Stalker

Chapter 4 : Festival is Coming!

Aku selalu menyukai keramaian. Keramaian yang menyenangkan, bukan keramaian yang merugikan. Aku paling tidak suka dengan tawuran, apalagi kalau tidak ada yang ajak. Ajak membubarkan, maksudnya. Yaya menarik-narik tanganku.

Biar kuulangi lagi. Aku memang menyukai keramaian, tapi, sangat membenci berdesak-desakan.

"Yaya! Jangan tarik-tarik! Udara di sini sudah pengap, tahu," aku berkata jengkel. Yaya berhenti. Sialnya, dia berhenti di tengah-tengah lautan manusia.

"Tapi kalau tidak begitu, antrian arena-arena bermain akan semakin panjang," Yaya beralasan. Aku menghela nafas. Anak ini benar.

"Biarkan saja dia, Yaya. Dia takut naik Roller Coaster." Aku menatap marah ke pemilik suara. Yang ditatap malah cuek-cuek saja. "Sudah kalian berdua. Bukankah kalian sudah membayar tiket masuk? Kalian mau uang kalian terbuang sia-sia?" tanya BoBoiBoy. Kami akhirnya tersadar. BoBoiBoy memang pandai. Dia menggunakan barang sakti untuk meleraikan kami. Uang.

"BoBoiBoy," panggil Gopal.

"Apa?"

Sebelum dia menjawab, Gopal telah megeluarkan jurus andalan anak-anak sedunia, Puppy eyes. "Bisa belikan aku arum manis?"

Kami berempat hanya memutar bola mata kami. Pasar malam, kau tidak akan kudatangi lagi. Apalagi jika aku harus pergi dengan keempat orang aneh ini. Lebih baik, kau tidak usah datang ke sini lagi, ke Pulau Rintis lagi, wahai, Pasar malam.

BoBoiBoy © Animonsta

Warning :

OOC, OC, AU, bahasa yang kurang dimengerti, humor garing, alur kecepatan, plot yang kurang dimengerti, typo (s)

[Alice]

Tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfic ini. Hanya kesenangan dan menuangkan ide yang menumpuk di otak. Author sangat meminta maaf jika ide sama.

.

Happy Reading

Aku mengambil tisu dari box-nya, lalu menyeka keringat di wajahku. Suara tegas Yaya sudah membuatku muak. Siapa yang paling menderita di sini? Aku! Aku yang paling menderita! Yaya menjadikanku budak pribadinya. Aku disuruh mencari katalog majalah perabotan, referensi tentang pengusaha-pengusaha sukses. Aku benar-benar bingung. Kami hanya mengadakan stand kecil di kelas kami, tapi Yaya menganggap ini adalah masalah antara hidup dan mati. Ah, bodohnya aku. Yaya seperti inilah Yaya sesungguhnya.

"Jadi, apa yang akan kita buat untuk festival tahun ini?" Yaya menanyai seluruh anggota kelas. Kami sedang rapat, Yaya menyepak kami dari kantin, tidak memperdulikan cacing-cacing di perut kami yang mulai meronta, dan menyeret kami ke kelas untuk berdiskusi masalah 'hidup dan mati.'

Tak ada jawaban. Pastinya, kami semua kelaparan, dan Gopal terlihat seperti ayam terlindas truk sampah. Festival masih satu bulan lagi, tapi semua orang melorot di kursinya masing-masing, mengutuk OSIS kenapa melakukan hal ini lagi. Yaya menunduk sebentar. Aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Aku tanya… APA YANG AKAN KITA BUAT UNTUK FESTIVAL TAHUN INI?!" Kami langsung duduk tegap di bangku masing-masing. "A-Anu, Yaya bagaimana dengan menjual aksesoris?" aku bertanya, berusaha mengurangi kemarahan Yaya.

Dia menyilangkan kedua tangannya. "Tidak. Kelas XI C sudah mengambil ide itu." Ada yang aneh. "Maaf, Yaya. Kau tahu dari informasi itu?" tanya BoBoiBoy, sepertinya dia juga merasakan sesuatu yang janggal. Yaya kembali menundukkan kepalanya, membuat kami tidak bisa melihat matanya. "Itu… Anggap saja aku punya mata-mata untuk hal itu." Kami semua membuka mulut, tidak percaya. Sungguh, anak ini terlalu berlebihan. Ini hanya stand untuk bersenang-senang, dan anak ini melakukannya bagaikan misi negara yang menyangkut seluruh jiwa umat manusia.

