Saya bukan pemilik Naruto atau One Piece!

Heart Of Sword – Jejak Kehidupan!


Negara Besi

Dua Hari Sebelum Kematian Miyamoto Seiji

Dalam ruangan remang yang hanya disinari oleh cahaya lilin, nampak seorang pria berjenggot panjang tengah sibuk menorehkan tinta. Pria berambut panjang yang terlihat mulai memutih ini nampak begitu serius menggerakkan tangannya menuntun kuas yang digunakannya untuk menulis. Terdapat kerutan pada kulit wajahnya, membuktikan bahwa dia telah memasuki usia tua. Pandangan mata penuh semangat namun disertai kebijaksanaan.

SRET

Kuas kembali menari di atas kertas putih, konsentrasi tidak pernah meninggalkan aktivitas pria ini. Menggerakkan kuas dengan indah, dan sesekali membasahi unjung kuas kembali dengan tinta hitam di pojok meja.

Pria bernama Mifune ini merupakan pemimpin samurai Negara Besi. Dia tengah sibuk berlatih kaligrafi untuk mengisi waktu senggangnya.

Pofff

Sebuah asap muncul secara tiba-tiba di samping Mifune. Dia segera meraih kata yang bersandar di samping meja kerjanya, tetapi niatnya diurungkan saat melihat seekor Bunglon kecil berwarna hijau merangkak mendekatinya. Mifune bisa melihat sebuah gulungan kecil berwana merah pada punggung Bunglon tersebut.

"Miyamoto..." Mifune mengulas senyum tipis di wajahnya saat menyadari siapa pengirim Bunglon tersebut, sambil meraih gulungan dari punggung sang Bunglon.

Namun senyuman di wajahnya luntur saat dia membaca isi gulungan tadi. Pemimpin samurai Negara Besi itu segera beranjak dari duduknya, sambil meraih katananya. Tantas berjalan meninggalkan ruangannya.

Sedangkan gulungan tadi masih tetap terbuka lebar di atas meja :

Kepada temanku, Mifune-dono.

Aku harap, Mifune-dono dan yang lain dalam keadaan baik. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa kepulanganku ke Negara Besi mungkin akan tertunda, karena kemarin aku dan Naruto merasakan adanya seseorang yang mengikuti kami. Hari ini aku bisa memastikan bahwa yang mengikuti kami adalah Bounty Hunter dari luar Kontingen Elemental, dan salah satu dari mereka merupakan pemakan Buah Iblis.

Aku tidak tau apakah bisa keluar hidup-hidup dari pertarungan, tetapi akan aku usahakan untuk Naruto bisa keluar dengan selamat. Anda tidak perlu mengutus seseorang untuk membantuku, ini merupakan urusanku dan tidak ingin kalau Negara Besi tercemari oleh masalah ini.

Namun jika dalam tiga hari ke depan kami tidak mengirim kabar lagi, angap saja bahwa kami telah gugur.

Miyamoto Seiji.

P.S.

++ Pak Tua Mifune, sampaikan salam rinduku pada Miya-nee. Dari Miyamoto Naruto.

Wajah Mifune tampak sendu. Sesekali dia memperhatikan butiran salju yang masih saja turun di malam hari. Negara Besi merupakan daerah terselimuti oleh salju, tetapi memiliki penduduk dengan hati yang sulit untuk membeku.

"Miyamoto Naruto, ya?" Mifune kembali menghiasi wajahnya dengan senyuman, dia teringat kembali pada pertemuan pertamanya dengan bocah pirang yang sudah dianggapnya sebagai keponakan sendiri.

Mifune pertama kali bertemu dengan Miyamoto muda sejak lima tahun lalu. Saat teman lamanya kembali menginjakkan kaki di Negara Besi setelah lama mengembara. Dia sama sekali tidak menduga kalau temannya, Miyamoto Seiji, kembali dengan seorang anak laki-laki yang memanggil temannya dengan panggilan ayah. Namun Mifune bisa melihat adanya cahaya kebahagian mengisi pancaran mata temannya. Cahaya yang telah lama menghilang, dan tidak pernah nampak sejak kedatangan pertama kali di Negara Besi.

Mifune ingat betul bagaimana Naruto membuat keributan, bocah pirang hiperactive itu selalu bisa membuat orang-orang mengulas senyum bahkan kembali tertawa saat dilanda kesedihan.

Akan tetapi Mifune juga merasa bangga melihat perkembangan Naruto. Dia merupakan guru yang mengajari Naruto memanipulasi chakra maupun nature. Sekalipun tidak memiliki kesempatan untuk mengajari bocah pirang itu dalam menggunakan pedang karena diambil alih oleh Miyamoto Seiji, tetapi rasa bangga tetap bisa dirasakannya saat Naruto mampu menguasai chakra elemen angin dan menyalurkannya pada katana.

