Stalker

Chapter 2 : I'm Sorry

Alunan Fur Elise terdengar. Aku segera menyambar HandPhone-ku. 'Jadi, besok aku tidak boleh bawa barang eletronik?' Itu SMS dari Yaya. 'Tentu saja, bukan hanya barang elektronik, komik ataupun yang aneh-aneh akan disita! Yang merazia di kelas XI anak kelas XII! Tolong beritahukan yang lain. Pulsaku terlalu cantik.' Kau tahu, aku mulai mengakui bahwa bangsa kami ―Cina― memang pelit.

Belum lama aku mengirim SMS tadi, HandPhone-ku berbunyi lagi. 'Aku tahu rahasiamu.' SMS itu berasal dari iblis berwujud manusia. Aku tahu balasanku akan membuat dia semakin jengkel padaku.

'Semoga 'masa depanmu' aman.'

Dan dia tidak membalasku lagi.

BoBoiBoy © Animonsta

Warning :

OOC, OC, AU, bahasa yang kurang dimengerti, humor garing, alur kecepatan, plot yang kurang dimengerti, typo (s)

[Alice]

Tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfic ini. Hanya kesenangan dan menuangkan ide yang menumpuk di otak. Author sangat meminta maaf jika ide sama.

.

Happy Reading

Aku memberi tampang terseram yang aku punya. Seluruh siswa kelas X B meringkuk ketakutan. Beberapa mata para siswi berkaca-kaca. Hah, berkaca-kaca kek, berakik-akik kek, aku tidak peduli. Ini balasan mereka karena kemarin meremehkanku. Mereka meremehkanku, aku mengambil barang mereka. Kejam? Memang~

Kak Fajar memeriksa tas terakhir. Tas cowok. Aku tahu pasti dia membawa sesuatu yang mencurigakan. Benar saja, belum berapa lama, tangan jenjang Kak Fajar mengeluarkan sebuah komik. Detective Conon, itu judul komik itu. Memang sih, komik itu lagi naik daun. Lalu keluar lagi HandPhone, topi, senter dan … Tongkat Selfie. Satu kelas hening. Coba bayangkan gini. Ada cowok, pergi ke sekolah bawa tongkat Selfie. Terus bayangkan, cowok Selfie-an sama teman-temannya dengan pose lidah dikeluarin atau monyong-monyongin bibir? Aku merinding. Aku tak pernah merinding sehebat ini sebelumnya.

Kak Fajar meletakkan seluruh barang-barang itu dalam satu box besar. Aku mengintip sekali lagi isi box tersebut. HandPhone, mulai dari yang paling 'astaga naga ini HP atau batu?' sampai yang menguras uang dan air mata orang tua tentunya, PSP, komik,memory card (Aku yakin salah satu dari memory card tersebut menyimpan sesuatu yang namanya Hentai) dan teropong. Aku menguatkan jiwa ragaku untuk tidak tergoda mengambilnya.

"Baiklah. Razia untuk kelas ini sudah selesai. Bagi yang merasa barangnya disita, sesuai dengan peraturan sekolah, harus membayar denda sesuai dengan jenis barang atau menunggu hingga hari kululusan. Terima kasih untuk bekerja sama dengan kami. Selamat pagi." Kak Fajar dengan sopan mengundurkan diri. Murid-murid yang pasrah tersebut mau tak mau mengatakan 'Selamat pagi juga kak.' Hah! Rasakan pembalasanku! Aku gembira walaupun tidak mendapat bagian kelas yang ingin kurazia. Setidaknya aku melihat Kak Fajar sepanjang pagi ini.

Senyumku mengembang mengingat kejadian kemarin. Ah, bagaikan mimpi. Kak Fajar melangkah ke luar kelas, aku bagaikan anak bebek mengikutinya. Aku lebih suka berjalan di belakangnya, memandangi betapa tinggi dan lebar punggungnya. Tunggu… pikiran macam apa itu?!

"Ying?" Kak Fajar berhenti.

"Ya?"

"Ah, tidak. Aku hanya penasaran soal kemarin tentang kau dan Fang." Aku mengerutkan hidungku. Fang. Padahal aku sudah senang tidak melihatnya pagi ini, tapi Kak Fajar malah mengungkit-ungkit namanya.