"Kalau café bisa?" tanya seorang anak. Yaya mengangkat kepalanya, mengangguk-angguk. Aku melirik anak tadi. Ada senyum bangga di wajahnya. Cih.

"Itu ide bagus. Tapi, menurut kalian apa temanya?"

"Lolita."

Semua orang menoleh ke arah Fang. "Apa? Aku hanya memberi usul. Yaya juga bertanya pada kalian. Tapi karena otak kalian memang kecil dan kurang akan ide, kalian tidak bisa menjawabnya kan?" Fang bertanya dengan nada sarkastis.

Aku mengerutkan wajahku, kesal. Dia betul.

Yaya menggeleng. "Tidak. Kita tidak bisa pakai ide itu. Terlalu mahal untuk busananya. Anggaran kita tidak cukup. Dan juga, karena Lolita, maka laki-laki tidak bisa jadi pelayan. Dan mereka juga tidak tahu masak." Aku tersenyum kemenangan pada Fang.

"Tapi, karena sudah ada gambaran tentang renda-renda di kepalaku, maka tema kita adalah Maid Café!" Yaya bertepuk tangan kegirangan. Anak-anak yang lain yang sebenarnya tidak tahu apa yang sedang terjadi juga bertepuk tangan. Fang tersenyum meremehkan ke arahku. Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa selain membenamkan jari-jariku.

Yaya mengambil catatannya. "Oh, ada yang aku lupakan. OSIS menambahkan sesuatu yang menarik tahun ini." Kami kembali tenang. "OSIS mengadakan Kontes Raja dan Ratu Sekolah!" seru Yaya bersemangat. Para gadis ikut-ikutan berteriak histeris. Yang laki-laki hanya mengernyit, aku ikut dalam kelompok mereka. Apa untungnya?

"Dan kita disuruh mencalonkan satu orang siswa dan satu orang siswi. Jadi, siapa yang berminat?" sambung Yaya. Para gadis mengacungkan jari-jari lentik mereka, berharap terpilih. Mata Yaya menyusuri seluruh gadis. Dan kedua netra cokelat itu berhenti padaku. Bibirnya tersenyum, dan aku hanya bisa berharap aku baik-baik saja.

"Sudah kuputuskan! Calon Ratu adalah Ying!" Terdengar protesan beberapa gadis. Yaya melototi mereka, dan mereka diam. "Alasannya adalah: Ying kan tomboy. Jadi, kalau dirias jadi feminim kan pasti cantik banget. Orang-orang bakalan kaget." Aku terdiam, bingung mau setuju, karena aku dibilang cantik, atau marah, karena dibilang tomboy.

Gopal mengangkat tangannya. "Kalau calon Rajanya siapa?"

Iris Yaya kembali menyusuri kami. BoBoiBoy gelagapan saat mata Yaya menatapnya. "BoBoiBoy! Dia calon yang pantas!"

BoBoiBoy protes, "T-Tapi aku kan…" Yaya segera memotongnya, "Apa? Kau mau melawanku?" BoBoiBoy pasrah dan menggeleng. "Tidak…"

"Baiklah! Ini hasil rapat kita: stand kita adalah Maid Café. Calon Raja dan Ratu adalah BoBoiBoy dan Ying. Ada lagi yang ingin ditanyakan?" Hening. Yaya mengangguk puas. "Karena rapat kita sudah selesai, kalian sudah boleh bebas." Sorakan kebahagian, doa dan ungkapan syukur keluar dari mulut semua orang. Mereka melangkah keluar kelas dengan senyum bahagia bak habis memenangkan sebuah peperangan. Kantin, aku datang~, begitulah kira-kira isi suara hati mereka.

Sayangnya, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Suara bel masuk kelas berbunyi. Raut wajah mereka kembali membusuk. Kelaparan, Guru Killer yang akan masuk, dan masalah festival. Semua menjadi satu dan membuat semua orang menjadi zombie.

Aku menyeret Yaya, menjauhkannya dari kerumunan. "Apa maksudmu memilihku menjadi Ratu, hah?"

"Maksudmu 'Calon Ratu', Nyonya," Yaya mengoreksi perkataanku. Aku memutar bola mataku. "Itu tidak penting. Kau tahu kan aku paling tidak suka dirias."

"Mendekatlah. Ada sesuatu yang ingin kukatakan," perintah Yaya. Aku mendekat. Yaya membisikkan sesuatu padaku. Aku tersenyum kecut.

