Stalker
Chapter 6 : Api Unggun, Sang Pemenang dan Selamat Malam
Aku meremas tanganku. Gugup dan khawatir telah menguasaiku, menelenggelamkanku di dalam diri mereka. Aku takut. Kontes ini melebihi apa yang aku takuti selama satu bulan terakhir. Aku tidak sanggup. Aku pasti gagal. Yaya memarahiku karena terlalu bersikap pesimis. Tapi, kita harus menjadi pesimis jika harus bertahan hidup, bukan?
Tepuk tangan meriah dari bangku penonton membuat keringatku mengucur deras. Aku kembali mengintip dari belakang panggung. Para penontong menepuk tangan, tak jarang ada yang berdiri. BoBoiBoy hanya menampilkan senyum biasanya―polos dan memikat. Tentu saja, dia bisa memenangkan kontes ini dengan mudah. Toh, jurinya juga guru-guru muda yang kecentilan, bertahun-tahun frustasi karena terlalu lama sendiri. Kecuali kepala sekolah. Jandanya ada lima.
"Ying! Apa yang kau lakukan di situ? Bukankah sudah kubilang kau tunggu saja di belakang panggung? Aku sudah mencarimu di mana-mana. Kau tahu betapa gugupnya aku?" Yaya mengagetkanku. Aku hanya bisa mengucapkan permintaan maaf.
Aku kembali duduk di kursi rias, dan Yaya kembali mempercantik diriku. Bayangan yang nampak di cermin bagaikan bukan aku. Rambutku dikepang kecil-kecil di beberapa bagian, lalu diikat menjadi satu ke belakang. Yaya tak lupa dengan pemanis yang sudah dibuatnya, mahkota bunga itu dipasang dengan hati-hati. Dia membelikanku sepasang kontak lens, katanya kacamataku sudah ketinggalan zaman. Keterlaluan. Yaya memakaikan sedikit bedak padat di wajahku, katanya aku tidak boleh kelihatan pucat. Dia mengulas tipis eye shadow berwarna pink di sekitar kelopak mataku, dan memberi sedikit glitter. Aku merasa geli saat dia menyapukan kuas blush on pink di pipiku. Dia tidak menggaris alisku, katanya alisku sudah bagus apa adanya, tak perlu digaris lagi. Saat dia akan memakaikan lipstick pink pucat, aku menahan tangannya.
"Yaya, bisa pakai warna lain? Aku bosan kalau warna pink mengusai wajahku." Yaya terkekeh pelan. "Teganya, kau tidak suka pink? Baik-baik, akan kucarikan warna lain." Tangannya kembali membongkar kotak hitam yang penuh dengan perlatan make up.
"Maaf, cuman ada warna pink," ucapnya setelah menoleh. Bibirku maju. "Kalau begitu, ambil lipstick di tasku. Setidaknya lipstick -ku tidak berwarna pink." Hebat, aku bisa memerintah seorang seperti Yaya.
Dia mengkerutkan bibirnya. "Apa?" aku bertanya. Dia menunjuk-nunjuk lipstick-ku. "Ini masuk dalam kategori pink," katanya dengan judes.
Aku memicingkan mataku. "Tidak. Itu warna peach, itu masuk kategori jingga."
Yaya menggeleng. "Pink!"
"Jingga!" aku berteriak.
Kami berhenti setelah suara tepuk tangan kembali terdengar. "Pakaikan saja lipstick itu. Aku ingin cepat-cepat selesai. Aku tidak suka bau make-up." Yaya mengangguk, dan mulai mewarnai bibirku. Setelah selesai dengan seluruh riasan wajahku, Yaya membuatku berdiri. Dia mengusir seluruh orang yang berada di ruangan. Dia meraih tanganku, dan menggenggamnya erat-erat. Kuperhatikan matanya berkaca-kaca.
"Ying," ucapnya lembut, "terima kasih." Aku menaikkan salah satu alisku. "Untuk apa? Aku yang harusnya berterima kasih."