Selain itu, Mifune juga mengajari Naruto tentang Fuuinjutsu. Bidang inilah yang benar-benar membuatnya terkejut terhadap Naruto, karena Miyamoto muda itu bisa mengusai apa yang diajarkannya dengan cepat. Layaknya Fuuinjutsu terbuat untuk melengkapi hidup Miyamoto Naruto.

Para samurai di Negara Besi menggunakan Fuuinjutsu untuk mempermudah kehidupan sehari-hari, tetapi Naruto mampu mengembangkan fungsi dasar itu menjadi lebih dari sekedar unsur/teknik pelengkap. Seperti segel darah, digunakan sebagai penjaga kepelikan sah sebuah katana maupun peralatan tempur lainnya. Segel suhu kini terpasang disetiap armor para samurai untuk tetap menghangatkan tubuh dari cuaca dingin Negara Besi. Segel kedap suara untuk menjaga kerahasiaan dalam pertemuan, segel penahan chakra untuk menahan penggunakan chakra bagi tahanan ninja serta masih banyak segel lain yang dihasilkan oleh Naruto sejak memahami fungsi Fuuinjutsu.

"Mifune-sama. Daimyo-sama ingin menemui anda." Mifune tersadar dari lamunannya saat mendengar salah satu bawahannya menyampaikan berita tentang kedatangan Daimyo.

Mifune menutup matanya sejenak, lantas kembali mengulas senyum tipis. "Baiklah." Tuturnya sambil melangkah menuju ruang pertemuan. Namun setelah beberapa langkah, Mifune kembali terhenti. "Okisuke, tolong kirimkan 3 orang terbaikmu untuk menemui Miyamoto Seiji dan Naruto di Negara Jamur! Seiji mungkin buronan di luar Elemental, tapi di sini dia adalah rekan. Perintahkan untuk tidak ikut campur jika tidak dibutuhkan, tapi tebas jika ada yang menyakiti rekan kita." Pemimpin samurai Negara besi itu kemudian melanjutkan langkahnya, dan segera menuju ruang pertemua.

"Baik." Balas seorang pria botak yang memiliki bekas sayatan pada mata kanannya.


Negara Jamur

'El Ball'

BOMMM

"Ugh..." Naruto menahan sengatan listrik/petir. Tetapi dia berhasil mengalirkan petir ke tanah dengan katana-nya untuk mengurangi efek serangan Kaminari.

"HAHAHA... rasakan itu Bocah." Tawa lepas keluar dari mulut Kaminari.

"Huff... huff... hehehe..." Naruto justru melepaskan tawa lirih di sele-sela napasnya yang memburu. "Hanya inikah... yang kau miliki?"

Naruto dan Kaminari sudah bertarung selama 30 menit tanpa henti. Keduanya terlihat penuh luka, pakaiannya terlihat penuh robekan. Baik dari tebasan Naruto maupun serangan petir milik Kaminari.

"Jangan meremehkanku bocah! Setelah aku remukkan semua tulangmu... akan aku jual kau sebagai budak." Balas Kaminari.

"Budak?" Pandangan mata Naruto langsung mengeras saat mendengar perkataan Kaminari. "Tidak, jika kau mati di sini! Di tanganku." Dia lantas menyarungkan katana serta wakizashi-nya.

Pandangan Naruto menajam, dengan iris mata yang sekilas nampak memerah, sambil mengambil kuda-kuda iaido.

"Kau, membunuhku? Hahaha... memangnya apa yang bisa kau lakukan, Bocah Ingusan?" Meskipun nampak tenang, tetapi Kaminari sempat merasakan ketakutan untuk sesaat begitu melihat pandangan tajam bocah samurai.

"Kita lihat saja... aku datang..."

'Shuntensatsu'

Dalam sekejap Naruto sudah meninggalkan tempatnya, dan berada di depan Kaminari sambil mengayunkan katananya dengan kecepatan tinggi. Tetapi Kaminari berhasil menghindarinya dengan berpindah kebelakang Naruto menggunakan armor petir.

"Kena kau..." Kaminari memusatkan petir pada kedua tangannya yang ditangkupkan, dan siap memukul Naruto sepenuh tenaga.

'El Ham...'

JLEP

"Ugh..." Kaminari menghentikan serangannya saat merasa sakit pada dada kirinya. Dia bisa melihat bocah kecil yang hendak diserangnya tadi menusuk dada kirinya dengan wakizashi menggunakan tangan kiri. "Bangsat... [batuk darah]" Menggunakan tenaga yang masih tersisa, Kaminari mencoba meremas kepala Naruto.