"Kau harusnya berterima kasih padaku, Ying. Tempatnya bergengsi loh," Yaya menggodaku. Aku menepuk pundaknya. "Ya, ya. Terserah kau." Gadis itu hanya tersenyum mengejek. Dasar.

s.t.a.l.k.e.r

"Ugh, aura apa ini?" tanya Gopal mengibas-ngibaskan tangannya. Aku hanya menghela nafas sambil menunjuk asal aura tersebut.

Yaya sedang menempelkan pipinya pada meja kelas. Aura buruk mengitarinya dan kadang, dia tertawa sendiri sambil menunjuk-nunjuk orang yang lewat. Mengerikan? Sangat.

Aku menghampirinya, menanyakan apa yang membuatnya semakin stres.

"Kostum untuk Raja dan Ratu! Aku belum tahu mau buat apa… Sedangkan festivalnya tinggal satu minggu lagi…"

Pantas saja. Kursi dan meja untuk stand kami sudah dipersiapkan. Malahan sudah disimpan di rumah Fang. Kenapa di rumah Fang? Rumahnya luas, dan dia tinggal sendiri. Bahan-bahan untuk makanan dan minuman sudah ada, disimpan di rumah Yaya. Buku-buku menu sudah dicetak. Furnitur-furnitur pelengkap seperti vas bunga, tirai-tirai katun dan lukisan-lukisan simpel sudah ada, banyak malah. Kostum untuk para Butler sudah tersedia. Perpaduan warnanya bagus. Sedangkan kostum untuk para Maid sudah ada sejak pertama kali ide café ditentukan. Siapa yang jahit? Yaya. Anak itu multitalenta.

Aura kelam Yaya semakin menyeruak. Membuat anak-anak yang lain tersudut di ruangan. Tolong kami!

Terlintas sesuatu di kepalaku. "Yaya, bagaimana kalau sore ini kita berdua ke Mall? Sekalian lihat mode-mode baju dan refreshing. Bagaimana?"

Yaya mendongakkan kepalanya, menatapku. "Itu ide bagus!" Yaya tersenyum. "Tidak ajak yang lain?" Aku mengernyit. "Maksudku calon Rajanya. Dia harus tahu apa yang akan dia pakai."

Aku mengibas-ngibaskan tanganku. "Tidak usah. Nanti saja baru mereka tahu. Supaya jadi kejutan. Iya kan?" Aku mengedipkan mataku dengan centil. Yaya mengangguk setuju.

Aku harus bersiap-siap. Celenganku akan kubongkar lagi deh.

s.t.a.l.k.e.r

Aku mengetuk pintu rumah Yaya. "Yaya! Yaya!" panggilku. Aku melirik jam tanganku. Masih setengah tiga.

Yaya membukakan pintu. "Oh, Ying. Ibu! Aku pergi dulu!" Yaya berteriak ke arah dapur. Terdengar balasan dari ibunya. Lalu dia menutup pintu dan menggandeng tanganku, kemudian pergi meninggalkan halaman rumahnya.

Kami hanya berjalan kaki. Cuaca juga tidak terik-terik amat. Lagipula, bukankah berjalan kaki lebih hemat energi? Dan uang tentunya. Kami cekikikan setiap kali menemukan hal yang unik. Mulai dari mengomentari pakaian orang-orang yang lewat, rumah-rumah asri nan apik yang dipenuhi dengan taman bunga yang belum tersentuh 4L4y-ers, hingga papan Billboard yang menampilkan iklan yang menurut kami aneh. Sangat aneh hingga aku terkesan dengan ide pembuat iklan itu.

Yaya segera menunjuk dengan liar berbagai macam toko setelah kami berada di dalam Mall. Mulai dari toko yang menyediakan aksesoris-aksesoris kecil seperti anting ataupun kalung, sampai kerudung dan hijab model terbaru. Matanya berbinar-binar menyaksikan ini semua.

Aku menahan bahunya. "Wow, wow, tenang Yaya, tenang! Ingat, anggaran kita." Yaya kembali tenang. "Aku sadar diri kok. Anggaran kita akan aman. Tapi,"―Dia mengeluarkan dompet pink-nya― "Uangku tidak!"

Kenapa ini? Kenapa Yaya sangat OOC? Di mana perginya Yaya yang bijak dan dewasa? Apa ini yang membedakan suku Melayu dengan Cina tentang uang? Entahlah, aku tak tahu. Tanyakanlah semua itu pada rumput yang bergoyang.

