih sangat sensitive, tapi hal itu tidak menghentikan lelaki bermata musang untuk mengocok kejantanannya.

"Kau menyukainya hah? Kau menyukai diperlakukan kasar?. Kau benar-benar pelacur".

"ngghh, Oppa~".

Yunho mengubah posisi Jaejoong menjadi tengkurap diatas pahanya yang masih terbalut celana satin. Tanpa pemberitahuan apapun Yunho memasukan dua jari kedalam lubang anal Jaejoong dan menusuknya dengan kencang. Perempuan berambut pirang itu berteriak. Yunho memasukinya tanpa pelumas sedikitpun. Lubangnya terasa sedikit perih.

Air matanya kembali meleleh. Apalagi ketika Yunho menrik dua jari dan memukul bokongnya dengan sangat keras.

"Dasar pelacur!. Kau senang aku memukul mu seperti ini? Kau senang hah?"

"Yes Oppa. Pukul aku terus, siksa aku Oppa, perlakukan aku dengan kasar, aku pelacurmu!"

Bokong Jaejoong memerah akibat tamparan telapak tangan Yunho. Tangan-tangan besar itu menampar kemudian meremas bongkahan pantat itu dengan gemas. Jaejoong terus berteriak dan menangis, ia tidak pernah merasakan kenikmatan se intens ini.

Yunho menjilat pipi pantat Jaejoong dan menggigitnya gemas. Sebelum akhirnya Yunho membaringkan Jaejoong kembali keatas ranjang. Kedua tangan Yunho membuka kedua pantat seksi milik perempuan berambut pirang dan membenamkan wajahnya diantara kedua gunung merah itu. Yunho mengerang merasakan kedua bokong panas Jaejoong mengapit wajahnya..

"arrggghhh"

Jemari-jemari Jaejoong hasil manicure menarik seprei putih dibawahnya ketika lidah Yunho memasuki lubang sempit wanita bermata indah itu. Organ lembut itu memperkosanya. Mmmfh.. Jaejoong bahkan tidak bisa berfikir jernih lagi. Pandangannya berubah berembun. Yunho memang mampu membuatnya lupa siapa namanya.

Gigi lelaki bermata musang itu menggores pantat Jaejoong. Sebuah senyuman licik mengembang. Ia tahu apa yang membuat wanitadibawahnya semakin menggila.

Jaejoong membenamkan wajahnya katas bantal, giginya menggigit ujung bantal dan air matanya mengalir semakin deras. Lelaki yang sedang menyiksanya secara seksual memasukan 3 jari disamping lidahnya dalam lubang anal Jaejoong. Lidah dan jari-jari itu semakin masuk dan menyiksa titik prostat wanita transgender berambut pirang itu.

Bola kembar wanita dibawahnya berkedut, Yunho tahu apa yang akan datang menghampiri Jaejoong, ia semakin cepat memaju mundurkan jarinya yang bersarang dalam lubang anal perempuan dibawahnya, lidahnya pun semakin gencar berputar membasahi rongga sempit Jaejoong.

Perempuan itu berteriak, lubang wanita bermata indah berkedut seiring dengan cairan putih yang kembali menodai sprei dibawah mereka. Yunho mencabut jari dan lidahnya dari lubang Jaejoong membuatnya meringis merasa kehilangan.

Yunho bergegas menurunkan resleting dan membebaskan penis besarnya yang telah menegang sempurna. Tanpa perduli Jaejoong yang belum selesai memuncratkan cairan cintanya, lelaki bermata musang itu menghujam penis besarnya sekaligus. Dan memompanya secara kasar.

Yunho menggeram merasakan lubang Jaejoong yang berkedut dan menjepit penisnya sangat ketat. Matanya terpejam menikmati sensasi pijatan otot-otot anal Jaejoong pada penisnya. Pinggulnya tidak berhenti memompa lubang wanita dibawahnya dengan cepat. Wanita berambut pirang itu yakin, Yunho adalah monster.

"arghh". Tangan besar Yunho menarik pantat Jaejoong agar posisinya lebih meninggi dan membuat Yunho lebih mudah menghantam tubuh wanita dibawahnya. Jaejoong ada diantara lelah, dan kenikmatan. Bahkan penisnya masih setengah tegang. Tapi Yunho sama sekali tidak memperdulikan kondisinya yang barusaja mengalami orgasme. Lelaki berkulit kecoklatan hasil dari seringnya berjemur di pantai itu terus menyiksanya dengan nikmat.

Jaejoong menggeram, Yunho kembali menampar pantatnya. Perlakuan kasar Yunho membangkitkan gairah wanita itu. "Yes.. Oppa, lebih keras.. argh".

"kau suka itu baby?"

"yas Oppa pukul pantatku, rasanya sangat nikmat ohh~".