"Apanya?" tanyaku. "Netbook-nya. Apa kau benar-benar menumpahkan jus?" Mata cokelat kayunya menembus mataku. Aku beruntung pagi itu mendung, karena jika tidak, aku yakin Kak Fajar bisa melihat wajahku memerah dengan cepat.

"I-Iya, aku benar-benar ceroboh," aku berbohong, berharap bisa menjadi pembohong yang baik seperti Fang.

Senyumnya melebar. Jantungku semakin tidak karuan detaknya. "Syukurlah, kukira hal yang buruk terjadi padamu." Aku tahu mataku punya gangguan, tapi aku bersumpah melihat semburat merah pada kedua pipi tirus Kak Fajar. "Kau harus menjaga dirimu baik-baik, Ying. Semua orang menyayangimu," lanjutnya.

Aku tak bisa menjawab. Lorong itu terasa sangat sepi. Terasa hanya ada aku dan Kak Fajar. Senyumnya menghangatkan pipiku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu keluar dari hidungku. Aku merabanya. Merah dan pekat. Oh, no. Aku kehilangan keseimbangan dan mendengar samar-samar suara orang memanggilku.

s.t.a.l.k.e.r

Aku membuka mataku. Buram. Aku meraba-raba daerah di sekitarku, dan berhenti ketika tanganku menyentuh benda kecil. Aku segera memasangkannya, dan semuanya terlihat jelas. Ruangan dicat putih dengan berbagai macam poster tentang kesehatan. UKS, itu pikiran pertamaku dan aku benar.

Seorang perawat datang ke dalam ruangan. Aku segera menganalisa wajahnya. Cantik, dengan wajah ramah khas para perawat. "Kenapa aku ada di sini? Sekarang sudah jam berapa?" tanyaku bertubi-tubi padanya.

"Wow, wow, O.K, tarik nafas." Aku melakukan apa yang disuruhnya. "Buang perlahan." Aku melakukannya juga. Dia tersenyum ramah padaku.

"Sekarang, apa yang mau kau tanyakan?"

"Kenapa aku di sini?" aku menanyakan pertanyaan yang pertama muncul di kepalaku. "Apa yang terakhir kau ingat?"

Aku mengangkat bahuku. "Tak tahu. Aku tiba-tiba tumbang." Perawat itu menawarkan segelas air padaku. "Kau kecapean dan kau punya riwayat mimisan parah yah?" Aku mengangguk. "Jadi aku menyarankanmu untuk istirahat total hari ini." Aku hampir protes tapi langsung dibungkam oleh kata-katanya. "Kecuali kalau kau ingin koma, kau boleh kembali ke kelas."

Aku melihat gelas di tanganku. Apa tadi Kak Fajar yang membawaku ke sini?

"Aku sudah memanggil temanmu untuk mengantarmu pulang. Sebentar lagi dia tiba."

Aku memberanikan diriku untuk bertanya, "Aku… Ini sudah pukul berapa?"

Dia mengernyit, merasa aku bodoh karena masih mempertanyakan pertanyaan itu. "Sebelas lewat. Kau harus pulang."

"Ying! Permisi, Ying di mana?" aku mendengar suara Yaya dari ruangan sebelah. Perawat tersebut mengundurkan diri dan segera menemui Yaya.

Yaya muncul dari pintu. "Ying! Oh, astaga, kami sangat mengkhawatirkanmu!"

Aku menaikkan alisku. "Kami?" Dia mengangguk. "Iya, kami. Kami seluruh kelas."

"Bahkan Tn. Pelit?" Gadis itu kembali mengangguk. "Kami semua mengkhawatirkanmu." Ah, apa separah itukah aku saat pingsan? Bahkan Tn. Pelit itu mengkhawatirkanku? Aku merasa bahwa aku ini orang penting.

"Dia yang memberi tahu kami kalau kau pingsan." Perkataan Yaya langsung menyorot perhatianku. "Bagaimana dia―"

"Tadi dia dipanggil ke ruang guru. Pada saat berada di dekat tangga, dia mendengar suara minta tolong. Ya, kau tahu Fang kan. Walapun kasar, apatis dan pelit"―Aku nyengir―"Dia akan tetap menolong orang. Dan dia melihatmu dengan." Dia berdehem. "Kak Fajar."