Aku hanya tersenyum lelah. Biarkanlah anak ini membeli apapun, sesuai dengan uangnya, toh, dia sedang stres.

Yaya sangat bersemangat, bahkan saat kakiku sudah pegal mengitari Mall, dan mungkin kalau aku membawa [meter-meteran ga jelas], jarak yang telah kami tempuh sudah melampaui jarak Bumi-Bulan pulang-balik.

Aku mencolekkan kentang gorengku pada saus tomat. Menatap Yaya yang kini sedang memakan frozen yogurt. "Apa kau tidak lelah?" tanyaku.

"Karena?" Dia sedikit berteriak, supaya suara manusia lain di waralaba ini dikalahkan olehnya.

"Kita sudah keluar masuk seluruh butik yang ada di Mall ini, bahkan tempat-tempat yang tidak ada hubungannya dengan kostum sudah kita masuki." Aku mengunyah kentangku.

Yaya menaikkan alisnya. "Seperti?" Dia bergidik. Mungkin ketakutan karena aku mataku menatapnya dengan horor.

"Game center, toko buku, pameran barang elektronik, toko senjata api, perlengkapan musik, peralatan memasak, PAKAIAN DALAM PRIA." Aku menekankan suaraku pada kalimat terakhir. Yaya menyengir. "Supaya dapat inspirasi!" dia beralibi.

"Inspirasi apa yang kau dapat di toko pakaian dalam pria? Tolong beritahu aku." Yaya membuka mulutnya, tapi dia tidak berkata apa-apa.

Aku memberi tatapan meremehkan. "Tentu saja." Aku meminum milk tea yang telah kupesan. "Tapi aku memang menemukan inspirasi! Tapi bukan di toko pakaian dalam pria…"

Aku berusaha menahan cairan dalam mulutku untuk tidak menyembur teman karibku. Aku menyeka ujung mulutku dengan tisu. "Apa?"

Yaya menahan nafas, menambahkan efek tegang untuk membuatku terpana, yang sama sekali tidak berefek padaku.

"Angel and Demon! Kau jadi malaikatnya dan BoBoiBoy jadi iblisnya!"

Aku benar-benar tersedak kali ini. Dan sepertinya efek tegang Yaya memang membuat terpana. Tapi sudah kukatakan, bukan aku.

"APA?!" suara berat yang sudah lama kukenal terdengar. Semua orang yang mendengar seruan itu menoleh. BoBoiBoy, Gopal… dan Fang. Aku memasang ekspresi yang sama setiap kali aku melihatnya: mengerutkan hidungku.

Ketiganya jadi salah tingkah, terutama BoBoiBoy. Mereka meminta maaf, walau ada seorang mereka yang tidak sungguh-sungguh.

Yaya segera menarik mereka bertiga ke meja kami. Menginterogasi ketiganya. "Apa yang kalian lakukan di sini? Ini hanya untuk aku dan Ying! Untuk perempuan!"

"Ying perempuan?"

Fang mengelus-elus kepalanya yang baru saja kupukul. "Apa salahku?" tanyanya. Aku menjawab enteng, "Banyak."

Yaya mengulang pertanyaan yang sama walau dengan nada yang sedikit berbeda, "Apa yang kalian lakukan di sini?"

Keringat dingin mengucur dari tubuh Gopal. Aku tak mengerti. Yang harusnya khawatir itu BoBoiBoy. Dia yang berteriak dan membuat aksi mereka ketahuan. Kenapa harus Gopal yang keringat dingin?

"A-Anu… A-A-Aku hanya ingin tahu apa yang akan aku kenakan…" suaranya semakin melemah. Puppy eyes BoBoiBoy berbeda dari yang lainnya. Mereka imut, menawan, dan berefek buruk bagi penderita diabetes. Dan merekalah yang sering menyelamatkan BoBoiBoy dari 'bahaya'. Seperti sekarang ini.

Yaya menghela nafas. "Ya, aku memaafkanmu. Kalau kau Gopal? Kau tidak ada urusannya dengan kontes kan?"

Keringat Gopal semakin banyak. Dan keringat itu mengeluarkan bau yang tidak enak juga. Campuran keringat dan sinar matahari. Kenapa aku sangat terperinci? Apa aku menyukai bocah pemalas gembul nan penakut itu? Menjijikkan.