Sedangkan Naruto yang menyadari bahwa serangnya masih belum cukup menghentikan mobilitas musuhnya, segera menggunakan 'Shukuchi' kembali dan berpindah ke samping Kaminari. Dia lantas menganyunkan katana yang telapisi chakra elemen angin keatas sambil melompat tinggi dan menebas leher sang Kapten Bounty Hunter Kaminari.

SPLAH

BUG

Darah bercucuran keluar dari bekas tebasan Naruto pada leher Kaminari. Sedangkan kepalanya terjatuh lebih dulu ke tanah, sebelum diikuti dengan rebahnya tubuh gendut tanpa kepala Kaminari.

"KAMI-SAMA!" Teriak kru Kaminari.

Semua kru Bounty Hunter Kaminari melebarkan matanya saat melihat kapten mereka tumbang di tangan seorang bocah. Mereka sama sekali tidak menduga kalau pertarungan kaptennya akan berakhir seperti ini.

Sedangkan Naruto kini hanya bisa berlutut sambil bertumpu pada katananya. Tubuhnya terasa lemas dan nyeri, bahkan seluruh tubuhnya mulai gemetaran karena menerima banyak serangan petir Kaminari. Namun sekalipun memenangkan pertarungan, bocah pirang itu justru mengulas senyuman sedih pada wajahnya.

BRUK

Tubuhnya terjatuh ketanah, dan pandangannya memburam. "Ugh... tubuhku terasa lemas. Aku tidak kuat lagi. Tapi masih banyak para Bounty Hunter disini, apa yang harus aku lakukan?" Pikir Naruto sambil merlirik para Bounty Hunter. "Kenapa semuanya jadi seperti ini? Andai saja kita tidak meninggalkan Negara Besi, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Maafkan aku ayah..." Naruto merasakan kelopak matanya begitu berat, dan memaksanya untuk segera menutupnya.

~oOo~

Lima Bulan yang Lalu

Negara Besi

Salju!

Hujan salju nampak tidak ada hentinya turun.

WUSH

Terlihat seorang bocah pirang terus mengayunknan padang kayu [bokken] yang tergenggam erat di tangannya. Peluh nampak membasahi kain kimono putih yang dikenakan sang bocah meskipun beraktifitas di tengah dinginnya salju.

"Naru-kun~" Terdengar suara merdu dari seorang gadis yang nampak lebih tua dua atau tiga tahun dari sang bocah, duduk di tepi teras rumah. "Istirahatlah dulu! Aku membuatkan teh untukmu."

WUSH

"Sebentar lagi Miya-nee." Balas sang bocah sambil terus mengayunkan bokken-nya.

Miya-nee. Naruto memanggil gadis cantik berusia tidak lebih dari 13 tahun itu. Gadis penerus klan Busujima itu memiliki rambut ungu yang digerai hingga pinggulnya, mata ungu kemerahan, berkulit putiuh, dan tentu saja di sertai wajah cantik sebagaimana anggota wanita Klan Busujima lainnya.

Gadis kecil nan cantik itu mengenakan yukata putih, dengaan bawahan berwarna ungu. Senyum manis tidak pernah luluh menghiasi wajahnya.

"Naru~" Terdengar nada suara Miya berubah.

"Hai..." Balas Naruto tanpa menyadari peluh di wajahnya semakin deras bercucuran setelah mendengar suara yang digunakan Miya terdengar lebih berat. "Aku datang!" Dia langsung menghentikan aktivitasnya dan beranjak mendekati gadis yang sedari tadi telah memanggilnya.

Seteah membasuh tangannya, Naruto mendekati teh serta makanan ringan buatan Miya. Dia menikmati suguhan dalam diam.

"Naru-kun, memangnya kau tidak bisa menggagalkan kepergianmu?" Miya memulai percakapan sambil memandang jauh kedepan, entah apa yang mengambil perhatian gadis muda itu.

"Hem... aku ingin melihat dunia. Ayah sering menceritakan petualangan-petualangannya. Setidaknya, sebelum aku berjalan pada satu titik dari kisah yang di suguhkan dunia... aku ingin melihat dasar warna apa saja yang mewarnainya." Balas Naruto penuh semangat. "Dan tentunya, kembali lebih kuat lagi agar aku bisa melindungi Miya-nee." Senyuman lembut terulas di wajah pria muda itu.

Sesaat wajah cantik Miya tampak sedih, namun segera terhapus begitu mendengar perkataan akhir Naruto. "Benarkah?" Gadis kecil itu mengulas senyum termanisnya.

Naruto mengerjapkan matanya saat melihat kecantikan gadis di dekatnya. "Hem..." Sehingga hanya anggukan pelan yang mampu membalas pertanyaan sang gadis. Tanpa disadari, rona merah tipis menghiasi kedua sisi pipi Miyamoto muda itu.

