Stalker

Chapter 5 : Festival is Here!

Hiruk-piruk keadaan kelas kami semakin menjadi-jadi di kala Fang memasuki kelas, memakai kostum Butler. Pria itu tetap memakai kacamata ungunya, dan tampil rapi menggunakan rompi abu-abu dengan bordiran biru tua di sepanjang rompinya, kemeja lengan panjang berwarna putih, dasi hitam mengilat dan celana panjang. Dia menggunakan sepatu Monk hitam yang sudah disemir terlebih dahulu. Dan yang membuat wajah Fang kesal, maksudku SANGAT KESAL, adalah Yaya menyuruhnya memakai bando kucing, lengkap dengan ekornya, dan bocah itu tidak bisa menolaknya.

Dia menatap resah para fangirls-nya yang semakin ribut setiap detiknya, aku kasihan padanya. Aku meliriknya dan harus aku akui, dia―sedikit―menawan, tidak seperti biasanya. Aku mengerutkan hidungku saat membayangkan wajah menyebalkan yang tengah mengejekku.

Terdengar isakan kecil dari Gopal. Aku bertanya padanya, "Kau kenapa Gopal? Sakit?"

Bocah keturunan India ini menggeleng lemah. "Aku hanya cemburu…"

BoBoiBoy yang berdiri di sampingku mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"

"Karena Fang dikerumuni oleh gadis-gadis! Dan karena aku hanya mendapat pakaian lusuh ini sedangkan bocah ingusan itu mendapat sesuatu yang mirip dengan pangeran-pangeran di kisah dongeng! Ini tidak adil!" Dia mendekati kaki BoBoiBoy. "Bukan begitu kan?" Mata gelapnya menatap mata abu-abu BoBoiBoy. BoBoiBoy hanya mengangkat kedua bahunya. "Tanyakan saja pada pembuat kostumnya."

Kami bertiga melirik Yaya yang sedang sibuk. Seseorang menyenggol vas keramik dan membuat terjatuh. Bunyi dentuman terdengar. Vas itu tak pecah, tapi sudah cukup untuk membuat kami semua terdiam di tempat. Yaya menatap tajam sang pelaku yang tengah ketakutan.

"A-Aku tidak sengaja! Maafkan aku! Maafkan aku!" anak itu berseru ketakutan. Yaya tersenyum biasa, tapi aku tahu, bocah itu sudah mati.

"Tidak apa. Sini ikut aku," ajak Yaya. Kami memberi tatapan kasihan padanya. Yaya membawa anak itu keluar kelas. Tak selang beberapa lama, suara teriakan kesakitan memekakkan gendang telinga kami. Yaya memasuki kelas dengan wajah ceria. Sedangkan bocah itu hanya terhunyung-hunyung sambil mengaduh kesakitan.

"Ya, Gopal. Tanyakan saja pada pembuatnya," ulang BoBoiBoy dengan nada mengejek. Gopal tidak bisa berkata berbuat apa-apa selain diam, dan aku kembali menghela nafas, semoga ini cepat berakhir.

BoBoiBoy © Animonsta

Warning :

OOC, OC, AU, bahasa yang kurang dimengerti, humor garing, alur kecepatan, plot yang kurang dimengerti, typo(s)

[Alice]

Tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfic ini. Hanya kesenangan dan menuangkan ide yang menumpuk di otak. Author sangat meminta maaf jika ide sama.

.

Happy Reading

Kami sedang bersiap-siap. Festival dimulai pukul 8 tepat, ditandai dengan pelepasan balon warna-warni, dan pidato tidak padat, tidak singkat, dan tidak jelas dari kepala sekolah.

Ruangan kelas kami dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah ruang utama yang terdapat banyak meja, kursi, perabotan, lukisan, maupun meja kasir. Bagian kedua adalah dapur, penuh dengan pastry, kue-kue tradisional, minuman dan berbagai macam hal yang lain.