"K-Karena BoBoiBoy kawan baik aku! D-Dan game center di Mall ini besar! K-Kau tahu kan aku penyuka game…" Kebohongannya semakin hari, semakin membaik. Sudah terlihat jelas bahwa dia yang penasaran, dan mungkin, dia yang memprovokasi BoBoiBoy yang malang untuk membuntuti aku dan Yaya. Itu kesimpulan yang paling benar. Aku tersenyum, merasa puas bak detektif yang baru saja menyelesaikan sebuah kasus rumit.

Yaya melepaskan pandangannya dari Gopal. Aku sedikit merasa kasihan pada Gopal. Tak apalah, dia juga salah membuntutiku. Iris cokelat Yaya menatap Fang. Gadis itu tidak perlu berbicara lagi, mereka bisa berbicara melalui pikiran. Kadang-kadang aku harus mempertimbangkan menelepon FBI, dan menyerahkan mereka berdua sebagai alien.

"Apa aku dilarang untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan temanku? Lagi pula, kedua bocah itu yang menyeretku kemari." Nada suaranya biasa-biasa saja. Sejak kenaikan kelas VI, anak itu agak berubah, mulai menjauh dari aku maupun Yaya. Perubahan hormon, mungkin. Tapi, yah, dia tetap sahabat kami berdua.

Dia mengalihkan pandangannya dari Yaya. "Itu benar kan, Ying?" dia bertanya kepadaku, lalu mengedipkan salah satu matanya. Aku sedikit terlonjak ke belakang. Apa-apaan itu?

Aku tahu dia mengejekku tentang kebiasaan stalking-ku, dan mungkin sedang puas karena baru saja menggodaku, dan menikmati emosiku. Dan sekarang sedang berpikir bahwa betapa murahannya aku, karena hanya dengan satu gerakan murahan yang tidak elit darinya sudah membuat wajahku ―sedikit―memerah. Bukankah itu wajar bagi seorang gadis untuk tersipu saat digoda? Aku teringat kata-katanya. Ying perempuan? Aku ingat. Aku bukanperempuan di matanya.

Aku memandang ke tempat lain, menghindari kontak mata dari mereka berempat. "Ya, ya. Kau benar," tukasku.

Dia merentangkan kedua tangannya. "Bahkan Nn. Ying mengatakan 'iya'. Aku bebas dari segala tuduhan kalian. Penjahat sesungguhnya adalah mereka,"―dia menunjuk sepasang bocah tengah cengar-cengir― "dan aku tidak bersalah." Aku menggingit bibir bawahku. Kami tidak mengadakan sidang―itu yang kupikirkan, aku tidak tahu dengan Yaya.

Yaya memanggil pelayan waralaba. "Aku tidak marah kok. Aku hanya kaget. Karena kita semua ada di sini, dan jarang sekali kita berkumpul bersama seperti waktu kita kecil. Aku mentraktir kalian." Yaya tersenyum elegan. Aku rasa Yaya mengeluarkan sinar dari surga dan sangat terang hingga iblis seperti Fang menghilang menjadi debu.

Gopal dan BoBoiBoy mendekati Yaya, berlutut di kakinya, lalu berterima kasih padanya dan menjanjikan bahwa mereka akan menjadi siswa yang penurut, baik, dan berbagai macam lainnya. Yaya mengangguk bagaikan ibu yang pengertian. Suasana semakin mengharukan, entah dari mana terdengar suara biola yang memilukan telinga. Membuat air mata dan darah mengalir dari telinga. Hingga suasa itu terusik oleh sesuatu.

"Tapi kalian akan menjadi budakku selama persiapan festival, mengerti?" Yaya memang bermuka dua. Mungkin lebih dari itu. Gopal dan BoBoiBoy tidak punya pilihan lain, selain menangguk-angguk pelan.

Pelayan datang, dan menanyai pesanan kami. Aku tak memesan apa-apa. Aku sudah kenyang. Gopal dan BoBoiBoy memesan makanan dan minuman yang manis-manis, seperti biasanya. Fang memesan teh hitam.

Sore itu, kami habiskan dengan bercerita hal-hal yang tidak masuk akal. Hal-hal yang menurut kami menarik, dan tidak biasa. Karena kami tidak biasa. Kami telah bersahabat sejak lama. Canda dan tawa mengitari meja kecil bundar di waralaba tersebut. Sore itu, kami telah melupakan hidup kami yang lain. Melupakan dunia untuk sepanjang sore itu.

s.t.a.l.k.e.r

Para gadis menjerit histeris saat BoBoiBoy melangkah keluar dari kamar mandi sekolah. Beberapa dari mereka pingsan karena kekurangan darah. BoBoiBoy yang mereka kenal sebagai lelaki paling imut di sekolah, Pangeran Idaman mereka, berubah menjadi seorang mafia tahun 20-an. Yaya memang hebat. Hanya dalam lima hari, kostum kami―Angel and Demon―telah selesai.