Aku bertanya, "Kenapa berdehem?" Yaya malah memutar matanya. "Kenapa juga pipimu memerah?" Aku mengutuk kulit ras kami yang terlalu pucat sehingga cepat memerah.

"Sudah, kau sudah semakin merah. Lebih baik kita pulang cepat-cepat."

"Tapi tasku―"

"Aku sudah ambil. Ada di meja depan, ayo, pemalas." Dia menarik tanganku. Aku berdiri, lalu membereskan rokku. Kami keluar dari ruang itu dan mengucapkan terima kasih pada perawat yang berada di situ. "Hati-hati. Jangan sampai pingsan lagi," dia memperingatkanku. Aku hanya menjawabnya dengan sopan.

Sepanjang jalan, tidak ada hal penting yang Yaya bicarakan kecuali tugas-tugas yang aku lewatkan dan bagaimana tegangnya kelas saat mendengar kabar aku pingsan. Aku tersenyum. Walau memang aku agak kecewa melewatkan hari ini hanya dengan tinggal di rumah, setidaknya aku tahu bahwa ada yang mengkhawatirkanku. Walau ada seorang yang sebenarnya aku tidak ingin dikhawatirkan olehnya. 'PENDEK.' Aku mengerutkan wajahku begitu mengingat wajahnya.

"Sudah sampai," kata Yaya. Apa sejengkel inikah aku sampai di depan rumah sendiri tak sadar? "Makasih yah, Yaya." Aku menunduk hormat.

"Tak apa. Kita kan teman, bukankah itu gunanya teman?" Aku tersenyum. Gadis di depanku hanya mengenal pertemanan dan sahabat. Sangat jarang diungkitnya tentang masalah asmara. Jika memang dia melakukannya, palingan hanya untuk mengejekku. Dia tidak mengenal sakit hati. Aku iri.

Dia melambaikan tangannya. Aku membalasnya. Lalu aku masuk ke rumahku dan menjelaskan kenapa aku pulang cepat pada nenekku. Nenekku awalnya memang langsung kaget, tapi akhirnya bisa tenang dan menyuruhku istirahat, tepat seperti apa yang perawat tadi perintahkan.

s.t.a.l.k.e.r

Aku meremas selimutku. Salah satu kebiasaan burukku jika emosiku meluap-luap adalah meremas apapun yang ada di sekitarku, bahkan pergelangan tanganku sendiri. Getaran aneh itu mulai muncul lagi. Mulai dari jantung hingga ujung kakiku. Aku kadang-kadang terganggu olehnya, tapi suka juga dengan getaran tersebut. Memabukkan. Layaknya orang itu. Kak Fajar.

Aku membuka halaman novel favoritku. Sudah berkali-kali aku membaca, menghafal segala detail-detail terkecil dari novel itu, tapi aku masih tetap setia membacanya. Yaya bilang aku begitu karena aku tak mau mengeluarkan uang untuk membeli yang baru, sebenarnya itu alasanku yang lain.

Tokoh utama dalam novelku adalah orang yang optimis, selalu bersemangat mengejar apa yang diimpikannya. Maka dari itu, aku ingin seperti dia. Dalam memberitahukan perasaanku pada Kak Fajar. Suatu hari nanti.

Scene dalam novelku memanas. Adegan romansanya semakin kental. Getaran itu datang lebih hebat lagi. Aku sudah memikirkan bahwa aku adalah tokoh utamanya dan Kak Fajar adalah lawan mainnya. Kesadaran sudah ada di awan, dunia nyata entah hilang ke mana.

Samar-samar aku mendengar ketukan di pintu depan. "Nenek yang bukakan," Nenekku berseru dari luar kamar.

Aku kembali fokus pada bacaanku. Aku terganggu lagi pada saat nenekku kembali berseru, "Ying! Ada tamu untukku namanya Fang." Aku rasa aku merobek halaman novelku. Aku segera menyibakkan selimutku dan bersembunyi di dalamnya.

