Stalker

Chapter 3 : Who is she?!

"Kau tidak bisa mengalahkanku." Suara cempreng gadis berusia delapan tahun menyadarkanku dari lamunan saat berdiri melihat hasil ulangan di depan kelas. "Aku bisa. Dan kau akan lihat saja," aku membalasnya. Gadis berkerudung merah jambu itu malah menjulurkan lidahnya padaku. "Anak aneh! Anak aneh!" ejeknya. Kedua pipiku memerah karena marah. "Kau sendiri? Galak kayak singa!" Gadis itu malah melotot padaku. Dan terjadi pertengkaran kecil kami seperti biasanya.

Aku benar-benar mengingat kenangan antara aku dan sahabat sekaligus sainganku ―Yaya. Ah, aku tidak pernah menyangka bahwa dia menjadi sahabatku. Orang pernah berkata bahwa musuhmu adalah orang yang paling mengenal engkau kan? Aku benar-benar ingin berteman pada siapa saja. Walau dia sainganku. Dalam apapun.

BoBoiBoy © Animonsta

Warning :

OOC, OC, AU, bahasa yang kurang dimengerti, humor garing, alur kecepatan, plot yang kurang dimengerti, typo (s)

[Alice]

Tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfic ini. Hanya kesenangan dan menuangkan ide yang menumpuk di otak. Author sangat meminta maaf jika ide sama.

.

Happy Reading

"Ying! Apa jawaban dari soal nomor 4?" Aku tersentak dari lamunanku. Guru di depan kelas menatapku. Aku mendelik. Guru memang menyeramkan.

"Psst, A. Jawabannya A," Yaya berbisik padaku. Aku menjawab guru di depanku, "Pilihan A, Pak!"

Guru itu hanya menggangguk puas. "Bagus, Ying. Tapi, lain kali jangan melamun lagi."

Aku menghembus nafas kesal. Pikiran sudah kacau sejak kemarin sore. Makan tak berselera, tidur tak nyenyak, BAB tak lancar… Er, lupakan kalimat terakhir.

Aku tahu, Fang memang pembohong kelas kakap, tapi kemarin… Tidak, dia tidak berbohong. Dia cuman menyebalkan, dalam segalanya.

s.t.a.l.k.e.r

Bahkan setelah menyelesaikan seluruh KBM, aku tetap merasa gelisah. Aku rasa kantong mataku punya kantong mata. Dan sepertinya mulai besok aku harus mencuri tongkat Nenekku untuk berjalan ke sekolah. Beli? Mahal.

"Ying awas!" Yaya berteriak. Aku menoleh tidak semangat ke arahnya. "Kenapa―?" Aku jatuh. Dengan cara yang paling tidak elit. Dijatuhkan oleh kulit pisang. Yaya, Gopal dan BoBoiBoy segera berlari ke arahku. "Kau tak apa-apa?" Gopal bertanya. Aku segera bangkit dan merapikan rokku. "Tidak, aku hanya tidak melihat kulit pisang itu."

"Dia tidak apa-apa, percayalah. Kepalanya lebih keras dari pada adamantium. Yang harusnya kau khawatirkan adalah trotoarnya," Fang berkomentar, tapi tidak ada yang mendengarkan.

"Ying, jika ada masalah, kau bisa menceritakannya pada kami." BoBoiBoy tersenyum hangat. Kadang-kadang dia memang bisa berperan sebagai kakak laki-laki yang tidak pernah kupunya.

Aku mengingat perkataan Fang kemarin. 'Karena aku melihat Fajar-mu berkencan dengan seorang gadis.' Aku rasa air mataku mulai mendidih.

"Ying?" Yaya memanggilku. "Apa masalahnya berkaitan dengan Kak Fajar?"

Gopal dan BoBoiBoy terbelalak. "APA?! MAKSUDMU FAJAR? KETUA OSIS KITA?" Yaya mengangguk. "Bisakah kalian tidak berteriak? Berisik."