Miya lantas menarik lengan kanan Naruto, dan mengaitkan jari kelingking masing-masing. "Aku berjanji akan selalu setia menunggumu. Tidak akan ada laki-laki lain yang bisa memilikiku. Jadi, cepatlah pulang dan bertambah kuat!" Tukasnya. Lantas dia memandang Naruto yang hanya tertegun dengan mata melebar.

"Naru~"

"Ya." Naruto segera kembali ke alam sadar saat mendengar namanya di panggil oleh Miya. Beberapa peluh terlihat berjatuhan saat gadis cantik di hadapannya memandangnya dengan tajam.

"A-a-aku BERJANJI AKAN SELALU SETIA DAN MENERIMA MIYA APA ADANYA."Karena gugup, Narurto justru berteriak keras saat berbicara.

"Fufufu~" Miya hanya terkikik melihat tingkah Naruto. Gadis itu justru meraih lengan Naruto dan mendekapnya dalam pelukan. Dia lantas menyandarkan kepalanya di pundak Naruto, sambil mengulas senyum penuh kemenangan.

Hening...

Keduanya menikmati apa yang mereka lakukan dalam diam.

"Miya-nee..." Suara pelan Naruto membuka kembali percakapan.

"Hem~" Gumam pelan Miya yang menutup matanya, sambil menikmati hangatnya lengan serta pundak Naruto di dinginnya balutan salju Negara Besi.

"Aku ingin ke toilet."

BRAK

Terdengar suara keras dari dalam kediaman yang di tempati Naruto. Tetapi kedua anak muda berlain jenis itu tidak ada yang mengetahui pembuat/sumber suara.

Sedangkan Naruto sendiri hanya bisa terdiam kaku dalam duduknya saat melihat tatapan Miya. "Mi-Miya-nee?"Ucap Naruto terbata.

Namun yang ditanyai tidak menjawab, melainkan langsung berdiri dan beranjang meninggalkan Naruto seorang diri.

"Huh? Ada apa dengannya?" Tukas Naruto sambil memasang wajah penuh kebingungan. "Hah... perempuan itu memang merepotkan!" Dia lantas beranjak pergi ke TOILET.

~oOo~

"Ugh..." Erang pelan Naruto. Pandangannya kini menggelap, dengan tubuh yang tidak bertenaga. "Maafkan aku, Miya-nee. Sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku." Hanya itu yang terpikir di kepalanya sebelum kesadaran meninggalkannya.


Desa Konoha

WUSH

Angin bertiup lembut, membelai rimbunnya pepohonan hijau Desa Konoha. Salah satu dari lima Desa Ninja Tersembunyi terbesar yang berdiri di belahan Negeri Elemental. Desa ini didiami oleh banyak populasi manusia, bahkan nampak sebagian besar dari mereka tengah sibuk melakukan aktifitas masing-masing di siang cerah.

Anak-anak dapat bermain dengan gembira, murid belajar giat di akademi, tetua terlihat asik bersenda gurau, bahkan penjual menawarkan barang dengan penuh senyum.

Namun satu tempat yang nampak suram adalah saat kita memasuki Kantor Hokage, tempat Pemimpin Desa Konoha.

Srek Srek Srek

Blam

Suara seseorang tengah sibuk membolak-balikkan tumpukan kertas serta hentakan sebuah stampel.

Nampak seorang pria paruh baya tengah sibuk berkutat dengan tumpukan kertas. Pria berambut pirang tersebut terlihat serius namun nampak lesu tanpa semangat. Mata birunya redup, seakan terisi penuh oleh keputusasaan.

Pria yang duduk dikursi Hokage itu adalah Namikaze Minato, Pemimpin Keempat Desa Konoha. Semenjak dirinya menerima jabatan Hokage, dia selalu disbukkan dengan berbagai administrasi desa. Dia sempat heran, mengapa desa ninja penuh kediktatoran ini pemimpinnya jutru sibuk berkutat dengan lembaran kertas di balik meja kerjanya.

Belum lagi jumlah tumpukan kertas itu justru semakin bertambah setiap harinya semenjak mengamuknya Kyuubi di Konoha 10 tahun yang lalu. Minato terkadang merasa kalau keputusan menggagalkan penggunakan segel Shiki Fujin pada penyegelan Kyuubi adalah langkah yang salah. Karena jika dia memakainya, setidaknya akan terbebas dari semua kertas-kertas di depannya, terlebih lagi merepotkannya rapat bersama Tetua Desa.

"Kyuubi..." Gumam pelan Minato sambil menghentikan kegiatannya untuk sejenak. "Naruto, dimana kau sekarang nak?" Batinnya.