Wanita itu terus meracau, tenaganya kembali akibat dari pukulan Yunho di pantatnya. Jaejoong memaju mundurkan tubuhnya dan menggoyang. Yunho semakin menggeram seperti seekor anjing ketika gerakan Yunho seakan memelintir penisnya dengan nikmat.

Pompaan Yunho semakin cepat. Ia sudah hampir mencapai klimaksnya. Tangan besarnya meraih dua gunung kembar Jaejoong dan kedua putingnya.

"sedikit lagi oppa, semakin cepat".

Yunho menyiksa titik prostat Jaejoong semakin cepat, hingga tubuh wanita dibawahnya mengejang. Lubangnya yang berkedut semakin membuat Yunho menggeram nikmat. Dua bola kembar Yunho pun bikut berkedut merasakan cenkraman lubang anal Jaejoong.

Jaejoong berteriak ketika merasakan cairan putih kembali menyembur dari penisnya untuk yang ketiga kali. Yunho belum mencapai puncak dan masih memompa penisnya didalam tubuh Jaejoong. Yunho menggeram giginya menggigit punggung Jaejoong ketika Yunho mencapai puncak, dan menyemburkan lahar panasnya dalam tubuh wanita cantik dibawahnya.

Tubuh keduanya ambruk, Yunho tersengal-sengal. Baru kali ini ia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Jaejoong memang mainan terbaik yang pernah ia punya. Bahkan istrinya tidak pernah bisa memuaskannya sebaik Jaejoong.

Aktivitas ini cukup menguras tenaganya, Yunho melepaskan kemeja dan celana yang masih melekat pada tubuhnya dan memilih berbaring tanpa busana. Ia merengkuh Jaejoongdalam pelukannya dan terpejam. Menyusul wanita yang ada dalam peleukannya kea lam mimpi.

.

.

.

"nggghh". wanita cantik menggeram, suara bising sekelilingnya mengganggu acara tidur cantik yang ia butuhkan. Jaejoong mengusap kedua bola matanya dan mengamati suara bising apa sesungguhnya.

"Hai , Selamat pagi". Benar, semalam ia menghabiskan malam yang fantastis dengan presiden korea selatan. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan hal itu?. Kening Jaejoong mengkerut, Yunho sudah berpakaian lengkap dan tengah bergegas merapihkan diri.

"kau mau kemana?"

"Anak-anak, aku benar-benar lupa jika aku berjanji pada moonbin untuk datang ke festival sekolahnya".

"Kau tidak ingin menghabiskan hari bersamaku?".

Yunho mengangkat keningnya. "aku tidak bisa, maaf. Aku sudah terlalu sering bersama mu sampai melupakan anak-anak".

"kau menyalahkanku?". Yunho tersenyum memamerkan gigi-giginya yang rapi.

"ya, tidak, lebih tepatnya aku menyalahkan tubuhmu yang seksi". Yunho menghampiri Jaejoong dan menghisap bibirnya dengan kuat.

"mmh". Jaejoong merasakan kehilangan ketika Yunho melepas cumbuannya.

"aku harus pergi. Aku akan menghubungimu nanti. Dan ingat, aku sangat tidak suka jika kau berdekatan dengan Hangeng".

"kau tidak bisa mengaturku presiden Jung".

"kalu kau tetap bersi keras, aku akan menghukummu seperti semalam".

"dayum, aku justru termotivasi untuk melanggarmu".

Jaejoong tersenyum nakal. Yunho dengan gemas meremas payudara Jaejoong yang tidak tertutup apapun.

"Baiklah, aku harus pergi Jaejoong-ah".

"Hmm.."

Jaejoong menghembuskan napasnya seiring dengan suara dentuman berasal dari pintu ruangannya. Ini bukan pertama kalinya wanita cantik itu menjadi seorang simpanan. Tapi ini pertama kali Jaejoong merasakan bahwa dirinya sangat mengenaskan.

Yunho terlalu membawanya jatuh kedalam pesonanya, ia harus mampu menjaga hati. Jangan sampai pada akhirnya dirinyalah pihak yang terluka

.

.

.

TBC

A/n sorry for the long updateeeeee huhuhuhuhu

aku ga bakal banyak komen di A/n sekarang. :( please review yaa aku sudah bersusah payah untuk update soalnya hiks. menurut kalian apakah chapter ini membosankan?

A/n sudah diedit ^_^ sekarang ga ada nama changmin yang nyelip. ya, ff ini memang ff homin terinspirasi dari glinda!min. tapi temenku minta untuk dibuat yunjae versionnya. so aku buat yang yjvers. tapi terserah readers kalo memang menginginkan ff ini pure homin aku ga akan lanjutin yunjae versionnya.