Mereka berusaha menutup mulut mereka masing-masing. Tapi tampak jelas bahwa mereka tidak percaya, kaget dan shock mengetahui fakta ini. Gopal melihat Fang. "Kau tahu tentang hal ini?" Fang mengangguk. Gopal bertukar pandang dengan BoBoiBoy. "Kenapa kau bisa tahu dan kami tidak? Apa kau seorang penggosip juga?" Gopal segera menutup mulutnya setelah dilototi oleh mata hitam Fang.

"Aku lebih pintar dari kalian berdua. Dan sangat gampang menyimpulkan seluruh gerak-gerik Nn. Ying tentang perasaannya. Hanya orang bodoh saja yang tidak menyadarinya." Aku merasa tersinggung.

"Terus, apa itu masalahmu, Anak Kota?" Yaya menarik pundakku. Menasihatiku untuk sabar.

Fang hanya terkekeh. "Tidak, tapi memang itulah kenyataannya. Mulailah belajar menerima bahwa hidup itu pahit." Dia lalu berbalik dan mulai berjalan.

Sungguh, apa anak itu harus terus bertingkah seperti itu? Aku benar-benar muak. Dia yang memberitahukan tentang k-kencan Kak Fajar, lalu membuat moodku satu minggu ini jelek. Kenapa juga dia masih berada di sekitarku? Benar-benar brengsek.

BoBoiBoy memanggilnya, "Fang! Apa kau tidak mau membantu Ying?" Aku melotot pada BoBoiBoy. "Untuk apa dia membantuku? Dia hanya hama."

Fang berbalik, ekspresi wajahnya tenang. "Aku sebenarnya mempunyai rasa kasihan padamu, Ying, dan bersedia untuk membantu. Tapi, karena kau berkata seperti itu, maka aku rasa aku lebih baik mengerjakan tugasku. Selamat tinggal."

Setelah setan itu tak terlihat lagi, aku bertanya, walau masih jengkel dengan perlakuannya, "Jadi, apa yang kalian lakukan untuk membantuku?"

Yaya berpikir. "Bagaimana kalau kita melakukan apa yang biasa kau lakukan?"

"Apa yang biasa Ying lakukan? Bernafas?" Aku memukul kepala Gopal. Anak itu hanya mengaduh. "Menguntit," aku mengkoreksi.

"Baiklah! Ayo kita mulai kegiatan kita mulai besok!" BoBoiBoy berseru sambil meninju-ninjukan tangannya ke udara. Kami tertawa dengan aksi kekanak-kanakkannya. Yah, rahasiaku memang terbongkar. Setidaknya mereka mau menolongku. Aku rasa mungkin pelangi akan bersinar.

s.t.a.l.k.e.r

"Target terlihat, diulangi target terlihat." Aku mendengar suara Gopal dari walkie talkie-ku. Kami sedang menguntitnya, siapa lagi kalau bukan Kak Fajar, seperti yang telah disepakati kemarin.

Yaya bertukar pandangan denganku. Aku dan Yaya berada di antara pepohonan di sekitar gedung olahraga. Sedangkan Gopal dan BoBoiBoy berada di antara semak-semak sekitar gerbang sekolah.

Aku memakai teropong yang tergantung di leherku. Kak Fajar berjalan seperti biasa sambil bercakap-cakap dengan teman di sebelahnya. Tidak ada yang mencurigakan, tidak ada pula gadis di sekitarnya. Yang ada hanya beberapa fansgirl yang berteriak 'Nikahi aku!' atau 'Punya anak denganku!', tapi hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari Kak Fajar. Kak Fajar hanya tersenyum lembut ke arah mereka, dan mereka berteriak histeris. Aku tak cemburu. Fansgirl harus diberi fanservice kan? Lagi pula, Kak Fajar tidak menganggap mereka lebih dari sekumpulan gadis yang menggilakannya. Aku berpikir seperti itu tanpa menyadari aku salah satu dari mereka.