Ketika mengingat kembali kejadian malam mengamuknya Kyuubi, Minato akan selalu teringat putra pertamanya, Namikaze Naruto. Yondaime Hokage ini selalu menyalahkan dirinya mengenai tragedi yang menimpa putra pertamanya itu. Karena setelah menyelamatkan Naruto, dia langsung membawa putranya itu kembali kekediaman miliknya. Tetapi saat Minato kembali setelah menyelamatkan Kushina dari Manusia Bertopeng, Naruto sudah tidak lagi ditemukan di kamar terakhir dia melihatnya. Parahnya lagi, dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa karena Kyuubi mulai menghancurkan desa. Dia harus memilih antara menyelamatkan desa dari amukan Kyuubi atau mencari kemana hilangnya Naruto.

Hal yang membuat Minato benar-benar menyesal adalah dia memilih desa tanpa ragu sedikitpun, dan mengabaikan keberadaan serta keselamatan putra pertamanya itu. Hingga pada akhirnya dia harus kehilangan Naruto sampai saat ini, atau mungkin selamanya. Pencarian terus dilakukan sampai sekarang, namun masih juga belum membuahkan hasil. Setiap ninja yang menjalankan misi diminta untuk membantu pencarian, agen pengintai milik Jiraiya juga dikerahkan untuk mencari informasi tentang putranya, tetapi semua nihil. Tidak ada satupun dari usaha yang dilakukan membuahkan hasil.

Sedangkan Desa Konoha sendiri sudah mulai membaik setelah kehancuran sebagian besar bangunan desa akibat amukan Kyuubi. Beruntung malam itu Hiruzen, Jiraiya maupun Tsunade berada di Konoha, sehingga proses penyegelan Kyuubi kembali ke tubuh Kushina bisa berjalan lebih mudah dengan resiko lebih kecil. Mereka ber-4 menggunakan teknik penyegel 'Shishou Fuuin', dengan harapan Kushina dapat segera pulih kembali setelah menerima chakra milik Kyuubi serta di kemudian hari bisa menggunakan chakra Kyuubi secara keseluruhan. Awalnya Minato berencana menyegel Kyuubi pada tubuh Naruto, tetapi karena putra pertamanya itu menghilang... mau tidak mau dia harus mencari alternatif lain. Sehingga menghasilkan solusi untuk menyegel kembali Kyuubi pada istrinya sendiri.

Kushina sendiri menyetujui keputusan suaminya, terlebih lagi keputusan itu terlihat lebih baik dari pada membiarkan Naruto yang menanggungnya. Dia tidak akan membiarkan anaknya tersiksa dan merasakan penderitaannya sebagai Jinchuriki selama dia masih hidup dan ada jalan lain. Kushina tahu bahwa anaknya akan diasingkan saat orang-orang mengetahui keadanya sebagai wadah pengekang Kyuubi, sehingga dia dengan senang hati menjadi Jinchuriki kembali untuk menghindari hal itu. Semenjak saat itu, Kushina selalu mengurung dirinya di kamar yang disiapkan untuk putranya. Dia benar-benar terpukul dengan hilangnya Naruto.

Minato masih ingat bagaiman istrinya sampai jatuh sakit dan tidak sadarkan diri lebih dari 2 minggu. Namun berkat bantuan Uchiha Mikoto, Hyuuga Hitomi, Nara Yushino selaku teman Kushina, berangsur istri Yondaime Hokage mulai membaik. Terlebih dengan adanya Yamanaka Inoichi yang membantu terapi psikologinya.

Senyuman tipis mulai menoreh kembali di wajah cantik Kushina. Muskipun belum sembuh secara total, tetapi wanita keturunan Klan Uzumaki itu bisa menjalani hidupnya dengan normal.

Hingga 6 bulan kemudian mereka...

BRAK

"AYAH!" Teriak dua orang bocah yang terlihat memasuki usia ke-8. Kedua bocah tersebut langsung berlari dan memluk sang Yondaime Hokage.

"Uwah..." Minato terkesan seakan-akan kaget melihat kedatangan putra-dan putrinya. Yah... Setahun setelah hilangnya Naruto, Minato dan Kushina kembali dikaruniai anak. Tepaynya, anak kembar... laki-laki dan perempuan. "Bagaiman hari kalian? Dan dimana Ibu?" Tukas sang Yondaime Hokage.

"Baik. Ibu ingin berbelanja keperluan untuk makan malam, jadi manyuruh kami untuk datang kesini lebih dulu." Jelas kedua bocah tadi bersamaan.