BoBoiBoy memakai kemeja merah garis-garis lengan panjang yang digulung hingga kedua sikunya. Dia memakai vest hitam dengan logo 'B' yang dibordir dengan rapi menggunakan benang emas. Lehernya dilingkari dengan dasi berwarna hitam. Kaki jenjangnya dibalut dengan celana hitam panjang. Telapak kakinya dipakaikan sepatu Lace Up dengan warna cokelat tua. Dan sebagai pemanis, Yaya menyuruh BoBoiBoy memakai topi Fedora dengan warna merah dan pita hitam. Tentu, sebagai wanita aku terpesona dengan penampilannya.

Aku memuji Yaya, "Kau hebat. Bisa merubah Si Polos jadi rubah." Yaya tersenyum bangga. "Karena aku berpikir bahwa kalau kalian berdua dimake over pasti keren. Lihat saja BoBoiBoy." Aku melirik bocah itu. Dia sedang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sambil sumringah mendengar pujian yang dilontarkan oleh para gadis di sekitarnya.

Cih, gadis-gadis kecentilan. Aku tahu, tidak, semua orang tahu, istirahat adalah saat-saat yang rawan terjadi keributan di sekolah. Seperti ini. Tapi, tolonglah, kami hanya mencoba hasil jahitan Yaya. Yah, mau gimana lagi, inilah hidup fangirls. Kabar tentang idola mereka akan cepat menyebar bagai lidah api di padang rumput yang kering.

Yaya menyerahkan bungkusan hitam padaku. "Sekarang giliranmu. Cobalah," dia menyuruhku. Mau tak mau, suka tak suka, aku harus menggantinya.

Hah, Yaya terlalu berlebihan. Memang, model kostumku adalah malaikat. Tapi, gadis ini sudah melewati batas. Para fangirls BoBoiBoy menarik nafas mereka saat aku keluar dari kamar mandi. Tak ada suara. Aku memberanikan diri menatap Yaya. Yaya sendiri terlihat tak mempercayai apa yang tengah dilihatnya―aku.

Aku meremas gaun putihku. Kostumku adalah gaun putih di bawah lutut dan berikat pinggang kulit yang tepat di bawah dada. Gaun ini tidak berlengan dan memiliki pita dan tali-tali yang menyilang sepanjang dada. Pada bagian bawah, terdapat lapisan pertama yang berwarna emas disambung dengan hiasan bunga mawar, lalu lapisan kedua dengan lipitan yang besar pada bagian bawah, lapisan ketiga yang paling bawah berwarna keperakan. Yaya membelikanku sepatu Frye dengan rumbai-rumbai di sekitarnya, dan mahkota bunga berwarna putih. Dan bukan namanya kostum malaikat jika tidak mempunya sayap. Aku rasa Yaya menyewanya, tapi ketika aku melihat sinar di matanya sekali lagi, aku tidak yakin dengan pendapatku. Dia membuatnya.

"S-Siapa kau?! Apa yang telah kau perbuat dengan Ying?!" Gopal bertanya histeris sambil menunjuk-nunjukku. Kami menatapnya. Yaya menghampiriku. "Kau cantik sekali! Astaga, aku sangat berbakat. Benar kan?" dia bertanya pada yang lain.

Gopal dan BoBoiBoy mengangguk. Aku sebenarnya malu. Aku sangat jarang memakai rok, kalau pakai pun, itu hanya kalau sekolah. Fang menatapku tak berkedip. Tn. Pelit pun terpesona olehku. Aku kembali menatapnya dengan tatapan galak. Dia menyadari tatapanku, dan segera mengalihkan pandangannya kepada obyek lain.

Yaya menyuruh kami mengganti seragam kami kembali. Waktu istirahat tinggal sedikit. Saat kami kembali ke kelas, kelas sudah dipenuhi dengan siswa-siswi yang lain. "O.K, teman-teman. Dengarkan dulu." Suasana masih kacau. Bahkan, beberapa anak yang tidak menghargai nyawa masih melempar-lempar remasan kertas.

"DENGAR SINI DULU, MANUSIA." Semua orang menghadap Yaya. Yaya berdehem. "Karena pada hari Senin festival sudah dilaksanakan, maka besok pagi, kalian datang ke rumahku, sekitar pukul 9. Yang perempuan memasak"―terdengar cemooh dari para gadis―"dan pada sore harinya, para lelaki akan membereskan kelas. Mengerti?" Semuanya mengangguk.