Kami juga dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yang melayani pengunjung dari pukul 8-11. Aku, Yaya, Gopal, BoBoiBoy dan Fang masuk dalam kelompok ini. Sedangkan kelompok kedua, bertugas mulai dari pukul 11, setelah istirahat, hingga pukul 4 sore. Kenapa dibagi menjadi dua? Karena kami juga mau melihat dan mengunjungi stand kelas lain! Kami juga mau bersantai! Dan Yaya mau mencari kekurangan dari berbagai macam stand dan mengejeknya. OOC? Au, ah, terang.

Kami dipanggil ke lapangan, mendengar pidato pembukaan dari kepala sekolah disambung oleh ketua OSIS―calon pacarku. Suasa membosankan segera tergantikan pada waktu balon warni-warni diterbangkan. Beberapa gadis ber-selfie-ria, tapi kami tidak. Kami segera diborgol, dibekap, dan dipaksa Yaya untuk tidak bersantai dan kembali ke kelas.

Suara lantang Yaya bergema, mengangetkan kami semua di saat pelanggan pertama kami masuk. "Semuanya! Pelanggan pertama!" Kami mengadah, dan melihat yang Yaya katakan 'Pelanggan Pertama'. Aku tidak yakin kalau mereka memang pengunjung stand kami, atau sebenarnya mereka adalah siswa kelas X yang dipaksa Yaya untuk bersukarela menghabiskan uang saku mereka selama satu bulan untuk mengunjungi kami.

'Pelanggan Pertama' kami adalah sepasang gadis remaja, mungkin seumuran denganku. Yaya menunjuk BoBoiBoy dan Fang. "Cepat layani mereka! Fang, kau jadi seseorang yang Tsundere dan BoBoiBoy," dia berhenti sejenak, "kau jadi seorang Fetish!" Demi biskuit Yaya yang membunuh seluruh hama di rumahku, sejak kapan BoBoiBoy si polos-lugu-tak-berdosa menjadi seorang Fetish? BoBoiBoy hendak protes, tapi bocah itu segera mengatupkan mulutnya sesaat Yaya menatapnya. "B-Baiklah," ucapnya pasrah.

Sementara para gadis kecentilan itu berteriak histeris saat Fang dan BoBoiBoy menghampiri meja mereka, aku mendekati sang ketua kelas. "Yaya, kau kejam," kataku. Yaya menaikkan salah satu alisnya. "Karena?"

Gadis itu mundur selangkah, sedikit takut melihat tampangku. "Kau masih tega menjadi aku dan BoBoiBoy sebagai pelayan, sedangkan kami berdua adalah kontestan Raja dan Ratu!" semburku. Yaya mengibaskan tangannya dengan anggun. "Aku tega? Tidak. Kalian memang kontestan Raja dan Ratu. Tapi yang dinilai dari kontes itu hanya kostum yang kalian kenakan dan jawaban yang kalian berikan dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan," ucapnya santai, bagaikan hal itu tidak membebaniku. Aku melongo.

"Jadi… Yang dinilai hanya itu? Tak ada yang lain?" tanyaku. Gadis itu mengangguk. "Iya, cuman itu."

"Kenapa kau tidak memberitahukan kami―"

Dia memotong kalimatku, "Aku sudah memberitahukan BoBoiBoy." Aku tetap protes, dan menanyakan kenapa dia hanya memberitahukan BoBoiBoy, dan bukan aku, sahabat karibnya.

Sebelum menjawab, dia tersenyum jahil. "Karena kalau kau tahu, kau pasti menolak, dan kostum yang kubuat sia-sia." Aku menatapnya kesal, walau alasan memang masuk akal, tapi tetap saja, dia tidak memberitahukanku.

Beberapa orang yang membawa brosur festival sekolah ini mulai memasuki ruangan. Seorang anak kecil datang mendekati meja kasir. Tangan kecilnya menarik-narik ujung baju ibunya, dan jari telunjuknya menunjuk keranjang kecil yang berisi bungkusan biskuit di meja kasir. Biskuit Yaya.

"Ibu, Ibu! Belikan aku ini!"

Gopal yang bertugas sebagai kasir kelompok pertama, hanya bisa menggeleng-geleng perlahan, dengan tatapan horor. Anak itu menaikkan alisnya. "Kakak kenapa?"