Tertua dari anak kembar tersebut adalah Namikaze Shiina. Memiliki rambut merah layaknya sang Ibu, tetapi dikaruniai mata biru ayahnya. Gaya rambutnya juga menyerupai sang ayah, bahkan sifatnya pun lebih mirip Minato. Andai saja Shiina memiliki rambut pirang, maka bisa dibilang bahwa dia adalah minato dari masa lalu.

Sedangkan anak kembar termuda, selisih beberapa menit adalah Namikaze Kusano. Gadis kecil ini memiliki rambur pirang ayahnya, tetapi di karuniai mata ungu seperti ibunya. Gaya rambutnyapun mengikuti milik ibunya, lurus tergerai panjang hingga pinggulnya.

"Ayah, kapan akan mengajari kami teknik ninja?" Tanya Shiina penuh antusias.

"Iya. Aku sudah tidak sabar. Belum lagi tidak lama semester baru akademi akan dimulai." Tambah Kusano.

"Ahahaha..." Minato hanya bisa tertawa nerfes, sambil menggaruk kepalanya bagian belakang. "Kenapa kalian tidak meminta ibu lebih dulu?" Elaknya.

"Mou..." Kusani kini tanpak cemberut, dengan pipi yang digembungkan sehingga menambah keimutan wajah gadis kecil itu. "Ibu sudah mengajari gerakan awal Kata Taijutsu. Tapi kami kan juga punya ayah yang kuat, jadi apa salahnya kalau meminta ayah dan ibu mengajari kita. Benarkan, Shiina-nii?" Jelas Kusano.

"Kalau aku sih..."

"Shiina-nii!" Kusano langsung memandang tajam kakak laki-lakinya. Dengan artian 'tidak setuju, kau mati!'.

"Hem... hem..." Shiina langsung mengangguk dengan cepat berkali-kali untuk menyutujui usulan adik 'manisnya'.

"Hah... baiklah-baiklah." Minato menyetujui permintaan kedua anaknya. "Bagaimana kalau besok mulai latihannya? Hari ini biarkan ayahmu ini menyelesaikan semua tumpukan kertas tidak berguna ini."

"Hem? Kalau tidak berguna kenapa tidak dibakar saja, Yah?" Tanya Kusano penuh kepolosan. "Jadi kita bisa latihan hari ini." Lanjutnya.

"Hahaha... andai saja semudah itu, Ku-chan..."

Seorang wanita berambut merah memasuki ruang Hokage, dan menghentikan percakan antara ayah dan anak tadi. "Minato." Tukas wanita itu.

"Kushina, sudah seleai belanjanya?" Balas pria tertua dari Klan Namikaze.

"Ibu!" Tukas kedua bocah Namikaze tadi bersamaan.

"Ku-chan, Shi-chan." Kushina menyambut kedua anaknya dengan senyuman. "Yah. Baru saja selesai, dan aku langsung kesini. Sepertinya bukan hanya anak-anak kita yang dari klan akan masuk ke akademi ninja."

"Benarkah?" Minato terlihat tertarik dengan informasi yang dibawa Kushina.

"Hem... putra terkecil Fugaku, putri tertua Hiashi, Nara, Yamanaka, Akimichi, Aburame, bahkan anak laki-lakinya Tsume juga masuk tahun ini." Tambah Kushina.

"Hem... jadi hampir semua penerus Klan di Konoha masuk tahun ini ya? Apa..."

"Yo!" Terdengar suara baru berasal dari pintu jendela Kantor Hokage.

Minato bisa melihat seorang pria paruh baya berambut putih mengulas senyum lebar. Pria tadi adalah Jiraiya, guru milik Minato.

"Ero-sennin!" Tukas kedua Namikaze muda.

"Bocah! Siapa yang mengajarimu memanggilku seperti itu?" Bentak Jiraiya.

"Sensei? Tumben kau kembali ke Konoha. Biasanya kau hanya mengirim surat lewat Katak Pengirim Pesan."

"Ah... Soal itu..." Jiraiya kini menampakkan wajah serius dari biasanya. "...aku menemukannya."

BRUK

Barang belanjaan Kushina langsung jatuh, dan isinya berhamburan begitu mendengar perkataan Pria Paling Mesum di seluruh Negeri Elemental.

"Naru... to." Kata itu keluar dari mulut Kushina dengan bibir yang terus bergetar.


Kapal Bounty Hunter Kaminari

"Ugh..." Rintih pelan keluar dari mulut kecil seorang bocah. Mata biru mulai mendapatkan kembali cahaya penglihatannya.

Tubuh kecilnya mulai bangkit dari tempatnya terbaring, mata mulai menjelajah mengawasi tempat sekitar yang tampak remang-remang. Terkurung dalam jeruji besi, dengan tangan terpasung oleh papan.