Dia menggeleng, seakan-akan tahu menangis adalah tindakan yang bodoh. "Kau mau menemaniku, dan membiarkanku mendadanimu. Sebenarnya aku juga takut. Aku tidak sanggup untuk menangani ini semua. Tapi kau percaya aku." Aku terdiam, malu. Selama satu bulan ini, aku selalu mencemooh, mengkomentarinya macam-macam, dan dia masih percaya padaku.
Aku menariknya dalam dekapanku, berusaha menenangkannya. "Aku juga, tapi aku selalu berusaha untuk bisa menanganinya." Aku melepaskannya. Dia tersenyum, aku membalasnya. "Aku berjanji, aku akan memenangkan kontes ini." Suaraku penuh dengan keyakinan dan percaya diri.
"Kalau begitu bersiaplah. Sebentar lagi giliranmu," dia menasehatiku. Aku mengangguk. "Aku sudah siap."
Tepukan tangan penonton terdengar lagi. Tapi sekarang aku sudah tidak takut―sedikit, tapi akan kuusahan tidak. Setidaknya, aku punya janji yang harus kupegang. Dan lagi, hadiah kontes ini telah menungguku, aku tidak mau kehilangannya.
BoBoiBoy © Animonsta
Warning :
OOC, OC, AU, bahasa yang kurang dimengerti, humor garing, alur kecepatan, plot yang kurang dimengerti, typo(s)
[Alice]
Tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfic ini. Hanya kesenangan dan menuangkan ide yang menumpuk di otak. Author sangat meminta maaf jika ide sama.
.
Happy Reading
Aku hanya tersenyum senang mendengar penjelasan panjang yang diutarakan Kak Fajar. Aku sudah mengusai semua yang dijelaskannya, sedangkan Yaya mengedarkan seluruh pandangannya pada kelas ini, mencari kekurangannya. Dasar.
"Jadi, itu semua yang bisa saya jelaskan. Selanjutnya jika ada yang ingin bermain mini games, silahkan menemui teman saya." Dia menunjuk temannya yang berada di sudut ruangan dengan tumpukan hadiah-hadiah kecil. "Saya mohon undur diri," ucapnya sopan. Rombongan pengunjung yang sebenarnya tidak mengerti apa yang telah diterangkan oleh Kak Fajar segera mengerumuni temannya.
Yaya menarik tanganku. "Ayo, kesana! Kita bisa borong semua hadiahnya," katanya. Aku menggeleng. "Sebentar, ada yang ingin kutanyakan sama Kak Fajar." Yaya tersenyum penuh arti. "Hah, tentu saja. Kalau begitu aku duluan. Sampaikan salamku sama pacarmu yah~," dia berseru jahil. Aku hampir saja membunuhnya jika seseorang mendengar apa yang dia katakan.
Aku melangkah mendekati Kak Fajar. Dia berhenti dari aktivitasnya―buat laporan―, menyadari keberadaanku. "Oh, hai Ying. Bagaimana dengan standku? Apa kau menyukainya?" tanyanya ramah. Pipiku bersemu. "T-Tentu! Penjelasan kakak mudah dipahami."
Dia tertawa ringan, aku juga tertawa. Sayangnya aku tidak tahu apa yang dia tertawakan, maka dari itu, tertawaku menjadi garing. Gadis aneh, aku rasa Kak Fajar berpikir demikian.
Aku kembali teringan mengapa aku ingin menemuinya. "Boleh aku bertanya, kak?" Dia mengangguk. "Ada apa?"
Aku berusaha keras agar suaraku terdengar percaya diri. "S-Syal yang kakak pakai itu beli di mana?" Ini adalah pertanyaan simpel khas seorang fangirl yang orang paling bodoh di dunia pun tahu, pertanyaan ini mengandung maksud tersembunyi. Dia menyentuh syal merah yang melingkar manis di lehernya. "Oh, ini? Aku tidak membelinya. Temanku yang membuatnya." Entah mengapa dadaku terasa sesak. "Kenapa kau bertanya?" Kak Fajar balik menanyaiku. Aku semakin gelagapan.