Bel pelajaran pertama berbunyi. Gadis-gadis itu berlarian masuk ke kelas mereka. Yaya mengambil walkie talkie-nya. "BoBoiBoy, Gopal. Kita hentikan misi hari ini. Ayo kita masuk." Kami keluar dari tempat persembunyian masing-masing dan segera memasuki kelas.

s.t.a.l.k.e.r

Aku mendesah keras karena frustasi. Sudah tiga hari kami membuntutinya, menguntitnya dan beberapa istilah Stalker yang lain, tapi kami tidak mendapat hasil apa-apa. Wajah ketiga temanku sama masamnya. Gopal melorot di kursinya. "Sudah tiga hari. Apa yang akan kau lakukan jika memang gadis itu ada, Ying?"

Semua mata menatapku. Untungnya, semua orang yang tak berkepentingan dengan hal ini sudah pulang, dan Yaya telah mengunci pintu kelas. Sebagai ketua kelas, dia menggunakan kekuasaannya dengan baik.

"Entahlah… Mungkin aku akan menamparnya." Yaya menatapku tak percaya. "Sungguh? Kau berani melakukan itu? Maksudku, ini Kak Fajar. Dia tidak mungkin memilih salah satu dari fansgirl-nya untuk dikencani."

Perkataan Yaya malah membuatku semakin tersadar. BoBoiBoy memberikan tatapannya pada Yaya. Yaya tersadar. "Maaf. Aku tak bermaksud membuatmu sedih," ucapnya lirih. Aku menggeleng. "Tidak apa-apa. Kau malah menyadarku. Kita hentikan saja ini."

Yaya semakin merasa bersalah. Aku memandang matanya lurus, berusaha tersenyum tulus, walau air mataku sudah mendidih. "Sebagai gantinya, aku akan mentraktir kalian di café favoritku. Aku yang harusnya malu. Menyibukkan kalian dengan masalahku. Maafkan aku." Aku membenamkan jari-jariku pada telapak tangan. Aku tak akan menangis.

Yaya bangkit berdiri. "Baiklah. Kau juga harus bersantai Ying. Aku yang membayar makananku. Kau traktir saja mereka." Aku tersenyum. "Tentu."

Kami mengambil tas kami masing-masing, lalu merapikan bangku kami. Yaya memanggil kami supaya keluar dari ruangan kelas. "Ayo! Semakin lama kalian di dalam semakin kasihan Ying!"

Gopal menggerengku. Dan kami berempat keluar dari halaman sekolah.

Sepanjang jalan menuju café, teman-temanku berusaha menghiburku. Yaya memberitahukan lagu-lagu baru yang dirilis, BoBoiBoy memberikan referensi tentang novel-novel petualangan, sepertinya dia tahu untuk tidak membahas sesuatu yang bersifat romantis. Gopal memberitahukanku tentang laba-laba itu bukan serangga, dan aku telah mengetahui itu sejak permulaan zaman. Aku tahu mereka berusaha mengalihkan perhatianku dari Kak Fajar, dan walau hanya berefek kecil, aku terharu. Setidaknya aku memiliki teman.

"Kita sudah sampai." Gopal dan BoBoiBoy terkagum-kagum, sepertinya mereka tidak pernah ke café sebelumnya.

"Kau sering ke sini Ying?" BoBoiBoy bertanya. Aku tersenyum sedih. "Di sinilah aku mengintai Kak Fajar." Yaya menatap BoBoiBoy marah. BoBoiBoy yang gelagapan segera meminta maaf. Aku memaafkannya, walau dia tidak melakukan kesalahan.

"Kalian pesanlah dulu. Aku mau ke balkon," aku berkata pada mereka. Lalu segera naik ke balkon itu. Tempat itu adalah saksi bisu perjuanganku.