"Baiklah. Ingat jangan sampai terlambat―"

Suara keras dan membisingkan memotong kalimat Yaya. Kami mengerang tidak setuju. Aku hanya melorot di kursiku, membayangkan betapa gugupnya aku nanti saat di atas panggung. Aku tenggelam dalam pikiran kecilku sampai-sampai kepekaanku terhadap tatapan orang menghilang.

s.t.a.l.k.e.r

"Yaya, masih ada tempat sisa untuk makanan kita. Kau lebih pilih kita perbanyak Shortcake atau Honey Cake?" aku bertanya sambil memegang catatan kecil.

Mata Yaya berbinar. "Biskuitku!"

Seluruh orang yang berada di rumah Yaya menatapnya dengan horor. Aku diam. Aku tidak mau mengomentari jawaban Yaya. Seperti yang Yaya katakan kemarin, kami sedang membuat kue. Menurut Yaya, minuman dibuat besok pagi. Kecuali yang memang harus dipesan dulu oleh tamu. Yang laki-laki sedang sibuk membawa perabotan, meja dan kursi dari rumah Fang menuju sekolah.

Aku segera berjalan ke ruang makannya dan mengambil segelas air minum, dan meminumnya hingga habis. Aku menatap gelas Yaya. Mirip dengan gelas UKS. Aku terkekeh mengingat kejadian hari itu.

"Wajahmu aneh saat merenung." Aku meletakkan gelas pada meja terdekat. "Kau tidak percaya?" sambungnya. Dia menyerahkan kameranya yang menampakkan wajahku dengan hidung kembang-kempis dengan senyum aneh. Mengerikan.

"Betulkan? Sekarang kembali sana berkerja. Kau sebenarnya lebih pantas mengenakan rompi pekerja konstruksi dari pada celemek," kata Fang dengan tajam.

Aku membayangkan diriku dengan gadis-gadis lain dan Yaya yang sedang membuat kue dan pastry dengan telaten dan aku yang sedang membuat jalan dan jembatan di bawah terik matahari yang melebihi 40° C. "Kau sendiri? Bukankah kau harusnya membawa perabotan ke sekolah?"

Dia mengangkat bahunya. "Tak perlu. Lagian yang lain tidak ada kerjaan. Apa Yaya belum memberitahumu? Aku ini seksi dokumentasi. Jadi, tak masalah bagiku untuk pergi dari sana." Dia pergi meninggalkan ruangan itu.

Haruskah aku mengulangi kata-kataku tentang Fang seperti chapter yang lalu-lalu? Kurasa tidak. Kalian juga tahu apa intinya. Aku disambut dengan perintah Yaya saat kembali ke posisiku―di dapur.

"Ying, bisa kau bantu mereka buat Cheesecake? Aku sedang sibuk." Aku mengangguk dengan semangat. Cheesecake adalah kue andalanku. Selain membuatnya mudah (bagiku), rasanya juga unik. Kue ini memabukkan.

Aku membuat kue itu dengan telaten dan sabar. Kue dan pastry telah siap. Sekarang tinggal dekorasi. Yaya menyimpan seluruh kue di dalam lemari pendingin maupun lemari makanan.

Kami hanya istirahat sekitar satu jam. Setelah peristirahatan kami yang sangat singkat, Yaya memaksa kami melihat-lihat keadaan kelas, terpaksa kami menurutinya. Kami sampai di gerbang sekolah, dan saat kami masuk kami tak seceria biasanya. Pembagian tugas Yaya memang seimbang. Lapangan sekolah dipenuhi oleh gerombolan lelaki yang membawa properti, perabotan, meja, kursi, dan benda yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ini tempat mencari nafkah. Seorang gadis menunjuk letak BoBoiBoy dan Gopal. Mereka sedang menyeka keringat dengan kain lecek seadanya yang mereka letakkan di leher mereka. Tukang becak.

Kami menghampiri mereka. Yaya memberi mereka dan yang lainnya minuman dingin yang sengaja kami siapkan. Fangirls Fang bertanya pada mereka di mana keberadaan Tn. Pelit kesayangan mereka. Mereka malah bertanya balik bukankah Fang berada bersama kami.