"H-Habisnya rajutannya berantakan..." aku menjawab dengan suara sekecil yang aku bisa. Hening, lalu tiba-tiba saja Kak Fajar tertawa. Aku menatapnya kaget. "Ah, kentara sekali yah? Habisnya yang buat laki-laki sih." Aku menatapnya, rasa sesakku hilang. "Ini hadiah perpisahan yang dibuatnya sebelum dia pindah ke Kuala Lumpur," sambung Kak Fajar. Aku tersenyum, lalu mengangguk-angguk. "Terima kasih kalau begitu! Aku pamit dulu, Kak!" Dia membalas senyumku. "Sama-sama."
Aku berlari mendekati Yaya dan segera menyambar lengannya. "Astaga, apa kau baru saja meminum minyak panas? Wajahmu merah sekali," dia berkata kaget. Aku menempelkan telunjukku di bibir. "Diamlah. Aku hanya bersemangat dan aku sangat ingin memborong semua barang di sini." Senyum Yaya mengembang. "Itu baru Ying-ku! Baiklah! Ayo kita borong semua barang di sini!" Yaya berseru bersemangat. Aku menatapnya dengan mata berbinar, berpikir bahwa dia adalah pahlawan yang menyelamatkanku dari naga yang telah menculikku dan mengurungku selama bertahun-tahun, hingga aku sadar dengan tatapan orang-orang di sekitarku yang mendengar seruan aneh kami. Dan saat itu juga, aku merasa bangga dan jijik pada saat yang sama dengan orang di sebelahku ini.
―s.t.a.l.k.e.r―
"Kalian ini bagaimana sih? Aku sudah sempat khawatir jika kami tidak menemukan kalian. Dan sekarang kalian bermain-main hingga kalian kotor? Kalian pikir kalian anak-anak?" Yaya memarahi tiga pemuda di depannya. Mereka hanya tunduk, tak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya cuman BoBoiBoy dan Gopal yang tunduk, Fang tampak acuh tak acuh.
Gopal berusaha membuat alasan. "Maafkan kami. Kami tadi berjalan-jalan sekeliling lapangan—lihat gadis-gadis dari sekolah lain—tiba-tiba Pak Hasan menyuruh kami mengangkat kayu untuk api unggun. Kami tidak bisa menolak. Kau tahu kan seberapa seram Pak Hasan, kan?" Memang sih, Pak Hasan masuk dalam kategori guru yang harus dihindari. Tapi, entah karena apa, atau dia menggunakan jampi-jampi, kami bisa dekat dengannya. Mungkin karena kumisnya yang lebat.
Yaya menyilangkan tangannya di dada. Sepertinya dia masih tidak percaya. "Baiklah, aku memaafkan kalian." Gopal bersorak. "Tapi kalian masih membuatku kesal." Matanya menyipit. "Terutama kau, BoBoiBoy. Kau itu kontestan Raja, harusnya jangan sampai kotor." BoBoiBoy meminta maaf. "Sudahlah. Ini." Yaya memberikan kostum BoBoiBoy dan sehelai handuk. "Pergi, bersihkan dirimu di kamar mandi." BoBoiBoy menatap pemberian Yaya, lalu tersenyum manis. Beberapa fangirls berteriak histeris. "Terima kasih, Yaya," ucap BoBoiBoy. Yaya mengangguk, seperti mengatakan 'pergilah, kau harus bersih'. Dan begitulah, BoBoiBoy, ditemani oleh Gopal dan Fang, pergi membersihkan diri di kamar mandi.
Yaya mendekatiku. "Nah," katanya, "sekarang kau juga harus bergegas. Sebentar lagi acara dimulai." Dia menyerahkan kostumku. Aku menatapnya, kesal. "Kau tahu sebentar lagi acara dimulai, tapi kau baru sekarang menyuruhku mengganti baju?" Dia nyengir. "Ayolah. Aku bisa membuatmu menjadi cantik tak kurang dari lima belas menit. Lagi pula, siapa yang membuat kostum kalian tidak kurang dari satu minggu?" O.K, aku tidak bisa menang berdebat dengan Yaya.