Aku mendengar nenekku mempersilahkan Fang masuk. Fang mengetuk pintu kamarku, tapi kubiarkan. Nenekku memanggil namaku, aku tak mengindahkannya. Akhirnya Nenekku membukakan pintu. Fang masuk dan segera menutup pintu.

"Apa maumu, hah?" aku bertanya padanya, masih meringkuk bak kucing disiram air dingin di dalam selimut.

"Aku disuruh Yaya untuk membawakanmu ini. Buah-buahan, tak pantas untukmu." Aku mengintip dari balik selimutku. Kantong kresek hitam terdapat di meja belajarku. Dan satu lagi kantongan di tangannya.

"Ya, makasih," jawabku pendek. Aku benar-benar ingin anak ini keluar dari kamarku. "Kenapa Yaya menyuruhmu?"

Dia mengangkat pundaknya. "Ntahlah. Dia bilang karena aku mengganggumu kemarin." Suaranya menjadi mengerikan, membuat anak-anak di bawah usia 13 tahun tidak akan tidur selama berhari-hari.

"M-Maaf… Kau menyudutkanku," aku beralasan. Aku bersyukur bersembunyi darinya. Entah bagaimana nasibku bila bertatapan dengan matanya yang pasti sedang mengilat-ngilat.

Dia mendengus. "Kalau mau minta maaf yang sungguh-sungguh, keluar dari selimutmu," perintahnya. "Aku tidak akan menyakitimu lagi." Bulu kudukku merinding.

"Jangan memaksaku, Nona," ucapnya sinis. "Kau yang membuatku melakukan ini," lanjutnya. Dan dengan segala kekuatan yang dia punya, dia menarik selimutmu dan aku tidak punya kesempatan untuk menariknya kembali.

Aku terduduk pada kasurku. "Apa maumu?" tanyaku kasar.

Dia tersenyum. "Permintaan maaf dari Sang Putri." Nada suaranya benar-benar menjengkelkan.

Aku memutar kedua bola mataku. "O.K, jika itu kemauanmu." Aku berdiri, dan menunduk bak seorang pelayan di depannya. "Aku meminta maaf atas kesalahanku, Tuan."

Aku melihat dia mengangguk-anggukan kepalanya. "Walau kau bermain-main meminta maaf padaku, tapi kuterima. Gadis kepala sepertimu memang tidak akan pernah meminta maaf."

Jika saja membunuh itu tidak dilarang oleh agama maupun pemerintahan, bocah ini sudah lama mati dengan cara yang mengenaskan.

"Kurasa kau masih berutang sesuatu padaku." Dia menatapku intens. Jika tatapan membunuh, maka aku sisa nama saja.

"Apa? Aku berutang apa padamu? Mustahil." Dia terkekeh. Aku teringat hal kemarin, berusaha mengesampingkan seluruh wajah Kak Fajar. Dan aku teringat satu hal. Dia bersiul, mungkin dia menangkap pergantian ekspresi wajahku. "Kau mengingatnya."

"Kenapa kau berbohong waktu itu?"

"Apa kau mau aku mengatakan fakta yang sesungguhnya bahwa kau." Dia meninggikan dagunya, menatapku tak berkedip. "Sedang menguntitnya. Kau mau aku mengatakan itu?" Aku terdiam. Dia kembali terkekeh lalu melemparkan kantongan hitam lainnya padaku. "Apa ini? Permintaan maaf?" aku membuka kantongan itu, dan menemukan kotak hitam kecil. Aku benar-benar terkejut dengan apa yang ada di dalamnya. Lensa kamera baru untuk objek jauh. Lensa yang sudah lama kuimpi-impikan demi mendapat foto Kak Fajar yang lebih jelas. "A-Aku―"

"Sama-sama. Lagi pula itu sudah lama tak digunakan di studio. Kau bisa menganggapnya sebagai permintaan maaf, tapi aku lebih suka mengatakan bahwa itu sebuah hadiah belasungkawa."

Aku mengernyit. "Kenapa?"

Dia tersenyum meremehkan. Dan aku selalu benci senyuman itu. "Karena aku melihat Fajar-mu berkencan dengan seorang gadis."

.

.

.

to be continued .