Angin sepoi-sepoi membuat rambut hitamku melambai-lambai. Aku menuju meja yang sering aku tempati. Langkah demi langkah, dan semua memori tentangnya teringat. Bagaimana dia menyelamatkanku dari temannya, melindungiku dari setan jahanam itu ―Fang―, membawaku ke ruang UKS, dan banyak hal lagi yang tak dapat kusebutkan.

Sesuatu yang panas mengalir di pipiku. Teman-temannya yang lain mengikutinya. Aku terduduk pada bangku meja itu. Aku sangat bersyukur tidak ada orang lain selain aku di balkon itu. Aku menggeleng-geleng kuat. Fang pasti berbohong, Fang pasti berbohong! Senyum liciknya kembali tertanam di benakku. Bocah itu… Bocah itu mimpi buruk!

Pandanganku semakin mengabur. Dan ingus mulai mengalir dari hidungku, aku menyekanya menggunakan telapak tanganku dengar kasar. Aku akui, aku bukan tipe perempuan manis. Aku adalah aku.

Pandanganku lurus menuju café seberang. Café langganan Kak Fajar. Café itu menyediakan meja dan kursi untuk luar ruangan. Kak Fajar lebih suka di luar ruangan dari pada di dalam. Aku kembali terisak, detail-detail kecil tentangnya kembali memenuhi benakku.

Aku melihat seorang gadis cantik keluar dari pintu café tersebut. Membawa sepiring kecil Fruit Cake. Dan mataku membulat dengan sempurna saat melihat siapa yang keluar berikutnya. Kak Fajar. Dan dia duduk berseberangan dengan gadis itu, di satu meja yang sama.

Tanpa pikir panjang dan akal sehat, aku berlari keluar dari café, tidak memperdulikan teriakan yang berasal dari Yaya dan suara klakson dari kendaraan yang hampir menyerempetku. Pikiranku hanya satu, Kak Fajar.

Aku terengah-engah saat di depannya. Kak Fajar dan gadis itu kaget melihatku. Kak Fajar bangkit dari kursinya, terkejut. "Ying! Apa yang terjadi? Kenapa kau terengah-engah?" Aku memandangnya. Wajah khawatirnya saat menawan, aku jarang sekali melihat ekspresi ini. Tiba-tiba lamunanku terpotong. "Siapa ini, Fajar?" Gadis itu bertanya.

Terjadi keheningan aneh dan panjang. Gadis itu. Aku tak pernah melihatnya di sekolah. Gadis itu cantik, rambut hitamnya panjang sepinggang dan diikat setengah. Matanya berwarna cokelat terang, pria akan terperangkap dalam pesonanya. Lekuk tubuhnya juga sempurna, bagaikan dewi. Dan… Dia lebih tinggi dariku. Aku menelan ludah. Gadis di depanku benar-benar sesuai untuk Kak Fajar.

"I-Ini…" Kak Fajar berusaha berbicara. Sesuatu terlintas di pikiran gadis itu, dan dia menepuk kedua tangannya. "Ah! Ini Ying kan? Fajar sering bercerita tentangmu," katanya dengan nada riang.

Aku membatu. Tunggu… Apa?

Gadis itu tertawa dengan anggun. "Maaf, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Bintang, sepupunya Fajar." Gadis itu menjulurkan tangannya, senyum ramah menghias wajah cantiknya. Aku memandang tangannya. Bagaikan mimpi, gadis di depanku bukan pacar atau embel-embel lain dari Kak Fajar. Mereka hanya sepupu! Sepupu!

"Ying?" Bintang menatapku. Kak Fajar juga. Aku tersadar. Lalu menggenggam tangannya dengan mantap. Pelangi telah bersinar. "I-Iya! Aku Ying, salam kenal." Aku mengembangkan senyum tulus. Senyum yang telah lama hilang selama satu minggu belakangan ini.

"Ying, seperti yang sudah Bintang bilang tadi, dia sepupuku. Dia dari luar kota. Dia lagi berkunjung ke kota kita," Kak Fajar menjelaskan padaku. Aku hanya mengangguk.