Gopal berbisik kecil, berusaha untuk tidak ketahuan oleh Yaya, "Jangan dibeli…"

Sayangnya, 'bisikan gaib' Gopal terlalu keras, dan memancing perhatian Yaya. Yaya mendekati meja kasir, dan menepuk pundak Gopal, pemuda itu membatu. "Hai! Kamu beru pertama kali datang ke festival yah?" Anak itu mengangguk. Yaya mengambil satu bungkusan biskuitnya, menyerahkannya pada anak itu. "Ini hadiah dari kakak karena ini festival pertamamu. Jadi anak yang baik dan penurut sama orang tua, yah." Mata anak itu berbinar, ibunya tersenyum senang. Berbanding lurus dengan wajah kami semua; teror dan ketakutan.

"Terima kasih, kak!" ucapnya bersungguh-sungguh. Ibu dari anak itu mengucapkan hal yang sama pula, dan segera meninggalkan ruangan.

Yaya berbalik ke arah kami. "Itulah cara menarik pelanggan," katanya mantap, tidak memperdulikan tatapan jijik dari kami semua.

Manusia yang memasuki stand kami semakin banyak. Mungkin mereka―Fangirls― mendengar kabar angin bahwa 'Pangeran Dingin' sekolah memakai bando kucing―plus ekor―yang unyu dan cocok menjadi uke bagi para seme di sekolah, khususnya BoBoiBoy. Aku merinding memikirkan teori dalam kepalaku.

"Ying! Layani meja nomor tiga!" titah Yaya dari meja kasir. Dia terlihat sibuk. Walau senyumnya ceria, dan suaranya bagaikan lonceng, tapi wajahnya tetap menampakkan wajah lelah. Mungkin dia hanya melihat sekilas meja nomor tiga. Aku menghela nafas, lalu mengambil buku menu dan catatan kecil.

Aku bergidik melihat pelanggan yang akan kulayani. Ada tiga orang. Tiga orang berandalan dari SMA sebelah. Yang kelihatan seperti pemimpin mereka, bermodel rambut Elephant Trunk. Di sebelah kirinya, terdapat pemuda berbadan kekar dengan rambut gondrong yang diwarna hijau tua. Sedang di sebelah kanannya, berbadan kurus dan berambut pirang acak-acakan. Pokoknya mereka semua adalah preman sejati.

Aku menyerahkan buku menu. Aku rasa tanganku bergetar, karena si pirang mencengkram tanganku dan berkata, "Hai, Sayang. Kenapa kau bergetar? Apa kau takut dengan kami? Tenanglah, kami tidak seperti yang kau pikirkan." Teman-temannya tertawa pelan dengan nada meremehkan.

Aku berusaha menarik tanganku. "M-Maaf… Apa yang ingin kalian pesan?" aku bertanya gugup. Aku semakin ketakutan di saat pemimpin mereka berdiri dan menarikku ke pangkuannya. "Seperti yang sudah temanku katakan, kami tidak seperti yang kau pikirkan," katanya, "karena kami lebih dari pikiran kecilmu yang sempit itu." Aku tak bisa apa-apa, ketakutan telah menelanku, dan tidak membiarkan pergi. Tangan berandalan itu mulai menjamahiku, menyusuri tanganku, mengelus rambutku dengan kasar. Aku menutup mataku, memohon seseorang melihat ini dan segera melakukan sesuatu. Dan di saat tangan kirinya mulai mengelus pahaku, aku membulatkan mataku, berdiri dan menendang kepalanya. "Orang mesum!" teriakku sekuat tenaga, lalu mundur sejau mungkin darinya.

Kedua anak buahnya panik, dan menanyai keadaan pemuda brengsek itu. Pemuda itu menatapku marah, darah mengalir dari hidungnya. Dia tidak menyekanya, malahan, dia segera berdiri, dan mengarahkan telunjuknya yang penuh dengan cincin murahan padaku. "Kau! Dasar wanita kurang ajar! Dasar kau―"

Sebelum suara dentuman keras itu terdengar, aku sempat memperhatikan mata hitam arang Fang yang mengilat marah. Sangat menakutkan hingga aku terpana. Seumur hidupku, aku belum pernah melihatnya seperti itu.