Aku meraih kasar kostumku. Yaya tersenyum jahil di belakangku. Cih, dasar. Saat aku kembali dari kamar mandi, BoBoiBoy sudah kembali terlebih dahulu. Dan walau aku sudah pernah melihatnya dalam balutan kostum itu, aku masih terpesona olehnya. Dia dikerumuni oleh para gadis-gadis pendukung setia dan beberapa murid laki-laki di sudut ruangan berbisik-bisik, iri dengan pesona BoBoiBoy. Hei, aku telingaku tajam.
Gopal sadar akan keberadaanku. "Hei, Ying. Kau tampak cantik sekali," katanya memujiku. Aku tidak bisa mencegah pipiku untuk memerah. Hei, itu normalkan kalau gadis dipuji untuk merona? Aku berterima kasih padanya. "Ya, iyalah, Gopal. Siapa dulu dong yang buat bajunya," ucap Yaya. Gopal hanya mengiyakan ucapan Yaya.
Yaya melirik jam tangannya. "Ayo semua kita bersiap-siap. Sebentar lagi dimulai. Ayo cepat! Aku akan mengunci pintu," Yaya berseru pada kami semua. Kami dengan segera keluar dari pintu. Siapa yang mau terkunci di kelas sendirian? Apalagi kelas kami mendapat reputasi kelas yang memiliki hantu terbanyak. Gopal yangmengatakan itu.
―s.t.a.l.k.e.r―
Ini sudah ke sekian kalinya aku mengintip dari balik layar. Riasanku memang sudah selesai dari tadi. Tapi itu hanya berefek kecil untuk mengurangi rasa gugupku. Aku memandang wajah BoBoiBoy. Senyumnya masih sama, menawan. Pesonanya tersebar di mana-mana. Siapa yang bisa menolak? Dia pangeran sekolah, pujaan semua gadis. Tapi pangeranku bukan dia. Sorry, Kak Fajar lebih keren.
Aku kesakitan saat genggaman tanganku semakin menguat dikarenakan para kontestan Raja turun dari panggung. Yaya menyemangatiku agar tidak gugup. Semua orang di kelas juga melakukan hal yang sama. Kedua ujung bibirku tertarik sedikit. Bahkan Fang menyemangatikuku. Aku tidak tahan untuk tersenyum saat dia berkata 'Semangat' padaku. Memang judes dan singkat, setidaknya dia melakukannya. Hei, aku tersenyum karena dia baik padaku. Bukan hal yang lain, O.K?
BoBoiBoy menepuk pundakku saat dia turun dari tangga. "Aku mendukungmu, Ying," katanya mantap. Aku mengangguk dengan semangat. Dan semangat itu menghilang sedikit demi sedikit saat nama-nama kontestan Ratu dipanggil. Aku membatu saat namaku dipanggil. "Ying! Semangat! Jangan takut!" Aku menoleh dan menemukan Kak Fajar yang sedang melambaikan tangannya padaku. Sial, wajahku memerah. Aku berusaha melangkah tanpa bergetar. Aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku selama satu bulan dimarahi Yaya karena tidak bisa berjalan dengan baik layaknya seorang model. Tidak, aku tidak mau.
Apa yang ada di hadapanku benar-benar luar biasa. Aku, memang sejak kecil, jarang berdiri di panggung. Aku lebih suka berada di belakang panggung. Lebih menyenangkan mengatur orang dan membuat orang lain lebih terkenal dari pada kau. Karena orang itu akan berterima kasih padamu, walau orang lain tak tahu.
Aku menatap kontestan-kontestan lain. Tapi yang dinilai dari kontes itu hanya kostum yang kalian kenakan dan jawaban yang kalian berikan dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, kalimat Yaya terdengar lagi di kepalaku. Jika memang cuman itu aku pasti bisa menang. Kostum yang Yaya buat memang—harus kukatakan—berkelas. Jauh beda dengan kontestan lain. Tapi satu hal yang kukhawatirkan. Kontes ini seperti Fashion Show. Jika memang begitu... Aku takkan menang. Gadis-gadis di sekitarku itu... T-Tinggi, menjulang di atasku. Aku bagaikan bunga liar kekurangan sinar matahari di antara bunga-bunga Matahari yang menjulang. Tapi, untunglah, yang dinilai cuman kostum dan jawaban. Kalau tidak, mungkin aku sudah kalah sebelum naik ke panggung.