"Ugh... tubuhku sakit semua." Tutur pelan sang bocah. "Tapi, dimana ini?" Tetapi pandangan bocah itu langsung beralih ke samping penjaranya. Dia bisa merasakan keberadaan seseorang meskipun matanya masih kesulitan untuk melihat di dalam gelap.

PROK PROK PROK

"Bravo... bravo... kau sudah bangun bocah?" Ucap seseorang yang terbungkus oleh kegelapan.

Clik

Seketika seluruh ruangan di penuhi oleh cahaya penenrang. Tampak seorang pria berambut hitam dengan tubuh kekar memandang datar sang bocah.

"Aku tidak menyangka kalau kau bisa mengalahkan Kami-sama, Bo..." Pria tadi langsung menghentikan ucapannya saat melihat pandangan tajam sang bocah. "Ehm... Siapa namamu?"

Bocah tadi terus memandangi pria itu, dengan pandangan penuh analisis. Tetspi sesaat kemudian ekpresinya berubah menjadi bosan.

"WOI... KAU..."

"Miyamoto Naruto. Kau Sengo, kan?" Potong Naruto dengan nada penuh kebosanan. "Jadi, kenapa aku ada di sini? Dan kalian kemanakan tubuh ayahku?"

"Hahaha... jadi kau mengingat namaku ya! Bagus... bagus..." Sengo menyeringai lebar. "Karena kau telah membunuh banyak anggota kami, aku tidak bisa memaafkanmu. Tetapi kau telah membunuh Kapten Breksek itu... jadi, aku tidak akan membunuhmu. Namun aku akan menjualmu di Pasar Budak Shabondy Archipelago, dan untuk tubuh ayahmu akan kami tukarkan Bounty-nya." Jelas Sengo.

"Hem..." Naruto memandang Sengo dengan ketidak tertarikan.

"Makanlah ini!" Sengo menyerahkan semangkuk bubur pada Naruto.

TRANK

Tetapi mangkok bubur tadi pecah bersamaan saat Sengo menjatuhkannya kelantai. "Aku tidak ingin budak yang akan aku jual menjadi kurus. Pastikan menjilatinya sampai bersih, ya! Hahahahaha..." Tawa sengo terus terdengar meskipun pria anggota Bounty Hunter itu sudah keluar dari ruang dek penjara kapal.

"Tch..." Decih Naruto melihat perlakuan Sengo. "Akan kupastikan kau dan yang lainnya tidak bisa melihat mentari esok hari." Tukasnya sambil menggerakkan lengannya menyusuri tubuhnya sendiri. Seingatnya dia masih menyimpan sebuah apel, bekal yang selalu tersedia saat dia akan bepergian.

"Ah... ini dia." Naruto bisa merasakan bahwa memang masih memiliki sebuah apel di bagian pinggul sampingnya. Dia terus berusaha sekuat tenaga menggunakan lengannya mengeluarkan buah itu, Naruto sama sekali tidak berniat untuk menjilati bubur yang telah tumpah di lantai.

DUG

"Heh?" Naruto mengerjapkan matanya sekali.

Sekali lagi.

Dan sekali lagi.

Tetapi buah apel berwana merah yang dibawa sebelumnya telah berubah warna. Menjadi kuning...

Bukan hanya itu, buah kuning itu juga memiliki motif aneh. Bahkan bentuknya pun sedikit berubah, terlihat oval.

"Apa aku tidak salah bekal?" Naruto kembali menggeledah bagian dalam kimononya, tetapi hasilnya tetap nihil. "Ini, beracun tidak ya?" Dia menganalisis buah baru itu dengan seksama, dan hasilnya tetap saja... dia belum pernah melihat buah seperti sekarang ini.

"Menjilati bubur di lantai, atau buah aneh?" Naruto lantas mengambil buah itu dengan mencakupnya menggunakan kedua tangan yang terpasung. "Hah... andai saja ada ramen di sini. Semuanya cepat beres..." Dia tertegun sejenak. "...tapi makanan yang dibawa sendiri itu lebih baik rasanya."

CRAS

"Hem..." Naruto mengunyah buah bawaanna. "Bleh... kenapa ada buah rasanya seperti ini?" Dia ingin segera membuangnya, tapi perutnya masih terasa lapar. Pada akhirnya, Naruto memakan habis buah kuning anek tadi.

AHK

"Kenyang... kenyang..." Naruto mengulas senyum lebar. "Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan siap menghancurkan papan pasungan.

SRET

SRET

"Huh?" Saat Naruto melihat sumber suara, matanya terbelalak begitu melihat tangannya di selimuti listrik/peritr kuning. "AH... AKU TERSAMBAR PETIR!" Teriak Naruto sekencang-kencangnya.

BOMMM

Terjadi ledakan besar dalam kapal Bounty Hunter Kaminari akibat petir yang dikeluarkan Naruto tidak stabil.