Tiba-tiba Bintang mencubit pipiku dengan gemas. "Ah! Kamu imut sekali! Padahal sudah kelas XI SMA. Pantas saja Fajar sering membicarakanmu."

"Bintang…" Kak Fajar menggeram. Bintang hanya terkikik manis. Bebanku terasa semakin menghilang.

Bintang melepaskan cubitannya, dan aku sangat bersyukur. "Habisnya, sudah lama aku tidak mencubit pipi orang. Kau tahu kan, cuman dia saja yang biasa kucubit. Jadi, jangan ganggu aku," kata Bintang. Kak Fajar memutar kedua bola matanya.

Terdengar sesuatu yang tidak asing nan cempreng berasal dari belakangku. "Ying! Apa yang kau lakukan?! Kau tahu, kau terus membuat kami khawatir―" omelan Yaya terpotong ketika melihatku meringis sedangkan Kak Fajar dan Bintang hanya tersenyum kecil.

Oh, Yaya. Kau membuatku mau mati saja.

"K-Kak Fajar?" Yaya menunjuk Kak Fajar dengan ekspresi horor. Jari telunjuknya bergetar hebat. Mungkin, dia mengira Kak Fajar telah menangkap basah kami. Tentu, anak ini tidak dapat hidup jika dia adalah aku beberapa hari yang lalu. Ya, kau tahu maksudku kan? Iya. Fang.

Aku segera menggandeng tangan sahabat karibku, dan menyeretnya kembali ke café. "Maaf! Membuat kalian bingung. Kami pergi dulu!" Aku melambaikan tanganku. Mereka berdua membalasnya.

Yaya yang geger akibat beberapa kejadian yang baru saja dilihatnya masih shock. Aku tersenyum. Tak apalah, aku akan menjelaskan padanya tentang hal ini dengan senang hati. Aku tak sabar melihat wajah Fang besok saat aku memberitahu bahwa dia salah dan aku benar! Karena wanita tak pernah salah!

s.t.a.l.k.e.r

Aku bersenandung kecil. Moodku bagaikan siswa SMP yang baru selesai UAS. Sinar matahari pagi, bunga-bunga yang bermekaran, tetes embun pagi dan kicauan burung bagaikan membuat suasana hatiku menjadi semakin sempurna. Ah, perfect day. Tidak ada apapun yang akan merusak moodku, bahkan setan tak berotak berwujud manusia yang pelit itu tak akan mampu melakukannya.

Aku mendobrak pintu kelas tak bersalah dan mengucap selamat pagi pada teman-temanku, "Pagi kawan-kawanku! Hari ini sangat indah yah!"

Beberapa orang memang kaget, dan Iwan pingsan seketika, yang lainnya membalas sapaanku. Aku segera duduk di kursiku, dan senyumku masih tak pudar.

Aku merasa aura kekelaman berasal dari pintu. Aku tak percaya sumber aura yang bertolak belakangan dengan auraku.

Yaya melangkah tak bersemangat dan pada saat dia duduk, dia tidak setegap biasanya. "Apa yang terjadi, Yaya?" aku bertanya.

Dia menggeleng-geleng kepalanya. "Tidak, aku hanya sedikit stres." Aku mengernyitkan alisku. Sahabatku, Yaya, tidak pernah mengenal kata stres. Yang ada, orang stres karenanya.

Aku kembali bertanya, "Akan apa?" Yaya menyerahkan selembar poster padaku. Aku membacanya, tak ada yang aneh. "Ini apa, Yaya?"

Sekarang, malah giliran Yaya yang mengernyitkan alisnya. "Kau tak tahu hal ini?" Aku menggeleng polos. "Aku kena flu tahun lalu." Dia menghela nafas. "Akan ada festival di sekolah kita."

Satu kelas yang mendengar, salah, menguping hal ini menarik nafas dengan dramatis. Aku yang semakin bingung kembali bertanya, "Memangnya kenapa? Bukannya itu hal yang bagus?"