Aku sempat berpikir mengapa Yaya memilihku. Dia bisa saja memilih Suzy, Amy, atau Melody—ya, kami masih sekelas—atau kalau mau yang lebih greget: Fang. Dia cocok kok dengan gaun ini. Aku ingat, Yaya pernah berkata bahwa malaikat adalah hal yang imut. Lalu Gopal menanggapinya dengan imut adalah hal yang kecil, pendek-pendek. Aku rasa aku tahu bagaimana ujung kesimpulan ini.
Malaikat = Imut.
Imut = Pendek.
Pendek = Ying.
Aku akan memenangkan kontes ini.
Seorang juri mengambil microphone di meja. "Mari kita buka kontes bagi Ratu ini dengan perkenalan. Silahkan memperkenalkan diri kalian semua." Setelah perkenalan diri yang tidak singkat—dua belas orang itu lumayan lama—akhirnya juri mulai menanyakan pertanyaan khusus. Seperti: "Apa jenis masakan yang sering dimasak?" Aku hampir menjawab air, tapi tatapan teman-temanku sangat menyedihkan. Aku menjawab "Cheseecake" sebagai gantinya. Toh, aku tak berbohong. Pertanyaan-pertanyaan lain mulai dilontarkan. Hingga pertanyaan terakhir dipertanyakan. "Mengapa kalian semua mau mengikuti kontes ini?" tanya juri. Jawaban gadis-gadis itu klise semua. "Aku ingin membuat kelasku bangga." Atau, "Aku ingin turut berpartisipasi meramaikan acara ini." Kalau mau lebih meramaikan, lebih baik kau pakai baju hitam dan berteriak: "Saya teroris!" Akan dijamikan sangat ramai.
"Nona?" panggil sang juri. Aku tersadar dari lamunanku. "Mengapa kau mengikuti kontes ini?" tanyanya. Aku meraih microphone dengan mantap, mengedarkan tatapan penuh percaya diri ke arah penonton. Entah dari mana aku mendapat kepercayaan diri ini. Mungkin karena...
"Karena hadiahnya mahal."
Ekspresi para juri tak bisa dijelaskan. Dan yang terjadi selanjutnya adalah suara tawa dari para penonton. Yaya melotot, Gopal ayan, BoBoiBoy pingsan. Fang tak bergeming, tapi bibirnya bergerak. Mungkin dia berkata, "Bodoh." Entahlah, aku tak peduli.
Setelah semua gadis menjawab—sungguh sangat lama—juri kemudian membacakan hasilnya. "Kita mulai dari juara ketiga." Seluruh orang di gedung menutup mulut mereka. "Juara ketiga adalah..." Dia sengaja menahan kata-katanya. Sok mendramatisir, sangat tidak berpengaruh padaku. "Pasangan dari kelas X A, Richard dan Luna!" Tepuk tangan terdengar. Pasangan itu naik ke panggung. Yang laki-laki—Richard—memakai tuxedo hitam, dan Luna memakai gaun hitam selutut. Entah karena aku memang terlalu merendah atau karena pancaran kepercayaan diri mereka yang sangat besar, aku sempat menganggap mereka adalah kakak kelas.
"Baiklah. Kita akan melihat juara kedua." Kami kembali diam. "Juara kedua jatuh pada..." Dia kembali mengulangi perbuatannya. "Pasangan dari kelas XI C, Andy dan Evelyn!" Suara siulan dan tepuk tangan terdengar. Kedua sejoli itu berjalan malu-malu ke atas panggung. Ya, mereka memang sepasang kekasih. Hei, aku ini gadis remaja dalam masa kritis, tentu saja aku berhak menggosip.