Semua orang menarik nafasnya. Pemuda yang tadi membuatku berteriak tersudut di dinding. Fang berkata dengan nada tenang yang mencekam, "Aku tidak akan memukulmu jika kau melakukan apa yang kusuruh. Minta maaf pada gadis itu."

Pemuda itu membuang muka, dan meludah sembarangan, lalu menatap mata Fang. "Aku tidak akan pernah meminta maaf pada Jalang yang―" Hantaman keras mendarat pada rahangnya, dan membuatnya tumbang. Mulai terjadi bisik-bisik di antara pengunjung lain. Yaya mendekatiku, dan segera menggenggam tanganku erat.

Anak buahnya menyumpahi Fang, tapi mereka segera menutup mulut kotor mereka saat Fang berbalik dan menatap mata mereka. Tatapan bengis yang ia berikan memang menakutkan. Kedua pemuda itu hanya bisa diam di tempat. Fang kembali fokus pada orang di depannya. Dia menendang pipi pemuda itu bak kesetanan. Dia menekuk kedua lututnya, lalu menarik kerah baju pemuda itu. Dia membisikkan sesuatu padanya. Aku tidak tahu apa yang ia katakan padanya, tapi apapun itu, telah membuat orang itu membulatkan matanya, dan menatapku bagai orang gila.

Fang melepaskan cengkramannya. "Sekarang, minta maaflah. Bukan hanya gadis itu." Dia menunjuk semua orang di dalam ruangan. "Semua orang yang telah kau usik ketenangannya di ruangan ini," lanjutnya.

Jakun pemuda itu naik turun. "Cepat," perintah Fang. Pemuda itu berjalan terseok-seok ke arahku. Dia berlutut, dan menuturkan permintaan maafnya. Walau aku sebenarnya tidak ada niatan untuk memaafkannya, aku pada akhirnya harus melakukannya juga. Dia melakukan hal yang sama pada semua pengunjung maupun teman-teman kami yang lain. Pada saat dia meminta maaf pada Gopal, Gopal malah mencemooh. Tak kusangka, semua pengunjung melakukan hal yang sama.

Setelah melakukan apa yang disuruh, tapi lebih tepat dititahkan oleh Fang, dia mengumpulkan bawahannya, dan berniat kabur, meninggalkan rasa malu mereka. Tapi sangat disayangkan, guru BP dari sekolah kami dan dari sekolah mereka mencegat keinginan besar mereka untuk pergi dari 'tempat terkutuk'.

"Apa itu darah?" tanya seseorang dari mereka. Fang tersenyum. "Tidak. Itu hanya selai stroberi yang tumpah." Kami terkekeh pelan. Selai katanya.

Keduanya mengangguk. "Baiklah jika memang begitu. Kami akan membawa mereka." Yaya berterima kasih pada mereka.

Ketika keributan 'kecil' di stand kami usai, dan pelaku telah diamankan oleh pihak berwajib, semua mata kembali tertuju pada Fang. BoBoiBoy yang sedari tadi terdiam, bertanya padanya, "Kenapa kau melawan mereka? Apa kau tidak takut?"

Mata gelap pemuda itu menatapku sejenak, lalu kembali fokus pada penanya. "Aku akan melakukan apapun untuk," dia berhenti, "temanku."

Gopal bertepuk tangan, kemudian diikuti oleh yang lainnya. Suasana normal kembali. Jika maksudmu para fangirls Fang bertanya secara aktif dan intensif kepada Fang tentang keadaannya, sibuk memfoto dirinya dan berteriak histeris layaknya anak baru mau disunat adalah normal, maka begitulah keadaan kelas kami.

Fang menatap resah para pendukung-seumur-hidup-nya. Dia beralasan ingin istirahat sejenak, dan mengundurkan diri ke dapur. Yaya sudah kembali mengawasi gerak-gerik seluruh orang di ruangan, termasuk kasir―Gopal. Aku hanya berdiri sendiri, dan Fang melewatiku bagaikan peristiwa tadi tidak pernah ada.