A/N :

Akhirnya selesai juga. Untuk Delia Angela, ini saya dah lanjutkan. Untuk Black Orca, terima kasih. Saya bersungguh-sungguh loh, dan di chapter ini saya menjelaskan kenapa Fang berbohong. Untuk Cellina Sheilla, baca aja sampai habis, hehehe. Untuk beberapa readers, review kalian… Saya tak berkomentar deh, intinya saja berterima kasih untuk dorongan kalian. Walau lebih pendek dari chapter 1, yang penting sudah mulai muncul konflik, sedikit sih. Saya sangat berterima kasih pada siapapun, dan itu maksudnya SIAPAPUN yang sudah membaca ff ini. Baik itu yang mau memberi Review, ataupun Silent Rider. Dan mudah-mudahan chapter selanjutnya jadi lebih panjang dari pada ini. Masalah yang akan dihadapi saya untuk chapter 3 antara lain : UAS, tega, sumpah tega sekali guru-guru saya. Lalu, internet kota saya yang begitu, begitu, BEGITU cepat. Dan tentu saja, virus hiatus. O.K, segini dulu cincong saja. One more time, could you give me some Review? Even the short one?

b.o.n.u.s.

"YAYA, KELAS XI A, MENGHADAP KE RUANG UKS. SEKALI LAGI, YAYA, KELAS XI A, MENGHADAP KE RUANG UKS. TERIMA KASIH." Suara guru dari pengeras suara di kelas menggelegar. Raut wajah khawatir seluruh anak tampak. Yaya segera berdiri dari bangkunya. Wajahnya sama khawatir dengan teman-teman di sekitarnya. Kemudian dia berseru ke pada mereka semua, "Aku akan pergi sebentar. Kalian tenang-tenang saja. Kalau tidak." Yaya mengeluarkan bulpen domba yang sama pada saat dia kelas V. Yaya tak perlu melanjutkan perkataannya. Seluruh kelas sudah tahu apa yang akan terjadi pada mereka kalau mereka macam-macam. "Baiklah. Jaga diri kalian baik-baik." Yaya melangkah keluar.

Seorang anak dari kelas itu mengintip ke luar. Dia merasa bahwa Yaya sudah cukup jauh dari kelas mereka. "AMAN!" serunya bahagia. Dan seluruh kelas kembali ricuh. Ada yang tiba-tiba mengeluarkan tape recorder dari tasnya, dan memutar lagu 'Aduh Pusing Pala Barbie.' Author sendiri tidak tahu bagaimana sejarahnya lagu dangdut negaranya bisa kesasar ke Negeri Jiran.

Lain hal dengan BoBoiBoy, Gopal dan Fang. Fang hanya mendengus karena keributan yang dibuat teman-temannya. Dan kembali memandangi awan di langit di atas. Gopal? Dia sudah membuka seragamnya dan menari Harlem Shake. Jangan ditanya bagaimana jijiknya Fang saat melihat hal itu. Lain lagi dengan BoBoiBoy. Dia malah menari Gangnam Style. Sekarang mari kita luruskan. Lagunya 'Aduh Pusing Pala Barbie', ada yang nari Harlem Shake dan Gangnam Style. Kelas ini benar-benar edan saat pengawasnya pergi.

"Apa yang kalian lakukan, hah?!" suara khas bapak-bapak yang kalem menghentikan seluruh aktivitas gila mereka. Tatapan mata tajam dan kumis hitam lebat yang melambai-lambai membuat mereka diam.

"A-Anu, pak―"

"Apanya?! Ngomong yang jelas toh!" sembur bapak itu. Anak-anak semakin ketakutan. "Kalian tahu apa salah kalian?" Suasana kelas semakin mencekam. Semuanya menunduk ke bawah dengan was-was. Was-was diterkam oleh kumisnya.

"Kalian tidak ajak bapak." Semua, SEMUA orang di dalam kelas cengo. Pak Guru itu malah menekan tombol pada tape recorder milik ntah siapa itu, dan menggoyangkan badannya. "Tariiik, bang!"

Murid-murid yang awalnya kaget, galau, dan muntaber (Hah?) kembali berpesta dengan gaya masing-masing. Fang satu-satunya orang waras di situ dan dia mengutuk Ying, kenapa anak itu bisa pingsan.