"Baiklah. Saya akan membacakan juara pertama." Suaranya menggema di gedung. "Kami, dewan juri, sudah mempertimbangkan seluruh aspek dari pemenang. Dan pertimbangan kami jujur, murni, tak berpihak." Yaya menggeram di tempak duduknya.
"Kau kenapa?" tanyaku. Dia balas menatapku. "Juri itu terlalu bertele-tele." Aku terkekeh. "Mau bagaimana lagi, itu pekerjaannya."
"Langsung saja, juara pertama adalah: pasangan kelas XI A! BoBoiBoy dan Ying! Berikan mereka tepukan!" Aku menganga. Apa karena jawaban dengan nada pelit yang aku lontarkan beberapap menit yang lalu membuat kami menang? Aku menoleh, menatap wajah bangga BoBoiBoy. Aku lupa, BoBoiBoy bersamaku, tentu kami menang.
Juri itu membacakan hadiah-hadiah untuk para pemenang. Aku bersorak girang saat juri menyerahkan hadiahku. "Kau benar-benar bahagia yah?" ujar Richard. Aku menatapnya sengit. "Kakak."
Dia menunduk malu. "Maaf, kak."
"Tentu saja! Ini voucher gratis makan malam di restoran Prancis bintang lima!" kataku. Orang di sekitar panggung melirikku. "Jadi kapan kalian akan berkencan?" tanya Evelyn. Aku dan BoBoiBoy spontan menggeleng. "Tidak. Aku punya orang lain untuk kencan ini. Begitu pula dengan BoBoiBoy." Pemuda itu mengangguk, menyetujui pendapatku.
Kami segera disalami oleh teman-teman kami sesaat kembali ke tempat duduk. Banyak fangirls yang menyempatkan diri ber-selfie -ria dengan BoBoiBoy. Yaya memelukku dan mengatakan selamat. Aku tahu, aku harus berterima kasih padanya. Dia yang membuatku menang.
Kontes Raja dan Ratu telah selesai, selanjutnya pengumuman dari kepala sekolah mengenai stand terbaik. Aku yang sudah kembali ke tempat dudukku melirik Yaya. Matanya berbinar, penuh dengan keyakinan. Dia sangat ingin menang.
Siswa-siswi kelas XI A kembali ribut di kala kepala sekolah menyebut nama kelas kami sebagai stand terbaik. Yaya segera berlari ke atas panggung. Dia menghabiskan waktu sekitar lima menit untuk berpidato. Sepertinya dia memang sudah menyiapkannya. Suasana gedung kembali meriah, saat kepala sekolah menyerahkan piala pada Yaya. Kami segera mengerumuni dan memeluknya. Kami semua tertawa bahagia.
Di sela-sela suasana yang berbahagia ini, aku melihat dari sudut mataku. Wajah Kak Fajar yang tersenyum bangga. Aku membalas senyumnya. Sepertinya dia melihatnya, karena kedua sudut bibirnya semakin mengembang.
―s.t.a.l.k.e.r―
"Wow, harus kuakui kau sangat percaya diri tadi. Selamat yah." Aku mendapati Kak Fajar berdiri di sampingku. Aku mengangguk. "Terima kasih, kak. Aku juga tidak percaya. Semuanya mengalir begitu saja," kataku.
Derak api yang terbakar memenuhi kami. Begitulah pula dengan suara gitar dan alunan lirik-lirik cinta dari grup band sekolah. Banyak pasangan sekolah yang menari mengitari api unggun. Memang sudah jadi tradisi di sekolah ini untuk membakar api unggun sebagai penutup acara besar. Aku sempat melihat Richard dan Luna maupun Andy dan Evelyn menari di sekitar api unggun. BoBoiBoy bahkan melambaikan tangannya padaku saat dia menari bersama Merlin.
Kak Fajar mengulurkan tangannya. "Apa Ratu mau berdansa denganku?" katanya sopan. Aku melirik Yaya yang tengah diwawancarai pengurus majalah sekolah. BoBoiBoy sedang menari. Gopal sedang menggoda beberapa adik kelas. Fang? Aku tadi mendengar bahwa dia pamit pulang duluan.