Aku menarik ujung rompi Fang dari belakang. "Apa?" tanyanya malas. "Jika tidak penting, lebih baik tidak usah. Kau membuang-buang wantuku."

Aku menunduk. Benar-benar tidak percaya, pemuda di depanku lah yang telah menyelamatku. Aku jadi curiga, apa tadi pemuda itu Fang atau orang lain. Benar-benar berbeda.

"Aku hanya ingin―"

"Sama-sama. Dengan ini, utangmu padaku akan lebih banyak. Semoga kau punya harta yang cukup untuk membalasku," katanya, lalu menghilang di pembatas ruang utama dan dapur.

Aku tercengang. Anak itu tetap sama. Walau sudah menyelamatkanku, dia tetap Fang yang sama. Kurang ajar, sombong, dan masih menjadi Tn. Pelit.

Aku melambaikan tanganku pada Yaya. "Yaya! Aku istirahat lima menit!" pintaku. Yaya menoleh, dan mengiyakannya. Aku menapaki ubin putih yang sudah dilapisi karpet ungu―punya Fang―menuju dapur. Teman-temanku yang bertugas di dapur, menyatakan bahwa mereka kaget dan turut bersedih atas apa yang baru terjadi padaku. Aku tersenyum lemah.

Tanganku membuka kulkas kecil yang disediakan untuk minuman dingin, mengambil sekotak susu cokelat. Aku terduduk, bersandar dengan tembok dingin, membuka segel kotak susu, dan menegaknya. Aku melirik jam tanganku, baru pukul 10.09.

Aku sadar Fang menatapku. Mungkin dia masih kasihan atas apa yang menimpaku tadi. Aku mengangkat kotak susuku tinggi-tinggi, layaknya orang bersulang, dan tersenyum. Bocah itu agak tersentak sedikit, dan segera membelakangiku.

s.t.a.l.k.e.r

"Katanya kelas XI B mengadakan rumah hantu loh," kata Gopal. Yaya mengangguk, membenarkan pendapat pemuda India itu. "Kau tahu dari mana?" tanya BoBoiBoy.

"Dari brosur yang dibagikan," jawab Gopal. "Kau tidak dapat, ya?" lanjutnya.

BoBoiBoy menggeleng. "Aku tidak bertanya padamu. Aku bertanya pada Yaya." Gopal terdiam. Raut wajahnya susah untuk dideskripsikan melalui kata-kata.

"Kan sudah kubilang dari dulu. Aku punya mata-mata untuk hal ini," Yaya mengungkit kembali hal yang membuatku lebih waspada jika menghadapinya.

"Mungkin maksud BoBoiBoy, siapa itu mata-matamu?" aku berusaha menerangkan pertanyaan si pemilik topi dinosaurus.

Yaya memasang senyum polos, dan menjawab dengan suara yang sama polosnya, "Para ketua kelas. Aku memaksa mereka semua untuk memberitahukan ide stand mereka. Jika mereka menolak, yah, gampang urusannya." Kami geger.

"B-Bahkan kakak kelas?" tanyaku.

Dia mengangguk manis. "Tentu!" Kami tertawa miris. Fang yang paling waras dari kami hanya membetulkan letak kacamanya, dan berguman pelan, "Bodoh."

Kami berlima sudah menyelesaikan tanggung jawab kami. Kami sekarang bebas berkeliaran keluar-masuk stand-stand yang ada. Fang yang pertama kali bahagia setelah pergantian shift. Dia segera berlari ke belakang, dan mengganti bajunya dengan kaos hitam biasa. Kami semua juga mengganti baju dengan baju casual. Gopal sempat menggodanya untuk tetap memakai bando dan ekor kucing, dan bocah itu segera mendapat tatapan mematikan darinya.

Yaya membaca papan besar di depan pintu stand yang akan kami masuki selanjutnya, "Rumah Hantu."