"Apa maksudmu tidak ada, Saito?" Tanya Mifune kepada bawahannya.

"Ya. Saat aku sampai di sana, aku sama sekali tidak menemukan Bounty Hunter yang pernah disinggung oleh Miyamoto-dono. Bahkan kedua teman Miyamoto kita tidak ditemukan di Negara itu. Namun penduduk sekitar memang mengatakan bahwa dua hari sebelum kedatangan kami, ada pertarungan besar antara seorang samurai muda melawan kelompok orang dewasa. Mereka juga mengatakan kalau salah satu diantara orang itu ada yang memiliki kekuatan petir, bahkan nampak lebih hebat dibandingkan dengan ninja dalam memanipulasi chakra elemen petir." Jelas pria berambut ungu yang dipanggil dengan nama Saito oleh Mifune.

Saito atau Busujima Saito merupakan pemimpin dari kelompok yang dikirim oleh Okisuke untuk memeriksa keadaan duo Miyamoto di Negara Jamur. Dia juga merupakan ayah dari Busujima Miya, serta Kepala Klan Busujima.

"Hem..." Gumam pelan Mifune dengan wajah yang menampakkan kesedihan. Pandangannya nampak sendu, tapi ekpresinya masih tetap datar. "Ini sudah hari ke-7, dan Seiji maupun Naruto masih belum mengirimkan kabar kembali. Padahal keduanya berjanji akan mengabariku lagi tiga hari setelah pemberitahuan hari itu. Apa mungkin mereka tertangkap oleh para Bounty Hunter itu. Sekuat apa mereka sampai bisa mengkap Naruto, bahkan Seiji?" Pikirnya setelah mencerna semua informasi dari Saito.

"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, Mifune-sama?" Tanya Saito setelah melihat pemimpinnya masih saja terdiam dalam sunyi.

"Apa kau sudah melihat lokasi bekas pertempuran mereka, Saito?"

"Ya. Tempat itu rusak parah, banyak bekas sambaran petir. Darah berceceran di sana-sini, tetapi semuanya sudah mengering. Namun kami berhasil menemukan ini di tengah kubangan tanah penuh darah yang mengering." Saito menyerahkan benda panjang yang terbungkus oleh kain hitam tebal pada Mifune.

"Jadi kemungkinan besar samurai muda itu Naruto, kelompok orang dewasa itu Bounty Hunter, dan pemilik kekuatan petir adalah pemakan Buah Iblis." Simpul Mifune sambil menerima benda yang di serahkan Saito. Tetapi saat Mifune menerima benda itu, dia merasakan sengatan pada tangannya.

BRAK

Sehingga membuat Mifune menjatuhkan benda tadi. Kini kain hitam tersibak, dan menampakkan sebuah katana dengan ganggang yang terbalut oleh anyaman benang hijau tua, serta saya [sarung katana] berwarna hitam.

Mifune membelalakkan matanya untuk sejenak. "Inikan..."

"...Tenrou." Saito melanjutkan perkataan Mifune.

"Kenapa Naruto meninggalkan katana-nya?" Itulan batin semua orang yang hadir dalam ruangan itu.


~ Berakhir ~


Shuntensatsu [瞬天殺] [Instant Heaven Kill] = Ini merupakan teknik milik Seta Sojiro, di Samurai X. Teknik gabungan dari keterampilan menggunakan Batoujutsu dengan kecepatan Shukuchi. Sesuai namanya, teknik ini dapat langsung membunuh lawan secara instan, tanpa merasakan sedikitpun rasa sakit karena begitu cepatnya menebas lawan.

Kaminari di sini berhasil menghindari Shuntensatsu, karena selain memiliki kecepatan tinggi dengan bantuan buah iblisnya, Naruto juga masih belum menyempurnakan tekniknya.

Shishou Fuuin [Four Image Seal] = Segel yang memungkinkan chakra Kyuubi untuk mesuk ke coil milik Kushina. Sehingga memungkinkan Kushina untuk menggunakan chakra milik Kyuubi akan tetapi masih tetap mengekang Kyuubi. Kushina nantinya bisa mengakses chakra ini saat dia dalam keadaan marah [emosi tidak stabil] atau saat kekurangan chakra.

Tenrou/Tenrou Kaigan = Katana True Muramasa di Samurai Deeper Kyo. Disini katana Tenrou baru bisa memperbaiki tubuhnya sendiri saat terkenai darah [sama dengan Kubikiribōchō], tidak seperti di Samurai Deeper Kyo yang bisa memperbaiki sendiri hanya dengan disentuh oleh tangan dialiri aura.


Silahkan tinggalkan reviews!

Salam... Deswa