"Kalian mengkhawatirkanku, ya?" tanya Fang yang muncul tiba-tiba. Tangannya membawa sesuatu yang dibungkus dengan kertas koran. Fangirls-nya berteriak lantang menginyakan pertanyaannya. Karena saking kerasnya suara mereka, beberapa orang memandang kami dengan tatapan aneh.

"Apa itu, Fang?" Yaya menunjuk bungkusan di tangannya. Fang membuka bungkusan tersebut. "Hanya lukisan kecil yang kudapat dari obral. Karena satu dan lain hal, aku menyukai wajahnya," jawab Fang.

Kami segera mengerumuninya. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita tersenyum manis, dengan latar belakang hutan dan cahaya yang merembes dari daun-daun. Mungkin karena kesombonganku, aku mengira wanita itu adalah aku.

"Dia mengingatkanku pada legenda Jepang," ucap salah satu gadis.

"Putri Kaguya," jawab Fang cepat. "Mungkin kau benar."

Yaya mengajak kami ke kelas. Menyuruh kami mendekor ruangan dengan tema kami. Kami tertawa gembira. Beberapa gadis disiram air oleh laki-laki usil yang perlu perhatian.

Memang melelahkan, setidaknya ini mempererat hubungan kami sebagai teman seangkatan.

"Ying," Yaya memanggilku.

"Ya?"

Yaya membuat gerakan menyusir, "Tolong ambilkan pel di gudang. Kalau ada ember, sekalian yah." Aku memutar bola mataku. "Ya," aku menyanggupi perintahnya.

Aku menarik asal pel dan ember. Membanting pintu gudang dengan keras.

"Kau pemarah yah? Aku jarang melihatmu marah." Aku mengutuk diriku karena melakukan hal itu.

"T-Tidak kok. A-Aku hanya ingin cepat-cepat selesai." Aku membelakangi orang yang menanyaiku. Tidak sopan? Itu lebih baik dari pada ia melihat wajah merahku.

Dia tertawa pelan, tawanya bagaikan lonceng di telingaku. "Aku juga ingin ini cepat selesai. Tapi, kita harus menikmati hal ini selama masih ada. Ya kan?" Aku berani membalikkan diriku. "T-Tentu! Aku duluan, Kak!"

Kak Fajar membalas salam perpisahan tak elit dan tak sopan dariku. Aku segera mengambil langkah seribu dan berlari ke kelas. Meninggalkan pujaan hatiku tersenyum menawan.

.

.

.

to be continued .

A/N :

Update juga yah~! Maaf, maaf sebesar-besarnya jika terlalu lama belum update-update. Belakangan ini saya sibuk, dan baru beli novel baru. Kebiasaan buruk saya kalau baca novel itu diulang-ulang terus, kadang sampai lupa waktu. Karena itu, saya membuat chapter ini lebih panjang dari yang lain. Semoga saya dimaafkan yah!

Untuk Black Orca, iya-iya. Sepertinya begitu. Fang munculnya chapter-chapter akhir. Kapan itu? Tak tahu. Untuk Erin917, kita sama yah, saya berharap Anda bisa membuat fic tentang pasangan imut ini. Untuk C. Colombine, maaf, dewi. Maaf, aku membawa rahasia terlarangmu. Mohon maaf. Untuk Rika, ga papa telat, yang penting ada. Eh, saya sebenarnya tidak masalah dipanggil kakak, tapi, saya lebih muda dari Anda. Jadi, saya yang harusnya berkata itu. Anda teliti yah. Er, baca saja. Hehehe…

Last word, Review?

b.o.n.u.s.

"Apa yang kau masak, Yaya?" Suzy bertanya dengan nada ceria pada ketua kelasnya. "Biskuitku," jawab Yaya semangat. Begitu mendengar apa yang dijawab Yaya, Suzy mundur selangkah, lalu lari terbirit-birit.

"Suzy?" panggil Yaya. "Suzy?"

Yaya mengangkat bahu. "Baiklah, tak ada yang menemani, tak apa. Aku akan memasaknya sendiri."

Yaya mengeluarkan bahan-bahannya. "Masukkan 200 gr tepung terigu, lalu campurkan dengan bahan yang lainnya," Yaya membaca resep biskuitnya.

"Lalu masukkan cabe rawit, bumbu kare, dan santan." Tunggu. Ini aneh. Yaya berpikir sebentar. Lalu menemukan jawabannya. "Betul! Aku lupa ketumbar!"

Sekarang kita tahu, resep biskuit Yaya Yah sang maniak, ratu, lady―dan beberapa sebutan yang lain―dari biskuit.