Di depan pintu masuk ada dua orang pemuda. Salah satunya memakai kostum pocong, yang satunya tuyul. Indah, sepasang ayah dan anak telah dipersatukan. Mereka menyuruh kami membayar tiket masuk. Yaya mengumpulkan uang kami, dan membeli lima tiket.

Sebelum kami masuk, BoBoiBoy sempat menanyakan pertanyaan aneh pada penjaga pintu. "Apa di dalam ada balon?" tanyanya. Si pocong menaikkan alisnya, heran dengan pertanyaan anak itu. "Tidak ada. Ini rumah hantu, bukan TK," jawabnya. BoBoiBoy tersenyum lega. Dan segera menyuruh teman-temannya masuk.

Harus kuakui, mereka mengatur ruang kelas mereka dengan cukup baik. Sarang laba-laba di sana-sini, dan suasana mencekam karena seluruh sumber cahaya ditutup dengan kain tebal. Beberapa lukisan mengerikan, walau aku yakin itu obral. Aku tidak yakin mereka berbakat uuntuk menghias ruangan ini, atau mereka memang sudah membiarkan kelas ini kotor sejak pertama kali dibangun.

Kami berjalan berdekat-dekatan. BoBoiBoy paling depan, disusul Gopal, yang katanya tidak mau paling belakang, karena paling belakang paling sering diculik, lalu Yaya, aku dan terakhir Fang.

Suara ketawa tidak etis dan tidak menakutkan sama sekali terdengar. Yang membuat kami takut adalah keringat Gopal. Sangat bau, dan kami tidak mau pingsan tidak jelas hanya karena kekurangan udara segar.

Yaya berteriak histeris karena tiba-tiba laba-laba jatuh di atas kepalanya. Aku juga, kaget dengar teriakannya.

"Kau mengangetkanku, Yaya!" aku membentaknya.

Fang meledek kami, "Kalian benar-benar bodoh." Gopal dan BoBoiBoy tertawa keras atas kebodohan kami. Tawa BoBoiBoy terganti dengan teriakaan terkejut dikala dia berbalik dan menemukan wajah putih pucat menatap langsung di depan wajahnya. Refleks, dia memukul wajah itu.

Yang terdengar selanjutnya adalah suara erangan kesakitan dari korban BoBoiBoy. BoBoiBoy yang paling merasa bersalah, mendekatinya. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya. Orang itu berusaha menjawab, walau bersusah payah, karena tangannya menutupi hidungnya. "A-Aku tidak apa-apa…"

Penyesalan BoBoiBoy semakin membesar, setelah mengetahui korbannya adalah seorang gadis. Dan hebatnya, gadis itu tidak histeris melihat BoBoiBoy ataupun Fang. Mungkin dia bukan fangirl.

Teman-temannya sesama hantu (apa?) yang bersembunyi di kelas ini keluar semua, dan penjaga pintu masuk. "Ada apa ini? Ada apa?" tanya si pemakai kostum tuyul.

"Tidak ada. Hanya kecelakaan kecil," jawab gadis itu. BoBoiBoy segera bersujud. "Maafkan aku! Tolong maafkan aku!" katanya berulang-ulang.

Gadis itu tersenyum. "Kan tadi sudah aku bilang. Aku memaafkanmu, jadi, tolong berhentilah."

BoBoiBoy mendongak. "Terima kasih," ucapnya. Temannya datang membawa perban. Aku tak yakin itu perban, atau hanya bagian dari kostum mumi mereka.

Setelah selesai membalut, BoBoiBoy mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, aku BoBoiBoy kelas XI A, orang yang baru saja melukaimu." Gadis itu tertawa, menggenggam tangan BoBoiBoy. "Aku Merlin."

Mereka terus saling menatap, tidak memperdulikan semua orang, bahkan KAMI, yang telah membawanya ke mari.

"Ah, sebagai permintaan maaf, aku punya kupon gratis makan di standku." BoBoiBoy mengeluarkan kupon kecil dari sakunya. Apa bocah ini belum pernah baca atau nonton sesuatu yang mengandung romentisme?