Aku meraih tangannya. Tubuhku bergetar, dan perutku terasa terikat. Sensasi aneh itu datang. "Tentu."
Kami menari mengelilingi api unggun. Iringan musik juga semakin lama semakin romantis. Dan warna merah dari pipiku mulai merambat ke telinga dan leherku. Aku berusaha keras untuk tidak menatap wajah Kak Fajar. Karena jika aku melakukannya, wajahku akan sangat memerah dan akan terlihat aneh. Aku berusaha melihat ke sisi kirinya, dan di saat itulah, aku melihat secercah cahaya dari kaca jendela.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Kak Fajar. Ah, dia sangat peka. Aku menggeleng. "Tidak ada. Hanya saja, aku baru melihat cahaya dari kelasku." Dia mengikuti arah pandangku. "Tidak ada. Mungkin kau salah lihat, Ying." Aku menatap jendela kaca itu. Tidak ada yang muncul lagi. "Yah, mungkin kakak benar."
Alunan musik berhenti. Aku menunduk hormat padanya. "Apa kau masih bersedia satu dansa lagi?" pintanya. Tangannya terulur padaku. Tubuhku tidak akan memaafkanku jika kubilang tidak. Aku kembali meraih tangannya. Aku tak menjawabnya, aku hanya mengangguk kecil. Kak Fajar tak bersuara lagi. Ruang kosong di antara kami diisi dengan alunan musik dan derak lidah api. Aku tersenyum, menyesali kata-kataku selama ini. Kumohon, jangan berlalu. Tapi itu hanya permohonan belaka.
.
.
.
to be continued .
A/N :
Halo semua! Setelah satu bulan menelantarkan fanfiksi ini, akhirnya saya bisa update. Saya sangat meminta maaf. Belakangan ini waktu saya, saya curahkan untuk tugas membuat buletin sekolah. Tidak hanya itu, saya juga harus membuat presentasinya. Jadinya, waktu yang saya gunakan untuk menulis fanfiksi saya korbanku demi dua hal di atas. Dan lagi, bila chapter ini tidak memuaskan dan alurnya kecepatan, saya sangat menyesal.
Untuk Between I and Girl, terima kasih. Begitulah, saya suka romantisme yang munculnya bertahap. Untuk Nn. Cicely Anguish, TERIMA KASIH! Saya tidak menyangka kau bisa memujiku! Saya sangat tersanjung. BTW, pinjam namamu di sini yah? Sudah disamarkan kok. Oleh-oleh? Iya, baju kotor. Untuk Rika, ah, Rika-chan, aku tidak pernah mempermasalahkan keterlambatan review kok. Yang penting ada. Soal festival, iya, pengen juga sekolah adain yang begituan. Tapi, yah, sekolah saya sudah begini, dan saya tinggal di tempat terpencil, jauh dari hingar-bingar kota besar. Untuk kanazawa moya, wah, ternyata ada reader baru. Terima kasih yah sudah menyempatkan diri membaca fanfiksi ini. Iya, saya selalu berusaha kok. Untuk Haruko1212, s-sudah s-satu bulan. Kumohon, jangan ingatkan. Pairing yah? Saya ingin melihat kesimpulan Anda. Hehehe, maaf, saya orangnya memang gini.
O.K, karena chapter terakhir saya tidak membuat bonus, maka bonus chapter ini spesial! Bukan humor sih... Nikmati sajalah! Er, kalau misalkan sehabis baca bonus mau bunuh saya, jangan yah. Sebentar lagi Valentine...
Last word, review?
b.o.n.u.s.
Fang melangkah cepat melewati koridor sekolah. Sesekali berbalik untuk melihat apa ada yang mengikutinya atau tidak. Seluruh siswa-siswi sudah berkumpul menari-nari di sekitar api unggun. Tidak ada yang mengikutinya. Aman.
Kaki jenjangnya meniti anak tangga tanpa bersuara. Dia tiba di depan kelasnya. Tangannya segera mengambil kunci yang sudah dia siapkan, lalu membuka pintu kelas. Hei, dia itu bendahara kelas. Bendahara pelit.