Seluruh orang di ruangan menatapku. Aku mendelik. Mereka sama menyeramkan dengan guru, tapi guru jauh di atas mereka. "Yaya, beritahu dia," perintah Gopal.

Yaya mengurut keningnya. "Kita yang mengadakan festival itu, Ying." Aku bingung. Yaya sepertinya menangkap ekspresiku. "Kita yang membuat festival itu terjadi. Kita buat stand, makanan, wahana bermain. Kau tahu seberapa sibuknya itu?" Dia menjawab pertanyaannya sendiri, "Sangat sibuk."

Sekarang aku tahu, mengapa Yaya sangat stres dan wajah teman-temanku semakin busuk setelah mendengar hal ini. Moodku, kuharap, kau masih baik-baik saja selama beberapa minggu ini!

.

.

.

to be continued .

A/N :

Akhirnya update juga yah! Yah, beginilah nasib anak sekolah. UAS belum selesai, malah update ff. Mau gimana lagi? Saya sudah diancam sama teman sekelas saya sih. Ancamannya tidak terlalu mengerikan, tapi orang yang mengancamlah yang mengerikan. Untuk Guest, diusahakan. Karena UAS belum selesai dan karena UAS, virus WB saya bangkit. Untuk lampion malam, terima kasih sudah mau baca ff ini. Iya, bagian itu juga bikin saya deg-degkan, padahal ff sendiri… Untuk Michelle549, diusahakan, tolong didoain juga kalau bisa. Untuk Yoisuka-chan, ga lihat ya? Padahal menurut saya banyak. Untuk Crystal17, macam kau tinggi kah, orang ini temanku. Untuk Vina, terima kasih. Padahal ide bonusnya itu-itu saja. O.K, sekian bacot saya. Last word, Review?

b.o.n.u.s.

"Appa, appa tahu tidak?" tanya Gopal pada ayahnya.

Ayahnya menjawab, tapi tidak mengalihkan perhatiannya dari bacaannya, "Tidak."

Gopal cemberut. Walau sudah menghabiskan uang jajan Ying selama satu bulan bersama BoBoiBoy dan perut sudah penuh dengan berbagai macam makanan yang manis-manis, moodnya akan turun jika dia tidak dipedulikan. Apalagi dari orang tua sendiri.

Ayahnya hanya tertawa atas kelakukan anak sulungnya, "Iya, appa beneran tidak tahu. Memangnya kenapa?"

"Laba-laba bukan serangga! Tapi dia itu Arachnida!" seru Gopal semangat. Kadang, kita harus mempertimbangkan membawa anak ini ke Psikiater. Kenapa? Karena perubahan emosinya sangat labil, dan itu menakutkan.

Tak ada respon dari ayah tercinta. "Appa?" panggil Gopal. "Appa!"

"Ah! Iya, kenapa?" Akhirnya sang ayah merespon. Gopal memperhatikan tingkah laku ayahnya. Wajahnya pucat, dan keringat dingin mengucur dari tubuhnya.

"Appa takut laba-laba?"

Ayah anak itu menatap anaknya dengan horor. "Tidak. Appamu ini pria terjantan di Pula Rintis! Masa' takut dengan serangga itu?"

"Appa, tadi kan sudah dibilang. Laba-laba itu bukan serangga." Ayahnya hanya menyengir. "Appa lupa. Maklum usia."

Anak itu hanya mengangguk-angguk. "Baiklah, kalau begitu, perkenalkan! Ini Tn. Ara! Ini peliharaan baru kita!" Gopal mendekatkan seekor laba-laba besar kepada ayahnya. Laba-laba itu mengangkat kedua kaki depannya, seperti pose saat menyerang mangsa. Dan tentu saja, ayah anak itu pingsan.

Sekarang, Gopal mengetahui rahasia terdalam ayahnya selain penyuka game. Ayahnya mengidap Arachnophobia.