"Ayo kita pergi sama-sama!" ajaknya. BoBoiBoy tentu saja tidak bisa menolak ajakan gadis yang baru saja dia lukai secara tidak elit. Dan akhirnya, kedua pasangan yang baru saja tercipta itu pergi, meninggalkan teman-teman mereka.

Orang-orang yang ditinggalkan oleh mereka―termasuk aku―hanya menatap mereka. Gile, baru ketemu langsung kencan, pikirku. Kami bubar, para siswa kelas XI B mengusir kami secara halus dari stand mereka. Fang yang tidak terima meminta uang pengembalian tiket dari penjaga pintu. Akhirnya bocah itu tenang setelah Gopal mengeluarkan penangkalnya: Donat Lobak Merah.

"Jadi, kita ke mana lagi?" tanya Yaya. Gopal mengeluarkan brosur dari kantongnya. "Bagaimana kalau kelas XI D? mereka menyajikan frozen yogurt loh," tawar Gopal.

Wajah hangat Kak Fajar sore itu kembali mencuat. "Bagaimana dengan kelas XII A!" Semuanya menatapku heran. Gopal kembali mengecek brosurnya. Wajahnya berubah seketika. "Fang, ikut aku." Belum sempat bertanya kenapa, Fang sudah dibawa lari.

Aku bertanya pada Yaya, "Kenapa dia lari?"

"Karena kelas XII A, kelas pacarmu,"―aku nyengir―"membuat stand alat peraga Matematika. Karena itulah Gopal melarikan diri," jawabnya. "Tapi kenapa membawa Fang?"

Yaya tersenyum padaku. "Apa? Dia kan juga masih temanku." Dia tertawa. "Karena Fang adalah sumber uangnya. Kita juga tahu kemana tujuan Gopal." Kami saling tukar pandang. "Stand makanan," kami mengucapnya dengan waktu yang sama. Kami tertawa, dan berjalan menuju kelas XII A, berhimpitan di antara sesaknya manusia.

.

.

.

to be continued .

A/N :

Halo, ketemu lagi dengan Alice. Hah, sudah hampir dua minggu saya gak update-update. Tolong maafkan saya. Orang lain, kalau liburan ide mereka mengalir lancar, kayak buang air kecil di pagi hari. Saya malahan susah. Karena inspirasi ide ini teman-teman saya. Sedangkan kami sudah jarang bertemu lagi. Tolong dimaklumkan. Dan lagi, karena itu, setiap kali harusnya saja menulis, selalu berakhir dengan bermain Pizza Frenzy atau Tradewinds 2… HAHAHA hahaha ha… ha… hah.

Untuk YukiHikaru hanna-chan48, betul. Saya sempat berpikir Yaya akan membuat sate. Ya, semoga dia diampuni. Untuk Cicely Anguish, iya, Nona. Tapi resep Yaya bukan resepku. Resepku biskuitku lebih 'enak' dan 'empuk'. Teriakan Yaya murni pikiran kok. Untuk Guest, Anda hebat, bisa buat kue… Saya buat kue, hasilnya keras, kalau lempar anjing, dah mati. Dan saya dengan gregetnya kasih ke gebetan saya. Kalau tau tempat penyewaan mesin waktu, tolong kabari saya. Untuk Rika, seperti biasa, terima kasih. Temanmu sama berlebihannya dengan saya. Sayangnya, Fang tidak memakai Lolita, tapi setidaknya dia sama imutnya dengan memakai Lolita. Maksudku itu energi listrik, solar, dll. Dua scene itu? Hahaha, tunggu saja sampai chapter terakhit. Saya ga pandai-pandai amat, nanti semuanya diangkat di chapter terakhir.

Maaf, kalau chapter ini alurnya cepat banget. Karena dikerjakan satu malam, lewat dari jam pulangnya Cinderella. Habisnya hari Selasa saya berangkat, naik kapal, kelas ekonomi, ga bisa ngeluarin laptop, takut dicuri. Maaf sekali lagi, chapter ini tak berbonus. Ide habis semua.

Last word, ice cream please?