Kakinya membawanya menuju dapur. Dia membuka kulkas kecil, lalu mengambil wadah ungu bertuliskan 'Milik: Fang' di tutupnya. Dia mengambil piring kecil dan garpu kue dari lemari. Lalu mengeluarkan isi wadah itu.
Cheesecake. Tidak, cheesecake ini spesial. Ini buatan Ying.
Dia membawa piring kecil itu menuju meja dekat jendela. Setelah mendapat posisi yang menurutnya bagus, dia mengeluarkan kameranya. Dia mulai membidik gadis itu. Ying. Nama gadis itu selalu menari-nari di otaknya, menganggu aktivitasnya setiap waktu. Dia belum mendapat momen yang tepat. Gadis itu masih membelakanginya. Senyumnya sedikit mengembang saat gadis itu celingukan melihat ke sana ke mari.
"Bodoh." Tak sengaja, kata itu meluncur dari mulutnya. Tapi senyumnya semakin mengembang. Dan gemuruh di dadanya semakin menjadi-jadi.
Senyumnya sirna saat Fajar mendatangi gadis itu. Dia selalu benci tatapan mata yang diberikan Ying untuk Fajar. Dia tidak pernah suka. Dia benci bagaimana cara Ying menjawabnya pertanyaan yang dilontarkan Fajar. Dia benci bagaimana cara Ying berjalan di sampingnya. Dia benci bagaimana cara Ying tersenyum padanya.
Senyum manis Ying seharusnya adalah miliknya.
Dia terkekeh. Kekehannya terdengar menyedihkan. Mana mungkin pengecut sepertinya bisa mendapatkan seseorang seperti Ying? Kecemburuan mulai menampakkan dirinya di kala Fajar mengajak Ying berdansa. Setidaknya dengan cara ini, dia bisa mengambil gambar Ying.
Perlu keinginan dan kesabaran yang besar untuk mengambil foto Ying sekarang. Senyumnya benar-benar cantik. Dan wajahnya memerah. Tapi dua hal itu bukan untuknya. Untuk Fajar. Fang berdecih pelan.
Dia menekan tombol kameranya. Di saat itulah, dia tahu, dia harus lebih berhati-hati lagi.
Dia lupa mematikan blitz kameranya. Dan Ying menyadari itu.
Fang terkena serangan panik. Dia segera menunduk dari kaca. Kedua telapak tangannya menjadi dingin. Derak api dari lantai bawah mengisi keheningan kelas. Dia mengintip. Mata biru Ying masih menatap ke arahnya. Ya, setidaknya kelas mereka.
Mata biru itu tidak menatapnya lagi. Mata biru itu beralih pada Fajar. Fang sudah bisa tenang lagi. Dia kembali terduduk di bangkunya. Sekarang, dia sudah tidak ada niatan untuk mengambil fotonya. Fang cuman akan mengawasinya malam ini. Dia menopang wajahnya dengan sikunya, dan menyuap Cheesecake perlahan-lahan.
Satu lagu selesai. Ada jeda kosong di antara itu. Fang menatap Ying penuh harap. Ying tengah menatap tangan Fajar. Dan segera meraihnya.
Fang mendesah frustasi. Telapak tangannya menutup matanya. Tidak, tidak lagi.
Dia kembali mengawasi gadis itu. Senyum yang sama masih menempel di wajahnya. Fang tahu, besok dia akan bangun kesiangan, tapi, apa momen seperti ini pantas disia-siakan? Fang menggeleng. Tentu saja tidak.
Senyum Ying masih sama. Orang yang ditujukan senyum itu masih sama. Fang menyentuh kaca jendela. Kaca itu menampakkan Ying.
Dengan suara berat Fang berkata, "Gadis bodoh," dia berhenti.
"Ying-ku..."
Suara derak api terdengar, bersama dengan alunan musik nan mesra. Lirihan Fang tak akan pernah terdengar. Sirna, layaknya angin malam yang dingin.
